11. Jamuan Para Ksatria Pahlawan

Koridor utama Istana Kekaisaran.

Di bawah mahakarya pelukis besar masa lampau, kilauan kristal lampu gantung berkelip. Sinar matahari menembus jendela tinggi yang menjulang hingga langit-langit, menebarkan pola kotak-kotak di atas permadani.

Seperti biasa, para bangsawan istana berkelompok kecil, berbisik-bisik di sana.

“Sudah dengar, kan?”

“Katanya akan ada pertandingan dalam jamuan!”

“Yang Mulia Ibu Suri sedang memikirkan apa, sebenarnya?”

“Bagaimanapun juga, setidaknya kini Baginda Kaisar bisa tidur nyenyak!”

Suara bisik-bisik itu terdengar sampai ke ruang balkon di seberang.

Di sana, Iskandar sedang menerima laporan dari Kepala Kepolisian Ibu Kota. Wajahnya berkerut tanpa sadar.

Aku sudah bisa tidur nyenyak dari dulu.

Bangsawan istana selalu salah kaprah menebak inti masalah—itu sudah biasa.

Memang benar, lahan di tengah Taman Agung harus segera direbut kembali.

Tapi tugas yang ada di depan mata sekarang apa? Bukankah jamuan ksatria pahlawan? Ini acara penting yang mempertaruhkan martabat istana.

Seperti kata Ibu Suri, urusan publik dan urusan pribadi adalah hal yang terpisah.

Kaisarmu ini, boleh jadi dalam hal pribadi kurang sempurna, tapi dalam urusan publik ia selalu menimbang secara objektif.

Daripada segelintir koki istana yang mabuk akan hak istimewa dan sibuk menjatuhkan orang lain, jauh lebih menjanjikan si gadis desa yang sejauh ini selalu menuntaskan semua tugas dengan baik. Sudah sewajarnya bertaruh pada pihak itu.

Itulah pendirian dasarnya.

Masalahnya…

Dengan berbagai alasan, ia tak bisa mengatakannya terang-terangan.

Dan selama ia diam, kesalahpahaman itu mengeras, menjadi batu yang kini mustahil untuk dipecahkan.

Baiklah, kalau begitu—manfaatkan saja!

Iskandar memutuskan dalam hati.

“……Ternyata mereka sisa-sisa sindikat kriminal yang kita habisi di Barat tahun lalu. Rupanya, setelah kehilangan tempat, mereka nekat bersembunyi di ibu kota! Syukurlah Baginda menemukannya lebih awal. Kali ini kami pastikan mereka benar-benar musnah. Operasi penyisiran sedang kami jalankan dengan kekuatan penuh.”

Kepala Kepolisian menuntaskan laporannya.

“Namun, ada satu hal aneh. Saat menelusuri jejak mereka, tampaknya ada kaitan dengan sebuah perusahaan dagang. Ada indikasi mereka disewa lewat jalur itu.”

“Perusahaan dagang mana?”

“Perusahaan Dagang Abbas Mamon.”

“Hmm… mencurigakan. Untuk apa menyewa sisa-sisa sindikat kriminal? Bisa jadi ada dalang di baliknya. Selidiki lebih jauh.”

“Baik, Baginda.”

Iskandar memuji kerja keras bawahannya lalu mempersilahkannya mundur. Ia pun keluar dari ruang balkon menuju koridor.

“……Mungkin saja Yang Mulia Ibu Suri sebenarnya dengan cara yang amat lihai sedang menyelesaikan sakit kepala putranya.”

“Benar juga. Bahkan ada desas-desus sejak awal kedekatannya dengan gadis itu sudah termasuk bagian dari rencana….”

Saat itu, Iskandar muncul.

Para bangsawan yang tadinya asyik bergunjing sontak terperanjat.

“Baginda!”

Mereka buru-buru menyingkir ke sisi koridor, menunduk hormat.

Iskandar menatap mereka dengan wajah masam.

