Chapter 001-025

Chapter 1

"Dasar perempuan jahat dan kejam!"

Countess Phillies menjerit penuh amarah.

Artizea, Marchioness Rosan, hanya mendengar kata-kata itu samar-samar sementara kedua lengannya ditarik paksa.

Dalam perjalanan menuju tempat itu, wajahnya telah dihantam beberapa kali dengan sarung tangan besi.

Mulutnya robek, berdarah, dan membengkak sehingga ia bahkan kesulitan berbicara.

Walaupun berusaha melangkah dengan tenaganya sendiri, para kesatria tetap menyeretnya dengan paksa.

Di suatu titik, pergelangan kakinya terluka. Ia tidak tahu apakah tulangnya patah atau hanya terkilir, tetapi rasa sakitnya tetap tak tertahankan.

Ia tak lagi mampu berjalan sehingga kini tak punya pilihan selain diseret.

Lengannya yang patah juga terasa nyeri. Pergelangan tangan yang tadi dipelintir oleh seorang kesatria telah membengkak.

Saat para kesatria melemparkannya ke lantai, tubuh Artizea terguling di atas lantai batu yang dingin.

"Bagaimana mungkin kau membunuh Abe!"

Countess Phillies menjerit begitu keras hingga seolah-olah darah dapat dimuntahkannya.

Setelah menepis tangan pelayan yang menahannya, ia berlari menghampiri Artizea dan menampar pipinya.

Tak perlu dikatakan lagi, rasa sakitnya sungguh tak tertahankan mengingat mulutnya telah mengalami siksaan sedemikian parah.

Artizea kembali terguling ke lantai, sementara pandangannya mulai mengabur.

"Apa kesalahan Abe sampai pantas menerima nasib seperti itu?! Bagaimana mungkin kau membunuh keponakanmu sendiri?! Dasar perempuan terkutuk, kau harus merasakan nasib yang sama!"

Artizea memandang Countess Phillies dengan penglihatan yang buram.

Sambil terisak, Countess Phillies berlari ke sisi lain ruangan. Ia berniat menikam Artizea dengan apa pun yang dapat ditemukannya, entah pisau maupun kaki dian.

Kaisar Lawrence, yang sejak tadi mengamati keadaan dengan saksama, menghampirinya. Dengan lembut ia meraih bahunya dan berkata,

"Tenangkan dirimu, Emma."

"Bagaimana mungkin aku tenang? Dia membunuh anakku! Bagaimana Yang Mulia bisa setenang ini? Abe juga putra Yang Mulia!"

"Tia adalah adikku, Emma. Pasti ada kesalahpahaman."

"Aku akan membalas dendam! Aku akan menuntut balas atas kematian putraku!"

Countess Phillies jatuh berlutut lalu menangis dengan suara keras.

Jadi begitu... Abe telah dibunuh.

Kini Artizea memahami apa yang sedang terjadi.

Ia menatap Lawrence.

Wajah pria itu tampak muram dan penuh duka.

Namun, Artizea menangkap secercah kemenangan kecil di balik sorot matanya.

Jelas sekali sebuah konspirasi telah dipersiapkan untuk menjebaknya.

Pertama, aku akan dituduh membunuh putramu hingga menjadi seorang penjahat. Setelah itu, tuduhan demi tuduhan akan terus bermunculan.

Sesungguhnya, ia memang telah melakukan begitu banyak kejahatan, dan Lawrence mengetahui sebagian besarnya.

Karena itu, sebenarnya tak ada alasan baginya untuk menciptakan tuduhan palsu.

Sudah jelas, orang yang merancang seluruh konspirasi ini adalah Kaisar Lawrence sendiri.

Sang Kaisar berkata,

"Aku tak menyangka kau melakukan kejahatan sebesar ini, Tia. Benarkah kau membunuh Abe?"

Nada suaranya menyimpan kegembiraan yang samar.

Artizea mencoba berbicara.

Namun sebelum sempat membuka mulutnya, Countess Phillies kembali menjerit keras.

"Setelah pelayan perempuan jalang itu mengunjungi Abe, tiba-tiba dia memuntahkan darah hitam lalu meninggal!"

Lawrence mengangkat tangannya, dan para kesatria membawa masuk seorang perempuan lain.

Perempuan itu adalah pelayan Artizea.

Pelayan tersebut berlutut dalam diam, lalu Lawrence bertanya kepadanya,

"Benarkah Marchioness Rosan memerintahkanmu meracuni Abe?"

"Benar."

Pelayan itu menjawab dengan sopan.

"Rencana Marchioness Rosan adalah membunuh Abe terlebih dahulu, kemudian membunuh Yang Mulia Kaisar. Dengan begitu, beliau dapat menguasai seluruh kekaisaran."

Semua orang di ruangan itu langsung bergemuruh dalam keterkejutan.

Dengan wajah yang dipenuhi kesedihan, Lawrence bertanya,

"Apakah ada yang ingin kau katakan mengenai hal ini?"

Artizea memperlihatkan senyum kering.

Apa sebenarnya yang sedang dipikirkannya?

Ia memang tidak berniat menyangkal bahwa dirinya adalah orang jahat.

Namun diperlakukan seolah-olah ia seorang yang bodoh justru membuatnya ingin tertawa.

"Yang Mulia Kaisar, bukankah Yang Mulia sangat mengenalku? Jika aku benar-benar ingin merebut kekaisaran, yang kubunuh adalah Yang Mulia, bukan Abe."

Apa gunanya membunuh Abe dengan cara ceroboh hingga semua orang segera menyadarinya sementara Lawrence masih bertakhta?

Itu hanya akan membuatnya semakin waspada.

Seandainya ia benar-benar menyusun rencana, ia pasti akan membunuh Lawrence terlebih dahulu tanpa seorang pun mengetahuinya.

"Tia, kata-kata semacam itu tidak ada gunanya. Kau harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."

Apa gunanya pembelaan dan penjelasan pada saat seperti ini?

Lawrence sudah memutuskan untuk membunuhku.

Semuanya sudah terlambat.

Apa pun yang kulakukan, tak ada jalan untuk bertahan hidup, karena sang Kaisar sendiri telah menjatuhkan vonis bahwa aku adalah seorang pengkhianat.

"Aku sungguh tak dapat mempercayainya. Tia, bagaimana mungkin kau melakukan hal seperti ini?"

"Yang Mulia Kaisar, hanya Yang Mulia seoranglah pemegang kekuasaan tertinggi di Kekaisaran ini."

Ucap Artizea.

Mulutnya dipenuhi darah, dan lidahnya terkoyak oleh giginya sendiri.

Meski demikian, selama ia mampu menahan rasa sakit itu, ia masih sanggup mengucapkan beberapa patah kata.

"Kini Yang Mulia memikul seluruh kekaisaran di atas pundak Yang Mulia. Karena itu, tinggalkanlah kebiasaan menyalahkan orang lain atas segala sesuatu. Itulah nasihat terakhirku."

"Kurang ajar!"

Seorang kesatria kembali menghantam wajahnya.

"Bawa pengkhianat ini pergi dari sini dan kurung dia!"

Serunya.

Artizea memandang Lawrence dengan kedua mata yang membengkak.

Namun pria itu sama sekali tidak campur tangan.

Artizea tak lagi mengingat dengan jelas apa yang terjadi setelah itu.

Ia disiksa dan dipaksa menandatangani sejumlah dokumen.

Setelah itu, ia dibawa ke pengadilan yang hanya dihadiri oleh sang Kaisar, segelintir bangsawan, dan para pejabat.

Para penuduh serta saksi mengajukan bukti demi bukti.

Sebagian memang merupakan kejahatan yang benar-benar pernah dilakukan Artizea.

Sebagian lainnya hanyalah skandal yang direkayasa, dipenuhi kisah-kisah yang mengerikan dan menjijikkan.

Artizea memiliki kecerdasan yang tajam serta kemauan yang kuat.

Namun, tubuhnya tak memiliki kekuatan untuk bertahan menghadapi penyiksaan.

Saat diadili, alih-alih membela diri, ia tak melakukan apa pun.

Kesadarannya setengah hilang, pikirannya kosong.

Ketika persidangan berakhir, ia telah berubah menjadi penjahat terburuk sepanjang sejarah—seorang wanita yang membuat perjanjian dengan iblis demi menguasai kekaisaran.

Lawrence menghela napas panjang dengan kepura-puraan.

"Meskipun kau adalah adikku, kejahatan yang telah kau lakukan terlalu besar untuk diampuni."

"Karena kau telah mencemari negeri ini dengan kata-katamu, lidahmu akan dipotong agar kau tak lagi mengulangi kejahatan yang sama. Dan kedua tanganmu yang berlumuran darah orang-orang tak bersalah juga akan dipotong sebagai peringatan bagi siapa pun. Namun, nyawamu akan kuampuni."

Sebagai akibatnya, Artizea dibawa ke ruang bawah tanah penjara.

Hukuman yang dijatuhkan kepadanya jauh lebih berat daripada ketentuan yang berlaku.

Alih-alih hanya dikurung di kediamannya setelah lidah dan kedua tangannya dipotong, seluruh anggota tubuhnya dipotong, lalu ia dibelenggu di sebuah penjara bawah tanah yang dalam dan asing.


"Jika kakakmu berhasil, kau pun akan ikut berhasil."

Itulah kalimat yang didengar Artizea Rosan sepanjang hidupnya.

Ibunya adalah Marchioness Miraila Rosan, sedangkan ayahnya adalah Marquis Michael.

Miraila adalah kekasih Kaisar Gregor.

Seluruh kaum bangsawan mengetahui hal itu.

Hukum kekaisaran melarang poligami dan mewajibkan setiap orang menjaga kesucian sebelum menikah.

Laki-laki maupun perempuan yang telah menikah dilarang menjalin hubungan asmara dengan mereka yang belum menikah.

Sang Kaisar adalah seseorang yang selalu berada dalam sorotan semua orang.

Meski demikian, akan terasa aneh jika seorang penguasa sebesar dirinya benar-benar menjadi pembela monogami yang mutlak.

Mustahil baginya menyembunyikan fakta bahwa ia menjalin hubungan dengan Marchioness Miraila Rosan.

Michael Rosan berada dalam keadaan yang menyedihkan.

Ia telah tua dan berada di ambang kematian.

Demi memperoleh sebuah tambang safir, ia rela menyerahkan istrinya sendiri kepada sang Kaisar.

Marchioness Miraila kemudian menjadi selir Kaisar dan melahirkan seorang putra.

Anak itu adalah Lawrence.

Semua orang mengetahui bahwa ia adalah putra Kaisar.

Namun tak seorang pun menyebutnya sebagai seorang pangeran, dan tak pula mengakuinya sebagai putra Marquis Rosan.

Miraila mencintainya.

Begitu pula Kaisar Gregor.

Sebaliknya, jika melihat waktu hubungan mereka dimulai, sudah jelas bahwa Artizea bukanlah putri sang Kaisar.

Artizea tidak memiliki kemiripan dengan Kaisar.

Bahkan tidak pula dengan Miraila.

Yang menarik, wajahnya justru sangat menyerupai Marquis Michael ketika masih muda.

"Bersikaplah baik kepada kakakmu. Berkat dialah kau masih hidup."

Miraila selalu mengatakan itu kepadanya.

"Bagaimana mungkin keluarga kita tetap dapat mempertahankan kedudukan sebagai keluarga Marquis jika bukan karena kakakmu? Sejak kau dilahirkan, desas-desus yang tidak menyenangkan telah menyebar bahwa kaulah putri Marquis Rosan."

Ucapan Miraila selalu berakhir dengan kalimat yang sama.

"Kau harus hidup demi kakakmu. Kita hanya bisa bertahan jika kakakmu menjadi Kaisar. Apa kau pikir dia akan memperlakukanmu dengan buruk setelah naik takhta? Keberhasilan kakakmu adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan keluarga kita."

Artizea tak pernah mengingat dirinya dicintai oleh Miraila.

Ia juga tak pernah mengingat seperti apa rasanya kebahagiaan.

Artizea hanya dipuji ketika melakukan sesuatu yang menguntungkan kakaknya, Lawrence.

Mulai dari hal sepele, seperti saat Lawrence berkata bahwa teh racikannya terasa enak, hingga hal yang jauh lebih besar, seperti ketika kekayaan keluarga Marquis Rosan memberikan manfaat bagi Lawrence.

Artizea bukanlah orang bodoh.

Ia tahu bahwa kasih sayang ibunya tidak akan pernah ditujukan kepadanya.

Namun, hasrat untuk dicintai yang telah tertanam sejak masa kanak-kanak begitu sulit dikendalikan.

Ia selalu mudah menemukan alasan untuk membenarkan semuanya.

Lawrence, Miraila, dan Artizea terikat oleh hubungan darah.

Jika Lawrence kalah, mereka semua akan mati.

Tak pernah ada pemenang perebutan takhta yang membiarkan keluarga para pesaingnya tetap hidup.

Demi bertahan hidup.

Dengan keyakinan itu, Artizea melakukan apa pun.

Ia memiliki bakat dalam melakukan kejahatan dan merancang konspirasi.

Ia memfitnah para pejabat setia hingga mereka dijatuhi hukuman mati, menghancurkan kebijakan negara, membuat rakyat menderita, dan menyebabkan pembantaian terhadap tak terhitung banyaknya orang.

Di dalam istana pun ia melakukan jauh lebih banyak lagi kejahatan, baik yang besar maupun yang sepele, termasuk serangkaian pembunuhan.

Dialah pula yang memanfaatkan Saintess Licia, harapan seluruh rakyat dan harapan kekaisaran.

Selain itu, Artizea juga bertanggung jawab atas kematian wanita suci tersebut.

Semua itu dilakukan demi Lawrence agar ia dapat naik takhta.

Walaupun ia tahu semua itu hanyalah dalih, ia tetap melakukan begitu banyak kejahatan tanpa ragu.

Dan akhirnya...

Lawrence berhasil mengenakan mahkota Kaisar.

Aku sudah tahu hari ini pasti akan datang.

Pikir Artizea samar.

Walaupun ialah orang yang memberikan sumbangsih terbesar hingga Lawrence menjadi Kaisar, ia hanya berdiri dalam diam tanpa mengharapkan apa pun.

Alasannya sederhana.

Ia takut.

Karena itulah ia juga membubarkan organisasi intelijen yang telah dibangunnya dengan begitu banyak waktu dan biaya.

Ia mengira, setelah semua yang telah dilakukannya untuk Lawrence, setidaknya pria itu akan membiarkannya menjalani sisa hidup dengan tenang.

Namun Artizea mengetahui terlalu banyak rahasia.

Ia telah melakukan terlalu banyak kejahatan demi dirinya.

Maka Lawrence memotong lidahnya agar ia tak dapat berbicara.

Ia memotong kedua tangannya agar ia tak mampu meninggalkan catatan apa pun.

Beginilah seharusnya aku mati, sebagai balasan atas seluruh kejahatan yang telah kulakukan.

Setelah perburuan usai, anjing pemburu akan direbus.

Artizea adalah anjing pemburu Lawrence.

Dan penjara ini adalah kuali tempatnya direbus.

"Hn..."

Bagaimanapun juga, inilah balasan yang pantas kuterima.

Akhir seperti apa lagi yang mungkin kuharapkan?

Mengingat semua yang telah kulakukan hingga hari ini, aku tak seharusnya menyalahkan Lawrence ataupun Miraila atas tindakanku sendiri.

Artizea tertawa.

Bahkan tanpa lidah sekalipun...

Ia masih bisa tertawa.

Chapter 2

Artizea sangat menyadari segala kejahatan yang telah diperbuatnya.

Karena itu, ia tidak pernah berpikir untuk diakui sebagai orang baik ataupun memperoleh pengampunan.

Namun, hanya sekali...

Ia pernah bertanya kepada Saintess Licia.

"Tidakkah kau membenciku?"

Pertanyaan itu diajukannya karena ia mengira Licia tentu saja membencinya.

Akan tetapi, Licia justru tersenyum cerah dengan wajahnya yang telah tirus.

"Apakah kau akan merasa lebih baik jika aku membencimu? Apakah itu akan membuat rasa bersalahmu berkurang?"

"..."

"Apa boleh buat? Aku sudah memaafkanmu."

Demikian ujar Saintess Licia dengan bibirnya yang pucat keputihan.

Artizea pernah mengancam Licia dan memaksanya menikah dengan Lawrence, karena pengaruh serta simbolisme seorang Saintess diperlukan untuk menutupi lemahnya legitimasi Lawrence.

Seluruh negeri bersukacita ketika mendengar bahwa sang Saintess akan menjadi Putri Mahkota.

Beberapa waktu kemudian, pada hari penobatan Lawrence, bunga-bunga persembahan rakyat kepada sang Permaisuri menumpuk laksana gunung di sekeliling tembok istana.

Kekaisaran menyelimuti tubuhnya dengan emas dan bulu-bulu mewah, serta menghamparkan sutra di bawah kedua kakinya.

Seorang perempuan yang lahir di sebuah barony miskin di perbatasan utara kini menjadi sosok yang dapat memiliki seluruh kemewahan dunia.

Namun, dibandingkan saat ia menghadiri berbagai pertemuan kalangan bangsawan tanpa sebutir permata pun, atau ketika mengembara ke daerah-daerah yang dilanda wabah penyakit menular dengan pakaian usang yang bahkan tak mampu menahan angin dingin, dirinya justru tampak jauh lebih menyedihkan sekarang.

Rambut pirang platinanya yang indah telah kehilangan kilaunya dan menjadi kering, sementara kulitnya yang dahulu cerah dan penuh kehidupan kini tampak kusam. Bibir merahnya yang tebal berubah pucat dan pecah-pecah.

Lawrence sejak dahulu memang memiliki kecenderungan untuk bersikap kejam.

Terlebih lagi, kini ia menjadi sangat peka terhadap persoalan legitimasi takhtanya.

Perpaduan kedua hal itu membuatnya dipenuhi rasa rendah diri dan membenci sang Permaisuri yang begitu dipuja.

Artizea berusaha melindungi Licia dari Lawrence.

Dialah yang telah menyeret Licia ke dalam neraka ini.

Karena itu, setidaknya ia ingin melindunginya.

Dan ia telah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia akan melakukannya.

Namun, paling jauh yang mampu dilakukan Artizea hanyalah menghentikan Lawrence ketika pria itu hendak menyiksa Licia di hadapannya.

Apa yang terjadi di balik pintu kamar tidur tetap tidak mampu ia hentikan.

Licia perlahan layu, terasing, dan disiksa di dalam sebuah penjara yang dihiasi emas dari wilayah selatan.

Kekuatan suci Licia cukup besar untuk menyelamatkan seseorang yang telah berada di ambang kematian.

Namun, kekuatan itu sama sekali tidak berguna melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya sendiri.

Meski begitu, Licia tetap tersenyum kepada Artizea.

"Tia, aku jauh... jauh lebih kuat daripada yang kau kira."

"Yang Mulia..."

"Apa pun yang telah kau lakukan kepadaku, ataupun alasan di baliknya, pada akhirnya akulah yang memutuskan untuk menikah dengan Yang Mulia Lawrence. Jadi, bukan salahmu aku berada di sini, melainkan pilihanku sendiri."

Licia berkata dengan tenang.

"Aku tahu betapa beratnya hidup yang harus kaujalani selama ini. Walaupun itu tidak membenarkan tindakanmu menyakiti orang lain... aku telah memutuskan untuk memaafkanmu."

"..."

"Karena itu, lepaskanlah beban besar yang selama ini kau pikul di atas pundakmu, Tia."

Orang yang sedang sekarat adalah Licia.

Namun entah mengapa, justru seolah-olah Licia-lah yang sedang menghibur Artizea.

Ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Artizea.

"Terima kasih telah datang menemuiku. Di istana ini, selain para pelayan dan dayang-dayang, hanya kaulah satu-satunya yang benar-benar peduli kepadaku."

"Itu tidak benar. Bahkan sekarang pun, tak terhitung banyaknya rakyat yang berlutut di luar istana sambil memanjatkan doa."

"Orang-orang itu hanya mengenal Saintess yang menjadi Permaisuri, bukan diriku."

Setelah mengucapkan itu, Licia bertanya dengan ragu-ragu,

"Tia... bisakah kau menggenggam tanganku?"

"Ya..."

"Kupikir aku akan sangat ketakutan ketika saat kematianku tiba. Namun ternyata aku jauh lebih tenang daripada yang kubayangkan. Apakah karena sebentar lagi aku akan berada dalam pelukan Tuhan?"

"Tak lama lagi Yang Mulia akan dapat bangkit kembali."

Walaupun ia tahu hal itu tidak akan pernah terjadi, Artizea tidak sanggup mengatakannya.

Licia tersenyum.

"Bolehkah aku memintamu melakukan sesuatu?"

"Sekalipun Yang Mulia memintaku membawa jantung naga es, akan kubawakan."

"Tidak sampai seperti itu. Meskipun... aku juga berharap hal itu tidak pernah terjadi. Namun, jika suatu hari nanti kau bertemu Cedric..."

"Ya..."

"Tolong katakan kepadanya... bahwa Licia hidup dan meninggal tanpa penyesalan."

"Aku akan menyampaikannya. Aku berjanji."

Artizea memberikan janjinya.

Mendengar itu, Licia menggenggam tangannya erat-erat.

"Maafkan aku... Aku tidak mampu menyelamatkanmu..."

"Aku... orang sepertiku..."

"Jika ada kehidupan lain setelah ini... aku ingin kau memanggilku hanya dengan nama Licia."

Itulah kata-kata terakhirnya.

Tap...

Tap...

Mendengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga batu, Artizea kembali tersadar.

Ia sendiri tak dapat memastikan apakah tadi ia sedang bermimpi atau sekadar mengenang Licia.

Sudah berapa lama aku dikurung di ruang bawah tanah ini?

Tak ada jendela kecil berjeruji di sana.

Karena itu, ia bahkan tidak dapat mengetahui kapan matahari terbit ataupun tenggelam.

Artizea hampir kehilangan seluruh pengertian akan waktu.

Sekali sehari seorang sipir akan membawakan makanan.

Namun, setelah beberapa hari berlalu, ia tak lagi mampu memperkirakan berapa lama waktu telah terlewati.

Pada mulanya ia terus berada dalam keadaan setengah sadar akibat luka-luka penyiksaan.

Kini perdarahannya telah berhenti dan luka-lukanya mulai mengering.

Namun rasa sakit akibat bekas-bekas luka itu tetap luar biasa.

Kedua bahunya terasa seakan hendak robek, sementara bagian bawah tubuhnya yang berlumuran darah dipenuhi memar.

Ia merasa sangat dingin.

Entah karena ruang penjara itu memang sedingin itu, atau karena darahnya sudah tidak lagi mengalir dengan semestinya.

"Itu memang pantas untukmu. Dasar perempuan jahat."

"Ugh..."

Alih-alih memaksakan diri berbicara, Artizea tetap membisu.

Di dunia ini bukan hanya satu orang yang menginginkan kehancuran dan kematian Artizea.

Dan di antara mereka, Venia adalah orang yang akan menjual jiwanya kepada iblis demi dapat berdiri di barisan paling depan.

Venia adalah pelayan Licia.

Artizealah yang menghancurkan desa tempat keluarga Venia tinggal.

Sebuah wabah kemudian merebak di wilayah itu.

Licialah yang menyelamatkan Venia dari kematian setelah seluruh keluarganya meninggal.

Sejak saat itu, Venia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melayani Licia.

Semua orang yang dicintai Venia meninggal karena Artizea.

Sudah sewajarnya Venia membencinya.

Ketika melihat Artizea hanya menatapnya tanpa suara, Venia mengatupkan giginya lalu meludah.

"Ya, aku tahu lidahmu sudah dipotong. Sekarang kau tak bisa lagi menyebarkan racun lewat kata-katamu."

"..."

"Dengan keadaanmu sekarang, siapa yang akan percaya bahwa dahulu kaulah konspirator terbesar Kaisar."

Plak!

Venia menampar Artizea sekuat tenaga.

"Sayang sekali semua anggota tubuhmu dan lidahmu sudah dipotong. Sekarang tak ada lagi yang bisa kupotong."

Plak!

"Dasar sampah. Sekarang kau malah menatapku dengan mata penuh belas kasihan?"

Artizea memejamkan mata.

Venia benar.

Artizea sama sekali tidak pantas dikasihani.

Venia selalu setia kepada Licia, bahkan setelah wanita itu meninggal.

Seusai kematian Licia, ia menjilat Permaisuri yang baru dan menanggung berbagai penghinaan demi tetap tinggal di istana kekaisaran.

Tujuannya hanya satu.

Suatu hari nanti, ia ingin membalas dendam kepada Artizea dan Lawrence.

Venia kembali menampar pipinya beberapa kali.

Kini Artizea hanya memiliki beberapa gigi yang tersisa.

Darah terus mengalir dari mulutnya akibat begitu banyak luka yang dideritanya.

Venia mengeluarkan sapu tangan lalu mengusap darah yang menempel di tangannya.

Setelah itu, ia membuka belenggu yang mengikat tubuh Artizea.

Mengapa...?

Artizea merasa heran.

Dengan tenang Venia berkata,

"Ini adalah perintah Cedric. Meskipun sebenarnya aku ingin mencabik-cabikmu di tempat ini hingga seribu kali, tampaknya dia ingin mengeksekusimu dengan tangannya sendiri sebagai balasan atas semua orang yang telah kaubunuh."

Tidak mungkin.

Artizea mengenal Grand Duke Cedric Evron jauh lebih baik daripada Venia.

Ia adalah seorang pria yang jujur dan adil.

Apa pun alasannya, ia tidak akan tega menghabisi seorang perempuan yang telah jatuh dan mengalami penyiksaan sedemikian rupa.

Lagipula, jika Artizea berhasil keluar dari ruang bawah tanah ini, Venia tidak akan mungkin dapat kembali.

Istana Kekaisaran bukanlah tempat yang sesederhana itu.

Tak lama kemudian pasti akan diketahui bahwa Venialah yang turun membawa kunci dan membawanya pergi.

Venia adalah bawahan sekaligus mata-mata Cedric Evron yang menyusup dengan melayani sang Permaisuri.

Mustahil Cedric rela mengorbankan buah catur sepenting itu.

Setidaknya bukan demi Artizea.

Mungkin Cedric Evron memberikan perintah ini karena alasan lain.

Kemungkinan besar bukan karena ia ingin mengeksekusi seorang konspirator yang telah kehilangan lidahnya di hadapan umum, melainkan demi menyelamatkan pelayan yang pernah melayani Licia, perempuan yang dicintainya.

Tanpa alasan semacam itu, Venia tidak akan pernah rela meninggalkan tempat ini.

Namun, Venia tidak memikirkan semua itu.

Setelah membebaskan Artizea, ia melepaskan jubahnya dan menyelimuti tubuh wanita itu.

Berbulan-bulan penyiksaan serta hilangnya seluruh anggota tubuh membuat tubuh Artizea begitu ringan hingga Venia dapat mengangkat dan membawanya seorang diri.

Artizea dikeluarkan dari Istana Kekaisaran di dalam kereta cucian.

Setelah itu, ia dipindahkan ke sebuah kereta kuda.

Guncangan yang terus-menerus membuat demam di tubuhnya yang telah lemah semakin parah.

Di tengah perjalanan, kesadarannya kembali memudar.

Artizea tahu dirinya sedang dipindahkan.

Namun ia tidak mengetahui bagaimana semuanya berlangsung.

Ketika akhirnya sadar kembali, ia telah berada di dalam sebuah tenda.

Bekas potongan anggota tubuhnya telah dibalut dengan perban bersih.

Wajah lelaki tua yang sedang merawatnya terasa begitu dikenal.

Dialah kepala pelayan Grand Duke Evron.

"Anda telah sadar."

Meskipun mereka berada di pihak yang berlawanan, sang kepala pelayan tetap berbicara dengan sopan kepadanya.

"Sebaiknya Anda makan sesuatu, jika memang mampu."

Artizea berkedip lalu menggelengkan kepala.

"Jangan khawatir. Dokter juga mengatakan bahwa dalam keadaan seperti ini kemungkinan besar Anda memang tidak ingin makan. Saya akan menyiapkan teh yang kuat untuk Anda."

Setelah berkata demikian, sang kepala pelayan bangkit dan meninggalkan tenda.

Artizea memalingkan kepalanya dan memandang sekeliling.

Tidak ada sesuatu yang istimewa di dalam tenda itu.

Hanya terdapat sebuah panci berisi air mendidih, ranjang tempat ia berbaring, dan sebuah lampu minyak.

Sang kepala pelayan tidak kembali sendirian.

Kain penutup pintu tenda tersibak.

Cedric Evron melangkah masuk.

Artizea menatapnya dengan terkejut.

Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu.

Namun pria itu hampir tidak berubah.

Hanya sepasang mata hitamnya yang tajam tampak semakin dalam daripada dahulu.

"Sudah lama kita tidak berjumpa, Marchioness Rosan."

"..."

"Aku mendengar lidahmu telah dipotong."

"..."

"Orang yang dahulu dikenal sebagai konspirator terbesar di seluruh kekaisaran ternyata bahkan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri."

Artizea memejamkan mata.

Ia menyesali kebodohannya karena telah melakukan begitu banyak kejahatan demi Lawrence, padahal sejak awal ia tahu dirinya pada akhirnya akan dikhianati.

Namun...

Ia tidak merasa bersalah.

Semua manusia di dunia ini pada dasarnya jahat.

Terlebih lagi mereka yang berada dekat dengan kekuasaan.

Itulah keyakinan yang selalu dipegang teguh oleh Artizea.

Akan tetapi, di hadapan dua orang di dunia ini...

Cedric Evron dan Saintess Licia...

Ia tidak mampu mengucapkan keyakinan itu.

Chapter 3

Artizea pernah menghancurkan tanggul Sungai Ava untuk menjebak Cedric.

Pada waktu itu, Cedric sedang kembali setelah berhasil mengendalikan keadaan di perbatasan barat kekaisaran atas perintah Kaisar Gregor.

Sang Kaisar mengirim seorang utusan kekaisaran untuk memerintahkannya menyerahkan kembali komando tertinggi angkatan perang dan segera kembali seorang diri ke ibu kota.

Pada saat itulah Artizea menghancurkan tanggul tersebut.

Beberapa kota dan desa pun tersapu banjir.

Jumlah orang yang terdampak secara langsung diperkirakan tidak lebih dari tiga puluh ribu jiwa.

Sawah-sawah juga mengalami kerusakan. Namun, karena tahun itu merupakan tahun panen yang melimpah, tidak ada bahaya seluruh negeri akan jatuh ke dalam bencana kelaparan.

Bagaimanapun juga, tindakan yang paling menguntungkan bagi Cedric saat itu adalah meninggalkan Sungai Ava dan kembali ke ibu kota sesuai perintah Kaisar.

Namun, Cedric tidak melakukannya.

Ia memilih mengerahkan pasukan untuk meminimalkan kerusakan akibat banjir.

Akan tetapi, karena tidak segera kembali dan tetap bertindak sebagai panglima tertinggi angkatan perang, tindakannya justru membangkitkan kecurigaan sang Kaisar.

Artizea melakukan semua itu karena ia mengetahui bahwa Cedric memang orang seperti itu.

Hal yang sama juga terjadi ketika Artizea memfitnah sebuah desa di wilayah Grand Duke Evron sebagai kelompok pemberontak, ketika ia menyusun rencana untuk menyingkirkan Grand Duke Roygar, bahkan ketika wabah penyakit menyebar.

Sekalipun mengetahui akibat yang mungkin akan menimpanya, pada akhirnya Cedric selalu memilih menyelamatkan rakyat.

Pilihan itu membuatnya kehilangan kedudukannya dan akhirnya menjadi seorang buronan.

"Silakan minum teh."

Sang kepala pelayan berbicara dengan sopan sambil menyerahkan sebuah cangkir besi kepada Cedric.

Kemudian ia duduk di sisi Artizea dan perlahan menuangkan secangkir teh pekat yang dicampur banyak gula dan susu ke mulutnya.

Cedric duduk di hadapan Artizea sambil meminum tehnya.

Seolah-olah mereka sedang menikmati waktu minum teh.

Artizea menatapnya kosong, teringat akan pesan terakhir Licia.

"Jika suatu hari nanti kau bertemu Cedric, tolong katakan kepadanya bahwa Licia hidup dan meninggal tanpa penyesalan."

Di lubuk hatinya, Licia tentu tidak menginginkan Artizea dan Cedric bertemu kembali.

Sebab itu berarti Cedric akhirnya telah kalah dan dibawa kembali ke ibu kota.

Namun kini, kenyataannya justru berkebalikan dengan apa yang dahulu dipikirkannya.

Hari ini, bertahun-tahun kemudian, Cedric beserta pasukannya masih hidup.

Sebaliknya, Artizealah yang telah jatuh.

Artizea dibawa ke perkemahan Cedric dan kini berhadapan langsung dengannya.

Dalam keadaan seperti ini, tentu Licia menginginkan agar pesannya disampaikan.

Namun, Artizea tidak mampu memenuhi janji yang telah diberikannya kepada Licia.

Sebab ia sudah tidak lagi mampu berbicara.

Cedric berdiri ketika sang kepala pelayan selesai menuangkan seluruh teh ke mulut Artizea.

"Mari keluar."

"...?"

Artizea tersadar dari lamunannya dan memandangnya dengan tidak percaya.

Cedric menghampirinya lalu mengangkat tubuhnya dengan lembut.

Tidak seperti ketika bersama Venia, kali ini Artizea berusaha melepaskan diri dari pelukannya.

Ia merasa malu.

Namun, ia tak mampu melawan kekuatan kedua lengan Cedric.

Pria itu menggendongnya dalam pelukan, lalu keluar dari tenda.

Begitu mereka melangkah keluar, para kesatria yang mengenakan seragam militer segera menghampiri.

Tubuh para kesatria itu tampak kotor karena terus-menerus hidup dalam pelarian.

"Your Grace."

"Grand Duke."

"Ke mana Anda membawa perempuan jahat itu?"

"Aku masih memiliki urusan yang belum selesai."

"Kami saja yang akan membawanya."

Para kesatria mengulurkan tangan.

Cedric memalingkan tubuhnya, menghindari uluran tangan mereka.

"Jangan berbicara tentang seseorang seolah-olah ia hanyalah sebuah benda."

"Apa maksud perkataan itu? Your Grace terlalu baik kepada iblis itu."

"Tetaplah di sini. Aku akan pergi sendiri."

"Tidak mungkin."

Para kesatria tampak cemas.

"Marchioness Rosan sudah tidak memiliki tangan maupun kaki. Ia tidak mungkin dapat mencelakaiku."

"Anda tidak boleh terlalu yakin!"

"Penyihir itu bahkan mampu mendatangkan bencana hanya dengan lidahnya."

"Sayangnya, Marchioness Rosan juga sudah tidak memiliki lidah."

Ujar Cedric sambil berdecak pelan.

Ia berjalan melintasi perkemahan militer.

Kemudian ia mendudukkan Artizea di atas kuda, sementara dirinya naik ke belakang.

Karena Artizea telah kehilangan anggota tubuhnya, mustahil membiarkannya duduk sendiri di atas pelana.

Cara itu adalah yang paling mudah untuk membawanya.

Tubuh Artizea sedikit gemetar.

Belum pernah seumur hidupnya ia berada sedekat ini dengan seorang pria.

Kehangatan dada Cedric yang menempel di punggungnya membuat suhu tubuhnya perlahan meningkat.

Cedric memacu kudanya meninggalkan perkemahan.

Gerimis tipis sedang turun.

Memandangi pegunungan dan aliran sungai di sekitarnya, Artizea segera menyadari bahwa mereka berada di wilayah Barquee, tanah milik Grand Duke Roygar.

Barquee merupakan lumbung pangan bagian timur Kekaisaran.

Memang tidak dapat dibandingkan dengan dataran luas di wilayah barat.

Namun, kelimpahan air dan iklimnya yang sejuk memungkinkan berbagai jenis biji-bijian serta buah-buahan tumbuh subur.

Anggur terbaik di seluruh Kekaisaran pun diproduksi di tempat ini.

Namun kini...

Tak ada lagi jejak semua itu.

Asap mengepul dari tanah yang telah hangus terbakar.

Sepanjang perjalanan, yang terlihat hanyalah puing-puing rumah.

Mayat bergelimpangan di mana-mana.

Sebagian besar adalah jasad laki-laki.

Kota itu pun telah hancur.

Yang tersisa hanyalah reruntuhan tembok.

Para penyintas berjongkok di bawah dinding rumah mereka yang telah roboh, memandang ke arah mereka dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.

Artizea menatap pemandangan itu dengan linglung.

Ia sama sekali tidak memahami apa yang telah terjadi.

Apa yang sebenarnya berlangsung selama dirinya dipenjara?

Seharusnya tidak pernah terjadi perang di Barquee.

"Semua ini terjadi karena ditemukan bahwa seorang penduduk asli Barquee pernah merencanakan percobaan pembunuhan terhadap Lawrence bersama Grand Duke Roygar dua belas tahun yang lalu."

Napas Artizea tercekat.

Jantungnya berdetak semakin cepat.

Ini adalah pembantaian yang sama sekali tidak perlu.

Lawrence telah menjadi Kaisar dan menguasai seluruh angkatan perang kekaisaran.

Kekuasaan kekaisaran telah kokoh, bahkan lebih kuat daripada sebelumnya.

Artizealah yang membuat semua itu menjadi mungkin.

Lawrence harus menjaga tangannya tetap bersih.

Karena itu, segala pekerjaan kotor selalu menjadi tanggung jawab Artizea.

Itulah tugas yang dibebankan Miraila kepadanya.

Dan selama ini ia melaksanakannya dengan setia.

Karena itu, tanpa dirinya, seharusnya Lawrence dapat menjadi seorang Kaisar yang sempurna.

"Apakah semua ini mengejutkanmu, Marchioness Rosan? Bukankah dahulu kau juga melakukan hal yang sama?"

Cedric berkata dengan tenang.

"Bagimu, segala sesuatu selalu dibagi menjadi perlu atau tidak perlu demi menjalankan rencanamu. Mungkin, bagi Lawrence, semua ini juga merupakan sesuatu yang perlu."

"..."

"Atau... apakah kau percaya bahwa penilaianmu selalu benar, sedangkan penilaian Lawrence tidak?"

Artizea terdiam.

"Kalau begitu, tak mengherankan jika pada akhirnya kau disingkirkan."

Nada suara Cedric berubah ketika mengucapkan kata-kata itu.


Setelah itu, Cedric membentuk sebuah pasukan kecil yang bergerak secara terpisah dan terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Artizea dibawa di atas kuda sang kepala pelayan dan ikut bergerak bersama pasukan kecil tersebut.

Masih banyak tempat lain yang mengalami nasib yang sama mengerikannya.

Tak seorang pun menangani wabah belalang, dampak perang saudara, ataupun memperbaiki tanggul-tanggul yang rusak.

Lumbung-lumbung pangan pun telah lenyap.

Setiap jalan dipenuhi para pengungsi yang mengembara dan wabah penyakit menular.

Bangkai-bangkai yang tak sempat dikuburkan berserakan di mana-mana.

Kemunduran politik Kekaisaran bukanlah bencana yang baru terjadi satu atau dua tahun terakhir.

Kaisar Gregor adalah seorang yang egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri.

Baginya, kewibawaan pribadi selalu lebih penting daripada nyawa rakyat.

Perebutan takhta akhirnya menghancurkan negeri itu.

Dan Artizealah yang mengambil peran utama agar semuanya terjadi.

Artizea pernah berpikir bahwa setelah Lawrence menjadi Kaisar, ia akan mampu memulihkan kembali Kekaisaran.

Masih ada secercah harapan bagi Kekaisaran ketika Licia menjadi Permaisuri.

Bahkan setelah kematiannya, selama masih berada di sisi Lawrence, Artizea terus berusaha mengubah keadaan.

Namun kini...

Keluarga kekaisaran seolah telah meninggalkan semuanya.

Artizea telah memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan Cedric.

Berbeda dengan Venia yang mengutuknya dengan kata-kata, Cedric tampaknya ingin memperlihatkan kepadanya akibat dari segala perbuatannya.

"Miraila telah meninggal. Kudengar hingga saat-saat terakhir pun ia masih terus memarahi Lawrence mengenai urusan perempuan."

Hari itu, ketika mereka tiba di desa para pemberontak di seberang punggung pegunungan utara, Cedric menyampaikan kabar tersebut.

Artizea terlalu letih untuk merasa terkejut.

Di desa para pemberontak itu, yang tersisa hanyalah makam-makam.

Bayangan ribuan salib kayu membentang memenuhi tanah.

Sebenarnya, desa itu bukanlah desa pemberontak.

Tempat itu merupakan tempat perlindungan bagi orang-orang yang melarikan diri ketika Kaisar Gregor menuduh kedua orang tua Cedric melakukan pengkhianatan lalu membunuh mereka.

Belakangan, kebenaran akhirnya terungkap dan kekaisaran mengakui kesalahannya.

Daftar buronan bagi para pelarian itu pun dicabut.

Meski demikian, mereka tidak pernah meninggalkan desa tempat mereka tinggal.

Mereka hidup dengan saling percaya dan saling menopang satu sama lain.

Licia juga berasal dari desa ini.

Keluarga Venia pun pernah bersembunyi di sini.

Cedric, yang tidak lagi memiliki kerabat sedarah selain mereka, menemukan kehangatan di antara para penduduk desa itu.

Artizea mengetahui semua itu.

Inilah sesuatu yang benar-benar mengerikan.

Artizea baru pertama kali melihat makam-makam ini.

Apakah Cedric sendiri yang membangun seluruh makam ini? Apakah ia membawaku ke sini agar aku merenungkan semua dosaku?

Demikian pikir Artizea.

Setelah lama berdiri dalam diam di atas bukit yang menghadap seluruh desa, Cedric membawanya kembali ke perkemahan militer.

"Kurasa kau tidak pernah membayangkan Lawrence akan berakhir seperti ini, Marchioness Rosan."

"..."

"Aku memang tahu dia adalah orang yang sangat buruk dan menyimpang. Namun, apabila aku memilih ikut memperebutkan takhta, aku selalu yakin bahwa kekalahan akan lebih buruk daripada kematian."

Namun, yang dipikirkan Artizea justru hal lain.

Mengapa dia tidak bertanya tentang Licia? Mengapa dia tidak menanyakan bagaimana Saintess yang berusaha melindunginya hingga akhir hayat itu meninggal?

Bahkan Miraila pun dibunuh karena persoalan perempuan.

Cedric seharusnya sudah mengetahui bagaimana Lawrence memperlakukan perempuan.

Karena itu, sudah sewajarnya bila ia menyalahkan Artizea karena telah merebut Licia darinya dan memaksanya menikah dengan Lawrence.

Namun...

Ia tidak melakukannya.

Wajahnya yang kaku laksana sebuah patung yang didirikan di alun-alun kota.

"Akan tetapi, aku tidak pernah membayangkan akan melihat tirani seperti ini. Mengapa dia melakukan semua ini? Bukankah Kekaisaran Crates kini telah sepenuhnya menjadi miliknya? Tidakkah ia memiliki keinginan untuk melindungi rakyatnya, menyelamatkan mereka, dan menjadikan negeri ini makmur?"

Bagaimanapun juga, Artizea tidak dapat menjawab.

Ia sudah tidak memiliki lidah.

Ia hanya menundukkan kepala.

Yang ingin diketahuinya hanyalah satu hal.

Mengapa Lawrence menjadi seperti itu?

"Susunlah sebuah rencana."

Mendengar perkataan Cedric itu, Artizea seketika mengangkat kepalanya dengan penuh keterkejutan.

Chapter 4

"Kita harus menjatuhkan Lawrence dengan cara apa pun. Namun, perbedaan kekuatan di antara kami terlalu besar. Aku dan anak buahku hanya memahami urusan militer. Kami tidak tahu bagaimana cara memperkecil kesenjangan itu."

Artizea hanya menatapnya tanpa berkedip.

Wajah Cedric yang semula tampak bagaikan sebuah patung kini terasa laksana matahari yang menyala.

Ia tidak meninggikan suaranya.

Namun, bagi Artizea, setiap kata yang diucapkannya terasa bagaikan sebuah raungan.

"Aku tahu kau adalah perempuan yang sangat cerdas."

"..."

"Kau memang tidak memiliki penilaian yang tepat dalam memilih orang yang kau layani. Namun, kurasa itu karena matamu dibutakan oleh kasih sayang kepada keluargamu. Meskipun kau telah menjalankan begitu banyak rencana yang mengerikan, aku tahu semua itu kau lakukan demi Lawrence."

"..."

"Satu-satunya orang yang mampu membalikkan keadaan ini adalah dirimu. Marchioness Rosan, aku membutuhkan bantuanmu."

Cedric menundukkan kepalanya.

Namun, seolah merasa itu masih belum cukup, ia berlutut.

Kedua tangannya diletakkannya di lantai, lalu ia membungkukkan tubuhnya begitu dalam hingga dahinya hampir menyentuh tanah.

Artizea terkejut.

Tubuhnya berguncang.

Seandainya sang kepala pelayan tidak menopangnya, ia pasti telah terjatuh, sebab bahkan untuk duduk tegak pun ia hampir tidak mampu.

Cedric mengangkat kepalanya.

Sepasang mata hitamnya laksana bara api yang membara.

"Kau tidak lagi memiliki kasih sayang Lawrence ataupun keluargamu. Setelah melihat keadaan Kekaisaran sekarang, tidakkah kau menyesali kehancurannya?"

"..."

"Aku tahu kau hanyalah seorang perancang siasat yang menjalankan perintah, bukan iblis seperti Lawrence. Tidakkah pernah terlintas dalam benakmu untuk menggunakan kekuatan yang kau miliki demi melakukan sesuatu yang baik?"

