Chapter 201-225

Chapter 201

Keesokan harinya, saat aku bangun dari tempat tidur dan menggaruk kepala dengan perasaan kosong, ponselku mulai berdering di sudut kamar. Bagaimana aku bisa pulang ke rumah? Seperti orang yang pingsan karena mabuk, tak ada apa pun yang terlintas di benakku, jadi aku hanya duduk diam sambil memeras otak. Tak lama kemudian, ingatan tentang kemarin muncul satu per satu ke permukaan.

“Jadi… begitu ya kejadiannya,” gumamku, menurunkan kedua tanganku dari rambutku yang berantakan.

Aku ikut uji nyali dan terjatuh ke dunia aneh bersama Jooin… lalu pria tanpa wajah itu, rasa bersalah…

“Aku berjanji tak akan membiarkanmu sendirian di dunia itu.”

Suaranya menghantam kepalaku seperti rintik hujan.

Sesaat aku tersenyum pelan tanpa menatap ke mana pun, lalu membuka ponsel lipatku. Hal pertama yang kulihat adalah pesan dari Eun Jiho.

Pengirim: Eun Ji-goddamn-ho
Kau pingsan, ya?

Itu sudah cukup untuk memahami keseluruhan situasi. Syukurlah, aku berhasil pingsan di depan anak-anak setelah menahan diri agar tak tumbang di dunia lain. “Um, ya, kerja bagus,” aku mengangguk kecil.

Aku bukan tokoh utama film thriller atau horor, jadi bukankah sudah luar biasa bisa menahan rasa takut setelah berhadapan dengan pria tanpa wajah itu dan kembali ke dunia ini? Tak ada alasan untuk berpikir, ‘Bagaimana bisa aku pingsan padahal aku bukan protagonis perempuan seperti Ban Yeo Ryung?’ atau merasa bersalah.

Sepertinya anak-anak tak sampai membawaku ke rumah sakit saat aku pingsan. Mungkin Jooin menjelaskan dengan baik pada mereka tentang kondisiku… misalnya aku melihat sesuatu yang mengerikan.

Sambil memikirkan itu, aku menggulir pesan satu per satu, lalu berhenti saat melihat pesan dari Yoon Jung In.

Pengirim: Yoon Jung In
BAHAHAHA Gimana caranya sih? Anak-anak cewek Kelas 1-1 bilang kau tiba-tiba muncul entah dari mana lol Katanya kau bikin mereka ketakutan setengah mati. Kayaknya mereka nggak bakal gangguin kau lagi, jadi happy ending dong?

Pengirim: Kim Hye Hill
Yoon Jung In semangat banget EWWW

Pengirim: Kim Hye Woo
Setuju.

Benar-benar tipikal si kembar, membuatku terkikik membaca percakapan mereka. Aku menutup ponsel, tapi segera membukanya lagi saat melihat nomor Yoo Chun Young.

Ragu sejenak, aku menekan tombol panggil, menarik lututku ke dada, lalu menyelimuti keduanya dengan selimut. Sambil memeluk kakiku yang terbungkus selimut, aku menunggu bunyi sambung berakhir sambil mendongak ke langit-langit.

‘Jam sebelas malam… apa terlalu larut untuk menelepon?’ pikirku, dan tak lama kemudian terdengar suara di seberang.

[Ham Dan Yi?]

“Yoo Chun Young,” jawabku sambil terkikik tiba-tiba.

Mungkin Yoo Chun Young sedang berdiri kosong di sana, bertanya-tanya kenapa aku tertawa. Membayangkan ekspresinya, aku kembali terkikik.

Aku hampir tak bisa berhenti tertawa sampai bahuku terangkat-angkat, hingga akhirnya Yoo Chun Young bertanya,

[Kau sakit?]

“Um… tidak! Tidak, tidak! Aku boleh tertawa kapan pun aku mau, kan?”

Menjawab cepat dengan suara keras, aku kembali tak bisa menahan tawa. Entah kenapa, cahaya matahari musim panas yang menembus jendela terasa ramah dan hangat. Suara Yoo Chun Young di pagi hari juga terdengar menyenangkan.

Yoo Chun Young lalu berkata datar,

[Kudengar kau pingsan kemarin.]

“Iya.”

[Kukira Ban Yeo Ryung yang akan pingsan.]

“Ya, aku juga berpikir begitu.”

[Sebelum kau pingsan kemarin, katanya kau mengatakan hal-hal aneh. Kau melihatku memakai seragam SMP dan… um… apa itu…]

“Oh, maksudmu yang itu…?”

Saat ia mengangkat topik yang kutahu, suaraku meninggi karena senang.

‘Benar! Itu sebabnya aku meneleponnya,’ pikirku, lalu bertanya dengan nada cerah,

“Kau memimpikanku kemarin?”

[Tidak.]

Jawaban yang jauh lebih singkat dari yang kuduga.

Karena terdengar begitu datar, aku menggeleng kecil. ‘Ya, ini memang lebih seperti Yoo Chun Young…’ Lalu ia bertanya lagi.

[Apa yang kulakukan di mimpimu?]

“Hah?”

[Apa yang kulakukan?]

Hmm… sambil menatap langit-langit, aku menghitung dengan jari hal-hal yang terjadi padaku. Kata-kataku keluar perlahan dan terputus-putus saat mencoba mengingat.

“Um… jadi kau muncul… Kau ingat kelas waktu SMP? Ada tirai putih di jendelanya… oh, itu sama seperti sekarang. Semua jendela terbuka; matahari terbenam masuk dari sana. Sekarang kupikir-pikir, agak aneh juga karena kita jarang berada di kelas sampai senja. Hmm, lalu… kau duduk sendirian di kelas, mendengarkan musik. Jadi aku duduk di sebelahmu dan melepas earphone-mu untuk kupakai…”

[Uh-huh.]

“Tapi kau menatapku seperti belum pernah melihatku sebelumnya, jadi aku bertanya, ‘Kenapa?’ lalu kau bilang…”

[…]

“Kau menungguku.”

Setelah mengucapkan itu, aku mengernyit kaget pada kata-kataku sendiri.

Saat itu tak terdengar istimewa; namun ketika kukatakan kembali pada Yoo Chun Young sekarang, terdengar seperti ungkapan khusus antar pasangan. Entah kenapa aku jadi malu. Maka aku berdeham untuk menutupi perasaanku. Yoo Chun Young lalu bertanya lagi.

[Lalu?]

“…”

[Apa yang kukatakan setelahnya?]

“Um, jadi… yang kau katakan setelah itu… Kau tak ingat? Kau bilang kau menungguku di hari bersalju, tapi aku tidak datang. Um… uh… kau tidak mengatakan hal buruk, tapi seolah menyimpan sesuatu terhadapku… maksudku, apa ya… um… tunggu sebentar.”

Pipiku memerah dan kata-kataku mulai tak karuan.

Aku sendiri tak tahu apa yang sedang kuocehkan, tapi sulit berhenti. Jika aku berhenti, keheningan canggung yang sempat muncul atau kesunyian tentang hubungan kami seakan akan menggantung di antara kami. Aku tak ingin merasa tak nyaman. Maka aku terus berbicara melawan sunyi.

Suara Yoo Chun Young yang tenang namun dingin membuat mulutku terkatup.

[Hei.]

“Iya…”

[Apa kau melakukan sesuatu yang salah padaku?]

Saat itu, rasanya seperti ketegangan yang menegang dalam tubuhku mengempis seketika seperti balon yang ditusuk.

‘Ha… ha…’ Sambil memegang ponsel, aku tertawa hampa. Sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, aku langsung menutup telepon.

“Ugh,” aku menghela napas pendek dan melempar ponsel pelan ke atas tempat tidur.

Ponsel itu memantul beberapa kali di atas kasur empukku, lalu berhenti di atas selimut tanpa retak sedikit pun. Sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca, aku bergumam,

“Tak mungkin ada makna khusus. Yoo Chun Young juga tak mungkin memimpikanku.”

‘Tapi kenapa aku membicarakannya sih, bodoh…’ pikirku sambil mengernyit, lalu menarik selimut menutupi kepala.

‘Seharusnya aku tidak mengatakan itu! Astaga!’ Aku menendang selimutku. Tidak seperti sebelumnya, cahaya matahari yang masuk dari jendela tak terasa manis sama sekali.

Pasal 18. Kenapa Pewaris Chaebol Bisa Begitu Umum? (Bagian 1)

Dalam mimpiku, aku menjadi budak di Dinasti Joseon. Aku tinggal di gubuk reyot penuh sarang laba-laba yang tampak dibangun empat puluh tahun lalu, di luar kompleks pemerintahan tradisional; dan Ban Yeo Ryung muncul—mengejutkan—sebagai kepala daerah.

Dari fakta bahwa Ban Yeo Ryung selalu mengambil peran penting dalam mimpiku, aku bisa tahu betapa besar alam bawah sadarku menghargainya. Ia benar-benar mengenakan gat dengan tali manik-manik berwarna-warni serta seragam resmi biru.

Dengan mata setengah terpejam, aku menatap ke arah Ban Yeo Ryung berjalan; namun ketika seseorang membuka ambang pintu dan melangkah keluar, hampir saja aku muntah.

Mengenakan sepatu bunga tradisional, sosok itu melangkah lembut menuju Ban Yeo Ryung dan duduk di sampingnya. Dia… maksudku, dia itu… tak lain dan tak bukan adalah Eun Jiho!!

Ya Tuhan, kenapa dia berdandan sebagai perempuan? Kenapa? Untuk apa?!

Chapter 202

Namun, ia terlihat sungguh cantik bahkan dengan pakaian dan penampilan seperti itu. Duduk di bawah bayangan atap genteng yang melengkung lembut di ujung bubungan, Eun Jiho yang menatapku dengan alis platinum tertunduk tampak memukau sampai terasa tak masuk akal. Meskipun ia mengenakan jeogori hijau di atas, rok panjang oranye di bawah, dan rambutnya disanggul rendah, tak satu pun dari itu mampu menyembunyikan kecantikan yang ia pancarkan sebagai seorang wanita.

‘Kenapa Eun Jiho dan Ban Yeo Ryung saling bertukar peran seperti ini? Alam bawah sadarku, hanya ini yang bisa kau lakukan?’ Saat aku hampir putus asa sambil memegangi kepala, Ban Yeo Ryung sang kepala daerah menoleh ke arahku. Lalu tiba-tiba ia membentakku dengan suara tegas!

“Hukum dia mati!”

“Apa?!”

Jeritan langsung keluar dari mulutku. ‘Cerita ini mau dibawa ke mana?’ Tak lama kemudian, Yoo Chun Young dan Yi Ruda yang berjaga di gerbang kompleks pemerintahan dengan pakaian pengawal resmi dan topi hitam berjalan mendekat dengan wajah kaku.

Lupakan Yi Ruda, Yoo Chun Young sudah lama tak muncul dalam mimpiku, dan peran terbaik yang ia dapat hanya ini? Begitu wajah mereka hampir menyentuh ujung hidungku, tikar jerami kasar membungkus kakiku.

Aku terjatuh ke tanah kehilangan keseimbangan. Debu tebal membuatku sulit bernapas. Batuk, batuk! Sambil terbatuk dan menghirup debu, aku refleks mengangkat mata yang berair untuk menatap tajam Ban Yeo Ryung.

Ban Yeo Ryung yang duduk di kursi kehormatan menjerit melengking saat mata kami bertemu.

“Ya ampun! Beraninya kau kurang ajar!”

‘Kurang ajar? Hanya karena aku menatapmu? Bukankah itu berlebihan? Kurasa seragam kepala daerah itu terlalu besar untukmu—maksudku… terlalu besar untuk jenis kelaminmu! Begitu juga Eun Jiho di sampingmu, dia bahkan lebih tak pada tempatnya!’

Namun tentu saja aku tak bisa mengatakan itu. Menggigit bibir, aku berteriak karena tak tahu alasan penyiksaanku sebelum hukuman benar-benar dijatuhkan.

“Setidaknya beri tahu alasannya dulu! Kenapa tiba-tiba aku dihukum mati?”

“Masih berani bertanya! Kau pura-pura tak tahu?”

“Apa?”

Dengan mata menyala marah, Ban Yeo Ryung menunjuk dengan dagunya ke arah Eun Jiho yang sejak tadi duduk patuh dengan tangan terlipat dan kepala tertunduk.

‘Oh… ya… dia memang terlihat anggun… tapi kenapa?’

Saat aku menatap bingung, Ban Yeo Ryung kembali meraung.

“Beraninya kau menginginkan istriku!”

“Permisi…??”

Pertanyaanku seolah memantul kembali dan menghantam daguku sendiri. Tak ada yang mendengarkanku, bahkan Yoo Chun Young dan Yi Ruda yang berdiri di kedua sisiku. Beberapa saat kemudian, ketika akhirnya aku mengerti maksud Ban Yeo Ryung, aku hanya bisa berkedip tanpa kata.

Dalam keheningan berat, Eun Jiho akhirnya mengangkat kepalanya dan melirik ke arahku. Cahaya yang menggantung di ujung bulu matanya yang platinum bergoyang seperti ayunan di bawah terik matahari musim panas. Ia menatapku dalam posisi itu, lalu entah kenapa pipinya sedikit memerah.

Pada titik itu, demi kesehatan mentalku sendiri, aku memutuskan berhenti memperhatikannya. Aku mengangkat tangan dan menyatakan dengan suara tenang,

“Aku keberatan.”

“Apa?”

“Sekalipun diberi sebagai hadiah, aku tak akan mau!”

Biasanya ia saja sudah sulit ditangani, apalagi dengan sanggul dan rok seperti itu—rasanya sudah melampaui batas! Menghadapi Eun Jiho biasa saja sudah cukup, bagaimana mungkin aku bisa menghadapi versi ini?!

Namun kepala daerah Ban Yeo Ryung tampaknya menganggap penolakanku sebagai penghinaan besar. Ia langsung berdiri sambil berteriak,

“Beraninya kau berkata begitu padaku! Hei!”

“Ya, tuan.”

Yi Ruda dan Yoo Chun Young menjawab bersamaan dari kedua sisiku. Dari jawaban datar itu terasa sekali kesetiaan mereka… tunggu, tidak! Mereka tak seharusnya setia!

Saat mataku bergerak gelisah, Ban Yeo Ryung memerintah dengan suara lantang sambil menunjukku dengan jari panjangnya.

“Lempar dia ke sungai!”

Permisi lagi? Apa yang baru saja kau katakan? Terbaring di tanah terbungkus tikar jerami kasar, keringat dingin mengalir di dahiku.

Aku memutar tubuhku yang terikat dan menatap Yoo Chun Young serta Yi Ruda yang mendekat. Wajah mereka bahkan lebih serius dari biasanya, seolah tak mendengar sepatah pun perkataanku. Dalam keputusasaan, aku berteriak,

“Hei… kalian! Masuk akal nggak sih? Kalian benar-benar mau melemparkanku ke sungai hanya karena aku bilang tak mau menerima Eun Jiho yang berdandan seperti itu sebagai hadiah? Konyol sekali!”

“Beraninya kau berkata begitu kepada Nyonya.”

Yoo Chun Young-lah yang bersuara dengan nada rendah bergema. Sorot biru di matanya terasa dingin seolah aku memang pantas dihukum.

Baiklah, Yoo Chun Young juga sudah tak waras! Ada apa denganmu, alam bawah sadarku?! Dengan pikiran itu, aku meronta dan kali ini berteriak pada Yi Ruda.

“Ru… Ruda! Kau tahu ini sudah keterlaluan, kan? Bagaimana mungkin kau patuh pada omong kosong seperti ini…!”

“Bagaimana mungkin kami yang bodoh ini bisa membedakan benar dan salah di hadapan tuan kepala daerah kami?”

Yi Ruda mengucapkannya dengan senyum berputar khasnya, jelas tanpa ragu sedikit pun untuk melemparkanku ke sungai. Apa-apaan ini!

Kedua bocah itu mengikatku erat dengan tali, lalu mengangkat tubuhku ke bahu mereka. Tidak! Tunggu! Sambil meronta panik, aku menatap Ban Yeo Ryung dan Eun Jiho yang duduk berdampingan di lantai kayu aula utama yang semakin jauh.

Seolah lega karena aku disingkirkan, Ban Yeo Ryung bersandar santai pada bantal kayu di lantai dan mengobrol dengan Eun Jiho. Dengan kaki terlipat manja, Eun Jiho tetap tampak tenang dan patuh dalam jeogori hijau dan rok panjang oranye itu. Lalu ia menghentikan obrolan dan entah kenapa menoleh ke arahku.

‘Baiklah, Eun Jiho! Setidaknya kau harus menyelamatkanku!’ Begitu kupikirkan itu, Eun Jiho mengangkat tangannya yang putih indah dan menutup mulutnya sambil tersenyum lembut. Matanya melengkung cantik di atas tangannya.

Eun Jiho, kau JAHAT! Digotong di bahu mereka, aku menjerit tragis.

“Eun Jihoooo! Jujur saja! Kau muncul di mimpiku sebagai perempuan hanya untuk menjebakku!”

“Eun Jiho! Hei! Selamatkan aku!”

“Nyonya Jiho! Nyonya JIIIHOOO! Nyonya Jiho yang cantik dan mempesona!”

“Nyonya Jiho… malaikatku…”

“Dude.”

Sebuah suara serak terdengar di suatu tempat. ‘Siapa? Bukan suara Yoo Chun Young atau Yi Ruda… Eun Jiho dan Ban Yeo Ryung kutinggalkan di kompleks pemerintahan… jadi siapa?’ Saat itu aku mengernyit.

Aku menggerakkan tangan dan kaki, tapi tak ada yang bergerak, seolah masih terikat. Berarti aku belum lepas dari tikar jerami itu? Apa yang terjadi? Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba kusadari pandanganku begitu terang.

Akhirnya aku mengumpulkan kesadaran dan membuka mata sedikit. Di atas pandanganku yang bergetar samar, ada sosok yang familiar. Rambut perak menyilaukan di bawah cahaya terang itu milik Eun Jiho.

‘Apa… kenapa dia di sini?’ Mengernyit, aku bertanya setengah sadar,

“Tadi kau bersama kepala daerah…”

“Kau berada di dunia mimpi apa sampai memanggil-manggil namaku begitu?”

Menjawab pertanyaanku, Eun Jiho duduk santai dengan siku bertumpu pada sandaran kursi dan dagu di atas telapak tangan. Seolah ia sudah menatapku cukup lama, posisinya terlihat sangat nyaman. Hmm. Setelah berkedip beberapa kali, akhirnya kesadaranku kembali dan aku mulai berpikir.

‘Jadi itu hanya mimpi. Memang, Ban Yeo Ryung menjadi kepala daerah dan Eun Jiho menjadi istrinya jelas tak mungkin; latarnya pun Dinasti Joseon…’

Memang aku sudah bangun, tapi kenapa tangan dan kakiku masih tak bergerak? Aku mencoba menggerakkannya sekali lagi, namun tak satu pun otot merespons.

Chapter 203

‘Apa yang terjadi? Aku belum mungkin terkurung dalam tikar jerami lalu dipukuli sampai mati, kan,’ gumamku dalam hati. Saat menunduk, aku mendapati diriku terbungkus selimut seperti larva. Aku pun terdiam.

Beberapa saat aku kehilangan kata-kata, sampai Eun Jiho kembali bertanya,

“Kau bermimpi apa?”

“Um… itu…”

“Itu?”

“Digulung dalam tikar jerami lalu dipukuli sebagai hukuman.”

Alis Eun Jiho terangkat sebelah setelah mendengar jawabanku yang singkat.

“Apa?” tanyanya.

“Aku bermimpi tentang hukuman tikar jerami.”

Sambil menghela napas, aku meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari selimut yang membelengguku sendiri. Beberapa saat kemudian, Eun Jiho yang menatapku membuat keributan akhirnya mengerti maksudku. Ia pun gemetar menahan tawa tanpa suara sambil berpegangan pada meja.

Eun Jiho bukan tipe anak yang tertawa diam-diam seperti itu. Setidaknya di depanku, ia jarang tertawa tanpa suara seperti sekarang. ‘Lalu kenapa ini tak mau lepas dariku?’ Setelah perjuangan panjang, aku hampir terguling dari tempat tidur sebelum akhirnya bangkit berdiri.

Aku melangkah cepat ke arah Eun Jiho, mencondongkan kepala ke dekat punggungnya, lalu mengalihkan pandangan ke layar ponselnya dan langsung mengernyit.

Kepada: Ban Yeo Ryung, Scary Kwon Eun Hyung, Yoo Chun Young, Woo Jooin

DUDES LOLOLOLOL Ham Dan Yi LMFAO!!!

Tahu nggak dia ngomong apa sambil membungkus diri dengan selimut? Katanya dia mimpi dihukum tikar jerami LOL. Itu banget Ham Dan Yi.

Astaga kau ini! Aku langsung mengulurkan tangan ke ponselnya, tapi refleks Eun Jiho terlalu cepat. Tanpa bahkan menatapku, ia mempertahankan ponselnya dengan gerakan hampir seperti manusia super. Lalu ia menoleh dan berteriak,

“Ay Yai Yai, ada apa sih denganmu? Ini bukti bagus bahwa kondisi fisik memengaruhi alam bawah sadar, jadi aku mau mereka meneliti—.”

‘Oh, ya, omong kosong logis macam apa lagi ini!’ pikirku. Alih-alih menyindirnya, aku kembali meraih ponselnya. Eun Jiho pun menyerah.

“Oke, oke! Nggak jadi kukirim.”

Sambil menggerutu, ia menurunkan tangannya, menunjukkan layar ponsel padaku, lalu menghapus pesan itu. Fiuh, akhirnya aku menghela napas lega dan bersandar pada meja sambil menyibakkan rambutku yang berantakan.

Kenapa aku bisa tertidur terbungkus selimut di hari selembap ini? Rambutku yang basah oleh keringat menempel di dahiku.

‘Ah, aku harus cuci muka,’ pikirku. Sambil menyibakkan rambut lagi, aku bertanya,

“Tapi kenapa kau ada di sini?”

Matanya yang semula tertuju pada dahiku kembali mengarah padaku. Ada keraguan samar di sorot matanya yang membuatku merasa aneh.

Tangan yang dulu menggenggam tanganku beberapa waktu lalu terlintas kembali di benakku.

Suara jangkrik yang memekakkan, sinar matahari sempit yang berkelip di dekat mataku, dan suaranya yang bertanya,

‘Kau baik-baik saja?’

‘Tidak, kan?’

Dua pertanyaan itu yang sempat merobohkanku.

Saat itu, Eun Jiho jelas berbeda dari biasanya. Sisi dirinya yang berbeda itu membuatku bertanya-tanya sejak kapan ia menyembunyikan warna seperti itu. Sesuatu yang setara dengan kelembutan Yoo Chun Young, ketajaman Jooin, atau ketegasan Eun Hyung.

Kini, perasaan aneh kembali menghantamku saat mengingat Eun Jiho waktu itu begitu mata kami bertemu di ruangan terang dan nyaman ini.

Eun Jiho mengerucutkan bibirnya tanpa suara. Mata hitam legamnya tetap tertuju padaku. Anehnya, sorot itu terasa jauh, sampai aku tiba-tiba berpikir mungkin Eun Jiho juga sedang menatap masa depan atau masa lalu, bukan masa kini—sepertiku.

Saat itu juga ia menoleh seolah tersentuh api, lalu suaranya keluar.

“Kita mau pergi ke tempat kerja Ban Yeo Ryung.”

“Oh, iya!”

Nadanya terlalu datar sampai aku sedikit terkejut. Dengan ucapannya barusan, suasana aneh di antara kami seolah tak pernah ada. Aku menggaruk dahi dengan canggung saat sesuatu terlintas di pikiranku.

‘Sekarang kupikir-pikir, kenapa bajingan ini terus-terusan masuk rumahku seenaknya?’ Dengan pikiran itu, aku membuka mulut.

“Hei, setidaknya kabari dulu sebelum datang. Walaupun ibuku sudah hampir menganggapmu keluarga, menyambutmu dengan penampilan begini itu… pokoknya…”

“Pokoknya?”

Jawabannya kembali dengan tatapan yang tak mengarah padaku. Sama seperti hari itu saat kami berjalan sambil berpegangan tangan. Perasaan aneh itu kembali muncul.

Biasanya Eun Jiho akan langsung menyela, ‘Menurutmu ada bedanya wajahmu sebelum dan sesudah cuci muka?’ Ia yang biasa melontarkan kalimat nakal kini justru mengulang ucapanku seperti burung beo.

‘Bukan begitu maksudku. Aku cuma ingin menggerutu seperti biasa…’ Karena ia tak membalas dengan candaan, kata-kataku terdengar lebih tajam dari yang seharusnya. Seolah aku sedang berusaha menarik garis tak kasatmata di antara kami.

Aku sadar percakapanku mulai berbobot ketika ia tak menganggapnya sebagai lelucon.

Tiba-tiba aku menyadari bahwa percakapan kami memang selalu seperti ini. Seolah mendorongnya menjauh, aku menggerutu. Eun Jiho lalu melontarkan candaan tanpa berkedip dan melangkahi garis itu, membuatku takluk. Dengan begitu, aku memberinya ruang.

Begitulah kami menjaga persahabatan selama tiga tahun terakhir; bagaimana Eun Jiho berubah dari sekadar karakter dalam novel menjadi salah satu teman terdekatku.

‘Bukan itu maksudku…’ pikirku, menurunkan tangan yang biasanya refleks terangkat saat menggerutu.

Kami terdiam cukup lama. Kali ini Eun Jiho yang menoleh padaku. Matanya tetap tenang seperti sungai. Sorotnya yang berbeda dari biasanya justru membuatku gelisah lagi.

Setelah ragu cukup lama, aku membuka bibir.

“Pokoknya, tidak terlalu… bagus, kurasa?”

Ucapanku malah terdengar aneh karena kebingungan. ‘Kenapa nadaku naik di akhir? Dan kenapa pakai “kurasa”? Apa kau ini gadis Joseon?’ gerutuku dalam hati.

Eun Jiho pun tertawa seperti biasa. Bertumpu santai pada telapak tangannya, ia menyeringai tipis dan menjawab dengan senyum khasnya.

“Ya, memang.”

“…”

“Dude, punya wajah yang sama saja sebelum dan sesudah cuci muka itu keuntungan besar. Kau tahu, negara kita sedang krisis air.”

“Dasar, Eun Jiho.”

Aku hendak berbalik dan memutar gagang pintu, tapi suaranya kembali menghentikanku. Berdiri membelakangi cahaya ruang tamu, aku bertanya,

“Apa?”

“Tadi, kau…”

Ia menggantung kalimatnya. Wajahnya redup oleh cahaya ruang tamu. Aku menyipitkan mata. Dengan sedikit keraguan yang jarang terlihat, ia melanjutkan,

“Kau memanggil namaku.”

“Oh.”

‘Apa maksudnya Madam Jiho tadi?’ Aku mengangguk. Eun Jiho kembali bertanya,

“Kenapa kau memanggilku?”

Wajahnya masih samar dalam cahaya. ‘Hmm, itu karena…’ pikirku, mengernyit.

‘Haruskah kujawab? Bagaimana kalau kita malah bertengkar sebelum pergi ke tempat Ban Yeo Ryung?’ Udara di antara kami terasa lebih aneh dari biasanya, membuatku takut membicarakan hal itu. Seolah berjalan di atas kulit telur, aku melangkah hati-hati.

Aku tak bisa melihat jelas wajahnya, tapi matanya yang gelap di bawah cahaya tampak begitu serius hingga menghindari pertanyaannya mungkin akan memicu sesuatu yang buruk.

Akhirnya aku menyerah dan menjawab sambil mengangkat bahu.

“Jadi di mimpiku… kau muncul sebagai istri kepala daerah.”

Aku berusaha terdengar biasa saja, meski tentu tak mudah. Eun Jiho langsung mengernyit.

“Istri kepala daerah? Bukan kepala daerahnya sendiri?”

“Um, ya… istri kepala daerah. Yang pakai rok dan jeogori itu…”

“… Lalu?”

Sorot matanya yang meminta penjelasan lebih lanjut terasa menyeramkan. Aku tak tahu apakah ia sedang menahan tawa atau justru menahan amarah.

Chapter 204

Aku melanjutkan dengan helaan napas.

“Jadi… aku cuma menatapmu, lalu kepala daerah itu… oh, maksudku Ban Yeo Ryung yang menjabat posisi itu. Dia berkata padaku, ‘Beraninya kau mengingini istriku?’ benar-benar berlebihan.”

“Uh-huh.”

“Maksudku, kau muncul dengan rok dan jeogori, terlihat lebih konyol dari biasanya, jadi aku bilang, ‘Tidak, bahkan sebagai hadiah pun aku tak mau!’ Lalu dia memerintahkan para penjaga menghukumku dengan tikar jerami. Jadi aku… um… memohon padamu… untuk menyelamatkanku.”

Dengan ragu-ragu aku menyelesaikan kalimat itu, lalu kembali menatap wajah Eun Jiho—yang sungguh pemandangan luar biasa. Dengan ekspresi tertekan, ia menutupi dahinya dengan kedua tangan. Bulu matanya yang panjang dan terkulai membentuk bayangan di pipinya.

Um… apa dia marah? Apa ucapanku tentang tak mau bahkan sebagai hadiah membuatnya tersinggung? Yah, kalau aku mendengar kata-kata seperti itu, mungkin aku juga akan kesal. Tapi kalau itu Eun Jiho yang mengatakannya, kurasa aku tak akan terlalu tersinggung.

Aku tetap diam, memainkan jari-jariku. Karena ia tak mengatakan apa-apa, akhirnya aku membuka mulut.

“Um… tapi, kau juga tak akan mau bahkan sebagai hadiah, kan?”

“Tidak mau apa?”