“Rencana, katanya? Apa rencana! Ibu Suri jelas-jelas sudah separuh condong pada kubu pro-pertanian! Kalau tidak, mana mungkin sampai seperti ini! Bisa ditebak hasilnya! Para ksatria pahlawan pun, seperti semua orang sebelumnya, akan terpesona oleh masakan desa yang segar itu dan memberi dukungan kepadanya!”

Nada suaranya sarat keluhan.

Para bangsawan saling bertukar pandang.

Selama ini Baginda tak sekalipun mengucap kata, hanya menahan diri dan berpura-pura tak peduli pada gadis desa itu. Tapi akhirnya—meledak juga.

Mereka pun saling memberi isyarat lewat senyum tipis.

“Mohon tenang, Baginda. Hal semacam itu takkan pernah terjadi.”

“Dan bagaimana kalian bisa begitu yakin?”

Iskandar menatap tajam. Para bangsawan hanya tersenyum lebar menjawab:

“Hahaha, sudah lupa, Baginda? Semua ksatria pahlawan itu, saat pertama kali datang ke ibu kota, membawa surat pengantar sederhana dari keluarga bangsawan daerah. Artinya, mereka semua berasal dari desa.”

“Makanan desa itu? Mereka sudah kenyang, Baginda. Tidak ada ‘daya magis’ yang bisa bekerja kali ini.”

“Betul sekali. Ksatria sejati seperti apa? Mereka orang yang menenggak arak bagai menelan air, merobek daging sepotong utuh. Seekor kalkun per kepala—itu baru permulaan. Saat membunuh monster, mereka berbagi harta rampasan lalu berpesta tiga malam empat hari bersama warga desa. Itulah ksatria pahlawan!”

“Lihat saja jamuan terakhir. Semua jenis hidangan lezat kita siapkan, sungguh dengan segenap hati. Namun, hasilnya? Mereka hampir tak menyentuh sayuran dan hidangan ringan. Tak menarik bagi mereka.”

“Tiga puluh tahun hidup di jalan ziarah! Nama ksatria pahlawan harum di seluruh negeri, semua berlomba menjamu dengan penuh hormat. Di segala penjuru, mereka sudah mencicipi segala macam hidangan mewah. Apa lagi yang bisa membuat mereka terkesan? Maka, satu-satunya harapan hanya satu orang: Maestro Henkel.”

“Masakan Maestro Henkel sudah mencapai puncak yang tak tertandingi. Ia dewa kuliner. Jamuan sebelumnya ia hanya mundur selangkah memberi panggung bagi murid-murid, tapi kali ini ia sendiri akan turun tangan.”

“Tak sabar menantikan itu. Puluhan tahun pengalaman dan seni masaknya akan mekar sepenuhnya. Sebuah pesta gastronomi tiada banding.”

“Gadis desa itu, sekalipun punya sedikit bakat, kali ini takkan punya peluang. Sebaiknya menyerah saja sebelum dipermalukan di depan seluruh istana!”

Suara-suara keyakinan dan tawa riuh terdengar.

Iskandar, pura-pura mendengarkan setengah hati, sebenarnya mencatat semua dalam benak.

Kali ini—benar-benar bukan perkara mudah.

Namun, ia harus berhasil.

Sebab, ia punya alasan yang tak bisa diganggu gugat.

***

Terik Matahari

Matahari musim panas terik menyinari bumi.

Dinding bata rumah petani kering retak-retak seakan dipanggang. Bunga liar yang tumbuh di celah pagar pun tak bergerak, seolah tercekik oleh panas.

Begitu masuk ke dalam rumah barulah napas sedikit lega. Untungnya pintu depan dan belakang dibuka lebar agar angin bisa mengalir masuk.

Di lantai rumah mungil itu terbentang alas dari potongan kain sisa yang dijahit rapi. Sumbu di setiap pelita sudah dipotong bersih—tanda bahwa pemilik rumah ini sangat rajin.

Ada satu hal lagi yang menarik perhatian: periuk sup.