Artizea menggelengkan kepala.

Ia merasa dirinya tidak memiliki hak untuk menyesal.

Semua orang benar.

Jika memang ada penyihir yang telah membuat perjanjian dengan iblis...

Maka orang itu adalah dirinya.

Sekalipun ia telah berubah pikiran, ia sudah tidak memiliki lidah untuk berbicara maupun tangan untuk menulis.

Bahkan pikirannya sendiri hampir tidak mampu bekerja dengan jernih karena tubuhnya yang lelah dan dipenuhi rasa sakit.

"Marchioness Rosan, kau masih memiliki kecerdasan yang luar biasa. Kau dapat menulis dengan menggigit pena menggunakan mulutmu, atau menunjuk kata-kata dengan bantuan orang lain. Selama kau masih hidup, tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat kau capai apabila kau memiliki tekad dan kemauan. Aku membutuhkanmu."

Artizea menatapnya cukup lama dengan pandangan yang kabur.

Rasanya sungguh menggelikan.

Sepanjang hidupnya, Lawrence—orang yang telah ia abdikan seluruh hidupnya—tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa ia membutuhkannya.

Artizea mengenal Cedric.

Sebagai musuh...

Ia mengenalnya lebih baik daripada siapa pun di dunia ini.

Kebencian yang tersimpan di dalam hati pria itu seharusnya lebih membara daripada lautan lava.

Orang-orang di sekelilingnya tentu berharap ia membunuh Artizea dengan cara yang paling kejam.

Namun...

Kini pria itu justru berlutut di hadapannya.

Semata-mata demi sebuah tujuan yang benar.

Meski demikian, Artizea hanya mampu menggelengkan kepala sekali lagi.

Keahliannya hanyalah membujuk orang lain agar menjalankan kehendaknya, menyusun tipu muslihat, merencanakan pembunuhan, dan menenun konspirasi.

Ia bukan ahli strategi perang.

Artizea tidak mampu melakukan sesuatu yang bahkan tidak dapat dilakukan Cedric.

Sekalipun ia benar-benar seorang ahli siasat yang luar biasa...

Tetap tidak ada cara untuk mengatasi ketimpangan kekuatan yang ada sekarang.

"Aku mengerti."

Cedric tampaknya segera memahami alasan Artizea menggelengkan kepala.

"Bahkan kau pun tidak dapat berbuat apa-apa."

Ujarnya dengan muram.

Air mata mengalir dari mata Artizea.

Sejak pertama kali kedua tangannya berlumuran darah...

Ia telah memutuskan bahwa sampai hari kematiannya tiba, ia tidak akan menyesali apa pun.

Semua dosa yang telah diperbuatnya tidak akan pernah dapat diampuni hanya karena ia menyesalinya di kemudian hari.

Bahkan apabila orang-orang yang telah mati membencinya...

Menurutnya, yang seharusnya mereka benci adalah takdir karena telah dilahirkan ke dunia ini.

Tak seorang pun benar-benar tak berdosa setelah dilahirkan ke dunia.

Tidak.

Bahkan bayi yang baru lahir pun telah memikul dosa karena ia dilahirkan.

Sama seperti dirinya.

Dan begitu pula Lawrence.

Namun...

Pada akhirnya ia tetap menyesal.

Penyesalan yang selama ini tertimbun jauh di dasar hatinya kini menyatu menjadi sebuah batu raksasa yang menghantam dadanya tanpa henti.

"Maafkan aku. Aku telah berbicara terlalu gegabah."

Cedric berdiri.

"Aku tidak dapat memberimu tempat tinggal yang lebih baik karena keadaan di perkemahan militer sangat terbatas. Namun, dalam waktu dekat aku akan mengirimmu ke sebuah desa bersama beberapa anak buahku. Aku berharap kau dapat menjalani sisa hidupmu dengan damai."

Artizea hanya menatapnya.

Tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Air matanya terus mengalir.

Malam itu ia meringkuk di dalam tenda.

Sepanjang malam ia memikirkan...

Adakah cara untuk memperbaiki semuanya.

Dalam keadaan sekarang...

Tidak ada.

Namun sesungguhnya...

Artizea memang memiliki sebuah cara.

Ia perlahan merangkak lalu memaksakan dirinya duduk.

Ia tidak ingin menggunakan cara itu.

Karena ia adalah seorang pendosa.

Artizea tidak pernah percaya bahwa Lawrence harus memikul dosa-dosa yang telah ia lakukan.

Yang diinginkannya hanyalah mati dan membusuk sambil memeluk seluruh kejahatan yang telah dilakukannya demi Lawrence.

Namun...

Tidak ada rencana... tetapi masih ada sebuah cara.

Apabila keseimbangan kekuatan telah terlalu jauh bergeser hingga mustahil dipulihkan...

Maka yang harus ia lakukan hanyalah memutar kembali waktu, sebelum keseimbangan itu runtuh.

Artizea menggigit sisa lidahnya hingga putus.

Dengan darah yang mengalir, ia mulai menggambar sebuah lingkaran sihir.

Sihir telah lama lenyap dari dunia ini.

Namun...

Cara menggunakan sihir masih diwariskan.

Lingkaran sihir yang digambar dengan tepat menggunakan darah...

Serta pengorbanan manusia.

Sesungguhnya, alasan utama mengapa sihir punah bukanlah karena memerlukan korban manusia.

Melainkan karena hampir tidak ada lagi orang yang mampu menggambar lingkaran sihir dengan benar.

Huruf-huruf pada lingkaran sihir ditulis menggunakan bahasa kuno.

Sekalipun seseorang mampu menyalinnya...

Tak seorang pun dapat mengaktifkannya sesuka hati.

Namun...

Artizea mampu.

Ia adalah salah satu dari sedikit orang yang dapat dengan mudah menulis aksara kuno dari bahasa yang telah punah itu.

Dahulu ia mempelajari lingkaran sihir demi memanfaatkannya untuk melakukan kejahatan.

Meskipun darahnya terus mengalir tanpa henti...

Artizea berkali-kali menggigit sisa lidahnya, bahkan menggigit bagian dalam mulutnya sendiri agar darah mengucur lebih banyak.

Ia membutuhkan darah dalam jumlah besar untuk menggambar lingkaran sihir yang cukup luas.

Sepanjang malam...

Ia terus menggambarnya.

Kesempatan itu tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.

Karena itu, kali ini ia harus menggambarnya dengan sempurna.

Di tengah prosesnya, pandangannya mulai mengabur.

Ia terpaksa menggigit lidahnya lebih keras lagi agar tetap sadar.

Menjelang fajar...

Akhirnya lingkaran sihir itu selesai.

Artizea pun roboh di atasnya karena kehilangan terlalu banyak darah.

Pengorbanan manusia yang sempurna.

Artizea memejamkan mata tanpa daya.

Lingkaran sihir yang akan merenggut nyawanya mulai memancarkan cahaya biru.

Cedric, yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres di dalam tenda, segera berlari masuk.

Ia menatap Artizea dengan penuh keterkejutan.

Namun...

Lingkaran sihir itu telah mulai bekerja.

Tak lagi memerlukan korban tambahan.

Cahaya yang menyilaukan memancar, menghalanginya untuk mendekat.

Semoga... di kehidupanmu yang berikutnya, semua harapanmu dapat terwujud.

Itulah pikiran terakhir Artizea.

Tak lama kemudian...

Sihir itu berubah menjadi sebuah pilar cahaya yang menjulang hingga ke ujung langit.

Menerangi seluruh langit malam.


Ketika membuka mata...

Hari hampir fajar.

Artizea menggerakkan kedua kakinya di balik selimut.

Kemudian ia menggerakkan kedua tangannya.

Lalu, dengan jarinya, ia menyentuh lidahnya sendiri.

Ia mencoba berbicara.

Suaranya keluar dengan jelas.

"Apakah aku melakukan kesalahan saat menggambar lingkaran sihir?"

Huruf-huruf kuno yang tertulis pada lingkaran sihir itu berarti,

"Sebagai ganti nyawa Artizea Rosan, waktu akan kembali. Putarlah kembali waktu."

Karena itulah Artizea mengira dirinya akan mati.

Namun sekarang...

Ia masih hidup.

Tak ada satu pun luka ataupun rasa sakit di tubuhnya.

Meski begitu...

Batu besar yang terbentuk dari seluruh penyesalannya masih terus menghantam dadanya.

Merasa ada sesuatu yang aneh, ia mengangkat tangannya.

Cahaya bulan yang masuk melalui jendela mewarnai kuku-kukunya dengan semburat kebiruan.

Artizea menatap kuku-kuku itu dalam diam.

Ia menyingkirkan selimut, lalu turun dari tempat tidur.

Kemudian ia menyalakan lampu dan berjalan menuju cermin.

"Aku... telah kembali."

Di dalam cermin tampak seorang gadis berambut pirang terang dengan mata berwarna pirus.

Ia menyentuh pipinya menggunakan ujung jari.

Wajah itu terasa begitu asing baginya.

Jadi... beginikah wajahku dahulu?

Barulah ia menyadari bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar memedulikan dirinya sendiri.

Ia hanya beberapa kali melihat wajahnya di cermin.

Karena ia membenci kenyataan bahwa wajahnya tidak menyerupai Lawrence maupun Miraila.

Miraila sering berkata bahwa dirinya begitu buruk rupa hingga wanita itu bahkan tidak ingin memandangnya.

Lawrence pun jarang menatap wajahnya secara langsung.

Namun, di antara saudara kandung, memang wajar bila mereka tidak terlalu memerhatikan rupa satu sama lain.

Meskipun demikian, Artizea tetap harus melakukannya karena ia bertanggung jawab atas penampilan Lawrence dalam setiap acara resmi.

Artizea berbalik lalu kembali ke kamarnya.

Ia tidak pernah merencanakan untuk kembali demi dirinya sendiri.

Tujuan yang dimilikinya hanyalah memberikan kesempatan kedua kepada Cedric.

Tanpa dirinya...

Kekuatan Lawrence akan jauh melemah.

Miraila memang memiliki kemampuan luar biasa dalam memanipulasi sang Kaisar.

Namun, sifatnya terlalu impulsif.

Sehebat apa pun ia menyusun rencana...

Ia selalu meninggalkan jejak.

Sejak awal, Lawrence bukanlah orang yang pandai berkonspirasi.

Selain itu, pada mulanya hanya Lawrence seorang yang mencurigai Cedric.

Saat itu, karena Cedric hanyalah keponakan Kaisar yang belum benar-benar menonjol, Artizea berhasil mengikat tangan dan kakinya melalui berbagai siasat.

Seandainya dahulu ia tidak melakukan apa pun...

Cedric pasti mampu mempertahankan kekuatannya hingga saat penentuan.

Bahkan setelah menerima begitu banyak kerugian akibat ulah Artizea...

Ia tetap bertahan sampai akhir dan terus melawan Lawrence.

Yang terpenting... aku telah kembali.

Entah itu akibat kesalahan pada lingkaran sihir ataupun alasan lain...

Pasti ada sebab mengapa dirinya masih hidup.

"Aku membutuhkan bantuanmu."

Artizea teringat saat Cedric menundukkan kepalanya di hadapannya.

Dadanya terasa sesak.

Perlahan ia meletakkan tangan di atas dada kirinya.

Sebagai balasan karena telah berlutut di hadapan iblis... kini iblis itu akan mengotori tangannya demi dirimu.

Rasanya bagaikan sebuah janji.

Artizea berjalan menuju meja kerjanya.

Di bagian paling bawah laci meja tersimpan buku hariannya.

Ia mengeluarkannya lalu membuka halaman terakhir.

<2 Juni, Tahun 482 Kalender Kekaisaran>

Delapan hari yang lalu...

Artizea genap berusia delapan belas tahun.

Masih hampir dua tahun lagi sebelum ulang tahunnya yang kedua puluh...

Hari ketika ia akan mewarisi gelar Marchioness Rosan.

Chapter 5 First Meeting (1)

Seperti biasa, mereka semua duduk di meja makan untuk sarapan.

Lawrence duduk di kursi utama, sementara Miraila duduk di sebelahnya.

Meskipun para pelayan hadir di sana, Miraila tetap melayani Lawrence dengan tangannya sendiri.

Sambil mengoleskan mentega pada roti atau memotong ikan untuk putranya, ia berbicara dengan suara yang lembut.

"Tadi malam terasa agak panas. Apakah tidurmu nyenyak?"

"Ya. Udara menjadi lebih sejuk setelah malam tiba."

"Tetapi begitu matahari terbit, cuacanya kembali panas. Jika nafsu makanmu berkurang, beri tahu Ibu. Ibu akan meminta kepala koki menyiapkan sup labu musim dingin kesukaanmu."

"Baik."

Dengan gerakan yang anggun, Lawrence memasukkan potongan ikan ke dalam mulutnya.

Sejak kecil, Artizea selalu iri melihat perhatian Miraila kepada kakaknya.

Karena ia sendiri tidak pernah menerima kasih sayang yang sama dari ibunya.

Oleh sebab itu, demi sedikit lebih dekat dengan mereka berdua, ia selalu duduk sedekat mungkin.

Ketika Miraila tidak berada di sisi Lawrence, Artizea bahkan merawat kakaknya sendiri karena menganggap hal itu sebagai kewajibannya.

Bahkan setelah ia menyadari bahwa itu bukanlah kewajibannya, ia tetap membujuk dirinya sendiri untuk terus melakukannya.

Lawrence adalah seseorang yang sangat berharga.

Ia adalah orang yang kelak akan menjadi Kaisar.

Lawrence pula yang suatu hari nanti akan menjadikan Miraila seorang wanita yang terhormat dan disegani.

Maka, tentu saja ia akan diperlakukan bak harta yang paling berharga.

Artizea tidak pernah berada pada kedudukan yang sama.

Namun sekarang...

Ia sudah tidak lagi menaruh minat kepada salah satu dari mereka.

Selama menjalani penyiksaan, sisa perasaannya terhadap Lawrence telah lenyap.

Sedangkan keterikatannya kepada Miraila telah menghilang jauh sebelumnya.

Kini ia tahu bahwa keberadaannya bagi Miraila tidak ubahnya seperti sebuah tumor.

Sama seperti mendiang Marquis Rosan.

Artizea mengakhiri sarapannya.

Ia hanya memakan roti dan salad.

Nafsu makannya tidak begitu baik.

Lagipula, ia ingin segera keluar untuk memastikan keadaan saat ini.

Salmon meunière yang disiapkan sebagai hidangan utama bahkan tidak diletakkan di hadapannya.

Saat ia mengusap bibirnya dan hendak berdiri, Miraila tiba-tiba berkata,

"Kakakmu bahkan belum menghabiskan separuh makanannya, tetapi kau sudah ingin pergi?"

Barulah saat itu Miraila menyadari bahwa Artizea tidak lagi duduk di sampingnya seperti biasanya, melainkan memilih tempat yang jauh.

Mata cokelatnya yang indah membelalak.

Seandainya dahulu, Artizea pasti akan segera meminta maaf.

Namun sekarang...

"Aku tidak begitu berselera makan. Lagi pula, Ibu selalu mengatakan bahwa aku harus menurunkan berat badan."

Ucap Artizea dengan tenang.

Semasa kecil, sebelum usianya menginjak sepuluh tahun, tubuhnya memang agak berisi.

Miraila selalu mengatakan bahwa ia terlalu gemuk dan makan terlalu banyak.

Katanya, agar bentuk tubuhnya tetap indah, ia harus makan sedikit seperti burung.

Akibatnya, pada masa itu Artizea mengalami gangguan pola makan.

Apabila ia benar-benar berhenti makan, yang tersisa hanyalah tulang-belulang.

Karena itu, seharusnya Miraila tidak lagi menyuruhnya menurunkan berat badan.

Namun, Miraila memang selalu mengatakannya.

Wajah Miraila seketika dipenuhi amarah.

"Namun kau tetap harus menjaga tata krama di meja makan..."

"Hari ini aku ingin berkunjung ke kuil di luar kota. Apakah Kakak mengizinkanku?"

Artizea sengaja meminta izin kepada Lawrence.

Ia yakin Miraila tidak akan pernah mengizinkannya keluar.

Dengan begitu, ia juga dapat menghindari omelan ibunya.

Satu-satunya hal yang dihargai Lawrence dari Artizea hanyalah kemampuannya untuk melayani.

Ia sama sekali tidak memedulikannya sebagai seorang adik.

Miraila nyaris meledak karena marah.

Namun, ketika Lawrence perlahan membuka mulutnya, ia menghentikan ucapannya.

"Tidak masalah. Kau boleh pergi."

"Terima kasih, Kakak."

Jawab Artizea.

Miraila pun kembali menelan kata-kata yang semula hendak diucapkannya.

Kemudian ia berkata dengan suara yang dipenuhi kelembutan,

"Betapa pengertian dirimu. Bahkan kau selalu memikirkan adikmu..."

Artizea memiliki terlalu banyak hal yang harus dilakukan.

Ia tidak punya waktu untuk memedulikan semua itu.

Begitu keluar dari ruang makan, Alice, salah seorang pelayan yang paling dekat dengannya, segera menghampiri dengan tergesa-gesa.

"My Lady, hari ini Anda tidak makan dengan baik lagi? Mengapa Anda pergi secepat itu? Biasanya Anda..."

"Alice."

Artizea menatap Alice.

Perasaan rindu samar muncul di dalam hatinya.

Alice adalah pelayan pribadi pertamanya.

Ia cerdas, peka, dan sangat setia.

Justru karena kesetiaannya itulah...

Dialah yang akhirnya meminum racun yang seharusnya ditujukan kepada Artizea.

"..."

"Ada apa, My Lady?"

"Tidak apa-apa."

Tak tahu harus berkata apa, Artizea hanya memalingkan wajahnya.

Saat itu, setelah kematian Alice, Artizea telah berusaha menjamin kehidupan seluruh keluarganya.

Karena Alice selalu setia kepadanya.

Lalu...

Apa yang terjadi kepada keluarga Alice setelah dirinya dipenjara?

Bukan hanya keluarga Alice.

Tetapi juga keluarga semua orang yang telah mati demi dirinya.

Artizea pernah membangun sebuah sistem agar bantuan keuangan kepada mereka tetap mengalir, apa pun yang terjadi pada dirinya.

Ia bahkan menyembunyikan seluruh dana beserta jejak yang menghubungkannya dengan bantuan itu, sebagai antisipasi jika sesuatu yang buruk terjadi.

Mengingat pada masa itu ia sudah jauh lebih berhati-hati setelah menyingkirkan seluruh musuh politiknya...

Mungkin sejak lama ia memang telah mencurigai Lawrence, bahkan sebelum dirinya dijebak.

"My Lady... apakah Anda sedang tersenyum?"

"Aku tersenyum?"

"Ya. Seperti ini."

Alice tersenyum sambil menirukan ekspresi wajahnya.

Padahal Artizea sama sekali tidak merasa dirinya sedang tersenyum.

Ia hanya berbalik.

Sekalipun pertemuan itu terjadi kembali setelah dua puluh tahun...

Sifatnya tidak memungkinkan dirinya menyambut orang lain dengan pelukan penuh sukacita.

"Aku akan keluar. Aku hendak pergi ke kuil."

"Baik, My Lady."

"Alice, kemarilah."

Artizea memberi isyarat agar Alice mendekat.

Alice membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan telinganya ke bibir Artizea.

Artizea membisikkan beberapa hal yang harus dilakukan Alice.

Ketika Alice kembali berdiri tegak, Artizea berkata,

"Pergilah ke dapur dan siapkan bekal makan siang berupa sandwich yang diisi daging sebanyak mungkin."

"Oh, My Lady. Apakah akhirnya Anda memutuskan untuk berhenti berdiet?"

"Kurasa aku perlu memperkuat tubuhku."

"Itu keputusan yang benar. Anda memang harus makan lebih banyak."

"Kurang menyenangkan bila makan sendirian. Jadi siapkan sedikitnya lima porsi lagi. Sekalian bawakan juga satu set teh untuk piknik."

"Baik."

Alice tampak kebingungan.

Namun, ia tidak pernah mempertanyakan keputusan Artizea.

"Aku tidak punya banyak waktu. Cepat lakukan. Sophie akan membantuku berganti pakaian."

"Baik, My Lady."

Alice pun segera bergegas pergi.

Artizea berjalan perlahan menuju kamarnya.

Seusai sarapan, biasanya Artizea selalu berganti ke gaun untuk siang hari.

Karena itu, Sophie telah menunggu di depan ruang riasnya.

"Gaun yang mana ingin Anda kenakan hari ini?"

"Yang warna krem... tidak, lebih baik yang hijau."

Jawab Artizea.

Ia berpikir akan merepotkan apabila gaun itu nanti kotor.

Artizea memang tidak memiliki banyak pakaian.

Berbeda dengan Miraila yang memiliki empat ruang ganti penuh pakaian.

Artizea hanya memiliki sebuah ruang rias yang nyaris kosong.

Ketika Miraila sedang berdandan, sekitar dua puluh pelayan mengelilinginya.

Sebaliknya...

Artizea hanya memiliki Sophie.

Begitu mendengar kata "hijau", Sophie langsung mengetahui gaun mana yang dimaksud.

Ia segera berlari menuju lemari pakaian.

Sudah lama Artizea tidak mengenakan gaun resmi.

Miraila tidak suka keluar bersama Artizea.

Ia juga tidak menyukai gagasan bahwa Artizea berhubungan dengan orang-orang di luar.

Miraila selalu mengatakan bahwa sangat memalukan melihat putrinya yang buruk rupa berkeliaran di luar.

Artizea tidak sepenuhnya mempercayai perkataan itu.

Dari sudut pandang Miraila...

Artizea adalah bukti bahwa dirinya telah mengkhianati sang Kaisar.

Karena itu, Miraila tidak ingin memperlihatkannya kepada masyarakat.

Meski demikian...

Artizea masih belum mampu menatap wajahnya sendiri di cermin dan menghargainya.

Sophie melepaskan pakaian luar Artizea.

Kemudian Artizea duduk di depan meja rias.

Sophie lalu bertanya, meskipun ia tahu bahwa biasanya Artizea tidak pernah peduli.

"Bagaimana Anda ingin rambut Anda ditata?"

"Rapi saja... tidak."

Artizea menarik napas panjang.

Lalu ia mengucapkan sesuatu yang belum pernah diucapkannya sepanjang hidup.

"Buatlah terlihat cantik."

"Astaga."

Sophie tampak terkejut.

Namun sesaat kemudian ia tersenyum cerah.

"Yah, tampaknya Anda akhirnya sampai pada usia itu."

"Usia apa?"

"Usia ketika ingin terlihat cantik dan berkencan dengan pria tampan."

"Jangan mengada-ada. Aku hanya akan pergi ke kuil."

"Siapa tahu Anda bertemu seseorang di kuil. Mungkin seorang kesatria yang menawan atau semacamnya."

"Siapa yang akan melirikku?"

Itulah pertama kalinya Artizea mengucapkan perkataan seperti itu.

Penampilan memang penting.

Memikirkan apa yang akan dilakukannya hari ini, tampil cantik memang akan menjadi keuntungan.

Namun...

Hal itu bukan sesuatu yang benar-benar penting baginya.

Karena nilai dirinya yang sesungguhnya tidak terletak pada penampilan.

Meskipun demikian...

Entah mengapa, ia benar-benar ingin terlihat cantik.

Ia tahu bahwa dirinya tidak bisa dan tidak boleh menjalin hubungan seperti itu dengan orang yang akan ditemuinya hari ini.

Sophie membuka matanya lebar-lebar sambil tersenyum.

"Bukankah memang itu yang Anda harapkan?"

"Sophie."

"Jangan khawatir. Aku akan memastikan pria mana pun yang Anda temui pasti tertarik kepada Anda."

Kata Sophie riang sambil mulai mengeriting rambut Artizea.

"My Lady, Anda sebenarnya dapat menjadi wanita tercantik nomor satu di kalangan bangsawan. Wajah Anda memang terlahir sangat cantik. Anda hanya perlu menambah sedikit berat badan dan tidur lebih banyak."

"Mengada-ada."

"Anda tahu sendiri Anda adalah putri Miraila. Sejujurnya, mengingat usia beliau sekarang, permata masyarakat bangsawan seharusnya adalah... aduh!"

Sophie buru-buru terdiam ketika pintu terbuka.

Miraila masuk.

Tampaknya Lawrence telah selesai makan.

Miraila menyapu pandangannya ke seluruh ruang rias.

Begitu melihat Sophie sedang menata rambut Artizea, ia berkata dengan nada mengejek,

"Kau tidak sedang berniat menggoda laki-laki dengan wajah buruk rupa dan penampilan menyedihkan itu, bukan?"

Sophie tetap diam.

Ia hanya memusatkan perhatian pada pekerjaannya.

Artizea menjawab dengan tenang,

"Aku hendak pergi ke kuil. Apa yang harus kulakukan? Menggoda pendeta, begitu maksud Ibu?"

"Kalau begitu, mengapa rambutmu dikeriting seperti perempuan tua?"

Artizea menatap Miraila melalui pantulan cermin.

Miraila menjatuhkan tubuhnya ke sofa di ruang rias.

"Bukankah Kakakmu mengatakan hari ini dia akan keluar?"

"Dia sudah pergi."

Miraila mengembuskan napas panjang penuh keluhan.

Chapter 6 First Meeting (2)

Artizea mengangguk.

Tak ada alasan lain yang dapat membuat suasana hati Miraila seburuk itu.

Lawrence kini telah berusia dua puluh dua tahun.

Bahkan putra yang paling dimanja sekalipun, pada usia seperti itu tentu ingin menjauh dari ibunya dan memperoleh kebebasan yang lebih besar.

Terlebih lagi bagi seseorang seperti Lawrence, yang sejak kecil dibesarkan untuk menganggap dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu.

"Apakah dia mengatakan hendak pergi ke mana?"

Barulah pada saat itu Sophie menyadari bahwa perhatian Miraila telah beralih ke hal lain, sehingga ia kembali melanjutkan menata rambut Artizea.

Miraila hanya mengembuskan napas panjang sebagai jawaban atas pertanyaan Artizea.

Seperti yang biasa dilakukannya dahulu, Artizea pun mencoba menghibur Miraila.

"Lawrence memiliki banyak sahabat dan juga banyak urusan... jadi memang tidak dapat dihindari."

"Ya, aku tahu. Kakakmu adalah pria yang luar biasa. Begitu banyak orang yang mengikuti dan mendukungnya."

Miraila menghela napas lirih.

"Aku hanya berharap dia tidak terpikat oleh perempuan jalang mana pun."

"Jangan khawatir. Kakak adalah pria yang bijaksana."

"Namun urusan perempuan berbeda. Sehebat apa pun seorang pria, apabila ada perempuan yang benar-benar berniat merayunya, pada akhirnya ia akan menyerah. Karena hasrat terhadap perempuan adalah naluri seorang laki-laki."

Miraila selalu mengatakan hal itu.

Artizea dahulu sering bertanya-tanya apakah itu benar-benar kebijaksanaan hidup atau sekadar prasangka yang lahir dari pengalaman Miraila sendiri.

Bagaimanapun juga...

Kini Artizea sudah tahu jawaban seperti apa yang ingin didengar Miraila.

Yang diinginkannya hanyalah kata-kata yang mampu menenangkan hatinya.

"Bagaimana mungkin Kakak melakukan hal seperti itu? Ibu telah membesarkannya dengan penuh kasih dan pengabdian. Kakak bukan orang seperti itu."

Ketika masih kecil, Artizea selalu memperhatikan setiap perkataan Miraila.

Namun sekarang...

Ia tahu bahwa Miraila hanya peduli pada kepentingannya sendiri.

Miraila mengangguk puas mendengar jawabannya.

"Benar. Kakakmu memang berbeda dari laki-laki lain. Meski begitu, aku tetap mengkhawatirkannya. Bagaimanapun juga, ketika seorang pria jatuh cinta kepada seorang perempuan, ia akan melupakan ibunya. Kau tidak akan begitu, bukan?"

"Tentu tidak, Ibu. Aku akan selalu berada di sisi Ibu."

Jawab Artizea dengan sopan.

Miraila pun tersenyum puas.

"Tentu saja. Karena kau adalah putriku."

Sementara mereka berbicara, Sophie telah selesai mengeriting seluruh rambut Artizea.

Kemampuan Sophie dalam menata rambut memang sangat baik.

Hanya saja, kali ini ia sedikit berlebihan sehingga ikal rambutnya menjadi terlalu rapat.

Namun, Miraila tampak cukup puas melihat hasilnya.

"Semoga perjalananmu menyenangkan. Jangan lupa menyumbangkan sejumlah uang dan berdoalah dengan sungguh-sungguh. Kau harus selalu memberi perhatian kepada kuil."

"Baik, Ibu."

Artizea menjawab dengan patuh.

Ketika Artizea berusia lima belas tahun, ia pernah mengusulkan pembentukan jaringan informasi.

Saat itulah ia menyarankan agar mereka memberikan sumbangan kepada kuil-kuil, membagikan uang kepada para pendeta, serta membeli kesetiaan para pelayan dan pembantu di Istana Kekaisaran.

Sebelumnya, Miraila telah beberapa kali mencoba melakukan hal serupa.

Namun semuanya selalu gagal.

Dibandingkan dengan uang yang dikeluarkannya dalam jumlah besar, hasil yang diperoleh hampir tidak sebanding.

Pada akhirnya, ia baru berhasil setelah mengikuti saran Artizea.

Meski demikian, Miraila tetap bertindak seolah-olah semua itu merupakan idenya sendiri, sedangkan Artizea hanyalah orang yang menjalankan perintah.

Namun Artizea tidak merasa kesal.

Paling lambat satu bulan lagi...

Segalanya akan berubah.

Ia tidak ingin berdebat ataupun dipukul hanya karena persoalan sepele seperti itu.

Karena itu, ia tetap bersikap seperti dahulu, seolah-olah tidak mengetahui apa pun.

"My Lady, apakah Anda baik-baik saja?"

Begitu Miraila pergi, Sophie bertanya dengan nada cemas.

Artizea menganggukkan kepala.

"Bukankah ini bukan pertama kalinya?"

"Ya... tetapi tetap saja..."

"Tolong pakaikan gaunku."

"Oh... baik."

Sophie segera bergerak.

Artizea tidak mengenakan korset.

Ketika masih kecil, Miraila selalu memaksanya mengenakan korset kecil agar tubuhnya tampak lebih indah.

Namun, setelah tubuh Artizea mulai berkembang menjadi tubuh seorang wanita dewasa, Miraila justru melarangnya mengenakan pakaian ketat dengan alasan hal itu akan membangkitkan pikiran kotor para pria.

Sophie memasangkan bustle pada gaunnya, lalu memakaikannya gaun bergaris berwarna hijau tua.

Setelah itu, Sophie mendudukkannya di sebuah kursi dan kembali menata rambutnya.

Sambil memijat kulit kepala Artizea dengan lembut, ia menguraikan ikal-ikal rambut yang sebelumnya dibuat terlalu rapat hingga menghasilkan tatanan yang sempurna.

Lengkungan ikalnya kini tampak tepat.

Warna rambut Artizea memang sangat indah.

Dengan tatanan seperti itu, kecantikannya semakin menonjol.

Artizea menatap bayangannya di cermin dengan canggung.

Jari-jarinya memainkan ujung rambutnya.

"Bagaimana menurut Anda? Tidak perlu khawatir. Saat Anda kembali nanti, rambut Anda akan kembali lurus. Lagi pula, cukup dibasahi sedikit dengan air, ikalnya akan hilang."

Sophie berkata dengan riang.

Artizea tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Selama hidupnya...

Ia tidak pernah memedulikan penampilannya.

Namun, ini adalah pertama kalinya seorang pelayan melanggar aturan berpakaian yang biasa diterapkan, semata-mata demi membuatnya terlihat cantik.

Biasanya, apabila merasa puas atas pekerjaan para pelayan, Artizea akan memberikan sekeping koin perak sebagai penghargaan.

Apakah... tidak apa-apa jika aku terlihat cantik?

Selama ini Artizea selalu dihantui kecemasan yang nyaris obsesif.

Apakah dirinya berhak melakukan sesuatu demi dirinya sendiri?

Aku harus segera menjauh dari Ibu.

Ia mengambil keputusan dengan mantap.

"Apakah Anda tidak menyukainya?"

Tanya Sophie dengan wajah cemas.

Artizea menggeleng.

Ia membuka laci meja rias, mengambil sekeping koin perak, lalu memberikannya kepada Sophie.

"Sebaliknya. Hari ini kau melakukan pekerjaan yang sangat baik."

"Wah! Terima kasih banyak!"

Sophie menerima koin perak itu dengan kedua tangan sambil membungkukkan kepala.

Pada saat itulah...

Terdengar suara pintu terbuka.

Alice masuk setelah menyelesaikan semua tugas yang diperintahkan Artizea.

Begitu melihat penampilan Artizea, ia langsung terkejut.

"My Lady, hari ini Anda sungguh cantik!"

Diam-diam Sophie membentuk tanda V dengan kedua jarinya di belakang Artizea.

Artizea melihatnya melalui pantulan cermin lalu mengarahkan pandangannya kepada Sophie.

Sophie hanya bersenandung kecil sambil mengangkat bahu.

Alice, yang jauh lebih ceria daripada Sophie, berkata penuh semangat,

"Anda benar-benar cantik! Akan sangat menyenangkan jika Anda selalu tampil seperti ini."

"Pandai sekali kau merayu. Sanjungan tidak akan memberimu apa-apa. Apakah semua yang kuperintahkan sudah selesai?"

"Sudah. Bekal makan siang juga telah saya kemas dengan rapi dan saya letakkan di dalam kereta."

"Kerja bagus."

Artizea juga memberikan sekeping koin perak kepada Alice.

Sebagai sentuhan terakhir, Sophie memasangkan topi kecil yang dihiasi sepasang bunga.

Artizea mengambil payung berwarna krem dengan tepian hijau yang serasi dengan gaunnya.

Kemudian ia keluar bersama Alice.

Perubahan masa depan...

Baru saja dimulai.


Pada waktu itu, Grand Duke Cedric berada di sebuah barak di luar ibu kota.

Cedric adalah keponakan sang Kaisar.

Ibunya merupakan saudari kandung Kaisar.

Tidak lama setelah Kaisar sebelumnya wafat dan Kaisar yang sekarang naik takhta, kedua orang tua Cedric difitnah sebagai pengkhianat dan dihukum mati.

Pada saat itu, hampir seluruh keluarga kekaisaran tewas.

Yang tersisa hanyalah anak-anak dari Kaisar yang sekarang.

Namun, Cedric yang saat itu masih bayi serta Roygar yang berusia dua belas tahun berhasil selamat dari pembersihan politik tersebut.

Sang Kaisar memiliki tiga orang anak dari Permaisuri.

Selain itu, ia juga memiliki Lawrence dari Miraila.

Namun, ketiga anak dari Permaisuri meninggal sebelum genap berusia sepuluh tahun akibat penyakit maupun kecelakaan.

Beredar desas-desus bahwa sang Kaisar dikutuk karena telah membunuh kerabat sedarahnya sendiri.

Bahkan muncul pula cerita bahwa arwah mendiang Ibu Suri berkeliaran di makam Grand Duke dan Grand Duchess Evron yang tak berdosa sambil menangis darah.

Sang Kaisar menangkap dan mengeksekusi setiap orang yang menyebarkan desas-desus semacam itu.

Namun, seiring bertambahnya usia, sifatnya yang kejam perlahan berkurang.

Kematian anak-anaknya yang terjadi secara beruntun juga meninggalkan luka yang mendalam di hatinya.

Pada akhirnya, sang Kaisar mengembalikan Keluarga Evron ke kedudukan semula.

Cedric telah kehilangan kepercayaannya terhadap kekuasaan.

Karena itu, meskipun keluarganya dipulihkan, ia memilih tetap tinggal dengan tenang menjaga Grand Duchy Evron tanpa berniat memasuki dunia politik.

Akan tetapi, ketika nama Cedric semakin harum, sang Kaisar memanggilnya secara paksa dari wilayah utara.

Ia kemudian menyerahkan komando Angkatan Darat Barat Kekaisaran kepada Cedric untuk memulihkan ketertiban di wilayah barat yang sedang dilanda serangan monster.

Di wilayah barat telah terjadi gelombang monster.

Artinya, monster-monster yang jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun mulai menyerang wilayah tempat manusia tinggal.

Ketika keadaan menjadi semakin parah, lebih dari separuh dataran barat telah dihancurkan oleh serangan monster.

Bahan makanan menjadi langka layaknya masa kelaparan.

Bahkan muncul desas-desus mengenai praktik kanibalisme.

Perdagangan manusia pun merajalela.

Rakyat jelata kehilangan tempat tinggal dan hidup mengembara.

Berbagai sektor, termasuk pertanian, hancur lebur.

Namun...

Kekaisaran Crates yang telah kehilangan kekuatannya bahkan tidak mampu memberikan bantuan kepada wilayah barat.

Cedric harus memulai semuanya dengan membangun kembali Angkatan Darat Barat.

Setelah melalui ekspedisi yang panjang, mereka berhasil menaklukkan wilayah luas di luar perbatasan dan mendirikan sebuah benteng.

Untuk sementara waktu, mereka tidak lagi perlu menghadapi gelombang monster yang terus bertambah.

Itu adalah kemenangan yang luar biasa.

Namun...

Sang Kaisar masih belum memberikan izin untuk mengadakan upacara kemenangan.

Karena alasan itulah Cedric harus tinggal selama dua bulan di sebuah barak di luar ibu kota.

"Sekarang bukan saatnya bersikap keras kepala."

Keluh wakil komandannya, Freyl.

"Mari kita bubarkan saja pasukan ini. Upacara itu tidak penting. Cukuplah Your Grace masuk lebih dahulu, memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar, lalu berkata, 'Pasukan berada dalam keadaan baik. Semua ini dapat terwujud berkat Yang Mulia.'"

"Freyl."

"Lalu Yang Mulia tentu akan memuji kerja keras kita, memberikan penghargaan, dan mengadakan jamuan. Bukankah selama ini semua orang memang melakukannya seperti itu?"

Cedric menjawab dengan tegas,

"Para prajurit yang telah berjuang lebih dari setahun tanpa penggantian pasukan maupun tambahan perbekalan berhak menerima kehormatan tersebut."

Bagi Cedric, memasuki istana dan membungkuk kepada sang Kaisar bukanlah perkara yang sulit.

Namun...

Itu bukan tindakan yang benar.

"Kita memang tidak memerlukan upacara yang megah, tetapi kita harus memasuki ibu kota secara resmi. Penghargaan atas jasa perang tidak boleh hanya dinilai dengan uang."

Wajah Cedric tampak sungguh-sungguh.

"Dan kita tidak bisa membubarkan pasukan ini, Freyl. Memang benar kita baru saja memperoleh kemenangan besar. Namun beberapa tahun lagi keadaan yang sama akan terulang kembali. Menurutmu apa yang akan terjadi saat itu?"

"Kalau begitu, Yang Mulia Kaisar seharusnya diam-diam memanggil Grand Duke Evron."

"Jika wilayah barat runtuh, seluruh Kekaisaran akan berada dalam bahaya."

Namun, Cedric tetap mengembuskan napas pelan.

"Aku mengerti maksudmu, Freyl. Kita juga tidak mungkin terus berada dalam keadaan seperti ini."

"Kalau begitu, apa yang akan Anda lakukan?"

"Aku berniat meminta Uskup Agung menjadi penengah."

Freyl memperlihatkan raut wajah ragu.

Hubungan sang Kaisar dengan kuil memang tidak baik.

"Apakah itu akan berhasil?"

"Aku harus mencobanya. Lagipula, aku memang berencana pergi ke kuil karena semalam aku mengalami mimpi yang mengusik."

"Mimpi?"

"Ya."

Cedric mengangguk.

Di dalam mimpinya muncul seorang perempuan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Perempuan itu memiliki rambut pirang platinum.

Ia terus menangis tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Air matanya membasahi seluruh wajahnya.

Dalam satu sisi...

Mimpi itu bahkan dapat disebut sebagai mimpi buruk.

Namun, alih-alih merasa takut...

Entah mengapa Cedric justru merasa iba kepadanya.

Dadanya terasa sesak.

Seolah-olah ada sesuatu yang sedang meremas jantungnya.

Mimpi itu meninggalkan kepahitan yang sulit dijelaskan di dalam hatinya.

Chapter 7 First Meeting (3)

Kuil tempat Uskup Agung berada terletak di pinggiran ibu kota, cukup jauh dari pusat kota.

Sebagian alasannya adalah karena ajaran yang menganjurkan agar seseorang menjauhkan diri dari dunia fana, dan sebagian lagi karena alasan praktis, yaitu menjaga jarak tertentu dari lingkup pengaruh sang Kaisar.

Di dalam ibu kota memang terdapat beberapa kuil kecil yang biasa dikunjungi rakyat jelata.

Namun, apabila memiliki waktu luang, para bangsawan biasanya datang ke kuil ini karena pemandangannya indah dan menawan.

Bahkan Keluarga Kekaisaran pun harus datang ke tempat ini untuk menjalani sakramen-sakramen penting.

Hal itu juga merupakan salah satu cara untuk menegaskan kewibawaan kuil.

Cedric memasuki kawasan hutan bersama beberapa kesatria di bawah komandonya dalam perjalanan menuju kuil.

Di tengah jalan tampak sebuah kereta berhenti dengan posisi yang tidak wajar.

"Woa!"

Freyl, yang berada paling depan, segera menarik kendali kudanya hingga berhenti.

Cedric pun menghentikan kudanya di belakangnya.

"Apa yang terjadi?"

Tanya Freyl.

Kusir kereta segera melepas topinya dan menundukkan kepala dengan wajah penuh malu.

"Mohon maaf, Tuan-Tuan Kesatria. Roda kereta kami terlepas."

"Roda kereta terlepas?"

Freyl menoleh ke arah Cedric.

Setelah melihat Cedric mengangguk, Freyl turun dari kudanya.

Karena mereka menunggang kuda, sebenarnya mereka dapat saja keluar sedikit dari jalan dan langsung melewati kereta itu.

Namun, baik Cedric maupun para kesatria bukanlah orang seperti itu.

Lagipula, mereka tidak sedang terburu-buru.

Cedric mengamati keadaan sejenak.

Penahan yang menghubungkan poros dengan roda ternyata terlepas karena suatu sebab, sehingga roda itu copot.

"Ini tidak biasa. Bagaimana kau mengendalikan kereta ini?"

Freyl menegur kusir itu dengan keras.

Kusir yang gugup segera mengusap dahinya.

"Saya mengemudikannya dengan hati-hati. Saya sendiri tidak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi."

"Apakah bisa diperbaiki?"

Cedric turun dari kudanya dan menghampiri Freyl.

"Tidak terlalu sulit. Roda itu hanya perlu dipasang kembali, lalu penahannya dikencangkan lagi. Memang membutuhkan sedikit tenaga, tetapi sepertinya orang-orang di dalam kereta adalah perempuan, sehingga mereka tidak mampu memperbaikinya sendiri."

Freyl melapor.

Cedric menganggukkan kepala.

Seorang gadis yang berdiri di bawah naungan pohon tidak jauh dari sana berjalan mendekat bersama pelayannya.

Tampaknya gadis itu adalah pemilik kereta tersebut.

"Terima kasih atas bantuan Anda."

"Sama-sama."

Jawab Cedric sambil menoleh ke arahnya.

Pada detik itu juga...

Ia tertegun.

Gadis itu memiliki wajah yang sama dengan perempuan yang muncul dalam mimpinya.

Memang tampak lebih muda.

Jauh lebih cantik.

Namun tidak diragukan lagi, dia adalah perempuan yang sama.

Gadis itu berkata dengan tenang,

"Aku sempat khawatir harus berjalan kaki dari sini sampai ke kuil."

"Bagaimana mungkin seorang Lady secantik Anda berjalan kaki dari sini ke kuil? Jangan khawatir. Kami akan segera memperbaikinya."

Freyl buru-buru menyela sambil membusungkan dada.

Cedric meliriknya.

Hal seperti itu bukan sesuatu yang dapat dipastikan.

Memamerkan diri di depan wanita cantik memang sudah menjadi kebiasaan buruk Freyl.

Gadis itu tersenyum tipis.

Entah mengapa...

Senyum itu tampak pahit.

Namun pada saat yang sama, seolah-olah ia sedang menahan tawanya.

Bayangan wajah yang menangis dalam mimpinya bertumpang tindih dengan senyum itu.

Cedric segera mengalihkan pandangan, merasa sedikit gelisah.

Kereta itu pun segera selesai diperbaiki.

Gadis itu mengucapkan terima kasih kepada para kesatria satu per satu.

Kemudian berkata,

"Maaf telah merepotkan kalian."

"Anda tidak perlu meminta maaf. Sudah menjadi tugas kami membantu orang yang membutuhkan. Lagi pula, seorang Lady secantik Anda berbahaya jika bepergian tanpa pengawalan."

Sekali lagi Freyl berbicara menggantikan Cedric.

Gadis itu menjawab,

"Ini hanya perjalanan singkat menuju kuil. Karena kita berada di tengah jalan sekarang, kurang pantas bila mengucapkan terima kasih dengan layak. Namun setelah tiba di kuil, izinkan aku membalas kebaikan kalian sebagaimana mestinya."

"Tidak perlu."

Jawab Freyl.

Namun Cedric justru mengangguk menyetujuinya.

Kemudian ia sendiri membuka pintu kereta.

Artizea tampak sedikit malu.

"Silakan naik."

Ujarnya singkat sambil mengulurkan tangan.

Artizea ragu sejenak.

Pipinya memerah.