Akhirnya ia menjawab. Dengan wajah masih tersembunyi di balik tangannya seperti mayat, Eun Jiho terdiam cukup lama sebelum mengangkat kepala. Suaranya yang menyimpang seperti biasa terdengar kembali seperti Eun Jiho yang kukenal. Merasa lega, aku bertanya,

“Maksudku, kalau aku muncul di mimpimu dengan pakaian seperti itu, kau juga tak akan mau bahkan sebagai hadiah, kan?”

Eun Jiho kembali mengernyitkan alis tampannya. Lalu sesaat kemudian ia menjawab dengan nada masam sambil memiringkan kepala, terdengar santai seperti biasanya.

“Kau salah paham.”

“…”

Justru aku yang kebingungan. ‘Apa maksudnya? Kalau aku bertanya apakah dia tak akan mau bahkan sebagai hadiah, lalu dia bilang aku salah paham, berarti dia akan mau…’ Sampai di situ aku menyerah memikirkan lebih jauh. Aku sedikit mengangkat dagu dan menatap Eun Jiho dengan saksama.

‘Dia sekarang… oh, tapi premisnya berbeda!’ Dengan pikiran itu, aku kembali bertanya.

“Tidak, pikirkan baik-baik. Aku bilang kau memakai jeogori dan rok di mimpiku, kan? Jadi kalau di kasusmu, itu seperti aku memakai hanbok… oh, itu tidak aneh! Anggap saja aku memakai baju astronot.”

“Uh-huh.”

Eun Jiho mengangguk lesu. Seperti murid yang sudah les privat sebelum kelas dimulai, sikapnya seolah penjelasanku terlalu membosankan. Aku bertanya lagi,

“Masih mau?”

“Bagaimana kalau aku bilang ya?”

Sambil melempar pertanyaan itu, ia mengangkat dagu dan menatapku. “Oh, astaga…” Aku menarik gagang pintu, panik.

“Hei, mau ke mana?” entah ia bertanya atau tidak, kali ini aku benar-benar menarik gagang pintu dan berkata,

“Kalau begitu… um… bahkan kalau aku pakai kulit harimau?”

“Ya.”

“Kalau kulit buaya?”

“Sudah kubilang, ya.”

“Lalu… um… kulit kambing…?”

“Ya ampun, mau kau kuliti semua hewan di dunia?”

Saat Eun Jiho menjawab dengan nada jengkel, akhirnya aku sadar. Rasanya otakku seperti rangkaian kabel rumit yang kusut tak beraturan.

Aku kembali menatap Eun Jiho. Seperti biasa, ia tampak tenang dan santai, seperti pemuda bangsawan. ‘Apa dia sadar apa yang dia katakan?’ pikirku.

Jam berdetak pelan saat tatapan kami saling terkait di udara. Pandangan itu berputar sunyi seperti pusaran kopi. Lalu tiba-tiba terdengar tawa kecil. Eun Jiho tersenyum padaku. Ia menurunkan tangannya dan memberi isyarat agar aku keluar.

“Hei, cepat cuci muka, atau kita tak akan sempat belajar banyak.”

“Oh, iya. Aku cepat!”

Dengan itu aku berlari keluar. Di jalan menuju kamar mandi, aku sempat menggerutu pada ibuku yang santai menonton TV di ruang tamu agar berhenti menyukai Eun Jiho. Bahkan saat sudah berdiri di depan cermin dengan sikat gigi di mulut, aku masih linglung.

Di bawah cahaya oranye, pantulanku terlihat di cermin. Menatap mata cokelatku sendiri beberapa saat, aku meludahkan busa lalu mengangkat kepala lagi.

“Aneh…” gumamku sambil menyikat gigi.

Perkataan dan reaksi Eun Jiho tadi benar-benar berbeda dari Eun Jiho yang biasa kukenal. Wajahnya saat aku keluar kamar menunjukkan kesedihan dan kekosongan yang tak bisa kuukur kedalamannya.

“Dan Eun Jiho barusan…” gumamku kosong. Ia tampak menghindari sentuhanku. Tentu aku tahu pegangan tangan antara laki-laki dan perempuan itu sesuatu, tapi tanganku tadi hanya menyentuhnya sekilas. Namun ia menarik tangannya ke belakang seolah tersentuh api. Reaksi itu begitu membekas hingga sulit hilang dari pikiranku.

Setelah mencuci muka, aku berjalan ke ruang tamu dan memandang ke luar beranda. Semuanya hijau. Sinar matahari tajam seperti bilah pisau, langit biru seperti cat air, anak-anak bermain di parkiran apartemen di bawah hamparan hijau dan biru…

Baru saja mandi, leherku sudah berkeringat lagi. Sambil mengipasinya dengan tangan, tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Bagaimanapun juga, libur musim panas akhirnya tiba.


Sekarang kami sudah SMA, kupikir liburan kali ini akan sedikit berbeda dari masa SMP. Waktu SMP, cerita novel itu masih dalam tahap sebelum benar-benar berkembang, jadi alurnya berjalan cukup lambat. Tapi sekarang kami SMA!

Dari sudut pandang penulis, libur musim panas SMA adalah latar yang sempurna untuk sesuatu terjadi. Tak perlu memaksa tokoh utama masuk sekolah keesokan harinya… maksudku, mereka memang jarang masuk sekolah. Akan lebih bagus jika para tokoh bepergian jauh! Pergi ke bioskop atau uji nyali bersama juga sempurna!

Karena itu aku pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa kali ini aku tak akan terlibat dalam liburan musim panas penuh badai milik Ban Yeo Ryung dan Empat Raja Langit.

Rencanaku sederhana dan efektif.

Untuk menjelaskan rencana ini, ada satu hal yang perlu dibahas: sistem ujian masuk di Korea. Jika kalian siswa sepertiku, pasti pernah mendengar ujian masuk perguruan tinggi tahunan, si kejam Korean SAT.

Oh, Korean SAT terkutuk itu! Betapa kejamnya mempertaruhkan dua belas tahun pendidikan pada satu hari dan menentukan tingkat universitas hanya dari itu.

Kami, siswa SMA, mengikuti ujian simulasi untuk mempersiapkan SAT dan memperkirakan universitas yang bisa kami masuki berdasarkan hasilnya.

Walau agak menyedihkan untuk diakui, nilainya memang jauh di bawah Ban Yeo Ryung dan Eun Jiho yang selalu peringkat nasional teratas, bahkan dibandingkan dengan tiga Raja Langit lainnya. Tidak, bukan sekadar jauh… sangat jauh.

Jika aku gadis biasa, mungkin aku akan merasa iri atau marah pada Ban Yeo Ryung. Untungnya aku satu-satunya yang tahu bahwa ia adalah pemeran utama wanita dalam web novel ini, jadi aku tak menyimpan emosi sekeras itu. Aku hanya menyerah saja. Mengharapkan kewajaran di dunia ini hanya akan membuatku merasa berdosa.

Meski mereka tak pernah mengatakannya terang-terangan, Empat Raja Langit—terutama Ban Yeo Ryung—memang mengkhawatirkanku.

Karena itu, saat liburan musim panas baru dimulai, aku menyatakan dengan percaya diri,

“Aku akan belajar di perpustakaan selama musim panas.”

Kalau kalimat itu diucapkan begitu saja, mungkin terdengar seperti alasan untuk menghindari mereka. Padahal nilainya memang cukup serius. Lagipula… aku tak ingin berakhir di universitas yang terlalu jauh dari mereka. Dan mereka pun tampaknya tak menginginkan itu.

Lebih nyaman bagiku menganggap liburan musim panas pertama di SMA ini sebagai pengorbanan demi masa kuliah yang menyenangkan bersama mereka. Bukan karena aku membenci bermain bersama.

Um, tapi… entah kenapa niatku itu tidak berjalan sesuai rencana.

Chapter 205

Hari ketika aku mengucapkan pernyataan itu juga merupakan hari musim panas yang terik. Yoo Chun Young, yang sejak tadi menatapku dengan santai di ruang tamu kami, tiba-tiba membuka suara.

“Kalau begitu, kita lakukan bersama.”

“Hah?”

‘Kenapa kau melakukan itu? Bukankah akhir-akhir ini kau sibuk?’ Apa pun yang kupikirkan, Yoo Chun Young yang menjawab seperti itu mengabaikan tatapanku yang penuh heran dan mengalihkan pandangannya pada Eun Hyung.

“Bagaimana denganmu?” tanyanya.

“Aku sih oke, malah bagus buatku. Bagaimana menurutmu, Dan Yi?”

Dengan jawaban itu, Eun Hyung menatapku dengan senyum hangatnya yang biasa, membuatku hampir mustahil mengatakan, ‘Tidak,’ padanya. ‘Ya ampun… tapi ini bukannya…’ Aku menggeliatkan tangan yang terulur canggung, lalu buru-buru menyembunyikannya di belakang punggung.

Menggerakkan bola mata dengan bingung, keringatku mengucur deras. ‘Tunggu dulu, ini aneh, kan? Di mana pernah ada dalam web novel Empat Raja Langit mendedikasikan diri belajar di perpustakaan saat liburan?’

Kalian itu seharusnya… entahlah, membeli motor mewah dan menikmati perjalanan di tepi pantai… atau mengadakan pesta gila, menyewa vila mewah, melakukan hal-hal seperti itu? Pergi ke perpustakaan terlalu biasa dan sederhana untuk karakter seperti kalian, bukan?

Sementara pikiran itu berputar-putar di kepalaku tanpa terucap, Jooin yang tersenyum lebar bertanya pada Eun Jiho,

“Kedengarannya menarik! Jiho, bagaimana denganmu? Kau juga ke luar negeri lagi kali ini?”

“Oh…”

Seolah baru menyadarinya, Eun Jiho berseru kecil dan mengarahkan pandangannya padaku. Kalau kupikir-pikir, setiap liburan Eun Jiho memang hampir selalu pergi ke luar negeri sebulan atau dua bulan seperti acara tahunan.

Saat kutanya, katanya untuk tur kampus luar negeri atau mengambil kelas tertentu, tapi aku tak tahu untuk apa semua itu. Sebagai pewaris konglomerat terbesar, mungkin ia hanya menghabiskan uang seenaknya.

Seolah tak sepakat, Eun Jiho kembali membuka mulut dengan kening berkerut.

“Ya, aku akan segera pergi.”

“Hm, berarti kau tak bisa ikut.”

“Tapi masih ada sekitar dua minggu.”

“Hei, yang begitu itu disebutkan duluan,” kata Jooin.

Sambil menyeringai, ia melambaikan tangan padaku lalu berseru seperti murid teladan yang hendak bertanya,

“Mama, kami juga ikut!”

Permisi?

Sebuah kalimat pelan muncul di benakku.

Empat Raja Langit _____ selama liburan musim panas.

Lalu aku mengisi bagian kosong itu dengan kata-kata ‘mendedikasikan diri belajar ujian simulasi di perpustakaan’.

Empat Raja Langit mendedikasikan diri belajar ujian simulasi di perpustakaan selama liburan musim panas.

‘Kata-kata yang tak cocok hidup berdampingan dalam satu kalimat… Betapa aneh bunyinya!’ Saat aku terkejut dan mulai berkeringat, tiba-tiba kusadari betapa diamnya Ban Yeo Ryung sejak tadi. Bahkan Yoo Chun Young yang jarang berpendapat pun berusaha aktif dalam belajar, tapi kenapa hanya dia yang diam?

Saat aku mengangkat wajah menatap Ban Yeo Ryung, kulihat wajahnya pucat tak biasa. Eun Hyung yang mengikuti arah pandanganku juga mengeras ekspresinya seolah menyadari hal yang sama. Ia bertanya dengan cemas,

“Yeo Ryung? Yeo Ryung, kau tidak apa-apa?”

“…aku sudah…”

Ia menundukkan kepala. Poni yang tampak semakin panjang terjatuh menutupi matanya sehingga kami tak bisa melihat jelas wajahnya.

“Apa?” tanyaku lagi.

“Aku sudah mengambil kerja paruh waktu…”

Begitu suara tertekan itu keluar dari bibirnya, ia mengangkat kepala. Bukannya bersinar, mata hitamnya terlihat kusut dan muram, sangat tidak bahagia dan kecewa—sampai-sampai aku hampir tertawa.

Eun Jiho di sampingku tampak mengendurkan ketegangannya. Ia bersandar pada sofa dan bergumam,

“Ya ampun, kukira sesuatu yang serius terjadi. Kerja paruh waktu… memangnya kenapa?”

“Kalau tahu begini, seharusnya aku tak menerimanya dan belajar bersama kalian! Astaga, kenapa aku mengambil pekerjaan itu!”

Sambil berkata begitu, Ban Yeo Ryung memegangi kepalanya dan menghentakkan kaki di tempat duduknya.

‘Ah, Ban Yeo Ryung… ekspresi frustrasimu kadang terlihat paling manis,’ pikirku sambil menahan tawa. Woo Jooin juga terkikik di depanku.

“Kau saja tak pernah membuka buku.”

“Kau juga begitu!”

“Menurutku, kalian berdua,” kata Yoo Chun Young.

Dari sudut pandangku, rasanya karakter-karakter yang sama sedang saling beradu, tapi bahkan Yoo Chun Young yang pendiam pun tak bisa mengabaikan itu. ‘Hm, Yoo Chun Young, lihat siapa yang bicara…’ pikirku.

Kali ini Eun Jiho dan Eun Hyung juga hendak menambahkan komentar sampai akhirnya aku menyela,

“Sudah, diam semua.”

‘Bagaimanapun kupikir, aku setidaknya belajar lima puluh kali lebih banyak dari kalian.’ Seolah bukan hanya aku yang menganggapnya benar, ruang tamu langsung diselimuti keheningan memekakkan telinga.

‘Bagus, setidaknya kalian masih punya hati nurani,’ desahku sambil menyilangkan tangan. Lalu aku menatap Ban Yeo Ryung yang masih tampak gelisah.

“Tapi kenapa tiba-tiba kerja paruh waktu? Kau bahkan tak bilang apa-apa padaku.”

“Um, itu kedai kopi milik teman pamanku. Tempatnya baru, bayarannya lumayan, pemiliknya kelihatan baik, dan aku punya waktu luang…”

Suara Ban Yeo Ryung makin lama makin mengecil. Akhirnya ia menghela napas panjang dan berbisik lirih. Bahunya yang ramping terkulai saat ia menutup mata.

“Aduh, kenapa aku menerimanya…”

“…”

“Dan Yi, bagaimana kalau aku menolaknya sekarang saja?”

“…”

“Dan Yi? Dan Yi?”

Entah sudah berapa kali ia memanggilku. Saat semua orang menatapku, aku yang baru tersadar buru-buru menggeleng dan berseru pada Ban Yeo Ryung yang hampir menangis.

“Tidak, lakukan saja! Kau harus melakukannya.”

“Hah? Kenapa?”

Karena, dalam web novel, tokoh utama wanita tiba-tiba bekerja paruh waktu saat liburan.

‘Ah, penulis bodoh,’ pikirku sambil memuji ingatanku sendiri. Di saat yang sama, aku menghela napas melihat perkembangan cerita yang begitu klise.

Dalam kasus seperti ini, hampir pasti pemilik tempat kerja adalah pria tampan, lembut, dan menarik di awal usia dua puluhan.

Rekan kerja paruh waktu yang satu shift dengannya mungkin pria yang pernah punya hubungan buruk dengannya di masa lalu. Misalnya, pernah kalah berkelahi dengan pacar tokoh utama wanita, jadi ia mengenali wajahnya, semacam itu.

Bagaimanapun, tentu aku tak bisa mengatakan bahwa takdirnya memang harus mengambil pekerjaan itu, jadi aku hanya mengarang alasan.

“Maksudku, menurutku kau sebaiknya mengambil pekerjaan itu. Lagi pula kau tak akan belajar meski kita bersama di perpustakaan.”

“Ya, itu…”

Seolah tak menemukan kebohongan dalam ucapanku, Ban Yeo Ryung menutup mulutnya dengan wajah tak nyaman.

Ia memberi isyarat pada Eun Jiho dan Woo Jooin agar mundur, tapi mereka bukan tipe yang akan mundur begitu saja. Entah kenapa, para lelaki itu tampak sudah mantap belajar di perpustakaan bersamaku selama liburan musim panas.

Ayolah… kenapa… sungguh… Empat Raja Langit… buat saja pesta besar…

Bagaimanapun, akhirnya selama liburan musim panas ini aku belajar di perpustakaan bersama Empat Raja Langit, sementara Ban Yeo Ryung bekerja paruh waktu sendirian. Dan hari ini adalah hari kami semua akan mengunjungi tempat ia bekerja.

Petualangan apa lagi yang menantiku hari ini? Bersambung!

“Sedang apa?”

“Tidak apa-apa.”

Dengan harapan seseorang menghentikan situasi ini, aku berteriak dalam hati, ‘Bersambung.’ Instingku yang berkembang tajam sejak hidup di dunia web novel memperingatkanku keras bahwa mustahil melewati liburan musim panas ini dengan tenang. Tentu saja, meski aku merasakannya lebih dulu, tak ada yang bisa kulakukan; jadi sampai sejauh ini, rasanya insting itu pun tak ada gunanya…

Dengan begitu, aku pun meninggalkan rumah bersama Eun Jiho yang hari ini juga menatapku dengan heran.

Chapter 206

Orang-orang yang datang ke perpustakaan saat liburan musim panas biasanya termasuk dalam dua golongan: pertama, mereka yang memiliki ujian yang sudah di depan mata; kedua, mereka yang menjadikan tempat ber-AC ini sebagai tempat berlindung dari cuaca panas dan lembap.

Namun belakangan ini, jenis pengunjung lain semakin bertambah. Itu karena selebritas paling terkenal di kota ini mulai sering terlihat di perpustakaan. Kwon Eun Hyung melangkah menembus kerumunan sambil menghela napas. Tangannya yang lain menggenggam erat lengan Yoo Chun Young. Selain tak peka terhadap panas, Yoo Chun Young yang memang selalu banyak tidur hari ini pun berjalan setengah terlelap. Jadi, agar ia tak menabrak orang lain, Eun Hyung harus berusaha cukup keras.

Sambil mengurus Yoo Chun Young seperti itu, Kwon Eun Hyung memperhatikan orang-orang yang lewat dengan saksama dan tak lama kemudian kelelahan tampak di sekitar matanya. Pada saat yang sama, ia tak lupa melirik Yoo Chun Young di tangannya dengan tatapan iri. ‘Bagaimana bisa dia selalu setenang ini?’ Eun Hyung ingin membangunkannya sekarang juga dan memperlihatkan pemandangan di depan mereka.

… Semua orang hanya melihat ke arah kami.

Baru seminggu mereka mulai datang ke perpustakaan, tetapi tempat ini tampak dua kali lebih penuh dibanding hari pertama. ‘Apa hanya aku yang merasa begitu?’ Kwon Eun Hyung menggeleng. ‘Tidak, aku tidak salah.’

‘Yah, mau bagaimana lagi…’ Dengan desahan kecil, Kwon Eun Hyung mendekati meja panjang di sudut perpustakaan yang diterangi sinar matahari. Ia menarik kursi dan mendudukkan Yoo Chun Young di sana. Mata biru redup Chun Young seakan melirik sebentar lalu kembali terpejam. ‘Ya, tidurlah,’ pikir Eun Hyung. Seolah mendengar pikirannya, kepala Yoo Chun Young terkulai di atas meja. Rambut biru kehitamannya terurai di permukaan meja cokelat. Bertopang dagu dengan telapak tangan, Kwon Eun Hyung menatapnya lalu mengulurkan tangan merapikan rambut Chun Young.

Beberapa menit kemudian, seseorang dari seberang menarik kursi di sebelah Yoo Chun Young dan duduk. Saat pandangan mereka bertemu, mata terang bocah itu melengkung membentuk senyum keemasan. Di dalam perpustakaan yang dibanjiri cahaya dari jendela kaca besar setinggi lantai hingga langit-langit, rambut cokelat keemasannya tampak sangat menonjol. Kwon Eun Hyung mengangkat tangan yang sedang merapikan rambut Yoo Chun Young dan tersenyum canggung.

“Ada apa? Tapi kenapa kau diam sekali?”

Biasanya, bocah itu akan menyapa cerah dan lantang begitu tiba. Woo Jooin menampilkan senyum miring setelah mendengar pertanyaan itu lalu mengangkat dagunya seolah memberi isyarat. ‘Ya, aku mengerti,’ pikir Eun Hyung. Menatap Yoo Chun Young yang tertidur lelap, Woo Jooin bergumam kagum.

“Bagaimana bisa dia tidur senyenyak ini? Sekarang jam berapa? Coba lihat, baru jam sepuluh pagi…”

Lalu ia menoleh.

“Chun Young memang banyak tidur, tapi tidak sebanyak ini, kan? Jam sepuluh pagi seharusnya sudah cukup untuknya bangun.”

“Hmm, yah itu karena….”

Sebelum menjawab, Kwon Eun Hyung melirik orang-orang di sekitar dengan senyum tipis. Eun Jiho dan Dan Yi belum terlihat. Ia lalu tersenyum lagi.

“Jadwal syutingnya belakangan padat, jadi…”

“Apa?”

Ekspresi bingung muncul di wajah Woo Jooin. ‘Sudah kuduga,’ pikirnya. Kwon Eun Hyung kembali tersenyum canggung. Jooin bertanya lagi,

“Lalu kenapa dia bilang mau belajar bersama? Dia tipe yang cerdas dalam ujian, jadi duduk dan menghabiskan waktu seperti ini tak akan memengaruhi nilainya, kan…”

‘Setuju,’ Eun Hyung menelan keinginan untuk berkata begitu dan hanya tersenyum lebar. Akan terasa tak enak baginya mengucapkan itu mengingat persahabatannya dengan Chun Young yang sudah lebih dari sepuluh tahun. Mengangkat bahu, ia menjawab ringan,

“Hmm, siapa tahu?”

“Hah?”

Jawaban samar itu tak cukup untuk mengalihkan perhatian Woo Jooin. Dengan kecerdikannya, Jooin segera menatap Yoo Chun Young yang tertidur lelap dengan mata berbinar dan bergumam, “Kenapa?” Saat Kwon Eun Hyung melihat senyum sempit khas itu muncul di wajah Jooin, ia buru-buru memalingkan wajah sambil bergumam dalam hati, ‘Aku sudah berusaha, Chun Young.’

Woo Jooin kini tampak sangat bersemangat. Ia menopang dagu dengan siku di meja dan menatap Yoo Chun Young dengan wajah berseri. Dengan suara riang seperti sedang bernyanyi, ia berkata,

“Hmm, jadi begitu ceritanya. Aku penasaran kapan dia akan menyadarinya…”

“Ahem.”

“Sejujurnya, selain Yeo Ryung, bukankah kita semua sudah sadar? Video itu adalah pukulan terakhir. Kau tahu, yang kita rekam saat kelas dua SMP.”

Mendengar kata-kata itu, wajah Kwon Eun Hyung semakin menegang. ‘Dia tepat sekali,’ pikirnya, lalu tersenyum saat pandangan mereka bertemu lagi.

“Mau minum sesuatu, Jooin?” tanyanya.

“Hmm, kau mau mengalihkan pembicaraan dengan sekaleng minuman?”

“Haha, aku tak tahu kau bicara apa.”

‘Yoo Chun Young, lihat betapa repotnya aku demi dirimu…’ gumam Eun Hyung sambil memaksakan senyum lebih lebar. Woo Jooin menghapus sedikit senyum di wajahnya. Ia menurunkan tangannya dari meja dan melanjutkan dengan suara datar,

“Tenang saja, memangnya apa yang bisa kulakukan hanya dengan membicarakan ini?”

Tak ada lagi cahaya di mata Woo Jooin. Suara dan ekspresinya berubah sekejap seolah orang lain yang berbicara, namun Kwon Eun Hyung tak terkejut.

Di antara mereka, orang yang paling memahami sisi lain Woo Jooin tak lain adalah Kwon Eun Hyung sendiri. Ia bahkan cukup yakin akan hal itu.

Tentu saja, dalam hal mengenal Woo Jooin, Eun Jiho menghabiskan lebih banyak waktu daripada Eun Hyung. Namun Eun Jiho tak akan benar-benar mengerti, karena ia tak pernah mengalami perasaan kekurangan dalam hidupnya.

Tatapan Kwon Eun Hyung juga mengering. Sambil menatap Yoo Chun Young yang masih tertidur, Woo Jooin melanjutkan,

“Lebih baik biarkan pihak yang bersangkutan menyelesaikannya sendiri.”

“Ya, itu benar…”

“Aku hanya berharap ini tak berakhir sebagai tragedi.”

Wajah Woo Jooin menggelap saat mengatakannya. Kwon Eun Hyung segera mengangkat kepala. Saat mata mereka bertemu, Woo Jooin tersenyum padanya dengan kerentanan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ia lalu membuka kedua telapak tangannya.

“Aku benci hal seperti itu… dua sahabat jatuh cinta pada gadis yang sama lalu persahabatan mereka hancur… Menyaksikan itu saja sudah terasa seperti bencana di film atau drama; apalagi kalau terjadi di kehidupan nyata?”

“…”

“Kalau sampai itu terjadi, aku akan memukul Eun Jiho sekeras mungkin, jadi kau lakukan hal yang sama pada Chun Young. Aku tak tega memukul Chun Young sendiri…”

“… Cara bicaramu berubah.”

Eun Hyung akhirnya berkomentar dengan ragu. Woo Jooin langsung mengangkat kepala. Mata emasnya terbuka lebar.

“Benarkah?” tanya Jooin sambil memiringkan kepala.

“Mm.”

“Begitu.”

Entah apa yang membuatnya terdiam, Woo Jooin lalu tenggelam dalam pikirannya. Jam berdetak di antara ketiga bocah yang larut dalam sunyi. Cahaya matahari terang menodai pipi Yoo Chun Young dengan putih bersih. Beberapa saat kemudian, Woo Jooin perlahan membuka bibirnya, masih menatap kosong.

“Aku tak tahu kalau cara bicaraku berubah.”

“Dulu kau kadang berbicara seperti buku pelajaran etika dan membuat orang bingung.”

“Benarkah? Aku begitu?”

Woo Jooin kini tampak tertarik, membuat Kwon Eun Hyung sedikit lega. ‘Mungkin tak seserius yang kupikirkan,’ ia mengangguk.

“Ya, kau tiba-tiba mengganti nada bicara dan mengutip teori moral seperti di buku etika. Seolah-olah kau sedang membuat alasan dengan berkata, ‘Sebenarnya aku tak seburuk itu,’ dan itu terdengar sangat membingungkan bagi yang mendengarnya.”

“Oh, begitu.”

“Tapi sekarang tidak.”

‘Padahal belum lama sejak kita berbicara berdua saja,’ pikir Eun Hyung, lalu bertanya,

“Apa terjadi sesuatu?”

Woo Jooin menunjukkan senyum tipis. Ia menyentuh kedua tangannya seolah merasa malu. Setelah beberapa saat, ia membuka bibirnya.

“Mama.”

“Mama?”

Kwon Eun Hyung refleks bertanya dan wajahnya memucat. Tentu Jooin tak sedang membicarakan ibu kandungnya. Setiap kali topik keluarga Woo Jooin muncul, Eun Jiho selalu mengalihkan pembicaraan, jadi Eun Hyung bisa menebak garis besarnya. Alasan Jooin tak lagi menyematkan kata ‘mama’ pada orang yang seharusnya dan menggunakannya sembarangan mungkin karena sosok itu sudah tiada. Woo Jooin melanjutkan dengan senyum rapuh.

“Aku tak tahu ternyata perbedaannya sebesar itu.”

Chapter 207

Seolah berbicara dalam tidur, suara Jooin melayang di udara. Matanya terbuka menatap ruang kosong, seperti berada di dalam mimpi.

“Berbeda?” tanya Eun Hyung.

“Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku bukan orang aneh, dan seseorang yang lain mengatakan hal yang sama padaku. Keduanya berbeda.”

“…”

Barulah Eun Hyung menyadari alasan perubahan suasana hati Woo Jooin. Ia memang sempat merasa bahwa sejak uji nyali itu, ada sesuatu di sekitar Jooin yang berubah. Jooin tak lagi menajamkan sikapnya pada orang-orang terdekatnya ataupun menyembunyikan warna aslinya seperti dulu. Seperti melihat seorang anak yang baru pertama kali melangkah tanpa bantuan, Eun Hyung bahkan merasakan getaran halus di hatinya.

Woo Jooin melanjutkan dengan senyum tipis, “Tak seorang pun… pernah mengatakan hal itu padaku sebelumnya, jadi aku tak pernah tahu bahwa perbedaannya bisa sebesar ini.”

“Kalau begitu—.”

“Dan di sisi lain, aku jadi berpikir bahwa aku harus menjadi orang yang lebih baik. Itu satu-satunya cara untuk membalas kata-kata itu.”

“…”

“Bukankah menakjubkan kalau seseorang bisa berubah karena orang lain?”

Woo Jooin menundukkan pandangannya pada Yoo Chun Young yang tertidur. Di bawah udara perpustakaan yang tenang, sosoknya tampak kokoh seperti lukisan benda mati. Jika Jooin tak mendengar napasnya yang samar, ia mungkin akan mengira waktu telah berhenti. Masih menatap Yoo Chun Young, Jooin membuka bibirnya.

“Dan kurasa perubahan itu sudah cukup untuk sekarang.”

Kwon Eun Hyung kembali terdiam saat melihat betapa murungnya Woo Jooin saat ini. Suaranya berlanjut pelan seperti gumaman.

“… karena sekarang aku benar-benar bahagia.”

Saat itulah Kwon Eun Hyung hendak menanggapi ucapannya. Woo Jooin tiba-tiba kembali cerah seolah mengenakan topengnya lagi. ‘Walaupun sekarang dia tak lagi ragu menunjukkan dirinya yang sebenarnya, perubahan wajahnya yang mendadak itu tetap saja terlalu cepat…’ Pikir Eun Hyung, tepat ketika Woo Jooin melambaikan tangan ke arah seseorang di kejauhan.