Di dapur rumah petani, periuk sup biasanya selalu terpasang di perapian. Para pekerja bisa sewaktu-waktu datang dan langsung mengisi perut dengan semangkuk sup hangat.

Namun sekarang musim panas.

Periuk itu berisi sup tomat dingin, terbuat dari tomat yang jelek bentuknya tapi justru paling manis. Sup itu disiapkan penuh agar siapa pun tamu yang datang bisa minum sepuasnya.

Sementara itu, Hazel sedang berada di kebun herba.

Kebun herba musim panas begitu hidup dan subur.

Basil harum dengan banyak kegunaan, dill yang menyejukkan perut, mint segar yang cukup selembar daunnya saja membuat air terasa dingin dan menyegarkan, juga thyme yang cocok dipadukan dengan masakan panggang…

Hazel memetik satu per satu daun segar dan memasukkannya ke dalam keranjang.

Namun pikirannya sibuk berputar.

Apa yang sebenarnya dipikirkan Yang Mulia Ibu Suri?

Jamuan Ksatria Pahlawan.

Hanya mendengar kabarnya saja sudah cukup untuk tahu betapa besarnya acara itu.

Tapi kenapa seorang gadis desa seperti Hazel justru diminta menyiapkan hidangan untuk jamuan sebesar itu?

Itu adalah kesempatan.

Kalau ia ingin tetap berada di lingkungan istana, cepat atau lambat ia harus berhadapan terus dengan para koki istana.

Dan lewat pertandingan ini, Ibu Suri jelas ingin memberinya peluang. Kesempatan untuk membungkam keluhan mereka sekaligus mengamankan posisinya ke depan.

Namun, para koki istana sangat membencinya. Bila mereka menang, Hazel akan berada dalam posisi yang sangat berbahaya.

Maka, aku harus berhasil.

Matanya berkilat. Semangatnya membara.

Tangannya bergerak cepat, memetik herba dengan kecepatan kilat. Saat ia mengangkat kepala—

“……!”

Hazel terlonjak.

Seorang ksatria istana berselimut mantel hitam berdiri tepat di depannya.

“Sir Valentine! Kapan datang?”

“Baru saja.”

Ia menjawab singkat.

Sejak tadi, ia menyaksikan Hazel mengumpulkan dedaunan dengan mata yang berkilat, semangat menyala, bukannya takut atau gundah. Syukurlah, pikirnya.

Dan rupanya semangat itu tak kalah dengan miliknya sendiri.

“Aku dengar, Nona Mayfield akan berhadapan dengan koki istana di Jamuan Ksatria Pahlawan….”

Ia pun mengeluarkan setumpuk kertas tebal.

“Ini informasi. Pertama-tama, ‘siapa sebenarnya Ksatria Pahlawan itu?’”

“Aku pernah dengar sepintas. Mereka terkenal sekali.”

“Ksatria Pahlawan, sesuai namanya, adalah pahlawan rakyat. Tak tahan melihat ketidakadilan, selalu membela yang lemah—mereka adalah perwujudan sejati ksatria. Tapi karena itu pula, di masa Sang Kaisar Terdahulu, mereka sangat menderita. Bagi rakyat yang tertindas, mereka adalah harapan. Maka, bagi penguasa lalim, mereka adalah duri di mata.”

“Pasti diburu habis-habisan.”

“Benar. Sang Kaisar Terdahulu berusaha melenyapkan mereka. Namun, meski disiksa dan dianiaya, mereka tak pernah menyerah. Mereka menghindari tangan kekaisaran dan berkelana ke seluruh negeri, meninggalkan banyak legenda.”

“Tujuh orang, bukan?”

“Ya. Sir Kendrick, Sir Percy, Sir Edward, Sir Guilford, Sir Hannibal, Sir Wayne, dan Sir Bancroft.”

“Hebat, Anda hafal semua. Sepertinya sangat mengagumi mereka ya?”

“Bukan, itu… tidak juga.”

Hazel meliriknya sekilas.