Namun akhirnya ia menerima uluran tangan Cedric dan naik ke dalam kereta.

Rombongan Cedric yang menunggang kuda kemudian terbagi menjadi dua.

Sebagian berada sedikit di depan kereta.

Sebagian lagi berada di belakangnya.

Artizea segera menyadari bahwa mereka sedang mengawal keretanya.

Ketika gerbang kuil mulai terlihat, rombongan Cedric mempercepat laju kuda mereka dan bergerak menjauh.

Mereka tidak menuju bangunan utama kuil, melainkan hendak mengunjungi kediaman pribadi Uskup Agung.

Begitu kereta Artizea berhenti di depan pintu utama kuil, seorang pendeta segera berlari menyambutnya.

"Selamat datang, Lady Rosan."

"Terima kasih telah menyambutku meskipun aku datang tanpa pemberitahuan."

Artizea memberi isyarat kepada Alice agar mengambil kotak kecil yang telah dibawanya.

"Aku membawa lilin-lilin beraroma. Aku ingin mempersembahkannya kepada patung Putra Tuhan."

"Silakan ikut dengan saya. Saya yakin Putra Tuhan akan sangat berkenan melihat pengabdian Anda yang begitu besar, Lady Rosan."

Pendeta itu tampak sangat gembira.

Lilin-lilin beraroma di dalam kotak itu sendiri sebenarnya tidak terlalu berharga.

Namun, kotaknya dibuat dari emas, dilapisi kain satin, dan dihiasi sebuah batu rubi di bagian tengahnya.

Nilainya jauh lebih tinggi daripada sekadar memberikan sumbangan secara langsung.

Walaupun kuil telah lama mengalami sekularisasi...

Mereka tetap ingin mempertahankan citra sebagai kaum rohaniwan yang hidup sederhana dan jujur.

Artizea perlahan mengikuti sang pendeta sambil membawa kotak tersebut.

Pendeta itu tidak membawanya ke aula utama.

Melainkan menuju sebuah kapel kecil tempat berdirinya patung Putra Tuhan.

Artizea menghampiri patung itu lalu berlutut dengan khidmat.

Ia membuka kotaknya dan mengeluarkan tiga batang lilin.

Satu per satu lilin itu diletakkannya di depan patung Putra Tuhan, dinyalakan, lalu ia merapatkan kedua tangannya.

Semasa kecil ia sering berdoa.

Namun sejak berusia enam belas tahun, ia tidak pernah lagi memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan.

Tetapi sekarang...

Ia ingin melakukannya sepenuh hati.

Aku telah menggunakan sihir dan mempersembahkan tubuhku sebagai korban. Ampunilah aku. Meskipun melayani orang-orang bodoh dan jahat, Grand Duke Evron adalah seorang pria yang adil. Tolong lindungilah dia. Dan terakhir... lindungilah putri suci-Mu, Saintess Licia.

Untuk setiap batang lilin...

Ia memanjatkan satu permohonan.

Setelah menyelesaikan doa singkatnya dan berdiri kembali, sang pendeta bertanya dengan sopan,

"Apakah Anda ingin bertemu dengan Uskup Agung?"

"Tidak. Aku hanya ingin menikmati teh dan beristirahat sejenak sebelum kembali."

"Kalau begitu, saya telah menyiapkan gazebo untuk Anda."

"Dan satu hal lagi, jika berkenan."

Artizea mengedipkan mata kepada Alice.

Alice segera mengeluarkan sekeping koin perak dari sakunya lalu menyerahkannya kepada sang pendeta.

Pendeta itu menerimanya dengan santai dan memasukkannya ke dalam lengan jubahnya.

"Di tengah perjalanan menuju kuil, beberapa kesatria telah membantu memperbaiki roda kereta kami. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka dengan layak. Bisakah Anda mengantar pelayanku menemui mereka?"

"Kalau para kesatria itu, pasti rombongan milik Your Grace, Grand Duke Evron."

Pendeta itu memanggil seorang pelayan kuil dan memintanya mengantar Alice.

Sementara itu, ia sendiri mengantar Artizea menuju gazebo.

Artizea berjalan perlahan menyusuri area kuil mengikuti sang pendeta.

Karena kuil ini berdiri di tempat yang memiliki pemandangan indah, banyak orang datang ke sana bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk beristirahat.

Selain itu, beberapa Lady bangsawan yang sangat saleh tinggal di sekitar kawasan tersebut dan datang ke kuil setiap hari.

Karena alasan itu, dibangun beberapa gazebo di halaman kuil yang luas agar para pengunjung dapat menikmati pemandangan alam tanpa terganggu orang lain.

Artizea menunggu sendirian beberapa saat di gazebo tempat sang pendeta mengantarnya.

Aliran sungai kecil di samping gazebo menghasilkan suara gemericik yang menenangkan.

Sekitar setengah jam kemudian...

Alice kembali bersama pelayan kuil.

Pelayan kuil membawa sebuah ketel berisi air panas dan sebuah keranjang anyaman.

Sementara Alice membawa kotak berisi perlengkapan minum teh.

"My Lady, saya sudah membagikan bekal makan siang sesuai perintah Anda. Mereka sangat menyukainya."

"Kerja bagus."

Makanan yang disajikan di kuil tidak mengandung daging.

Karena itu, jelas tidak akan cukup bagi para kesatria.

Artizea memang telah merencanakan hal ini sejak awal.

Itulah sebabnya ia menyiapkan begitu banyak makanan.

"Saya juga telah mengundang Grand Duke sesuai perintah Anda. My Lady, Anda juga sebaiknya makan sedikit."

Sambil berbicara, Alice membuka kotak perlengkapan teh yang dibawanya lalu mengeluarkan berbagai makanan dari keranjang anyaman.

Artizea sebenarnya tidak memiliki selera makan.

Namun, karena ia telah mengundang Cedric, ia tetap harus menyiapkan jamuan itu.

Alice meletakkan beberapa piring di atas meja.

Di dalamnya terdapat potongan-potongan kecil sandwich, scone, dan selai.

Sementara itu...

Artizea sendiri mulai menyeduh teh.

Aroma jeruk yang segar perlahan memenuhi udara.

Saat Artizea menuangkan teh ke dalam cangkirnya...

Cedric akhirnya tiba di gazebo itu.

Artizea segera berdiri.

Jantungnya berdegup begitu kencang.

Belum pernah ia merasakan hal seperti ini.

Ia sendiri tidak yakin apakah itu disebabkan oleh rasa tegang.

"Salam hormat sekali lagi, Your Grace, Grand Duke Evron. Perkenalkan, aku Artizea Rosan."

Ia membungkukkan kepala dengan penuh hormat.

Cedric menambahkan beberapa patah kata untuk memastikan apa yang baru saja didengarnya.

"Putri Marchioness Rosan..."

"Benar. Aku adalah putrinya."

"Jika kau sudah mengetahui bahwa aku adalah Grand Duke Evron, lalu sengaja merancang semua ini demi menjalin hubungan denganku, seharusnya kau juga tahu bahwa aku tidak menyukai Marchioness Rosan. Bukankah begitu?"

"Jadi Anda menyadarinya."

"Aku tidak sebodoh itu. Bagaimana mungkin roda sebuah kereta yang masih sangat baik bisa terlepas begitu saja?"

Cedric melanjutkan,

"Bahkan bekal makan siang pun sudah kau siapkan, seolah-olah semua ini memang telah kau rencanakan sejak awal."

Artizea tampak sedikit malu.

"Ada sesuatu yang harus kusampaikan kepada Anda. Seandainya aku tidak menciptakan kesempatan kecil ini, begitu mengetahui bahwa aku adalah putri Miraila Rosan, Anda pasti akan langsung berbalik dan pergi."

Cedric menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Sebenarnya, ia tidak akan terlalu memedulikan semua ini...

Andaikata semalam ia tidak mengalami mimpi yang begitu aneh.

Artizea membalas tatapannya tanpa menghindar.

Cedric berpikir bahwa mata Artizea yang berwarna pirus itu bagaikan batu permata.

Berbeda dengan tatapan penuh kesedihan dalam mimpinya...

Kini kedua mata itu memancarkan kehangatan.

Akhirnya ia pun duduk.

"Aku berharap apa yang ingin kau sampaikan benar-benar berharga dan bukan sekadar membuang waktuku."

"Terima kasih."

Artizea kembali menundukkan kepala dengan hormat.

Saat ia menuangkan teh hangat ke dalam cangkir Cedric, pria itu sempat ragu sejenak.

Ia benar-benar tidak merasa nyaman.

Ia tahu bahwa Artizea sedang merencanakan sesuatu.

Meskipun ia mengira kemungkinan terburuknya hanyalah sebuah lelucon yang buruk, ia tetap tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa perempuan di hadapannya adalah putri Marchioness Rosan.

Namun demikian...

Ia memutuskan setidaknya akan meminum secangkir teh itu.

Kapan pun ia mau, ia bisa langsung berdiri dan pergi.

"Sudilah melamarku."

"Khuk...!"

Ia tersedak teh panas yang baru saja diminumnya.

Chapter 8 First Meeting (4)

Cedric menutup mulutnya dengan tangan sambil terbatuk-batuk beberapa saat dengan wajah meringis.

Bagian dalam mulutnya terasa terbakar oleh teh yang masih terlalu panas.

"Astaga. Tidak pernah terlintas dalam benakku bahwa aku akan mendengar permintaan seperti itu dari seorang Lady yang baru kutemui hari ini."

Dengan wajah yang memerah, Artizea mengulurkan sapu tangan kepadanya.

Cedric menerimanya, lalu mengusap mulut dan tangannya.

Yang dimaksud Artizea bukanlah lamaran dalam arti pernikahan yang sesungguhnya.

Sekalipun dirinya telah berubah...

Cedric tidak mungkin mengetahuinya.

Karena itu, Artizea mengira pria itu akan memahami kata lamaran sebagai bagian dari sebuah siasat.

Sama sekali tidak terlintas dalam benaknya bahwa Cedric akan mengartikannya sebagai lamaran antara seorang pria dan seorang wanita.

Artizea mengakui bahwa dirinya sendirilah yang telah keliru.

Pada saat ini, Cedric bukan hanya tidak mengetahui bahwa dirinya telah berubah...

Bahkan, ia sama sekali belum mengenalnya.

Tidak mengherankan bila pria itu salah mengartikan perkataannya.

Artizea berbicara sambil menekan kedua pipinya yang memerah dengan telapak tangannya.

"Aku tidak meminta Your Grace benar-benar menikah denganku. Yang kumaksud adalah sebuah cara untuk menyelesaikan persoalan yang selama ini membebani Your Grace."

"Persoalan yang mana?"

"Sudah dua bulan terakhir Your Grace tidak memasuki ibu kota karena persoalan upacara kemenangan, bukan? Aku tahu Your Grace mengkhawatirkan para prajurit yang tidak memperoleh penghargaan sebagaimana mestinya. Jika keadaan ini terus berlanjut, bukan hanya Angkatan Darat Barat yang akan runtuh, tetapi juga Angkatan Darat Selatan."

Perlakuan Keluarga Kekaisaran terhadap pasukan daerah bukanlah hal yang baru.

Namun, ketidakpuasan yang selama ini terpendam perlahan mulai meledak, karena mereka telah mempertaruhkan nyawa tanpa pernah memperoleh penghargaan yang layak.

Para prajurit mulai membelot dari Angkatan Darat Selatan dan Timur.

Sebaliknya, di bawah kepemimpinan Cedric, Angkatan Darat Barat hampir tidak mengalami persoalan seperti itu.

"Semakin lama Your Grace bertahan, semakin enggan Yang Mulia Kaisar mengakui jasa militer Angkatan Darat Barat. Tidak ada hal yang lebih dibencinya selain kalah dari orang lain dan kehilangan muka. Mungkin karena itulah Your Grace hendak meminta Uskup Agung menjadi penengah?"

"Benar."

"Yang Mulia Kaisar memiliki rasa rendah diri terhadap Uskup Agung. Itu bukan pilihan yang bijaksana."

Artizea melanjutkan,

"Apabila Uskup Agung turun tangan, sekalipun upacara kemenangan akhirnya berhasil diselenggarakan, di kemudian hari pasti akan terjadi pembalasan. Bukan hanya kemungkinan Your Grace akan disingkirkan dari Angkatan Darat Barat, para perwira penting yang selama ini membantu Your Grace pun bisa saja dicopot atau dibersihkan. Jika hanya penundaan pengiriman pasukan tambahan dan logistik, Your Grace seharusnya masih bisa bersyukur."

Artizea mengatakan semua itu karena ia mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi di masa depan.

Angkatan Darat Barat akan terus melemah.

Dan tujuh tahun kemudian, ketika gelombang monster kembali datang, wilayah barat benar-benar berubah menjadi neraka.

Hilangnya ladang-ladang gandum menyebabkan daerah lain ikut dilanda kelaparan.

Wajah Cedric menjadi muram.

Ia pun mengetahui semua itu.

Namun demikian...

Ia tetap tidak sanggup menundukkan kepala kepada sang Kaisar.

Sebuah angkatan perang tidak hanya dibangun dengan logistik.

Apabila harga diri dan disiplin militer telah hilang, organisasi yang susah payah dibangunnya akan ikut hancur.

"Yang Mulia Kaisar sangat menyayangi kakakku, Lawrence. Namun, saat ini Lawrence tidak memiliki dukungan militer. Jelas sekali bahwa kelak, ketika perebutan takhta dimulai, hal itu akan menjadi kelemahan besar baginya. Yang Mulia mengkhawatirkan hal tersebut."

Artizea melanjutkan penjelasannya.

"Tentu saja, Yang Mulia juga tidak berniat membagi kekuasaannya kepada siapa pun."

"Aku tahu."

"Itulah sebabnya Your Grace adalah orang yang tepat. Your Grace berada dalam garis pewarisan takhta. Anda mampu memperkuat legitimasi Lawrence sekaligus memberinya dukungan militer yang dibutuhkannya."

Artizea menyesap sedikit tehnya sebelum melanjutkan.

"Apabila Your Grace menunjukkan kemungkinan untuk mendukung Lawrence, Yang Mulia Kaisar akan bersedia memberikan penghargaan yang layak kepada Angkatan Darat Barat dan menyelenggarakan upacara kemenangan yang sesuai dengan jasa mereka."

"Aku mengerti maksudmu, Lady. Namun hal itu mustahil terjadi. Aku tidak akan pernah bersekutu dengan Marchioness Rosan. Terlebih lagi menikahi putrinya."

Ucap Cedric dengan tegas.

"Lady, satu-satunya alasan aku masih mendengarkanmu sampai sekarang adalah karena kau tampak cerdas. Namun kau masih sangat muda. Mungkin karena kau belum benar-benar mengenalku, sehingga ketika mendengar ibumu dan kakakmu menyusun rencana ini, kau mengira semuanya mungkin dilakukan."

"Your Grace."

"Aku tidak marah kepadamu, Lady. Maafkan aku karena harus mengakhiri percakapan ini di tengah jalan. Namun aku tidak sependapat dengan gagasanmu."

"Tidak."

Artizea meraih ujung lengan bajunya ketika Cedric hendak berdiri.

"Aku belum selesai berbicara. Dan aku sama sekali tidak meminta Your Grace benar-benar mendukung Lawrence."

Cedric menatapnya dari atas.

Artizea segera berkata,

"Cukup dengan memperlihatkan kepada Yang Mulia Kaisar adanya 'kemungkinan' itu."

"Lady."

"Apakah Your Grace benar-benar akan mendukung Lawrence atau tidak, biarlah tetap menjadi sesuatu yang tidak pasti. Dengan begitu Angkatan Darat Barat tetap akan memperoleh perlakuan yang layak. Namun hanya karena alasan pribadi, apakah Your Grace rela membuang kesempatan itu?"

"Aku tidak berniat memohon demi mendapatkan pengakuan yang memang pantas diterima para prajurit atas jasa mereka."

"Kalau begitu... bagaimana dengan 'Desa Pemberontak' di Grand Duchy Evron?"

Cedric mengerutkan dahinya.

Tatapannya berubah tajam.

"Apakah kau sedang mencoba mengancamku, Lady?"

"Tidak. Aku sungguh-sungguh sedang memberikan nasihat. Fakta bahwa aku mengetahui hal itu berarti orang lain pun suatu saat dapat mengetahuinya, Your Grace."

"Kalau begitu, setidaknya Marchioness Rosan dan Lawrence juga pasti mengetahuinya."

"Ibu dan Kakakku tidak begitu pandai dalam pekerjaan yang memerlukan ketelitian seperti itu. Jadi Your Grace tidak perlu khawatir. Saat ini hanya aku seorang yang mengetahuinya."

"Mereka tidak bersalah."

"Aku juga mengetahuinya. Namun persoalan ini dapat menjadi pemicu masalah besar kapan saja."

Kini Artizea tahu...

Cedric tidak mungkin pergi begitu saja.

Kesadaran itu membuatnya sedikit lebih tenang.

Ia kembali menuangkan teh ke dalam cangkirnya.

Aku haus.

Cedric kembali duduk setelah Artizea selesai berbicara.

Kemudian ia bertanya dengan suara rendah,

"Apa sebenarnya yang kau inginkan?"

"Your Grace seharusnya mengejar keuntungan yang lebih nyata."

"Apakah keuntungan yang kau maksud adalah bersekutu dengan orang-orang yang tidak adil demi memperoleh upacara kemenangan bagi Angkatan Darat Barat?"

"Your Grace, untuk sementara kesampingkanlah kehormatan pribadi Anda agar Anda dapat memperoleh kehormatan bagi Angkatan Darat Barat sekaligus melindungi Grand Duchy Evron."

Kata Artizea.

"Baik Ibu maupun Kakakku tidak mengetahui pertemuan ini. Aku tidak merusak roda kereta agar Your Grace mengira pertemuan kita terjadi secara kebetulan. Aku melakukannya untuk menipu orang lain."

"..."

"Adalah hal yang lumrah apabila seorang pria dan seorang wanita yang bertemu secara kebetulan akhirnya saling jatuh cinta."

Artizea mengucapkannya dengan tenang.

"Karena itu, umumkan bahwa Your Grace berhenti menentang kehendak Kaisar dan kembali ke ibu kota karena jatuh cinta kepadaku. Setelah itu, lamar aku. Tidak akan banyak orang yang mempertanyakannya."

Ia adalah putri Miraila Rosan.

Orang-orang tentu akan salah memahami seluruh keadaan.

Kecuali Miraila dan Lawrence, yang mengetahui bahwa itu bukanlah pernikahan politik.

Karena itu, tidak akan terbentuk aliansi pernikahan yang sesungguhnya.

Setelah mengucapkan semua itu, Artizea meluruskan punggungnya dan menatap Cedric secara langsung.

"Di permukaan, akan terlihat seolah-olah Your Grace mengorbankan kehormatan Angkatan Darat Barat demi seorang wanita. Namun pada kenyataannya, Yang Mulia Kaisar akan mulai menghitung keuntungan yang dapat diperoleh Lawrence apabila aku menikah dengan Your Grace. Setelah itu, beliau akan mengizinkan upacara kemenangan Angkatan Darat Barat diselenggarakan."

Cedric terdiam.

"Selain itu, Your Grace juga akan memperoleh perhatian Grand Duke Roygar, musuh terbesar Lawrence. Dengan demikian, Your Grace akan memperoleh keuntungan dari kedua belah pihak."

Artizea menghabiskan teh yang telah dingin di dalam cangkirnya, lalu menuangkan teh yang baru.

Barulah kemudian Cedric bertanya,

"Aku mengerti bahwa Lawrence akan berusaha menarikku ke pihaknya. Namun Grand Duke Roygar adalah lawannya. Apa maksudmu ketika mengatakan bahwa jika aku menikahimu, aku juga akan memperoleh perhatian Grand Duke Roygar?"

"Your Grace akan menikahiku karena jatuh cinta kepadaku, bukan untuk membentuk aliansi politik demi mendukung Lawrence."

"Selama ini, Your Grace, Grand Duke Evron, selalu dikenal sebagai pribadi yang adil dan masuk akal. Namun menurut Grand Duke Roygar, apa yang akan dipikirkannya ketika mendengar bahwa Your Grace kembali ke ibu kota bukan untuk tunduk kepada Yang Mulia Kaisar, melainkan demi seorang wanita? Ia mungkin akan menganggap Your Grace telah mengesampingkan harga diri demi memperoleh sesuatu sebagai balasannya. Karena itu, ia akan berusaha membujuk Your Grace agar berpihak kepadanya."

"Maksudmu... aku dapat memengaruhi kedua belah pihak."

"Benar."

Cedric bukanlah seorang pria yang tidak memiliki pengaruh.

Grand Duchy Evron adalah perisai Kekaisaran di wilayah utara.

Dan Cedric merupakan pria yang memperoleh jasa militer terbesar di seluruh Kekaisaran.

Dialah yang membangun kembali Angkatan Darat Barat dan menghentikan gelombang monster.

Di Angkatan Darat Tengah, Timur, maupun Selatan pun, banyak orang yang mengaguminya.

Pada saat yang sama, ia membangun reputasinya dengan tidak pernah tunduk kepada siapa pun ataupun bergabung dengan faksi politik mana pun.

Justru karena itulah sang Kaisar semakin membencinya.

Memang pengaruh Cedric belum cukup besar untuk mengancam sang Kaisar.

Namun sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa tidak nyaman.

"Apabila Your Grace menikah denganku, Yang Mulia Kaisar tidak akan lagi merasa terganggu oleh keberadaan Anda seperti sebelumnya."

"..."

"Hal yang paling dibenci Yang Mulia Kaisar adalah apabila kekuasaannya diabaikan. Dan perebutan takhta merupakan persoalan yang paling memengaruhi kekuasaan itu. Coba pikirkan mengapa beliau tidak hanya mendukung putranya, Lawrence, melainkan juga tetap membiarkan adiknya, Grand Duke Roygar, menjadi salah satu calon."

"Aku mengerti maksudmu. Yang Mulia adalah orang yang sangat berhati-hati. Dengan sengaja beliau membiarkan kedua belah pihak saling melemahkan melalui pertarungan antar faksi. Karena itu, sekalipun seseorang memenggal kepalaku, Yang Mulia hanya akan menganggapnya sebagai perselisihan politik biasa dan memperlakukannya sebagai persoalan kecil."

Cedric bergumam pelan, tenggelam dalam pikirannya.

Apakah ini caranya melindungiku?

Artizea hanya menunggu dengan tenang hingga ia selesai berpikir.

Tehnya telah habis.

Ia pun memanggil pelayannya untuk membawakan air panas lagi.

Cedric tetap terdiam ketika Artizea menuangkan air panas ke dalam teko dan membalikkan jam pasir.

"Lady, apabila tujuanmu bukan memaksaku berpihak kepada Lawrence melalui sebuah aliansi pernikahan, lalu apa keuntungan yang akan kauperoleh dari pernikahan ini?"

Artizea tidak memiliki pilihan selain berbohong.

Saat ini Cedric belum memiliki alasan sedikit pun untuk mempercayainya.

"Aku hanya ingin mewarisi Marquisate Rosan sepenuhnya dan hidup mandiri."

"Lady, cepat atau lambat kau memang akan mewarisi Marquisate Rosan."

"Aku tidak bisa menunggu selama itu."

Apa yang dikatakan Artizea tidak sepenuhnya bohong.

"Saat ini usiaku baru delapan belas tahun. Aku baru dapat mewarisi gelar itu ketika genap berusia dua puluh tahun. Selama dua tahun ke depan, Ibuku sebagai waliku masih memiliki wewenang penuh atas seluruh harta Marquisate Rosan."

Meskipun Marquisate Rosan telah kehilangan seluruh pengaruh politiknya...

Kekayaannya masih sangat besar.

Hanya dengan mengandalkan harta itu saja, Lawrence telah memperoleh kekuatan yang luar biasa.

Sementara Artizea hampir tidak mampu melakukan apa pun selama masih berada di bawah kendali Miraila.

Untuk saat ini...

Prioritas utamanya adalah menjauh sepenuhnya dari wanita itu.

"Namun dengan izin walimu, kau dapat menikah. Dan setelah menikah, kau akan diakui sebagai orang dewasa."

"Benar. Tetapi hanya karena aku memilih seseorang, bukan berarti Ibuku akan melepaskanku. Bahkan setelah aku dewasa pun akan tetap sama. Sebelum membiarkanku menikah, Ibu pasti akan menemukan cara untuk membunuh calon suamiku."

Ucap Artizea dengan tenang.

"Dalam hal itu, Your Grace adalah calon terbaik yang dapat kupilih. Aku yakin Yang Mulia Kaisar akan menyambut baik lamaran Your Grace, dan Kakakku, Lawrence, juga tidak akan menolaknya."

"Apakah kau sedang berniat mengkhianati ibumu dan kakakmu?"

"Aku hanyalah sebuah alat. Jika sebuah alat berpindah ke tangan orang lain, itu tidak dapat disebut sebagai pengkhianatan."

Jawab Artizea dengan senyum pahit.

Bukan berarti ia tidak pernah menganggap orang lain sebagai alat.

Dalam hal itu...

Mungkin dirinya memang terlalu mirip dengan Miraila.

"Tolong tetaplah menjadi suamiku secara resmi selama dua tahun saja, dan lindungilah aku, Your Grace. Sebagai gantinya... aku akan menjadikan Your Grace sebagai Kaisar."

Kedua mata Cedric membelalak mendengar perkataan yang sama sekali tidak diduganya.

"You Grace harus menjadi Kaisar. Demi kedamaian rakyat Kekaisaran Crates. Lawrence adalah orang yang kejam, sedangkan Roygar dikuasai oleh keserakahan. Jika salah satu dari mereka naik takhta, Kekaisaran ini akan berubah menjadi neraka yang hidup."

Ucap Artizea dengan mantap.

Chapter 9

Wajah Cedric berubah seketika.

Ia meletakkan cangkir tehnya, lalu menatap Artizea dengan sorot mata tajam.

"Apakah kau berniat menanamkan pikiran-pikiran makar ke dalam benakku?"

"Aku sedang membicarakan masalah suksesi. Bagaimana mungkin itu disebut makar? Yang Mulia Kaisar bahkan belum menetapkan Putra Mahkota."

Jawab Artizea dengan tenang.

"Apabila Grand Duke Roygar memiliki hak atas suksesi takhta, maka Your Grace pun memiliki hak yang sama. Ibu Anda adalah kakak perempuan Grand Duke Roygar, seorang putri sah Kekaisaran. Dan Your Grace adalah cucu mendiang Kaisar yang lahir dari pernikahan yang sah."

Buk!

Cedric menghantam meja dengan kepalan tangannya lalu berdiri secara tiba-tiba.

"Aku tidak bisa lagi mendengarkan pembicaraan seperti ini."

"Your Grace."

Ia segera berbalik dan melangkah pergi.

Alice, yang sejak tadi memperhatikan mereka dari kejauhan, berlari menghampiri Artizea dengan wajah terkejut.

"My Lady, apakah Anda baik-baik saja?"

"Kenapa kau bertanya begitu?"

"Yah... Beliau pergi dengan marah."

"Itu memang sudah kuduga."

Artizea dengan tenang menuangkan teh lagi ke dalam cangkirnya, lalu meminumnya.

Sebaliknya, justru ia akan kecewa apabila Cedric tidak menunjukkan penolakan.

Kedudukan Putra Mahkota bukanlah sesuatu yang dapat dibicarakan dengan sembarangan.

Terlebih lagi apabila dikaitkan dengan dugaan adanya "makar".

Bahkan hanya dengan membahas persoalan itu saja, sekalipun seseorang memiliki hak atas suksesi, ia dapat dituduh sebagai seorang pengkhianat.

Cedric memahami hal itu lebih baik daripada siapa pun.

Bagaimanapun juga, kedua orang tuanya dahulu dijebak lalu dibunuh dengan tuduhan makar.

Selain itu, Artizea adalah adik tiri Lawrence.

Justru akan terasa aneh bila Cedric tidak mencurigai niatnya.

Ia membutuhkan waktu untuk memikirkannya.

Keterlibatan Cedric dalam dunia politik pada kehidupan sebelumnya baru dimulai setelah Roygar jatuh dan Lawrence menjadi Putra Mahkota.

Namun selama Roygar masih berada dalam perebutan takhta, Cedric selalu menjaga jarak dari semua urusan itu.

Putra tidak sah sang Kaisar atau putra sah dari saudari Kaisar?

Kasih sayang seorang ayah atau garis keturunan?

Pertentangan itu saja sudah cukup memperkeras persaingan.

Namun tidak seorang pun pernah mempertimbangkan keponakan sang Kaisar sebagai calon pewaris takhta.

Cedric sendiri tidak pernah menunjukkan ambisi seperti Grand Duke Roygar.

Semua orang mengira ia membenci politik dan kekuasaan.

Yang diinginkannya hanyalah melindungi Grand Duchy Evron.

Bahkan ketika akhirnya ia berhadapan dengan Lawrence...

Ia melakukannya demi bertahan hidup, bukan karena menginginkan kekuasaan politik.

Namun...

Pernahkah Cedric sendiri memikirkan kemungkinan itu?

Artizea merasa tidak.

Tidak...

Ia yakin pria itu belum pernah memikirkannya.

Selama hampir dua puluh tahun, Artizea terus mengawasi Cedric.

Bahkan sebelum pria itu mulai menonjol, ia sudah berhati-hati terhadapnya.

Ia tidak dapat mengatakan bahwa dirinya memahami Cedric.

Ia juga tidak dapat mengatakan bahwa dirinya bersimpati kepadanya.

Namun...

Ia mengenal pria itu lebih baik daripada siapa pun.

Cedric adalah pria yang memiliki keyakinan yang teguh.

Apabila seseorang harus melangkah maju menghadapi keadaan yang sulit, maka dialah orang pertama yang akan mengambil langkah itu.

Membuat keputusan sebelum timbangan mulai condong akan menjadi awal yang jauh lebih baik.

Mendorong Cedric agar melangkah maju bukanlah hal yang sulit.

Bahkan hanya dengan memperlihatkan salah satu tragedi yang akan ditimbulkan oleh perebutan kekuasaan antara Lawrence dan Roygar...

Cedric pasti akan merasa ikut bertanggung jawab.

Sampai sekarang, kemungkinan besar ia hanya mengabaikan persoalan itu, dengan berpikir samar-samar bahwa Lawrence ataupun Roygar akan mampu menjalankan semuanya dengan baik.

Namun...

Begitu mengetahui bahwa kenyataannya tidak demikian, ia pasti akan merasa harus menghadapi mereka.

Akan tetapi, Artizea memutuskan untuk tidak melakukannya.

Ia telah menganggap Cedric sebagai tuannya.

Karena itu...

Seorang ajudan yang baik seharusnya berusaha memenuhi kehendak tuannya.

Merancang siasat untuk memengaruhi tindakan dan cara berpikir tuannya sendiri adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan.

Tentu saja...

Ia harus menjadi ajudan Cedric terlebih dahulu.

Keputusan pertama tetap harus dibuat oleh Cedric sendiri.

Waktu memang merupakan sumber daya yang sangat berharga.

Namun proses merenung, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan juga sama pentingnya.

Dan apabila setelah melalui semua pertimbangan itu Cedric memutuskan bahwa dirinya tidak memerlukan Artizea...

Maka ia akan mencari cara lain.

"My Lady, makanlah sesuatu. Sejak bangun pagi tadi, yang Anda makan hanya sedikit salad."

"Ah... maaf. Aku sampai lupa."

Artizea akhirnya mengambil sepotong kecil sandwich dan memasukkannya ke dalam mulut.

Kemudian ia menyodorkannya kepada Alice.

Bagaimanapun juga, makanannya terlalu banyak untuk dihabiskan seorang diri.

"My Lady, apakah kita akan pulang sekarang?"

"Tunggu sebentar lagi."

"Kenapa? Grand Duke Evron sudah pergi."

"Ya, tetap saja kita tunggu sebentar. Lagi pula kita tidak terburu-buru untuk segera pulang."

"Itu memang benar."

Alice menghela napas.

Namun sebenarnya mereka tidak perlu menunggu terlalu lama.

...

Sekitar satu jam kemudian, salah seorang kesatria yang tadi membantu memperbaiki kereta datang ke gazebo.

"Saya Benjamin Corner dari Angkatan Darat Barat."

Kesatria itu memperkenalkan diri sambil memberi hormat ala militer.

"Saya datang atas perintah Your Grace, Grand Duke Evron, untuk mengawal Lady kembali ke kediaman Marquisate Rosan."

Tadi Cedric memang memperlihatkan kemarahannya kepada Artizea.

Namun sekarang ia justru mengirim orang untuk mengawalnya.

Itu berarti...

Masih ada kemungkinan.

Apabila Cedric benar-benar marah karena menganggap perkataannya tidak dapat diterima, ia tidak mungkin mengirim seseorang untuk mengawal kepulangannya.

Kini...

Artizea justru menantikan pertemuan mereka berikutnya.

"Terima kasih atas kebaikan Anda. Tolong sampaikan pula rasa terima kasihku kepada Your Grace."

Ucap Artizea dengan sopan.

Alice segera membereskan semua perlengkapan ke dalam keranjang anyaman dan kotak perlengkapan teh.

Benjamin membantu mengangkat kotak teh yang berat itu.

Artizea mengikuti mereka sambil berjalan perlahan di sepanjang jalan setapak kuil yang indah, membawa payungnya.


Saat kereta mereka kembali menuju Marquisate Rosan...

Matahari mulai terbenam.

Ketika bangunan kediaman sudah tampak dari kejauhan, jalan mereka tiba-tiba dihalangi.

Pasukan Pengawal Kekaisaran sedang berjaga dan mengangkat tangan memberi isyarat agar kereta berhenti.

Kusir sudah terbiasa dengan pemeriksaan seperti itu.

Karena itu, ia menghentikan kereta dengan tenang.

Benjamin segera mengetuk pintu kereta.

Artizea membuka tirai jendela dan memandang keluar.

"Ada apa?"

"Ah, maaf mengganggu Anda. Sepertinya sedang ada pemeriksaan. Saya akan mencari tahu apa yang sedang terjadi dan..."

Pada saat itulah salah seorang Kesatria Pengawal Kekaisaran menghampiri Benjamin dan bertanya,

"Bukankah itu seragam Angkatan Darat Barat? Apa yang dilakukan seorang kesatria Angkatan Darat Barat di sini?"

"Ah! Saya Benjamin Corner, Kesatria Korps Keempat Angkatan Darat Barat! Saya sedang mengawal Lady pulang atas perintah Your Grace, Grand Duke Evron!"

Benjamin menjawab dengan suara yang agak tegang.

Sekilas memang tampak seolah-olah Kesatria Angkatan Darat Barat, Kesatria Angkatan Darat Tengah, dan Kesatria Pengawal Kekaisaran memiliki kedudukan yang sama.

Namun kenyataannya terdapat perbedaan yang cukup besar.

Terutama Kesatria Pengawal Kekaisaran.

Mereka tidak hanya bebas keluar masuk Istana Kekaisaran, tetapi juga dapat menghadap Kaisar kapan saja serta membawa senjata di dekat beliau.

Kedudukan mereka diperlakukan setara dengan seorang Earl.

Sang Kaisar bukanlah orang bodoh.

Ia tidak memilih para kesatria yang menjaganya berdasarkan status ataupun garis keturunan.

Ia sendiri yang memilih mereka dari para kesatria terbaik Angkatan Darat Tengah.

Bahkan rakyat biasa pun dapat diangkat menjadi kesatria hanya melalui jasa militer.

Di sebuah kekaisaran yang terus-menerus diancam monster dan bajak laut...

Jalan menuju kedudukan tinggi selalu terbuka bagi mereka yang memiliki kemampuan.

Dan Kesatria Pengawal Kekaisaran merupakan jabatan tertinggi yang dapat diraih oleh rakyat biasa.

Kesatria Pengawal Kekaisaran itu bertanya dengan terkejut,

"Your Grace, Grand Duke Evron?"

Begitu mendengar suara itu, Artizea segera membuka pintu kereta.

Kesatria Pengawal Kekaisaran itu pun menghampiri kereta.

Pria paruh baya bernama Henry Kishore itu adalah salah satu dari Enam Komandan Pengawal Kekaisaran.

Ia juga merupakan salah satu orang kepercayaan sang Kaisar.

Menjalin hubungan baik dengannya jelas bukanlah sesuatu yang merugikan.

"Salam hormat, Sir Kishore."

"Dari mana Anda pulang selarut ini, Lady Artizea?"

Tanya Kishore dengan wajah serius.

"Aku baru kembali dari kuil, tetapi mengalami sedikit kesialan."

Sejak Artizea lahir, Kishore telah menjadi ajudan dekat sang Kaisar.

Ia juga sering datang ke Marquisate Rosan atas perintah Kaisar untuk menemui Miraila.

Karena itu...

Sesekali ia memperlakukan Artizea seperti seorang keponakan yang ingin dilindunginya.

"Begitu rupanya. Namun mengapa Anda bersama seorang prajurit Angkatan Darat Barat...?"

"Grand Duke Evron membantu memperbaiki keretaku ketika aku terdampar di jalan. Beliau terkejut karena aku bepergian tanpa pengawal, sehingga meminta Sir Corner mengantarku pulang."

Artizea sengaja merona.

Kaisar mempercayai Kishore karena ia adalah pria yang jujur dan tidak mementingkan diri sendiri.

Ia juga bukan bagian dari faksi mana pun, setia sepenuhnya kepada Kaisar, dan tidak memiliki hubungan dengan keluarga-keluarga bangsawan.

Mielle setahun lebih muda daripada Artizea.

Karena itulah Kishore selalu bersikap baik kepada Artizea.

Dialah orang yang paling tepat agar pertemuan Artizea dengan Cedric hari ini sampai ke telinga Kaisar secara alami dan dengan kesan yang baik.

Pertemuan dengan Kishore ini memang tidak termasuk dalam rencananya.

Namun Artizea merasa...

Inilah hasil terbaik yang mungkin terjadi.

"Engkau sudah dewasa. Kau bukan anak kecil lagi. Kini kau telah menjadi seorang wanita, Artizea."

Ucapnya sambil tersenyum hangat.

Artizea kembali memerah.

Namun kali ini ia tidak sedang berpura-pura.

Bahkan kedua telinganya ikut memerah dan suhu tubuhnya meningkat.

"Oh, sekarang bukan waktunya membicarakan itu. Aku akan mengawalmu pulang."

"Kalau begitu, saya mohon pamit."

Benjamin segera memberi hormat.

"Engkau sudah mengantarku sampai di sini. Kalau berkenan, mampirlah sebentar dan minumlah secangkir teh sebelum pulang."

"Tidak. Grand Duke memerintahkan saya untuk memastikan Lady tiba di rumah dengan selamat. Namun mulai sekarang, pengawalan Kesatria Pengawal Kekaisaran jauh lebih aman. Tugas saya sudah selesai, jadi saya akan kembali."

"Baiklah. Terima kasih."

Artizea menjawab sambil tersenyum.

Kishore menepuk bahu Benjamin.

"Kerja bagus."

Benjamin langsung menegang.

Ia memberi hormat militer kepada Kishore, lalu buru-buru pergi nyaris seperti melarikan diri.

Artizea tertawa dalam hati.

Walaupun Benjamin bersikap sopan dan penuh hormat, tentu ia merasa sangat gugup.

Bagaimanapun juga...

Ia hanyalah seorang kesatria muda Angkatan Darat Barat yang baru saja berhadapan dengan salah satu Komandan Pengawal Kekaisaran.

Kishore menutup pintu kereta.

Lalu Artizea berkata dari balik jendela,

"Ah, hari ini setelah berdoa di depan patung Putra Tuhan di kuil, aku menerima sebuah lilin doa. Lilin itu telah diberkati. Aku ingin memberikannya kepada Miss Mielle."

"Terima kasih atas perhatian Anda."

Kata Kishore dengan tulus.

"Aku berharap suatu hari nanti, ketika kesehatan Miss Mielle membaik, kita bisa pergi berpiknik bersama."

"Mielle pasti akan senang mendengarnya."

"Sir Kishore, Anda juga harus ikut bersama kami."

Artizea berkata sambil tersenyum.

Kishore menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Anak itu... akhir-akhir ini terus mengomel kepadaku."

Mielle adalah gadis berusia tujuh belas tahun.

Wajar saja bila ia tidak ingin terus-menerus bersama ayahnya, terlepas dari seberapa besar ia menyayanginya.

Artizea tertawa kecil.

"Aku yakin bukan itu maksudnya. Ngomong-ngomong, jika Sir berada di sini, berarti Yang Mulia Kaisar juga sedang berada di Marquisate Rosan, bukan?"

"Benar."

Artizea menarik napas panjang.

Ia memang tidak mengingat seluruh rincian kejadian yang akan datang.

Namun...

Ia masih mengingat tanggal kunjungan pertama sang Kaisar setelah dirinya genap berusia delapan belas tahun.

Karena pada hari itulah...

Terjadi sebuah peristiwa yang membuat Artizea menyadari bagaimana cara terbaik untuk membantu Lawrence.

Chapter 10

Saat mereka tiba di kediaman Marquisate Rosan, Artizea menyerahkan lilin doa yang telah diberkati itu kepada Kishore, kemudian masuk ke dalam.

Para pelayan Marquisate Rosan tetap menjalankan pekerjaan mereka dengan tenang, seolah tidak terganggu oleh kunjungan sang Kaisar.

Sesekali, sang Kaisar memang datang ke Marquisate Rosan untuk memberi kejutan sekaligus menyenangkan hati Miraila.

"Bagikan kantong-kantong hadiah yang telah dipersiapkan."

"Anda akan menghabiskan hampir semuanya."

Alice berbisik dengan bingung.

Artizea telah menyiapkan puluhan kantong kecil dari sutra yang masing-masing berisi beberapa keping emas, lalu menyimpannya di dalam peti kayu pribadinya.

Semua itu dibuat agar lebih mudah menyerahkan suap yang disebut sebagai hadiah atau uang tanda terima kasih.

Sebelum kembali ke masa lalu, Artizea pernah mengajarkan kepada Alice cara mengelola jaringan informasinya.

"Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin banyak pula orang yang melayaninya. Dan apabila orang itu berasal dari Keluarga Kekaisaran, akan ada puluhan pelayan yang terus mengikutinya dari satu ruangan ke ruangan lain. Jumlah orang yang membersihkan ruangan, merapikannya, menyiapkan makanan, hingga mengantarkannya bahkan tak terhitung banyaknya."

"Benar."

"Namun sebagian besar pelayan yang bekerja untuk para bangsawan bahkan tidak diperlakukan sebagai manusia. Karena itulah, mereka dapat memperoleh banyak informasi berharga dengan bertindak sebagai mata-mata."

"Baiklah, aku mengerti maksud Anda. Tetapi jika mereka memiliki informasi berharga, bukankah biasanya mereka akan menjualnya? Bukankah lebih baik membayar mereka pada saat itu saja?"

Kata Alice sambil menundukkan kepala.

Banyak pelayan memang mengetahui bahwa mereka bisa memperoleh uang dengan menjual informasi.

Karena itu, mereka terbiasa mengingat semua perkataan dan tindakan majikan mereka untuk dijual ketika waktunya tepat atau demi mencapai ambisi mereka sendiri.

"Kalau aku rutin melakukan ini, bukankah mereka akan datang kepadaku lebih dulu setiap kali memiliki informasi berharga?"

"Ah... jadi Anda sedang membeli hak prioritas."

"Terutama membeli kepercayaan. Mereka harus percaya bahwa aku bersedia membeli informasi apa pun yang berharga, dan bahwa aku selalu mampu membayar berapa pun nilainya. Hal itu harus ditunjukkan secara terus-menerus."

Artizea bahkan menyuap orang-orang yang menduduki posisi tidak penting.

Ia tidak mungkin membeli hati mereka hanya dengan mengeluarkan uang ketika sedang membutuhkan sesuatu.

"Kau harus memahami ini. Jika kau memberikan uang tanpa meminta balasan apa pun, mereka akan merasa berutang budi. Itulah hal yang paling penting. Apabila kau memberi uang lalu langsung meminta sesuatu sebagai gantinya, hubungan itu akan berakhir saat itu juga. Namun jika kau tidak meminta imbalan apa pun, hubungan itu tidak akan pernah berakhir. Mereka akan terus merasa bahwa suatu hari nanti mereka harus melakukan sesuatu untukmu."

Prinsip itu tidak hanya berlaku bagi orang-orang miskin, tetapi juga bagi mereka yang memiliki kedudukan lebih baik.

Dengan keping-keping emas yang diberikan Artizea, mereka dapat hidup tenang selama berbulan-bulan bahkan menyekolahkan anak-anak mereka.

Karena itulah, mereka sungguh bersyukur.

Seandainya Artizea memiliki kedudukan yang lebih rendah, mereka tentu akan menganggap uang itu sebagai suap dan mengabaikannya.

Namun...

Artizea adalah pewaris sah Marchioness Rosan.

Uang yang diberikannya memang merupakan suap untuk masa depan.

Akan tetapi, orang-orang yang menerimanya tidak merasa sedang dibeli.

Sebaliknya, mereka merasa sedang menerima kemurahan hati dari atasan mereka.

Dan bagi mereka...

Kesetiaan adalah cara membalas kemurahan hati tersebut.

"Setiap kali kau menyerahkan uang itu, berbicaralah dengan mereka. Mereka harus mengetahui bahwa aku bersedia membeli informasi apa pun, bahkan informasi yang sebelumnya mereka anggap tidak berharga sehingga tidak pernah mereka jual. Semakin baik reputasiku dan semakin besar kepercayaan mereka kepadaku, orang-orang yang sebelumnya belum pernah menerima uang pun akan datang menawarkan informasi mereka."

Meskipun Artizea mampu melihat gambaran besarnya...