“Hei!”

Ketika Kwon Eun Hyung menoleh, ia melihat wajah-wajah yang memang ia duga. Dengan tas tersampir di bahu masing-masing, Eun Jiho dan Ham Dan Yi berjalan ke arah mereka.


“Bagaimana bisa dia tidur senyenyak itu?”

Aku menatap Yoo Chun Young yang tenggelam dalam mimpi dengan takjub. Eun Jiho di sampingku menambahkan,

“Dia ke sini untuk tidur? Belakangan ini dia seperti Sleeping Beauty.”

Alih-alih Yoo Chun Young, justru Eun Hyung yang duduk di sebelahnya tampak terganggu oleh komentar Eun Jiho. ‘Eh? Kenapa Eun Hyung berekspresi begitu?’ Meletakkan tasku, aku duduk dan bertanya,

“Apa Yoo Chun Young syuting lagi kemarin? Tidurnya sampai seperti itu, rasanya seperti dia…”

Entah kenapa, Eun Hyung tampak sedikit cerah mendengar ucapanku.

“Oh, dia ada acara keluarga kemarin. Kalau liburan, jumlahnya memang bertambah,” jawabnya.

“Lalu kenapa tak kau suruh saja dia tinggal di rumah dan tidur seharian?” tanya Eun Jiho sambil duduk di sampingku secara alami.

‘Ya, itu masuk akal,’ aku mengangguk. Namun wajah Eun Hyung berubah lagi. Ia tampak lebih kaku dibanding saat berbicara denganku tadi. ‘Bukan kaku… lebih seperti berada dalam situasi canggung…?’ Saat pikiranku berlanjut, Yoo Chun Young tiba-tiba membuka mata. Bulu matanya yang panjang dan tebal terangkat perlahan; mata birunya bergerak menatapku dan Eun Jiho bergantian. Ia lalu bangkit.

Aku dan Eun Jiho menatapnya dengan perasaan tak enak. Yoo Chun Young menyentuh keningnya tanpa bicara, seolah sakit kepala. ‘Rasanya kasihan sekali…’ gumamku dalam hati. ‘Seperti kita menyalahkan anak sakit karena bangun untuk belajar…’ Aku melambaikan tangan dan berkata,

“Aku hanya bilang begitu karena kasihan melihatmu kelelahan akhir-akhir ini… sebenarnya aku tak peduli kau mau tidur atau tidak, jadi…”

Sementara itu, Yoo Chun Young menatapku dengan mata yang sulit ditebak, lalu sebelum aku menyelesaikan kalimatku, ia berkata,

“Aku akan belajar.”

“Hah?”

“Itu sebabnya aku ke sini.”

Sambil berkata begitu, ia mengulurkan tangan mengambil buku dari tas selempangnya yang tergantung di kursi. Keletihan terasa dalam setiap gerakannya. Aku menatapnya bingung sejenak, lalu perlahan menoleh dan bertukar pandang dengan Eun Jiho di sampingku. Ia juga tampak heran. Jooin, yang sejak tadi berwajah seperti orang bijak, tersenyum miring.

“Mama, apa masalahnya? Chun Young bilang dia mau belajar, jadi mari kita dukung saja.”

“Um, maksudku… tapi…”

Yoo Chun Young yang sedang menumpuk buku tiba-tiba mengangkat mata dan menatapku.

“Kenapa?” tanyanya.

Mata birunya tampak luar biasa serius hingga membuatku sedikit tak nyaman. Suaraku tanpa sadar bergetar.

“Um… eh… maksudku… ayo kita belajar dengan giat.”

“Ya.”

Ia lalu mengalihkan pandangan ke buku latihan. Aku kembali menoleh pada Eun Jiho. Namun ia seolah menyadari sesuatu. Mata hitamnya yang mengarah pada Yoo Chun Young tampak berat dan tertahan.

Hm… melihat profil wajahnya, aku buru-buru memalingkan wajah sebelum pandangan kami bertemu. Lalu aku menatap gunung matematika di depanku. ‘Perjalananku masih panjang, jadi kenapa aku harus mengkhawatirkan orang lain? Lagipula, Yoo Chun Young punya otak. Dia hanya tak punya waktu karena sibuk. Haha, nanti kalau aku kembali ke dunia asalku, akan kuceritakan semuanya tentang kalian.’

Lalu aku membayangkan diriku di dunia asal.

Aku akan menulis buku motivasi berjudul ‘Cara Bertahan Hidup di Antara Empat Raja Langit.’ Bagaimana kalau isinya berbunyi, ‘Teman-teman, mari belajar dengan giat. Empat Raja Langit dan tokoh utama wanita adalah monster yang mengoceh tentang betapa mudahnya menjadi peringkat satu nasional hanya dengan mengikuti tiga pelajaran inti di sekolah?’ Lamunan konyolku tak berlangsung lama. Aku segera menggenggam pensil dan mulai fokus belajar.

Perpustakaan saat siang hari sangat tenang.

Andai saja aku bisa berkata begitu, tapi sayangnya tidak. Aroma buku yang membuatku mengantuk dan hangatnya sinar matahari yang memanaskan ruangan ber-AC terasa nyaman, namun…

Masalahnya, yang duduk di sampingku adalah Empat Raja Langit. Perhatian orang-orang tak terhindarkan. Kursi di sekitar kami makin lama makin penuh. Setiap pasang mata tertuju pada kami hingga pipiku terasa perih. Namun seperti kata orang, manusia adalah makhluk paling adaptif; pada suatu titik aku hanya sibuk mengerjakan soal tanpa peduli lagi. Setelah beberapa saat, aku mengangkat kepala dan melihat Yoo Chun Young mengernyit sambil menekan keningnya pada ujung pensil. Bulu matanya yang tertunduk begitu panjang hingga seperti boneka. Lalu aku mengerutkan dahi saat kejadian beberapa hari lalu terlintas di pikiranku.

Hal-hal tak masuk akal yang terjadi saat uji nyali… pria tanpa wajah yang mematikan sakelar sambil berjalan di lorong hanya dengan suara langkahnya, begitu menakutkan hingga kadang muncul dalam mimpiku. Namun yang paling membekas justru ilusi singkat saat aku membuka pintu kelas. Pemandangan ruang kelas bersih diterangi senja, bahu lebar Yoo Chun Young yang duduk di sampingku, kenangan saat aku mengambil earphonenya dan memakainya, serta musik yang mengalun…

Aku menatap Yoo Chun Young. Yang paling tak terlupakan adalah wajahnya yang terpelintir kesakitan dan suara terputus-putus seperti mesin rekaman rusak, membuatku tak sanggup tak bertanya apa yang terjadi.

‘Itu kamu.’

‘Salju turun, dan aku berdiri di sana memikirkan kenapa aku berdiri di situ…’

‘Seberapa keras pun aku mencoba memikirkannya, aku tak tahu untuk siapa dan untuk apa aku menunggu di sini…’

‘Itu kamu.’

Itu kamu… aku menggumamkannya pelan, namun tetap saja belum terasa nyata. Bagaimana mungkin Yoo Chun Young mengatakan hal seperti itu kepadaku dengan wajah penuh kesakitan? Aku menggesek-gesek pensilku. Bukannya menjawab soal, aku justru menggambar lingkaran tak berarti di atas angka-angka sambil berpikir, ‘Itu hanya mimpi. Tak mungkin terjadi kecuali dalam mimpi. Bahkan ruangnya pun terlalu tidak nyata…’

Namun aku tak bisa menyangkal bahwa jauh di lubuk hatiku, ada bagian diriku yang berharap itu bukan sekadar mimpi. Wajah Yoo Chun Young yang seperti itu hanya karena ia melupakanku atau aku tak kembali terasa seperti… seolah aku adalah seseorang yang sangat istimewa baginya.

Chapter 208

Mungkin aku pernah berharap bisa menjadi seseorang yang sedikit lebih istimewa baginya—bukan sekadar teman yang dulu disebut sebagai ‘satu-satunya orang yang tidak mengharapkan apa pun darinya.’

Begitulah caranya pikiranku sampai pada kesimpulan seperti ini.

Ya ampun! Aku cepat-cepat menggelengkan kepala dan membenamkan wajah ke buku latihan. Seolah menangkap sesuatu yang aneh, Yoo Chun Young mengangkat mata birunya dan menatapku, tapi aku berusaha keras untuk tidak mengangkat wajah. ‘Kalau sekarang aku mendongak, dia pasti sadar aku sedang tersipu. Astaga, itu tidak boleh terjadi!’ Aku mati-matian mencoba memikirkan hal lain. Cara kerja otaknya benar-benar tak terduga, dan aku sudah menyadarinya sejak kejadian saat study tour. Bukankah Yoo Chun Young sudah keterlaluan ketika mencium pipiku hanya untuk memastikan apakah sel cintaku benar-benar ada atau tidak?

“…”

Akan lebih baik kalau aku memikirkan fatamorgana yang kulihat saat uji nyali waktu itu. ‘Kenapa malah mengingat itu?’ Begitu pikiran itu melintas, mata Yoo Chun Young yang tertuju padaku dari seberang tampak menggelap. Aku buru-buru berdiri dari kursi. Kursi itu menimbulkan suara gesekan. Seolah merasa suaranya terlalu keras, Eun Hyung menoleh ke arahku.

“Dan Yi, kamu mau ke mana?” tanyanya.

“Oh, um… mau bikin diri sendiri melek. Dari tadi rasanya ngantuk terus, haha.”

Ha, ahaha— Bahkan tawaku sendiri terdengar canggung di telingaku; tapi ini bukan pertama kalinya aku bersikap seperti itu, jadi Eun Hyung hanya tersenyum dan mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi. ‘Dia memang selalu cepat tanggap dan perhatian,’ pikirku, ketika suara Eun Jiho terdengar dari sampingku.

“Iya, kelihatan kok. Dari tadi kamu cuma gambar lingkaran sialan di sekitar nomor 6 terus. Kukira kamu kena kutukan?”

AAHHHHH! Aku begitu terkejut sampai hampir berteriak padanya dengan mata membelalak.

“Kamu dari tadi ngelihatin aku?!”

Sedikit mengernyit tanpa menjawab, Eun Jiho menatapku seolah berkata aku bahkan tak perlu menanyakan hal itu. ‘Kenapa sih bikin wajah begitu?’

“Kamu sendiri gimana belajarnya? Kenapa malah ngelihatin aku bukannya ngerjain soal?”

“Hei, aku nggak terus-terusan ngelihatin kamu. Nanti orang-orang kira aku stalker, perempuan!”

Sambil berkata begitu, Eun Jiho melambaikan tangannya di udara. Lalu senyum jail terbit di wajahnya, seakan sebuah pikiran baru saja terlintas.

“Lagipula aku nggak perlu belajar,” katanya sambil tersenyum.

“…”

Aku membuka lalu mengepalkan tanganku, kehilangan kata-kata. Meski kalimatnya begitu arogan, wajah Eun Jiho yang berkilau diterpa sinar matahari tampak hampir seperti pahatan kuno—membuatnya terlihat semakin menyebalkan.

‘Ya Tuhan,’ keluhku dalam hati setelah jeda panjang, ‘kenapa Kau tidak memberiku kemampuan atletik Ban Yeo Ryung kalau otaknya saja tak Kau berikan padaku! Kapan aku bisa mengalahkannya?!’ Jooin, yang berdiri di samping kami, menyela dengan senyum miring.

“Wah, Jiho, itu barusan adalah hal terbaik yang pernah kamu ucapkan.”

“Terbaik dari semua yang pernah kuucapkan?”

“Diam, bro. Itu hal paling menjijikkan yang pernah kudengar.”

‘Jooin…’ Aku menatapnya dengan takjub. Ada sensasi berdebar yang mengalir dari dalam hatiku. Saat mata kami bertemu, Jooin tersenyum padaku seperti malaikat dari langit. Entah kenapa, Eun Jiho justru tampak lebih bingung daripadaku. Lalu kudengar dia tergagap pada Woo Jooin.

“Hei, kamu tadi ngomongnya blak-blakan banget ke aku, tapi Ham Dan Yi lagi di sebelah—”

“Hah? Kenapa memangnya, mama?”

“Um… eh, tapi kamu… kamu yakin dengan ini? Maksudku, tunggu…”

Ada apa sih? Menatap Eun Jiho yang jarang sekali tampak kacau seperti itu, aku memutar badan dan keluar dari sela-sela mereka. Di seberang kedua anak laki-laki itu, Eun Hyung berdiri sambil memberi isyarat tangan agar aku pergi melakukan urusanku. Wajah Yoo Chun Young tak terlihat jelas karena menyatu dengan cahaya terang. Aku hanya melambaikan tangan sembarangan dan mundur keluar dari perpustakaan.

Begitu masuk ke kamar mandi dan memutar keran, air dingin langsung mengalir deras. Karena hanya memakai sunscreen, aku membasuh wajah dengan lega dan segera merasakan pipiku yang panas perlahan mendingin. Setelah mengeringkan wajah dengan tisu dan mengangkat pandangan, aku melihat diriku di cermin. Mataku berkilau seperti anak kecil yang menunggu Natal dengan harapan akan kejutan tak terduga. Menatap pantulan mataku dalam diam, tiba-tiba aku mengernyit.

‘Aku ini memperhatikan apa sih, sampai tak bisa fokus belajar?’ pikirku sambil meremas tisu dan membuangnya ke tempat sampah. ‘Aku tidak akan jatuh pada siapa pun,’ gumamku lagi—kalimat yang selama tiga tahun terakhir terus kuucapkan pada diri sendiri seperti mantra. Entah kenapa, itu membuatku sedikit lebih tenang.

Saat keluar dari kamar mandi, sesuatu tiba-tiba muncul dari sampingku. Aku terkejut dan menyingkir, lalu membelalakkan mata ketika menyadari siapa orang itu. Sebuah kaleng kopi dengan embun air di permukaannya… Saat kuangkat pandangan, seorang asing terlihat di hadapanku. ‘Siswa, ya? Sepertinya… kelihatannya seperti kakak kelas SMA.’ Alih-alih seragam, ia mengenakan kaus putih dan celana katun yang tampak nyaman—pakaian yang cocok untuk libur musim panas. Ketika aku tiba-tiba melangkah mundur, ia tampak sedikit canggung. ‘Mungkin karena hampir saja bertabrakan,’ pikirku. Aku menundukkan kepala dengan wajah tak enak dan melangkah pergi dengan cepat. Saat itulah—

“Um… maaf.”

“…?”

Sebelum menjawab, aku melihat sekeliling dengan hati-hati.

“Kamu, yang rambut cokelat pendek.”

Aku menoleh lagi padanya. Sejujurnya, setelah terbiasa melihat kemilau Empat Raja Langit, aku agak sulit membedakan penampilan orang lain. Bagaimanapun juga, dia tipe anak laki-laki biasa saja. Saat mata kami bertemu, ia tersenyum cerah. Lalu ia mengulurkan kaleng itu padaku. EH?

“Itu bukan punyaku.”

“Iya, aku tahu. Aku memang mau memberikannya padamu.”

“…?”

‘Apa cuma aku yang nggak paham situasi ini?’ Dengan pikiran itu, aku menunduk menatap kaleng yang diulurkannya. Entah kenapa, dia terlihat cukup gugup. Setelah menatapnya sejenak, aku melangkah mundur. Wajahnya langsung menunjukkan kekecewaan.

“Oh, maksudku, ini biasanya nggak pernah terjadi padaku, jadi aku agak canggung… dan rasanya nggak enak karena nggak bisa membalas apa-apa,” kataku.

“Um, aku cuma… kamu akhir-akhir ini belajar di perpustakaan sama teman-temanmu, kan? Kayaknya kita bakal sering ketemu, jadi… makanya aku memberikannya padamu.”

Dia memang tidak terlalu terus terang, tapi karena sudah sering melihat berbagai situasi di sekitar Ban Yeo Ryung, aku punya sedikit firasat. Aku menghela napas dan menggaruk dahi. ‘Bukannya dia sedang mendekatiku? Aku sama sekali tidak ingin pacaran, setidaknya sampai lulus SMA. Lagipula, ada orang-orang yang bahkan tak bisa membayangkan romansa.’ Saat pikiranku mengembara begitu, sebuah tangan tiba-tiba terulur lagi ke arahku, berusaha membuatku menerima kopi itu. Ya Tuhan… Mataku membesar kebingungan. Aku tahu niatnya baik, tapi tak perlu seagresif ini…

Tiba-tiba, seseorang di belakangku meraih pergelangan tanganku dan menariknya dengan kasar. Tangan lainnya melingkari leherku. Bagian belakang kepalaku terasa membentur dada yang keras. Aku mendongak dan menemukan wajah yang sangat kukenal tepat di atas sana. Menatapnya, aku memanggil namanya.

“Yoo Chun Young?”

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Oh.”

“Aku mencarimu.”

Um… Aku hendak menjawab, tapi malah memalingkan wajah ke depan lagi. Meski dia lebih tinggi satu kepala dariku, jarak kami begitu dekat sampai suara Yoo Chun Young terdengar seolah berbisik tepat di telingaku. Rasanya aneh sekali; selain itu, aku menggoyangkan lengannya yang melingkari leherku, yang tentu saja tak bergeser sedikit pun.

‘Astaga, ini keterlaluan, kan?’

Sementara itu, seseorang lagi melangkah mendekat ke sisiku. Saat menoleh, wajahku langsung mengeras. Itu Eun Jiho. Ia memasang tatapan dingin khasnya yang sering membuat orang asing kewalahan; tapi yang kurasakan justru… seperti melihat Jekyll dan Hyde.

“Ada masalah dengan dia?” tanya Eun Jiho, mengambil alih.

“Um, aku… cuma…”

“Kopi? Kenapa? Kalian bahkan tidak saling kenal.”

Eun Jiho mengerutkan mata hitam legamnya. Kulihat anak itu mundur dengan wajah ketakutan. ‘Ya ampun, Eun Jiho!’ Melihat situasinya, aku membuka mulut.

“Hei, kenapa kamu bikin dia takut begitu?”

“Ayolah, ini konyol. Kenapa orang asing tiba-tiba memberimu minum…?”

“Itu juga sering terjadi pada Ban Yeo Ryung.”

Eun Jiho langsung menunjukkan ekspresi tak percaya.

“Kamu pikir dia sama sepertimu?”

Chapter 209

Astaga! Alisku langsung bertaut di tengah, membuat Eun Jiho memasang wajah seolah berkata, ‘Ups, seharusnya aku tidak mengatakan itu.’ Namun, semuanya sudah terlambat. Aku memang tahu Ban Yeo Ryung dan aku jelas berbeda, tapi tidak ada alasan baginya untuk bersikap sekasar itu. Saat aku memalingkan wajah darinya, Eun Jiho bergumam pelan, “Astaga, bukan itu maksudku… sial…!” Seolah kecewa pada sesuatu, ia tiba-tiba mengangkat kepala.

“Po—pokoknya, jangan beri dia apa pun,” katanya.

‘Hei, bukankah agak berlebihan memasang wajah seperti itu pada orang asing?’ pikirku. Namun anak itu tidak terlihat seseram yang kubayangkan. Ia segera menyingkirkan ekspresi takutnya dan bertanya,

“…Kenapa? Memangnya kamu siapa sampai berkata begitu?”

Yang terdengar setelah pertanyaannya adalah dua suara berbeda.

“Pacar.”

“Pacar.”

Begitu dua suara dengan nada berbeda itu bertumpuk pada saat yang sama, lorong itu langsung diselimuti keheningan yang memekakkan. Bukan hanya anak itu, aku pun terpaku. Dengan wajah memerah, aku menoleh bergantian antara Yoo Chun Young yang berdiri di atas kepalaku dan Eun Jiho di sampingku. ‘Kalau mau berbohong, kalian harus kompak dulu. Sepertinya kalian memang tak akan pernah jadi duo penipu…’ Aku berdecak pelan dalam hati. ‘Percuma saja kalau kalian berdua bilang begitu…’ Saat pikiran itu melintas, kedua anak laki-laki itu sempat saling berpandangan dengan bingung. Lalu mereka membuka mulut lagi.

“Aku yang pacarnya, dia cuma bercanda—”

“Aku yang pacarnya, dia cuma bercanda—”

Begitu sampai pada bagian itu, mereka kembali saling menatap. Keheningan berat kembali menggantung di udara. Aku bergumam bingung.

“Kalian ini sedang apa sih?”

Keduanya terdiam, tak tahu harus berkata apa. Setelah beberapa saat, mereka serempak mengangkat kepala dan mulai menatap tajam—bukan pada siapa-siapa selain anak itu. Anak itu tampak seperti sudah memutuskan untuk lari saja tanpa memahami situasinya. Ia tiba-tiba berbalik dan kabur. Saat sosoknya benar-benar menghilang di tikungan, aku akhirnya menghela napas panjang menghadapi situasi konyol ini. Lalu aku menoleh ke samping. Entah kenapa, ekspresi Eun Jiho dan Yoo Chun Young yang berdiri di sisiku tampak tidak begitu baik.

“Um, sebenarnya aku memang tidak berniat menerimanya, tapi tadi itu apa sih…?” tanyaku.

Keduanya tidak menjawab lagi. Aku melempar pertanyaan lain.

“Kenapa malah aku yang jadi merasa malu?”

Tetap saja hening. Maka aku memutar tubuh untuk melepaskan diri dari lengan Yoo Chun Young. Saat itulah aku menyadari bahwa sejak tadi aku berada dalam rangkulannya; namun entah kenapa, jantungku sama sekali tidak berdebar…

Maksudku, itu karena aku baru saja melihat mereka bertingkah konyol. ‘Ah! Aku hampir lupa.’ Aku mengangkat kaki dan menendang tulang kering Eun Jiho di sampingku. “ADUH!” Ia berteriak keras.

“Ya Tuhan! Kenapa kamu masih marah padahal aku baru saja membantumu? Tadi kamu sendiri bilang tidak berniat menerimanya!”

“Kamu lupa? Kamu bilang Ban Yeo Ryung tidak sama denganku?”

“Oh… hei, kamu salah paham!”

“Lalu apa?”

“Ya memang begitu. Kamu dan Ban Yeo Ryung benar-benar berbeda. Aku tidak bermaksud mengatakan sesuatu yang buruk—”

“Sudahlah.”

‘Pergi saja sana, Eun Jiho,’ gumamku dalam hati sambil menekan kepala peraknya dengan tatapan tajam, lalu meninggalkan tempat itu. Yoo Chun Young di sampingku segera menyusul langkahku. Saat kami berjalan berdampingan kembali ke perpustakaan, tiba-tiba aku bertanya,

“Tapi… tidak apa-apa berbohong begitu?”

“Maksudmu?”

Suaranya terdengar santai. Aku selalu senang mendengar suaranya, tapi entah kenapa terasa lebih menyenangkan lagi di musim panas. Seperti angin sejuk yang berembus tepat di sisiku. Dengan senyum samar, aku menjawab,

“Yang soal pacar itu. Kamu kan selebritas—meski lebih sering muncul di foto daripada di TV—jadi sepertinya tidak akan jadi masalah besar.”

“Hmm.”

Ia melirik ke tempat lain sejenak lalu menjawab,

“Kalau tidak begitu, dia pasti akan mengulanginya saat kami tidak ada di dekatmu.”

“Memangnya kenapa? Aku bisa menanganinya sendiri.”

“Itu membuatku cemas.”

Kata-katanya keluar begitu mulus sampai awalnya aku tidak benar-benar menangkap apa yang kudengar. Aku berhenti melangkah sesaat. Yoo Chun Young melirikku lalu terus berjalan lebih dulu. Mata birunya seolah menyiratkan senyum, meski aku tidak yakin. Setelah beberapa saat, aku baru menggerakkan kakiku kembali menuju tempat dudukku. Dari seberang, terdengar suara Eun Hyung memanggilku.

“Dan Yi, sudah bangun sekarang?”

“…”

“Dan Yi?”

“Tidak… sepertinya belum.”

Bergumam begitu, aku tiba-tiba bertemu tatapannya, jadi aku cepat-cepat mengangguk. Lalu kugenggam pen dan menatap ke seberang. Yoo Chun Young duduk di sana, menundukkan mata birunya pada buku latihan dengan wajah tenang.

Melihatnya seperti itu, aku tahu dari dalam hati, ‘Ah, hari ini belajarku benar-benar berantakan.’

Itu terjadi saat aku hendak keluar dari perpustakaan. Tempat sampah besar di lorong menarik perhatianku. Tempat sampah bundar biasa yang sering ada di ruang publik. Tanpa tutup, jadi isinya terlihat jelas. Mataku membesar.

“Eh?”

Eun Jiho yang berjalan di sampingku bertanya, “Kenapa?”

Hmm… Sambil mengerutkan alis, aku memalingkan wajah. ‘Tidak mungkin dia langsung membuang kopi itu hanya karena aku tidak menerimanya. Dia masih bisa meminumnya sendiri,’ pikirku sambil menggeleng dan melangkah pergi.


Seperti yang pernah kusebutkan sebelumnya, alasan Ban Yeo Ryung tidak bisa akrab dengan gadis-gadis lain adalah karena aura protagonis wanita anehnya yang selalu menarik rasa iri. Itu sama sekali bukan karena kepribadiannya, jadi kupikir ia tidak akan bermasalah bekerja paruh waktu di kafe. Ia cekatan, bersikap dan berbicara dengan manis—kecuali pada Eun Jiho—dan yang terpenting, ia pandai memasak, tidak seperti kakaknya, Ban Yeo Dan.

Seberapa buruk kemampuan memasak Ban Yeo Dan? Jangan kaget. Di antara teman-temannya, beredar hipotesis yang cukup meyakinkan bahwa Yeo Dan oppa bisa melepaskan senjata biokimia lewat ujung tangannya.

Haha, aku tertawa muram ketika kenangan lama terlintas di kepalaku. Suatu Minggu sore, Yeo Dan oppa pernah memasakkan mi instan untukku dan Yeo Ryung. Setelah memakan itu, aku bisa dengan damai mengakhiri rasa sukaku padanya. Cukup menjelaskan seperti apa masakannya, bukan?

‘Syukurlah Yeo Ryung punya kemampuan memasak yang biasa saja,’ pikirku sambil menatap ke depan. Jooin duduk di kursi paling dekat dengan dinding. Ia bergumam sambil melirik ke lorong.

“Tempat ini ramai sekali.”

“Mm,” aku mengangguk.

Eun Jiho yang duduk di sampingku berkata, “Dan hampir semuanya laki-laki.”

“Iya.”

Aku kembali mengangguk. Eun Hyung yang duduk di seberang bergumam,

“Part-timer yang sekarang… sepertinya bukan yang dulu…?”

“Kenapa bisa begitu?”

Kali ini aku memutar jawaban agar tidak terdengar sama. Eun Hyung hanya tersenyum penuh arti tanpa berkata apa-apa. Yah, tak seorang pun di sini yang tidak mengerti maksudnya. Jooin kembali bergumam.

“Mungkin dia berhenti setelah ditolak usai menyatakan perasaannya padanya.”

“…”

“Kasihan.”

Siapa? Yeo Ryung atau laki-laki yang ditolak itu? Aku ingin bertanya, tapi menahannya. Sebenarnya, aku merasa kasihan pada keduanya. Yeo Ryung terlahir untuk dicintai banyak orang asing, sementara laki-laki itu tidak tahu apa-apa tentang sejarah pribadinya. Setelah beberapa saat duduk dalam diam, Ban Yeo Ryung berjalan mendekati meja kami.

Ia mengenakan apron hitam di atas kaus putih dan rok krem, rambutnya diikat ekor kuda; namun tetap saja, Ban Yeo Ryung bersinar seperti bintang. Hal pertama yang ia lakukan begitu sampai di meja kami tentu saja mengusir Eun Jiho dari kursi di sampingku. Lalu ia duduk di tempatnya, tepat di sisiku. Baru kusadari, jika aku memakai kata “tentu saja” di sini, identitas novel ini mungkin akan bergeser ke jalur lain… tapi sudahlah.

Bagaimanapun, Ban Yeo Ryung yang duduk damai di sampingku menopang dagu dengan telapak tangannya dan menatapku dengan mata berbinar.

“Dan Yi, kamu mau apa? Tinggal bilang saja. Mau kubawakan yang paling mahal?”

Hmm, meski berusaha setenang mungkin, tawarannya sangat menggoda. ‘Apa ini yang disebut kesempatan teman?’

“Yang paling mahal apa?” tanyaku.

“Um, hatiku?”

“…”

Saat aku membeku kehilangan kata, Eun Jiho mengulurkan tangan dan menyela.

“Kenapa itu yang paling mahal? Omong kosong.”

“Haha, kamu tidak akan pernah mendapatkannya.”

“Haha, memangnya aku minta?”

Ban Yeo Ryung akhirnya mencengkeram kerah Eun Jiho sambil meraung marah.

Chapter 210

‘Tunggu dulu. Ini tempat umum, tahu?’ Saat Eun Hyung memisahkan dua orang yang sedang bertengkar itu, Ban Yeo Ryung menghela napas panjang. Pemandangan seperti itu sudah begitu biasa hingga Woo Jooin dan Yoo Chun Young, sementara itu, malah membuka menu untuk memutuskan minuman mereka.

“Ehm… ada iced Americano?” tanya Jooin sambil mengangkat tangan.

“Ada, itu menu biasa.”

“Yoo Chun Young mau citrus tea pakai es.”

“Oh, aku juga,” kataku sambil mengulurkan tangan.

Tanpa mencatat apa pun, Ban Yeo Ryung hanya mengangguk, seolah mengingat semua pesanan kami, lalu pergi. Menatap punggungnya yang semakin menjauh, tiba-tiba aku merasa iri pada kecerdasannya. ‘Ya Tuhan. Kalau saja aku punya otaknya, saat istirahat begini aku tidak akan belajar, tapi bekerja paruh waktu.’ Lalu aku teringat pada kertas terlipat yang tadi kuselipkan ke dalam saku. ‘Ah, aku benar-benar lupa.’ Dengan alis berkerut, aku mengeluarkan kertas itu.