“Kalau tak salah ingat, salah satu dari mereka berasal dari Selatan, bukan? Sir Guilford, mungkin?”

“Tidak! Sir Wayne-lah yang dari Selatan. Tepatnya dari daerah Sevira.”

“Oh, benar! Sir Wayne! Lahir dari keluarga baron, bukan?”

“Bukan! Ia putra kedua seorang kesatria bergelar. Sejak usia tiga tahun sudah memegang pedang, usia lima mengikuti perburuan pertama, buruannya burung puyuh dua ekor dan seekor kelinci gunung. Di usia enam, ia mulai belajar resmi pada pendekar pedang bernama Alessandro, lalu—”

Hazel melongo. Sir Valentine meluncurkan riwayat hidup Sir Wayne seakan-akan membaca kitab.

Ketahuan sudah.

Hazel menatapnya atas-bawah, lalu menyimpulkan:

“Pantas saja begitu antusias. Ternyata Anda pengagum berat Ksatria Pahlawan, ya?”

Iskandar—alias Sir Valentine—membeku.

Tepat sasaran.

Alasan ia begitu terpaku ingin menyukseskan jamuan ini: karena ia sangat menghormati para ksatria tua itu.

Namun untuk mengakuinya, rasanya memalukan. Ia menutupinya sampai sekarang.

“…Baiklah. Memang benar.”

Akhirnya ia mengaku.

“Di masa lalim Sang Kaisar Terdahulu, semua orang bersembunyi. Tapi para Ksatria Pahlawan maju ke depan, melindungi Sang Permaisuri dan bahkan Pangeran kecil. Khususnya dalam Insiden Whittingham—”

“Itu apa?”

“Itu peristiwa ketika mereka menjatuhkan Marquis Whittingham, seorang pengkhianat bejat. Setelahnya, seluruh kota dipenuhi bendera dengan angka ‘IX’—angka Pangeran—menggantikan ‘VIII’ milik Kaisar Terdahulu. Kabar itu menyebar dari mulut ke mulut. Dan bagi sang Pangeran kecil, itu jadi penghiburan besar.”

Ekspresi Iskandar dipenuhi rasa haru.

Hazel memiringkan kepala.

Kenapa dia begitu tersentuh? Jangan-jangan dia… pengikut garis keras keluarga kekaisaran?

“Begitu naik takhta, Kaisar pertama-tama mengundang mereka. Kebetulan, jalur ziarah mereka memang mengarah ke ibu kota. Maka, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka masuk istana. Tentu saja jamuan besar disiapkan untuk menyambut mereka. Tetapi…”

Iskandar menarik napas panjang.

“Entah kenapa, mereka tidak sepenuhnya puas. Mereka memuji makanan, ya, mengacungkan jempol dan menyebutnya lezat, mewah. Tapi siapa pun bisa merasakan—ada sesuatu yang kurang.”

Ia mengepalkan tangan.

“Kali ini harus berhasil. Kita harus benar-benar memuaskan mereka. Namun, dari yang kudengar, masakan desa biasa tidak cukup. Kita perlu masakan desa kelas dewa—bahkan yang bisa melampaui Maestro Henkel, sang dewa kuliner. Kalau itu berhasil, Ksatria Pahlawan pasti terpesona. Aku akan membantu sepenuhnya demi kesuksesanmu. Transportasi, logistik, bahan—apapun, sebut saja.”

“…….”

Hazel menatapnya dengan ekspresi rumit.

“Terima kasih, tapi… sepertinya Anda belum dengar.”

“Dengar apa?”

“Itu perintah langsung dari Ibu Suri.”

Hazel menjelaskan:

“Karena ini menyangkut kehormatan, pertandingan harus sepenuhnya adil. Para koki istana tak boleh berbuat curang padaku. Dan aku, tak boleh menerima bantuan dari ‘kubu pro-pertanian’. Satu-satunya yang boleh terlibat hanyalah Ibu Suri sendiri. Selain beliau, tidak seorang pun dari dalam istana boleh membantuku. Kalau melanggar, itu berarti melangkahi kewenangan Ibu Suri. Beliau menekankan hal itu dengan tegas.”