Tetap saja, memperoleh informasi sebanyak mungkin merupakan hal yang sangat penting.

Di sisi lain, kualitas informasi tidak ditentukan oleh panjang pendeknya pesan, melainkan oleh dapat atau tidaknya sumber informasi itu dipercaya.

Karena mengetahui alasan Artizea menyiapkan kantong-kantong hadiah tersebut, Alice berkata dengan nada cemas,

"Itu hampir setengah dari anggaran yang dapat Anda gunakan tahun ini."

"Tidak apa-apa."

Bagaimanapun juga...

Apabila ia berhasil menikahi Cedric, seluruh kekayaan Marquisate Rosan akan berada di tangannya.

Saat itu tiba, ia tidak perlu lagi mengkhawatirkan masalah uang.

Alice memang bukan orang yang suka membantah.

Karena itu, ia tidak bertanya lagi.

Ia membungkukkan kepala sebagai tanda mengerti, lalu segera menuju kamar Artizea.

Setelah Alice pergi, Artizea berjalan menuju boudoir Miraila.

Ia hendak memberi salam kepada sang Kaisar.

Miraila tidak pernah menyukai kemunculan Artizea di hadapan Kaisar.

Namun kini...

Artizea tidak lagi memiliki alasan untuk memedulikan perasaan Miraila.

Ia tidak boleh melewatkan kesempatan untuk meninggalkan kesan yang kuat kepada sang Kaisar.

Para Kesatria Pengawal Kekaisaran dan para pelayan membungkuk diam-diam kepadanya.

Artizea membalas penghormatan mereka, lalu berkata kepada pelayan yang berjaga di depan pintu,

"Tolong sampaikan kepada Yang Mulia Kaisar bahwa putri Miraila, Artizea, ingin memberi salam kepada beliau."

Kemudian ia mengeluarkan sebuah kantong sutra kecil dari sakunya dan menyerahkannya kepada pelayan itu.

Kantong itu sama seperti kantong-kantong hadiah yang tadi diperintahkannya kepada Alice untuk dibagikan.

Artizea memang selalu membawa beberapa kantong seperti itu ke mana pun ia pergi.

Pelayan tersebut, yang sebelumnya sudah beberapa kali menerima kantong serupa, mengangguk sambil tersenyum ramah.

Lalu ia membuka pintu dan masuk ke dalam.

Dari luar terdengar percakapan yang diselingi tawa Miraila.

Percakapan yang riang itu terhenti sejenak.

Tak lama kemudian pintu terbuka lebar.

"Silakan masuk, Lady Artizea."

"Terima kasih. Ngomong-ngomong, apabila ada tamu yang datang selama aku berada di dalam, bisakah kau memberitahuku lebih dahulu? Aku ingin mengurusnya agar tidak mengganggu waktu yang dihabiskan Yang Mulia bersama Ibuku."

"Tentu saja."

Artizea melangkah masuk dengan hati-hati.

Sang Kaisar duduk dengan santai di atas sofa.

Miraila hanya mengenakan rok dalam.

Para pelayan berdiri di salah satu sisi ruangan sambil merapikan gaun yang akan dikenakannya.

Kaisar Gregor adalah pria yang dingin dan egois.

Ia lebih mementingkan mempertahankan kekuasaannya daripada memerintah negara.

Ia penuh kecurigaan, licik, dan tamak.

Namun...

Cintanya kepada Miraila adalah satu-satunya perasaan yang benar-benar tulus.

Ia pernah menjalin hubungan dengan tak terhitung banyaknya wanita.

Namun hanya Miraila yang tetap berada di sisinya selama dua puluh lima tahun.

Bahkan setelah Miraila melahirkan putri dari pria lain, mereka hanya sempat berpisah paling lama sekitar satu tahun.

Kaisar bersikap baik kepada Artizea hanya karena gadis itu adalah putri Miraila.

Namun Artizea sendiri tidak pernah mengetahui seperti apa cinta yang sesungguhnya.

Dahulu pernah ada masa ketika ia penasaran akan arti cinta.

Sekarang...

Ia sudah tidak lagi peduli.

Yang penting hanyalah kenyataan bahwa sang Kaisar mencintai Miraila dan tidak akan pernah meninggalkannya.

Artizea berlutut dengan satu kaki di hadapan Kaisar lalu menundukkan kepala.

"Semoga mentari Kekaisaran senantiasa menaungi seluruh rakyatnya. Artizea, putri Miraila, menghaturkan salam kepada Yang Mulia Kaisar. Hidup Yang Mulia Kaisar."

"Sudah lama kita tidak bertemu. Dalam sekejap mata kau ternyata sudah dewasa."

Kata sang Kaisar.

Ia tersenyum bagaikan seekor ular, lalu memandang Artizea dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Tatapan yang penuh penilaian.

"Seandainya wajahmu lebih menyerupai ibumu, tentu kau akan jauh lebih cantik."

"Aku memang cantik."

Sela Miraila.

Ia melangkah ringan mendekat, lalu duduk di atas paha sang Kaisar sambil menggerutu.

"Mau bagaimana lagi? Wajahnya saja sudah jelek, tetapi dia tetap putriku, jadi aku harus menerimanya."

"Kenapa begitu? Walaupun Tia tidak mirip denganmu, dia tetap memiliki wajah seorang wanita cantik. Kalau berat badannya sedikit bertambah dan tubuhnya lebih matang, tak lama lagi dia pasti akan menjadi cantik."

"Dia sudah dewasa dan tetap saja seperti ini. Kalau terus mengatakan hal-hal seperti itu, nanti dia benar-benar percaya, Sayang."

Sambil berbicara manja, Miraila membelai pipi sang Kaisar.

Kaisar pun tersenyum.

"Aku sungguh-sungguh mengatakannya. Kau juga mengira itu hanya gurauan, bukan, Tia?"

Artizea menundukkan kepala dengan sopan.

Ketika Artizea masih kecil, Miraila membencinya dan sering memukulnya hanya karena wajah mereka tidak mirip.

"Kalau saja wajahmu sedikit menyerupaiku, bukankah Yang Mulia Kaisar akan memperlakukanmu seperti putrinya sendiri?"

Dahulu Artizea benar-benar mempercayai kata-kata itu dan menangis karenanya.

Bahkan pada beberapa malam...

Ia bermimpi bahwa dirinya juga dilahirkan sebagai putri sang Kaisar dan menerima kasih sayang kedua orang tuanya, sama seperti Lawrence.

Namun sekarang, ketika mengingatnya kembali...

Semua itu sungguh bodoh.

Seandainya wajahnya benar-benar menyerupai Miraila...

Tidak diragukan lagi, begitu menginjak usia enam belas tahun, ia pasti sudah diseret ke kamar tidur sang Kaisar.

Justru merupakan keberuntungan baginya karena wajahnya tidak menyerupai ibunya yang cantik itu.

"Aku senang mendengarnya. Yang Mulia mencintai Ibuku dan menganggapku cantik. Apa lagi kehormatan yang lebih besar daripada itu?"

"Berapa usiamu sekarang?"

"Beberapa waktu lalu aku baru genap berusia delapan belas tahun."

"Benar-benar sudah dewasa. Sudah waktunya aku mencarikan suami yang pantas untukmu."

"Tidak. Dia masih anak kecil berusia delapan belas tahun. Pernikahan macam apa yang pantas baginya?"

Miraila menyela dengan ketus.

Sang Kaisar tertawa.

Ia menggenggam pergelangan tangan Miraila lalu mengecup punggung tangannya dengan penuh kasih.

"Aku tahu kau ingin putrimu tetap berada di sisimu selamanya. Namun sebelum menginjak usia dua puluh tahun, dia memang sudah seharusnya bertunangan."

"Hm... tapi tetap saja..."

"Aku akan mencarikannya suami yang sesuai. Dia tidak mungkin hidup bersama kakaknya seumur hidup, bukan?"

Sang Kaisar tersenyum.

Yang dimaksud dengan suami yang sesuai bukanlah pernikahan yang baik bagi Artizea.

Melainkan sebuah pernikahan politik yang semata-mata akan menguntungkan Lawrence.

Namun Miraila tidak memahami maksud itu dan hanya mendengus tidak puas.

Walaupun ia sedang kesal, sang Kaisar tetap menganggapnya menggemaskan.

Artizea kembali membungkukkan kepala dengan sopan.

Miraila pun berdiri dengan kesal untuk mengenakan gaunnya.

Ia sengaja belum mengenakan gaun yang sebelumnya telah dipilihnya karena ingin memperlihatkan lekuk tubuhnya kepada sang Kaisar.

Gaun satin hijau yang indah.

Bagian dadanya memiliki potongan berbentuk hati, sementara bagian punggungnya berpotongan lurus.

Pada saat itulah pelayan masuk dan berkata dengan sopan,

"Lady Artizea, ada tamu yang datang untuk menemui Anda."

Artizea segera berkata,

"Mohon maaf. Aku harus pergi."

Sang Kaisar memberi isyarat mengizinkannya pergi.

Sementara Miraila hanya melirik sekilas ke arahnya.

Artizea berbalik dan keluar dari boudoir.

Pelayan tadi mengikutinya lalu berkata dengan suara pelan,

"Countess Eunice sedang membuat keributan di aula depan. Beliau bersikeras ingin menemui Yang Mulia Kaisar."

"Baik. Aku akan mengurusnya."

"Apakah Lady sudah mengetahui bahwa Countess Eunice akan datang?"

"Ya. Aku memang sudah menduganya."

Artizea tidak memperoleh informasi itu sebelumnya.

Ia hanya mengingatnya.

Namun pelayan itu tidak mengetahuinya.

Karena itu ia berkata dengan penuh kekaguman,

"Lady sungguh luar biasa. Terima kasih banyak."

"Kenapa kau berkata begitu?"

"Sudah lama sekali Yang Mulia tidak berada dalam suasana hati sebaik hari ini. Seandainya Countess mengganggunya, kami semua pasti akan terkena akibatnya."

"Sudah menjadi kewajibanku menyambut para tamu. Lagi pula belum tentu semuanya akan berjalan baik. Jika aku gagal menenangkan Countess, beliau pasti akan membuat keributan yang jauh lebih besar."

Setelah berkata demikian, Artizea berjalan menuju aula depan.

Suara teriakan Countess Eunice bahkan terdengar hingga lantai dua.

"Maksudmu Yang Mulia bahkan tidak mau menemuiku, putrinya sendiri, hanya karena wanita jalang kotor itu?"

Sang kepala pelayan berdiri membungkuk dengan wajah tegang.

Artizea menuruni tangga dengan langkah perlahan.

"Salam, Countess Eunice. Ada keperluan apa Anda datang ke sini..."

Plak!

Tanpa peringatan, Countess Eunice mengangkat tangannya dan menampar pipi Artizea dengan keras.

Chapter 11

Countess Eunice menampar pipi Artizea begitu keras hingga kepalanya terayun ke samping.

Artizea tak dapat menahan diri untuk meringis sambil menutupi pipinya dengan tangan.

Para pegawai dan pelayan Marquisate Rosan yang menyaksikan kejadian itu terkejut dan berusaha menghampiri. Bahkan salah seorang kesatria yang berjaga di aula depan berlari mendekat dengan kebingungan.

Pelayan Countess sendiri pucat pasi dan tidak tahu harus berbuat apa.

"Tidak terjadi apa-apa."

Artizea menggeleng perlahan.

Sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah, sehingga ia mengeluarkan sapu tangan lalu mengusap darah tersebut.

Kemudian ia menatap Countess Eunice.

Countess Charlotte Eunice adalah salah satu dari dua putri tidak sah sang Kaisar.

Ibunya bukanlah wanita yang dicintai seperti Miraila, melainkan seorang pelayan yang hanya diseret ke ranjang selama satu malam.

Sang Kaisar menghamili pelayan itu demi mengendalikan Permaisuri, bukan karena cinta.

Dan itu bahkan bukan rahasia.

Sang Kaisar tidak pernah menaruh perhatian kepada ibu Charlotte.

Namun, ia mencintai putri-putrinya laksana emas dan batu giok.

Countess Eunice masih memiliki kenangan ketika dicintai oleh sang Kaisar hingga usianya sekitar sepuluh tahun.

Walaupun kini ia sudah tidak lagi memiliki kekuasaan maupun kasih sayang itu, harga dirinya sebagai putri Kaisar jauh lebih kuat daripada apa pun.

Karena itulah ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa dirinya kalah dari Miraila.

Bukankah pada akhirnya Miraila hanyalah seorang wanita simpanan?

Ia dapat menerima bahwa dirinya kalah dari Lawrence sebagai putra sang Kaisar.

Namun sebagai putri Kaisar, ia sama sekali tidak dapat menerima jika kedudukannya berada di bawah wanita simpanan ayahnya.

Karena itulah ia membenci Artizea, putri wanita simpanan itu, layaknya seekor serangga.

Dari sudut pandang Artizea, keduanya sama-sama merupakan anak yang lahir tanpa pengakuan.

Namun darah Kaisar yang mengalir di tubuh Charlotte tampaknya membuat kenyataan itu tidak berarti baginya.

Countess Eunice memandang rendah Artizea.

Tatapan yang penuh superioritas.

"Countess Eunice, Anda sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja Anda lakukan."

"Suruh ibumu datang ke sini."

"Menurut Anda, apa yang akan terjadi jika aku roboh di sini lalu menangis?"

Artizea berkata dengan tenang.

"Para pelayan dan para Kesatria Pengawal Kekaisaran milik Yang Mulia telah menyaksikan bagaimana Anda tiba-tiba menampar pipiku."

"Hm, memangnya kenapa?"

"Yang Mulia sangat membenci keributan. Lagi pula, pria mana yang menginginkan putrinya datang mengganggu saat ia sedang menemui wanita yang dicintainya secara diam-diam? Anda bukan lagi gadis kecil berusia lima atau enam tahun. Sebaliknya, Anda sudah menikah bahkan telah memiliki anak."

Wajah Countess Eunice seketika memucat.

Artizea berkata dengan dingin,

"Apabila saat ini aku menangis sejadi-jadinya karena penghinaan dan rasa sakit ini, aku yakin Yang Mulia Kaisar akan datang. Dan Ibuku tentu tidak akan melewatkan kesempatan seperti ini. Beliau akan ikut menangis bersamaku, lalu mengatakan kepada Yang Mulia bahwa putrinya sendiri menghina dan memperlakukan kami seperti ini. Menurut Anda, apa yang akan terjadi sesudahnya?"

"A-aku..."

"Semakin keras Anda berusaha melawan Ibuku, semakin besar pula simpati Yang Mulia kepadanya. Apakah Anda ingin mencobanya?"

Ucap Artizea seraya melangkah maju.

Countess Eunice begitu tertekan oleh wibawa Artizea hingga hampir terjatuh ke belakang.

Pelayan Countess buru-buru menopangnya.

Artizea merapikan ujung gaunnya.

Lalu ia berkata pelan,

"Yang akan memperoleh keuntungan dari semua ini hanyalah Ibuku dan Kakakku, Lawrence. Jadi pulanglah hari ini."

"Menurutmu siapa dirimu? Kalau memang begitu yakin, kenapa tidak kau coba saja?"

Countess Eunice berusaha mempertahankan wibawanya, tetapi suaranya gemetar.

Artizea tersenyum pahit.

Ia tidak perlu mencobanya lagi.

Karena...

Di masa lalu ia benar-benar pernah melakukannya.

Artizea sudah terbiasa ditampar oleh Miraila sehingga rasa sakit seperti ini bukanlah sesuatu yang berarti baginya.

Namun saat itu, ia berpura-pura seolah sangat kesakitan, lalu menjatuhkan diri ke lantai sambil menangis.

Para pelayan dan para kesatria yang terkejut segera menghampirinya untuk menolong.

Miraila, yang sangat piawai dalam urusan seperti ini, langsung memahami maksud Artizea dan ikut bermain.

Dengan air mata di pelupuk matanya, ia mengadu kepada Kaisar bahwa dirinya dan putrinya tidak pantas diperlakukan sehina itu.

Kemudian ia mengurung diri di kamar sambil menangis pilu selama hampir sepuluh hari.

Sang Kaisar, yang luluh oleh air mata wanita yang dicintainya, memarahi Countess Eunice.

Ia juga menghadiahkan hiburan yang sangat mewah kepada Miraila dan bahkan mengadakan sebuah pesta besar untuknya.

Miraila datang ke pesta itu sambil menggandeng lengan sang Kaisar dengan penuh kebanggaan dan menjadi pusat perhatian seluruh tamu.

Saat itulah untuk pertama kalinya Lawrence dan Miraila mengakui Artizea sebagai sesuatu yang berguna.

"Countess Eunice, janganlah bersaing dengan wanita yang dicintai Ayah Anda. Anda adalah putri yang dicintainya. Jika ingin menyingkirkan Ibuku, Anda harus menerima kasih sayang beliau dengan cara yang berbeda."

Countess Eunice memandangnya dengan bingung.

Ia tidak mengerti mengapa Artizea berbicara seolah-olah ingin menjatuhkan ibunya sendiri.

"Yang Mulia sungguh menyayangi Anda sebagai putrinya, dan dahulu beliau pernah sangat mencintai Anda. Bangkitkan kembali kenangan itu. Besok, datanglah menemui Yang Mulia bersama anak-anak Anda. Terimalah kasih sayang beliau sebagai seorang ayah. Jangan mengkritik hubungan beliau dengan para wanita. Itu hanya akan membuat Yang Mulia semakin membenci Anda. Hal itu sama sekali tidak menguntungkan Anda."

"Apa sebenarnya yang sedang kau katakan...?"

"Hari ini aku akan menganggap tidak terjadi apa-apa. Sekarang pergilah. Tidak ada seorang ayah pun di dunia ini yang ingin anak-anaknya melihat dirinya bersama wanita yang dicintainya."

Setelah berkata demikian, Artizea menoleh kepada seorang Kesatria Pengawal Kekaisaran.

Kesatria muda itu langsung menegang ketika tatapan Artizea tertuju kepadanya.

Artizea tersenyum lembut.

"Countess Eunice hendak kembali. Bisakah Anda mengantarnya keluar?"

"Apakah itu benar-benar tidak apa-apa bagi Anda?"

Kesatria itu memandangnya dengan penuh rasa iba.

Artizea berkata,

"Kita tidak boleh mengganggu waktu istirahat Yang Mulia. Countess Eunice, ingatlah baik-baik perkataanku, lalu pulanglah. Jangan lupakan apa arti bakti seorang anak kepada ayahnya."

Countess Eunice tampaknya masih belum memahami maksud perkataannya.

Namun ketika kesatria itu mempersilahkannya pergi, ia pun menurut dengan patuh.

Artizea melepaskan ujung gaunnya.

Kasih sayang yang dapat diberikan seseorang kepada orang lain memiliki batas.

Terlebih lagi bagi seseorang yang begitu egois seperti Kaisar Gregor.

Kasih sayang kepada seorang wanita berbeda dengan kasih sayang kepada seorang anak.

Namun keduanya sama-sama tidak dapat dicurahkan tanpa batas.

Jika Countess Eunice berhasil memperoleh kembali kasih sayang sang Kaisar...

Maka lambat laun Miraila akan tersingkir dari hatinya.

Artizea kini tidak lagi seperti dahulu, ketika ia memfitnah dan menyusun tipu muslihat untuk menanamkan kecurigaan di hati sang Kaisar.

Di masa lalu, ia menghancurkan setiap orang yang berusaha mendekati Yang Mulia agar seluruh kasih sayangnya hanya tertuju kepada Miraila.

Namun sekarang...

Ia harus mengusir Miraila dari hati sang Kaisar dan mengisinya dengan orang lain.

Pada saat yang sama, ia juga harus mencegah munculnya seseorang yang memiliki pengaruh cukup besar untuk menggantikan Miraila.

Tak lama setelah Countess Eunice meninggalkan aula depan, sang Kaisar dan Miraila pun muncul.

Pelayan tadi melirik diam-diam ke arah Artizea dengan wajah penuh rasa bersalah.

"Aku mendengar Charlotte datang ke sini."

Sang Kaisar memandang ke arah aula depan.

Ia melihat Artizea memegang sapu tangan yang berlumuran darah, pipinya membengkak, dan sudut bibirnya yang tergores kuku masih robek serta mengeluarkan darah.

Pemandangan itu saja sudah cukup membuatnya memahami apa yang telah terjadi.

Ia sangat mengenal watak Countess Eunice.

Dan ia juga mengetahui bahwa putrinya itu membenci Artizea.

"Maafkan aku."

Ujar sang Kaisar dengan suara pelan yang berat.

Rasa malu atas kebodohan putrinya begitu jelas terdengar dalam suaranya.

Artizea berlutut dengan satu kaki dan menjawab dengan tenang,

"Tidak terjadi apa-apa."

"Charlotte tampaknya telah memperlakukanmu dengan kasar."

"Countess Eunice hanya melakukan kekeliruan kecil karena merindukan ayahnya. Hanya karena itu, bagaimana mungkin aku menyimpan kebencian kepada Yang Mulia ataupun kepada Countess?"

Begitu Artizea selesai berbicara, wajah Miraila memerah sepenuhnya dan ia langsung meledak.

"Apa pun alasannya, dia datang ke rumahku lalu menampar pipi putriku! Beraninya dia menghina kita seperti ini! Dan kau juga! Seharusnya kau langsung memanggilku saat itu terjadi!"

"Bagaimana mungkin aku, seorang putri yang tidak memiliki ayah, tidak memahami perasaan Countess Eunice?"

Kata Artizea.

Namun yang ia ajak bicara adalah sang Kaisar, bukan Miraila.

"Mungkin beliau hanya sangat merindukan ayahnya dan merasa iri kepadaku. Lagi pula, sebagai tuan rumah Marquisate Rosan, yang terpenting bagiku adalah memastikan Yang Mulia merasa nyaman berada di tempat ini. Haruskah aku membuat keributan hanya karena persoalan sekecil ini?"

Sang Kaisar tersenyum.

"Kau memiliki hati yang patut dipuji."

Artizea kembali menundukkan kepala dengan hormat.

"Namun tetap saja ini adalah kesalahanku karena gagal mendidik Charlotte. Dia memang cantik, tetapi sifatnya terlalu kasar akibat cara ia dibesarkan. Sekarang dia bahkan sudah memiliki tiga orang anak, sudah seharusnya ia memperbaiki tabiatnya. Aku merasa sangat malu karena wajah seorang gadis muda terluka karenanya. Mintalah apa pun yang kau inginkan. Kupikir-pikir, aku bahkan belum memberimu hadiah ulang tahun."

Meskipun sang Kaisar berkata demikian, sebenarnya ia tidak pernah memedulikan ulang tahun Artizea.

Artizea cukup terkejut oleh keberuntungan yang datang tiba-tiba ini.

Namun ia tidak cukup bodoh untuk langsung meminta hadiah pada saat seperti sekarang.

Sebaliknya, ia berkata,

"Kalau begitu, dengan segala hormat, izinkan aku memohon agar Yang Mulia berkenan menerima hadiah yang telah kupersiapkan."

"Hadiah? Untukku?"

"Benar, Yang Mulia. Sebenarnya hadiah ini kupersiapkan untuk diberikan kepada Ibuku sebagai ungkapan terima kasih karena telah melahirkanku pada hari ulang tahunku. Namun aksesori ini merupakan sepasang perhiasan yang diperuntukkan bagi kedua orang tua."

Artizea menundukkan kepala dengan penyesalan yang mendalam.

"Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang dapat menerima pasangannya. Meski demikian, ketika menyiapkannya aku selalu memikirkan Yang Mulia, hanya saja aku tidak berani memberikannya. Jika Yang Mulia bersedia menerimanya, aku akan merasa sangat berbahagia."

"Haha."

Sang Kaisar tertawa riang.

"Kalau itu aksesori untuk orang tua, bukankah pada akhirnya itu juga aksesori untuk sepasang kekasih? Bagaimana mungkin aku menolak memakai aksesori berpasangan bersama Miraila? Bawalah kemari."

Artizea mengedipkan mata kepada Alice yang sejak tadi berdiri di sudut aula mengamati keadaan.

Alice baru saja kembali setelah selesai membagikan kantong-kantong hadiah kepada para pelayan, lalu tanpa sengaja menyaksikan seluruh kejadian ini.

Ia segera berlari menuju kamar Artizea untuk mengambil kotak hadiah yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Sementara itu, sang Kaisar telah menuruni tangga dan duduk dengan santai di sofa aula depan.

Artizea menerima kotak hadiah yang dibawa Alice, lalu menyerahkannya dengan penuh hormat di hadapan sang Kaisar.

Di dalamnya terdapat sepasang bros besar dari batu amber.

Sang Kaisar mengambil bros wanita dan menyematkannya di bagian atas gaun Miraila.

Kemudian ia memasang bros pria pada pakaiannya sendiri.

Lalu ia tersenyum kepada Artizea.

"Jangan terlalu sungkan. Kau adalah putri Miraila, jadi bagiku kau juga seperti putriku sendiri."

"Aku merasa sangat terhormat."

Jawab Artizea dengan sopan.

Dahulu...

Ia benar-benar ingin mendengar kata-kata itu.

Ia ingin menjadi bagian dari keluarga Miraila dan Lawrence.

Namun pada akhirnya...

Keluarga yang selama ini ia impikan hanyalah sebuah ilusi yang indah.

Lawrencelah yang membunuh Miraila.

Tidak pernah ada keluarga yang saling memercayai, saling mencintai, dan saling melindungi.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita berangkat ke opera sekarang?"

"Baik."

Miraila berdiri sambil menggandeng tangan sang Kaisar, lalu menatap Artizea dengan dingin.

Namun wajah sang Kaisar tampak sangat puas.

Rupanya ia benar-benar menyukai bros itu.

Artizea kembali berlutut dan menundukkan kepala, menunggu hingga keduanya meninggalkan ruangan.

Kini...

Dengan kejadian hari ini, sang Kaisar akan merasa berutang budi kepada dirinya, bukan kepada Miraila.

Meskipun perasaan itu mungkin hanya sesaat...

Itu tetap merupakan keuntungan yang sangat besar.

Chapter 12

Cedric tidak dapat memejamkan mata malam itu.

「Kalau begitu, aku akan menjadikan Yang Mulia Grand Duke sebagai Kaisar.」

Wajah gadis anggun yang mengucapkan kata-kata itu terus muncul di benaknya.

Ia tidak mempertanyakan apakah gadis itu benar-benar mampu menjadikannya Kaisar.

Yang terus memenuhi pikirannya justru satu pertanyaan.

Apakah aku ingin menjadi Kaisar?

Jika ia mengatakan bahwa ia tidak pernah memikirkannya, itu adalah kebohongan.

Artizea bukanlah satu-satunya orang yang pernah mengatakan bahwa ia seharusnya menjadi Kaisar.

Pada berbagai kesempatan, orang-orang yang jauh lebih dapat dipercaya daripada dirinya diam-diam datang menemuinya demi mengatakan hal yang sama.

Namun Cedric tidak pernah mendengarkan mereka.

「Yang Mulia harus menjadi Kaisar agar dapat bertahan hidup. Jadilah Kaisar demi membalas kematian kedua orang tua Anda.」

Mereka yang mendorongnya naik takhta selalu mengatakan dua hal itu.

Sudah hampir dua puluh tahun berlalu sejak ayah dan ibunya dihukum mati setelah dijebak dengan tuduhan pengkhianatan.

Sebagian besar rakyat Kekaisaran telah melupakan kejadian itu.

Kedudukan keluarganya telah dipulihkan, dan ia mewarisi Grand Duchy Evron.

Namun ia tidak pernah lupa bahwa dirinya selalu berdiri di atas seutas garis yang amat tipis.

Mungkin Kaisar Gregor tidak membunuhnya karena menyesali kematian adik perempuannya sendiri.

Atau mungkin karena ia tahu Cedric tidak memiliki kekuatan untuk mengancamnya.

Namun sebagai calon pewaris takhta, ceritanya akan berbeda.

Garis keturunannya terlalu kuat untuk diabaikan.

Para pengikutnya telah bertekad bahwa apabila Cedric menghadapi bahaya yang sama seperti Grand Duke dan Grand Duchess Evron sebelumnya, maka saat itulah mereka benar-benar akan mengangkat senjata dan memperlihatkan kekuatan sejati Grand Duchy Evron.

Namun Cedric selalu mencegah mereka.

Sebagaimana mereka melindunginya, Cedric pun memilih mengalah demi melindungi mereka.

Ia menjauh dari pusat politik Kekaisaran dan bertindak seolah membenci kekuasaan.

Grand Duke Evron pun semakin dikenal sebagai perisai Kekaisaran.

Akan tetapi pada akhirnya...

Kecuali ia melepaskan gelarnya sebagai Grand Duke Evron dan hidup menyendiri sebagai pertapa, satu-satunya cara agar ia benar-benar dapat bertahan hidup hanyalah menjadi Kaisar.

Namun ia tidak dapat meninggalkan kedudukannya sebagai Grand Duke.

Apalagi meninggalkan Grand Duchy Evron.

Itulah rumah keluarganya.

Meski demikian, hingga hari ini ia bahkan tidak pernah berniat mengucapkan kata suksesi ataupun takhta kekaisaran, karena ia tidak ingin mengotori tangannya demi bertahan hidup.

Cedric lebih memilih mati dengan terhormat.

Akankah kedua orang tuanya merasa bahagia apabila ia naik takhta dengan tangan yang berlumuran darah balas dendam?

Ia tidak berpikir demikian.

Bahkan wajah ibunya sendiri nyaris tidak lagi ia ingat.

Lagi pula, Cedric adalah pria yang baik dan adil.

Rakyat Grand Duchy Evron memujinya karena sifat itu.

Sulit membayangkan bahwa Cedric akan hidup hanya demi membalas dendam.

Namun...

Artizea tidak memintanya menjadi Kaisar demi keselamatan dirinya sendiri ataupun demi pembalasan.

Melainkan demi kesejahteraan rakyat Kekaisaran Crates.

Cedric terguncang.

Selama ini ia menganggap Grand Duchy Evron sebagai satu-satunya tanggung jawabnya.

Ia bekerja keras demi melindungi tanah kelahirannya dan rakyat yang dicintainya.

Namun...

Mungkinkah ia berpaling dari nasib Kekaisaran Crates itu sendiri?

Tentu saja tidak.

Ia adalah perisai Kekaisaran.

Ia memang tidak memiliki sedikit pun kesetiaan kepada Keluarga Kekaisaran.

Namun melindungi rakyat Kekaisaran selalu menjadi bagian dari keyakinannya.

Cedric tidak dapat membicarakan kegelisahan ini kepada siapa pun.

Para bawahannya bersedia mengorbankan nyawa demi dirinya.

Apabila Cedric mengatakan bahwa ia akan ikut dalam perebutan takhta, mereka semua pasti akan bergembira dan segera bertindak.

Ia ingin berbicara dengan Artizea sekali lagi.

Entah mengapa ia merasa gadis itu akan mampu menunjukkan arah yang benar kepadanya, bahkan di tengah kabut yang paling pekat.

Sepanjang malam ia sama sekali tidak dapat tertidur.

Ketika matahari terbit, ia menyadari bahwa pikirannya perlahan telah condong ke satu arah.

"Yang Mulia tidak tidur nyenyak semalam?"

Tanya Ansgar, kepala pelayan Grand Duke Evron, yang pagi itu datang ke barak.

Cedric sudah bangun dan sedang bercukur.

Wajahnya tampak letih, sementara lingkaran hitam jelas terlihat di bawah matanya.

Ansgar selalu mengikuti Cedric hingga ke medan perang untuk melayaninya.

Sebenarnya Cedric tidak terlalu membutuhkan pelayanannya.

Sebaliknya, ia justru lebih sering mengkhawatirkan agar kepala pelayan tua itu tidak mengalami sesuatu yang buruk.

Namun ia juga tidak sanggup menyuruh Ansgar tetap tinggal dan beristirahat di manor yang nyaman.

Karena ia tahu...

Setelah kehilangan kedua tuannya secara tragis, Ansgar hidup dalam ketakutan bahwa suatu hari ia juga akan kehilangan Cedric dengan cara yang sama.

"Aku hanya sedikit gelisah di tempat tidur."

Ansgar tidak bertanya lebih jauh.

Ia tidak pantas mencampuri urusan semacam itu.

Satu-satunya hal yang dapat ia lakukan bagi tuannya yang memikul begitu banyak urusan adalah melayaninya sebaik mungkin.

"Silakan duduk, Lord Cedric."

"Baik."

Cedric duduk tenang di kursi.

Ansgar mengambil sebuah bantal dan menyelipkannya di belakang leher Cedric agar ia dapat bersandar dengan nyaman.

Lalu ia menutupi wajah Cedric dengan handuk hangat.

"Kurasa aku bahkan bisa tertidur sekarang."

"Apakah Yang Mulia ingin beristirahat sejenak?"

"Tidak. Aku tidak punya waktu untuk tidur. Hari ini aku akan pergi ke Istana Kekaisaran."

Setelah Cedric mengatakan itu, Ansgar mengambil jubahnya, bukan seragam militernya.

Cedric berganti pakaian, lalu berangkat menuju ibu kota hanya dengan dua orang pengawal.


Cedric tiba di Istana Kekaisaran sekitar pukul sepuluh pagi.

Biasanya sang Kaisar menghabiskan pagi hari dengan menerima audiensi kecil dan tamu-tamu pribadi.

Cedric sengaja memilih waktu itu karena ia tidak ingin makan siang bersama sang Kaisar.

Sesampainya di sana, Countess Charlotte Eunice ternyata sedang menemui sang Kaisar bersama kedua putrinya.

Countess Eunice benar-benar mengikuti nasihat Artizea.

Kini usianya telah menginjak tiga puluh enam tahun, sementara putri sulungnya telah berusia lima belas tahun.

Countess Eunice bukan lagi wanita yang dapat disebut muda ataupun memikat.

Karena itu, bersikap angkuh tidak akan memberinya manfaat apa pun.

Jika ia ingin kembali memperoleh kasih sayang ayahnya, sang Kaisar, maka ia harus belajar memahami suasana hati beliau dan menyenangkannya.

Demi putri-putrinya juga.

Sang Kaisar bukan tipe pria yang merasa wajib mengurus anak-anaknya.

Ia hanya melakukannya ketika sedang ingin.

Akibatnya, Countess Eunice pernah memasuki masa pemberontakan.

Setelah Lawrence lahir, waktu yang mereka habiskan bersama sebagai ayah dan anak pun jauh berkurang.

Namun itu tidak berarti sang Kaisar tiba-tiba membenci putri yang dahulu sangat ia cintai.

Ia hanya menjauhkannya.

Karena setiap kali bertemu putrinya, suasana hatinya justru menjadi buruk.

Hari ini Countess Eunice datang secara mendadak demi kembali memperoleh tempat di hati sang Kaisar.

Tentu saja sang Kaisar tidak mengetahui niat sebenarnya.

Beliau mengira putrinya mungkin merasa bersalah karena telah mengganggu ketenangannya kemarin dan kini datang untuk memohon maaf.

Apa pun alasannya...

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, putrinya tampak berniat berubah menjadi anak yang berbakti.

Beliau sedang menikmati momen itu.

Sang Kaisar juga sangat menyukai bros amber yang diberikan Artizea kepadanya.

Selama ini ia selalu menganggap Artizea tidak lebih dari sekadar pelengkap bagi Miraila.

Tentu saja ia tidak pernah menganggap gadis itu sebagai putrinya.

Apalagi memiliki perasaan kekeluargaan terhadapnya.

Namun Artizea juga tidak pernah melakukan sesuatu yang membuatnya membenci gadis itu.

Meskipun ia tidak memiliki hasrat terhadap Artizea, mengetahui bahwa gadis cantik itu ingin memperoleh kasih sayangnya tetap membuatnya merasa senang.

Seandainya kemarin Artizea menangis dan Miraila mengadu kepadanya...

Sang Kaisar pasti akan merasa sangat tidak nyaman.

Bahwa seorang gadis seusia Artizea, yang seharusnya mudah tersulut emosi, tidak mengeluh meski ditampar dan justru berusaha dengan bijaksana menenangkan hati sang Kaisar...

Hal itu sungguh mengagumkan.

Ditambah lagi, kini putri yang dahulu memberontak sedang menatapnya penuh kasih.

Tanpa melakukan apa pun, ia merasa telah memperoleh begitu banyak.

Kini sang Kaisar telah menua.

Berbeda dengan masa mudanya, sekarang ia menikmati kelembutan anak-anak dan cucu-cucunya sama besarnya dengan pesona wanita yang dicintainya.

Saat itulah ia menerima laporan bahwa Cedric datang berkunjung.

Sang Kaisar segera memerintahkan agar Cedric dipersilakan masuk.

"Persilakan dia masuk. Aku hanya sedang beristirahat."

Cedric sedikit ragu ketika kepala pelayan utama membawanya menuju ruang keluarga sang Kaisar.

Ia terkejut karena tidak dibawa ke ruang kerja ataupun ruang audiensi.

Selain itu...

Countess Eunice beserta kedua putrinya juga berada di sana dalam suasana yang sangat pribadi.

"Terima kasih karena telah berkenan menerimaku. Seandainya aku mengetahui Countess Eunice sedang berada di sini, tentu aku tidak akan mengganggu."

Itulah kalimat pertama Cedric setelah memberi salam resmi.

Sang Kaisar tertawa.

"Mengapa kau begitu kaku? Charlotte adalah putriku, sedangkan kau adalah keponakanku. Kalian berdua adalah sepupu. Kita semua keluarga."

Ucap sang Kaisar sambil tertawa.

Beliau bertindak seolah-olah tidak mengetahui bahwa selama ini Cedric menolak memasuki ibu kota karena persoalan Pasukan Barat.

Kadang-kadang Cedric bahkan berpikir bahwa mungkin sang Kaisar telah melupakan kenyataan bahwa beliau pernah membunuh kedua orang tuanya.

Tentu saja hal itu mustahil.

Sebab jika benar demikian, tidak akan ada alasan bagi sang Kaisar untuk terus berusaha menundukkannya setiap kali memperoleh kesempatan.

Cedric mengangguk sopan.

Sang Kaisar berkata dengan riang,

"Kalian sudah lama tidak bertemu, bukan? Walaupun kalian sepupu, mengingat Cedric tidak memiliki saudara kandung, kau seharusnya memperlakukannya seperti kakakmu sendiri. Aku merasa sedikit bersalah karena dia sering datang menemuiku, tetapi malah tetap tinggal di barak luar ibu kota dan bahkan tidak mau masuk."

Sang Kaisar berkata demikian.

Cedric merasa perkataan itu sungguh menggelikan.

Kalau benar beliau merasa bersalah, beliau bisa saja memanggil Cedric untuk bertemu secara pribadi tanpa memperumit keadaan.

Atau setidaknya mau mendengarkan alasannya.

Namun sang Kaisar tidak melakukan itu.

Beliau justru memerintahkan Cedric kembali ke ibu kota seorang diri dan bersujud kepadanya, sambil meninggalkan Pasukan Barat begitu saja.

Sang Kaisar kemudian berkata,

"Dan kau juga harus lebih akrab dengan Tia."

"Ayah. Bagaimana mungkin Lady Artizea dapat bertemu Cedric, sementara beliau selalu berada di medan perang?"

"Apa yang sedang kau katakan? Kalau dua orang memang ditakdirkan bertemu, bukankah mereka dapat bertemu kapan saja? Lagi pula, bukankah Tia adalah adik Lawrence? Walaupun ia tidak memiliki darahku."

"Apakah yang Ayah maksud adalah Lady Artizea...?"

Tanya Cedric dengan terkejut.

Ia sama sekali tidak menyangka nama itu justru keluar lebih dahulu dari mulut sang Kaisar.

"Aku mendengar kemarin kau mengutus seorang kesatria untuk mengantar Tia pulang."

Kisah itu telah diceritakan Kishore kepada sang Kaisar.

"Itu bukan sesuatu yang istimewa. Kami kebetulan bertemu di kuil. Lady Artizea tidak membawa pengawal, jadi aku hanya menyuruh salah seorang bawahanku mengantarnya pulang."

"Selama ini kau terus berputar-putar di luar ibu kota, lalu tiba-tiba memutuskan datang menemuiku. Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Lady Artizea?"

Cedric tidak dapat langsung menyangkalnya.

Ia memang tidak terbiasa berbohong.

Sang Kaisar tertawa lepas.

"Kadang-kadang kau benar-benar kuno. Aku yakin Tia akan sangat senang mengetahui bahwa hari ini kau datang menemuinya."

"Aku tidak datang ke Istana Kekaisaran demi Lady Artizea. Yang Mulia, aku datang untuk membicarakan Pasukan Barat..."

"Astaga! Apa kau benar-benar tidak mengerti mengapa aku membawamu ke ruang keluargaku?"

Sang Kaisar membentak dengan wajah marah.

Namun sesaat kemudian beliau kembali tersenyum lembut.

"Kita tidak seharusnya membicarakan urusan seperti itu saat berkumpul bersama keluarga. Datanglah lagi tiga hari lagi, baru kita bahas. Apa kau mengira aku akan melupakan jasa besar Pasukan Barat kali ini?"

Ujar sang Kaisar sambil menuangkan secangkir teh untuknya.

Cedric menerima cangkir itu dengan ragu, lalu mengangkatnya ke bibirnya.

Barulah saat itu ia menyadari...

Kabar mengenai pertemuannya dengan Artizea telah mengubah sikap sang Kaisar.

Chapter 13

Cedric mengundurkan diri setelah meminum secangkir teh bersama sang Kaisar. Setelah itu, ia pergi ke manor Marquisate Rosan sebagaimana telah direncanakannya sejak awal.

Kepala pelayan sangat terkejut atas kunjungan Grand Duke Evron.

Ia bahkan lebih terkejut lagi ketika mengetahui bahwa orang yang ingin ditemui bukanlah Lawrence ataupun Miraila, melainkan Artizea.

"Lady sedang keluar."

"Ke mana dia pergi?"

Kepala pelayan itu menjadi gugup mendengar pertanyaan tersebut.

Barulah saat itu Cedric benar-benar menyadari betapa buruknya kedudukan Artizea di rumah ini.

Artizea adalah satu-satunya pewaris Marquisate Rosan, sehingga dua tahun lagi ia akan mewarisi gelar tersebut.

Namun meskipun demikian, sang kepala pelayan bahkan tidak mengetahui ke mana ia pergi.

Kepala pelayan itu berulang kali memohon agar Cedric menunggu sebentar, sementara ia mencari tahu kepada para pelayan wanita.

Cedric tetap berdiri di foyer dan menunggu.

Ia merasa marah.

Hal seperti ini tidak mungkin terjadi di Grand Duchy Evron.

Cedric memang kehilangan kedua orang tuanya secara tragis ketika masih kecil, tetapi para pengikutnya merawatnya seolah-olah ia adalah putra ataupun cucu mereka sendiri.

Bahkan pada hari ia pulang setelah pemakaman, rumah itu tetap menjadi rumahnya.

Pada hari ketika ia merasa tertindas oleh sang Kaisar...

Pada hari ketika ia merasa tidak mampu melakukan apa pun...

Bahkan pada hari ketika ia hanya ingin menyerah dan menenangkan hati yang hancur...

Rumah itu tetap menjadi rumahnya.

Tempat di mana ia dapat beristirahat dengan tenang.

Tempat di mana ia merasa dilindungi.

Bagi Cedric, kepala pelayan dan para pelayan bukan sekadar bawahan.

Ia menganggap mereka sebagai keluarganya.

Mereka menggantikan tempat kedua orang tuanya yang telah tiada.

Mereka merawat Cedric seolah-olah ia adalah putra, cucu, bahkan adik mereka sendiri.

Sementara Cedric menunggu sambil berdiri, kepala pelayan Marquisate Rosan semakin panik dan tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Para pelayan wanita kepercayaan Artizea tidak akan sembarangan memberitahukan ke mana majikan mereka pergi.

Pada akhirnya, Cedric harus menunggu hampir satu jam sebelum akhirnya memperoleh jawaban.

"Mohon maaf, Yang Mulia. Saya mendapat kabar bahwa Lady Artizea menghadiri pesta dansa di kediaman Count Enda. Jika Yang Mulia bersedia menunggu sebentar lagi, saya akan memastikan beliau segera kembali."

"Apakah kedudukanmu di rumah ini lebih tinggi daripada Lady Artizea?"

"Maaf?"

Kepala pelayan itu mengerjapkan mata.

Cedric berbicara dengan dingin.

"Sejauh yang aku ketahui, Lady Artizea adalah pewaris Marquisate Rosan. Sejak kapan seorang kepala pelayan dapat menentukan kapan beliau harus pergi dan kapan harus kembali?"

"Oh, tidak."

Kepala pelayan itu segera menundukkan kepala dan buru-buru mencari alasan.

"Maksud saya, Tuan Muda Lawrence akan segera kembali. Yang Mulia dapat berbincang dengan Tuan Muda. Sementara itu saya akan menjemput Lady Artizea..."

Alasan itu justru membuat Cedric semakin murka.

"Kalau begitu, rupanya aku telah keliru."

"Eh?"

"Aku mengira sedang berbicara dengan kepala pelayan Marquisate Rosan. Rupanya kau adalah kepala pelayan Lord Lawrence."

Wajah kepala pelayan itu langsung memucat.

Selama ini tidak seorang pun pernah menegurnya, sehingga ia sendiri telah melupakan kenyataan bahwa pemilik Marquisate Rosan yang sebenarnya adalah Artizea.

Walaupun ia merupakan salah satu orang kepercayaan Miraila, tetap saja sebagai kepala pelayan Marquisate Rosan, ia telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan.

"Saya mohon maaf."

Kepala pelayan itu membungkuk dengan hormat.