“Apa itu? Kenapa wajahmu begitu?” tanya Eun Jiho.

“Ada apa, Dan Yi?”

Eun Hyung di sampingku juga bertanya dengan tatapan khawatir. Aku perlahan membuka kertas terlipat itu di depan mereka. Tak lama, mereka pun ikut mengerutkan kening. Jooin yang pertama bergumam.

“Oh, ini… survei karier.”

“Mereka akan menentukan kita masuk jurusan IPS atau IPA berdasarkan survei ini,” kataku muram, lalu membenamkan wajah ke dada.

Anak-anak itu tampak saling berpandangan. Suasana di sekitar kami pun perlahan menjadi tenang. Eun Hyung lalu melirikku.

“Kenapa? Tidak ada yang ingin kamu lakukan?”

“Hmm… jadi pewaris konglomerat?”

Ucapanku membuat meja kami terdiam berat.

Aku menambahkan, “Untuk mewujudkan mimpiku… ayah & ibu, semangat!”

Jooin yang pertama meledak tertawa. Ia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya di seberangku. Aku memang mengatakannya sebagai lelucon, jadi saat aku mengangkat bahu, Eun Hyung pun ikut terkikik. ‘Bukankah itu lelucon yang sering diucapkan semua orang? Mimpiku jadi pewaris konglomerat… semacam itu…’ Saat aku mencoba tersenyum sambil memikirkan itu, terdengar suara serius yang tak terduga dari sampingku.

“Tidak. Jumlah saudara juga penting untuk jadi pewaris.”

“…”

Aku menoleh dengan wajah kaku. Eun Jiho, yang terlihat sangat serius, menatapku. Mata hitamnya di bawah rambut peraknya menunjukkan kesungguhan. ‘Ah, aku lupa…’ gumamku dalam hati. Di kelompok ini bukan cuma satu, tapi dua orang yang tampan, pintar, jago bertarung, dan bahkan pewaris keluarga konglomerat terkaya. Sialan, web novel ini…

Eun Jiho melanjutkan dengan serius, “Mengerti? Kalau ada yang menawarkanmu posisi pewaris, kamu harus benar-benar mempertimbangkan jumlah saudaramu sebelum memutuskan menerima atau tidak. Kalau anak tunggal? Tamat sudah. Hei, lihat Yoo Chun Young.”

Topik pembicaraan tiba-tiba beralih pada Yoo Chun Young, membuatku sedikit membelalakkan mata. Yoo Chun Young yang sejak tadi mendengarkan sambil menopang dagu dengan telapak tangan, membuka sedikit mata birunya dengan ekspresi getir. Ketika Eun Jiho terus berbicara, aku langsung meringis. Ya ampun.

“Lihat wajahnya yang tanpa ketegangan itu. Kalau mau jadi pewaris, seharusnya jadi yang paling bungsu.”

Yoo Chun Young membalas dengan kening berkerut, “Kenapa kamu mencari masalah?”

“Yah, kamu terlihat santai sekali sekarang, bukan? Jadi yang penting itu apakah kamu punya saudara lain atau tidak…”

Mendengarkan Eun Jiho berbicara tak jelas, aku memalingkan wajah. ‘Itu sih setelah kamu benar-benar jadi pewaris dulu.’ Sementara itu, Ban Yeo Ryung datang membawa pesanan kami dan duduk di sampingku.

Menatap Eun Jiho, ia bertanya, “Kenapa dia?”

“Tidak tahu. Ada apa dengannya hari ini? Agak aneh.”

Begitu aku menjawab, Jooin di seberang kembali terkikik. ‘Apa dia tahu sesuatu?’ pikirku sambil membelalakkan mata. Suara Eun Jiho perlahan mengecil lalu tenggelam. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menghela napas panjang. ‘Sebenarnya ada apa dengannya?’ batinku.

“Ayolah, bilang,” desak Ban Yeo Ryung.

“…”

“Jooin, kamu tahu sesuatu?”

Sambil mengaduk Americano-nya dengan sedotan, Jooin menyunggingkan senyum miring. Ia melemparkan tatapan nakal pada Eun Jiho lalu berkata,

“Apalagi yang bisa membuat Eun Jiho sampai segitu takutnya?”

“Oh, pestanya.”

Ban Yeo Ryung bergumam datar. ‘Oh…’ Aku mengangguk, akhirnya mengerti situasinya dan berpikir, ‘pantas saja hari ini dia bertingkah aneh.’ Terlepas dari penampilannya, Eun Jiho tampaknya memang harus menghadiri pesta-pesta Vanity Fair yang biasa diadakan di hotel. Itu acara yang lumrah bagi para pewaris dalam web novel. Setiap musim pesta tiba, ia selalu membuat kami pusing dengan menyebutkan segala macam penyakit yang diketahuinya, lalu di akhir berkata dengan suara lemah,

‘Apa mungkin ini alasannya aku tidak bisa datang?’

Dan Jooin selalu menjawab sopan, ‘Dalam mimpimu.’

Sambil berdecak, aku mengaduk minumanku. Potongan yuzu mengapung di permukaan. Sejujurnya, aku tidak terlalu paham kenapa Eun Jiho begitu membenci pesta; tapi Ban Yeo Ryung yang tampaknya cukup mengerti reaksinya, dengan lembut menepuk—maksudku, menepuk ringan—punggungnya. Meskipun keluarganya tergolong kelas menengah, sebagai protagonis wanita novel ini, kerabatnya bukan orang biasa. Jadi ia pun sering menghadiri pesta, berdandan rapi bersama Yeo Dan oppa. Saat itu, aku melihat Yoo Chun Young yang duduk di seberang mengangkat kepala.

“Oh, pesta itu yang diadakan keluargamu?”

“Maksudmu?”

“Yang hari ini aku diseret ke sana.”

“…”

Eun Jiho memasang wajah aneh, lalu tiba-tiba berbinar.

“Uh-huh, kamu datang?”

Ban Yeo Ryung yang mendengar percakapan itu langsung menyela dengan mata membulat.

“Tunggu, kenapa? Yoo Chun Young, kamu jarang sekali datang ke acara seperti itu.”

Benar juga. Aku menatap Yoo Chun Young dengan terkejut. Meski enggan mengakuinya, ucapan Eun Jiho tentang pentingnya jumlah saudara bagi seorang pewaris terasa masuk akal jika membandingkannya dengan Yoo Chun Young. Kehidupan kedua anak itu memang sangat berbeda. Eun Hyung yang menjawab.

“Oh, itu karena kakak-kakaknya Chun Young sedang di Korea sekarang. Salah satu dari mereka menanyainya dan mendengar kalau dia sering tidak menghadiri acara sosial, jadi…”

“Begitu rupanya.”

Aku mengangguk, dan Eun Hyung tersenyum.

“Dia sudah dipesan untuk diseret ke acara malam ini.”

Eun Jiho menggerutu sambil meluruskan kaki, “Astaga. Kalau kakak-kakakmu juga ada, kamu tidak bisa bersamaku.”

Setelah itu, Yoo Chun Young mengangkat mata birunya dari meja dan menjawab,

“Walaupun mereka tidak ada, aku juga tidak akan bersamamu.”

“Permisi? Astaga, kalau begitu, aku harus berlindung pada siapa—…”

Meski dijawab sejujur itu, Eun Jiho tampaknya tidak tersinggung. Ia malah berbalik dan menatap Jooin. Mendapat tatapan itu, Jooin tersenyum miring.

“Selamat bersenang-senang.”

Sayangnya, ucapannya tidak terdengar ramah. ‘Astaga!’ Eun Jiho memalingkan wajah dengan kening berkerut. Kali ini ia mengalihkan pandangan pada Eun Hyung. Eun Hyung tersenyum hangat.

“Aku akan bersama Chun Young,” katanya lembut.

“…”

Kalau kupikir-pikir, anak-anak ini memang memperlakukan Eun Jiho agak nakal,’ pikirku sambil menopang dagu dan menatap profil wajahnya, ‘Atau mungkin dia memang tipe yang enak diajak bertengkar.’ Saat itulah Eun Jiho berbalik dan menatapku.

‘Eh?’

Aku buru-buru hendak menghindari tatapannya, tetapi sebelum sempat melakukannya, Eun Jiho sudah bertanya,

“Hei, Ham Dan Yi. Kamu tadi bilang ingin jadi pewaris, kan?”

Chapter 211

“Yah, maksudku… aku cuma… kamu tahu itu cuma omong kosong, kan?”

“Kamu tidak ingin melihat kehidupanku?”

“Um… eh…”

Aku tidak bisa langsung mengatakan tidak, hanya terdiam sejenak. Itu karena, seperti yang pernah kusebutkan, aku pernah menghadiri acara-acara seperti itu beberapa kali saat SMP untuk menemani Ban Yeo Ryung dan Ban Yeo Dan. Selain itu, sulit bagiku menolak permintaan Eun Jiho saat ia menatapku dengan mata memohon seperti itu. ‘Seberapa mengerikankah pesta itu sampai Eun Jiho yang tak terkalahkan pun begitu membencinya?’ Saat aku memikirkan acara yang akan datang, Eun Jiho tampak menarik kesimpulannya sendiri.

“Aku cuma bercanda. Jadi, pokoknya, aku sangat menyarankanmu menghapus opsi pewaris itu dari daftar cita-citamu,” katanya santai sambil memalingkan wajah.

Ekspresinya terlalu serius untuk disebut bercanda, dan itu terasa asing bagiku. Ia anak seumuranku yang menjalani kehidupan yang selama ini hanya kutemui di dalam novel. Baru sekarang aku menyadari fakta itu—sesuatu yang tak pernah kupikirkan saat bercanda atau bermain dengannya. Dan yang tiba-tiba terlintas di benakku adalah percakapan kami di kamarku pagi tadi.

Aku selalu mendorongnya menjauh, dan ia menganggapnya lelucon. Begitulah kami mempersempit jarak; mungkin karena itu aku menganggap perhatiannya sebagai sesuatu yang biasa. Kupikir-pikir lagi, ia tak pernah bertingkah dengan cara yang kubenci atau memintaku melakukan sesuatu, meski sering bercanda. Dan kini, Eun Jiho seperti mengirimkan sinyal SOS padaku untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Mulutku terbuka tanpa sadar.

“Kamu mau aku pergi?”

“Hah?”

Eun Jiho yang tadi mengobrol dengan Ban Yeo Ryung segera berbalik. Mata hitamnya membesar. Aku mengulang pertanyaanku.

“Pesta itu atau apa pun namanya… kalau aku datang, apa itu akan membantu?”

Lalu aku merasa terdengar terlalu percaya diri, jadi aku merendahkan suaraku dan menambahkan,

“Maksudku… secara mental… apakah itu akan membuat tubuh dan jiwamu merasa lebih baik?”

“Kurasa iya, tapi…”

“Kalau cuma mengikuti di belakangmu, tidak apa-apa. Itu keahlianku, tahu.”

Aku berusaha menjawab senormal mungkin. Sejujurnya, mungkin aku pernah menerima bantuan Eun Jiho, tapi tak pernah benar-benar menawarkan bantuanku padanya; jadi apa yang baru saja kukatakan terdengar aneh bahkan bagiku sendiri. Singkatnya, hubungan kami selalu seperti ini: Eun Jiho sepihak membantuku, dan aku menolak.

Aneh memang. Pola hubungan di awal sering terbawa sampai akhir. Orang yang sejak awal mendukungku akan terus menjadi pendukung, sementara orang yang pernah kubantu akan kembali menungguku membantunya. Jika sesekali kami bisa bertukar peran, hubungan itu mungkin akan lebih baik; namun entah kenapa, kami jarang bisa melakukannya.

Dan sekarang, untuk pertama kalinya, aku mengulurkan tangan pada Eun Jiho. Namun ia hanya menatapku dengan ekspresi getir. ‘Mungkin karena ia sadar ini belum pernah terjadi? Tidak, pasti ia menyadarinya.’ Setahuku, ia orang yang paling peka terhadap dinamika hubungan seperti ini.

Beberapa saat kemudian, ia menjawab pelan, “O… ke.”

“…?”

“Kamu tinggal mengikutiku.”

Cara ia mengucapkannya anehnya tidak terdengar seperti gumaman pada diri sendiri. Saat itulah aku hampir mengangkat tangan di depan wajahnya dan berkata, ‘Halo.’ Ia justru mengangkat tangannya dan menutup mulut. Aku belum pernah melihat ekspresi seaneh itu darinya.

“Rasanya… aneh sekali,” gumamnya lagi.

“Aneh bagaimana?”

Bukan aku, melainkan Ban Yeo Ryung yang bertanya. ‘Iya, apa yang aneh?’ pikirku. Namun Eun Jiho hanya mengangguk tanpa menjawab. Ia lalu menatapku lebih tenang.

“Kapan kamu ada waktu?”

“Yah, aku selalu—”

Saat aku hendak menjawab dengan wajah masam, Eun Hyung dari seberang meja tiba-tiba bertanya,

“Oh, kalau begitu Yeo Ryung, kamu mau ikut juga?”

“Hah?”

Yeo Ryung mengangkat wajah dan menatap Eun Hyung dengan terkejut. Ia tersenyum tenang.

“Ini bukan pesta kecil, lagi pula keluarga Jiho yang menjadi tuan rumah. Kalau ada perempuan dalam kelompok kita, akan mencegah keributan sejak awal.”

Saat Eun Hyung melanjutkan penjelasannya, Ban Yeo Ryung tampak mengerti maksudnya. Mungkin ia bisa membantu agar para gadis lain tidak terlalu mendekati mereka. Yeo Ryung justru menoleh padaku dengan mata membulat.

‘Eh?’

“Seru! Aku mau ikut! Jam berapa aku harus datang?” katanya cerah.

“Kamu selesai kerja jam berapa? Jam sembilan malam, kan?”

“Serius? Tidak terlalu larut?”

Kali ini Yoo Chun Young yang menjawabnya.

“Aku bisa datang terlambat dengan alasan itu.”

“Oh, ide bagus.”

Eun Hyung menanggapi tanpa ragu. Ban Yeo Ryung yang terbelalak langsung tertawa. Lalu kami semua memandang Jooin, yang sejak tadi mengaduk kopinya dengan sedotan sambil mendengarkan.

Saat semua perhatian tertuju padanya, ia tampak terkejut sesaat, lalu tersenyum.

“Kenapa? Karena aku bakal merasa sendirian kalau tidak datang? Tidak perlu khawatir.”

Sepertinya ia memang tidak berniat datang. Kalau pun ia berubah pikiran, tidak masalah. Aku mengangguk. Eun Jiho yang duduk di sampingku bergumam padanya,

“Ngomong-ngomong, Nara noona ikut juga, kan?”

“Oh…”

Yang bergumam justru Eun Hyung di seberang. Wajahnya tiba-tiba memucat. Ia menatap Yoo Chun Young dan Jooin bergantian dengan ekspresi serius.

Tak lama kemudian ia berbisik, “Sepertinya kali ini aku akan diculik…”

“Dan satu-satunya orang yang bisa mengendalikan Nara noona sepertinya ada tepat di sebelahmu.”

Ucapan Eun Jiho yang disertai tawa kecil membuat Eun Hyung mengalihkan pandangannya pada Jooin. ‘Wah, ini tontonan lain lagi,’ gumamku sambil menatap keduanya. Aku belum pernah melihat Eun Hyung menatap seseorang dengan begitu putus asa. Beberapa detik kemudian, Jooin mengangkat tangan seolah menyerah sambil menghela napas.

“Baiklah, Jiho. Tapi jaga kepalamu baik-baik, karena beberapa hari lagi aku akan menghantamnya…”

“…”

Akhirnya, Eun Jiho menyeruput kopinya dengan wajah pucat. Aku menopang dagu dan tenggelam dalam pikiranku. ‘Apa tidak apa-apa kalau kami berenam tiba-tiba menyerbu pesta itu? Yah, selama Eun Jiho sebagai tuan rumah tidak mengatakan apa-apa, mungkin pestanya cukup besar untuk menampung kami.’

Tiba-tiba ponselku bergetar di saku. Saat kuambil, tiga huruf berkedip di layar. Namanya Yi Ruda.

‘Wah, sudah lama sekali,’ pikirku sambil cepat membuka ponsel lipatku.

Dari: Yi Ruda

Kamu tahu tidak kalau Ian dan ayahmu mau minum makgeolli malam ini?

Eh? Itu berita baru bagiku; tapi ayahku memang suka minum dan berkumpul, jadi tidak terlalu mengejutkan.

Kepada: Yi Ruda

Tidak tahu. Serius?

Dari: Yi Ruda

Sudah lama tidak bertemu. Mau ketemu aku sekalian jemput ayah kita?

Saat teringat rambut pirang cerah dan mata biru Yi Ruda, aku mengangguk sendiri. Terlepas dari pesonanya yang kadang androgini dan kebiasaannya menyamar sebagai laki-laki, Yi Ruda benar-benar teman yang menyenangkan untuk diajak hang out. Meski fakta bahwa ia crossdresser perempuan cukup… um… hmm… Aku akhirnya membalas pesannya.

Kepada: Yi Ruda

Yay! Aku tidak sabar!

Menutup ponsel, aku tersenyum sendiri. Ini pertama kalinya kami bertemu setelah libur, jadi aku cukup bersemangat untuk mengobrol. Tapi mengingat betapa sibuknya ia dikejar-kejar orang dan berkelahi di pabrik sepi… sulit rasanya mengajaknya keluar begitu saja. ‘Ah, aku hampir lupa,’ pikirku, lalu menambahkan pesan lagi.

Kepada: Yi Ruda

Tapi mungkin aku akan sedikit terlambat. Tidak apa-apa? Sekitar jam 11 malam…?

Balasannya datang segera. Setelah membacanya, aku mengangguk.

Dari: Yi Ruda

Tidak tahu Ian akan selesai putaran sampai kapan… Mungkin jam 3 pagi juga tidak apa-apa. Setelah kamu sampai rumah, kabari saja.

“…”

Aku juga sedikit khawatir Ian minum bersama AYAHKU… Jadi mungkin kami akan bertemu jam lima pagi. Menutup ponsel, aku menghela napas dengan senyum samar. Bagaimanapun, sepertinya ini akan menjadi hari yang panjang setelah sekian lama.

Chapter 212

Dari: Ham Dan Yi

Iya, aku juga agak khawatir…

Membaca pesan yang terasa tak bertenaga itu, Yi Ruda menyunggingkan senyum tipis. Ia lalu bangkit berdiri. Tubuhnya sedikit pegal karena tertidur di atas sandaran tiga meja yang disatukan, namun itu bukan masalah besar.

Tempat ia tertidur dan terbangun tak lain adalah perpustakaan. Selama semester berlangsung, sekolah menjadi tempat perlindungannya dari para pria berbaju hitam, tetapi begitu liburan dimulai, tempat itu tak lagi aman. Pada akhirnya, ia menjadi buronan yang berpindah-pindah dari satu fasilitas umum ke fasilitas umum lain, termasuk bank dan perpustakaan. Berlindung di tempat yang hampir setiap hari didatangi Ham Dan Yi dan Empat Raja Langit hanyalah kebetulan semata.

“Mungkin kebetulan ini bisa berubah jadi kesempatan.”

Bergumam demikian, ia meraih kaleng yang sejak tadi berada di sampingnya saat tidur. Ia bukan berniat meminumnya. Tatapannya yang tajam terarah pada sisi kaleng itu. Sekilas terlihat seperti kopi kaleng biasa; namun Yi Ruda, yang sejak kecil terpapar berbagai bahaya dan menjalani pelatihan untuk melindungi klien-klien tertentu, dapat dengan mudah membedakan perbedaannya dari minuman kaleng biasa. Ketika Ham Dan Yi keluar perpustakaan sendirian, Yi Ruda mengikutinya karena merasa bosan dan ingin mengobrol dengannya. Dan semuanya bermula dari sana.

Ia sempat berpikir untuk berkata, ‘Hei! Kebetulan sekali. Belajar di perpustakaan pada hari seindah ini? Hebat juga…’ Tentu saja, ia tak akan lupa memasang senyum cerah untuk berpura-pura menjadi orang baik. Hmmm, setiap kali memikirkan hal-hal seperti itu, Yi Ruda sering bertanya-tanya apa sebenarnya yang ia inginkan dari Ham Dan Yi.

‘Apa aku membutuhkan teman sungguhan?’ pikirnya. Hal yang sama juga terjadi saat ia membantu merebut ponsel bodyguard Choi Yuri mengikuti saran Woo Jooin. Yi Ruda sebenarnya bisa saja menolak melakukan hal berbahaya itu dan hanya mengambil risiko meninggalkan kesan buruk pada Ham Dan Yi… Namun pada akhirnya ia tetap terjun ke dalamnya, dan akibatnya menjadi lebih mudah terlacak dalam radar para pria berbaju hitam. Maka kejadian di perpustakaan itu pun terjadi, ketika rasa senang menemani Ham Dan Yi telah memudar dan hanya kebingungan yang mengikuti setiap langkah kecilnya.

Begitu berbelok di sudut lorong, ia melihat seorang asing berdiri menghalangi Ham Dan Yi dan memberinya kopi kaleng. Mata lincah Yi Ruda menangkap fakta bahwa ia tak pernah melihat pria itu di ruang referensi selama hari-harinya bersembunyi di perpustakaan. Selama berada di sana, pria itu hanya mondar-mandir di lorong seolah menunggu seseorang. Yang paling mengganggunya adalah kaleng itu. Yi Ruda hendak segera bertindak, namun merasakan kehadiran orang di belakangnya, ia pun meninggalkan tempat itu. Setelah Ham Dan Yi dan Empat Raja Langit pergi, barulah ia keluar dari sudut tersembunyi di perpustakaan dan mulai bergerak. Kopi kaleng itu ia temukan di tempat sampah. Sambil berdecak, ia memutar kaleng itu.

Di tengah kaleng merah bercetak itu, terdapat titik perak kecil—jejak umum yang biasanya tertinggal ketika suatu zat dimasukkan ke dalam kaleng tertutup dengan cara tertentu. ‘Kalau aku yang melakukannya, pasti bisa lebih rapi dan tanpa bekas,’ pikir Yi Ruda sambil mengerutkan kening. ‘Amatir, tapi niatnya jelas jahat. Kalau kujalankan beberapa tes di rumah, isi di dalamnya akan terungkap…’ Menggerakkan bola matanya pada pesan Ham Dan Yi, ia menyentuh bibirnya dengan tangan yang lain.

Yang terpenting di sini adalah seseorang sedang menargetkan Ham Dan Yi.

‘Kenapa dia, yang menganggap dirinya hanya gadis biasa, selalu terpapar bahaya seperti ini?’ Yi Ruda menghela napas panjang.

Pasal 19. Semoga Kau Bermain Cinderella Bersama Sang Protagonis Wanita

Eun Jiho datang menjemputku sore itu juga.

Di depan pintu masuk apartemen, aku merapikan pakaianku—pilihan acak dari lemari—dan melirik sekitar. Seperti dugaanku, setidaknya satu remaja yang berjalan melewatiku mengenakan pakaian yang sama. Maksudku, kaus putih dan jeans…

Sambil merapikan lengan kausku yang kusut, aku menghela napas.

‘Benarkah tidak apa-apa datang seperti ini?’

Aku memang jarang menghadiri pesta, tapi setidaknya aku tahu bahwa kecuali aku turis yang menginap di hotel, orang-orang akan menatap aneh.

Mengeluarkan ponsel dari saku, aku menatapnya lalu mengerucutkan bibir. Entah sudah berapa kali kutanya, jawaban Eun Jiho selalu seperti ini.

[Dari: Eun Ji-goddamn-ho

Kalau benar-benar tidak punya apa-apa untuk dipakai, pakai saja baju astronot]

Lelucon macam apa itu.

Aku menghela napas lagi. Hembusannya langsung menyentuh pipiku, membuatku merasa suhu di sekelilingku meningkat. Saat itulah aku berhenti merapikan lengan baju, mengipas diri, dan menyapa seorang wanita yang tinggal di lantai yang sama.

Sebuah mobil hitam yang berbelok dari ujung jalan meluncur tanpa suara dan berhenti tepat di depanku. Wanita itu menghentikan sapanya dan menatap kendaraan panjang berwarna hitam itu dengan mata membulat.

Aku menghela napas dalam hati. ‘Sepertinya di dunia web novel ini aku punya kartu lengkap… tapi sekarang rasanya tidak begitu.’

Seorang siswi SMA Korea yang terbiasa dijemput limusin panjang… itu tidak masuk akal.

Dengan pikiran itu, aku membungkuk ke arah jendela kaca gelap. Meski sudah sangat terbiasa, aku tetap mencoba memastikan siapa yang ada di dalamnya; namun begitu aku melakukannya, seseorang dari dalam mengetuk kaca dengan kesal. Ujung hidungku langsung berkerut.

Ya ampun, temperamenmu itu.

Membuka pintu, aku masuk dan berkata,

“Setidaknya beri aku waktu untuk memastikan siapa yang ada di dalam? Bagaimana kalau aku naik kendaraan panjang sembarangan lalu tiba-tiba diculik?”

Tak lama, suara mengejek terdengar.

“Diculik apaan sih?”

“Serius, aku ini lagi serius?”

Sambil membungkuk ke depan untuk mengambil botol air dari kulkas kecil di pintu, aku mengerucutkan bibir.

Tentu saja aku tahu penculikan jarang terjadi. Biasanya pelaku menggunakan truk berpendingin atau van dengan ruang penyimpanan luas dan tidak mencolok. Tak mungkin orang memakai kendaraan mencolok seperti ini untuk kejahatan. Tapi tetap saja, ada yang namanya ‘kalau-kalau…’

Sambil menggumamkan pikiran itu, aku mengambil gelas dan menuangkan air. Dari seberang, terdengar balasan.

“Kamu kebanyakan nonton TV, ya?”

Akhirnya, aku tak bisa menahan amarah yang muncul dari dalam.

“Apa? Kenapa kamu mengernyit begitu? Aku salah bicara?”

Tidak.

Tak mampu mengucapkannya, aku hanya menatap tajam rambut pirang platinum dan wajah terpahat Eun Jiho yang bersinar dalam cahaya remang mobil.

Ya, secara logika tak ada yang salah dengan ucapannya. Masalahnya, orang paling tidak masuk akal justru berdiri di depanku sambil berkata, ‘Kamu kebanyakan nonton TV.’

Aku melempar tatapan campur aduk padanya. Eun Jiho yang sejak tadi menatapku bertanya sambil mengerutkan kening,

“Apa? Kenapa?”

Alih-alih menjawab, aku mengangkat gelas dan meneguknya sampai habis.

Sementara itu, mobil melaju tanpa getaran maupun suara, seolah membelah air. Kini ia meluncur mulus di tengah jalan.

Eun Jiho kembali menatapku saat aku meletakkan gelas. Sedikit mengangkat ujung kausku, aku bertanya,

“Eun Jiho, pakaian ini benar-benar tidak apa-apa?”

“Tentu saja tidak.”

“…”

Setelah jeda singkat, aku berkata,

“Kamu bilang aku bisa pakai apa saja.”

“Iya.”

“Jadi aku tidak perlu berdandan…”

“Tentu saja tetap penting. Ini pesta.”

Eun Jiho menjawab tanpa malu. Aku menatap wajahnya yang begitu percaya diri dengan pandangan kosong. Lalu aku menghela napas dan hampir saja berteriak pada sopir agar menghentikan mobil.

Entah bagaimana ia membaca pikiranku, tangan Eun Jiho sudah lebih dulu menekan tanganku dengan kuat sebelum aku sadar. Saat aku menoleh kaget, tatapannya sudah begitu dekat di hadapanku.

Chapter 213

Seperti biasa, mata hitamnya penuh kenakalan. Lalu jawabannya yang diucapkan dengan senyum miring membuat rahangku ternganga.

“Aku yang akan mengurusnya, jadi pakai saja apa pun yang kamu mau. Itu maksudku.”

“…”

Aku menatap kosong bayanganku yang terpantul di mata hitamnya yang berkilau dan begitu dekat. Lalu kuangkat tanganku dan meraih lengannya, menggoyangkannya.

“Ai ya ya, kenapa sih?!” Ketika ia kembali menjerit, sopir tampaknya melirik ke arah kami lewat kaca spion; namun aku justru berteriak tanpa peduli.

“Hei, kamu… kamu pikir bikin aku tegang setengah mati lalu tiba-tiba bertingkah seperti pangeran di drama bakal membuatku merasa lebih baik? Hah?!”

“Ah, hei… tunggu dulu!”

“Kamu belajar hal-hal nakal seperti itu dari mana…?”

Sambil masih menggoyangkan lengannya, aku tiba-tiba menghentikan kalimatku ketika sebuah pikiran terlintas.

Kata “belajar” berarti Eun Jiho benar-benar mempelajari cara bertingkah seperti pangeran di drama, yang jelas tidak masuk akal. Dari sikapnya saja sudah terlihat bahwa sifat heroiknya memang ada dalam DNA-nya.

Aku kembali menggoyangkan lengannya setelah berhenti sejenak untuk memikirkan itu.

Eun Jiho berhenti berteriak; sebagai gantinya, ia melepaskan tanganku dari lengannya.

“Ya ampun, hentikan itu dan bicara saja! Kenapa kamu dan Ban Yeo Ryung makin mirip sih?!” serunya.

“Benarkah? Wah, itu pujian!”

“…”

Eun Jiho tampak benar-benar kehabisan kata untuk sesaat. Ia melirik ke luar jendela, lalu kembali menatapku.

“Kamu menganggap itu pujian?” tanyanya.

Saat aku mengangguk tanpa ragu, ia mengangkat kedua tangan menutupi wajahnya.

“Astaga…”

Melihatnya menghela napas panjang, aku melepaskan lengannya dan kembali duduk dengan rapi.

Bagaimanapun, aku masih belum benar-benar mendapat jawaban atas kekhawatiranku soal pakaian.