“Apa?”

Iskandar terkejut.

Hazel berkata benar. Perintah itu sudah diumumkan.

Baru tadi pagi, Hazel bahkan sempat berpapasan dengan Cayenne saat menimba air.

Tapi begitu ia ingin menyapa, seseorang bersuara lantang:

“Sir Cayenne! Jangan bilang Anda mau melanggar kewenangan Ibu Suri hanya demi membantu gadis desa itu?”

Ucapannya terdengar seperti bercanda, tapi nadanya menusuk.

Cayenne tak sanggup berkata sepatah kata pun.

Namun, saat berpamitan, tatapannya menyampaikan:

Kami percaya padamu. Sampai jumpa di jamuan. Jaga dirimu. Kami menunggu masakanmu.

Mata Cayenne sama cerewetnya dengan mulutnya, jadi pesannya tersampaikan jelas.

Para bangsawan menatapnya sampai sosoknya hilang.

Hazel pun tahu.

Suasananya tegang, siap meledak.

Kubu anti-pertanian yang masih menguasai lingkaran sosial, berhadapan dengan kubu pro-pertanian yang kini mendukung Hazel.

Jamuan ini jelas akan jadi titik balik.

Iskandar menyadari arah angin itu. Namun, baginya jamuan itu sendiri lebih penting.

“Bah! Tak peduli. Aku pengecualian. Selalu ada pengecualian dalam aturan.”

“Ya ampun, Sir Valentine….”

Hazel menatapnya dengan iba.

“Sebagai penggemar fanatik, aku mengerti rasa cemas Anda. Tapi kalau sampai menganggap diri pengecualian, bukankah itu bahaya? Bisa-bisa karier Anda sendiri taruhannya.”

“…….”

Sang Kaisar, ditegur begitu rupa.

Hazel hanya khawatir untuk posisinya. Tapi memang ucapannya benar. Dan karena sudah ada perintah Ibu Suri, Sir Valentine tak bisa lagi memaksa.

“…Baiklah. Maka, sampai jumpa.”

Ia pun berbalik, melangkah pergi. Punggungnya tampak sepi dan merosot.

Hazel menatapnya iba.

Begitu kecewa rupanya….

Namun, aturan adalah aturan. Tak bisa dilanggar.

Sebenarnya, Hazel tidak sepenuhnya dibiarkan sendirian.

Persiapan jamuan sebesar itu mustahil ditangani seorang diri. Karena itu, ia tetap mendapat jatah beberapa pembantu dapur.

Tapi, sesuai titah Ibu Suri, ia harus memilih sendiri. Dari awal, ia harus bisa menilai orang—karena memilih pekerja yang baik adalah dasar mutlak seorang pemilik lahan yang andal.

Demi Sir Valentine yang malang itu… aku harus berusaha lebih keras.

Hazel pun menyalakan semangatnya lagi, lalu berangkat menuju tempat pengumpulan.

Lokasi jamuan Ksatria Pahlawan.

Istana Silver Lion—Eunsa-ja-gung.

***

Istana Silver Lion memiliki satu ciri khas yang unik.

Berbeda dari istana lain, balai perjamuan di sini memiliki dua dapur yang menempel langsung: dapur kiri dan dapur kanan.

Seorang pelayan memperkenalkan tempat itu.

“Kedua dapur punya fasilitas yang benar-benar identik. Istana Silver Lion ini memang tempat yang pas untuk menggelar adu masak.”

Begitu keluar dari pintu dapur, langsung tersambung ke balai perjamuan yang luas.

Di tengah aula, dua meja panjang diletakkan berdampingan. Hidangan dari dapur kiri akan diletakkan di meja kiri, hidangan dari dapur kanan di meja kanan. Lalu masing-masing dinilai.

Karena jamuan ini begitu disorot, tribun penonton juga disiapkan. Pada hari-H, para pengunjung akan memadati tempat itu.