Di kalangan bangsawan tinggi yang sangat kaku dan cerewet, terdapat orang-orang yang begitu terobsesi pada tata krama dan formalitas, tanpa memedulikan siapa sebenarnya yang memegang kekuasaan.

Terlebih lagi, Cedric memang membenci Miraila.

Kepala pelayan itu merasa benar-benar terpojok.

Dan menurutnya, satu-satunya jalan keluar hanyalah meminta maaf.

Ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa Cedric akan membela Artizea.

Bahkan ia tidak mengerti mengapa Grand Duke itu datang khusus untuk menemui gadis tersebut.

Belakangan ini Artizea memang beberapa kali mengemukakan gagasan yang baik dan memperoleh pujian dari Miraila.

Namun di mata kepala pelayan itu, Artizea tetap hanyalah sasaran pelampiasan kemarahan Miraila.

"Aku akan menyampaikan sendiri urusan ini kepada Lady Artizea."

Karena itu bukan rumahnya sendiri, Cedric hanya mengucapkan kata-kata tersebut sebelum meninggalkan Marquisate Rosan.

『Aku hanya ingin mewarisi Marquisate Rosan sepenuhnya dan memperoleh kebebasan.... Tolong pertahankan pernikahan formal dengan diriku selama dua tahun saja dan lindungilah aku, Yang Mulia.』

Itulah yang pernah dikatakan Artizea kepadanya.

Kini Cedric merasa mulai memahami apa yang dimaksud Artizea dengan kata lindungilah aku.


Artizea, yang menghadiri pesta dansa di kediaman Count Enda, berdiri di salah satu sudut ruangan layaknya sebuah hiasan.

Pesta dansa yang diadakan pada siang hari seperti ini bukanlah tempat untuk bersenang-senang.

Tempat itu merupakan ajang bagi para pemuda dan gadis bangsawan untuk bergaul secara sehat di bawah pengawasan orang-orang dewasa.

Tentu saja, tujuan akhirnya adalah menemukan pasangan hidup yang baik.

Walaupun demikian, sebagian besar pernikahan tetap diputuskan oleh kepala keluarga dengan mempertimbangkan status dan kekayaan kedua belah pihak.

Namun pertemuan antara para pemuda yang sedang bersemangat tetap tidak mungkin dicegah.

Karena itu, para orang tua lebih memilih agar pertemuan tersebut berlangsung di lingkungan yang terkendali dan diawasi.

Berkat hal itu, para bangsawan muda yang telah memasuki usia menikah tetap memiliki kesempatan untuk memilih sendiri, meskipun pilihan mereka tidak terlalu menentukan.

Selain membangun hubungan sosial dengan sesama jenis dan menikmati pergaulan yang menyenangkan dengan lawan jenis, mereka juga memperoleh pengalaman bersosialisasi di kalangan bangsawan.

Lebih dari itu, melalui pertemuan semacam ini, mereka dapat menilai apakah suatu keluarga berpotensi menimbulkan kekacauan, apakah ada keluarga yang harus dijalin hubungannya dengan segala cara, atau justru keluarga yang sebaiknya diabaikan.

Artizea adalah salah satu gadis yang paling tidak populer di pesta dansa seperti ini.

Padahal, sebagai pewaris Marquisate Rosan, seharusnya ia menjadi pusat perhatian dalam pergaulan kalangan bangsawan.

Namun Artizea adalah putri Miraila.

Mereka yang membenci ataupun merendahkan Miraila secara alami juga menjauhinya.

Sementara para penjilat yang selalu mengikuti Miraila justru mengabaikan dan memperlakukan Artizea sama buruknya seperti Miraila sendiri.

Mereka takut apabila memperlakukan Artizea dengan baik, Miraila akan murka kepada mereka.

Dan pada usia seperti ini, penampilan adalah segalanya.

Pikir Artizea sambil mengambil segelas jus aprikot dari meja dan menyeruputnya perlahan.

Bagaimanapun juga, mereka hanyalah para pemuda dan gadis yang belum genap berusia dua puluh tahun.

Tidak banyak di antara mereka yang mampu melihat kekayaan luar biasa Marquisate Rosan di balik diri Artizea.

Dan bahkan mereka yang menyadarinya pun tetap menganggap wajah cantik dan kepribadian yang manis jauh lebih berharga daripada kekayaan.

Tentu saja...

Kepribadian yang baik memang jauh lebih berharga.

Artizea sendiri berpikir demikian.

Sekalipun seseorang memiliki kekayaan sepuluh kali lipat Marquisate Rosan, itu tetap tidak akan dapat menyamai hati Licia yang begitu murni.

Artizea rela menukar seluruh kekayaan Marquisate Rosan apabila ia dapat memiliki hati yang bahkan hanya setengah semulia hati Licia.

"Salam, Lady Artizea."

Artizea sebenarnya berharap waktu segera berlalu agar ia dapat pulang.

Kalau bisa, tanpa berbicara ataupun bertukar salam dengan siapa pun.

Namun kenyataan jarang berjalan sesuai harapannya.

Orang yang menyapanya adalah Lady Atiyah yang cantik.

"Mengapa Anda tampak begitu murung? Anda datang lebih awal, tetapi belum menari satu lagu pun."

"Seseorang harus tetap berdiri diam untuk menghiasi dinding."

"Oh, astaga. Sungguh menyedihkan mendengarnya. Semua pria yang datang ke pesta ini benar-benar tidak sopan dan tidak berperasaan. Aku tidak percaya tidak seorang pun mengajak Anda berdansa, bahkan satu lagu sekalipun."

Sambil berkata demikian, Lady Atiyah menundukkan bulu matanya yang panjang.

"Akan tetapi, Lady Artizea, Anda juga memiliki kesalahan. Ini sudah keempat kalinya Anda mengenakan gaun yang sama. Bagaimana mungkin para pria sejati dapat membedakan apakah mereka berdansa dengan Anda hari ini, atau justru pada pesta sebelumnya?"

Para pemuda di sekitarnya tertawa sambil mengguncangkan bahu mereka.

Artizea hanya tersenyum tipis.

Dahulu ia begitu tidak percaya diri terhadap penampilannya.

Ia sangat malu karena selalu mengenakan gaun lama, sehingga bahkan tidak sanggup mengangkat kepalanya ketika mendengar ejekan seperti ini.

Namun sekarang, ia justru bertanya-tanya...

Apakah Lady Atiyah benar-benar berada dalam posisi yang pantas untuk mengatakan hal tersebut?

Betapapun Lady Atiyah menjadi bunga pesta, Artizea tetaplah pewaris Marquisate Rosan.

Count dan Countess Atiyah terlalu rendah kedudukannya untuk dapat meremehkan dirinya.

Mereka sama sekali tidak dapat disejajarkan dengan Miraila.

Artizea tersenyum samar.

"Dengan wajah seburuk milikku, bukankah mengenakan gaun yang bernilai ratusan ribu keping emas justru merupakan pemborosan? Terlebih lagi gaun itu... sejauh yang kulihat, itu adalah gaun beludru bersulam dari Kerajaan Selatan Eon, bukan? Gaun semewah itu memang pantas dikenakan oleh wanita secantik Anda. Barulah jerih payah sang perancang akan benar-benar terbayar."

"Oh, rupanya penglihatan Anda cukup tajam."

"Akan tetapi, apakah itu benar-benar tidak masalah?"

"Apa maksudmu?"

"Kain beludru bersulam dari Eon sangat mahal. Hanya bahan untuk membuat gaun semegah itu saja sudah bernilai lebih dari sepuluh ribu keping emas. Dan seingatku, ini adalah gaun keempat dari jenis yang sama yang Anda kenakan. Berarti Count Atiyah telah menghabiskan hampir setengah pendapatan tahunan wilayahnya hanya untuk gaun-gaun Lady Atiyah."

"Apa yang sedang kaukatakan?"

"Ah, rupanya Count dan Countess Atiyah begitu menyayangi Anda hingga tidak mengatakan apa pun. Tambang marmer, sumber pendapatan utama wilayah mereka, kemungkinan besar akan ditutup satu atau dua tahun lagi karena tidak lagi menguntungkan. Bahkan sekarang pun pendapatan mereka pasti telah merosot tajam. Kudengar mereka berada di ambang kebangkrutan."

Wajah Lady Atiyah langsung berubah pucat.

"Memang jumlahnya sangat besar untuk dihabiskan seperti itu. Namun apabila dianggap sebagai investasi besar demi masa depan keluarga, bukankah itu tidak seberapa? Lady Atiyah, Anda begitu cantik. Aku yakin Anda pasti mampu memenuhi harapan kedua orang tua Anda."

Ucap Artizea sambil tersenyum.

"Apakah maksudmu kedua orang tuaku hendak menjualku?!"

Lady Atiyah berteriak keras hingga melupakan tatapan orang-orang di sekitarnya.

Pada saat yang sama, terdengar sedikit keributan dari pintu masuk.

Rupanya ada tamu baru yang datang.

Semua orang serentak menoleh ke arah sana.

Cedric melepaskan pedang panjang yang dibawanya lalu menyerahkannya kepada seorang pelayan.

Bisikan-bisikan pun lenyap.

Di aula yang mendadak sunyi itu, hanya alunan musik yang masih terdengar.

"Yang Mulia, apa yang membawa Anda datang ke tempat ini secara tiba-tiba?"

Tanya Countess Enda sambil membungkuk hormat.

Cedric Evron adalah pria yang membuat hati tak terhitung banyaknya gadis berdebar karena ketampanan dan sikapnya yang gagah.

Namun ia tidak pernah memiliki pasangan dansa.

Ia sama sekali tidak pernah menghadiri pesta dansa ataupun perjamuan, kecuali pesta di Istana Kekaisaran yang memang wajib ia hadiri.

Namun hari ini...

Ia justru muncul di tengah pertemuan sosial para pemuda dan gadis bangsawan.

Apa dampak kehadirannya di pesta ini?

Pertanyaan itu memenuhi benak Countess Enda.

"Aku datang untuk menemui seseorang, dan kudengar orang itu berada di sini. Maaf karena datang tanpa undangan. Bolehkah aku masuk?"

"Tentu saja. Tidak ada tempat di kalangan bangsawan Kekaisaran Crates yang tertutup bagi Yang Mulia."

Jawab Countess Enda.

Terlepas dari situasi politik yang rumit dan genting yang sedang dihadapinya, Cedric tetap merupakan salah satu calon suami terbaik.

Ia masih muda.

Ia telah mewarisi gelar Grand Duke.

Ia kaya.

Ia juga seorang pahlawan perang yang memperoleh seluruh jasanya dengan kemampuannya sendiri.

Cedric Evron adalah sosok yang mampu menentukan siapa yang akan menjadi Kaisar.

Apabila ia memilih bersumpah setia kepada Lawrence ataupun Roygar, keseimbangan perebutan takhta saat ini dapat berubah sepenuhnya.

Siapa yang datang ingin ditemuinya?

Mungkinkah... seorang wanita?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memenuhi pikiran semua orang yang hadir.

Namun Cedric tampaknya sama sekali tidak menyadari semua tatapan tersebut.

Ia berjalan melintasi aula...

Lalu langsung menuju Artizea.

Chapter 14

Para gadis muda yang berada di sekitar Artizea terperangah dan mulai berbisik-bisik.

Bahkan Lady Atiyah, yang sesaat sebelumnya masih diliputi amarah, kini memerah karena malu.

"Siapa yang sebenarnya ingin ditemuinya?"

"Aku pernah mendengar bahwa Grand Duke Evron tidak menyukai wanita."

"Apakah ada seseorang yang dekat dengan Yang Mulia di tempat ini?"

Para gadis muda saling memandang ke sekeliling.

Namun tidak seorang pun mengira bahwa orang yang dicari Cedric adalah Artizea.

Artizea menahan napas.

Sejak menyadari bahwa Cedric berada di sana, secara naluriah ia berpikir bahwa pria itu datang untuk menemuinya.

Namun pada saat yang sama, rasanya begitu tidak nyata melihat Cedric berjalan lurus ke arahnya.

Tatapannya hanya tertuju kepada Cedric.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa pandangannya dapat menjadi sesempit itu.

Ia menatapnya begitu lekat hingga bahkan tidak menyadari keterkejutan orang-orang di sekelilingnya, termasuk Lady Atiyah.

Dan ketika Cedric mengulurkan tangan kanannya kepadanya, ia bahkan tidak lagi mendengar bisik-bisik yang memenuhi ruangan.

Para gadis muda begitu terkejut hingga hanya mampu menatap Artizea dan Cedric dengan mulut ternganga, bahkan lupa menjaga ekspresi mereka.

Semua orang yang hadir, baik muda maupun tua, tanpa sadar memusatkan seluruh perhatian pada mereka.

"Apa kabar, Lady Artizea?"

"Apa... yang membawa Yang Mulia kemari?"

Artizea, yang tidak mampu menyembunyikan rasa malunya, ragu sejenak sebelum meletakkan tangannya di atas tangan Cedric.

Pada saat itu, terdengar beberapa pekikan pendek dari sekeliling mereka.

Cedric mengernyit.

Tanpa memedulikan suasana aula, ia mengulurkan tangan kirinya dan mengangkat dagu Artizea, sementara tangan kanannya masih menggenggam tangan gadis itu.

"Apa yang terjadi pada wajahmu?"

"Hah?"

"Pipimu bengkak. Selain itu, ada bekas cakaran kuku, dan salah satu sisi bibirmu juga robek."

Cedric mengamati wajahnya dengan saksama, sampai-sampai nyaris tampak tidak sopan.

Sekilas memang sulit dikenali karena tertutup riasan.

Namun jelas masih terlihat bekas tamparan.

Mungkin beberapa saat lagi lebam kebiruan akan mulai muncul di wajahnya.

Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Lagipula, dengan wajah seperti ini, bagaimana Miraila bisa membiarkannya keluar?

Hal yang sama berlaku bagi para pelayan Marquisate Rosan.

Ini hanyalah pertemuan pribadi.

Pesta dansa ini bukanlah sesuatu yang wajib ia hadiri.

Artizea sebenarnya sama sekali tidak ingin datang.

Di acara seperti ini tidak ada informasi berguna yang dapat diperoleh.

Namun ia tidak punya pilihan.

Apabila ia tidak menghadiri pertemuan sebagaimana diperintahkan Miraila, wanita itu pasti akan murka.

"Yang Mulia."

Artizea menggenggam pergelangan tangan Cedric dengan wajah penuh rasa canggung.

Cedric menatapnya lalu berbisik lirih.

"Apakah Countess Eunice yang melakukan ini kepadamu?"


Sebelum meninggalkan Istana Kekaisaran, Countess Eunice menghentikannya.

Cedric menatapnya dengan waspada.

Meskipun mereka adalah sepupu, mereka tidak pernah akrab.

『Apakah Anda hendak menemui Lady Artizea?』

『Apakah itu urusanmu?』

『Tidak. Namun ada satu hal yang ingin kuminta kepada Anda.』

『Aku tidak dapat menjanjikan apa pun, tetapi katakanlah. Aku akan mendengarnya.』

『Tolong sampaikan kepada Lady Artizea bahwa aku menyesali apa yang terjadi kemarin.』

Ucap Countess Eunice sambil menggenggam ujung gaunnya.

『Jika memang ada sesuatu yang hendak kau sesali, mengapa tidak meminta maaf secara langsung?』

『Tentu saja aku akan mengunjunginya secara pribadi dan meminta maaf pada saat yang tepat. Namun sekarang, kurasa aku membutuhkan seseorang sebagai perantara. Tolong sampaikan saja bahwa, "Aku minta maaf, dan aku berterima kasih atas nasihatmu."』

Cedric tidak memahami alasannya.

Namun ia tetap mengangguk sebelum pergi.


Ia sama sekali tidak menyangka penyebabnya adalah ini.

"Countess Eunice..."

"Tolong... jangan mengatakan apa-apa lagi. Jika Yang Mulia terus membicarakannya, keadaan justru akan menyulitkanku."

Artizea menekan pergelangan tangan Cedric dengan lembut.

Merasa tidak berdaya, Cedric melepaskan dagu gadis itu.

Kemudian ia berkata dengan nada tegas, berusaha menahan amarahnya.

"Mari kita pulang."

Artizea merasa aneh.

Dalam kehidupan sebelumnya...

Alice adalah satu-satunya orang yang pernah benar-benar memedulikannya.

Setelah Alice meninggal, tidak ada lagi seorang pun yang memperhatikan luka-lukanya.

Semasa mudanya bahkan lebih buruk.

Setiap kali suasana hati Miraila sedang buruk, kemarahannya selalu dilampiaskan kepada Artizea.

Tak seorang pun di Marquisate Rosan peduli bahwa pipinya ditampar.

Namun sekarang...

Cedric justru marah karena hal itu.

Cedric.

Entah mengapa, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Artizea menundukkan kepala dan berkata dengan suara kaku.

"Baik."

Tidak baik baginya meninggalkan pesta dansa dalam keadaan seperti ini.

Namun sejak awal Artizea memang tidak datang untuk mencari calon pasangan hidup.

Tidak ada pula seorang pun di tempat ini yang ingin menjadi sahabatnya.

Reputasinya telah jatuh ke titik terendah.

Dan sejauh ini, tampaknya tidak ada tanda-tanda bahwa keadaan akan membaik.

Cedric melangkah mundur lalu mengulurkan lengannya untuk mengantarnya.

Pada saat itulah, Lady Atiyah tanpa sengaja bertatapan dengannya.

Lady Atiyah yang sejak tadi hanya memandangi mereka dengan bingung segera menyadari bahwa inilah kesempatan baginya.

Ia buru-buru mengangkat ujung gaunnya, membungkuk, lalu tersenyum seanggun mungkin.

"Mohon maaf atas salamku yang mendadak, Yang Mulia Grand Duke Evron. Namaku Laila, putri Count Atiyah. Aku sama sekali tidak mengetahui bahwa Yang Mulia mengenal Lady Artizea."

"Senang bertemu dengan Anda, Lady. Apakah Anda sahabat Lady Artizea?"

"Maaf? Ah... ya!"

Lady Laila menjawab demikian karena berharap dapat meninggalkan kesan yang baik di mata Cedric.

Dengan senyum yang tampak di matanya, ia melanjutkan.

"Rasanya kurang pantas bagi seorang pria terhormat datang ke pesta dansa lalu pergi tanpa berdansa. Terlebih lagi masih ada para gadis yang belum sempat menari satu lagu pun."

Seluruh kehangatan di mata Cedric lenyap seketika.

"Kewajiban seorang pria sejati adalah memperhatikan seorang wanita yang berada dalam keadaan tidak nyaman. Lady Laila, apakah Anda benar-benar sahabat Lady Artizea?"

"Apa?"

"Jika memang demikian, seharusnya Anda mengkhawatirkannya. Namun perhatian Anda tampaknya lebih tertuju kepadaku."

Ucap Cedric dengan dingin.

Wajah Lady Laila memerah karena malu.

Artizea menarik pelan lengan bajunya.

Menurut sudut pandangnya, tidak ada alasan bagi Cedric untuk marah kepada Lady Laila.

Karena itu ia mengira kemarahan Cedric muncul hanya karena Lady Laila telah berbohong dengan mengaku sebagai sahabatnya.

Namun sesungguhnya Cedric benar-benar merasa geram.

Sejak pertama kali bertemu dengannya, pikirannya tidak pernah lepas dari Artizea.

Ia telah memutuskan menerima usulan Artizea karena gadis itu berbicara demi tujuan yang mulia.

Namun di luar itu...

Ia juga memiliki keinginan untuk melindungi gadis ini.

Dia terlalu kurus.

Cedric mengetahui bahwa Miraila memiliki seorang putri.

Namun ia tidak pernah membayangkan bahwa putri itu akan menjadi gadis yang begitu kurus dan pucat.

Artizea adalah wanita muda yang cantik, bertubuh anggun, dengan kulit seputih salju.

Sangat berbeda dari bayangannya.

Namun wajahnya yang tidak pernah dirawat tampak begitu letih.

Tubuhnya terlalu kurus.

Pipinya cekung.

Pergelangan tangan yang menyembul dari balik lengan panjang gaunnya begitu kecil hingga hanya tampak seperti tulang belaka.

Di sisi lain...

Ia masih mengenakan gaun bergaris hijau tua yang sama seperti kemarin.

Gaun itu memang pantas dikenakan untuk berjalan-jalan.

Namun sama sekali bukan gaun yang layak dipakai ke pesta.

Bahkan Cedric, yang tidak terbiasa dengan suasana pesta dansa, dapat menyadari bahwa Artizea sedang dikucilkan.

Padahal ia adalah pewaris Marquisate Rosan sekaligus saudari dari salah seorang calon Kaisar berikutnya.

Namun gadis muda yang diremehkan keluarganya sendiri itu tidak diterima di mana pun.

Yang lebih membuat Cedric tidak nyaman adalah...

Artizea sendiri tampaknya menganggap semua itu sebagai sesuatu yang wajar.

Seolah-olah ia telah menyerahkan hak-haknya sebagai seorang putri dan bahkan sebagai seorang manusia.

"Lady Artizea."

Cedric mengulurkan tangannya.

"Ada apa?"

"Bolehkah aku memperoleh kehormatan untuk berdansa dengan Anda?"

Wajah Lady Laila berubah karena penghinaan yang dirasakannya.

Melakukan sesuatu yang menarik perhatian seluruh aula pesta bukanlah sifat Cedric seperti biasanya.

Namun saat ini...

Ia ingin melakukannya.

"Aku sungguh tidak ingin terlalu menarik perhatian."

Bisik Artizea pelan.

Cedric menjawab.

"Aku mengerti. Tidak apa-apa, Lady Artizea. Grand Duke Evron adalah pendamping yang cukup sempurna."

"..."

Artizea tidak menjawab.

Karena Cedric tampaknya telah menyadari bahwa pakaiannya sama sekali tidak pantas untuk pesta ini dan bahwa ia sedang dikucilkan.

Selama ini Artizea tampak tidak peduli terhadap hal-hal semacam itu.

Namun kali ini...

Ia merasa malu.

"Mari."

Cedric mendesaknya dengan lembut.

Bagi Artizea, kenyataan bahwa ada seorang pria yang mengajaknya berdansa saja sudah terasa asing.

Terlebih lagi...

Pria itu adalah Cedric.

Ia harus mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya menyambut uluran tangannya.

Artizea sendiri tidak mengerti mengapa ia menjadi begitu gugup.

"Aku mungkin akan menginjak kaki Anda. Aku tidak terlalu pandai berdansa."

"Kalau begitu, sekalipun kita saling menginjak kaki, mari kita pura-pura tidak menyadarinya. Aku juga tidak pandai berdansa."

Ucap Cedric seraya menarik lembut tangannya.

Saat lengannya melingkari pinggang Artizea, tubuh gadis itu langsung menegang.

Meskipun tadi ia mengatakan bahwa dirinya tidak pandai berdansa, Cedric memimpin langkah mereka mengikuti irama musik dengan begitu alami, lalu membawanya menuju tengah aula.

Bisikan-bisikan pun meledak di seluruh ruangan.

Sebagian pasangan menyingkir memberi jalan.

Sebagian lainnya bahkan berhenti menari demi memandang mereka.

Di tengah tarian itu...

Artizea merasa seolah-olah aula megah tersebut hanya menyisakan dirinya dan Cedric seorang diri.

Chapter 15

Sebenarnya, waltz merupakan cara yang sangat baik untuk berbicara berdua di tengah keramaian.

Tarian itu bukan hanya digunakan untuk saling membisikkan kata-kata manis, tetapi juga untuk melakukan percakapan rahasia.

Artizea hanya pernah berdansa waltz dengan Cedric satu kali karena alasan itu.

Saat resepsi pernikahan Lawrence dan Licia.

Pernikahan itu mengubah Lawrence, yang sebelumnya hanyalah anak haram bahkan tidak dapat dipanggil sebagai Pangeran, menjadi Putra Mahkota.

Tidak seorang pun mengira Cedric akan hadir.

Bukan hanya menghadiri upacara pernikahan, ia bahkan menghadiri resepsinya.

Dan ia meminta Artizea berdansa bersamanya.

Mungkin itulah peristiwa paling ganjil yang pernah terjadi di kalangan masyarakat bangsawan saat itu.

『Aku belum pernah melihat Marchioness berdansa sebelumnya. Kukira Marchioness tidak bisa berdansa.』

『Yang Mulia, bukankah justru Anda yang mengatakan tidak tahu cara berdansa?』

Lalu Cedric menatapnya.

『Marchioness, tahukah Anda mengapa aku ingin berdansa dengan Anda pada kesempatan ini?』

『Aku sama sekali tidak tahu.』

『Apakah ada sesuatu yang tidak dapat ditebak oleh Marchioness?』

『Aku bukan Saintess yang menyampaikan wahyu dari masa depan, juga bukan seorang bijak yang mampu menembus langit. Jadi bagaimana mungkin aku dapat menebaknya? Ada begitu banyak hal yang tidak kuketahui.』

Hari itu mereka berputar mengelilingi aula sambil saling menggenggam tangan, sama seperti sekarang.

Namun Cedric selalu menjaga jarak yang sempurna dari Artizea, seolah-olah ia bahkan tidak ingin menyentuh ujung gaunnya.

Ketegangan yang mencekik memenuhi dirinya hingga kulitnya meremang.

Artizea begitu kelelahan hingga hampir roboh ketika alunan waltz hampir berakhir.

Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Cedric.

Karena itu, ia memaksakan diri tetap berdiri tanpa kehilangan ketenangannya.

Kenangan itu masih terpatri jelas di benaknya.

『Aku melakukannya karena ada sesuatu yang ingin kuminta kepada Marchioness. Namun aku tidak ingin orang lain mendengar dan salah menafsirkan perkataanku. Ini tidak berkaitan dengan politik. Aku ingin mengatakannya secara langsung, sambil menatap mata Anda.』

『Silakan. Perkataan Yang Mulia tidak akan disalahartikan.』

『Jika Marchioness berkata demikian, mungkin memang benar.』

『Sekalipun aku berniat melakukannya, apakah berbicara langsung dengan Yang Mulia atau tidak, hasilnya tidak akan berbeda.』

Cedric tertawa pelan.

Tawanya bergema di telinga Artizea dan mengguncang dadanya.

Kata-kata yang diucapkan sambil saling menatap mata selalu memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada kata-kata lainnya.

Artizea tidak sanggup lagi menatapnya secara langsung hingga ia menundukkan kepala.

Namun seolah-olah ada sesuatu yang menariknya kembali, ia segera mengangkat pandangan dan menatap mata Cedric sekali lagi.

Di mata hitam pria itu, ia melihat bayangan wajahnya sendiri yang menurutnya begitu buruk.

『Ya. Aku tahu itu. Kebenaran dan kejujuran tidak berarti apa pun bagimu. Yang kaupedulikan hanyalah memperoleh hasil yang kauinginkan.』

『Maafkan aku.』

『Tolong lindungilah Licia. Itulah yang ingin kusampaikan kepadamu.』

Kata Cedric.

Artizea menatapnya dengan terkejut.

Ia lebih pandai membaca hati orang lain daripada siapa pun.

Namun ia sama sekali tidak pernah menduga Cedric akan mengatakan hal seperti itu.

『Mengapa Anda mengatakan itu kepadaku? Bukankah seharusnya Anda mengatakannya kepada Yang Mulia Putra Mahkota?』

『Aku tidak bisa mempercayai Lawrence.』

『Namun... apakah Anda mempercayaiku?』

『Marchioness, aku tahu bahwa Andalah yang menggunakan berbagai macam tipu daya agar Licia menikah dengan Lawrence, bahkan sampai memanipulasi wahyu. Karena itu, sebagai orang yang merancang semua siasat Lawrence, sudah sewajarnya Andalah yang harus menjaganya. Lagi pula, menjadi seorang Saintess saja sudah merupakan beban yang sangat berat.』

『...』

『Apa pun alasannya, keputusan terakhir tetap diambil oleh Licia sendiri. Jadi tidak ada lagi yang dapat kukatakan mengenai hal itu. Namun bagiku, dia seperti adik perempuan. Karena itu aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Aku hanya berharap Marchioness akan melindungi Licia dan Kekaisaran untuk waktu yang sangat lama.』

Artizea tidak menundukkan kepala.

Namun meskipun demikian, pandangannya tetap jatuh ke bawah.

『Bagaimana mungkin aku mengabaikan perkataan Yang Mulia? Aku akan melakukan segala yang kubisa untuk melindunginya dan Kekaisaran.』

Namun...

Ia tidak mampu menepati janjinya.

Dan kini, saat kembali berdansa bersama Cedric, ia tidak dapat berhenti memikirkan saat itu.

Berbeda dengan masa itu, wajah Cedric kini tampak tenang.

Tangannya yang melingkari pinggang Artizea bergerak dengan lembut, menjaga keselarasan tarian mereka.

Karena dia tidak mengetahui apa pun tentang semua itu.

Hati Artizea terasa sesak ketika memikirkannya.

Rasa sakit yang begitu dalam di dadanya muncul karena ia gagal menepati janjinya.

Setidaknya, begitulah yang ia yakini.

Setelah kembali ke masa lalu, segala akibat dari perbuatan jahatnya memang lenyap.

Namun baginya, itu tidak berarti dosa-dosanya ikut terhapus.

Kali ini aku akan menepati janjiku. Aku akan melindungi dan menjaga Licia agar ia dapat menjadi seorang Permaisuri yang sejati.

Saat memikirkan hal itu, tanpa sadar konsentrasinya buyar.

Artizea memang tidak pernah memiliki kemampuan atletik yang baik.

Ia juga tidak terbiasa berdansa.

Karena itu ia harus memusatkan perhatian sepenuhnya pada langkah-langkahnya.

Saat Artizea tersandung dan hampir menginjak kaki Cedric, pria itu sedikit mengangkat tubuhnya dengan lengan yang melingkari pinggangnya.

Lalu, seolah-olah memang telah direncanakan sejak awal, ia memutar setengah lingkaran sebelum menurunkannya kembali.

Langkahnya sama sekali tanpa cela.

Artizea mendadak tersadar.

Seluruh wajahnya memerah.

Cedric tersenyum.

"Tampaknya kemampuan berdansaku sedikit lebih baik daripada Lady Artizea."

"Bukankah Yang Mulia terlalu kejam dengan membandingkan gerakanku dengan gerakan seorang kesatria termasyhur seperti Anda?"

Balas Artizea dengan sungguh-sungguh.

Mendengar jawabannya, Cedric tertawa.

Artizea hanya menatapnya tanpa berkedip.

Ini adalah pertama kalinya ia melihat Cedric tertawa dari jarak sedekat ini.


Alunan musik pun berakhir.

Cedric mengantar Artizea keluar.

Kereta Artizea telah menunggu di depan gerbang utama.

Cedric membantu Artizea naik ke dalam kereta.

Sesudah itu, ia ikut masuk ke dalam.

Itulah cara terbaik untuk berbincang tanpa gangguan.

Cedric menutup pintu kereta.

Tak lama kemudian, kereta mulai bergerak.

Barulah Artizea membuka suara.

"Terima kasih atas perhatian Yang Mulia."

"Mengapa Anda mengatakan itu?"

"Karena Yang Mulia bersedia berdansa denganku."

"Aku hanya menjalankan kewajiban seorang pria."

"Aku tahu Yang Mulia melakukannya demi menjaga kehormatanku di hadapan Lady Laila."

"Itu bukan sesuatu yang penting."

Cedric menggeleng pelan.

Artizea tersenyum tipis.

"Bolehkah aku meminta satu bantuan lagi?"

"Katakanlah."

"Aku ingin mengunjungi suatu tempat sebelum pulang. Apakah Yang Mulia bersedia menemaniku?"

"Tentu saja. Aku tidak keberatan menemanimu."

Begitu Cedric menjawab, Artizea segera memerintahkan kusir menuju Reve Street.

Cedric bertanya dengan heran.

"Apa yang hendak Anda lakukan di Reve Street?"

Reve adalah kawasan kumuh.

Seorang bangsawati seperti Lady Artizea seharusnya tidak pernah pergi ke sana.

Bahkan pria-pria bertubuh besar pun enggan menginjakkan kaki di tempat itu.

"Ada seseorang yang harus kutemui. Selama ini aku tidak memiliki pengawal yang dapat mengantarku ke sana dengan aman, sehingga aku tidak tahu harus bagaimana. Memang agak jauh, tetapi kita masih memiliki banyak hal untuk dibicarakan selama perjalanan. Jadi kurasa tidak masalah. Apakah Yang Mulia berkeberatan?"

"Tidak. Lagi pula, aku memang datang untuk menemuimu. Bagiku tidak ada bedanya apakah kita berbicara di dalam kereta atau di ruang minum teh yang nyaman."

"Terima kasih."

Artizea menundukkan kepala.

Cedric memandangnya dengan penuh perhatian.

"Ngomong-ngomong, kurasa Anda tahu mengapa aku datang menemui Anda."

"Hari ini Yang Mulia pergi ke Istana Kekaisaran, bukan?"

Cedric terdiam sejenak.

Kemudian ia berkata perlahan.

"Apakah mungkin aku memasuki ibu kota secara diam-diam? Lagi pula, tidak pantas bagiku menemui Yang Mulia Kaisar setelah berbicara denganmu."

"Aku menduganya karena Yang Mulia menyebut Countess Eunice di aula tadi."

Artizea melanjutkan.

"Yang Mulia tidak cukup dekat dengan Countess Eunice hingga menemuinya secara pribadi. Jadi kemungkinan besar kalian bertemu secara kebetulan. Countess Eunice pasti juga mengunjungi Yang Mulia Kaisar hari ini."

"Tolong sampaikan saja bahwa, 'Aku minta maaf, dan aku berterima kasih atas nasihatmu.'"

Cedric teringat kembali perkataan yang diminta Countess Eunice untuk disampaikannya kepada Artizea.

"Apakah Anda yang menyarankan Countess Eunice mengunjungi Yang Mulia Kaisar hari ini?"

"Tidak harus hari ini. Aku hanya mengatakan bahwa jika ia ingin mengeluarkan ibuku dari hati Yang Mulia Kaisar, maka akan jauh lebih baik baginya untuk bersikap sebagai seorang putri yang manis daripada terus marah, bersaing dengan Miraila, dan mengkritik Yang Mulia."

Kata Artizea.

Pandangan Cedric kembali jatuh pada pipi Artizea yang masih membengkak.

Postur gadis itu tetap tegak.

Ekspresinya tetap tenang.

Namun tanpa sadar, wajah itu bertumpang tindih dengan wajah penuh keputusasaan, penderitaan, dan air mata yang ia lihat dalam mimpinya.

Ia sendiri tidak tahu bagaimana harus menjelaskan perasaannya.

Hanya memikirkan mimpi itu saja sudah membuat dadanya terasa sesak.

Ia begitu ingin menghapus air mata gadis itu, tetapi tidak mampu melakukannya.

Tanpa mengetahui apa yang sedang berkecamuk di dalam hati Cedric, Artizea berbicara dengan tenang.

"Jadi, bagaimana hasil kunjungan Yang Mulia ke Istana Kekaisaran?"

"Yang Mulia Kaisar mengetahui bahwa kita pertama kali bertemu kemarin. Lady Artizea, apakah Anda yang mengatakannya?"

"Beliau memang mengetahuinya, tetapi bukan karena aku sengaja mengatakannya. Ketika aku pulang kemarin, Yang Mulia Kaisar sedang berada di Marquisate Rosan."

"Kesatria Benjamin memberitahuku bahwa Anda bertemu Sir Kishore."

"Benar. Karena itulah aku menceritakan apa yang terjadi. Sir Kishore selalu bersikap sangat baik kepadaku."

Cedric tersenyum pahit.

"Anda tidak perlu terus berpura-pura bahwa semua itu hanyalah kebetulan, Lady Artizea. Sikap Yang Mulia Kaisar sudah berubah, padahal kita baru pertama kali bertemu kemarin."

"Ya. Itu memang sudah kuduga. Yang Mulia Kaisar melihat jauh melampaui ibu dan kakakku."

"Ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun Yang Mulia mengatakan bahwa aku adalah bagian dari keluarganya. Beliau bahkan mengatakan tidak akan melupakan jasa Tentara Barat. Meskipun beliau menunda pembicaraan itu untuk hari lain dan tidak ingin membahasnya sekarang, tampaknya beliau mulai mempertimbangkannya secara positif. Dan semua itu karena kemungkinan hubungan di antara kita."

"Ya. Aku yakin demikian."

"Aku tidak pernah menyangka Yang Mulia Kaisar akan berbicara dengan begitu ramah dan terbuka. Lady Artizea... Anda tampaknya benar-benar seseorang yang mampu melihat masa depan."

Artizea merasa malu.

"Sebagian dari suasana hati Yang Mulia yang baik hari ini juga berkat Countess Eunice."

"Bukankah Countess Eunice yang melakukan itu pada Anda?"

Cedric kembali menunjuk pipi Artizea.

Tanpa sadar Artizea menutup lukanya dengan tangan.

"Ini bukan sesuatu yang besar."

"Maukah Anda setidaknya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada seseorang yang mengkhawatirkan Anda?"

"Sederhana saja. Countess Eunice mengayunkan tangannya dalam luapan amarah, dan tanpa sengaja menamparku."

"Bagaimana mungkin itu bukan sesuatu yang besar?"

"Karena aku memang membiarkannya menamparku. Saat itu ia sedang sangat marah. Jika ia tidak melakukannya, ia tidak akan cukup tenang untuk mendengarkan perkataanku."

Setelah menjawab pertanyaannya, Artizea kembali berkata,

"Jadi... apakah Yang Mulia sudah mengambil keputusan mengenai usulanku?"

"Sebelum memberikan jawabanku, ada satu hal yang ingin kutanyakan."

"Silakan."

"Mengapa Anda menginginkan perceraian setelah dua tahun?"

Chapter 16

"Jika tujuan Anda semata-mata untuk mewarisi Marquisate Rosan, maka Anda dapat memilih seseorang yang berada dalam posisi yang jauh lebih aman daripada diriku."

Kata Cedric.

"Anda adalah pemilik Marquisate Rosan. Bahkan secara hukum, satu-satunya keturunan Marquess Rosan hanyalah Anda."

"Ya, benar."

"Hak waris itu dilindungi oleh Tuhan dan Temple. Bahkan Yang Mulia Kaisar pun tidak dapat bertindak sewenang-wenang."

"Benar. Lagi pula, hanya karena beliau mencintai ibuku, bukan berarti Yang Mulia akan memberikan tekanan politik yang berlebihan kepadaku."

"Jadi, Lady Artizea, yang Anda perlukan hanyalah seorang suami dengan kedudukan sosial yang cukup tinggi untuk melindungi Anda dari berbagai kesulitan. Karena itulah, memilihku sebagai pasangan merupakan pilihan yang terlalu berisiko."

Ucap Cedric.

"Apabila yang Anda inginkan bukanlah kekuasaan maupun kemuliaan, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk menikah denganku dan memasuki perebutan takhta Kekaisaran. Aku tidak tahu apakah Anda ingin menjadi Permaisuri, tetapi aku tidak mengerti mengapa Anda menginginkan perceraian setelah dua tahun."

Artizea mengembuskan napas panjang.

Sejujurnya, alasan ia menginginkan perceraian setelah dua tahun adalah karena Licia.

Licia masih sangat muda.

Namun, dua tahun lagi, ia akan mekar secantik sekuntum mawar yang sedang berada pada puncak keindahannya.

Dan tepat pada ulang tahunnya yang kedua puluh, ia menerima sebuah wahyu.

—Atas nama-Ku, lindungilah mereka yang lemah dan tertindas.

Itulah wahyu yang mula-mula turun kepada Temple.

Untuk pertama kalinya dalam hampir seratus tahun, sebuah wahyu kembali turun.

Pada saat yang sama ketika menerima wahyu itu, Licia menjadi seorang Saintess.

Kaum beriman bersukacita dengan air mata haru.

Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun dibuat takjub.

Ia menjalani kehidupannya sebagai seorang Saintess dengan sepenuh jiwa.

Ia mengulurkan tangannya kepada siapa pun yang membutuhkan pertolongan, bahkan menyelamatkan mereka yang telah berada di ambang kematian.

Ketika banjir Sungai Ava memicu wabah penyakit, ia hanya membawa beberapa pendampingnya lalu berlari menuju pusat bencana, menyucikan sumur-sumur yang tercemar dan mengobati masyarakat.

Ketika gelombang monster mengubah Wilayah Barat menjadi neraka, dialah pula yang memberikan harapan kepada rakyat.

Ia menyelamatkan tak terhitung banyaknya nyawa dan menyalakan harapan bagi lebih banyak lagi.

Dengan kekuatan sucinya, ia mampu menyembuhkan siapa pun yang membutuhkan.

Namun mungkin, yang lebih banyak ia sembuhkan bukanlah penyakit maupun luka, melainkan hati manusia.

Harapan seluruh rakyat tertuju kepada sang Saintess.

Ia tidak pernah mencampuri urusan politik.

Ia bahkan hampir tidak pernah muncul di kalangan masyarakat bangsawan, dan jarang berada di ibu kota.

Di antara seluruh bangsawan, hanya Cedric seorang yang melindungi dan membantunya.

Bagi rakyat, sosok yang membimbing mereka bukanlah Kaisar ataupun Uskup Agung Temple.

Melainkan sang Saintess.

Iman rakyat adalah kehendak Tuhan.

Karena itulah Artizea memanfaatkannya dan memalsukan sebuah wahyu baru.

—Sang Saintess akan menjadi Permaisuri.

Mendengar hal itu, rakyat bersukacita dengan sepenuh hati.

Wibawa Keluarga Kekaisaran dan Temple akan dipulihkan sepenuhnya.

Keluarga Kekaisaran akan memperoleh kembali legitimasi yang telah hilang melalui sang Saintess.

Sementara Temple akan memperoleh kesempatan untuk ikut campur dalam kekuasaan dunia sekuler.

Sampai saat itu, perebutan takhta berada dalam jalan buntu.

Meskipun Lawrence adalah anak kesayangan Kaisar, ia tidak mampu menghadapi Roygar sendirian.

Sebaliknya, Grand Duke Roygar juga tidak mampu menundukkan anak kesayangan Kaisar hanya dengan kekuatannya.

Dalam situasi seperti itu, kebohongan yang disebarkan Artizea mengubah arah pertarungan keduanya.

Karena wahyu itu menyatakan bahwa seorang wanita akan menjadi Permaisuri.

Itu berarti suaminya akan menjadi Kaisar.

Kaisar Gregor, Lawrence, dan Grand Duke Roygar lebih mempercayai kekuasaan yang berada di tangan mereka daripada takhayul seperti wahyu.

Boleh jadi, meskipun Artizea tidak pernah mengakuinya, Kaisar pun mengetahui bahwa wahyu itu adalah palsu.

Namun seluruh rakyat di negeri itu percaya bahwa Saintess yang cantik dan berhati mulia akan menjadi Permaisuri.

Karena itulah, tidak seorang pun berani menentang keyakinan tersebut.

Pernikahan dengan Licia menjadi kepingan terakhir yang menyempurnakan legitimasi Lawrence.

Dan sekarang...

Ia hendak melakukan hal yang sama untuk Cedric.

Lagipula, pada mulanya Licia dan Cedric memang saling mencintai.

Apabila ia membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya, keduanya pasti akan kembali jatuh cinta dan menikah.

Setidaknya, itulah yang diyakini Artizea.

Karena itulah ia ingin bercerai sebelum saat itu tiba.

Sebelum wahyu turun.

Sebelum Licia menjadi seorang Saintess.

Sebelum Cedric mulai melindunginya.

Ia ingin mengakhiri pernikahan mereka sebelum benih-benih cinta tumbuh di antara keduanya.

Cedric adalah pria yang menjunjung tinggi integritas.

Artizea yakin, apabila ia memintanya menceraikan dirinya agar dapat menikahi Licia setelah wahyu turun, Cedric tidak akan pernah melakukannya.

Artizea juga tidak ingin pria yang ia layani dicap sebagai seseorang yang menceraikan istrinya hanya demi bersama sang Saintess.

Namun...

Ia tidak mungkin menceritakan semua itu kepada Cedric saat ini.

Artizea terdiam ragu.

Cedric menyadarinya lalu berkata,

"Apakah Anda tidak dapat memberitahuku?"

"Aku tidak berniat menipu Yang Mulia. Hanya saja... aku memang tidak ingin menjadi Permaisuri, meskipun aku percaya bahwa demi Kekaisaran, tidak boleh ada orang lain selain Yang Mulia yang menjadi Kaisar. Lagi pula, kurasa aku tidak cocok menempati kedudukan itu. Anggap saja semua ini demi kebaikan yang lebih besar."

"Lady Artizea, tampaknya Anda telah bertekad mengorbankan diri demi kesejahteraan Kekaisaran."

Artizea menggeleng pelan.

"Aku adalah orang yang paling tidak pantas menerima kata-kata seperti itu."

Sementara percakapan mereka berlanjut, kereta telah tiba di Reve Street dan berhenti.

Kusir mengetuk jendela kereta untuk memastikan tempat yang hendak dituju.

Sebagai jawaban, Artizea mengetuk jendela sebanyak tiga kali sebagai isyarat kepada kusir dan pelayannya bahwa tempat itu sudah tepat.

Kemudian ia menatap Cedric.

Cedric berkata,

"Menurutku, masih terlalu dini membicarakan takhta Kekaisaran."

"Ya."

"Namun aku menerima dengan penuh rasa syukur usulanmu untuk menyelesaikan persoalan Tentara Barat. Selama kita berjalan bersama, aku akan melindungi Lady Artizea dengan segenap kemampuanku. Dan Anda akan melakukan yang terbaik demi kesejahteraan Grand Duchy Evron dan demi diriku. Apakah Anda menyetujuinya?"