‘Aku yang akan mengurusnya, jadi jangan khawatir.’

Sepertinya ia memang sudah punya rencana untuk penampilanku, tapi kenapa tidak memberitahuku lebih dulu? Ia benar-benar punya cara untuk membuat orang gugup setengah mati.

Saat aku menyentuh kepalaku dengan cemas sambil menghela napas, ia seolah langsung menangkap perasaanku. Ia berkedip pelan, lalu memanggil namaku dengan mata menyipit.

Aku membuka mulut pelan sambil meremas kedua tanganku.

“Um… bagaimana kalau aku tidak usah pergi saja?”

“Sudahlah,” jawab Eun Jiho dengan nada kesal, “Apa cuma karena aku bercanda sedikit? Hei, kalau kamu perlu persiapan macam-macam, aku bahkan tidak akan memintamu…”

“Bukan begitu maksudku…”

Aku memotong ucapannya tiba-tiba. Eun Jiho menatapku dengan mata hitamnya. Aku meliriknya sekilas lalu kembali menunduk. Jemariku mengetuk-ngetuk lebih gelisah.

“Aku cuma… berpikir… apa benar aku akan membantu kalau aku datang…”

Eun Jiho berkedip pelan, seolah memintaku melanjutkan. Dengan ragu aku meneruskan,

“Maksudku, aku baru sadar kalau aku tidak punya pakaian yang cocok untuk acara seperti itu; lagi pula aku orang asing di sana, tidak pandai berbicara, dan tidak secantik Ban Yeo Ryung yang luar biasa itu… ah—”

Tiba-tiba sebuah tangan terulur dan menarik pipiku, membuatku tak bisa menyelesaikan kalimat. Saat kuangkat kepala, mata hitam Eun Jiho sedang menatapku tajam. Tadi ia masih bercanda, jadi aku heran kenapa mendadak terlihat kesal. Saat aku hendak bertanya pelan, ‘Ada apa?’, ia sudah lebih dulu berbicara.

“Kenapa kamu tidak akan membantu? Kenapa?”

“Um… kaaaamuuuu tidaaak piiikiiir beegiiituuu…?”

Aku mencoba menjawab, tapi karena pipiku ditarik, ucapanku terdengar aneh. Aku menatapnya dengan kesal. Sambil tetap menarik pipiku, ia melanjutkan,

“Kalau ada yang bertanya kenapa kamu ada di sana dengan alasan-alasan itu, bilang saja Eun Jiho berlutut dan memohon agar kamu datang.”

“…”

“Memangnya kenapa harus ada alasan kalau aku cuma ingin bersamamu? Kriteria apaan itu?”

Saat ia berbicara, aku sempat mencoba berkedip atau melepaskan tangannya, tapi perlahan berhenti karena kata-katanya terasa menghantamku.

“Aku cuma butuh kamu bernapas di sebelahku. Itu saja sudah cukup untuk menenangkan tubuh dan jiwaku, jelas?”

“Um… iya.”

Apa yang barusan ia katakan membuatku merasa seperti tanaman pembersih udara. Aku memiringkan kepala dengan perasaan aneh. Eun Jiho masih menarik pipiku.

“Dan kalau ada yang berani mengatakan omong kosong itu padamu, pastikan kamu membawanya ke hadapanku. Wajib. Mengerti? Kalau Choi— dan jangan malah tertawa bodoh.”

Eun Jiho berhenti di tengah kalimat, menggigit bibirnya, lalu mengganti kata yang hendak diucapkan. Meski ia tidak menyebutkannya, aku cukup paham nama yang terpotong itu.

Choi Yuri.

Aku mengulang nama itu dalam hati. Sepertinya semua sudah berlalu; namun mendengarnya keluar dari mulut Eun Jiho terasa tak terduga.

Tiba-tiba aku teringat apa yang ia ungkapkan di atap sekolah hari itu. Mataku berputar pelan.

Mungkin gadis itu memang pernah menyukai Eun Jiho…

Jika begitu, Choi Yuri berhasil mengukir keberadaannya dalam ingatan Eun Jiho dengan caranya sendiri. Sementara aku hanya mendapat label bodoh setelah insiden itu. Dengan senyum samar, aku mengusap pipiku yang perih karena terus ia tarik.

Sejak hari itu, Eun Jiho dan Woo Jooin berkali-kali menyebutku “bodoh”. Sampai taraf tertentu, aku bisa mengerti kenapa.

Sejujurnya, akan jauh lebih cepat dan mudah menangani rumor yang menyebar di Kelas 1-1 kalau saja aku meminta bantuan Empat Raja Langit. Aku tahu kata-kata mereka punya pengaruh mutlak.

Namun ketika “Ban Yeo Ryung Haters Club” ternyata menargetkanku, bukan Ban Yeo Ryung, aku tidak bisa meminta bantuan siapa pun.

Protagonis wanita punya caranya sendiri menyelesaikan masalah. Begitu pula sahabat protagonis wanita. Kami punya cara kami sendiri. Aku merasa sudah jelas dengan posisiku, tapi kenapa… perlahan aku menggigit bibir.

Kenapa mereka mengacaukanku? Kenapa mereka membuatku punya harapan bodoh seolah aku boleh melakukan apa saja dan semuanya akan baik-baik saja? Kenapa mereka membuatku mempercayai hal seperti itu?

Rasanya seperti hadiah atas hari-hari ketika aku menahan diri, takut bertindak lancang pada Eun Jiho, Ban Yeo Ryung, atau anak-anak lain. Perasaan aman dan tenang yang mereka berikan seperti candu.

Aku berkedip pelan, lalu meletakkan pipiku di telapak tangan Eun Jiho yang masih berada di wajahku. Aku diam begitu dengan mata terpejam, lalu tiba-tiba membuka mata lebar-lebar seperti orang baru terbangun.

Tatapanku yang panik bertemu dengan matanya yang terkejut, dan detik berikutnya ia memalingkan wajah. Tangannya pun terlepas dari pipiku. Dengan bibir mengerucut, aku tersipu malu.

Apa yang barusan kulakukan? Kenapa aku bertingkah seperti hewan peliharaannya? Bagaimana bisa aku sebegitu hilang kendali walau hanya sesaat!

Saat itulah Eun Jiho, yang menatap telapak tangannya yang kini kosong cukup lama, membuka mulut.

“Permisi…”

Aku mengangkat kepala dengan kaget. “Salahku! Maaf, sungguh.”

Eun Jiho yang perlahan menoleh padaku dengan ekspresi sulit diartikan, segera mengernyit lagi. Aku mundur tergesa dan melanjutkan,

“Maksudku, kata-katamu tadi begitu halus, menenangkan, dan baik, jadi…”

Wajahnya kembali ke ekspresi datar seperti biasa. Ia melirik pipiku dan telapak tangannya bergantian, lalu berkata,

“Ya ampun, apa kamu selalu jadi genit setelah mendengar kata-kata menenangkan?”

“Um… tidak, Tuan Jiho. Genit? Itu berlebihan, Tuan.”

Dengan wajah serius aku menjawab cepat, membuat Eun Jiho makin berkerut. Ia tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, bibirnya mengerucut; namun akhirnya ia hanya bersandar kembali di kursi sambil menghela napas panjang.

“Hei, jangan lakukan itu pada orang lain.”

“Hah? Oh, tentu.”

Aku hendak menambahkan ‘tentu saja’, tetapi Eun Jiho menyela.

“Kamu terus membuatku berpikir kalau kamu ini sesuatu yang lain.”

Chapter 214

Aku memiringkan kepala. Setelah mengerutkan kening beberapa saat, aku melemparkan pertanyaan padanya.

“Apa?”

“Kamu membuatku bingung. Jadi kepikiran hal-hal yang seharusnya tidak kupikirkan, seperti punya harapan bodoh.”

“…”

“Kenapa wajahmu begitu?”

Seolah aku memasang ekspresi aneh, Eun Jiho menegurku. Barulah aku menggeleng dua kali seperti orang yang baru terbangun dari tidur.

“Maksudku, menarik juga mendengar darimu kalau kamu punya harapan bodoh,” jawabku.

‘Apa yang barusan kamu katakan persis sama dengan yang kupikirkan tadi…’ Namun bagian itu hanya kusimpan dalam hati.

Sejujurnya, kupikir istilah “punya harapan bodoh” tidak pernah berlaku untukku. Jatuh pada seseorang di dunia ini saja sudah terasa lancang untuk kucoba; jadi sejak awal aku tak pernah bisa memakai kata-kata itu untuk menggambarkan perasaanku.

Dengan pikiran yang bercabang, aku menatap Eun Jiho. Bagaimana mungkin kata “harapan bodoh” keluar dari mulutnya? Ia selalu terlihat sebagai orang yang segala keinginannya melimpah ruah di sekelilingnya. Fakta bahwa Eun Jiho menyebut “harapan bodoh” membuatku bertanya-tanya, untuk siapa ia menyimpan harapan itu.

Aku benar-benar mulai penasaran siapa orangnya.

Saat pikiran itu mengalir, bibir Eun Jiho perlahan terbuka. Lalu, detik berikutnya, senyum gelap tersisa di sana. Ia memiringkan kepala dengan sudut nakal dan menjawab,

“Kenapa aku tidak boleh punya harapan bodoh untuk hal seperti itu?”

“Oh.”

“Kamu kelihatan penasaran sekali, tapi aku tetap tidak akan memberitahumu.”

Ia mendorong dahiku ringan sambil berkata begitu. Aku mengerucutkan bibir dan mengusap bagian yang disentuh tangannya.

Yah, dasar Eun Jiho bajingan itu memang tidak akan memberitahuku dengan mudah. Itulah yang kupikirkan.

“…Tapi setidaknya, satu hari sepertinya tidak apa-apa.”

“…?”

Kata-kata itu terdengar lebih seperti gumaman untuk dirinya sendiri.

Aku menoleh dengan kening berkerut, dan terkejut mendapati tatapan tajamnya justru tertuju padaku. Aku kehilangan kata-kata sesaat. Eun Jiho lalu membuka bibirnya perlahan. Ucapannya berikutnya membuat bahuku bergetar.

“Hei.”

“H-hah?”

Matanya masih tampak tak fokus, seperti orang yang tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga sulit mendengar apa pun. Dengan tatapan itu terarah padaku, ia melanjutkan perlahan.

“Hei, kamu. Mau tidak memperlakukanku seperti hari ini ulang tahunku?”

“Apa?”

Ulang tahunmu kan Januari…

Namun aku tak mengucapkannya. Eun Jiho melanjutkan pelan,

“Anggap saja hari ini ulang tahunku dan beri aku hadiah, begitu.”

“Maksudmu beri hadiah apa?”

“Ya….”

“Ya?”

Aku mengulang katanya. Alisnya sedikit bertaut.

“Ya… bersikap sedikit manis.”

“Itu sih selalu aku— ah, sudahlah. Baiklah, akan kulakukan.”

Kupikir aku sudah memperlakukannya dengan baik menurut caraku sendiri, tapi mungkin tidak menurut Eun Jiho. Alisnya berkerut dalam. Begitu aku buru-buru memperbaiki ucapanku, ekspresinya kembali menjadi Eun Jiho yang agak kabur, namun sedikit lebih lembut dari biasanya.

“Baiklah, akan kulakukan… sebagai hadiah ulang tahunmu atau apa pun itu,” kataku sambil menghela napas.

“Bagus.”

Eun Jiho yang menatapku sejak tadi tersenyum puas. Melihat wajahnya yang tampak sedikit terkejut itu, aku berpikir, ‘Dia bisa tersenyum seperti itu?’

Sejujurnya, kupikir aku sudah terbiasa dengan penampilan luar biasa Empat Raja Langit dan Ban Yeo Ryung setelah tiga tahun bersama mereka; tapi melihat senyum Eun Jiho barusan membuatku berpikir ulang. Aku memutar bola mata.

Apakah ia pernah tersenyum dengan aura seperti itu sebelumnya? Senyum sendu yang bahkan membuat orang lain ikut gugup?

Memikirkan itu, aku memiringkan kepala. Wajah putus asanya tak pernah ada dalam ingatanku selama tiga tahun ini. Artinya, ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya selama waktu itu…

Saat tenggelam dalam pikiran, aku tak menyadari ia dengan hati-hati mengangkat tanganku dan meletakkannya di atas tangannya. Ketika aku tersentak dan mendongak, tangannya sudah menutup tanganku tanpa ragu, sementara tubuhnya bersandar santai.

Tatapan kami bertemu. Ia memiringkan kepala menatapku dari posisi bersandar, lalu hanya mengucapkan satu kata.

“Ulang tahun.”

“Hei, aku belum mengabulkan permintaanmu untuk—”

“Ah, cuma satu hari. Tidak bisa lakukan ini untukku?”

Nada suaranya segera berubah menggerutu, membuatku menutup mulut cepat-cepat. Yang bisa kulakukan hanya menatap rumit bagian belakang kepalanya.

Aku tahu ia biasanya hanya bercanda di antara kami, bukan di depan orang lain. Pada ayahnya dan orang-orang dalam hubungan hierarkisnya, ia selalu bersikap sempurna—bahkan terkadang terlalu berlebihan. Dan kini Eun Jiho bersikap seperti ini…

Aku menyipitkan mata. Jujur saja, rasanya seperti seorang ibu yang menghadapi anak merengek di supermarket…

Namun setelah berpikir sejenak, aku membiarkannya menggenggam tanganku. Seolah merasakan ketegangan di tanganku mengendur, senyum tipis terukir di bibirnya. Melihat wajahnya dari samping, tatapanku kembali menjadi rumit.

Bagaimanapun, mungkin sikapnya itu berarti ia merasa nyaman denganku.

Saat itulah aku mendengarnya bergumam sesuatu yang tak terlalu jelas.

“Setelah hari ini, aku akan mengurusnya sendiri.”

“Mengurus apa?”

“Harapan bodoh.”

Ia hanya meninggalkan kata-kata itu lalu memutar tubuhnya dan semakin bersandar di kursi. Aku menatapnya dalam kebingungan yang lebih dalam.


Seperti anak kecil yang bermimpi buruk, Eun Jiho tertidur sambil menggenggam tanganku erat. Tiga puluh menit kemudian, ia akhirnya membuka mata.

Sementara itu, aku sempat mencoba bermain gim di ponselku; tapi takut membangunkannya, aku hanya menghabiskan waktu memandang ke luar jendela.

Permintaan hadiah ulang tahun itu saja sudah cukup menantang, tapi kalau hanya untuk satu hari, tidak ada yang tak bisa kulakukan. Lagi pula, ia pasti lelah menyiapkan pesta. Sudah lama juga aku tidak melihat wajah tidur Eun Jiho karena ia jarang tidur cukup.

Menatapnya yang tertidur lelap dengan dagu bertumpu pada telapak tangan, tiba-tiba terdengar suara ketika mobil berhenti.

“Kita sudah sampai.”

Aku menoleh. Sopir turun dan membukakan pintu untuk kami. Aku sempat khawatir kalau Eun Jiho masih tidur, tapi syukurlah ia sudah bangun seperti orang yang tidurnya ringan. Sambil mengucek mata, ia merapikan pakaian lalu menunjuk ke luar dengan dagunya.

“Ayo.”

“Uh, iya.”

Aku mengangguk dan turun hati-hati agar tidak meninggalkan jejak di ambang pintu. Rahangku ternganga saat melihat sekitar.

‘Memang aku tahu Eun Jiho merencanakan sesuatu ketika ia bilang, “Aku yang akan mengurusnya,” soal pakaianku tadi; tapi kupikir paling jauh kami hanya ke mal, bukan ke tempat seperti ini…’

Aku menatap kosong pemandangan di depanku dengan mulut terbuka.

Bangunan itu berkilau emas di antara gedung-gedung tinggi Seoul. Tidak ada papan nama mencolok, seolah ingin menonjolkan estetika arsitekturnya. Di sudutnya, aku akhirnya menemukan tulisan kecil.

“Beauty Shop,” kubaca pelan.

Tempat yang biasanya hanya kulihat di drama kini ada di depanku. Rasanya mustahil bagi siswi SMA sepertiku untuk melangkah masuk.

Eun Jiho yang berjalan di belakangku menarik lenganku.

“Kamu ngapain? Ayo masuk.”

“Hah? Um, iya…”

Sejak mobil berhenti di sini, aku terus gagap seperti boneka rusak. Sebaliknya, Eun Jiho tampak senang melihat reaksiku. Ia menggenggam tanganku dengan akrab seperti di mobil tadi, dan aku refleks melepaskannya. Ia langsung mengucapkan “ulang tahun” dengan nada tegas, membuatku kembali menggenggam tangannya.

Ah, ulang tahun apaan!

Sambil menahan air mata, aku menyerahkan tanganku padanya dengan pasrah.

Eun Jiho lalu berkata, “Bukan cuma untukku. Akan kubuat ini jadi ulang tahunmu juga.”

Jadi itu sebabnya kamu membawaku ke beauty shop…?

‘Apa sebenarnya standar ulang tahun bagi male lead dalam web novel?’ Aku merasa cemas luar biasa.

Chapter 215

Interior toko itu memang megah dan berwibawa, persis seperti kesan dari luarnya. Sekilas saja aku bisa menilai betapa mahalnya material bangunan yang digunakan—berdasarkan pengalamanku mengikuti Yeo Dan oppa dan Ban Yeo Ryung ke berbagai acara mewah, serta sekolah-sekolah bergengsi yang pernah kudatangi. Material eksklusif itu tersusun harmonis tanpa sedikit pun kesan pamer, justru membuat tempat ini tampak semakin luar biasa.

Dan di dalam toko yang begitu berkelas ini, aku…

“Oh, baru kepikiran, kalau ini drama TV, bukannya adegan seperti ini bisa bikin ceritanya dipotong? Maksudku… karakter pendukung malah merebut semua sorotan dari pemeran utama…”

Aku sedang mengoceh tidak jelas.

Eun Jiho di sampingku melemparkan pertanyaan dengan ekspresi pahit.

“Apa…?”

“Aku cuma berpikir, kalau ini drama TV, situasi seperti ini bisa terjadi tidak ya.”

“Kenapa kamu malah memikirkan hal seperti itu…?”

Dengan tatapan campur aduk, Eun Jiho menatapku, lalu segera menggeleng dan melangkah menjauh. Suaranya yang dingin dan datar—yang biasanya ia pakai saat berbicara dengan orang asing—terdengar di telingaku.

“Ms. Kwon Hye Young, tolong. Kami punya reservasi pukul dua.”

Barulah aku mengangkat kepala dan menatap ke depan. Eun Jiho sedang berbicara dengan seorang wanita di meja resepsionis yang wajahnya bercahaya seperti para pekerja di salon kecantikan.

Rahangku ternganga. ‘Wow, jadi di sinilah para ratu kecantikan berkumpul.’ Tentu saja, bahkan di tengah mereka, Eun Jiho tetap tampak lebih menonjol.

Sambil memikirkan itu, aku melirik rambut pirang platinum-nya yang memantulkan cahaya terang seperti studio foto, lalu tanpa sadar memperlihatkan perasaan halusku di wajah.

Kalau rambut perak itu ingin terlihat biasa saja, mungkin dia harus pergi ke Hongdae atau semacamnya…

Tak lama kemudian, wanita yang sudah memastikan nama di daftar reservasi mengantar kami ke ruang privat dan menanyakan minuman yang kami inginkan. Karena belum pernah ke tempat seperti ini, aku merasa canggung dan khawatir salah tingkah, jadi aku menolak memesan. Eun Jiho yang menatapku juga ikut berkata, “Tidak, terima kasih.” Wanita itu pun membungkuk sopan dan meninggalkan ruangan.

Begitu hanya kami berdua tersisa di tempat asing ini, rasa gugupku semakin menjadi. Aku bersandar dengan siku di sandaran kursi dan dagu di telapak tangan, sambil melirik sekitar.

Saat itulah terdengar suara samar dari luar pintu.

“Ya ampun, itu pewaris Hanwool Group, kan? Dan masih siswa SMA?”

“Tunggu saja dua tahun lagi dan lihat apa yang terjadi!”

Hmm… aku berpikir hati-hati, seolah pertanyaan itu ditujukan padaku. ‘Mungkin dia akan jadi siswa kelas tiga… atau peringkat nomor nol dunia…’

Tiba-tiba suara Eun Jiho memecah lamunanku.

“Ham Dan Yi, kamu lagi mikir apa?”

“Hah? Oh, tidak apa-apa.”

Pendengarannya bagus, tapi kenapa ia tidak mendengar komentar-komentar itu?

Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk. Saat pintu terbuka, seorang wanita melangkah masuk dengan gerakan anggun.

Hal pertama yang kulihat adalah rambut hitam berkilau yang terurai di bahunya. Di balik rambut itu, sepasang anting lingkar bergoyang mengikuti langkahnya, membuat rahangku nyaris jatuh.

Cantik sekali… meski sudah terbiasa dengan penampilan Ban Yeo Ryung, wanita ini benar-benar memukau. Setelan hitam yang ia kenakan tampak sederhana dibanding pesona glamornya, namun justru membuatnya semakin menonjol. Ketika mata kami bertemu, ia tersenyum dengan matanya. Dadaku bergetar hingga tanpa sadar aku menunduk.

Eun Jiho yang duduk di seberangku tetap tampak santai seperti biasa. Lalu kata-katanya membuat mataku melebar.

“Kamu masih terlihat luar biasa, Hye Young noona.”

Jadi dia Kwon Hye Young, pemilik salon ini.

Tapi… apa tadi yang ia sebut? Noona…?

Eun Jiho terlihat sangat nyaman saat mengucapkannya. Meski masih menjaga sikap karena ini tempat umum, wajahnya menunjukkan ekspresi seperti saat ia bertemu orang yang sudah lama dikenalnya. Kwon Hye Young membalas dengan santai, matanya melengkung tersenyum.

“Kamu juga, klien kesayanganku. Beberapa tahun lagi, kamu akan membuat semua orang yang lewat silau.”

Lalu ia menoleh padaku dan bertanya,

“Boleh tahu nama klien baruku ini?”

Aku yang sejak tadi melamun buru-buru membuka mulut. Sejujurnya, seberapa sering aku melihat Eun Jiho bersikap sesantai itu pada orang yang lebih tua?

“Um, nama saya Ham Dan Yi. Saya ini… Jiho—”

“Kami sedang berpacaran.”

Ia menyelaku dengan pernyataan tak masuk akal. Dengan mata membelalak, aku menoleh padanya.

“Apa?”

“Lucu sekali!”

Tanpa memedulikan ekspresiku yang ternganga, Kwon Hye Young bertepuk tangan dan berseru kagum. “Klien kesayanganku sudah jadi pria dewasa!” Ia menunduk ke arahku dan berkata dengan senyum lebar, “Pasangan yang menggemaskan!”

“Ah, um, saya…”

Aku mundur selangkah, lalu menyadari kenapa tiba-tiba aku kehilangan kata-kata di depan Kwon Hye Young. ‘Unnie ini mengingatkanku pada Ban Yeo Ryung. Bukan cuma penampilannya, tapi juga aura, cara bicara, dan ekspresinya.’

Sejak tiga tahun lalu, ketika aku memulai hidup baruku di dunia ini karena Ban Yeo Ryung menggenggam tanganku erat, sudah terbukti bahwa aku sangat lemah terhadap tipe seperti itu.

Saat aku hanya bisa mengerucutkan bibir tanpa suara, ucapan konyol tiba-tiba meluncur dan membuatku membeku.

“Ham Dan Yi, kamu malu padaku?”

Aku berdiri kaku seperti robot, lalu perlahan menoleh, seakan leherku berderit. Begitu melihat tatapan sedih Eun Jiho, aku ingin pingsan saja. Saat itulah aku teringat janji sebelum masuk ke sini. Ulang tahun…

Aku berusaha mengangkat sudut bibirku agar tampak seperti senyum tipis.

“Ah… tidak. Kenapa aku malu padamu… Aku cuma… bercanda.”

“Benarkah?”

Wajahnya langsung berubah lembut. Ia mengulurkan tangan padaku. Sulit menolak sikap bak kesatria abad pertengahan itu, jadi aku meletakkan telapak tanganku di atas tangannya.

Ya Tuhan… kenapa aku…?

Aku memalingkan wajah sambil mengernyit dan menahan air mata. Sementara itu, Kwon Hye Young dan Eun Jiho saling berbicara di sampingku.

“Aneh, sayang. Kenapa aku merasa kalian tidak punya chemistry?”

“Tidak punya chemistry? Tidak kelihatan kami berpegangan tangan dengan penuh kasih?”

Ia memandang kami bergantian dengan ekspresi nakal.

“Maksudku, dia kelihatan seperti putri yang diculik…”

“Cukup. Kami baik-baik saja, jadi tolong siapkan pakaian couple untuk kami.”

Mendengar itu, aku yang baru saja menenangkan diri langsung mengangkat kepala dengan terkejut.

Eun Jiho mengenakan setelan putih cerah yang begitu cocok dengan rambut platinum-nya; tapi aku tidak mungkin mengakui bahwa dengan pakaian serupa aku akan terlihat seperti kapur berjalan. Apalagi di depan wanita yang baru pertama kali kutemui.

Saat aku tampak bingung dan murung, Eun Jiho memutar bola matanya diam-diam. Kwon Hye Young menatapku sejenak dan hendak berbicara, tetapi saat itu Eun Jiho memanggil namaku.

“Ham Dan Yi.”

“Apa…”

“Kamu malu padaku—?”

“Ahhh! Baik, baik! Aku mengerti, jadi tolong jangan lakukan itu!”

Aku menjerit di depan Ms. Kwon Hye Young, lupa bahwa kami baru saja berkenalan. Eun Jiho bertanya lagi dengan wajah sendu.

“Jangan lakukan apa?”

“Wajah itu!”

Ia berkedip, lalu mengangguk sambil tersenyum, seolah setuju. Aku menghela napas lega—namun pipiku langsung memucat karena tindakan berikutnya.

Sambil menggenggam tanganku lebih erat, ia bertanya dengan wajah malu-malu kali ini,

“Jadi kita pakai pakaian couple, kan?”

“Argh!!! Eun Jiho, sebenarnya kamu kenapa sih?!”

Melihatku yang berusaha melepaskan tangannya dengan panik, Ms. Kwon Hye Young hanya tersenyum canggung. Ia lalu berkata akan mengambil katalog dan meninggalkan ruangan.

Chapter 216

Kembali hanya kami berdua di ruangan itu, kami terdiam cukup lama. Akhirnya Eun Jiho yang memecah keheningan.

“Kamu benar-benar malu padaku?”

Aku menjawab tanpa ragu, “Aku bilang akan pura-pura ini ulang tahunmu, bukan pura-pura jadi pacarmu.”

Begitu aku berkata demikian, Eun Jiho memasang wajah tak adil, seperti pelanggan yang menerima barang cacat.

‘Hei, kalau dipikir-pikir, bukannya justru aku yang seharusnya memasang wajah seperti itu? Tiba-tiba bicara soal pakaian couple itu apa maksudnya?’ Saat pikiran itu melintas, Eun Jiho yang menatapku perlahan membuka mulut.

Ia berkata, “Ya… anggap saja ini main rumah-rumahan.”

“Apa?”

Aku meninggikan suara dengan kening berkerut. Eun Jiho mengacak rambutnya kesal, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah.

“Kamu tahu kan main rumah-rumahan? Memerankan peran tertentu dan semacamnya… anggap saja situasinya begitu.”

“Siapa yang tidak tahu main rumah-rumahan? Aku bertanya kenapa kita harus melakukannya hari ini, apalagi saat kita menghadapi acara serius seperti ini?”

Eun Jiho lalu berkomentar pelan,

“…Hari ini sepertinya satu-satunya hari yang bisa.”

“Hah?”

Kata-kata itu terlalu tidak masuk akal untuk keluar dari mulutnya hingga aku kembali meringis. Sesaat, seperti gadis dalam cerita hantu lama, aku hampir saja bertanya, ‘Kamu benar-benar Eun Jiho yang kukenal?’ sambil menatap wajahnya di sampingku.

Namun aku menahan diri dan hanya menatap mata hitam legamnya yang tertuju padaku.

Sejujurnya, selama tiga tahun terakhir, aku merasa mengenalnya lebih baik daripada orang lain.

Banyak orang mengira karena terlahir dengan sendok perak, hidup Eun Jiho pasti mudah. Namun kenyataannya tidak begitu. Selain latar belakang kaya dan penampilannya, ia mendapatkan segalanya dengan usaha sendiri.

Ia selalu mendorong dirinya hingga batas. Hal seperti ‘hari ini tidak mood belajar’ atau ‘tidak ingin melakukan apa pun’ tidak pernah berlaku baginya. Sampai di situ aku mengernyit.

Tapi Eun Jiho yang seperti itu berkata, ‘Hari ini sepertinya satu-satunya hari…’ Apa maksudnya?

Saat itu pintu terbuka dan Ms. Kwon Hye Young masuk sambil membawa katalog. Aku buru-buru memalingkan wajah karena canggung. Eun Jiho melirikku sekilas lalu mengalihkan pandangan pada wanita cantik yang mendekat.

Sepertinya ia langsung merasakan udara kaku di antara kami. Dengan senyum tipis, ia duduk di seberang dan meletakkan katalog di meja.

“Mau melihat satu set lengkap termasuk aksesori?” tanyanya sambil membuka halaman.

Aku masih ragu, tapi Eun Jiho menjawab cepat,

“Iya, tapi yang sederhana saja.”

“Baiklah, kalau begitu coba halaman ini…”

Tangannya dengan kuku yang terawat membalik beberapa halaman. Duduk di samping Eun Jiho, aku melirik dan wajahku langsung menegang.

Karena kami dikatakan berpacaran, aku hampir yakin ia akan menyarankan pakaian putih yang serasi dengan setelan Eun Jiho. Dan benar saja, semua yang ia tunjukkan serba putih.

Terlepas dari warnanya, itu apa-apaan?