"Ya. Lalu mengenai perceraian..."

"Kita pikirkan lagi dua tahun dari sekarang."

"Aku mengerti maksud Yang Mulia. Sebelum hubungan yang dilandasi kepercayaan sepenuhnya terjalin, yang terbaik adalah memastikan apa yang dapat diberikan dan diterima."

Kata Artizea.

Cedric memandang Artizea dengan dada yang terasa sesak.

"Aku memiliki satu syarat."

Mendengar itu, Artizea menjadi tegang.

Ia bertanya-tanya apa yang harus dilakukan jika syarat itu adalah sesuatu yang tidak sanggup ia penuhi.

Haruskah ia berbohong?

Atau mengelak?

Ia sempat mengira Cedric akan menuntut kejujuran, melarang segala tipu muslihat, atau sesuatu semacam itu.

Namun Cedric justru berkata,

"Aku membenci melihat orang-orang di sekitarku terluka. Jika Anda ingin berada di sisiku, maka Anda harus mengingat hal itu."

"Ya, aku mengerti."

"Lady Artizea, tampaknya Anda belum memahami maksudku. Yang kumaksud adalah... Anda sendiri juga tidak boleh terluka lagi. Tolong jangan biarkan hal itu terjadi."

Kata Cedric sambil menunjuk pipinya.

"Aku lebih suka melihat Anda memukul mereka."

Artizea tidak dapat menahan tawanya.

Cedric pun ikut tersenyum.

"Aku justru lebih memilih dipukul. Dengan begitu aku dapat menuntut mereka dan menyebarkan desas-desus untuk menghancurkan reputasi pihak yang melakukannya, daripada menjadi orang yang memukul lebih dahulu."

"Aku hanya tidak ingin Anda terluka."

"Baiklah. Terima kasih atas perhatian Yang Mulia."

Jawab Artizea sambil tersenyum.

Cedric menampilkan senyum yang benar-benar lepas.

Menurutnya, wajah Artizea yang sedang tersenyum jauh lebih indah daripada wajahnya yang selalu serius.

"Kalau begitu, aku juga memiliki satu syarat."

"Katakanlah."

"Ada sebuah permata bernama Saintess Olga's Heart, pusaka keluarga Viscount Fischer. Berikan itu kepadaku sebagai hadiah lamaran."

Cedric terkejut.

Ia sama sekali tidak menyangka Artizea akan meminta perhiasan ataupun benda semacam itu.

"Pusaka keluarga Viscount Fischer...?"

"Ya. Dengan begitu akan lebih mudah bagi Yang Mulia untuk memahami orang seperti apa diriku."

Kata Artizea dengan tenang.

"Apabila setelah memperoleh Saintess Olga's Heart Yang Mulia tidak berubah pikiran, maka lamarlah aku dengan begitu megah hingga seluruh negeri membicarakannya."

Cedric menganggukkan kepala tanpa mengajukan pertanyaan lagi.

Artizea mencoba membuka pintu kereta.

Namun Cedric dengan lembut menahan tangannya.

Ia tersenyum kepada Artizea yang tampak terkejut, lalu turun lebih dahulu.

Sesudah berada di luar, ia mengulurkan tangannya kepada Artizea.

Artizea ragu sejenak sebelum meletakkan tangannya di atas tangan pria itu.

Cedric membantu mengangkatnya turun.

"Ah..."

"Tidak pantas bagi seorang lady turun dari kereta lebih dahulu."

"Ya... benar."

Wajah Artizea kembali memerah.

Ia merasa seolah-olah ada seekor ikan kecil yang berenang di dalam dadanya.

Jalan itu sempit dan dipenuhi lumpur.

Sekelompok anak-anak segera mengerumuninya seperti kawanan nyamuk sambil mengulurkan tangan.

"Beri aku satu keping uang!"

"Kasihanilah kami, Lady yang cantik!"

"Semakin banyak rezeki yang Lady berikan kepada orang miskin, semakin baik tempat yang akan Tuhan sediakan bagi Lady di surga!"

Alice buru-buru mengeluarkan sebuah jubah hitam dan menyelimutkannya pada Artizea.

Artizea menarik tudung jubahnya hingga menutupi wajahnya.

"Apakah Anda memang selalu menyiapkan jubah itu? Kurasa Anda tidak merencanakan datang ke tempat ini hari ini."

"Ya. Karena warna rambutku biasanya terlalu menarik perhatian."

Jawab Artizea.

Kusir berteriak mengusir kerumunan itu.

Artizea segera meninggalkan jalan utama, hanya ditemani Cedric.

Berjalan melalui gang-gang Reve Street bersama satu atau dua pria biasa merupakan petualangan yang sangat berbahaya.

Namun Cedric bukanlah pria biasa.

Ia adalah Perisai Kekaisaran sekaligus kesatria terkuat di seluruh Kekaisaran.

Meskipun tubuh Artizea tertutup jubah hitam, siluet gaunnya tetap memperlihatkan dengan jelas bahwa ia adalah seorang bangsawati.

Jelas pula bahwa pria yang menemaninya juga seorang bangsawan.

Dalam keadaan seperti itu, tidak mengherankan apabila mereka diserang bahkan sebelum lima menit berlalu.

Namun karena kewibawaan Cedric yang begitu menggentarkan, tidak seorang pun berani muncul.

Artizea tidak menyadarinya.

Tetapi Cedric dapat merasakan keberadaan beberapa orang di sekitar mereka yang menahan napas dalam ketegangan.

"Siapa yang hendak Anda temui?"

"Mantan kepala pelayan yang telah mengabdi kepada Marquisate Rosan secara turun-temurun, tetapi dipecat tidak lama setelah Marquess Rosan sebelumnya meninggal."

Artizea melanjutkan,

"Aku tidak memiliki seorang pun yang benar-benar dapat kupercaya. Mungkin ia menyimpan kebencian kepada ibu dan juga kepadaku. Namun keluarganya telah mengabdi kepada Marquisate Rosan selama beberapa generasi. Karena itu, aku yakin setidaknya ia masih bersedia mendengarkan perkataanku."

"Aku mengerti."

Cedric kembali menyapu sekeliling dengan pandangannya.

Ia sulit mempercayai bahwa seorang kepala pelayan yang selama beberapa generasi mengabdi kepada keluarga bangsawan kaya raya kini tinggal di tempat seperti ini.

Chapter 17

Tempat tinggal Marcus Hanson, mantan kepala pelayan Keluarga Rosan, adalah sebuah kedai minuman reyot di salah satu sudut Reve Street.

Pada siang hari ia mengerjakan berbagai pekerjaan serabutan, sementara pada malam hari ia melayani para pelanggan, tinggal di sebuah kamar kecil yang menyatu dengan kedai itu.

Marcus memiliki banyak anak dan cucu, tetapi keluarganya telah lama tercerai-berai.

Dalam kehidupan sebelumnya, Artizea tidak pernah bertemu dengan Marcus Hanson.

Dahulu, cucu perempuannya, Lise Hanson, memasuki kediaman Artizea sebagai pelayan dengan menyembunyikan nama keluarganya demi membalas dendam.

Lise Hanson mengira identitasnya telah tersembunyi dengan sempurna.

Namun pada saat itu, Artizea telah memiliki begitu banyak musuh.

Ia harus berhati-hati bahkan terhadap para pelayan baru.

Setelah menyelidiki latar belakang Lise, Artizea berpikir bahwa ambisi dan wataknya sangat sesuai untuk pekerjaan itu.

Dengan cara itulah ia mengambil alih posisi yang dahulu pernah dipegang Marcus Hanson.

Dengan menjadikan kakeknya sebagai sandera, Lise tidak memiliki pilihan selain tetap setia sampai akhir.

Namun sebenarnya, Artizea tidak pernah melakukan apa pun terhadap Marcus.

Bahkan, ia belum pernah bertemu dengannya secara langsung.

Tetapi begitu memasuki kedai itu, ia dapat mengenali Marcus hanya dengan sekali pandang.

Marcus adalah seorang pria berusia tujuh puluh delapan tahun, tetapi tubuhnya masih tegak dan kokoh.

Meskipun setelan kuno yang dikenakannya telah usang, pakaian itu tetap tampak bersih; bahkan manset bajunya masih putih bersih.

Tanpa kehilangan ketenangannya sedikit pun, ia bertanya, sementara pria lain yang bekerja bersamanya tampak gentar melihat pedang Cedric dan pakaian megah yang dikenakannya.

"Apa gerangan yang membawa para bangsawan datang ke tempat seperti ini?"

"..."

"Dapatkah Anda meluangkan sedikit waktu, Tuan Hanson?"

Marcus terdiam sejenak.

Namun tak lama kemudian ia berkata kepada pegawai yang lain,

"Aku akan segera kembali."

-A-Apakah itu aman, Pak Tua?"

"Jangan khawatir. Kurasa mereka tidak datang untuk membunuhku."

Setelah berkata demikian, ia berbalik dan berjalan pergi.

Artizea mengikutinya, bersama Cedric.

Marcus membawa mereka menuju sebuah tanah kosong di belakang kedai, tempat sampah biasanya dibuang.

"Tempat ini memang tidak layak untuk menjamu tamu, tetapi aku bekerja di sini, sehingga sulit membawamu ke tempat yang lebih bersih. Grand Duke Evron, apa alasan Anda datang menemui orang tua sepertiku?"

Ia mengenali Cedric dan langsung menanyakannya.

Delapan belas tahun yang lalu, ketika Marcus dipaksa meninggalkan Marquisate Rosan, Cedric masih seorang anak yang bahkan belum genap berusia sepuluh tahun.

Namun wajah Cedric sangat menyerupai ayahnya, mendiang Grand Duke Evron sebelumnya.

Sebagai mantan kepala pelayan Keluarga Rosan, Marcus mengenal wajah, kepribadian, dan riwayat seluruh bangsawan tinggi.

Karena itulah, tidak mengherankan bila ia mengetahui siapa Cedric.

"Meskipun keluarga kami telah diusir, kami telah melayani Keluarga Rosan selama beberapa generasi. Tidak ada apa pun yang dapat kuceritakan kepada Anda."

Marcus mengira Cedric datang untuk menggali kelemahan Keluarga Rosan.

Namun Cedric menggelengkan kepala.

"Aku hanya mengantarnya."

Cedric menunjuk ke arah Artizea.

Artizea perlahan menurunkan tudung jubahnya.

Rambut pirang platinumnya terurai di atas kedua bahunya.

Bahkan di tanah kosong yang menyerupai tempat pembuangan sampah itu, sinar matahari membuat rambut Artizea berkilauan terang.

"..."

"Salam hormat, Tuan Marcus Hanson. Namaku Artizea Rosan."

Artizea mendongak.

Marcus menatapnya cukup lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kemarahan yang selama ini dipendam, dendam, kerinduan, dan kesedihan bercampur menjadi satu hingga membuat wajah tua yang dipenuhi keriput itu bergetar.

Marcus tidak tahu harus berkata apa.

'Putri Miraila...?'

'Orang yang menyebabkan kehancuran keluargaku dan kemusnahan Keluarga Rosan...?'

Namun pada akhirnya ia berbicara dengan suara bergetar.

"Anda benar-benar sangat mirip dengan Lord Michael... pewaris sah."

Delapan belas tahun telah mengikis dendam di dalam hatinya.

Usia tua telah menguras tubuhnya hingga ia tidak lagi memiliki tenaga untuk melampiaskan amarah yang selama ini dipendam.

Kerinduan melahirkan kesedihan.

Dan perasaan yang paling kuat dalam diri Marcus adalah kesedihan.

Kesedihan adalah perasaan yang membuat seseorang ingin dimengerti.

Ingin didengarkan.

Ingin dipahami.

Dan ingin dipeluk.

Hanya itulah satu-satunya penghiburan.

Marcus masih merindukan Marquisate Rosan.

Keluarga Hanson telah mengabdi sebagai kepala pelayan Marquisate Rosan selama beberapa generasi.

Meskipun mereka bukan kaum bangsawan, mereka selalu bangga bahwa diri mereka berbeda dari rakyat biasa.

Marcus dilahirkan di wilayah Marquisate Rosan.

Semasa kecil, ia bermain bersama anak-anak keluarga Marquess.

Ketika dewasa, ia mulai belajar menjadi pendamping Michael Rosan.

Setelah memperoleh cukup pengalaman, ia bekerja sebagai kepala pelayan di bawah bimbingan kakeknya, kepala pelayan sebelumnya.

Anak-anak dan cucu-cucunya pun lahir di wilayah Marquisate Rosan.

Putra-putri Marcus mengikuti jejaknya dan mengabdi kepada Keluarga Rosan.

Mustahil baginya untuk tidak merasa rindu.

Semakin ia mengenang keluarganya, semakin ia mengingat masa-masa bahagia, dan semakin dalam pula kerinduannya kepada Marquisate Rosan.

Ia menginginkan seseorang yang dapat memahami rasa sakit dan kesedihan itu.

Artizea dapat melihat semuanya dari wajah serta mata Marcus yang bergetar.

Perasaan itu sama seperti yang pernah ia rasakan dari Lise Hanson, wanita yang dahulu ingin membunuhnya.

"Tuan Hanson, Anda adalah orang pertama yang memanggilku sebagai pewaris sah."

Ucap Artizea dengan suara lembut.

Marcus berkata dengan tegas,

"Pewaris sah... apakah ibumu mengetahui... bahwa Anda datang ke tempat ini?"

"Seharusnya tidak. Seandainya ia tahu, ia pasti tidak akan mengizinkanku datang."

Kata Artizea.

Lalu ia meletakkan tangan di dadanya dan membungkuk dalam-dalam.

Itu adalah penghormatan yang begitu sopan, seolah ia sedang memberi hormat kepada seorang pendeta.

"Tuan Hanson. Ada banyak hal yang ingin kukatakan kepada Anda. Namun sebelum itu, aku harus meminta maaf."

"Apakah Anda mengetahui apa yang telah dilakukan ibumu?"

"Ya. Ibuku meracuni seluruh keturunan langsung Marquess Rosan dan menjebak Keluarga Hanson. Semua itu demi menjadikanku satu-satunya pewaris Marquisate Rosan."

Peristiwa peracunan itu terjadi pada masa berkabung atas wafatnya Michael Rosan.

Saat itu Artizea baru berusia enam bulan.

Putri sulung Michael, yang seharusnya menjadi penerusnya, sangat terguncang ketika mengetahui bahwa putri Miraila memiliki wajah yang begitu mirip dengan Michael.

Namun mustahil Artizea adalah putri Michael yang sedang sekarat.

Barangkali salah seorang cucu lelaki Michael yang masih muda telah melakukan kesalahan dengan tidur bersama Miraila.

Karena itulah, ia memutuskan mengakui Artizea sebagai adik perempuannya.

Baginya, hal itu lebih baik daripada harus mendengar bahwa putranya telah menghamili wanita yang usianya hampir setara dengan neneknya sendiri.

Dengan demikian, Artizea menjadi putri sah Marquess Rosan.

Namun Miraila, yang telah kehilangan kasih sayang Kaisar akibat mengandung Artizea, tidak puas hanya dengan itu.

Ia membutuhkan jaminan yang jauh lebih kuat.

Ia melihat upacara pemakaman sebagai kesempatan.

Ia meracuni jamuan makan malam yang dihadiri seluruh keturunan langsung Michael.

Marcus berusaha membuktikan bahwa Miraila telah berbohong dan bahwa dialah pelaku yang sebenarnya.

Namun putrinya yang cerdas, melihat dirinya gemetar ketakutan, berkata,

"Ayah, sebaiknya Ayah menyerah saja. Ayah sedang mempertaruhkan nyawa seluruh keluarga kita."

"Tapi aku memiliki bukti."

"Apa gunanya semua itu? Tidak akan ada yang berubah untuk saat ini. Sekalipun kesalahan Miraila terbukti, mungkin kita sudah mati sebelum hari itu tiba. Dialah satu-satunya yang akan memperoleh keuntungan."

Putrinya melanjutkan sambil menangis.

"Lagi pula, hak waris kini menjadi milik satu-satunya keturunan yang masih hidup, yaitu Miss Artizea. Sekalipun Ayah berhasil mengungkap kebenaran, apakah Ayah pikir dia akan berterima kasih? Ayah... Ayah justru akan menjadi musuh ibunya!"

Marcus tahu bahwa putrinya benar.

"Ayah... menyerahlah. Keluarga kita dan Keluarga Rosan... semuanya telah berakhir."

Seandainya masih ada pewaris lain dari Marquess Rosan yang selamat, Marcus pasti akan bertarung dengan setia sampai akhir.

Namun satu-satunya keturunan langsung Marquess Rosan yang masih hidup hanyalah Artizea.

Apa pun yang terjadi, Miraila tidak akan membiarkan Keluarga Hanson tetap hidup tenang setelah ia menguasai Marquisate Rosan.

Pada akhirnya, Marcus menyuruh anak-anak dan cucu-cucunya melarikan diri sebelum sesuatu yang lebih buruk menimpa mereka.

Ia memerintahkan mereka menyembunyikan identitas dan melupakan Keluarga Hanson maupun Marquisate Rosan.

Selama keturunannya masih dapat hidup, itu sudah cukup baginya.

Namun ia sendiri tidak sanggup meninggalkan namanya.

Sekalipun Keluarga Hanson yang selama ini ia banggakan telah lenyap, ia tetaplah Marcus Hanson.

'Bagaimanapun juga, aku hanyalah seorang lelaki tua. Jika suatu hari Miraila menemukanku dan membunuhku, itu bukan masalah.'

Itulah yang dipikirkannya.

Rencana jahat Miraila tidak pernah disusun dengan sempurna sehingga masih meninggalkan banyak celah.

Ia tidak memiliki penasihat yang cakap maupun bawahan yang benar-benar dapat dipercaya.

Berkat itu, Marcus berhasil bersembunyi.

Lalu sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada yang pernah diperkirakan putrinya pun terjadi.

Kaisar turun tangan.

Kaisar murka atas perselingkuhan Miraila.

Namun pada akhirnya, beliau tetap mencegah Miraila dijatuhi hukuman mati.

Suap dalam jumlah besar dan kekuasaan berhasil menutupi seluruh kebenaran.

Kaisar kembali membuka pintu kamar tidurnya bagi Miraila.

Laksana seekor burung, Miraila kembali terbang ke pelukan Kaisar dan memeluknya.

Pada akhirnya, meskipun pencarian terhadap pelaku peracunan terus dilakukan, tidak ada apa pun yang berhasil ditemukan.

Marcus tidak pernah dapat menampakkan wajahnya kepada dunia lagi.

Karena itulah ia menjalani kehidupan yang berat di kedai minuman di Reve Street ini.

"Aku tidak datang untuk membenarkan perbuatan ibuku. Aku juga tidak datang atas namanya."

Marcus terus menatapnya.

Artizea menegakkan punggungnya, menatap Marcus, lalu berkata,

"Sebagai keturunan terakhir Marquess Rosan, aku memohon maaf karena gagal melindungi para pengikut keluargaku."

"Pewaris sah..."

"Aku sungguh menyesal."

Artizea kembali menundukkan kepala.

Mata Marcus mulai dipenuhi air mata.

Artizea menghampirinya dan mengulurkan selembar sapu tangan.

Marcus menerimanya.

Cedric mengamati pemandangan itu dari jarak yang tidak terlalu jauh.

Sebagian pengikutnya bahkan lebih menyayanginya daripada keluarga kandungnya sendiri.

Sebagai seseorang yang selalu ingin melindungi mereka, hatinya dipenuhi berbagai perasaan yang sulit dijelaskan.

Di saat yang sama, Cedric juga merasakan sedikit kelegaan.

Ia berpikir bahwa Marcus akan menjadi orang pertama yang benar-benar menjaga Artizea, yang selama ini terasing di Marquisate Rosan.


Pada saat yang sama, Bill, kepala pelayan Marquisate Rosan, sedang melaporkan kepada Miraila mengenai kunjungan Cedric.

Prang!

Miraila berdiri mendadak sambil mengayunkan tangannya dengan penuh amarah.

Sebuah vas kaca yang nyaris menyerupai karya seni jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.

Pecahan kaca berserakan, berkilauan di atas permadani kulit macan tutul.

Bill segera berlutut di hadapan Miraila tanpa memedulikan pecahan kaca yang memenuhi lantai.

Dengan penuh hormat, ia menyodorkan sepasang sandal kepadanya.

Miraila, yang bertelanjang kaki dan hanya mengenakan jubah tipis di atas pakaian dalamnya, memasukkan kedua kakinya ke dalam sandal, lalu kembali menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

"Ceritakan sekali lagi."

"Yang Mulia Grand Duke Evron bertanya mengapa saya lebih setia kepada Anda daripada kepada Miss Artizea."

Kata Bill, menafsirkan perkataan Cedric sesuai dengan kepentingannya sendiri.

Miraila pun berkobar oleh amarah.

Chapter 18

"Apa? Siapa dia sampai berani mengatakan hal seperti itu?"

"Ia mengatakan bahwa Lady Artizea adalah pemilik Marquisate Rosan, jadi ia akan memberitahukan semua yang telah terjadi kepadanya."

Miraila kembali berdiri.

"Tia adalah pemiliknya? Dan kau hanya diam mendengarkan perkataannya?"

"Itu adalah Grand Duke Evron. Bagaimana mungkin saya berani membantah beliau? Beliau bisa saja menggorok leher saya saat itu juga."

"Ha."

Miraila merasakan tenggorokannya terasa panas dan mengulurkan tangan.

Bill segera menyodorkan segelas air dingin.

Miraila meminum habis air itu, mengembuskan napas panjang, lalu kembali duduk di sofa.

'Aneh. Di mana dia bertemu Grand Duke Evron?'

Ia memiliki firasat.

Dalam urusan hubungan antara pria dan wanita, firasat Miraila tidak pernah meleset.

Secara logis, ia berpikir mustahil gadis yang tidak menarik seperti Artizea dapat memikat Grand Duke Evron.

Mustahil pula mereka pernah bertemu di mana pun.

Namun firasatnya mengatakan sebaliknya.

Entah mengapa ia merasa tidak nyaman.

Tidak, suasana hatinya benar-benar buruk.

Artizea adalah gadis yang buruk rupa.

Miraila mempercayai hal itu sepenuh hati.

'Artizea sama sekali tidak menyerupaiku. Usianya sudah delapan belas tahun, tetapi ia tidak memiliki pesona kewanitaan sedikit pun. Ia hanya bisa tetap tinggal bersamaku karena aku adalah ibunya. Tidak mungkin ada pria yang mau menikahinya.'

Itulah yang selama ini diyakininya.

Namun Grand Duke Evron tidak demikian.

Di sisi lain, Miraila juga percaya bahwa semua gadis pada dasarnya sama.

Betapapun kecil peluang mereka, mereka tetap akan menemukan cara untuk merayu pria.

'Mungkin aku terlalu banyak berpikir.'

Pada saat itu, seorang pelayan mengetuk pintu dengan tergesa-gesa.

Bill terlebih dahulu meminta izin kepada Miraila, lalu membuka pintu.

"Kepala Pelayan, pengawal pribadi Grand Duke Evron datang."

"Pengawal pribadinya? Untuk apa?"

"Tampaknya setelah menghadiri pesta dansa di kediaman Count Enda, Yang Mulia Grand Duke dan Miss Artizea pergi ke suatu tempat menggunakan kereta Miss Artizea. Yang Mulia memerintahkan pengawal pribadinya menunggu beliau di sini."

"Apa?"

Bill melirik Miraila dari sudut matanya.

Wajah wanita itu semakin mengerikan.

Tepat pada saat itu Lawrence muncul.

Ia baru saja kembali setelah berjalan-jalan mencari udara segar.

Keningnya berkerut, seolah sedang kesal karena sesuatu.

"Tuan Muda, apakah perjalanan Anda menyenangkan?"

Bill menundukkan kepala dengan hormat.

Pelayan itu juga segera berlutut dengan satu kaki.

Lawrence selalu menatap Bill, sang kepala pelayan, setiap kali suasana hatinya sedang buruk.

Dan sekarang tampaknya memang demikian.

"Bill. Kudengar pengawal Grand Duke Evron berada di luar. Ada apa?"

"Oh, itu..."

"Lawrence, Pangeranku, selamat datang."

Miraila keluar dari kamarnya sambil tersenyum cerah.

Ia mengenakan mantel di atas jubah tipisnya.

Lawrence menatap ibunya dengan raut kesal.

"Apakah terjadi sesuatu dengan Grand Duke Evron?"

"Tidak. Bagaimana mungkin aku memiliki masalah dengan Grand Duke? Beliau adalah seorang kesatria yang terus berpindah dari satu medan perang ke medan perang lainnya. Beliau hanya datang menemui Tia sore ini."

Gerutu Miraila.

Wajah Lawrence langsung berubah.

"Ibu marah karena sesuatu?"

"Ibu tidak bersikap tidak sopan kepada Grand Duke Evron, bukan?"

"Aku bahkan tidak bertemu dengannya. Setelah kepala pelayan memberitahunya bahwa Tia pergi ke pesta dansa di kediaman Count Enda, beliau langsung pergi ke sana."

"Mengerti. Jika beliau kembali nanti, jangan ikut campur. Jauhi saja. Aku yang akan menanganinya."

"Mengapa?"

"Ibu, Grand Duke Evron adalah pria yang berintegritas. Sudah lama Tia tidak melakukan sesuatu yang berguna, tetapi jika orang sepertimu ikut campur, semuanya akan hancur."

"Apa maksudmu?"

Miraila bertanya dengan terkejut.

Lawrence menjawab dengan dingin.

"Ibu, Grand Duke membencimu. Jangan berpura-pura seolah Ibu tidak mengetahuinya. Dan sayangnya, beliau juga membenciku. Karena alasan itulah Ayah belum dapat mempercayakan kedudukan Putra Mahkota kepadaku."

Makna tersembunyi dari perkataannya begitu jelas.

Wajah Miraila langsung memucat.

Namun ia tidak berkata apa-apa.

Di hadapan Artizea, ia bertindak seperti tiran yang paling kejam di dunia.

Namun di hadapan putranya, ia selalu menjadi ibu yang lembut dan penurut.


Marcus ragu untuk waktu yang sangat lama ketika Artizea memintanya kembali ke Marquisate Rosan dan membantunya.

Meskipun ia telah mengakui Artizea sebagai pewaris sah, kembali ke Marquisate Rosan adalah persoalan yang berbeda.

"Aku akan segera menikah, lalu merebut kembali Marquisate Rosan dari tangan ibuku. Pada saat itu aku membutuhkan Tuan Hanson."

Sudah hampir delapan belas tahun sejak terakhir kali Marcus menginjakkan kaki di Marquisate Rosan.

Kini semua pegawai Marquisate Rosan yang menduduki posisi penting mengabdi kepada Miraila.

Wilayah Marquisate Rosan sangat luas dan kekayaannya amat besar.

Akan sulit menghadapi mereka semua sekaligus.

"Aku ingin mencegah aset-aset Keluarga Rosan dicuri dan mengambil kembali semuanya. Tuan Hanson mengetahui segala sesuatu tentang Marquisate Rosan. Selain itu, Anda juga mengenal sebagian besar mantan pegawainya, bukan?"

"Memang benar, tetapi..."

"Karena itu, kurasa tidak akan sulit bagi Anda untuk memahami keadaan dan mengendalikannya. Akan lebih baik lagi jika seluruh Keluarga Hanson dapat datang membantu. Kumohon, kembalilah ke tempat yang memang menjadi milik Anda, dan bantulah aku."

"Tetapi keluargaku pernah dituduh meracuni seluruh keturunan langsung Marquess Rosan. Bagaimana mungkin kami bisa kembali?"

"Itu terjadi delapan belas tahun yang lalu. Sekarang, peristiwa peracunan itu telah menjadi masa lalu. Yang Mulia Kaisar memang turun tangan untuk menyelidikinya, tetapi pelaku yang sebenarnya tidak pernah ditemukan."

Artizea melanjutkan.

"Ibuku memang berusaha menjebak Keluarga Hanson. Namun ia bukan hanya tidak memiliki bukti, melainkan juga tidak ada seorang pun yang mempercayainya. Karena itu ia berpikir akan lebih baik jika perkara tersebut dibiarkan begitu saja."

"Pewaris sah..."

"Bagaimanapun juga, aku akan memastikan peristiwa itu tidak lagi membebani Anda."

Peristiwa itu merupakan tragedi besar karena menyebabkan musnahnya Keluarga Rosan.

Fakta bahwa pelakunya tidak pernah ditemukan menjadi beban yang sangat berat bagi Kaisar.

"Apabila suatu hari perkara ini kembali diungkit, kali ini sebagai penerus Marquisate Rosan aku akan berdiri di pihak Anda. Jadi mari kita hadapi semuanya bersama sampai akhir. Jika Anda masih khawatir, Anda dapat mengganti nama dan menyembunyikan identitas sampai seluruh persoalan selesai."

"Aku tinggal di kediaman Marquisate Rosan selama enam puluh tahun. Empat puluh lima tahun di antaranya kuhabiskan melayani Lord Michael. Bukan hanya para pegawai, bahkan banyak bangsawan mengenalku."

"Lalu mengapa kita tidak melakukan hal yang sama seperti ibuku? Bukankah karena semua orang menutup mata, ia berhasil lolos dari tuduhan dalam kasus peracunan itu?"

Ucap Artizea dengan tenang namun penuh wibawa.

"Aku akan menjadi Marchioness Rosan, Tuan Hanson. Sebagai satu-satunya pewaris, aku berhak mengambil keputusan atas segala urusan Marquisate Rosan. Selama Anda bersedia kembali, aku akan menyelesaikan seluruh persoalan lainnya."

Namun Marcus tidak dapat langsung menganggukkan kepala.

Lukanya terlalu dalam.

Tetapi ia juga tidak menggelengkan kepala.


Setelah kembali ke dalam kereta, Cedric-lah yang lebih dahulu berbicara.

"Aku sungguh kagum kepada Anda, Lady Artizea."

"Maaf?"

"Cara terbaik untuk mencapai hati seseorang adalah dengan menggerakkannya, bukan? Lady Artizea, meskipun usia Anda masih muda, tampaknya Anda sangat memahami hal itu."

"Aku tidak berniat menggerakkan hati Tuan Hanson. Aku hanya berusaha memberinya alasan yang dapat ia terima."

"Alasan?"

"Tuan Hanson hidup dalam kesulitan. Beliau juga harus menghidupi cucu perempuannya yang baru berusia empat belas tahun. Aku yakin sebenarnya beliau sudah lama ingin meninggalkan Reve Street. Namun tanpa alasan yang layak, beliau tidak akan menerima uluran tanganku."

Kata Artizea.

Dan ia meminta maaf karena hal itu.

Cedric tertawa pelan.

Artizea sedikit tersipu.

"Mengapa Anda tertawa?"

"Lady Artizea tampaknya menganggap diri Anda sebagai seorang wanita jahat."

"...Karena memang begitu."

Bagi Artizea, hal itu sama benarnya dengan matahari yang terbit setiap pagi.

"Siapa pun yang pernah memiliki masa-masa terhormat pasti ingin melarikan diri dari kehinaan. Dan hanya dirinya sendiri yang dapat menentukan hal itu. Lady Artizea, Anda tidak memberi Tuan Hanson sebuah alasan. Anda hanya membuatnya mengingat kembali saat-saat yang paling terhormat dalam hidupnya. Karena itulah beliau akan kembali demi Anda."

"Demi aku?"

"Ya. Karena beliau mencintai Marquisate Rosan, dan Anda adalah satu-satunya pewarisnya."

"Akan tetapi, aku bukan putri kandung Michael."

"Beliau dahulu adalah kepala pelayan, jadi kemungkinan besar beliau mengetahui siapa ayah kandung Anda. Anda adalah keturunan langsung Marquess Rosan. Jika tidak demikian, beliau tidak akan mengakui Anda."

"Begitu rupanya. Aku tidak pernah memikirkannya seperti itu."

Cedric bertanya,

"Apakah Anda tidak ingin mengetahui siapa ayah kandung Anda?"

"Tidak. Tidak ada gunanya mengetahui hal itu. Siapa pun ayah kandungku, pada akhirnya ia hanyalah seorang pria tidak bermoral yang berzina dengan istri Marquess Rosan. Dan lebih dari itu, ia juga seorang bodoh yang tidur dengan selir Kaisar."

Kata Artizea sambil menggigit bibirnya.

Ketika roda kereta mulai bergerak, getarannya merambat ke seluruh tubuh mereka.

Sesudah itu Artizea terdiam.

Cedric pun tidak mengatakan apa-apa.

Keheningan memenuhi kereta sampai akhirnya mereka tiba di depan kediaman Marquisate Rosan.

Sekali lagi Cedric turun lebih dahulu dan membantu Artizea keluar dari kereta.

Artizea menundukkan kepala kepadanya.

"Yang Mulia, terima kasih telah mengantarku. Seandainya bukan karena Anda, Tuan Hanson tidak akan mempercayaiku. Beliau pasti mengira putri Miraila datang untuk menjebaknya."

"Sama-sama. Aku memahami betapa pentingnya pertemuan hari ini bagi Lady Artizea dan bagi Marquisate Rosan. Justru aku yang berterima kasih karena Anda mengundangku dan mengizinkanku hadir. Jika kelak Anda memerlukan sesuatu, jangan ragu untuk memberitahuku."

"Kalau Anda berkata begitu, aku benar-benar akan merasa bebas meminta apa pun kepada Anda. Padahal saat ini aku tidak memiliki kekuasaan, tidak memiliki kekayaan, dan tidak memiliki orang-orang yang berpihak kepadaku."

"Tetapi Anda memiliki ini, bukan?"

Cedric mengetukkan jari telunjuknya ke pelipisnya.

Artizea tersenyum.

"Mulai sekarang aku harus membuktikan apakah ini benar-benar berguna atau tidak."

"Aku akan menantikannya."

Pada saat itulah pengawal pribadi Cedric muncul sambil menuntun seekor kuda.

Bill mengikuti di belakangnya dengan tergesa-gesa.

Ia datang atas perintah Lawrence.

"Selamat datang kembali, Yang Mulia. Apakah perjalanan Anda menyenangkan, Nona?"

Artizea memiringkan kepalanya dan menatap Bill.

Bill berbicara dengan gugup.

Ia tidak mengira Cedric masih mau mendengarkan perkataannya setelah sebelumnya dibuat murka.

Namun Lawrence sangat tegas dalam memberikan perintah, sehingga ia tidak memiliki pilihan selain menyampaikannya.

"Yang Mulia, Tuan Muda Lawrence ingin mengundang Anda makan malam."

Cedric menyipitkan matanya memandang Bill sambil mengenakan sarung tangan berkuda yang diberikan pengawal pribadinya.

Sesaat ia ingin kembali menegurnya.

Namun pada akhirnya ia mengurungkan niat itu.

"Lain kali saja. Kecuali jika Lady Artizea yang mengundangku."

Artizea tersenyum.

"Sebagai wanita yang belum menikah, aku sedikit enggan mengundang seorang pria yang bukan kerabat ke dalam rumahku pada jam seperti ini."

"Aku sudah menduga Anda akan mengatakan itu. Kalau begitu, aku pamit. Lain kali aku akan datang membawa Saintess Olga's Heart."

Cedric mengucapkan salam perpisahan dengan membungkukkan badan dalam-dalam.

Artizea pun membalasnya dengan hormat.

Ketika Cedric menaiki kudanya untuk pergi, Artizea tiba-tiba teringat sesuatu dan memanggilnya.

"Ah, sekarang aku baru ingat. Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"

"Silakan."

"Mengapa Anda bersikap begitu resmi kepadaku? Padahal tempo hari Anda tidak seperti itu."

Artizea mendongak menatap Cedric.

Cedric berpikir bahwa mata Artizea yang berwarna pirus tampak begitu jernih dan dalam, dipenuhi warna yang indah.

"Aku harus menghormati Anda, bukan karena Anda putri Miraila, melainkan karena kelak Anda akan menjadi istriku."

Setelah mengatakan itu, Cedric memutar kudanya.

Artizea menundukkan kepala, merasakan seluruh wajahnya memerah.

Chapter 19

Hubungan manakah yang lebih jauh, hubungan dengan orang asing atau hubungan dengan seorang senior?

Artizea memikirkan hal itu setiap kali ia memiliki kesempatan berbicara dengan Lawrence.

Hubungannya dengan Miraila bagaikan hubungan dengan orang asing.

Sedangkan hubungannya dengan Lawrence bagaikan hubungan dengan seorang senior.

Sejak kecil, hubungan di antara mereka terbentuk hanya oleh harapan sepihak dari Artizea.

Ketika Artizea mulai memahami dunia, Lawrence telah menjadi anak yang paling bahagia sekaligus memiliki kedudukan tertinggi di seluruh Kekaisaran.

Saat itu ia masih belum mengetahui apa pun mengenai anak haram, hak waris, ataupun suksesi takhta.

Ia juga tidak terlalu memedulikan orang-orang di sekitarnya.

Bahkan pernah suatu kali ia duduk di pangkuan Kaisar dan bercanda dengan merebut mahkota dari kepala beliau.

Di mata Artizea, Lawrence adalah orang yang paling patut membuat iri di dunia.

Saat itu ia belum memahami perbedaan antara dirinya dan sang kakak.

Karena itu ia berpikir, jika kakaknya dicintai, berarti dirinya juga ikut dicintai.

Dan ia mencintai Lawrence sebagaimana ibunya mencintai putra itu.

"Kalau kakakmu hidup dengan baik, kau pun akan hidup dengan baik."

Dahulu, ia sungguh mempercayai kata-kata itu.

Bahkan setelah tumbuh dewasa, ia tetap menjadikan kata-kata tersebut sebagai pedoman hidupnya.

Ia terus meyakinkan dirinya sendiri dengan alasan bahwa menjadi adik dari Kaisar berikutnya tentu akan menguntungkannya.

Dan karena mereka memiliki hubungan darah, demi dapat bertahan hidup ia memang harus menjadikan Lawrence sebagai Kaisar berikutnya.

Namun sebenarnya tidak demikian.

Saat masih kecil, ia benar-benar mempercayai kata-kata itu.

Ia mengira kasih sayang adalah sesuatu yang timbal balik.

Namun Lawrence tidak pernah benar-benar memedulikan Artizea.

Kini setelah dipikirkannya kembali, itu memang wajar.

Mengapa Lawrence harus memedulikannya?

Kasih sayang dan perhatian Miraila hanya tertuju kepada putranya.

Selain itu, Miraila juga tidak pernah mengajarinya bagaimana menjadi seorang kakak yang sesungguhnya.

Semasa kecil, Lawrence bertindak seolah Artizea tidak pernah ada.

Setelah mereka dewasa, sesekali mereka makan atau minum teh bersama.

Namun percakapan yang mereka lakukan hanyalah percakapan formal.

Setiap kali Miraila memukul Artizea, Lawrence hanya mengamatinya dengan tenang.

Sesekali ia menghiburnya ketika Artizea menangis.

"Ibu tidak melakukan itu karena membencimu."

'Seandainya aku hanyalah orang asing, bagaimana jadinya?'

Sambil memikirkan hal itu, Artizea pergi menemui Lawrence.

Setelah Cedric pergi, Lawrence memanggilnya.

Ia bahkan tidak sempat berganti pakaian.

Artizea merapikan gaun yang sebenarnya hendak dilepaskannya.

Dengan rambut yang dibungkus jaring rambut dan hanya mengenakan sandal, ia bergegas menuju ruang kerja Lawrence.

Lawrence tidak suka menunggu.

Karena itu ia harus segera datang.

"Selamat datang, Tia."

Lawrence menyapanya dengan dingin.

Lebih tepatnya, bukan karena ia sedang marah kepada Artizea.

Ia memang tampak sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik.

Artizea memberi salam dengan sopan, lalu bertanya,

"Apakah terjadi sesuatu?"

"Aku mendengar kau pergi bersama Grand Duke Evron."

"Ah, benar. Mungkin Kakak mendengarnya dari kepala pelayan. Kami bertemu di kediaman Count Enda, lalu berjalan-jalan sebentar bersama."

Seandainya keluarga itu benar-benar memedulikan seorang gadis berusia delapan belas tahun, mereka tentu akan mempertanyakan mengapa ia pergi berdua saja dengan seorang pria tanpa memberi tahu ke mana tujuannya.

Namun Lawrence sama sekali tidak peduli terhadap kehidupan pribadi Artizea.

Ia juga tidak pernah waspada terhadapnya.

Lawrence yang sekarang belum mengetahui jati diri Artizea yang sebenarnya.

Peristiwa bersama Countess Eunice, yang dalam kehidupan sebelumnya membuat Artizea dianggap sebagai "sesuatu yang berguna", kali ini tidak berkembang dengan cara yang sama.

Alih-alih dijadikan alat untuk menjalankan berbagai tipu daya, kali ini ia dapat dimanfaatkan sebagai alat dalam sebuah pernikahan politik.

Meskipun semua itu memang sesuai dengan rencananya sendiri, tatapan Lawrence yang begitu hampa tetap membuat bulu kuduk Artizea meremang.

Di dalam hati ia tersenyum pahit.

Dahulu, Artizea yang baru berusia delapan belas tahun pasti akan melompat kegirangan setiap kali Lawrence memandangnya seperti itu.

Ia mengira dirinya sedang dipuji.

Ia merasa dirinya akhirnya berguna.

Namun sekarang pikirannya telah berubah.

'Jika seseorang memandang bawahannya seperti itu, ia tidak akan pernah memperoleh kesetiaan mereka.'

Kecuali seseorang benar-benar lamban dan tidak mampu membaca ekspresi orang lain, siapa yang akan setia kepada seseorang yang sama sekali tidak menghargainya?

Ada banyak alasan mengapa seseorang mengikuti orang lain.

Uang.

Kekuasaan.

Harapan.

Hubungan.

Dan masih banyak lagi.

Lawrence memiliki hampir semuanya.

Sebagian besar pengikutnya berharap dapat menjadi bawahan yang berjasa bagi Kaisar berikutnya dan memperoleh imbalan karenanya.

Para musuh Grand Duke Roygar juga mendukung Lawrence demi mencegah Roygar naik takhta.

Tentu saja, dalam arti tertentu mereka mengharapkan balasan.

Hanya sedikit orang yang mengikutinya tanpa mengharapkan apa pun.

Namun mereka pun tidak mengikutinya demi dirinya.

Mereka hanyalah orang-orang yang setia kepada Kaisar Gregor, memahami kehendak beliau, lalu menjaga putra kesayangan beliau.

'Termasuk aku.'

Artizea pun tidak berbeda.

Ia juga mengharapkan sesuatu sebagai balasannya.

Yang ia harapkan hanyalah kasih sayang keluarganya.

Namun untuk menjadi seorang penguasa sejati, itu saja tidaklah cukup.

Seseorang harus memiliki setidaknya beberapa pengikut yang benar-benar setia dan rela mempertaruhkan nyawa mereka tanpa pamrih.

Hanya orang-orang seperti itulah yang mampu bertindak pada saat-saat genting tanpa memedulikan akibatnya.

Dan kesetiaan seperti itu tidak mungkin diperoleh oleh seseorang yang memandang orang lain hanya sebagai alat.

Bahkan apabila seseorang ingin menyembunyikan isi hatinya yang sebenarnya, setidaknya ia harus menyembunyikan rasa hinanya terhadap orang lain.

Lawrence tidak melakukan keduanya.

Dalam hal itu, Roygar jauh lebih baik.

Artizea tidak dapat menahan senyum tipisnya.

Lawrence berbicara tanpa sedikit pun menyadari apa yang sedang dipikirkannya.

"Sebenarnya aku berharap kau mengundangnya pulang."

"Aku mendengar beliau tinggal di perkemahan militer di luar ibu kota. Akan sulit melewati jalan-jalan hutan setelah matahari benar-benar terbenam. Karena itu kupikir lebih baik beliau segera kembali."

"Begitu."

Lawrence tampak berpikir sejenak.

"Apakah kau akan bertemu dengannya lagi?"

"...Apakah aku tidak boleh?"

Artizea sengaja bertanya dengan hati-hati.

Dari sikap Lawrence, tampaknya seseorang telah lebih dahulu memberitahunya mengenai keuntungan dari sebuah pernikahan politik antara dirinya dan Cedric.

Lawrence membenci Cedric.

Namun demi manfaat yang mungkin diperolehnya, ia bahkan berniat mengundang pria itu ke rumah.

Lawrence menggelengkan kepala.

"Tidak ada yang melarangmu. Sekarang usiamu sudah delapan belas tahun."

"Terima kasih, Kakak."

"Lain kali undanglah beliau ke rumah. Grand Duke Evron jarang tinggal di ibu kota. Kalaupun tinggal, beliau hampir tidak pernah menghadiri acara-acara sosial, sehingga kami belum pernah memiliki kesempatan untuk berkenalan."

"Baik, Kakak."

Lawrence menganggukkan kepala ketika Artizea menjawab dengan patuh.

Lalu ia memberi isyarat agar Artizea pergi.

Artizea berbicara dengan hati-hati.

"Sebelum aku pergi, ada satu permintaan yang ingin kusampaikan, Kakak."

"Katakan."

Lawrence menjawab dengan acuh tak acuh.

"Aku ingin mempekerjakan beberapa pelayan pria dan pelayan wanita untuk mengurus keperluanku secara pribadi. Agak tidak nyaman bagiku tinggal di rumah ini karena saat ini aku hanya memiliki satu orang pelayan."

"Satu orang?"

"Ya."

Untuk pertama kalinya Lawrence memperlihatkan raut kebingungan.

Artizea tersenyum.

Lawrence memang tidak pernah memperhatikan hal-hal semacam itu.

Tidak mengherankan jika ia tidak mengetahuinya.

"Aku akan berbicara kepada Ibu."