Meski Eun Jiho meminta yang sederhana, yang ditunjukkan Kwon Hye Young adalah jepit rambut berhias platinum dan berlian. Sementara aku panik dalam diam, mereka berbicara dengan tenang seolah angin musim semi.

“Terlihat cukup sederhana, bukan? Cocok untuk pelajar?”

“Ya…”

Ia melirikku lalu melanjutkan,

“Dari yang dia kenakan sekarang, putih pasti akan sangat cocok untuknya.”

“Kalau begitu ambil yang ini dan ini.”

“Tentu, kita juga harus mengatur rambut tepat waktu. Kalau begitu, sayang, ikut saya ke sini…?”

Tunggu! Tanpa benar-benar paham apa yang terjadi, aku buru-buru meraih Eun Jiho. Namun karena kami baru saja berdebat, ia tak menanggapi dengan ramah seperti biasanya.

Ia melambaikan tangan seolah berpamitan dan tersenyum nakal. Sebelum aku sempat bertanya, ia tiba-tiba menunduk dan berbisik di telingaku.

“Kamu bilang mau putus denganku, ya?”

“Kapan… aku bilang begitu…?!”

Astaga, suaraku terlalu keras. Aku buru-buru menutup mulut.

Ms. Kwon Hye Young menghentikan langkahnya dan menatapku heran. Aku juga merasakan tatapan aneh dari samping. Saat menoleh, Eun Jiho sedang memandangku dengan ekspresi ingin tahu.

Wajahku terasa terbakar. Aku berhenti melangkah mendekatinya lalu berbalik pada wanita itu.

“Maaf, sebentar saja!”

Syukurlah ia tersenyum seolah mengerti reaksiku. Aku berlari kembali pada Eun Jiho dan berbisik keras padanya yang masih tampak heran.

“Aku tidak bicara soal putus atau mengakhiri hubungan kita, aku cuma… kenapa harus hari ini? Ah, tapi… sudahlah.”

Sambil mengacak rambut, aku melanjutkan, “Pokoknya aku ke sini untuk membantumu, jadi… kalau ini juga mempermudahmu melakukan sesuatu, akan kulakukan. Aku akan melakukan yang kamu mau.”

Eun Jiho kembali membuka dan menutup matanya perlahan.

“Yang aku mau?” tanyanya.

Dasar, jangan bilang dia sudah lupa apa yang baru saja dikatakannya.

Aku menatapnya tak percaya. Ia tampak tidak bercanda. Sesaat aku mendongak ke langit-langit lalu menunduk lagi, tapi akhirnya aku berkata,

“Pura-pura kita… ber…pacaran.”

“…”

Mata Eun Jiho membesar seperti melihat sesuatu yang tak terduga. Setelah menatap wajahnya beberapa saat, aku menambahkan sebelum berbalik,

“Hanya hari ini.”

Lalu, seperti seseorang yang baru menyelesaikan misi, aku menghela napas panjang dan berjalan cepat menyusuri lorong, berpikir, ‘Ya, jadi begitu kesimpulanku.’

Seperti kusadari pagi tadi, hubungan kami memang seperti aku yang terus bermain jual mahal. Tanpa sadar aku selalu menjauh, sementara Eun Jiho tetap mendekat dengan bercanda. Kenapa jadi seperti ini? Pertanyaan itu muncul, tapi karena memang sudah begini, merenungkannya tak ada gunanya.

Kalau harus menebak, mungkin hubungan memang cenderung menetap dalam pola tertentu. Kita bisa saja sering manja pada satu orang, tapi selalu menerima nasihat keras dari orang lain. Pola itu jarang berubah.

Dan dalam kasusku, mungkin karena aku dan Eun Jiho berasal dari dunia yang benar-benar berbeda, aku terbiasa mendorongnya menjauh.

Dengan pikiran itu, aku menatap tanganku yang tadi digenggamnya. Kalau sekarang aku sudah menyadari pola hubungan kami, bukankah ini kesempatan untuk membalas usaha sepihaknya? Alih-alih terus menempatkannya di luar jangkauanku, bukankah seharusnya aku berusaha setara dengannya?

Dan demi itu, aku harus berhasil menjalankan misi ini—memerankan pasangan Eun Jiho di pesta ulang tahun ke-15 Hanwool Group malam ini.

Saat masih memikirkan itu, tiba-tiba sebuah tangan putih meraih tanganku yang sedang kutatap. Aku terkejut dan mendongak. Tentu saja, itu Eun Jiho. Ia berdiri sangat dekat hingga bayangannya menutupi wajahku.

Saat mata kami bertemu, ia tersenyum tipis dan berkata, “Terima kasih.”

Terima kasih? Kapan terakhir kali aku mendengar kata itu darinya? Maksudku, bukan “terima kasih~” sarkastik yang biasa ia lontarkan saat bersama Ban Yeo Ryung.

Bagaimanapun… aku menatap wajahnya sejenak dan mengernyit.

Sejak kapan Eun Jiho setampan ini?

Chapter 217

Baru saja, meski hanya sesaat, ia tampak seperti pemuda tampan asing yang pertama kali kutemui di masa SMP.

Tapi “terima kasih”? Untuk apa?

Saat aku hendak menanyakannya, Eun Jiho kembali melanjutkan ucapannya dengan tiba-tiba.

“Terima kasih atas kerja samanya. Seperti yang kubilang tadi, aku akan mengurus semuanya.”

“Maksudmu?”

“Aku… cukup ahli dalam hal itu.”

Mengabaikan pertanyaanku, Eun Jiho tersenyum misterius dan mulai berjalan sambil menggenggam pergelangan tanganku.

Ketika aku menoleh ke depan, direktur wanita itu berdiri menatap kami. Senyum tipis di bibirnya tampak seolah ia mengira kami pasangan muda yang sedang berbisik mesra dengan wajah saling berdekatan.

Aku ingin sekali meluruskan kesalahpahaman itu, tetapi… ada hal lain yang lebih penting. Setelah beberapa langkah mengikutinya, aku menoleh dan bertanya,

“Kenapa kamu ikut?”

Eun Jiho menjawab dengan senyum lebar yang membuatku tertegun.

“Sudah lama kamu tidak mau berdandan cantik, jadi sebagai pacarmu, bukankah aku juga harus melihatnya?”

Apa yang sebenarnya dia katakan?

Ia sengaja berbicara cukup keras agar terdengar oleh direktur wanita yang berjalan di depan. Lalu ia meliriknya untuk melihat reaksinya. Barulah aku menyadari maksudnya.

“Astaga…” gumamku sambil memalingkan wajah, tapi pipiku tetap memanas karena malu.

Aku mempercepat langkah, sementara Eun Jiho mengejarku dan berbicara cepat.

“Ya ampun, Dan Yi~? Kenapa? Malu? Dalam hubungan kita?”

“Hubungan macam apa yang kita punya?!”

“Ah, lagi… Dan Yi~? Berteriak karena malu itu tidak sopan, lho.”

“Tolong berhenti memanggilku Dan Yi~ begitu!”

“Kenapa? Mau dipanggil dengan cara lain? Lebih… khusus?”

“Iya, khusus! Khusus dipukul tepat sasaran, bagaimana?”

Aku mulai berbicara kasar tanpa sadar tempat kami berada, tetapi baik Eun Jiho maupun direktur wanita di depan tampaknya tidak peduli.

Sebaliknya, wanita itu sesekali menoleh dengan tatapan hangat pada kami. Terlalu… terlalu… ahhh!

Rasanya aku ingin menarik rambutku sendiri.

Namun anehnya, ada bagian dalam diriku yang justru merasa sedikit murung melihat Eun Jiho kembali ke wajah cerianya sambil terus menggodaku.

‘Kenapa begitu?’ Aku memiringkan kepala heran, tapi tak menemukan jawaban bahkan ketika kami memasuki ruangan besar untuk menerima pakaian dan menuju ruang ganti.


Setelah menyerahkan pakaian dan sepatu pada Ham Dan Yi, Kwon Hye Young kembali ke sofa tempat Eun Jiho duduk. Ia bersandar malas pada sandaran empuk, menopang dagu dengan telapak tangan, meluruskan punggungnya, membungkuk lagi, mencoba menghitung pola meja, lalu akhirnya mengeluarkan ponsel. Melihat rangkaian gerakannya, Kwon Hye Young tertawa kecil.

Ia mengenal Eun Jiho sejak usia delapan tahun, jadi hubungan mereka seperti bibi dan keponakan. Eun Jiho sama sekali tidak menunjukkan tanda berjaga-jaga karena ia tidak salah mengartikan tawa itu sebagai ejekan. Ia hanya memiringkan kepala dan bertanya singkat,

“Kenapa?”

Pertanyaan polosnya membuat senyum Kwon Hye Young semakin lebar. Menyentuh bibirnya dengan ujung jari yang terawat, ia berpikir sejenak.

‘Jadi gadis itu bahkan tidak menyadarinya?’

Hari ini Eun Jiho benar-benar menunjukkan sisi yang tak terduga. Setelah tersenyum lama, Kwon Hye Young akhirnya berbicara ketika melihat raut muram di wajahnya yang menunggu jawaban.

“Jiho, selama sepuluh tahun ini, belum pernah kulihat kamu segelisah hari ini.”

“Oh…”

Eun Jiho tanpa sadar mengeluarkan suara kecil. Ekspresi tanpa pertahanannya itu juga sesuatu yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Kwon Hye Young kembali tertawa pelan.

Sebagai satu-satunya pewaris Hanwool Group, Eun Jiho menghadiri pesta setidaknya seminggu sekali; karena itu mereka hampir bertemu setiap minggu di salon ini. Namun semua sisi yang ia lihat hari ini terasa baru dan mengejutkan.

Saat Eun Jiho memasuki ruang privat tadi sambil tertawa keras mengikuti gadis itu, Kwon Hye Young merasa ia melihat orang yang berbeda. Ia tampak seperti remaja biasa seusianya.

Remaja biasa… Kwon Hye Young mengulang kata itu dalam hati. Ia teringat masa kecil Eun Jiho. Dari sosok pemuda rapi bersetelan itu, sulit membayangkan masa kecilnya.

Saat kecil, Eun Jiho adalah anak yang penuh ekspresi dan menggemaskan. Namun di suatu titik, wajahnya menjadi kaku seiring sikapnya yang semakin tegas dan keras. Saat SMP, percakapannya dengan Kwon Hye Young hanya sebatas urusan formal.

Ia tidak tahu apa yang membuatnya berubah sejauh itu. Ia hanya bertemu Eun Jiho untuk menata rambut atau memilih pakaian, dan saat itu ia belum menjadi direktur. Mereka sama-sama sibuk, sehingga perubahan itu ia anggap sebagai “anak yang memang terlahir dewasa dan sabar.”

Tak lama kemudian ia menyadari bahwa itu kesalahpahaman besar.

Suatu hari, ketika Eun Jiho terlalu lama di ruang ganti, Kwon Hye Young memberanikan diri bertanya, “Semuanya baik-baik saja? Perlu bantuan?” Tepat setelah pertanyaan itu, Eun Jiho keluar tergesa dengan mata memerah. Dengan wajah datar ia berkata, “Maaf lama,” lalu pergi. Tak lama kemudian ia kembali dengan wajah basah seperti habis mencuci muka. Tak ada lagi jejak air mata.

Kejadian itu membekas kuat di benaknya. Setelah lama ragu, ia akhirnya bertanya. Eun Jiho menjawab perlahan dengan sedikit wajah memerah.

“Rasanya terlalu… menyesakkan.”

“…Boleh tahu karena apa?”

“Hanya… semuanya.”

Ia melatih dirinya lewat pendidikan agar terlihat alami. Tentu saja itu tidak selalu berjalan mulus baginya.

Ekspektasi, disiplin, pendidikan, kehidupan yang menekan setiap hari… tetap saja, ia anak laki-laki yang ingin memiliki hal yang sama seperti anak lain—teman, atau seseorang yang bisa membuatnya bersikap seperti anak kecil.

Tanpa sadar Kwon Hye Young mengelus rambutnya seperti kakak perempuan pada adik. Eun Jiho menatapnya, lalu matanya kembali memerah sebelum ia cepat-cepat berbalik dan pergi. Sejak saat itu, ia hanya menunjukkan perasaannya di hadapannya.

Namun tepat sebelum naik kelas dua SMP, Eun Jiho berubah sepenuhnya. Hingga kini ia tak tahu penyebabnya.

Memikirkan itu, Kwon Hye Young tersenyum dan menatapnya.

“Jiho, bolehkah kamu sedikit jujur padaku?”

“Maaf?”

“Kamu dan gadis tadi tidak benar-benar berpacaran, kan?”

Pffft—Eun Jiho menyemburkan teh yang sedang diminumnya. Bahkan dalam situasi itu, Kwon Hye Young sebagai penata profesional langsung memastikan tak ada noda di pakaiannya sebelum tertawa. Eun Jiho memalingkan wajah karena malu, namun tak lama kemudian ia kembali memasang senyum memikat.

“Ya, kami berpacaran,” katanya dengan senyum sedikit gugup.

“Oh, benarkah? Maaf, tapi aku sulit mempercayainya, sayang.”

“Kalau menurutmu Ham Dan Yi kaku, itu karena hubungan kami belum lama.”

“Hmm, rasanya bukan begitu.”

Senyum Eun Jiho sedikit retak. Menatapnya, ia bertanya,

“Lalu menurutmu seperti apa?”

Chapter 218

Pertanyaan yang ia tunggu akhirnya keluar. Dengan senyum segar di wajahnya, Kwon Hye Young menyandarkan lengannya di sofa dan melanjutkan dengan santai.

“Pertama, nona muda itu tampaknya sama sekali tidak terlibat perasaan. Bagaimana bisa itu terjadi pada klien tampanku ini?”

Ia terkekeh ringan. Eun Jiho membalas dengan senyum tajam.

“Tidak, bukan begitu. Perasaannya padaku bahkan tidak cukup dijelaskan dengan kata-kata. Dia sering bengong saat menatapku.”

“Yah, itu karena penampilanmu seperti bencana alam…”

“Sepertinya hanya kamu yang menyebutku bencana alam alih-alih anugerah dari Tuhan.”

Eun Jiho menjawab dengan ekspresi tak percaya. Wajahnya yang tadi penuh kelicikan kini lenyap. Kwon Hye Young melanjutkan sambil tertawa kecil.

“Dan kedua, yang kusadari barusan, Jiho, kamu punya banyak perasaan pada Dan Yi. Boleh kukatakan begitu?”

“…”

“Dan itu sudah ada sejak lama.”

“Ah….”

Kwon Hye Young mencuri pandang ke wajahnya. Seolah dugaannya menghantamnya di saat tak terduga, wajah Eun Jiho memucat dan membeku. Sebuah erangan pelan lolos dari bibirnya yang sedikit terbuka, lalu ia menutupi wajah dengan kedua tangan.

Kini ia tampak benar-benar kesulitan menyembunyikan perasaannya. Kwon Hye Young memperhatikan bagaimana ia menjatuhkan rahang, menutup mulut, menutupi wajah lagi, menyisir rambutnya ke belakang lalu mengacaknya kembali. Rangkaian ekspresi itu jarang sekali ia lihat, membuatnya menatap puas.

‘Kapan lagi aku bisa menggoda tuan muda ini?’ pikirnya. ‘Beberapa tahun lagi, ia tak akan membuka celah sekecil ini. Kalau bukan sekarang, tak akan ada kesempatan.’

Eun Jiho akhirnya bertanya dengan wajah menyerah,

“Sebegitu jelasnya?”

“Iya,” jawabnya dengan senyum penuh arti.

“Maksudku, bagaimana? Di mana? Ah…”

Ia kembali menutup wajah dan mengerang pelan, lalu bergumam,

“Pestanya… Yoo Gun juga akan datang… Kalau dia tahu yang sebenarnya, aku tamat…”

Yoo Gun? Nama itu terdengar familiar. Kwon Hye Young segera teringat rumor terbaru tentang pewaris pertama Balhae Group.

‘Oh, benar. Pewaris pertama dan kedua yang lama di luar negeri katanya sudah kembali ke Korea,’ pikirnya.

Pesta ulang tahun ke-15 Hanwool Group akan menjadi acara pertama mereka setelah kembali.

Jadi Eun Jiho dan Yoo Gun saling mengenal?

Ia menatap Eun Jiho dengan pandangan baru. Mengingat besarnya kedua konglomerat itu, tak mungkin mereka tak saling tahu. Namun yang mengejutkannya adalah Eun Jiho menyebut nama Yoo Gun tanpa gelar kehormatan. Padahal selisih usia mereka cukup jauh; Yoo Gun jauh lebih tua. Artinya, mereka entah sangat dekat atau justru bermusuhan.

Tiba-tiba suara Eun Jiho memotong lamunannya.

“Di mana kamu melihatnya begitu jelas?”

“Maaf?”

“Supaya bisa segera kuperbaiki. Apa yang terlihat jelas? Gerakanku? Tatapanku?”

Sambil berkata demikian, ia menatap bayangannya di cermin jauh di seberang.

“Rasanya tidak berbeda dari biasanya… Aku memang sering terdistraksi seperti hari ini saat bersama anak-anak lain. Mungkin terlihat sama saja.”

“…”

“Apa sih? Kenapa kamu—”

“Jiho.”

Setelah memanggil namanya, ia terdiam. Eun Jiho menoleh padanya.

“Tolong, aku perlu tahu. Di mana terlihat jelas?”

Pertanyaannya menggema di telinganya, tetapi ia tak segera menjawab. Ia justru terjebak dalam pikirannya sendiri.

‘Apa dia pikir itu bisa diperbaiki?’ gumamnya dalam hati.

“Noona? Ms. Hye Young?”

“Oh, ya.”

“Tolong jawab. Ini… penting bagiku.”

Ia mengusap tengkuknya dengan wajah tegang. Kwon Hye Young melihat jelas ia membentuk nama ‘Yoo Gun’ di bibirnya. Itu membuatnya yakin hubungan mereka rumit. Ia berkedip pelan lalu mengalihkan pandangan ke ruang ganti yang masih tertutup.

Nasihat yang ingin ia berikan sebenarnya bukan untuk Eun Jiho, melainkan untuk Ham Dan Yi—gadis yang tampak begitu asing dengan dunia seperti ini.

“Jiho.”

“Ya.”

“Itu bukan sesuatu yang bisa kamu perbaiki.”

“…?”

“Tapi aku bisa memberimu satu saran, kalau kamu mau.”

Melihat ekspresi bingungnya, ia mengangkat satu jari.

“Untuk sekarang, hindari orang-orang yang sudah lama tidak kamu temui. Itu saja.”

Jawaban singkat itu membuat Eun Jiho mengernyit.

“Cuma itu?”

Ia tak bisa menahan diri untuk mengangguk.

“Maksudku, dari mana kamu tahu begitu jelas sejak awal?”

“Haha, apa ya?”

“Kamu tahu aku serius.”

Kwon Hye Young menatapnya. Ia tahu ia sungguh-sungguh dari wajahnya yang jarang sekaku itu. Namun tak banyak yang bisa ia jelaskan.

“Mungkin tetap tidak ada gunanya. Dan itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan singkat.”

“Apa sebenarnya?”

“Aku tidak tahu. Jika seseorang yang lebih pandai menjelaskan menyadari perasaanmu, mungkin dia bisa menjelaskannya padamu. Bukankah begitu?”

Eun Jiho tak lagi mendesak. Ia justru bergumam,

“Semoga bukan Yoo Gun.”

Kwon Hye Young tertawa kecil tanpa sadar. Lalu ia mengucapkan apa yang sejak tadi ada di pikirannya.

“Kamu terlihat bagus.”

“Hah?”

“Cara kamu sekarang terlihat bagus, Jiho.”

Ia berkedip lalu mengatupkan bibir.

“Jiho, untuk pertama kalinya kamu terlihat seusiamu. Entah sudah berapa lama.”

“…”

“Kalau bisa, aku berharap Miss Ham Dan Yi tetap di sisimu, supaya kamu bisa seperti itu—”

Ia mendongak dan melihat wajah Eun Jiho yang tadinya polos tiba-tiba berubah.

Ekspresi naifnya lenyap seakan dihapus. Tangannya yang tadi gelisah kini diam. Ia bersandar tenang dengan kedua tangan terlipat di perut, menatap lantai.

“Jiho?”

Kwon Hye Young memanggilnya pelan.

“Ham Dan Yi… lupakan nama itu.”

“Maaf?”

“Kami tak akan pernah datang ke sini bersama lagi.”

Ia kebingungan. Saat hendak bertanya maksudnya, terdengar suara tirai dibuka.

Sebagai style director, ia harus memastikan pakaian itu cocok. Saat berbalik, ia langsung tersenyum puas.

Ham Dan Yi memutar tubuhnya ke kiri dan kanan di depan cermin.

Ia mengenakan gaun musim panas sederhana dengan lapisan sifon tipis berlapis di bagian depan dan kain putih tegas di belakang. Panjangnya sedikit di atas paha, namun dilengkapi celana pendek putih senada di dalamnya. Gaun itu nyaman dan tidak berlebihan untuk siswi.

Ia mengenakan sepatu tali perak_toggle putih perak yang sudah disiapkan dan menoleh pada Kwon Hye Young.

“Benar-benar luar biasa! Putih sangat cocok untukmu.”

Itu pujian tulus, namun Ham Dan Yi tidak tampak senang. Ia justru memeriksa dirinya cemas di cermin.

‘Bagaimana reaksi Eun Jiho?’ pikir Kwon Hye Young sambil menoleh.

Wajah muram Eun Jiho lenyap. Kini ia tersenyum manis yang bisa melelehkan hati.

“Memang. Cantik, Ham Dan Yi.”

“Uh.”

Dengan dagu bertumpu pada telapak tangan, ia menatapnya santai. Dalam setelan putihnya, ia tampak seperti keluar dari layar film. Namun Ham Dan Yi tidak memerah atau tersenyum—hanya sedikit mengerutkan dahi.

Melihat reaksi yang saling bertolak belakang itu, Kwon Hye Young bisa membayangkan kesulitan yang akan Eun Jiho hadapi.

‘Jika Dan Yi menanggapi pujiannya seperti itu, dia pasti tidak akan menerima pernyataan cintanya. Dia akan menganggapnya sekadar godaan.’

Ia menyembunyikan senyumnya.

Tak pernah terlintas di benaknya bahwa cinta Eun Jiho bisa saja tidak berbalas.

Chapter 219

‘Sejauh yang kuketahui, bukankah ini cinta pertamanya Eun Jiho? Aku belum pernah melihatnya bersikap seperti itu atau membicarakan seseorang di depan orang lain,’ pikir Kwon Hye Young lebih jauh, lalu ia melemparkan tatapan hangat pada Eun Jiho.

Akan menyenangkan jika kita bisa memilih orang yang kita sukai dengan mengikuti logika kita. Namun saat kita sadar bahwa kita tak bisa, di situlah cinta pertama akhirnya dimulai.

Hal-hal yang hilang dari Eun Jiho seiring ia tumbuh dewasa—seperti sifat impulsif atau emosinya… Kwon Hye Young tidak membenci melihat hal-hal itu kembali padanya berkat gadis bernama Ham Dan Yi. Meski orang-orang yang mengagumi sisi rasionalnya mungkin akan berpikir sebaliknya.

Tiba-tiba Kwon Hye Young memiringkan kepalanya. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya.

Apa yang baru saja dikatakan Eun Jiho,

“Kami tak akan pernah datang ke sini bersama lagi.”

Apa maksudnya? Alis Kwon Hye Young bertaut, namun ketika Ham Dan Yi menoleh ke arah mereka, ia segera melangkah cepat untuk mengantar gadis itu ke ruang penataan rambut.


Saat Ham Dan Yi membuka tirai merah muda tebal dan melangkah keluar dari ruang ganti, mata cokelat gelapnya langsung bertemu dengan mata Eun Jiho.

Ia ingin mengatakan betapa cantiknya gadis itu. Namun yang keluar dari bibirnya, hanya beberapa kata yang terdengar biasa kepada Kwon Hye Young di sampingnya.

“Iya, memang. Cantik, Ham Dan Yi.”

Eun Jiho terus mengacak rambutnya. Belakangan ia menyadari bahwa responsnya—mengatakan “cantik” dan ocehan lain untuk menutupi rasa malunya—semuanya berasal dari hati yang tulus.

Mungkin aku memang tidak secanggih yang kupikirkan.

Eun Jiho tersenyum pahit. Ia tahu betul betapa sulitnya ia melepaskan sesuatu. Itu adalah hal yang paling sering ia dimarahi di bawah disiplin dan pendidikan ketat ayahnya.

Jika ditanya apakah ia memiliki rencana saat Ham Dan Yi dengan sukarela menemaninya, tentu jawabannya ya. Namun Eun Jiho sudah memutuskan untuk menyerah pada perasaannya dan melemparkan usulan itu sebagai lelucon terakhir. Ia tak pernah menyangka Ham Dan Yi akan langsung menerimanya.

Atau… apakah aku terlihat terlalu putus asa?

Memikirkan itu, Eun Jiho menyentuh wajahnya. Namun ia tak mungkin tahu bagaimana ia terlihat di mata Ham Dan Yi saat itu. Ia menghela napas pelan dan menggeleng.

Sudahlah. Ini yang terakhir.

‘Setelah semuanya selesai, aku akan memperlakukannya hanya sebagai teman. Ini terakhir kalinya aku menunjukkan perasaanku yang sebenarnya.’ Sebelum datang ke sini, ia sudah memutuskan begitu.

Meski Ham Dan Yi dan Kwon Hye Young menyuruhnya menunggu di tempat lain, Eun Jiho tetap duduk di sofa dengan dagu bertumpu pada telapak tangan, menyaksikan seluruh proses. Ham Dan Yi hampir selesai bersiap; tinggal mengenakan aksesori.

Saat akhirnya Ham Dan Yi menoleh padanya, Eun Jiho langsung berkata,

“Benar-benar cantik.”

Ia berusaha mengucapkannya senatural dan setulus mungkin, merasa dirinya cukup berbakat dalam memuji orang. Namun reaksi Ham Dan Yi selalu sama.

“Bohong.”

Jawabannya singkat. Lalu tiba-tiba ia mengatupkan bibir rapat-rapat, membuat Eun Jiho hampir tertawa.

Sepertinya Ham Dan Yi sudah berkompromi dengan usulannya untuk berpura-pura hari ini sebagai ulang tahunnya. Meski menerima, ia tetap menjawab ketus karena kebiasaan, lalu segera menyadari kesalahannya.

‘Sudah lama aku tak melihat ekspresi baru seperti itu.’

Selama lebih dari tiga tahun mereka bersama di sekolah maupun di rumah, jarang sekali melihat sisi baru satu sama lain. Dalam hal ini, itu semacam keuntungan tak terduga bagi Eun Jiho.

‘Syukurlah aku mengusulkan ini,’ pikirnya sambil menyipitkan mata dan tersenyum.

Ketika Ham Dan Yi berdiri, ia ikut bangkit.

Setiap langkah Eun Jiho di lantai marmer menuju gadis itu membuat bahu Ham Dan Yi tersentak kecil. Para pegawai wanita lain menatap kosong pada mereka, lalu ketika mata mereka bertemu, mereka tersipu diam-diam.

Eun Jiho teringat keluhan Ham Dan Yi tentang drama televisi saat pertama masuk ke salon ini. Dari sudut pandangnya, situasi ini memang mirip adegan drama. Terlebih ketika seorang pria yang hanya dengan berdiri saja sudah menuai pujian kini berjalan berdampingan dengannya, melingkarkan tangan di punggungnya dengan akrab.

Namun Ham Dan Yi tetap terlihat murung, tanpa tanda kagum atau berdebar.

Eun Jiho tersenyum tipis, merasa situasi ini lucu.

‘Bukankah teman selama tiga tahun yang tiba-tiba bertindak seperti ini seharusnya membuatnya berdebar? Sedikit saja? Kuharap begitu…’

Dengan pikiran nakal itu, ia meletakkan tangannya di punggung Ham Dan Yi. Gadis itu terlonjak dan menoleh dengan mata membesar.

“Bagaimana kalau kita melewatkan pestanya dan pergi makan malam saja?” ujar Eun Jiho dengan seringai.

“…”

“Sepertinya kamu terlalu cantik hari ini… bisa menarik perhatian pria-pria aneh.”

“Kamu…”

Kamu?

Eun Jiho berhenti dan menundukkan kepala. Bahkan sebelum mendengar kelanjutannya, ia sudah tahu jawabannya. Dan ketika kata-kata berikutnya keluar, ia menelan senyum.

Oh, tentu saja.

“Kamu sudah gila…”

Sudah kuduga.

Eun Jiho makin menundukkan kepala agar tawanya tak terlihat. Sulit menahan sudut bibirnya yang terus bergerak meski menggunakan seluruh kemampuan aktingnya.

Beberapa saat kemudian, ia mendongak dan melihat Ham Dan Yi kembali memasang wajah muram.

Jadi dia sadar percakapan tadi tidak seperti pasangan sungguhan…

Eun Jiho menunggu diam-diam, penasaran bagaimana reaksinya. Tanpa ia sadari, sesuatu dengan lembut menyentuh pipinya.

“Um… jangan marah.”

Ham Dan Yi menusuk pipinya dengan jari, lalu kembali kebingungan ketika menerima tatapannya. Tak lama kemudian ia berlari sambil berteriak, “Iya!” saat Kwon Hye Young memanggil namanya.

Setelah mereka berdua pergi, ruangan mendadak sunyi. Dalam keheningan itu, Eun Jiho mengangkat tangan dan menyentuh pipinya yang tadi disentuh Ham Dan Yi.

Tanpa sadar, ia terkekeh.

“Dia… tadi bersikap manis?”

Atau memang itu dirinya sendiri? Jika itu sisi manisnya, tetap saja berbahaya.

Sampai di situ, Eun Jiho menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menarik napas panjang. Ini benar-benar tak tertahankan. Meski ia tahu nanti ia bisa saja menjadikannya alasan besar, tetap saja ia tak bisa menahan diri tanpa meluapkan pikirannya.

Akhirnya ia tertawa keras.

“Ya ampun, bagaimana nanti dia bisa pacaran dengan orang lain?”

Tawanya tak mudah reda. Bahunya berguncang, lalu ia menyadari para pegawai lain menatapnya kaku. Ia segera menegakkan badan. Sejak ia merapikan rambutnya dan menyapa orang-orang dengan anggukan, ia bisa merasakan tatapan menusuk di punggungnya.

“Terserah…” gumamnya pelan sambil memasukkan kedua tangan ke saku.

Ia tahu tak seorang pun akan percaya ia tertawa sendirian di ruangan kosong, kecuali segelintir orang yang benar-benar mengenalnya. Dengan kata lain, kelompok kecil itu bahkan tak akan terkejut jika ia menari di atas meja sendirian. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Meraba rambutnya yang kembali berantakan, Eun Jiho bergumam,

“Ya ampun… bagaimana dengan kisah cinta kita…”

Kata-kata itu lenyap begitu saja di udara. Langkahnya yang cepat perlahan melambat saat menyusuri koridor.

Di tengah lorong yang sunyi, ia akhirnya berhenti dan tiba-tiba mengacak rambutnya lagi, merusak tatanan rapi yang sudah disiapkan.

Tak apa, bisa diperbaiki lagi.

Ia akan mengacak rambutnya sebanyak mungkin jika itu bisa mengusir perasaan mengerikan yang menyeretnya ke dalam jurang putus asa. Namun itu bukan solusi.

Akhirnya Eun Jiho hanya menutup matanya dengan tangan dan berdiri diam.

Chapter 220

Beberapa saat kemudian, ia menghela napas panjang.

“Ya ampun…”

Melangkah maju, Eun Jiho bergumam pada dirinya sendiri.

‘Suatu hari nanti, aku pasti akan menyesali ini. Kenapa aku tergoda oleh rasa sakit yang manis? Begitu aku menuruti godaan ini, akan sulit sekali melupakannya.’

Namun saat ia berpikir demikian, ada terlalu banyak hal yang harus ia tarik kembali.

Menggeleng pelan, Eun Jiho kembali melangkah. Setiap langkahnya membawa kembali pemandangan hari-hari mereka, berputar jelas di hadapannya.

‘Katakanlah, hari ketika aku berjalan menyusuri jalanan musim panas sambil menggenggam tanganmu saat kamu menangis. Atau hari ketika aku menyandarkan kepala di bahumu saat kita duduk berdampingan di sofa. Hari itu juga, aku duduk di sebelahmu dan memandangi wajahmu yang tertidur sepanjang istirahat…’

Sambil terus melangkah, Eun Jiho perlahan menutup matanya.

Saat ia menelusuri kembali kenangan-kenangannya, yang ia capai di ujungnya adalah hari pertama Ham Dan Yi duduk di sebelahnya. Saat itu ia tidak menyukainya. Mengingatnya sekarang membuatnya terkekeh pelan. Namun jika ia bisa kembali ke hari itu dan memilih lagi, mungkinkah ia tidak akan menyukai Ham Dan Yi?

Eun Jiho menghentikan langkahnya saat pertanyaan itu muncul di benaknya. Tiba-tiba ia tersenyum kecil, lalu kembali berjalan.

“Itu tidak akan terjadi.”

Ayahnya selalu berkata bahwa hati bisa dikendalikan oleh logika.

Namun kini Eun Jiho melangkah menuju Ham Dan Yi dengan sadar bahwa suatu hari nanti ia akan menyesalinya. Ia tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang akan mengukir kenangan yang menyakitkan di kepalanya.

Begitu keluar dari lorong, ia melihat Ham Dan Yi lebih cepat dari yang ia duga. Di rambut cokelat gelapnya yang tertata rapi terpasang sebuah hairband berhias kubik berkilau terang. Permata itu memantulkan cahaya dari segala arah, bersinar seperti bintang.

Cahayanya begitu menyilaukan hingga Eun Jiho menyipitkan mata sejenak, lalu menatap wajah di bawahnya. Ia tersenyum dan berpikir bahwa hari ini tak akan ia sia-siakan. Ia tak ingin kesempatan ini terlewat.

Dengan tekad untuk melihat sebanyak mungkin ekspresi lucu darinya, ia berkata manis,

“Ham Dan Yi, kamu cantik.”

“Iya, aku tahu.”

“…?”

Eun Jiho mengernyit sesaat dan menatapnya lagi. Ham Dan Yi tidak tersipu ataupun terlihat bingung. Ia hanya menatap layar ponselnya dengan santai.

Tidak mungkin…

Eun Jiho meringis. ‘Apa dia sudah menyesuaikan diri dengan situasi ini?’

Tidak, itu mustahil. Ham Dan Yi yang lambat beradaptasi biasanya selalu tertinggal dalam berbagai hal—bahkan soal mesin dan musim pun sering dikritik orang.

Eun Jiho mengulang,

“Dan Yi, Ham Dan Yi. Kamu cantik, tahu?”

Ia terlalu panik hingga tanpa sadar kembali ke cara bicaranya yang biasa. Sementara ia menatap penuh kebingungan, Ham Dan Yi memasukkan ponselnya ke dalam clutch dan mengangkat kepala.

“Aku sudah bilang, aku tahu,” katanya singkat.

“Tahu apa?”

Ia sadar pertanyaannya terdengar tidak baik, tetapi ia tak bisa menahannya. Di seberang, Kwon Hye Young menatapnya dengan wajah cemas.

‘Jiho, jangan! Itu lampu merah! Lampu merah untuk gebetanmu!’

Namun Ham Dan Yi tetap tak menunjukkan reaksi berarti. Kini Eun Jiho mulai khawatir apakah ia terlalu menekannya. Sementara itu, Ham Dan Yi menatapnya dan berkata,

“Um, kamu sedang menyindir.”

“Apa? Menyindir?”

Itu benar-benar di luar dugaan. ‘Bagaimana bisa dia menafsirkannya seperti itu?’ Belum sempat ia berkata apa-apa, Ham Dan Yi melanjutkan sambil melangkah.

“Kamu selalu bilang Ban Yeo Ryung jelek.”

“… Lalu?”

“Dan bilang aku cantik.”

Barulah Eun Jiho memahami arah pikirannya yang tiba-tiba berubah.

Ia merasakan urat di tengkuknya menegang. Tadi ia merasa ini kesempatan bagus untuk melihat reaksinya yang malu-malu dan menikmati percakapan ala pasangan. Namun semuanya hancur.

Ham Dan Yi mengernyit sejenak lalu berbalik dan berjalan pergi.

Eun Jiho segera mengejar.

“Hei, Ham Dan Yi! Kamu MEMANG cantik!!”

“Iya, aku sudah bilang, aku tahu.”

“Maksudku, itu bukan sindiran… ya ampun! Astaga!”

“Iya, tahu, tahu.”

“Kamu tidak tahu apa-apa!”

Teriakan Eun Jiho membuat para pegawai berbisik-bisik. Namun Ham Dan Yi tetap tanpa ekspresi, seperti robot.

Memang begitulah dirinya—percaya pada sesuatu sampai akhir. Dalam sisi baik, ia teguh pendirian; dalam sisi buruk, keras kepala luar biasa. Persepsinya tak akan berubah begitu saja.

Ya Tuhan…

Menekan dahinya tanpa daya, Eun Jiho bergumam,

“Ban Yeo Ryung! Biasanya kamu mengganggu kami secara langsung, sekarang malah mengganggu dari jarak jauh…”


“Ahchoo!”

Ban Yeo Ryung yang sedang menerima pesanan bersin kecil. Ia mengusap bawah hidungnya dan mendapati tidak ada pilek. Ia pun mengernyit.

‘Aku tidak sedang flu. Lagi pula ini musim panas. Kenapa aku bersin?’

Di sisi lain, begitu ia bersin, para pria yang duduk dekat konter langsung berdiri. Seorang pria yang paling dekat menyerahkan tisu dengan wajah merah padam.

“T-tolong pakai ini!”

Wajahnya memerah seperti apel yang ingin berteman dengannya.

“Tidak perlu, terima kasih,” tolak Ban Yeo Ryung sambil tersenyum.

Begitu ia menolak, sekitar tiga orang di antrean belakang ikut menyodorkan tisu. Ia kembali menolak dengan senyum.

Ban Siwon, pamannya sekaligus pemilik kafe, mengamati dari balik konter dengan wajah lelah. Ia membuka buku kas yang lama tak ia sentuh.

Kafe ini hanyalah salah satu properti barunya; pekerjaan utamanya adalah dokter kulit. Biasanya ia sangat sibuk, jadi ini hampir pertama kalinya ia datang saat jam ramai.

Sejak Ban Yeo Ryung bekerja paruh waktu di sini, penjualan hampir dua kali lipat. Ia datang untuk memeriksa keadaan, tetapi begitu melihat situasinya, ia hanya bisa menatap kosong.

Memang yang paling menonjol secara visual di keluarga Ban adalah Ban Yeo Dan dan Ban Yeo Ryung. Namun tetap saja, melihat hampir tiga puluh pria berdiri hanya karena ia bersin adalah pemandangan yang luar biasa.

‘Pemandangan yang tak ternilai,’ pikirnya.

Sementara itu, Ban Yeo Ryung baru saja menolak tisu untuk kedelapan kalinya ketika ponselnya bergetar di balik apron.

“Oh.”

Begitu melirik layar, ia berseru kecil lalu langsung menekan tombol daya. Dalam dua detik, penelepon akan mendengar pesan otomatis bahwa panggilannya tidak diterima.

Ia kembali menatap depan.

“Boleh saya ambil pesanannya?”

Seorang pria yang tersipu bertanya,

“Siapa tadi?”

Ban Yeo Ryung tersenyum dengan mata tertunduk.

Biasanya ia tidak menyukai pertanyaan pribadi dari orang asing. Namun kali ini, entah mengapa, ia tak merasa terganggu.

Saat ia tersenyum tulus, kecantikannya semakin memukau. Bulu matanya yang sedikit menunduk dan mata hitamnya yang berkilau seperti langit berbintang membuat pria itu hanya bisa menelan ludah.

‘Dia benar-benar cantik…’ pikirnya. Bahkan jika ia ditangkap karena kecantikannya yang mematikan, tak ada yang bisa protes. Suaranya pun memesona seperti Siren.

Ia tak melewatkan gerakan kecil Ban Yeo Ryung saat ia menyibakkan rambut hitamnya dengan tangan putihnya.

Akhirnya ia membuka bibir merahnya.

“Makhluk tak berarti.”

“Maaf?”

“Dan penculik.”

“Hah?”

Dengan senyum manis yang tetap menghiasi wajahnya, Ban Yeo Ryung menutup percakapan itu.

“Ada seseorang bernama ‘Eun Ji-goddamn-ho,’ cintaku—”

“—Yeo Ryung!”

Suara lain tiba-tiba menyela, membuat pria itu tak sempat mendengar kelanjutannya. Ia pun menoleh.

Chapter 221

Seorang anak laki-laki berambut acak-acakan, yang tampak berlari tergesa-gesa ke tempat ini, berdiri di ambang pintu sambil terengah-engah dan menatap ke arah mereka. Ujung rambut merahnya bergoyang pelan sebelum akhirnya diam seiring bahunya naik turun. Ban Yeo Ryung pun menyelesaikan kalimatnya.

“…dia menculiknya… Eun Hyung??”

“Yeo Ryung…”

Memanggil namanya seperti helaan napas, anak laki-laki yang dipanggil Eun Hyung itu melangkah mendekat.

‘Astaga,’ pikiran pria tadi berpacu. Tadi bersinnya begitu manis sampai ia tak bisa berkata-kata, lalu tiba-tiba beberapa pria lain menyerbu dengan tisu sehingga ia tak sempat menyampaikan kalimat yang sudah disiapkannya. Dan sekarang, seorang anak laki-laki berambut merah yang luar biasa tampan muncul di hadapan mereka!

‘Aku harus bicara sekarang!’

Dengan tekad itu, pria tersebut buru-buru membuka mulutnya.

“P-permisi! Saya ingin memesan!”

“Iya, mau pesan apa?”

Berkedip pelan, Ban Yeo Ryung menundukkan kepala untuk mendengar pesanannya. Pria itu memanyunkan bibirnya, pipinya terasa panas membara.

‘Um… s-saya mau secangkir kopi panas… sepanass hati Anda…’

Begitu kata terakhir meluncur, udara di sekitar konter mendadak terasa dingin.

Mengangkat kepala, pria itu melihat tatapan Ban Yeo Ryung yang membeku—tatapan yang tak pantas dimiliki seorang pekerja paruh waktu di bidang pelayanan—serta wajah kebingungan anak laki-laki berambut merah yang kini sudah sangat dekat.

Tadi rambutnya menutupi wajahnya, tetapi sekarang dari jarak dekat ia bisa melihat betapa tampannya anak itu. Kulit putihnya yang serasi dengan rambut merahnya tampak halus seperti porselen; garis hidung dan rahangnya rapi seperti dipahat laser. Saat mata hijau keabu-abu itu menatap ke arahnya, pria tersebut tersentak.

Seharusnya ia marah melihat pria asing melontarkan kata-kata seperti itu pada gadis yang tampak begitu dekat dengannya. Namun anehnya, tak ada sedikit pun kemarahan di matanya.

Pria itu menoleh dengan bingung ketika suara lembut Ban Yeo Ryung membuyarkan pikirannya.

“Tuan?”

“Oh, iya!”

Ia segera menoleh kembali. Saat mata mereka bertemu, Ban Yeo Ryung tersenyum cerah seperti dewi.

‘Ya Tuhan, apa dia tersentuh??’

Harapan kecil menyala di hatinya—namun Ban Yeo Ryung melanjutkan dengan suara sedingin es.

“Saya buatkan Iced Americano saja.”

“…Um, iya.”

Barulah pria itu mengerti arti tatapan anak laki-laki berambut merah tadi—rasa simpati.

Ban Yeo Ryung benar-benar menjatuhkannya tanpa bantuan siapa pun. Saat ia berjalan menjauh dengan langkah goyah, Ban Yeo Ryung tersenyum tipis dan mendongak pada Kwon Eun Hyung yang sudah berdiri di hadapannya.

“Kamu juga mau Iced Americano?” tanyanya dengan senyum.

Kwon Eun Hyung mengangkat sudut bibirnya sedikit, membentuk senyum santai.

“Sedings hati kamu?”

“Tidak, hatiku hangat untuk kalian.”

Mereka terkikik bersama. Ia menyerahkan menu dan menyarankan minuman, lalu bertanya dengan mata membulat.

“Tapi kenapa kamu sudah di sini? Bukankah kamu juga harus bersiap untuk acara itu?”

“Aku hanya menumpang hidup pada keluarga mereka,” jawab Kwon Eun Hyung santai.

Ia menggulung lengan bajunya seolah merasa panas. Ban Yeo Ryung terdiam. Ia sempat melirik ke arah lain, lalu mengangguk ragu saat Eun Hyung menatapnya dengan heran, sebelum menundukkan pandangan dengan canggung.

Kwon Eun Hyung mengira ia kurang menjelaskan. Memiringkan kepala, ia melanjutkan pelan.

“Bintang pestanya itu Yoo Chun Young, Gun hyeong, dan Shin hyeong. Tak ada yang berharap aku datang.”

“Hah?”

Ia mengangkat tangannya yang tergulung untuk menyibakkan rambut.

“Aku ke sana hanya karena kalau tidak, orang tua Chun Young akan merasa tak enak kalau aku sendirian di rumah. Lagipula, aku tak bisa meninggalkan Chun Young sendirian…”

‘Padahal dia bukan anak kecil yang ditinggal di tepi pantai.’

Setelah berkata sejauh itu, Kwon Eun Hyung menatap Ban Yeo Ryung yang diam sejak tadi dengan senyum. Ia menundukkan kepala sedikit agar sejajar dengannya.

“Yeo Ryung?”

Dengan suara manis ia memanggilnya. Ban Yeo Ryung mengangkat kepala dan bertanya,

“Kamu mau minum apa?”

Suaranya terdengar agak kesal.

‘Kenapa? Yeo Ryung tidak pernah memasang wajah seperti itu sembarangan,’ pikirnya. Berkedip kaget, ia menjawab jujur.

“Um… panas, jadi Iced Americano saja seperti saranmu.”

Ia hanya menjawab singkat, “Iya,” lalu berbalik—terlihat aneh. Ia sempat ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya memutar tubuhnya pelan.

Tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam punggungnya.

“Aduh.”

Ia tersentak dan menoleh dengan mata membesar. Ban Yeo Ryung sudah berdiri di depannya.

Ia hendak bertanya, “Ada apa?” tetapi menahan napas saat melihat matanya yang memerah dan basah.

Dengan bibir terkatup sebentar, Ban Yeo Ryung akhirnya berbicara.

“Kamu.”

Terlepas dari wajahnya yang berlinang atau sikapnya yang ragu, suaranya tegas. Kwon Eun Hyung membuka mata lebar, lalu mengangguk pelan.

Tangannya terangkat dan memukul lengannya lagi.

“Kamu jahat.”

“Kenapa?”

Kali ini ia tak bisa menahan diri untuk bertanya.

“Jangan pernah bicara seperti itu.”

Ia mengangkat kepala cepat. Matanya penuh air mata, tetapi tatapannya tajam dan membara. Tatapan itu membuat Kwon Eun Hyung merasa seolah tertembus dari ujung kepala hingga kaki.

Suaranya berlanjut.

“Tak ada yang berharap kamu datang? Siapa? Siapa yang begitu?”

“Yeo Ryung, itu—”

“Apakah kami bukan siapa-siapa? Hah? Kami bukan siapa-siapa?”

Kwon Eun Hyung menahan napas. Saat ia menghembuskannya, sesuatu yang hangat menggelembung dari dalam dada dan tersangkut di tenggorokan.

Leher hingga wajahnya terasa panas. Udara seperti menipis. Dengan napas perlahan, ia menatap mata Ban Yeo Ryung yang basah. Ia berkedip, lalu kembali memukul lengannya.

“Itu jahat.”

“Iya.”

Dengan suara tertahan, ia berkata lagi,

“Aku jahat.”

“Iya.”

“Maaf.”

Barulah ia memalingkan pandangan. Kwon Eun Hyung menatap mata hitamnya yang berkilau, perlahan mengering dan dipenuhi cahaya, dengan kagum.

Ia lalu tersenyum.

“Ayo bersenang-senang.”

Kwon Eun Hyung tak bisa menahan senyum cerahnya. Ia mengangguk. Ban Yeo Ryung pun kembali ceria, seolah melupakan kesedihannya tadi. Tiba-tiba ia membelalak dan berseru, “Oh!” membuatnya terkejut.

“Kamu lupa sesuatu? Perlu kubantu?”

Ia menggeleng cepat.

“Bukan itu!”

“Baiklah.”

“Bagaimana kalau Dan Yi datang ke sini dan bicara seperti pria tadi?! ‘Saya mau secangkir kopi panas seperti hatimu,’ begitu?”

“…”

Eun Hyung tersenyum bingung.

‘Dia bercanda?’ pikirnya, tetapi wajahnya sama sekali tak menunjukkan tanda main-main.

‘Berarti dia serius…’

Ia berusaha menahan tawa.

Ban Yeo Ryung yang sempurna ini memiliki dua kelemahan besar. Pertama, ia tak paham soal cinta. Kedua, jika menyangkut sahabat masa kecilnya, ia tak bisa berpikir secara umum.

Saat ia hendak berkata, “Tenanglah, Yeo Ryung,” sambil menggeleng, Ban Yeo Ryung tiba-tiba mengepalkan tangan dan melangkah gagah kembali ke konter. Eun Hyung hanya bisa berkedip bingung.

Memang tugasnya kembali bekerja, tetapi caranya berjalan terasa aneh.

Lalu suaranya terdengar, membuat Eun Hyung tersenyum sambil menyentuh dahinya.

“Ayo kita berlatih membuat kopi paling panas di dunia.”

“Pfft.”

Akhirnya Kwon Eun Hyung tertawa pelan.

‘Siapa yang bisa menghentikannya?’

Chapter 222

Sambil menggeleng pelan dengan senyum tipis, Kwon Eun Hyung kembali mengangkat kepala untuk menatapnya.

Ban Yeo Ryung berjinjit menuju mesin kopi seperti balerina. Kuncir rendahnya bergoyang lembut di dekat lehernya. Menatap keseluruhan sosoknya, Kwon Eun Hyung tanpa sadar membuka mulut lagi. Itu benar-benar reaksi impulsif.

“Yeo Ryung.”

“Hah?”

Ban Yeo Ryung menoleh lagi ke arahnya. Dengan senyum ringan seperti biasanya, Kwon Eun Hyung melanjutkan.

“Kopinya…”

“Iya?”

“Bisa dibuat panas saja, bukan yang dingin?”

Mata Ban Yeo Ryung membesar, lalu kembali seperti semula. Memiringkan kepala dengan bingung, ia bertanya apakah tidak apa-apa minum panas di cuaca seperti ini. Kwon Eun Hyung mengangguk pelan. Ia memiringkan kepala lagi, tetapi akhirnya menerima pesanannya dan pergi. Barulah Kwon Eun Hyung menoleh untuk melihat meja-meja di sekitarnya.

Ia sebenarnya ingin duduk lebih dekat agar Ban Yeo Ryung merasa nyaman menghampirinya, sekaligus untuk mengusir para pria asing yang mungkin sulit ia tolak. Namun kursi-kursi dekat konter sudah penuh oleh para pria yang berusaha menarik perhatiannya.

Menghela napas, Kwon Eun Hyung melangkah pelan menuju meja kosong dekat pintu masuk. Ia mengangkat tangan dan menyentuh jakunnya.

Sepertinya masih ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya dan tak mau turun. Dengan mata tertunduk, ia bergumam.

“Kalau minum sesuatu, pasti akan hilang.”

Namun entah kenapa, ia merasa itu tak akan terjadi. Bukan firasat, melainkan keyakinan.

Menyandarkan tubuh dalam-dalam pada kursi rotan, Kwon Eun Hyung menatap meja cukup lama. Tiba-tiba cahaya lampu kristal mewah di pesta bertumpuk dalam pikirannya dengan pantulan matahari yang berkilau di serat kayu meja. Tak ada kesamaan selain sama-sama terang, tetapi bayangan itu tak mau hilang.

Ia mengangkat siku perlahan dan meletakkannya di meja, lalu menatap permukaan kosong itu.

“Tak ada siapa-siapa.”

‘Benar-benar,’ tambahnya lirih.

Tangannya menyapu permukaan kayu itu perlahan.

Ia teringat orang-orang yang tersenyum cerah padanya saat ia memasuki aula pesta.

“Kamu juga bagian dari keluarga mereka!”

“Chun Young terlihat makin tampan, mungkin karena bersama teman sebayanya?”

“Kamu harus tetap baik padanya.”

Orang-orang dewasa selalu bersikap ramah. Di depan keluarga Yoo, mereka tak pernah memperlakukannya buruk. Namun ketika Yoo Gun, Yoo Shin, atau Yoo Chun Young tidak ada, Kwon Eun Hyung selalu mendengar hal berbeda.

“Dia tidak malu sama sekali?”

“Hampir seperti gelandangan.”

Ia tak peduli lagi pada kata-kata seperti itu. Terlalu sering mendengarnya di rumah besar Yoo Chun Young sampai ia muak. Kalau berani, ia ingin tertawa keras.

‘Apa mereka benar-benar mengira bisa melukaiku dengan kata-kata itu? Aku cuma anak tak berdaya tanpa tempat pergi. Hanya karena mendengarnya, apa mereka berharap aku pergi dengan harga diri terluka?’ pikirnya.

Namun untuk melakukan itu, Kwon Eun Hyung sudah lama kehilangan harga diri dan tak punya apa-apa lagi. Alih-alih kata-kata itu, ia justru takut menjadi bukan siapa-siapa bagi Yoo Chun Young, atau diusir lalu kelaparan.

Tak ada satu pun di pesta itu yang benar-benar ramah padanya. Bahkan anak-anak seusianya lebih kejam daripada orang dewasa.

Di antara tiga bersaudara keluarga Yoo, andai Yoo Gun bukan sosok yang cukup perhatian, Kwon Eun Hyung mungkin sudah diseret anak-anak lain dan terlibat banyak masalah. Setiap kali itu terjadi, Yoo Chun Young selalu terlihat marah dan gusar, tetapi entah kenapa Kwon Eun Hyung sendiri tidak terlalu peduli.

‘Mungkin sejak saat itu aku sudah menyerah pada banyak hal,’ gumamnya.

Seseorang menyukainya… memiliki perasaan padanya… hal seperti itu sudah lama ia lepaskan. Namun ia harus tetap bersikap baik. Jika tidak, ibunya yang telah meninggal dan ayahnya—satu-satunya keluarga—bisa saja disalahkan. Karena cara pikir itulah ia selalu bersikap murah hati, hingga akhirnya menjadi ketua kelas setiap tahun dan dikenal sebagai sosok yang bisa diandalkan.

‘Lucu sekali,’ ia menyeringai kecil.

“Kamu dewasa sekali…”

Ia tak pernah merasa dihargai oleh kalimat itu. Baginya, itu terdengar seperti, “Kamu pandai menahan tangis.” Kadang malah seperti, “Bahkan ini pun tidak membuatmu menangis?”

Anehnya, kini ia justru terusik oleh satu kalimat—sesuatu yang begitu asing baginya hingga sulit diterima. Namun ia tidak merasa tersinggung oleh perasaan asing ini. Tanpa sadar, senyum tipis terukir di wajahnya.

“Iya… sekarang ada.”

Perasaan asing itu.

Ia menarik napas dalam dan berbisik pelan.

“Orang-orang yang menungguku sekarang.”

Setidaknya untuk hari ini, ada orang-orang yang menunggunya. Eun Jiho, Yoo Chun Young, Woo Jooin, Ham Dan Yi, dan… Ban Yeo Ryung.

Menyebut nama-nama itu satu per satu, senyumnya perlahan melebar.

Tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya.

“Oh.”

“Inilah kopi yang sehangat hatiku.”

Setelah sempat terkejut, Kwon Eun Hyung tertawa mendengar sindiran licik Ban Yeo Ryung. Melihatnya tertawa, Ban Yeo Ryung ikut terkikik. Lalu dengan sedikit malu ia bertanya,

“Kamu tidak bilang aku tidak punya hati, kan?”

Dengan senyum ringan, Kwon Eun Hyung menjawab,

“Kenapa? Hangat seperti yang kamu bilang.”

“Ih….”

Ban Yeo Ryung mengernyit.

“Melihatmu setelah Eun Jiho, aku jadi tidak terbiasa.”

Tatapan mereka kembali bertemu, dan keduanya tertawa lagi.

Beberapa saat kemudian, Kwon Eun Hyung menatap mata hitam Ban Yeo Ryung. Dengan senyum kecil, ia mengalihkan pandangan ke lantai. Entah kenapa kini terasa sulit menatap mata yang sebelumnya terasa biasa saja.

Ban Yeo Ryung pun pergi membawa nampan.

Menatap punggungnya, Kwon Eun Hyung mengangkat cangkir kopi itu. Tak sepanas dugaannya, tetapi cukup hangat untuk diminum. Ia sebenarnya tak terlalu suka kopi. Setelah meneguk sedikit, ia berbisik pelan,

“Hangat.”

Sekitar pukul enam sore, Ban Yeo Ryung dan Kwon Eun Hyung meninggalkan kafe. Matahari musim panas masih tinggi, pantulan cahaya dari aspal menyengat tubuh mereka. Mereka bergegas keluar.

Syukurlah, mobil hitam panjang yang dipesan Yoo Chun Young sudah terparkir di depan. Orang-orang yang lewat berbisik-bisik. Begitu pula paman Ban Yeo Ryung yang terkejut melihat kendaraan mewah itu.

Sambil mengerutkan kening, ia bergumam,

“Yeo Ryung, bukankah kamu bilang ini cuma pesta rumah teman?”

Ia bahkan ingin menambahkan, ‘Teman macam apa yang memanggil sedan untuk menjemput?’

Namun Ban Yeo Ryung dan Kwon Eun Hyung sudah buru-buru masuk dan menutup pintu. Jarak pendek dari pintu kafe ke mobil terasa sangat jauh. Begitu duduk, mereka sama-sama menghela napas lega.

Setelah sedikit tenang, Kwon Eun Hyung mulai menceritakan tentang Yoo Gun dan Yoo Shin. Ban Yeo Ryung tampak bingung, tetapi tak ada waktu menjelaskan panjang lebar. Ia menekankan betapa merepotkannya kedua bersaudara itu jika bertemu tanpa persiapan.

‘Lebih baik membuatnya sedikit siap daripada menjelaskan semuanya,’ pikirnya sambil menghela napas. ‘Lagipula, karena kami semua teman Yoo Chun Young, mereka tidak akan memperlakukan kami sekeras orang lain…’

Jika orang yang hanya mengenal Yoo Gun dan Yoo Shin sepintas mendengar kekhawatirannya, mungkin mereka akan menepuk punggungnya sambil berkata, “Apa maksudmu? Mereka orang hebat! Jangan pengecut!” lalu tertawa keras.

Namun Kwon Eun Hyung, yang menyaksikan pertumbuhan mereka dari dekat, tak bisa berpikir begitu.

Sejujurnya, rumah besar keluarga Yoo saat ini seperti kastil iblis baginya. Yah, tanpa Yoo Gun dan Yoo Shin, mungkin nilainya bisa sedikit lebih tinggi.

‘Astaga…’

Bersandar pada kursi, Kwon Eun Hyung menghela napas pelan. Terakhir kali ia bertemu kedua kakak beradik itu sudah beberapa tahun lalu. Ia pun tak bisa menahan rasa khawatir—seberapa banyak mereka telah berubah sekarang?