"Apakah perlu meminta bantuan Ibu untuk urusan seperti itu? Lagi pula, Kakak juga tahu... bagaimana keadaan Ibu. Beliau sedang sibuk."

Lawrence langsung memahami maksud Artizea ketika mengatakan Miraila sedang "sibuk".

Ia pun menganggukkan kepala.

"Kau benar. Urus saja sendiri. Kalau Ibu mengatakan sesuatu, beri tahu aku."

"Baik. Terima kasih, Kakak."

"Jangan khawatir. Itu memang tugasku sebagai seorang kakak."

Padahal seluruh biaya untuk mempekerjakan para pelayan berasal dari kekayaan Marquisate Rosan.

Namun Lawrence mengucapkan semua itu tanpa sedikit pun merasa malu, seolah-olah ia sedang bermurah hati.

"Ahhh!"

Pada saat itu terdengar jeritan Miraila dari kejauhan.

Artizea terkejut.

Melihat itu, Lawrence berkata dengan dingin,

"Ia sedang mengamuk. Itu bukan baru sekali dua kali terjadi. Kau tidak perlu memedulikannya."

"Baik."

"Tidak akan baik jika Grand Duke Evron melihat memar di wajahmu atau di bagian tubuhmu yang lain."

"Aku mengerti..."

Setelah itu Artizea pun berpamitan.

Ia kemudian menuju kamar Miraila.

Miraila terus menjerit-jerit dengan keras, sama sekali tidak mampu mengendalikan amarahnya.

Terdengar pula suara benda-benda yang pecah serta tangisan seorang pelayan wanita yang sedang dipukuli.

Sesekali Miraila memang akan mengamuk seperti itu, memukuli orang-orang dan menghancurkan isi ruangan.

Pada masa lalu, setiap kali Miraila berada dalam keadaan seperti ini, Artizea selalu berusaha menenangkannya.

Amarah tidak baik bagi kesehatan.

Ia ingin memeluk Miraila.

Ia berpikir bahwa dengan begitu, Miraila akan sedikit lebih tenang.

Namun yang diperolehnya hanyalah pukulan yang jauh lebih kejam daripada biasanya.

Artizea berhenti sejenak di depan pintu.

Para pelayan wanita yang lain menatapnya sambil menahan napas.

Begitu Artizea masuk ke dalam ruangan, perhatian Miraila pasti akan beralih kepadanya.

Dengan begitu Miraila tidak akan lagi memperhatikan siapa pun selain dirinya.

Karena itulah para pelayan memohon sepenuh hati agar Artizea masuk.

Namun Artizea justru berbalik.

Seorang pelayan wanita segera menghentikannya.

"Miss, apakah Anda tidak akan masuk?"

"Menurutmu aku harus masuk hanya untuk dipukuli?"

"Oh, tidak. Maksud saya bukan begitu..."

"Sebaiknya kalian segera mengeluarkan gadis itu dari sana sebelum keadaannya menjadi lebih buruk."

"T-Tetapi, Miss. Kalau saya melakukan itu..."

"Kau bukan satu-satunya pelayan di sini, bukan? Kalau kalian semua bergantian menerima pukulan, luka kalian tidak akan terlalu parah. Aku akan menanggung seluruh biaya pengobatan dan memberikan kompensasi yang layak. Bahkan kalian boleh beristirahat dari pekerjaan sampai benar-benar pulih. Setelah itu, suruh gadis itu datang menemuiku."

Para pelayan wanita menelan ludah.

Kali ini mereka tahu bahwa Artizea tidak akan lagi menjadi kambing hitam.

Tiba-tiba Artizea teringat pada perkataan Cedric di kehidupan sebelumnya.

"Miraila telah meninggal. Kudengar hingga saat-saat terakhir ia masih memarahi Lawrence soal wanita."

Apakah Miraila menyimpan kebencian kepada Lawrence ketika ia meninggal?

Apakah ia pernah membayangkan bahwa Lawrence akan membunuhnya?

Apakah ia tetap mencintai putranya meskipun diperlakukan seperti itu?

Ataukah ia hanya terus menutup mata terhadap kenyataan sampai akhir hayatnya?

Apakah menjelang kematiannya ia pernah menyesali, walau hanya sedikit, semua perlakuannya terhadap Artizea?

Artizea telah berusaha melindunginya sampai akhir.

Apakah Miraila menyesal telah kehilangan perisai itu?

Atau bahkan ia tidak pernah memikirkannya sama sekali?

Kini semua itu tidak lagi penting.

Semua itu telah menjadi masa lalu.

Artizea kembali berbalik dan melangkah pergi.

Bahkan hubungan darah antara ibu dan anak perempuan pun memiliki batasnya.

Lagipula, Miraila tidak pernah sekali pun mengulurkan tangan kepadanya.

Kini Artizea benar-benar menyadari bahwa ia telah mampu meninggalkan ibunya.

Chapter 20 Saintess Olga's Heart (1)

Setelah kembali ke perkemahan, berganti pakaian, dan menyantap makan malam, Cedric memanggil Ansgar.

Ansgar menyiapkan teh lalu memasuki barak Cedric.

"Apakah perjalanan Anda hari ini menyenangkan?"

Ansgar sama sekali tidak tahu ke mana Cedric pergi.

Namun pagi tadi ia melihat tuannya tampak kurus karena kurang tidur dan tekanan pikiran. Kini, ketika Cedric kembali, bahkan senyum tipis telah menghiasi wajahnya.

Sambil meminum tehnya, Cedric bertanya kepada Ansgar,

"Apa yang kau ketahui mengenai Keluarga Viscount Fischer?"

"Mengapa Anda ingin mengetahui Keluarga Fischer?"

Jarang sekali Ansgar menjawab pertanyaan Cedric dengan sebuah pertanyaan.

Cedric menatapnya dengan heran.

Kemudian Ansgar menjawab dengan tenang,

"Keluarga Fischer telah hancur delapan belas tahun yang lalu. Viscount dan Viscountess bunuh diri dengan meminum racun, sedangkan para kerabat mereka, termasuk anak-anak mereka, menghilang. Secara praktis, keluarga itu telah musnah."

"Apa?"

Cedric terkejut dan meletakkan cangkir tehnya.

Ia segera mengubah posisi duduknya, tidak lagi bersandar santai di kursi.

Lalu Ansgar berkata,

"Pada saat kehancuran keluarga itu, Viscountess Fischer merupakan dayang Yang Mulia Permaisuri. Beliau juga sahabat masa kecil Permaisuri. Karena statusnya rendah, ia tidak dapat menjadi kepala dayang, tetapi ia adalah orang yang paling dipercaya oleh Yang Mulia."

"Kalau begitu, mengapa ia bunuh diri?"

"Ia mengambil tanggung jawab atas kematian kedua Pangeran. Karena dialah yang bertugas merawat mereka."

Cedric menelan ludah.

Ia tidak memikirkan hal itu sedalam ini sebelum kembali.

Walaupun ia merasa pasti ada alasan di balik permintaan Artizea, ia mengira bahwa setelah menemui Viscount Fischer dan membeli permata itu, semuanya akan selesai.

"Bukankah salah satu Pangeran meninggal karena cacar?"

"Ya, memang benar. Namun seseorang harus bertanggung jawab. Putri meninggal lebih dahulu, lalu setahun kemudian kedua Pangeran juga meninggal. Setelah itu, seperti yang Anda ketahui, mulai beredar desas-desus bahwa semua itu merupakan kutukan..."

"Ya, aku mengetahuinya."

Meskipun peristiwa itu terjadi ketika Cedric masih kecil, ia masih mengingatnya karena pada saat itulah keluarganya dipulihkan kembali ke kedudukan semula.

"Apakah Yang Mulia Permaisuri memaksanya untuk bunuh diri?"

"Kurasa tidak. Namun pasti ada tekanan."

Ansgar berkata,

"Semua orang mengetahui bahwa Permaisuri tentu sangat membenci Kaisar karena kejadian itu."

"Maksudmu, karena Permaisuri begitu terpukul kehilangan anak-anaknya, Kaisar terus mengekangnya karena takut beliau menjadi ancaman? Kalau kupikir-pikir, tidak lama setelah itu keluarga Yang Mulia Permaisuri juga jatuh."

"Tidak ada bukti bahwa itu adalah perbuatan Kaisar. Itu hanya desas-desus yang beredar saat itu."

Ansgar melanjutkan,

"Namun banyak kecaman bahwa seseorang harus bertanggung jawab. Tidak seorang pun dapat meminta pertanggungjawaban Kaisar, dan mereka juga tidak dapat secara langsung menyerang Permaisuri. Jadi, mungkin demi melindungi Yang Mulia, Viscountess Fischer mengorbankan nyawanya."

"Namun aneh sekali seluruh keluarganya tercerai-berai dan menghilang, padahal belum ada kejahatan yang terbukti."

"Ya. Ada pula dugaan-dugaan lain."

Bisa saja itu merupakan pembunuhan.

Atau mungkin sebuah konspirasi yang jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkan Cedric.

Setelah bertemu Marcus Hanson hari ini, Cedric tidak dapat menahan diri untuk menghela napas panjang.

Ia bertanya-tanya apakah inilah alasan Kaisar mengampuni Miraila.

Dengan kematian seluruh anak Permaisuri, Kaisar kehilangan para pewaris sah takhta.

Yang tersisa hanyalah anak-anak haramnya.

Ibu dari kedua putrinya memiliki kedudukan yang terlalu rendah.

Lalu ada Lawrence, putra yang paling dicintai Kaisar.

Kehilangan anak-anaknya mungkin membuat beliau merasa kesepian dan terpuruk, sehingga kembali bersandar kepada Miraila.

"Apakah masih ada kemungkinan menemukan keturunan Keluarga Fischer?"

tanya Cedric sambil kembali bersandar di kursinya dan merapatkan kedua tangannya.

Ansgar tampak ragu.

"Aku tidak bisa memastikannya, tetapi kita bisa mencoba."

"Kurasa kita bisa mencari tahu."

'Mungkin inilah yang diinginkan Artizea kulakukan,' pikir Cedric.

Ansgar kemudian berkata,

"Tugasku adalah melayani Anda, tetapi mengapa tiba-tiba Anda tertarik kepada Keluarga Fischer?"

"Aku mendengar bahwa pusaka Viscounty Fischer adalah sebuah permata bernama Hati Saintess Olga."

"Ya. Benar."

"Aku membutuhkannya. Namun dengan keadaan Keluarga Fischer seperti sekarang, aku tidak tahu kapan aku bisa mendapatkannya."

Cedric menghela napas.

Ia telah mengatakan kepada Artizea bahwa pada pertemuan mereka berikutnya ia akan memberikan Hati Saintess Olga.

Namun sekarang ia bahkan tidak tahu kapan mereka akan bertemu lagi.

Baru saat itulah ia menyadari bahwa dirinya sudah menantikan pertemuan berikutnya.

Memikirkan hal itu, ia kembali menghela napas.

"Anda sebaiknya mulai mencari dari toko perhiasan. Bagaimanapun juga, itu adalah sebuah permata."

"Bagaimana caranya?"

"Kalau yang Anda cari adalah permata, bukankah lebih cepat bertanya kepada seorang perhias? Delapan belas tahun telah berlalu. Sangat mungkin sekarang permata itu sudah beredar di pasaran. Lagi pula, menurut kabar, sebagian besar aset Keluarga Fischer dahulu dijual untuk membiayai pelarian mereka."

"Begitu."

Begitu Cedric bangkit dari kursinya, Ansgar tertawa kecil.

"Sekarang sudah tengah malam, Lord Cedric. Anda tentu tidak berniat pergi ke toko perhiasan di ibu kota pada jam seperti ini, bukan?"

"Tentu saja tidak."

Cedric, yang tanpa sadar sempat berdiri karena tiba-tiba merasa bersemangat, kembali duduk.

Ansgar tersenyum sambil mengambil cangkir teh Cedric yang telah kosong.

"Ngomong-ngomong, Ansgar."

Cedric bertanya,

"Bagaimana cara memberikan pakaian sebagai hadiah kepada seorang Lady?"

Namun Ansgar tidak dapat menahan tawanya.

Cedric berkata dengan tegas,

"Bukan seperti yang sedang kau bayangkan."

"Ya, saya mengerti."

"Sungguh bukan apa-apa."

"Ya, ya."

Walaupun Ansgar menjawab demikian, Cedric menghentakkan kakinya dengan perasaan tidak nyaman.


Setelah hari itu, Marquisate Rosan diselimuti suasana yang suram.

Miraila, yang telah menghancurkan kamarnya, memukuli para pelayan wanita, dan mengamuk sepanjang malam, merasa begitu lemah hingga keesokan harinya ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk keluar dari tempat tidur.

Suhu tubuhnya meningkat, dan tenggorokannya meradang akibat terlalu banyak berteriak.

Layaknya seorang putri yang berbakti, Artizea duduk di sampingnya dan menyuapinya teh lemon hangat dengan sebuah sendok.

Kemudian Miraila berkata dengan suara serak,

"Sekarang setelah kau dewasa, apakah kau memilih berpura-pura tidak melihat ibumu sedang marah semalam?"

"Bukan begitu. Kakak memanggilku, lalu kami berbicara sebentar."

Artizea menjawab dengan patuh.

"Aku tidak mungkin mengabaikan keadaan Ibu."

"Benar juga. Kelak saat aku tua, satu-satunya orang yang dapat kupercayai hanyalah putriku. Aku hidup demi dirimu."

Miraila memeluk Artizea sambil tersenyum, sebagaimana kadang-kadang ia lakukan ketika suasana hatinya sedang baik.

"Kalau Ibu sedang tidak enak badan, mengapa tidak pergi bersama Yang Mulia ke Istana Peristirahatan?"

Istana Peristirahatan?

"Akhir-akhir ini cuaca sangat panas. Mungkin sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk pergi ke Istana Peristirahatan. Lagi pula, laut berada tepat di sampingnya."

Mata Miraila berbinar.

"Kita harus pergi berlibur. Menurutmu Lawrence punya waktu?"

"Kalau Kakak sedang sibuk, Ibu dan Yang Mulia saja yang pergi berdua. Dengan begitu perjalanan itu akan terasa lebih intim."

Meskipun Lawrence tidak ikut, karena perjalanan itu dilakukan bersama Kaisar, tentu saja tidak mungkin benar-benar intim.

Namun perkataan itu tampaknya membuat suasana hati Miraila membaik.

Ia bahkan terkikik meski tenggorokannya masih terasa sakit.

Kaisar dengan senang hati menerima permintaan Miraila.

Perjalanan itu segera diatur, dan seluruh persiapannya dilaksanakan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Artizea mengira Kaisar melakukan semua itu untuk mengulur waktu.

Dan dugaannya benar.

Pada saat ini, Kaisar kemungkinan sedang mempertimbangkan apakah akan mengizinkan upacara penyambutan kemenangan Pasukan Barat atau tidak.

Selama ini beliau terus menunda persoalan Pasukan Barat.

Beliau berulang kali menolak dengan berbagai alasan.

Namun apabila sekarang beliau tiba-tiba menyetujuinya demi Lawrence, hal itu tentu akan terasa memalukan.

Kini setelah Cedric telah memasuki ibu kota, beliau tidak dapat lagi menunda keputusannya.

Dalam keadaan seperti ini, permintaan Miraila menjadi alasan yang sempurna untuk membeli waktu.

Selama beberapa minggu ke depan, Kaisar akan mengamati sikap Cedric sebelum mengambil keputusan.

Memang, dengan begitu beliau masih dapat terus menunda keputusannya.

Namun di sisi lain, beliau juga dapat dituduh mengabaikan tanggung jawabnya.

Sebaliknya, apabila tuntutan yang diajukan tidak dipenuhi, kritik akan diarahkan kepada pemerintah.

Bagaimanapun juga, opini publik akan bergerak ke arah itu.

Keadaan ini juga menguntungkan Artizea dan Cedric.

Artizea kini memperoleh waktu beberapa minggu untuk melakukan apa yang diinginkannya.

Dan pada sore hari pertama.

Tiga kereta penuh muatan tiba di kediaman Marquisate Rosan.

Tak terhitung banyaknya pakaian, manekin, dan peti yang mulai diturunkan.

Mata Kepala Pelayan Bill terbelalak.

Pemandangan seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang aneh.

Hal seperti itu selalu terjadi setiap kali Miraila membeli pakaian.

Namun kali ini Miraila tidak berada di rumah.

Emily, pemilik butik paling ternama, tersenyum ceria kepada Bill saat turun dari kereta.

Dialah perancang busana yang membuat gaun-gaun paling modis, eksklusif, dan mahal di ibu kota.

Dan Miraila merupakan pelanggan tetapnya.

"Halo, Tuan Kepala Pelayan."

"Apa yang membawa Anda ke sini? Nyonya sedang berlibur bersama Yang Mulia di Istana Peristirahatan. Saya kira Anda sudah mengetahuinya, Emily."

"Hari ini saya datang bukan untuk Nyonya, melainkan untuk putrinya."

"Maksud Anda Miss Artizea?"

"Benar. Yang Mulia Grand Duke Evron mengirim saya. Oh, ngomong-ngomong, setiap kali saya melihatnya, saya selalu memperhatikan pakaiannya dan menyesal karena tidak pernah dapat berbuat apa-apa agar ia tampak lebih cantik. Padahal, dengan sedikit sentuhan saja, kecantikannya akan setara dengan ibunya. Namun hari ini saya datang untuk memancarkan kecantikannya. Beliau bahkan berkata bahwa saya boleh melakukan 'apa pun yang saya inginkan'."

Emily tertawa lepas.

Ia sangat memahami keadaan Artizea.

Bahkan hanya karena pergantian musim, Miraila akan membeli puluhan pakaian baru.

Sebagiannya merupakan hadiah dari Kaisar, tetapi lebih banyak lagi yang dibelinya sendiri.

Mulai dari sulaman emas dan perak hingga sulaman Eon yang merupakan kain termahal.

Ia selalu membeli bahan-bahan paling berharga di seluruh Kekaisaran, dan tidak akan puas sebelum memiliki setiap rancangan terbaru.

Mungkin bahkan Permaisuri pun tidak dapat menandinginya dalam hal pakaian.

Namun selama bertahun-tahun menemani Miraila berbelanja, Emily belum pernah sekalipun melihatnya membeli bahkan hanya sehelai pita untuk Artizea.

Dengan matanya yang terlatih, Emily mengetahui bahwa harga satu gaun milik Artizea bahkan hanya setara dengan satu syal milik Miraila.

Gaun-gaun itu pun mungkin sudah tidak lagi pas di tubuhnya, meskipun pada usia itu seseorang memang tidak akan bertambah tinggi banyak.

Mata Bill masih tetap terbelalak.

Chapter 21  Saintess Olga’s Heart (2)

Bill menjadi panik.

Seandainya Miraila berada di rumah, ia tidak akan pernah mengizinkan orang-orang ini memasuki kediaman Marquisate Rosan.

Dan Artizea pasti akan dihukum karena menerima hadiah dari seorang pria tanpa izinnya.

Namun kini Miraila sedang pergi berlibur, sedangkan Bill hanyalah seorang kepala pelayan.

Selama ini ia selalu menindas dan merendahkan Artizea, tetapi semua itu ia lakukan sesuai kehendak Miraila.

Meski demikian, bukan berarti Bill tidak menikmatinya.

Ia sepenuhnya menikmati rasa superior yang menyimpang karena dapat menginjak-injak pewaris Marquisate Rosan, serta kesenangan memperlakukan seorang gadis muda dengan buruk.

Namun, jika berbicara secara tepat, Miraila-lah dalang di balik semuanya.

Bill memiliki bakat luar biasa dalam memahami pikiran Miraila dan bertindak sesuai keinginannya.

Sementara ia masih ragu apakah harus menghentikannya, Emily telah memasuki foyer tanpa sedikit pun keraguan.

Para pegawainya mengikuti di belakang sambil membawa berbagai pakaian dan manekin.

Barulah saat itu Bill memutuskan untuk menghentikan Emily.

Namun ketika melihat orang terakhir yang masuk, ia bergidik lalu memilih diam.

Sekilas saja sudah tampak bahwa pria itu adalah seorang Kesatria.

Bahkan pakaian yang dikenakannya tidak mampu menyembunyikan tubuhnya yang besar dan otot-ototnya yang terlatih.

Busana yang dikenakannya sederhana dan kokoh.

Namun ia memancarkan wibawa serta ketenangan.

Di pinggangnya tergantung sebilah pedang.

Empat pengawal muda yang mengikutinya juga membawa senjata.

Bill berasal dari kalangan bawah.

Ia tidak akan pernah berani menghadapi seorang pria bersenjata, terlebih lagi seorang Kesatria.

Baginya, para Kesatria yang terbiasa membunuh jauh lebih menakutkan daripada para bangsawan yang menentang Miraila.

"Selamat datang!"

Alice berlari menghampiri Emily dengan riang.

Ketika kepala pelayan wanita melihat Alice menyambut Emily sambil mengabaikan dirinya dan Bill, ia langsung membentaknya.

"Alice!"

Namun bentakan yang hendak berlanjut itu tidak pernah terdengar.

Artizea muncul di tangga dan memandang ke bawah.

Emily tersenyum, mengangkat sedikit ujung gaunnya, lalu memberi hormat dengan sopan.

"Salam hormat, Lady Artizea."

"Selamat datang, Madam Emily. Seingatku aku tidak memanggil Anda. Apa yang membawa Anda ke sini?"

"Yang Mulia Grand Duke Evron mengirimku."

"..."

Setelah terdiam sejenak, Artizea berkata,

"Sophie, antarkan Madam ke boudoir-ku."

"Baik, Miss!"

Sophie yang berdiri di belakang Artizea segera berlari menuruni tangga.

Dengan lembut ia menggandeng lengan Emily dan membimbingnya ke lantai dua, seolah-olah sedang menyambut seorang bibi yang tidak ditemuinya selama tiga puluh tahun.

Para pegawai butik mengikuti di belakangnya.

Para pelayan wanita berbisik-bisik sambil menyaksikan pemandangan itu.

Kemudian Artizea mengalihkan perhatiannya kepada Kesatria yang juga berdiri di foyer.

Kesatria itu mengepalkan tangan ke sisi dadanya lalu menundukkan kepala dengan hormat.

Artizea turun ke foyer dan berdiri di hadapannya.

Kesatria itu segera berlutut dengan satu kaki dan memberi hormat.

"Saya Kesatria Alphonse Luen. Saya dianugerahi gelar Kesatria oleh Grand Duke Evron dan hingga kini bertugas di Pengawal Grand Duchy. Merupakan kehormatan bagi saya dapat bertemu dengan Anda."

"Aku juga senang bertemu denganmu. Aku Artizea Rosan. Silakan berdiri."

Ketika Artizea mengulurkan tangannya, Alphonse dengan hormat mengecup punggung tangannya, lalu berdiri.

"Apabila Anda berkenan, mulai hari ini saya akan menjadi pengawal Anda atas perintah Yang Mulia."

"Aku akan sangat berterima kasih. Kuharap kau dapat merasa nyaman selama berada di Marquisate Rosan."

Artizea mengucapkannya dengan tenang.

Namun di dalam hatinya timbul perasaan yang aneh.

Alphonse adalah salah satu Kesatria Grand Duke Evron yang paling cakap dan paling dapat dipercaya.

Ia jujur dan tanpa keraguan setia.

Dalam dirinya mengalir semangat kuat khas Grand Duchy Evron.

Bahwa Cedric menempatkan pria ini sebagai pengawalnya membuat Artizea merasa tidak tenang.

Seandainya Cedric mengirim Kesatria Freyl atau Kesatria lain dengan kedudukan serupa, ia tidak akan merasakan hal seperti ini.

Dengan pengawal lain mana pun, ia akan mengira bahwa orang itu datang untuk mengamati dan menilai apakah pernikahan ini benar-benar akan berguna.

Dan itulah hal yang wajar.

Namun kenyataan bahwa Cedric mengirim Alphonse membuktikan sebaliknya.

Mengirim Alphonse berarti Cedric hanya memikirkan satu hal—melindungi Artizea.

Itulah yang membuatnya merasa asing.

Di masa lalu, Cedric pernah mempercayakan Alphonse untuk melindungi Licia.

Alphonse menjalankan tugas itu hingga akhir hayatnya.

Ia tewas di tangan Lawrence.

Tidak ada gunanya memikirkan hal itu sekarang.

Artizea menggelengkan kepala pelan untuk mengusir pikirannya.

Kemudian ia memperhatikan orang-orang yang berdiri di belakang Alphonse.

Di antara mereka terdapat satu wajah yang dikenalnya.

Seorang wanita berpakaian pelayan dengan kepala tertunduk di belakang para pengawal muda.

Dialah Lise Hanson.

Cucu Marcus.

"Sir Alphonse, apakah Yang Mulia menyampaikan hal lain?"

"Hingga kini aku adalah pedang Yang Mulia. Namun mulai hari ini beliau memerintahkanku untuk menjadi perisai Lady Artizea."

Alphonse menyatakan hal itu dengan perlahan.

Perisai adalah senjata yang melindungi bagian dalam dari ancaman luar.

Namun pada saat yang sama, ia juga menyerang dari dalam ke luar.

Perisai bukan hanya senjata pendukung, tetapi juga dapat menjadi senjata penyerang yang cukup mematikan dalam jangkauan tertentu.

Dan senjata tidak berpikir sendiri.

Alphonse akan mengikuti perintah orang yang menggunakannya.

Artizea memahami sepenuhnya makna dari semua itu.

Cedric pasti telah mempertimbangkan semuanya.

Selain itu, kedatangan Lise Hanson berarti Marcus telah mengambil keputusan.

Kalau begitu, tidak ada lagi alasan untuk ragu.

Ia memanggil Bill yang sedang memperhatikannya.

"Bill."

Bill segera menundukkan kepala.

Artizea berkata kepadanya,

"Siapkan kamar untuk Sir Alphonse. Aku ingin ia menempati koridor yang sama dengan kamarku. Sedangkan untuk para pengawal muda, akan lebih baik jika disiapkan kamar berdua di bangunan samping. Untuk pelayan wanita, biarkan Alice yang mengurusnya."

"Tempat kecil untuk merebahkan diri saja sudah cukup. Orang-orang ini bahkan bisa tidur nyenyak di kandang kuda."

kata Alphonse.

Artizea tersenyum.

"Jangan khawatir. Masih banyak kamar kosong. Meski hanya untuk sementara, aku berharap kalian dapat merasa nyaman di rumah yang asing ini."

Bill jelas tidak berpikir demikian.

Dengan wajah serba salah ia berkata,

"Tetapi, Miss, menyiapkan kamar tanpa izin Nyonya atau Tuan Muda akan menjadi masalah...."

"Bill."

Artizea memang sudah menduga Bill akan mengatakan itu.

Karena itulah ia sengaja memanfaatkan kesempatan ini untuk berbicara di depan banyak orang.

Ia dengan sengaja merendahkan suaranya hingga terdengar semakin dingin.

Bill semakin terkejut ketika melihat ekspresi Alphonse bahkan lebih keras daripada Artizea.

Para pegawai butik juga membeku menyaksikan kejadian itu.

Bahkan Emily berhenti berjalan menuju boudoir dan berbalik memperhatikan mereka.

Suasana foyer mendadak membeku.

Dengan suara yang sengaja dibuat lembut, Artizea bertanya,

"Bill, dapatkah kau mengatakan kepadaku siapakah aku?"

"Yah, Miss...."

Suara Bill terdengar canggung.

Para pelayan dan pelayan wanita di kediaman ini berada di bawah kendalinya.

Namun tanpa perintah Miraila, ia tidak mungkin memaksa putrinya secara langsung.

Terlebih lagi di hadapan Kesatria Grand Duke Evron dan Madam Emily yang memiliki banyak relasi.

"Tidak perlu membuat keributan. Mari kita masuk dan berbicara di dalam. Ini urusan pribadi, bukan?"

Bill berusaha menenangkan Artizea sambil mengulurkan tangan hendak menarik lengannya.

Saat itulah Alphonse menghantam lengan Bill dengan pedangnya yang masih berada di dalam sarung.

"Ugh!"

Bill menjerit dan mundur selangkah karena rasa sakit yang luar biasa di lengannya.

Ketika Alphonse melangkah maju, dua pengawal mudanya juga maju dan memelintir kedua lengan Bill hingga ia tidak mampu bergerak.

"Berlutut!"

teriak Alice dengan galak.

Bill tercengang ketika dipaksa berlutut di lantai.

Artizea menekuk satu lutut dengan anggun hingga sejajar dengan pandangan Bill.

"Bill, ini sudah kedua kalinya Marquisate Rosan dipermalukan oleh kepala pelayannya yang tidak berguna di hadapan Grand Duke Evron."

"Miss...."

"Satu kali masih dapat dimaklumi. Hal seperti itu bisa terjadi pada siapa saja. Bila seseorang lalai menjalankan tugasnya, ia mungkin bahkan tidak mengetahui keberadaan tuannya. Namun menjadi tidak berguna untuk kedua kalinya adalah aib bagi keluarga. Sir Alphonse adalah mata Yang Mulia. Sungguh tidak masuk akal kau bersikap seperti ini di hadapannya."

Mata Bill bergerak ke sana kemari.

Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya.

Artizea kembali bertanya,

"Bill, dapatkah kau mengatakan kepadaku siapakah aku?"

"Miss...."

Plak!

Alice menampar pipinya dengan keras.

"Miss! Kalau Nyonya mengetahui hal ini, aaagh!"

Plak!

Alice kembali menamparnya.

Mata Bill memerah.

Bukan karena rasa sakit, melainkan karena keterkejutan.

Ia sama sekali tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi.

Dari sudut pandang Miraila dan para pengikutnya, keadaan ini mungkin terasa menggelikan.

Namun bagi Bill, orang yang berada di hadapannya adalah Marchioness Rosan di masa depan, sedangkan dirinya tidak lebih dari seorang rakyat biasa.

Lagipula, Miraila maupun Lawrence sedang tidak berada di kediaman.

Dan untuk sementara waktu mereka tidak akan kembali.

Bill pun menyadari bahwa Artizea memiliki cukup waktu untuk menangani dirinya.

Plak!

Alice kembali menampar pipinya.

"Lalu kenapa kalau Nyonya mengetahuinya? Maksudmu Miss kami akan dipukuli seperti biasanya?"

Semuanya bergantung pada suasana hati Miraila.

Namun kemungkinan besar memang itulah yang akan terjadi.

Akan tetapi Lawrence berbeda.

Ia sangat menjunjung kehormatan.

Ia tidak akan mentoleransi kenyataan bahwa Artizea dipermalukan di hadapan Kesatria Grand Duke Evron, apa pun hukuman yang kelak dijatuhkan Miraila kepadanya.

Dan sekalipun Miraila nanti melampiaskan kemarahannya kepada Artizea, bukan berarti Bill akan selamat saat ini.

Akhirnya, sambil gemetar ia menjawab,

"P-pewaris...."

Artizea tersenyum.

Senyumnya benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Para pengawal muda melepaskan kedua lengan Bill.

"Bill, siapkan tempat tinggal untuk Sir Alphonse dan para pengawal muda. Setelah selesai, datanglah ke kamarku dengan membawa kunci dan buku-buku pembukuan."

"Eh, kuncinya?"

"Masih belum mengerti? Maksudku kunci brankas. Jacob."

Artizea memanggil Jacob, asisten kepala pelayan yang selama ini selalu murung dan berdiri membungkuk di sudut ruangan.

"Pergilah bersama Bill dan bantu aku mengurusnya."

"Y-Ya!"

"Apakah kau benar-benar memahami maksud perkataan Lady Artizea?"

tanya Alice dengan tajam.

Jacob memang sudah lama muak diperlakukan seperti bukan siapa-siapa.

Ia mengangguk patuh.

Lalu ketika berbalik, bahunya tegak setinggi mungkin.

Jika kunci itu diambil dari Bill, maka Jacob sebagai asisten kepala pelayan dapat ditunjuk untuk mengambil alih tugasnya.

Dari sikapnya, jelas ia telah menyadari kesempatan tersebut.

Kemudian Artizea memerintahkan Alice,

"Alice, pergilah membantu pelayan wanita yang baru itu."

"Aku juga ingin melihat pakaian-pakaian baru Anda...."

"Selain dirimu, siapa lagi yang bisa kupercaya?"

Alice menjulurkan lidahnya.

"Baiklah, aku akan pergi."

Lalu ia tertawa.

Ketika Artizea berbalik, Emily beserta para pegawainya segera berpencar dengan tergesa-gesa, seolah-olah mereka sama sekali tidak sedang memperhatikan kejadian itu.

Alphonse mengikuti di belakangnya tanpa bersuara.

Sesampainya di depan pintu boudoir yang megah, dengan ekspresi yang sama sekali berbeda dari beberapa saat sebelumnya, Artizea berkata,

"Maafkan aku. Kalian harus menyaksikan pemandangan yang buruk begitu tiba."

"Tidak."

Alphonse menjawab dengan hormat.

"Lady, Anda tidak perlu mengkhawatirkan citra Anda di hadapanku. Yang Mulia telah memberitahu kami bahwa Anda berada dalam posisi yang sangat rumit di dalam keluarga ini, dan bahwa sekalipun tindakan Anda tampak sulit dipahami, pasti ada alasan di baliknya. Karena itu, kami tidak boleh meragukan Anda."

"Yang Mulia...."

gumam Artizea dengan perasaan yang aneh.

Bahkan Lawrence, kepada siapa ia telah mengabdikan seluruh hidupnya di masa lalu, tidak pernah mempercayainya seperti ini.

Lebih daripada sekadar pakaian, Cedric telah mengirimkan kepadanya kepercayaan dan kekuatan.

Kini, ia dapat melangkah ke tahap berikutnya.

Chapter 22 Saintess Olga’s Heart (3)

Tepat pada saat itu, Cedric mengikuti saran Ansgar dan mengunjungi toko perhiasan Odorov.

"Yang Mulia, merupakan suatu kehormatan bagi saya karena Anda berkenan mengunjungi toko kami."

Cedric dipersilakan memasuki ruang tamu dengan sofa-sofa yang nyaman.

Sambil menyesap teh yang telah disajikan oleh sang perhiasan, ia bertanya dengan tenang,

"Aku diberi tahu bahwa jika ingin mengetahui tentang sebuah permata beserta siapa pemiliknya saat ini, aku harus datang ke tempat ini."

"Apakah Yang Mulia sedang mencari permata tertentu?"

tanya sang perhiasan dengan penuh rasa ingin tahu.

"Aku sedang mencari sebuah permata bernama 'Saintess Olga's Heart'."

"Apakah maksud Anda berlian yang merupakan pusaka turun-temurun milik Viscounty Fischer?"

Jadi itu sebuah berlian.

Baru saat itulah Cedric mengetahuinya.

Semula ia mengira permata itu adalah rubi karena disebut sebagai sebuah "Heart".

"Benar. Aku sedang mencari pusaka milik Viscounty Fischer."

Raut wajah sang perhiasan tampak canggung.

Menyadari perubahan ekspresinya, Cedric bertanya dengan tegas,

"Apakah karena Anda sama sekali tidak mengetahui apa pun tentangnya, atau karena ada sesuatu yang sulit diungkapkan?"

Permata sering digunakan sebagai sarana melakukan transaksi rahasia dan menyimpan kekayaan.

Dibandingkan berlian maupun safir, emas lebih umum dipakai untuk keperluan semacam itu karena asal-usulnya lebih mudah disembunyikan.

Namun, permata-permata bersejarah dan terkenal juga merupakan sarana yang sangat berguna.

Terutama apabila berkaitan dengan penyuapan.

Sebab permata bersejarah memiliki nilai yang melampaui sekadar kekayaan.

Terlebih lagi, permata itu berasal dari sebuah keluarga yang telah musnah setelah Viscount dan Viscountess memutuskan bunuh diri demi Permaisuri.

Ada orang yang ingin memiliki barang-barang mereka sebagai trofi.

Ada pula yang ingin menyimpan peninggalan rekan seperjuangan mereka.

Di sisi lain, sekalipun sebuah permata tidak diperoleh dengan tujuan jahat, bukan berarti ia didapatkan secara sah.

Terlebih jika permata itu merupakan pusaka keluarga.

"Aku tidak sedang menyelidikinya. Aku hanya ingin membelinya."

Mendengar hal itu, sang perhiasan mengembuskan napas lega.

"Saya mengerti. Untuk sementara, saya akan menulis surat kepada pemilik permata tersebut. Mungkin ini justru menjadi kabar baik baginya. Seorang seperti Yang Mulia ternyata tertarik pada permata itu."

Sang perhiasan berdiri sambil memohon agar Cedric menunggu sejenak.

Sementara ia menulis surat pengantar, Cedric bangkit dan memandang sekeliling toko perhiasan itu.

Ruang tamu tempat ia diterima memang diperuntukkan bagi tamu-tamu terhormat.

Sebagian koleksi perhiasan milik toko Odorov dipajang sebagai hiasan.

Di salah satu rak dinding, Cedric melihat sepasang kancing manset dan sebuah jam tangan emas.

Walaupun ia tidak terlalu memahami perhiasan, sebuah kalung berlian dan gelang yang tampak sangat mahal menarik perhatiannya.

Tanpa banyak berpikir, Cedric mengangkat gelang itu.

Gelang tersebut tampak sangat istimewa.

Terdiri dari dua untaian berlian-berlian kecil, menyerupai gelang manik-manik sederhana, namun ketika terkena cahaya, ia memancarkan kilauan lima warna yang berbeda.

Tak lama kemudian sang perhiasan kembali sambil membawa sebuah amplop bersegel lilin.

Cedric meletakkan gelang itu di atas meja dengan ekspresi yang lebih tegas daripada biasanya.

"Setelah Anda memberiku informasi ini, setidaknya Anda harus mengizinkanku membeli satu barang."

"Ah! Maksud Anda yang ini? Terima kasih banyak!"

Sang perhiasan yang sama sekali tidak menyangka hal itu segera menundukkan kepala dengan mata berbinar.

Freyl, yang sejak tadi menunggu tuannya menyelesaikan urusan itu, tetap berdiri diam di dekat pintu dengan wajah bosan.

Cedric menyadarinya, tetapi berpura-pura tidak melihat.


Sang perhiasan menyuruhnya mendatangi rumah seorang pria bernama White.

Seorang pria yang dahulu memiliki sebuah toko perhiasan kecil.

「Ia adalah orang yang dapat dipercaya dan memiliki mata yang tajam. Seandainya segala sesuatunya berjalan baik, hari ini ia pasti sudah menjadi seorang perhiasan terkenal....」

「Apakah ia meninggalkan permata itu?」

「Dalam dunia usaha, terkadang ada investasi yang tampak seperti sebuah pertaruhan.」

「Benar. Risiko dan keuntungan memang sebanding.」

「Ya. Namun ketika risikonya ternyata jauh lebih besar daripada yang diperkirakan, sebesar apa pun kesiapan seseorang, tetap mustahil untuk mengatasinya. Apa yang dialami White bagaikan sedang berlatih mencegah kebakaran di sebuah lumbung, tetapi yang datang justru tsunami.」

Odorov tidak mengatakan apa-apa lagi.

Merasa dirinya semakin dekat dengan jawaban atas sebuah teka-teki, Cedric bersama Freyl menuju rumah White.

Di sepanjang perjalanan, Freyl menggerutu,

"Ini sudah keterlaluan."

"Apakah terlalu berat bagimu hanya karena harus ikut bersamaku?"

"Yang Mulia, apakah Anda benar-benar telah memutuskan untuk menikahi putri Miraila?"

Cedric memandangnya dengan serius sebelum menjawab,

"Kukira kau menyetujui keputusanku."

"Bukan begitu. Aku tahu Anda melakukan semua ini demi Pasukan Barat."

"Namun bukankah kau sendiri mengatakan bahwa ini adalah strategi yang baik?"

"Bukan berarti aku menganggapnya tidak akan berhasil. Aku hanya bertanya-tanya... apakah benar sepadan mengorbankan kebahagiaan Anda demi itu."

Freyl memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati.

Cedric mengabaikannya lalu menghentakkan tali kekang agar kudanya berlari lebih cepat.

Namun Freyl segera menyusulnya.

Dengan wajah sungguh-sungguh ia berkata,

"Yang Mulia, bagaimanapun juga dia adalah putri Miraila. Tidakkah menurut Anda ini sedikit aneh?"

"Apakah kau sedang meragukan penilaianku?"

"Eh?"

"Ucapanmu mengisyaratkan bahwa aku tidak mampu menilai dengan jernih apakah Lady Artizea adalah orang yang berbeda dari Miraila atau tidak."

"..."

Cedric mengatakan itu meskipun ia tahu Freyl tidak bermaksud demikian.

Freyl pun menggeleng.

"Bukan begitu. Hanya saja...."

"Lady Artizea telah mengatakan bahwa semuanya hanya akan berlangsung selama dua tahun. Menurutku, sebuah pernikahan kontrak selama dua tahun bukanlah harga yang terlalu mahal untuk dibayar demi Pasukan Barat."

"Yang Mulia, menceraikan putri Miraila setelah menjalani pernikahan kontrak akan meninggalkan noda pada kehormatannya."

Tiba-tiba Cedric teringat pada kata-kata Artizea dan tersenyum.

「Yang Mulia, Anda harus mengesampingkan kehormatan pribadi agar dapat memperoleh kehormatan bagi Pasukan Barat dan melindungi Grand Duchy Evron.... Namun apakah Anda akan membuang semua itu hanya demi alasan pribadi?」

Seandainya Artizea tidak mengucapkan kata-kata itu, ia pasti akan menganggap usulan tersebut sebagai penghinaan dan murka karenanya.

"Para prajurit harus memperoleh perlakuan yang layak. Aku tidak akan menghindarinya hanya karena takut kehormatanku ternoda."

"Yang Mulia...."

"Dan Lady Artizea-lah yang membuatku memahami hal itu."

Freyl tidak berkata apa-apa lagi.

Ia hanya terdiam dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Hanya karena itu?

Ia hampir saja mengajukan pertanyaan itu.

Lagipula, jika ini benar-benar hanya sebuah pernikahan kontrak...

Cedric cukup mengirimkan gaun pengantin kepadanya.

Itu sudah cukup untuk membuat hubungan mereka tampak seperti pernikahan karena cinta dan membuat Kaisar lengah.

Kalau begitu, apakah benar-benar perlu membeli sebuah permata untuknya?

Kurasa tidak. Namun tampaknya Yang Mulia sendiri sama sekali tidak menyadarinya.... Apa aku harus memberitahunya agar ia menyadari hal itu?

Freyl menjadi gelisah.

Mungkinkah Cedric memahami kegelisahannya?

Sejujurnya, ia khawatir harus melayani putri Miraila sebagai Grand Duchess sepanjang sisa hidupnya.

Sambil memikirkan hal itu, mereka akhirnya tiba di alamat yang diberikan Odorov.

Sesaat setelah turun dari kudanya, Cedric merasa ragu.

Sehelai kain hitam tergantung di depan pintu rumah itu.

Itu adalah tanda berkabung.

"Oh, tidak...."

Mendengar keluhannya, Freyl berkata,

"Aku mengerti kekhawatiran Anda, tetapi kita tetap harus masuk. Kita tidak mungkin sengaja datang lagi lain waktu, bukan?"

"Kau benar."

Cedric mengembuskan napas panjang.

Freyl mengetuk pintu.

Dari dalam rumah yang muram itu, seorang wanita muda yang tampaknya baru berusia awal dua puluhan membuka pintu dengan hati-hati.

"Kalian tampaknya orang-orang terpandang. Mengapa datang ke tempat seperti ini? Ayahku telah meninggal."

Gadis itu berbicara dengan wajah penuh curiga sekaligus letih.

Lingkaran hitam tampak jelas di bawah matanya.

Freyl segera mengeluarkan surat pengantar yang diberikan Cedric kepadanya lalu menyerahkannya kepada gadis itu.

Gadis itu langsung membuka segelnya dan membaca isinya.

Sesudah itu ia memandang Cedric dengan bingung.

Tak lama kemudian, ia buru-buru berlutut dengan satu kaki.

"Merupakan suatu kehormatan bagi saya dapat bertemu dengan Yang Mulia."

"Tidak. Tolong jangan berlutut. Tidak perlu bersikap seformal itu...."

"Terima kasih atas kemurahan hati Anda."

Gadis itu berbicara dengan suara sopan namun penuh kelelahan, lalu berdiri.

Ia mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu.

Hari sudah malam sehingga rumah itu tampak gelap.

Gadis itu menyalakan sebatang lilin untuk menerangi ruangan.

Tak lama kemudian ia kembali membawa sebuah baki berisi tiga cangkir teh.

Ia duduk dan meletakkannya di atas meja.

"Maaf atas jamuan yang sangat sederhana ini. Di rumah kami bahkan tidak ada daun teh yang baik. Namun karena arwah ayahku masih belum meninggalkan rumah ini, izinkan aku menyajikan secangkir teh, agar ayahku merasa dihormati dan dapat beristirahat dengan tenang."

"Justru kami yang harus meminta maaf karena datang pada saat seperti ini."

Cedric sebenarnya tidak terlalu haus.

Namun ia tetap meminum tehnya perlahan hingga habis.

Freyl melakukan hal yang sama.

"Terima kasih banyak. Aku yakin ayahku pasti akan sangat senang."

Gadis itu menundukkan kepala lalu berkata,

"Yang Mulia, dalam surat pengantar dari Tuan Odorov disebutkan bahwa Anda sedang mencari sebuah permata. Ayahku memang telah meninggal, tetapi buku-buku pembukuan ketika beliau masih menjadi perhiasan masih tersimpan utuh. Aku akan berusaha membantu semampuku."

"Aku terlebih dahulu meminta maaf karena telah mengganggumu di masa berkabung. Aku sedang mencari sebuah berlian bernama Saintess Olga's Heart. Tuan Odorov mengatakan bahwa ayahmu adalah pemilik permata itu."

Klintang... klintang...

Kedua tangan wanita itu gemetar.

Cangkir teh yang dipegangnya ikut bergetar hingga membentur tatakannya dan menimbulkan bunyi.

Dengan hati-hati Cedric mengambil cangkir itu dari tangannya lalu meletakkannya di atas meja.

Gadis itu memandangnya dengan wajah pucat.

Di wajahnya bukan hanya tampak kemarahan, tetapi juga rasa jijik dan kebencian.

Cedric hanya ingin membeli permata itu.

Namun ekspresi gadis tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa terdapat kisah di balik permata itu.

"Permata itu sudah tidak ada di rumah kami."

"Dijual kepada siapa?"

Setelah berpikir sejenak, gadis itu bangkit lalu pergi ke ruang kerja.

Tingkah lakunya begitu tidak biasa hingga Cedric dan Freyl saling berpandangan.

Tak lama kemudian ia kembali sambil membawa sebuah map dokumen.

"Ini adalah kontrak pengalihan kepemilikan Saintess Olga's Heart."

Ia menyerahkan kontrak itu kepada Cedric.

Nama pembeli yang tercantum di dalam kontrak adalah Baron Yetz.

"Ini adalah surat sanggup bayar yang diterbitkan Baron ketika kontrak tersebut dibuat."

Ia juga menyerahkan surat sanggup bayar itu.

Tanggal yang tertera menunjukkan bahwa dokumen tersebut dibuat tujuh tahun yang lalu.

"Dan sisanya adalah balasan atas surat-surat yang ayahku kirimkan untuk menagih pembayaran surat sanggup bayar itu. Selama tujuh tahun ayahku terus mengirim surat, tetapi hanya menerima sekitar sepuluh balasan. Dalam semuanya, Baron hanya meminta penundaan pembayaran."

Gadis itu menggertakkan giginya lalu berkata,

"Dalam surat terakhirnya, Baron menulis, 'Aku akan membayarnya jika memang sudah waktunya. Apa kau tidak percaya kepadaku?'"

Sudah jelas apa yang telah terjadi.

Bangsawan itu sengaja menunda pembayaran.

Ia memang dengan sengaja mengabaikan mereka.

Baron Yetz pada hakikatnya telah mencuri berlian tersebut hanya dengan selembar kertas yang ditandatangani atas namanya sendiri.

Sebenarnya, hal semacam ini bukan sesuatu yang langka.

Setelah meneliti kontrak itu, Freyl berkata,

"Menurut kontrak ini, hak kepemilikan atas berlian tersebut baru akan berpindah setelah surat sanggup bayar itu dilunasi."

"Benar. Klausul itu sengaja dibuat untuk mencegah penipuan."

"Seandainya kalian mengajukan gugatan, kalian pasti akan menang."

Gadis itu terisak.

"Bagaimana mungkin kami melakukannya? Berlian itu telah dihadiahkan kepada Marchioness Camellia."

Cedric dan Freyl kembali saling berpandangan.

Marchioness Camellia adalah saudari ipar Grand Duke Roygar.

Chapter 23 Saintess Olga’s Heart (4)

Semua orang mengetahui bahwa Grand Duchess Roygar mematuhi kakak perempuannya, Marchioness Camellia, seolah-olah wanita itu adalah ibunya sendiri.

Marchioness Camellia juga merupakan pendukung paling setia Grand Duchy Roygar.

Baik Cedric maupun Freyl sama sekali tidak menyangka nama wanita itu akan terseret dalam perkara ini.

Gadis itu menundukkan kepala, lalu menangis tersedu-sedu.

"Ayahku menginvestasikan hampir seluruh hartanya demi Saintess Olga's Heart. Beliau sama sekali tidak memikirkan keuntungan ekonomi. Bagi seorang perhiasan, dapat mempelajari sebuah permata bersejarah saja sudah merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi kariernya. Namun pada akhirnya, yang tersisa hanyalah selembar kertas yang telah memudar warnanya."

Walaupun White memegang kontrak yang telah ditandatangani beserta surat sanggup bayar, ia tidak akan pernah membawa perkara itu ke pengadilan.

Hakim mana yang berani memutuskan perkara demi seorang rakyat biasa dengan menentang Marchioness Camellia?

"Karena itu, ayahku bangkrut. Beliau bekerja begitu keras hingga akhirnya tumbang dan meninggal secara mendadak. Orang-orang itulah yang membunuh ayahku."

Ia mengeluh demikian, tetapi sama sekali tidak mengharapkan Cedric melakukan sesuatu.

Siapa yang mau memusuhi seorang bangsawan berpangkat tinggi demi seseorang yang baru saja dikenalnya?

Terlebih lagi, seorang bangsawan demi seorang rakyat biasa.

Ia menceritakan semua itu hanya karena ingin mencurahkan isi hatinya kepada seseorang.

Selama ini, ia merasa begitu kesepian dan tak berdaya.

Cedric memahami perasaannya.

Karena itulah, ia menunggu tanpa mengucapkan sepatah kata pun hingga gadis itu berhenti menangis.

Kemudian ia menyerahkan uang senilai nominal surat sanggup bayar tersebut beserta bunganya, bahkan ditambah sedikit sebagai bentuk ganti rugi.

"Sekarang benda itu tidak lebih dari selembar kertas belaka. Kami memilih untuk tidak membakarnya karena ayahku tidak pernah menyerah pada harapan."

"Wajar jika Tuan White tidak sanggup melakukan itu."

Namun, Cedric berada dalam posisi yang berbeda.

Tidak ada pengadilan yang berani menyangkal ataupun meragukan dokumen yang kini berada di tangannya.

Dengan mata yang masih dipenuhi air mata, gadis itu menandatangani kontrak penjualan.

Sejak saat itu, hak kepemilikan atas Saintess Olga's Heart resmi berpindah kepadanya.

Setelah mengucapkan beberapa kata penghiburan, keduanya pun meninggalkan rumah White.


Cedric terlebih dahulu kembali ke kediaman keluarga Evron di ibu kota karena hari sudah terlalu larut untuk kembali ke perkemahan militer.

Ia melepaskan mantel luarnya dan menyerahkannya kepada seorang pelayan, lalu menyandarkan tubuh pada kursi berlengan.

Entah mengapa ia ingin meminum minuman keras.

Seolah memahami keinginannya, Freyl mengambil sebotol brendi dan sebuah gelas dari rak.

Tak lama kemudian ia menuangkannya.

Cedric menerima gelas brendi yang disodorkan Freyl.

"Menarik."

Itulah kata pertama yang diucapkan Freyl.

"Menarik?"

"Semula aku mengira Lady Artizea hanya menginginkan sebuah permata yang berharga sebagai hadiah lamaran. Aku tidak pernah menyangka semua ini berkaitan dengan Grand Duke Roygar. Sekarang aku mengerti mengapa Yang Mulia berkata bahwa Lady Artizea berbeda dari Miraila."

Beberapa jam sebelumnya, ia masih menyebut Artizea sebagai putri Miraila.

Namun kini tampaknya pendapatnya telah berubah.

"Aku sendiri pun tidak memikirkannya."

"Lalu apa yang harus kita lakukan? Lady Artizea telah memberi Yang Mulia alasan untuk berhadapan dengan Marchioness Camellia. Jika kita menuntut pengembalian berlian itu, kita dapat menghancurkan reputasi Marquisate Camellia."

Cedric memandang Freyl dengan ekspresi samar.

Freyl berbicara penuh semangat.

"Seorang pedagang jujur bangkrut lalu meninggal setelah ditipu saat menjual sebuah permata, meninggalkan putri-putrinya seorang diri. Ini akan menjadi skandal besar. Terlebih lagi jika terungkap ketika Yang Mulia sedang mencari hadiah lamaran."

"Aku tidak berniat menyeret Keluarga White ke hadapan publik hanya demi mencoreng nama Marchioness Camellia. Apa gunanya memulai perselisihan yang justru akan melibatkan putri-putrinya?"

Bukan hanya Marchioness Camellia.

Artizea maupun putri-putri Tuan White juga akan terseret ke dalam skandal itu.

Memang, banyak orang akan bersimpati kepada putri-putri Tuan White.

Namun mereka tetap akan terluka.

Skandal seperti ini bukan sesuatu yang dapat dihadapi oleh rakyat biasa.

Bahkan Artizea pun akan menerima kecaman keras.

Orang-orang akan menyebarkan desas-desus bahwa putri Miraila begitu tamak hingga menginginkan berlian yang sangat mewah.

"Jika memang harus seperti itu, lebih baik aku tidak mendapatkan berlian tersebut."

"Tetapi, Yang Mulia—"

"Setidaknya kupikir kaulah yang akan mengatakan bahwa hadiah berharga lainnya pun sudah cukup."

"Keadaannya sekarang berbeda. Itu bukan sekadar permata pusaka keluarga, melainkan pusaka dari keluarga yang telah punah setelah Viscountess Fischer, dayang Permaisuri, bunuh diri. Seandainya Marchioness Camellia tidak memiliki hubungan dengan perkara ini, beliau pasti sudah memamerkan permata itu hingga tidak ada seorang pun di kalangan bangsawan yang tidak mengetahuinya."

Bahkan perhiasan Odorov pun tidak mengetahui bahwa Marchioness Camellia memiliki permata tersebut.

Dan sekalipun ia mengetahuinya, karena hal itu bukan informasi yang diketahui umum, tentu ia tidak akan berani membicarakannya.

Dengan kata lain, Marchioness sengaja menyembunyikan permata itu.

"Kalau bukan hadiah, berarti itu suap."

Cedric menghela napas.

"Apa bedanya apakah itu hadiah atau suap? Paman Roygar mencintai uang dan tidak pernah malu mengejar kekayaan. Bukan rahasia lagi bahwa Paman Roygar menerima suap, begitu pula orang-orang di sekitarnya. Apa Paman Roygar akan memusuhi Marchioness Camellia hanya karena menerima suap? Menurutku tidak."

"Kalau begitu, Baron itu memang seorang yang licik."

Freyl berkata dengan penuh keyakinan.

"..."

Cedric menggoyangkan gelas di tangannya lalu terdiam beberapa saat.

Pikirannya benar-benar kacau.

Jika ia ingin mendapatkan kembali permata itu, ia hanya perlu mengajukan gugatan.

Setelah itu, mereka bisa berunding secara diam-diam.

Kemungkinan besar, setelah kedua belah pihak mempertimbangkan untung ruginya, kesepakatan mengenai berlian itu dapat tercapai.

Namun...

Benarkah itu yang diinginkan Artizea?

Apakah ia menyebut nama Marchioness Camellia karena memang tidak mengetahui siapa pemilik berlian yang diinginkannya?

Cedric tidak mempercayainya.

「Ya. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi Anda memahami orang seperti apa diri saya.... Jika setelah mendapatkan Saintess Olga's Heart Anda tidak mengubah keputusan, lamar saya dengan begitu megah hingga seluruh orang membicarakannya.」

Meskipun Artizea berkata demikian, bagi Cedric justru sebaliknya.

Ia merasa Artizea sedang mengujinya.

Seolah-olah wanita itu sengaja memberinya persoalan yang sulit untuk melihat bagaimana ia akan menyelesaikannya.

"Ini mengingatkanku pada sebuah kisah lama."

"Kisah lama?"

"Kisah tentang seorang putri cantik dari Timur yang mengajukan tiga teka-teki kepada siapa pun yang ingin menikahinya."

"Ah, kisah itu. Yang ratusan orang gagal memecahkannya."

"Pada akhirnya, seorang pengembara muda berhasil memecahkan ketiga teka-teki itu dengan kecerdasannya lalu menikahi sang putri, bukan?"

"Ya, aku ingat."

Cedric berharap inilah satu-satunya teka-teki yang harus ia pecahkan.

Kalau dipikir-pikir lagi, perkataan Lady Artizea memang tidak sepenuhnya keliru. Setidaknya aku kini memahami bahwa ia adalah seseorang dengan jalan pikiran yang sangat rumit. Selain itu, meskipun berada di posisi paling rendah di Marquisate Rosan, ia mampu mengumpulkan informasi yang begitu berharga.

"Mari kita susun kembali semuanya. Lady Artizea meminta Saintess Olga's Heart. Secara resmi, berlian itu kini berada di tangan Baron Yetz. Mari kita cari tahu lebih banyak tentang Baron Yetz."

ujar Freyl.

Cedric kembali tenggelam dalam pikirannya sambil memutar gelas di tangan, sementara Freyl menyuruh kepala pelayan mengambil daftar silsilah kaum bangsawan.

Tujuan sebenarnya Artizea bukanlah berlian itu.

Apakah ini sebuah langkah strategis untuk masa depan?

Namun menciptakan skandal demi menjatuhkan Marchioness Camellia tidak akan memberikan hasil yang berarti.

Itu baru masuk akal jika ia memiliki dendam pribadi terhadap Marchioness, atau bila tujuannya adalah menciptakan pertikaian kekuasaan di kalangan bangsawan.

Tetapi hal itu masih belum cukup untuk mengguncang faksi Grand Duke Roygar.

Lagipula, saat ini masih terlalu dini bagi Cedric untuk berhadapan langsung dengan Grand Duke Roygar.

Yang jauh lebih penting sekarang adalah membuat kehadirannya di panggung politik pusat mulai diperhitungkan.

Ketika ia masih tenggelam dalam lamunannya, Freyl membuka daftar bangsawan itu lalu berkata,

"Ini dia, Baron Yetz. Gelar aslinya adalah Baron Rand. Ia mewarisi keluarga itu setelah menikahi pewaris Baron tersebut, lalu mengganti nama keluarganya menjadi nama keluarganya sendiri. Dengan kata lain, ia membeli gelar itu."

"Berarti dia pasti sangat kaya."

Di Kekaisaran Crates, secara resmi gelar bangsawan tidak dapat diperjualbelikan.

Namun, dengan menikahi pewaris sebuah keluarga bangsawan yang telah jatuh, pasangan tersebut dapat memperoleh gelar keluarga itu.

Kemudian, beberapa tahun setelahnya, jika pasangan tersebut menceraikan sang pewaris dengan membayar kompensasi yang sangat besar, kepala keluarga pun akan berganti.

Itulah cara yang lazim digunakan untuk memperjualbelikan gelar secara terselubung.

"Baron Yetz?"

Salah seorang Kesatria pengawal yang sejak tadi berdiri tanpa berkata apa-apa tiba-tiba bersuara sambil membelalakkan mata.

"Kenapa? Danny, apakah kau mengetahui sesuatu?"

"Baron Yetz yang menikahi putri Baron Rand adalah pemilik sebuah kasino. Ia memiliki sebuah kasino besar di Jalan Fontin, dan sekitar empat kasino lainnya hanya di ibu kota."

"Sungguh luar biasa seorang bangsawan terlibat langsung dalam bisnis kasino."

Freyl memiringkan kepala lalu menatap Kesatria itu.

"Danny, dari mana kau tahu semua itu? Jangan-jangan kau pernah berjudi?"

"Tentu saja tidak!"

Danny buru-buru menggeleng.

"Sama sekali tidak. Adikku memang agak bodoh, jadi dia beberapa kali berutang di Kasino Yetz. Aku mengetahui semua itu karena beberapa kali membantu melunasi utangnya. Kalau itu hanya kasino ilegal biasa, pasti sudah kububarkan."

"Atau mungkin kau memang pernah mencoba membubarkannya, tetapi ternyata orang yang berada di belakangnya jauh lebih berkuasa daripada yang kau duga."

kata Freyl dengan tenang sambil menatap Danny penuh curiga.

"Kau tidak menggunakan nama Grand Duke Evron selama proses itu, bukan?"

"Bagaimana mungkin kau berpikir seperti itu tentangku?"

Danny tampak tersinggung.

Namun tampaknya ia memang sempat menggunakan nama Grand Duke sampai taraf tertentu.

Cedric menggeleng.

"Tidak apa-apa. Yang terpenting sekarang adalah Baron Yetz merupakan pemilik kasino. Kurasa aku baru saja memahami di mana letak persoalannya. Kemungkinan besar, itu adalah salah satu sumber pemasukan tetap Paman Roygar."

"Lalu apa yang akan Yang Mulia lakukan?"

"Menurutmu apa yang akan kulakukan?"

Freyl terdiam sejenak sebelum menjawab,

"Seorang warga yang jujur telah ditipu oleh pemilik kasino hingga meninggal dunia. Seandainya Yang Mulia tidak mengetahui kejadian ini, tentu tidak ada yang bisa dilakukan. Namun sekarang Yang Mulia sudah mengetahuinya. Anda bukan orang yang akan membiarkan perkara seperti ini berlalu begitu saja."

"Benar. Aku tidak bisa membiarkannya."

Cedric berdiri.

Ia masih belum mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan Artizea.

Karena itu, daripada mencoba memberikan jawaban yang menurutnya akan memuaskan Artizea, ia memilih bertindak sesuai caranya sendiri.

Ia ingin melihat bagaimana semua ini akan berakhir.

Berdiri di samping Cedric, Freyl bertanya,

"Apakah Yang Mulia ingin pergi sekarang?"

"Bukankah sekarang justru waktu yang paling tepat untuk mengunjungi kasino?"

"Benar."

Freyl tersenyum tipis.

"Aku akan menyiapkan para Kesatria."

Setelah berkata demikian, ia segera melangkah pergi.

Cedric menghabiskan gelas brendinya perlahan sebelum meninggalkan ruangan.

Namun pikirannya tak mampu berhenti memikirkan Artizea.

Chapter 24 Saintess Olga’s Heart (5)

Kasino milik Baron Yetz di Jalan Fontai merupakan tempat yang paling megah, sekaligus paling vulgar di ibu kota.

Pilar-pilar di pintu masuknya dibalut dengan lembaran emas, sementara berbagai karya seni yang memikat ditata di aula utama tanpa susunan yang jelas.

Permadani yang membentang di seluruh lantai terbuat dari kain yang sangat mahal, diimpor dari wilayah Selatan. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya lilin, berkilauan cemerlang bahkan di tengah malam.

Itulah strategi Baron Yetz, menghamburkan uang hingga tampak mencolok.

Bagaimanapun mewahnya dekorasi bagian dalam, kesan yang tertinggal hanyalah bahwa seorang rakyat jelata rendahan telah membeli gelar bangsawannya dengan uang.

Karena itu, lebih baik ia memamerkan betapa melimpahnya kekayaan yang dimilikinya.

Suara para tamu bertopeng yang bersorak ketika memainkan kartu atau melempar dadu terdengar memenuhi ruangan.

Pria dan wanita berpakaian setengah telanjang yang membawa piala-piala emas meluncur di antara keramaian bagaikan ikan.

Baron Yetz sangat puas dengan keberuntungan hari itu.

Usahanya sedang berkembang pesat.

Ketika ia selesai melakukan pemeriksaan rutin dan hendak pergi, sekretarisnya tiba-tiba berlari menghampirinya dengan wajah panik.

Semua orang yang berada di sana memandang sekretaris itu, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

"Apa yang sudah kukatakan, bodoh? Kalau kau menerobos masuk ke aula utama seperti ini, para tamu tidak akan bisa berkonsentrasi bermain..."

"Sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu! Kita dalam masalah!"

"Dalam masalah?"

"Grand Duke Evron datang! Membawa dokumen kepemilikan Saintess Olga's Heart!"

Tentu saja Baron Yetz mengenal siapa Grand Duke Evron.

Namun ia kebingungan dan sesaat tidak dapat memahami maksud perkataan sekretarisnya.

Tak pernah sekalipun ia membayangkan Grand Duke Evron sendiri akan datang ke kasinonya.

Selain itu, persoalan Saintess Olga's Heart telah terjadi begitu lama sehingga ia membutuhkan beberapa saat untuk memahami makna di balik ucapan sekretarisnya.

Namun tak lama kemudian, ia mengerti situasinya dan buru-buru menuju ruang kerjanya.

Udara dingin menyelimuti ruang kerja itu bagaikan bilah pedang yang tajam.

Baron Yetz ragu-ragu ketika memasuki ruangan.

Tujuh orang Kesatria telah menguasai seluruh ruang kerja tersebut.

Para Kesatria Grand Duke Evron memiliki disiplin militer yang ketat serta semangat yang luar biasa.

Mereka semua masih muda sehingga seharusnya mudah terbawa oleh suasana kasino yang riuh dan penuh kemewahan itu.

Namun tidak seorang pun kehilangan ketenangannya.

Grand Duke Evron duduk di sebuah kursi berlengan dengan raut wajah yang jelas-jelas tidak senang.

"Salam hormat, Grand Duke Evron. Kehormatan besar bagi tempat yang sederhana dan tidak berarti ini karena Yang Mulia sudi berkunjung."

"Duduk."

kata Cedric dengan tegas.

Ia tidak menyukai suasana kasino itu.

Karena itu, menggunakan kekuasaannya tanpa terlalu memedulikan prosedur bukanlah sesuatu yang menurutnya keliru.

「Yang Mulia harus menggunakan kekuasaan Anda. Anda bebas mengarahkannya ke mana pun yang Anda inginkan. Apa yang dilakukan Baron Yetz hanyalah setetes air dibandingkan semua perbuatannya selama ini.」

Freyl pernah berkata demikian sambil mendengus.

Baron Yetz duduk dengan hati-hati sambil merapatkan kedua kakinya.

Cedric melemparkan dokumen itu kepadanya.

Cedric menunggu hingga Baron Yetz memeriksa dokumen tersebut dengan tangan gemetar, lalu berkata,

"Aku telah memperoleh hak kepemilikan atas Saintess Olga's Heart. Karena selama tujuh tahun kau tidak pernah membayarnya, kurasa kau sudah tidak memiliki hak apa pun untuk mengajukan keberatan."

"I-Itu..."

"Aku akan menggeledah tempat ini untuk menemukannya, sekaligus memeriksa buku-buku pembukuanmu."

Cedric menyatakan hal itu dengan wibawa yang menggentarkan.

"Apa?"

Baron Yetz bertanya secara refleks.

Namun para Kesatria tidak menunggu lebih lama lagi.

Begitu Cedric memberi isyarat dengan tangannya, mereka segera mulai menggeledah ruang kerja itu dengan gerakan yang tertata sempurna.

Baron Yetz terkejut dan berusaha bangkit.

Namun sebelum sempat berdiri, seorang Kesatria yang berada di belakangnya telah menekan bahunya dan memaksanya duduk kembali.

Tiba-tiba terdengar jeritan dari luar.

Tujuh Kesatria di ruang kerja itu bukanlah satu-satunya yang dibawa Cedric.

Puluhan Kesatria telah menguasai seluruh area administrasi kasino secara bersamaan.

Para penjaga Baron Yetz mencoba melawan, tetapi dalam waktu singkat mereka berhasil ditundukkan.

Tentu saja, tidak mungkin para preman biasa mampu melawan Kesatria sungguhan.

Memang area tempat para tamu berada belum dikuasai.

Namun keributan sebesar itu mustahil tidak terdengar hingga ke luar.

Para tamu yang ketakutan berlarian meninggalkan kasino.

Salah seorang pegawai bergegas menuju ruang kerja untuk melaporkan keadaan, tetapi para Kesatria segera menangkapnya dan memaksanya berlutut.

"Bahkan Yang Mulia pun tidak berhak melakukan hal seperti ini di tempat usahaku!"

teriak Baron Yetz dengan suara yang hampir menangis.

Cedric menjawab tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya,

"Kantor Keamanan Umum tidak akan keberatan apabila aku menggeledah kantor sebuah kasino yang tampaknya melakukan tindakan ilegal. Atau... tidak perlu sampai sejauh itu jika kau bersedia menyerahkan permata tersebut?"

Cedric bertanya demikian meskipun ia tahu Baron Yetz tidak memilikinya.

Akankah Baron itu menyebut nama Marchioness Camellia?

Jika demikian, Cedric akan melakukan apa pun yang diperlukan agar Baron Yetz bersedia menemaninya menemui Marchioness Camellia.

Namun kemungkinan Baron Yetz menyebut nama wanita itu sangatlah kecil.

Butiran keringat mulai muncul di wajah Baron Yetz.

Seperti yang diduga, ia mencoba mencari alasan.

"... Baiklah, jika Yang Mulia bersedia menunggu sebentar, aku akan mengambilnya."

"Para Kesatria di sini bisa langsung mengambilnya. Kau hanya perlu mengatakan di mana benda itu berada."

"Berilah aku waktu sampai besok."

"Bagaimana aku bisa memercayaimu? Orang yang mengambil milik orang lain lalu tidak membayarnya selama tujuh tahun sama sekali tidak memiliki kredibilitas, bukan begitu?"

kata Cedric dengan dingin.

"Jika dengan kekuasaanmu sendiri kau telah menipu seorang pedagang yang jujur dan merampas berlian yang menjadi tempat ia menginvestasikan hampir seluruh hartanya, maka dapat dipastikan kau juga pernah melakukan hal serupa terhadap orang lain. Aku akan membuktikannya."

"Ugh..."

"Kalau kau memiliki keberatan, katakan saja di mana berlian itu berada."

Cedric mengucapkannya dengan sopan.

Namun itu merupakan ancaman sepenuhnya.

Baron Yetz tidak mampu berkata apa-apa.

Ia sama sekali tidak memiliki jalan keluar.

Kedudukan Grand Duke Evron terlalu tinggi baginya untuk diabaikan ataupun dilawan.

Seandainya yang datang hanyalah bangsawan berpangkat rendah, ia pasti sudah menggunakan nama Marchioness Camellia sebagai tameng.

Namun Marchioness Camellia tidak akan pernah memaafkan Baron Yetz jika ia berani memakai namanya untuk menghadapi Grand Duke Evron.

Pilihan lainnya adalah berpura-pura bahwa dokumen milik Tuan White sudah tidak berlaku lagi.

Namun risikonya terlalu besar.

Di salah satu arsip rahasia terdapat dokumen yang telah dipalsukan.

Akan tetapi, ia tidak mungkin membuka arsip-arsip itu di hadapan orang lain.

Bertahun-tahun lalu ia menyimpan dokumen tersebut bersama berbagai dokumen palsu lainnya, tanpa pernah membayangkan keadaan seperti ini akan terjadi.

Selain itu, Grand Duke Evron memegang dokumen asli.

Karena itu, tidak akan sulit baginya untuk membuktikan bahwa dokumen palsu tersebut tidak sah.

Pengadilan pun pasti akan berpihak kepada Grand Duke Evron tanpa syarat.

Bahkan, hal itu dapat memancing kemarahan Marchioness Camellia karena telah menyeretnya ke dalam persoalan yang merepotkan.

Para Kesatria membongkar seluruh ruang kerja itu.

Mereka berhasil menemukan kotak-kotak arsip tersembunyi beserta brankasnya.

Sekretaris Baron Yetz yang ketakutan menyerahkan kuncinya.

Dengan adanya kunci tersebut, mereka tidak perlu lagi mendobrak brankas.

Baron Yetz menundukkan kepala dan mencoba jalan terakhirnya.

"Yang Mulia, aku memiliki berlian biru yang bahkan jauh lebih megah dan indah. Aku akan memberikannya kepada Anda sebagai gantinya..."

"Sayang sekali. Aku benar-benar membutuhkan Saintess Olga's Heart. Wanita itu secara khusus memintaku menghadiahkannya sebagai hadiah. Tentu aku tidak boleh memberinya permata lain, bukan?"

Wajah Baron Yetz seketika memucat.

Ia menyadari bahwa satu-satunya wanita yang memiliki kedudukan cukup tinggi untuk menerima Saintess Olga's Heart sebagai hadiah dari Grand Duke Evron hanyalah Permaisuri.

Ia benar-benar berada di jalan buntu.

Seberapa keras pun ia berpikir, ia tidak menemukan jalan keluar.

Dan jika mereka menemukan apa yang berada di ruang bawah tanah...

Cedric mengalihkan pandangannya dari Baron Yetz.

Baron Yetz adalah manusia yang hina.

Menghancurkan ruang kerja orang seperti ini bukanlah sesuatu yang perlu disesali.

Lagipula, ia sudah berjanji kepada Freyl bahwa kali ini ia akan mengabaikan prosedur.

Namun demikian, Cedric tetap tidak menyukai penggunaan dalih demi menindas orang lain dengan kekuasaan.

Tepat ketika ia sedang memikirkan hal itu—

Salah seorang Kesatria bergegas datang lalu berlutut di hadapannya.

"Yang Mulia, ada sebuah penjara bawah tanah di ruang bawah tanah. Menurutku Yang Mulia harus melihatnya sendiri."

"Ada apa dengan tempat itu?"

Cedric bertanya dengan heran.

Sebagian besar kediaman bangsawan setidaknya memiliki sebuah penjara kecil.

Justru akan terasa aneh apabila kasino yang dipenuhi preman ini tidak memilikinya.

Namun sikap Kesatria itu terasa tidak biasa.

Cedric pun berdiri dan mengikuti Kesatria tersebut menuju ruang bawah tanah.

Sesampainya di sana, napasnya tertahan.

Yang terbentang di hadapannya bukanlah sebuah penjara kecil yang hanya mampu menahan tiga atau empat orang.

Melainkan sebuah kamp tahanan yang mampu menampung lebih dari seratus orang.

Di dalamnya, puluhan anak laki-laki dan perempuan tanpa busana dirantai satu per satu.

Perdagangan manusia.


"Meskipun hukum Kekaisaran kini hanya ada sekadar sebagai formalitas, bukan berarti negara ini sudah tidak memiliki supremasi hukum."

kata Artizea dengan tenang sambil memegang cangkir tehnya.

Teh itu memiliki aroma yang sangat harum.

Namun bagi Artizea, teh tersebut terasa agak berat diminum pada tengah malam karena mengandung sedikit buah pinang yang tidak cocok dengan tubuhnya yang lemah.

Tetapi ia tidak mungkin menolaknya karena teh itu disuguhkan langsung oleh Marchioness Camellia.

Ia tidak memiliki pilihan selain meminumnya.

"Meskipun Kaisar bertindak sesuka hatinya, beliau tetap takut membangkitkan kemarahan rakyat, meskipun tidak pernah mengatakannya secara terbuka. Beliau sangat terobsesi pada legitimasi dan kekuasaan."

"..."

"Aku pernah membaca bahwa pengalaman yang dialami seorang Putra Mahkota akan memengaruhi seluruh masa pemerintahannya, dan menurutku itu benar."

"Apa maksud Lady Artizea?"

"Perjudian dapat diterima. Narkotika dapat diterima. Suap dapat diterima. Bahkan kekerasan pun dapat diterima. Rakyat tidak memedulikannya karena bagi mereka itulah perilaku khas kaum bangsawan."

Artizea melanjutkan,

"Namun menyakiti anak-anak kecil akan membangkitkan kemarahan rakyat. Yang Mulia Kaisar juga akan murka. Sekalipun kemarahan itu hanya sandiwara demi meredam gejolak opini publik."

"Apakah Lady sedang mencoba mengancamku?"

"Aku hanya mengatakan bahwa demi Grand Duke Roygar, memutuskan hubungan itu akan menjadi pilihan yang paling menguntungkan bagi Anda, Marchioness Camellia."

Artizea menatapnya lurus dengan kedua mata pirusnya.

Chapter 25 Saintess Olga’s Heart (6)

Marchioness Camellia perlahan mengangkat cangkir tehnya untuk menyembunyikan raut wajahnya.

Dilihat dari lamanya jeda sebelum ia mengucapkan kalimat berikutnya, jelas bahwa begitu banyak hal telah melintas di benaknya.

Namun, Marchioness Camellia tidak kehilangan ketenangannya.

"Aku tidak mengerti apa yang sedang Lady bicarakan. Apakah Lady mengira Grand Duke Roygar memiliki hubungan dengan Baron Yetz?"

ucapnya dengan nada anggun.

Namun pikirannya masih dipenuhi kekacauan.

Baron Yetz merupakan salah satu sumber pendanaan terpenting bagi Grand Duke Roygar.

Meski demikian, hal itu tidak berarti ia memegang peranan penting dalam faksi Grand Duke Roygar.

Ia hanya menyetorkan uang dalam jumlah besar sebagai imbalan atas berbagai keuntungan tertentu.

Hal itu dimungkinkan karena Direktur Keamanan Umum dan Menteri Keuangan merupakan orang-orang dari faksi Grand Duke Roygar sekaligus pejabat-pejabat penting.

Hubungan itu bukanlah hubungan yang dibangun atas dasar kesetiaan.

Karena itu, berakhirnya hubungan tersebut bukanlah masalah.

Yang terbaik tentu saja memutuskan seluruh hubungan dengan Baron Yetz.

Terlebih jika benar Cedric telah memperoleh buku-buku pembukuannya.

Kini setelah Cedric ikut campur, tidak ada lagi kemungkinan persoalan itu diselesaikan secara diam-diam melalui negosiasi di balik layar atau kesepakatan politik.

Karena putri-putri Tuan White dan permata itu berkaitan dengan perkara ini, surat kabar pasti akan membuat kehebohan besar.

Kaisar akan memilih mengorbankan seseorang sebagai kambing hitam daripada berusaha meredam kemarahan rakyat dengan kekerasan.

Baron Yetz saja tidak akan cukup untuk memuaskan kemarahan rakyat.

Harus ada seseorang yang memiliki kedudukan lebih tinggi untuk dijadikan tumbal.

Ia harus menghindari menjadi sasaran itu.

Bagaimanapun, satu-satunya hal yang dimiliki Baron Yetz hanyalah uang.

Memang jumlahnya sangat besar, tetapi bukan sesuatu yang tidak tergantikan.

Sekarang bukan waktunya merasa kasihan akan kehilangannya.

Namun, ia juga tidak bisa begitu saja menerima ucapan Artizea.

Ia bertanya-tanya sejauh mana perkataan gadis itu layak dipercaya.

Cedric Evron membenci politik yang dilakukan di balik pintu tertutup.

Marchioness Camellia juga telah mendengar desas-desus bahwa pria itu jatuh cinta kepada Lady Artizea.

Apakah ia benar-benar pria yang bersedia meninggalkan apa yang seharusnya ia lakukan hanya karena permintaan wanita yang dicintainya?

Itu tetap menjadi sebuah teka-teki.

Cedric masih muda.

Ada banyak pria yang baru memperlihatkan sifat sejatinya setelah jatuh cinta.

Meskipun tidak ada jaminan Artizea mampu memutus hubungan antara Grand Duke Roygar dan bisnis Baron Yetz, tidak ada pula jaminan bahwa ia tidak mampu melakukannya.

Artizea meletakkan cangkir tehnya dan menatap Marchioness Camellia.

"Baron Yetz adalah pria yang vulgar. Ia menyuap siapa pun yang dapat memberinya keuntungan. Aku yakin ia telah memberikan hadiah kepada banyak tokoh berpengaruh demi memperoleh perlindungan pada saat-saat seperti ini. Namun, menerima hadiah dari orang seperti itu bukanlah tindakan yang bijaksana."

Artizea tersenyum.

"Seorang Lady dengan kedudukan seperti Anda tentu tidak pernah membayangkan bahwa permata yang diberikan Baron itu diperolehnya dengan cara menipu seorang yang baik hati."

Marchioness Camellia mengusap perlahan bibir cangkir teh dengan ujung jarinya.

Artizea kembali mengangkat cangkir ke bibirnya.

Marchioness Camellia mengamatinya dengan saksama.

Sudut bibir Artizea melengkung lembut.

Matanya bersinar seolah ia sedang menikmati keadaan ini.

Setiap gerak-geriknya anggun dan tenang.

Ia mengenakan gaun berenda, tetapi gaun itu tidak menonjol.

Karena terlalu sering dicuci, gaun itu tampak murah dan usang.

Bahkan lengan bajunya pun sudah terlalu pendek.

Meski usianya masih sangat muda, ia bersikap layaknya seekor rubah tua yang licik di tengah masyarakat bangsawan.

Selama ini, Marchioness Camellia tidak pernah menganggap Artizea berarti.

Putri Miraila.

Seorang gadis malang.

Itulah penilaiannya selama ini terhadap Artizea.

Walaupun ia adalah pewaris Marquisate Rosan, kekuasaan atas wilayah itu tidak pernah berada di tangannya.

Ia memang saudari Lawrence, tetapi bahkan untuk sebuah pernikahan politik pun ia tidak akan berguna.

Sepanjang hidupnya ia hanya akan dihisap Miraila bagaikan parasit.

Dan Lawrence akan berusaha memperoleh kebebasannya dengan menjadikan adiknya sebagai persembahan bagi ibunya yang terobsesi.

Marchioness Camellia selalu membanggakan dirinya sebagai orang yang memahami sifat manusia.

Miraila tidak akan pernah melepaskan putrinya.

Banyak orang tua menganggap anak-anak mereka sebagai alter ego...

atau lebih tepatnya, sebagai milik mereka.

Banyak orang merasakan kenikmatan dengan menyiksa, mengendalikan, dan menyalahgunakan orang lain.

Namun ada perbedaan yang sangat jelas antara memukuli seorang pelayan dan menyiksa anak sendiri.

Tidak ada yang lebih memuaskan hasrat akan kekuasaan dan kepemilikan selain kenikmatan ketika seseorang memukuli anaknya sendiri hingga hampir mati, lalu mendengar tangisan anak itu yang masih merindukan pelukan dan kasih sayangnya.

Melepaskan milik yang telah dijinakkan sedemikian rupa sama sekali tidak memiliki arti.

Karena itulah, Artizea seharusnya bukan seseorang yang perlu dikhawatirkan.

Namun kini, gadis yang duduk di hadapannya bukan lagi gadis malang yang selama ini ia bayangkan.

Melainkan seorang Lady sejati.

Di mata Marchioness Camellia, seolah-olah api berwarna pirus sedang menyala di dalam diri Artizea.

'Sungguh disayangkan kami tidak bertemu lebih awal.'

demikian pikir Marchioness Camellia.

Terkadang persahabatan dapat menjadi lebih kuat daripada cinta.

Namun putrinya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk memperoleh kepercayaan gadis ini.

Lalu bagaimana dengan putranya?

Putranya pasti akan cocok.

Sayangnya, Cedric telah lebih dahulu bertemu dengannya.

Marchioness Camellia bangkit dari tempat duduknya dan meminta Artizea menunggu sebentar.

Tak lama kemudian ia kembali sambil membawa sebuah kotak perhiasan berlapis beludru.

Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian.

Artizea langsung mengenali bahwa permata yang terpasang di bagian tengahnya adalah Saintess Olga's Heart.

"Kalung ini memang dirancang khusus untuk Saintess Olga's Heart. Silakan menerimanya beserta kalungnya."

"Kalau begitu, aku akan membayar bagian kalung yang lainnya."

"Lady Artizea, tidak perlu. Seperti yang Anda ketahui, Anda telah membayar harga yang pantas. Lagi pula, kurasa aku dapat menebak untuk siapa permata ini Anda inginkan."

Marchioness Camellia berbicara dengan suara yang lembut dan penuh kehangatan, seolah sedang mengenang masa lalu.

"Dahulu, ketika aku belum diakui sebagai putri Marquess Kwaimar dan bahkan tidak dianggap sebagai putri seorang bangsawan, Lady yang paling terhormat di kalangan masyarakat bangsawan selalu menghadiri pesta dansa yang sama denganku."

"Ya."

Artizea menjawab dengan hati-hati agar emosinya tidak terlihat.

"Sekarang semuanya berbeda. Suamiku menyayangiku, dan Yang Mulia Grand Duchess Roygar mengakuiku sebagai kakak perempuannya serta mematuhiku. Kini bahkan para bangsawan lainnya pun memandangku dengan penuh hormat."

Marchioness Camellia melanjutkan,

"Pada masa itu, aku bahkan tidak pernah membayangkan dapat menyapa Yang Mulia Permaisuri ataupun berada sedekat itu dengannya. Aku begitu iri ketika beliau memperlakukan sahabatnya dengan penuh kasih sayang dan memuji permata pusaka keluarganya hingga kenangan itu tidak pernah dapat kulupakan."

Artizea memahami alasan Marchioness Camellia mengatakan semua itu.

'Dengan berpura-pura bahwa permata ini akan menjadi hadiah bagi Permaisuri, ia menciptakan kesan seolah permata itu tidak sedang dirampas darinya. Dengan demikian ia dapat menyangkal hubungannya dengan Baron Yetz sekaligus mempertahankan suasana yang menyenangkan. Padahal kenyataannya, ia tidak dapat menerima bahwa permata yang begitu berharga pernah berada di tangan pria vulgar yang bahkan bukan bangsawan sejati.'

"Karena itulah, setelah kenangan masa mudaku berada di tanganku, aku merasa ingin semakin menonjolkan keindahannya. Ini hanyalah langkah sementara karena Patung Saintess Olga telah menghilang dan belum berhasil ditemukan. Oleh sebab itu, untuk sementara permata ini dipasang pada kalung tersebut."

"Aku mengerti."

Artizea menjawab dengan wajar.

Tentu saja, ucapan Marchioness Camellia sama sekali tidak meyakinkan.

Ia bukanlah tipe wanita yang akan menyimpan benda semacam itu hanya sebagai kenangan.

Apabila kekaguman dan kenangannya terhadap Permaisuri benar adanya, berlian itu sudah lama ia persembahkan kepada Yang Mulia.

Artizea menduga bahwa permata ini sesungguhnya merupakan trofi bagi Marchioness Camellia.

Sebuah penghargaan atas masa mudanya ketika ia selalu merasa diremehkan dan kalah dibandingkan Viscountess Fischer.

Kini ia memegang bukti bahwa kedudukannya telah jauh melampaui Viscountess Fischer, dengan pengaruh yang bahkan tidak dapat diabaikan oleh Permaisuri.

Namun menurut Artizea, kehidupan Viscountess Fischer jauh lebih bermakna daripada kehidupan Marchioness Camellia.

Sebab Viscountess Fischer berhasil bertemu dengan tuannya, orang yang ingin ia abdikan sepanjang hidupnya; ia memperoleh kepercayaan sang tuan dan akhirnya mengorbankan nyawanya demi dirinya.

Lalu Marchioness Camellia tersenyum sebelum akhirnya berkata,

"Aku berharap Lady akan menyampaikan perasaanku dengan baik kepada Yang Mulia."

"Akan kuingat itu."

Artizea menerima kotak perhiasan tersebut lalu berdiri.

"Aku mohon maaf telah datang selarut ini. Semoga tangan Dewi Malam menganugerahkan mimpi yang indah kepada Anda."

"Menurutmu, mungkinkah kita menjadi sahabat yang baik? Sering-seringlah berkunjung kemari nanti."

Artizea hanya tersenyum.

Meskipun itu bukan gagasan yang buruk, dirinya dan Marchioness Camellia memang tidak ditakdirkan menjadi sahabat.

Marchioness Camellia menginginkan Grand Duke Roygar naik takhta menjadi Kaisar.

Sebaliknya, suatu hari nanti Artizea akan menjatuhkan Grand Duke Roygar.


Ketika Artizea meninggalkan kediaman Camellia, bulan telah condong ke arah barat dan bintang fajar mulai muncul di langit sebelah timur.

Semuanya telah mulai bergerak.

Kini tidak ada lagi yang dapat menghentikannya.

Ia tidak menuju gerbang utama kediaman Marquisate Rosan, melainkan turun dari kereta di dekat pintu belakang.

Ia tidak ingin seorang pun mengetahui kepergiannya malam ini.

Ia datang menggunakan kereta tanpa lambang keluarga.

Angin malam terasa dingin.

Alphonse menyampirkan sebuah jubah pada bahunya.

"Lise."

Artizea memanggil salah satu dari dua pelayan wanita yang mengikutinya.

Lise Hanson, yang baru tiba di Marquisate Rosan sehari sebelumnya dan masih belum mengetahui peran apa yang akan diembannya, sedikit membungkuk dan menjawab,

"Ya, Milady."

"Kakekmu saat ini sedang berada di Grand Duchy Evron, bukan? Apakah kerabatmu yang lain juga berada di sana?"

"Tidak, tetapi pamanku berada di ibu kota."

Itulah jawaban yang telah diminta Marcus agar ia sampaikan apabila Artizea menanyakannya.

"Begitu."

Artizea menganggukkan kepalanya.

Barangkali itu berarti bahwa putra sulung Marcus, bukan Marcus sendiri, yang memiliki sarana untuk menghubungi kerabat-kerabat mereka.

Ia mengeluarkan sepucuk surat dari balik dadanya.

"Kalau begitu, pergilah menemui pamanmu dan serahkan surat ini kepadanya. Itu akan menjadi cara yang paling baik."

Mengirim surat ke Grand Duchy Evron larut malam sangatlah berisiko.

Karena itu, inilah pilihan terbaik untuk saat ini.

Kembalinya Keluarga Hanson ke Marquisate Rosan masih harus dipersiapkan secara diam-diam.

"Jangan khawatir. Yang perlu kaulakukan hanyalah menyerahkan surat ini. Kakekmu dan pamanmu yang akan memutuskan hal-hal penting."

"Aku mengerti."

"Naiklah ke kereta ini. Sudah terlalu larut bagimu untuk mencari kereta lain. Setelah menyerahkan surat itu, kau boleh mengunjungi kakekmu sebelum kembali. Hanya saja, usahakan agar para pelayan lain tidak menaruh perhatian kepadamu."

"Ya. Terima kasih."

Setelah menerima surat itu, Lise menyimpannya di balik dadanya lalu membungkuk hormat kepada Artizea.

Tak lama kemudian, kereta itu pun menghilang.

Artizea melangkah memasuki kediaman.

Akhirnya ia telah menyelesaikan seluruh persiapan untuk mengambil alih Marquisate Rosan.

 

Nunaaluuu Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review