Chapter 223

Sementara Ban Yeo Ryung menatapnya, Kwon Eun Hyung membuka mulutnya.

“Yeo Ryung, meskipun mereka kakak-kakaknya Chun Young, jangan berharap suasananya akan sama. Mereka bukan orang ceroboh yang terus-terusan memasukkan garam alih-alih gula ke kopi seperti dia.”

“Mm-hm…”

Ban Yeo Ryung mengangguk. Suara Kwon Eun Hyung yang tenang seperti biasa kembali terdengar.

“Mereka juga tidak membenturkan kepala ke dinding sambil mengantuk di pagi hari.”

“Iya…”

Dengan mata menunduk, Ban Yeo Ryung bertanya, “Kalau soal salah ucap?”

Memutar bola matanya sebentar, Kwon Eun Hyung menjawab dengan nada tertata dan tenang.

“Kalau Shin hyeong, itu kadang terjadi. Tapi dia juga sangat cepat menanggapi situasi yang berubah dengan cepat. Jadi itu hanya terjadi dalam dua kondisi; saat dia benar-benar bingung, atau saat terseret kefasihan Gun hyeong yang luar biasa. Dia bukan pelaku kronis seperti Chun Young.”

“Hm…”

Wajah Ban Yeo Ryung kini benar-benar tertekuk. Dengan bibir mengerucut, ia berpikir, ‘Kalau mereka sama seperti Yoo Chun Young, aku tidak akan gugup di depan mereka. Hidup memang tidak mudah…’

Kwon Eun Hyung menatapnya yang tenggelam dalam pikiran, lalu tanpa sadar terkekeh kecil.

Ia melanjutkan, “Kedua kakak-beradik itu sangat berbeda, tapi kalau ada satu kesamaan, mereka benar-benar peduli pada Chun Young. Itu saja.”

“Eh? Jadi Yoo Chun Young itu adik bungsu kesayangan? Dia punya posisi seperti itu?”

“Iya, mengejutkan tapi benar,” jawab Kwon Eun Hyung dengan senyum tipis.

Yoo Chun Young memang tidak terlihat seperti adik bungsu yang dimanja. Justru dari aura blak-blakannya, orang akan mudah mengira dia yang tertua. Atau mungkin seseorang yang dibesarkan dengan disiplin ketat hingga jarang menunjukkan perasaan. Namun kenyataannya sama sekali berbeda.

Memikirkan itu, Kwon Eun Hyung tersenyum dan melanjutkan.

“Kedua orang itu sangat peka. Bahkan setengahnya bisa disalahkan pada mereka kenapa Chun Young jadi begitu pendiam dan tanpa ekspresi sekarang. Dia mendapatkan apa pun yang diinginkannya tanpa harus mengatakan apa-apa, jadi mungkin itu justru membebaninya.”

“Oh, begitu rupanya.”

Ban Yeo Ryung mengangguk pelan. Kwon Eun Hyung juga sedikit menunduk lalu mengangkat kepalanya kembali.

“Iya, jadi—”

Tiba-tiba Ban Yeo Ryung tertawa terbahak. Kwon Eun Hyung terkejut melihatnya mendadak seperti itu. Fakta bahwa Yoo Gun dan Yoo Shin sangat tajam membaca situasi adalah alasan ia menjelaskan semua ini. Orang yang ia khawatirkan bukan lain adalah Ham Dan Yi. Baru belakangan ini, hampir tiga tahun kemudian, Yoo Chun Young tampak menyadari perasaannya sendiri terhadapnya. Jangan sampai Yoo Gun dan Yoo Shin menyadari perasaan adik mereka pada saat bersamaan.

Lalu kenapa ia malah tertawa?

Saat Kwon Eun Hyung mengerucutkan bibir dengan bingung melihat Ban Yeo Ryung yang biasanya cerdas tertawa begitu saja, ia lebih dulu menoleh padanya dan berbicara. Matanya melengkung ceria.

“Yoo Chun Young bakal gawat kalau dia punya seseorang yang dia suka!”

Wajah Kwon Eun Hyung langsung memucat. Kalimat itu begitu tak terduga hingga ia bertanya ulang.

“Apa?”

“Maksudku, Yoo Chun Young itu beruntung tidak punya orang yang dia sukai atau pacar. Kalau para oppa itu tahu adik bungsu mereka punya seseorang, mereka pasti hampir menginterogasinya soal gadis itu. Kamu bilang mereka sangat peduli pada Yoo Chun Young.”

“Oh… iya.”

“Yoo Chun Young bukan pembohong yang baik, jadi kalau itu terjadi, mereka pasti langsung tahu.”

Kwon Eun Hyung tak bisa menahan diri untuk menjawab, “Iya, kamu tepat sekali, Yeo Ryung.”

“Hah?”

“Ah… tidak apa-apa.”

Cepat-cepat menyembunyikan wajahnya yang panik, Kwon Eun Hyung menunduk lalu menoleh ke luar jendela. Dengan mata membulat, Ban Yeo Ryung bertanya, “Kenapa? Ada apa?” tetapi ia tidak menjawab.

Selama mobil masih melaju menuju pesta, ia hanya mengangkat tangan dan menyentuh tengah dahinya dengan ujung jari. Sesekali ia bergumam pelan, “Astaga, Yeo Ryung, bagaimana mungkin kamu belum menyadarinya…” atau “Apa ini benar-benar akan baik-baik saja?”

Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mobil akhirnya melewati gerbang besi rumah besar itu. Pepohonan hijau yang berjajar rapat melintas cepat di luar jendela, dan pemandangan perlahan terbuka terang.

Dengan mata membulat, Ban Yeo Ryung menempelkan wajahnya ke kaca. Di dalam taman itu ada danau yang luar biasa besar. Sebuah perahu bercat putih mengapung di atas air luas tersebut.

“Ya Tuhan, ini benar-benar rumah Chun Young?” serunya nyaris berteriak.

“Iya. Ini pertama kalinya kamu ke sini?”

“Kamu tidak pernah bilang ada danau di dalam rumah! Ya ampun, ini apa yang sedang kulihat?!”

Sambil memerah, ia kembali menempelkan diri ke jendela. Kwon Eun Hyung menatapnya yang terpesona, lalu menggaruk belakang kepalanya.

‘Apa aku tidak pernah menceritakan soal danaunya?’ pikirnya. Ia sendiri tak begitu ingat. Mungkin memang belum pernah, karena ia tak punya kenangan bersamanya tentang itu. Sambil tersenyum, ia mulai menceritakan kejadian saat ia dan Yoo Chun Young naik perahu lalu panik karena dayungnya terjatuh ke danau. Begitu Ban Yeo Ryung tertawa terbahak, mobil pun berhenti dengan lembut.

Rumah besar yang berdiri di tengah lahan penuh pepohonan dan danau itu lebih menyerupai karya arsitektur daripada sekadar rumah. Bangunan modern itu memiliki garis-garis horizontal putih, cokelat, dan taupe yang saling berpotongan acak seperti karya geometri. Bahkan jendelanya tersamarkan di antara garis-garis tersebut, membuat keseluruhan bangunan tak tampak seperti tempat tinggal. Pintu di sudutnya pun begitu.

Saat Ban Yeo Ryung terpaku kagum, Kwon Eun Hyung berdiri di belakangnya dan menarik lengannya pelan. Ia berdiri di depan pintu lalu menekan interkom.

Orang di seberang tidak bertanya siapa. Hanya terdengar seruan singkat, “Oh,” lalu pintu terbuka.

“Hai.”

Suara datar itu melayang di udara senja yang kemerahan. Dengan tangan di gagang pintu, Yoo Chun Young sedikit mengangguk pada mereka.

Yoo Chun Young berdiri di bawah lampu gantung kecil, mengenakan kemeja lengan pendek yang digulung rapi dengan kancing di atas dan celana bahan berpotongan ramping. Setelah mempersilakan mereka masuk, ia tiba-tiba berbalik dan bertanya pada Ban Yeo Ryung.

“Bagaimana?”

Ia menjatuhkan kalimat yang seperti biasa terasa kurang lengkap. Memiringkan kepala, Ban Yeo Ryung bertanya,

“Maksudmu?”

“Eun Hyung pergi menjemputmu.”

Barulah ia tersenyum pelan. Mungkin yang ia maksud adalah bagaimana perasaannya saat Kwon Eun Hyung datang ke kafe tempatnya bekerja dan apakah ia terbantu. Ia dulu penasaran dari mana gaya bicara yang banyak menghilangkan bagian itu berasal, dan kini ia tahu—itu karena memiliki kakak-kakak yang terlalu cepat menangkap maksud. Ban Yeo Ryung merasa ingin lebih berusaha memahami dirinya.

Menatap mata birunya, ia menjawab dengan senyum.

“Menyenangkan.”

“Syukurlah.”

Yoo Chun Young lalu menoleh pada Kwon Eun Hyung.

“Apa yang kamu minum?”

“Aku disuguhi Americano. Yang panas.”

Ekspresi Yoo Chun Young sedikit berubah aneh. Ban Yeo Ryung, yang entah kenapa tiba-tiba tersinggung, langsung berseru,

“Bukan seperti yang kamu pikirkan! Yoo Chun Young, beraninya kamu.”

Yoo Chun Young terdiam sejenak, mengerutkan alis hitamnya, lalu menjawab perlahan,

“Kamu seharusnya melakukan hal seperti itu hanya pada Eun Jiho…”

Keheningan berat menggantung di antara mereka bertiga. Lalu Ban Yeo Ryung dan Kwon Eun Hyung saling berpandangan dan meledak tertawa. Ban Yeo Ryung memukul punggung Yoo Chun Young sambil terkikik.

“Bahaha! Yoo Chun Young, kamu nakal sekali pada Eun Jiho!”

“Chun Young, terima kasih sudah peduli padaku, tapi kamu tidak perlu mengorbankan Eun Jiho untuknya.”

Bukan hanya Ban Yeo Ryung, Kwon Eun Hyung pun merangkul Yoo Chun Young, membuatnya makin mengernyit.


Saat matahari mulai tenggelam, seorang pria berdiri di ruangan gelap dengan tangan bertumpu pada ambang jendela. Di luar sana, matahari yang panas, langit setengah berwarna ungu, tembok tinggi, dan danau terlihat dalam pandangannya. Ia menatapnya tenang, lalu tiba-tiba menoleh saat merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.

Seorang pria bersetelan hitam berdiri di sana. Pria itu menatapnya dengan wajah datar.

Pria itu tampak sama sekali tidak menakutkan. Tingginya sekitar 180 cm, tidak bisa dibilang berpostur besar. Wajahnya yang tampan dan bersih jauh dari kesan kasar atau liar. Justru ia memiliki wajah seperti pria dalam iklan asuransi—ramah, dapat dipercaya, dan tak berbahaya. Setelan biru navy lembut yang dikenakannya semakin menonjolkan pesonanya.

Namun ketika ia merapikan rambut hitamnya yang tertata rapi dan melemparkan tatapan dingin serta hening pada pria bersetelan hitam itu, bahunya gemetar tegang.

Chapter 224

Seolah bahkan hanya mempertahankan kontak mata pun membuatnya takut, pria bersetelan hitam itu segera menundukkan kepala dan berbicara.

“Tuan Muda, Tuan Muda termuda telah kembali bersama teman-temannya.”

“Oh, ya? Temannya maksudmu Eun Hyung?”

“Ada satu orang lagi.”

Mata pria itu sedikit membesar. Sudut bibirnya terangkat tipis saat ia bersandar pada ambang jendela dan bertanya,

“Benarkah? Siapa?”

“Seorang gadis.”

Mata hitamnya menjadi semakin tajam.

Saat ia sedikit membungkukkan tubuh ke depan, dasi ungunya berayun lembut dan memerah tertimpa cahaya senja. Dengan suara semanis mungkin, ia mendesak pria itu untuk melanjutkan.

“Namanya siapa?”

Namun kilat di matanya segera memudar begitu mendengar jawabannya.

“Dari percakapan mereka, namanya disebut Ban Yeo Ryung.”

“Oh…”

“Anda ingin turun menyambut mereka?”

“Aku sudah terlalu banyak bergerak. Katakan saja nanti aku akan ke sana.”

Ia tidak memegang apa pun selain ponsel di tangannya, tetapi pria bersetelan hitam itu memahami maksudnya.

Begitu ia mengucapkan sesuatu, kata-kata itu harus disampaikan—entah benar atau tidak.

Menunduk sekali lagi, pria bersetelan hitam itu berjalan keluar tanpa suara seperti bayangan. Setelah ruangan kembali sepi, pria itu berbalik menatap ke luar jendela. Separuh matahari telah ditelan bayangan kota.

Cakrawala yang kulihat di Amerika jauh lebih luas dan terbuka…

Menyipitkan mata sejenak, ia bergumam pelan.

“Aku tidak butuh informasi tambahan tentang Ban Yeo Ryung.”

Ban Yeo Ryung. Meski keluarganya tergolong kelas menengah, para kerabatnya berbeda. Profesi mereka beragam—direktur kreatif sebuah merek ternama, peneliti yang sedang naik daun, dokter, hingga hakim—semuanya memegang posisi kokoh dalam pengakuan masyarakat.

Terlepas dari latar belakang itu, nilai kecantikan Ban Yeo Ryung sendiri bagaikan permata tak ternilai; mengumpulkan informasinya bukanlah hal sulit.

Namun ada satu hal yang belum terpecahkan. Ia mengulurkan tangan dan mengetuk ambang jendela perlahan dengan ujung jari, seolah memainkan piano.

“Ham Dan Yi,” gumamnya.

Siapa sebenarnya dia?

Saat ia berada di luar negeri, gadis itu tiba-tiba muncul dan menarik perhatian adik bungsunya. Selain fakta bahwa ia sahabat Ban Yeo Ryung, ia tak melihat hubungan apa pun antara gadis itu dan adiknya.

Kecemasan perlahan mengalir melalui ujung jarinya yang terus mengetuk jendela. Ia sudah lama membenci meninggalkan kemungkinan yang tak pasti. Meski tahu tak ada yang seratus persen di dunia ini, ia tetap tak bisa berhenti berpikir seperti itu. Karena itu ia berusaha mengumpulkan semua informasi tentang gadis itu seperti mengais sisa-sisa, tetapi berbeda dengan Ban Yeo Ryung, tak ada satu pun informasi yang terkumpul. Benar-benar tidak ada.

Ia mengulang nama “Ham Dan Yi” dengan suara rendah. Saat matahari benar-benar tenggelam, ruangan menjadi gelap, dan sebuah suara tajam memecah kesunyian dingin.

Ia perlahan menoleh.

“Itulah kenapa aku tak bisa menganggapmu normal, dasar nervous freak.”

“Yoo Shin.”

Berkedip perlahan, pria itu menyeringai tipis sebagai balasan. Terdengar tawa kecil dari arah pintu, lalu dengan bunyi klik, seluruh ruangan menjadi terang.

Pria yang bersandar di pintu itu berambut pirang keemasan, sangat bertolak belakang dengan rambut hitam navy yang rapi milik pria di dekat jendela.

Mata hitamnya dipenuhi kelicikan; auranya penuh semangat meski satu tangan bertumpu di dinding dan satu lagi di saku. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, keduanya benar-benar berbeda.

Namun semua orang di rumah besar ini tahu tanpa ragu bahwa mereka bersaudara. Yoo Gun adalah putra pertama Ketua Balhae Group yang terkemuka, dan Yoo Shin putra kedua.

Berbeda dengan Yoo Gun, Yoo Shin—si pirang emas yang terkekeh itu—berpakaian lebih santai.

Yoo Gun menatap Yoo Shin dengan wajah datar sejenak, lalu tiba-tiba tersenyum ramah.

“Sepertinya kamu lupa bahasa Korea setelah lama di luar negeri. Tidak ada istilah nervous freak kecuali kamu maksud obsesi atau gangguan kecemasan.”

Yoo Shin menyeringai sinis.

“Ha, tentu saja aku tahu. Aku cuma bikin istilah baru karena ‘gangguan kecemasan’ tidak cukup buatmu.”

Ucapan itu pun tak mampu merusak senyum Yoo Gun. Ia menatap Yoo Shin dan membalas dengan suara manis sehangat matahari musim semi.

“Oh begitu. Jadi satu-satunya bahasa Korea yang kamu ingat cuma kata-kata makian? Dengan otak tebalmu itu.”

Maksudnya jelas tidak menyenangkan. Yoo Shin berhenti tertawa dan menggertakkan gigi.

“Sama saja denganmu, hyeong. Kamu juga belajar di luar negeri tapi temperamenmu tidak berubah, kan? Memang itu tidak gampang berubah hanya dengan meninggalkan negara ini.”

“Mungkin kamu lupa, tapi kamu yang memulai.”

‘Siapa suruh kamu memprovokasiku?’ pikir Yoo Gun sambil tersenyum lebar. Yoo Shin mendecak dan menunduk.

“Karena kamu melakukan omong kosong nervous freak itu lagi,” katanya tiba-tiba.

“Maaf?”

Saat Yoo Gun memiringkan kepala tanpa ekspresi, Yoo Shin berteriak dengan gigi terkatup.

“Kau bercanda? Pemeriksaan latar belakang!”

“Hm…”

Yoo Gun tetap memiringkan kepala dan tidak menjawab jelas. Yoo Shin terengah marah lalu kembali menggigit bibirnya.

“Kamu sadar tidak? Kamu benar-benar paranoid.”

“Gangguan kecemasan, obsesi, sekarang paranoia… cara yang bagus menyambut kakakmu setelah pulang, ya?”

“Apa yang membuatmu segugup itu? Seolah meninggalkan satu hal tak pasti akan membawa bencana, kamu terus mengumpulkan data…”

Memotong ucapannya, Yoo Gun tersenyum tipis.

“Jadi aku harus hidup liar sepertimu?”

“Sialan!! Lalu menurutmu wajar memeriksa latar belakang setiap kali adik kita berteman dengan orang baru?!”

“Itulah caraku peduli pada adikku,” jawab Yoo Gun tanpa ragu.

“Peduli, katamu? Dasar nervous freak aneh.”

Sambil berkata begitu, Yoo Shin mengacungkan jari tengah. Yoo Gun sedikit mengernyit, tetapi segera kembali tenang.

“Aku hanya berpikir lebih baik menghapus faktor yang tidak stabil.”

“Lalu apa? Kalau gadis bernama ‘Ham Dan Yi’ itu tidak memenuhi kriteria kebutuhanmu atau masuk kategori FAKTOR TIDAK STABIL, apa yang akan kamu lakukan?”

Alih-alih menjawab, Yoo Gun melangkah mendekat. Wajah Yoo Shin sempat memucat, tetapi kembali normal saat Yoo Gun hanya melewatinya.

Dengan bingung, Yoo Shin meraih lengan kakaknya.

“Kau mau ke mana?!”

“Aku sudah mengatakan yang perlu kukatakan.”

Suaranya dingin. Yoo Gun tak lagi tersenyum, hanya menatap Yoo Shin dengan tatapan beku, meski sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Aku ingin berbicara dengan adikku yang sudah lama tak kutemui… tapi yang kau cari hanya melolong seperti binatang liar. Tidak ada lagi yang bisa kukatakan.”

“Hei…!!!!”

Sebelum Yoo Shin sempat melanjutkan, pintu tertutup keras di depan wajahnya. Ia hampir membenturkan dahi. Mundur dengan kesal, ia menatap pintu itu lama lalu bergumam dengan gigi terkatup.

“Itulah kenapa bajingan pintar gila sepertimu bikin merinding…”

Dalam dua puluh tiga tahun hidupnya, Yoo Shin belajar bahwa satu-satunya istilah yang tepat untuk Yoo Gun adalah “bajingan pintar gila.” Ia setidaknya mencoba menghentikannya, tetapi begitu Yoo Gun memutuskan sesuatu, tak ada yang bisa menghentikannya.

Yoo Shin juga penasaran pada gadis itu. Siapa sebenarnya Ham Dan Yi hingga Yoo Chun Young yang begitu fasih berbicara menunjukkan ekspresi misterius hanya padanya? Bagaimana bisa ia membuat wajah seperti seseorang yang sedang menghadapi misteri terbesar di dunia?

Namun ia sama sekali tak ingin mengetahui jawabannya melalui ujian Yoo Gun—cara terburuk yang mungkin ada.

‘Semoga tidak terjadi apa-apa…’

Yoo Shin sungguh berharap pesta hari ini tidak menjadi pesta terburuk bagi gadis itu.

Chapter 225

Pasal 20. Bagaimana Ahli Waris Chaebol Bisa Begitu Biasa? (Bagian 2)

Penthouse Hotel Juno, hotel bintang lima milik konglomerat terbesar negeri ini, Hanwool Group, dipenuhi orang-orang yang mengenakan setelan musim panas berwarna-warni.

Sejak pagi, para reporter sudah berkemah sedikit jauh dari hotel, memotret para tokoh terkenal yang datang. Beberapa pejalan kaki bahkan berhenti menyaksikan parade kendaraan mewah, mengeluarkan seruan kagum dan takjub.

Perayaan Ulang Tahun ke-15 Hanwool Group. Frasa singkat itu membawa makna besar di hati banyak orang.

Dibandingkan konglomerat lain, sejarah Hanwool Group tergolong sangat singkat. Dalam satu generasi saja, perusahaan yang bermula dari usaha sederhana itu berhasil merambah sektor teknologi mutakhir. Mitos perusahaan multi-industri ini masih terus berlanjut sejak hari pendiriannya.

Saat setiap tamu undangan berhenti sejenak dan tenggelam dalam pikiran sebelum melangkah melewati pintu masuk, ada sekelompok orang yang tampak sama sekali tak terhubung dengan momen penuh makna itu.

Mereka tak lain adalah para penerus konglomerat generasi kedua dan ketiga. Bagi mereka yang sejak kecil tumbuh menikmati hasil jerih payah orang tua, tak ada bedanya apakah upacara ini menandai ulang tahun ke-15 atau ke-100 perusahaan. Yang penting hanyalah kekayaan orang tua mereka—mata air tak berujung—sehingga setidaknya dalam generasi mereka, tak perlu khawatir kehabisan uang. Itu saja.

Topik yang mereka bahas sejak tadi sambil duduk di sudut aula jamuan sebagian besar berkisar pada kehidupan sekolah, hobi, dan selebritas yang baru mereka temui. Percakapan mereka hanya menyentuh permukaan: di mana menghabiskan musim panas, olahraga air apa yang sedang tren. Lalu topik beralih pada orang-orang, para tamu kehormatan pesta ini. Seakan membuktikan bahwa tokoh utama memang selalu muncul belakangan, mereka masih belum terlihat.

“Aktris Lee Nara datang hari ini.”

“Iya, aku juga dengar. Astaga, dia cantik sekali di drama Blue Flame.”

“Dia tidak berencana main film?”

“Sutradara yang didanai ayahku sedang mempertimbangkannya untuk filmnya. Katanya naskahnya sudah dikirim.”

Cerita-cerita yang bahkan bisa menggerakkan harga saham esok pagi itu mengalir tanpa ragu. Lee Nara saat ini adalah aktris papan atas di Korea.

Seseorang lalu berkata, “Sepupunya Lee Nara juga datang.”

“Oh, aku tahu siapa dia. Katanya mereka mirip.”

“Yang namanya Woo Jooin itu?”

“Oh, dia dekat denganku.”

Menjadi sepupu selebritas memang peluang besar untuk menjadi bahan pembicaraan, tetapi Woo Jooin memang memiliki reputasi baik. Mereka yang mengenalnya mulai memuji senyum manisnya yang imut dan betapa ramah serta mudah bergaulnya ia.

Selain itu, jika ia mewarisi penampilan Lee Nara, pasti ia termasuk tipe pria tampan yang sedang tren. Beberapa gadis pun tersipu. Salah satu dari mereka tiba-tiba berteriak sambil bertepuk tangan.

“Oh ya, baru ingat! Kalian tahu tidak hari ini––”

Seolah membagikan rahasia, suaranya merendah, membuat yang lain tanpa sadar mendekatkan kepala. Lalu ia berteriak,

“–– Woo Rihon juga datang!”

Hening sesaat menyelimuti mereka. Tak lama kemudian, baik pria maupun wanita sama-sama terkejut. Para gadislah yang lebih dulu berseru.

“Yang benar saja! Woo Rihon… maksudmu dari grup Daydream?”

Daydream, grup idol Korea yang debut lima tahun lalu, kini menjadi boyband terbesar di dunia. Woo Rihon adalah leader sekaligus fashionista kelas dunia dengan konsep aneh dan misteriusnya yang kuat; ia jarang tampil di publik. Antara tak percaya dan penasaran, kegembiraan bercampur keraguan.

“Kenapa?” tanya seseorang.

“Iya, untuk apa? Dia punya saudara atau kerabat di sini?”

“Mana aku tahu?”

Tak seorang pun langsung mengaitkan bahwa Woo Jooin—yang sering menghadiri pesta sebagai sepupu Lee Nara—bernama belakang ‘Woo’.

Terlepas dari tatapan heran yang saling bertukar, para penggemar Woo Rihon sibuk menenangkan napas dengan tangan di dada.

Topik berikutnya beralih pada keluarga Eun dari Hanwool: Ketua Eun Han Soo, istrinya Park Na Kyung, dan satu-satunya pewaris, Eun Jiho.

Tak banyak yang bisa dibahas karena kehadiran mereka sudah sewajarnya, dan berbeda dari yang lain, Eun Jiho cukup sering terlihat di acara semacam ini. Secara formalitas, mereka hanya berkomentar ringan seperti, “Dia makin tampan,” dengan nada datar. Percakapan pun bergeser ke isu utama.

“Kakak beradik Yoo Gun dan Yoo Shin sudah kembali ke Korea!”

Begitu seseorang mengangkat topik itu, keheningan kembali menyelimuti mereka. Wajah sebagian besar menunjukkan rasa ingin tahu.

Kedua bersaudara Yoo memiliki aura yang tak bisa dijelaskan hanya dengan penyatuan dua keluarga bersejarah melalui pernikahan. Bukan sekadar karena mereka lahir di keluarga chaebol, tetapi karena keberadaan mereka sendiri—pesona kuat namun memikat—menarik perhatian siapa pun.

Sudah enam tahun sejak Yoo Gun dan Yoo Shin pergi belajar ke luar negeri, dan terakhir kali mereka pulang adalah tiga tahun lalu. Itulah informasi yang mereka miliki; sebagian besar tak benar-benar mengenal mereka.

Hanya segelintir yang pernah berhubungan dengan mereka yang berubah ekspresi. Mereka yang pernah satu kelas manajemen bisnis dengan Yoo Gun langsung memucat.

“Dia mengerikan…”

Seseorang bergumam pelan, yang lain mengangguk setuju.

Baik dalam simulasi perdagangan saham virtual maupun permainan manajemen bisnis zero-sum, Yoo Gun selalu berpegang pada cara bermain yang terlalu jujur dan hanya mengejar stabilitas. Yang lain hanya menertawakan gayanya.

Bagaimana reaksinya saat itu? Ia hanya tersenyum tipis dengan wajah tampan yang menyerupai kedua orang tuanya.

“Benar, aku memang tidak cukup berani untuk santai.”

Andai ia membanggakan strateginya, mungkin orang akan mengaguminya.

‘Tentu saja dia Yoo Gun yang terhormat itu. Mana mungkin tak punya rencana cadangan?’

Namun karena ia menjawab dengan sopan seperti itu, mereka justru mencemoohnya.

“Katanya jenius? Mana para elite itu?”

“Memang selalu ada tipe begitu. Begitu dewasa, semua masa kejayaan dulu menghilang.”

Dan ucapan mereka berbalik menjadi bencana. Yoo Gun menang telak atas semuanya. Seberapa pun mereka mencoba menelusuri ulang permainan dengan bingung, hasilnya tetap sama. Ketika profesor memanggilnya untuk dipuji, ia tetap menjawab dengan sopan.

“Aku hanya beruntung.”

Barulah mereka sadar ia menyamarkan kemampuan luar biasa dengan kesopanan yang tak bercela.

Mereka tak bisa menyalahkannya karena menyembunyikan kemampuan itu; merekalah yang lebih dulu meremehkannya. Seiring berjalannya kuliah, mereka pun menyadari: menjadi sekutunya berarti sangat bisa diandalkan, tetapi menjadi musuhnya adalah hal yang menakutkan.

Beberapa yang mengingat itu gemetar.

Di tengah suasana itu, seseorang yang tak peka pada atmosfer bergumam keras,

“Beruntung sekali dia! Aku ingin hidup seperti Yoo Shin meski cuma sebulan.”

Ucapan itu membuat yang lain kembali memikirkan Yoo Shin. Seperti cahaya dan bayangan, Yoo Shin dan Yoo Gun adalah dua sisi berlawanan—orang-orang bahkan heran bagaimana mereka bisa bersaudara.

Jika Yoo Gun melambangkan keteraturan dan ketenangan, Yoo Shin adalah kebebasan; namun kilau bakat seninya mengalahkan segalanya.

Kehadirannya mampu mengubah acara yang sunyi menjadi festival kegilaan yang memikat. Meski ia muncul di berbagai pesta dengan rambut berwarna cerah terayun, orang-orang justru terpesona alih-alih merasa jengah.

Setelah menyebut nama kedua pewaris itu, tinggal satu yang tersisa.

Yoo Chun Young, penerus ketiga sekaligus putra bungsu Balhae Group.

Jika dipikir-pikir, mereka lebih sering melihatnya dibanding kedua kakaknya; namun justru dialah yang paling sulit didekati. Betapa terkejutnya mereka saat namanya muncul di daftar pencarian tren? Beberapa gadis sempat mencoba mendekatinya, tetapi Yoo Chun Young tak lagi muncul di pesta setelah kedua kakaknya pergi ke luar negeri.

Jadi, sudah berapa lama ketiga bersaudara Balhae Group menghadiri sebuah acara bersama?



 

Nunaaluuu Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review