Melihat semua ini dengan mata kepala sendiri membuat Hazel berdebar.

Ia mengalihkan pandang.

Saat ini, di tengah aula berdiri para pelayan dapur wanita.

Mereka adalah pelayan yang ditarik khusus untuk Jamuan Ksatria Pahlawan. Gaun pelayan hitam dengan apron putih dan topi putih memberi mereka tampilan yang khidmat.

“Pelayan dapur terbagi menjadi pelayan kebersihan, pencuci piring, dan pelayan masak. Nona dapat memakai tiga pelayan kebersihan, empat pencuci piring, dan enam pelayan masak.”

“Baik.”

Hazel meneliti mereka satu per satu.

Para pelayan mengecilkan badan.

Bagaimana kalau aku terpilih?

Tolong, jangan aku!

Itu wajar.

Sebelum dikerahkan, para koki istana sudah mengumpulkan para pelayan dan menasihati—tepatnya mengancam—mereka.

“Kalau kalian sampai dipindah ke sana, jaga sikap baik-baik. Hanya karena Ibu Suri sedikit ramah, jangan coba-coba menjilat gadis kampung itu…. Kalau kalian cari muka di sana, setelah jamuan selesai jangan harap bisa bekerja nyaman lagi!”

Ancaman terang-terangan.

Kalau sampai menyinggung mereka, bisa-bisa dipecat. Sumber nafkah terputus.

Maka, para pelayan mustahil memandang Hazel dengan baik. Hati mereka tertutup rapat.

Hazel tentu tak tahu sedalam itu. Tapi ia bisa menebak kira-kira: pelayan dapur tidak akan menyukainya.

Menatap wajah-wajah kaku itu, ia berkata dalam hati:

Jangan ciut.

Ia sengaja menyapa dengan senyum yang lebih cerah.

“Halo.”

Lalu, dipandu staf Kantor Dalam Istana, ia mulai menyeleksi. Ia berjalan di antara barisan pelayan, menilai satu per satu.

Ia harus memilih orang yang cekatan.

Bagaimana menebaknya?

Hal-hal besar mungkin mirip-mirip pada semua orang.

Detail kecil yang membongkar kualitas sebenarnya.

Hazel memutuskan fokus pada hal-hal remeh.

Misalnya, pelayan yang memasang kantong kecil tak terlihat di balik apron—tanda ia memikirkan alat-alat kecil agar kerja lebih praktis. Orang seperti itu hampir pasti cekatan.

Atau pelayan yang topi dan apronnya tetap kaku berkanji, terurus rapi; atau jahitan bajunya rapi dan kuat—semuanya indikasi bagus.

Dengan kriteria samar tapi konsisten itu, ia memilih tiga belas orang.

“Bagus. Kepala pelayan Abigail juga akan membantu.”

Seorang kepala pelayan wanita ikut dilampirkan untuk memimpin mereka.

Seleksi pun selesai.

Pelayan yang tidak terpilih dan akhirnya jatuh ke kubu Maestro Henkel bersorak dalam hati.

Sebaliknya, mereka yang masuk tim Hazel berwajah mendung. Terutama Abigail, sang kepala pelayan—rasa tak sukanya menembus langit.

Pengalamanku segunung, dan sekarang harus jadi kawal belakang gadis desa yang dibenci semua orang!

Tapi perintah istana tak bisa ditolak.

“Silakan memakai dapur sebelah kiri.”

“Baik.”

Usai menjawab pelayan, Hazel menoleh ke para pelayan.

“Kita berangkat?”

“Baik….”

Jawaban yang loyo.

Bekerja dengan rombongan seperti ini jelas tidak mudah.

Namun ia harus mengingat maksud Ibu Suri. Ada alasan kenapa untuk pertandingan ini pelayan dipilih Hazel sendiri dan diminta bekerja dengannya sejak awal.

Sepertinya adu masak bukan satu-satunya yang dinilai di sini.

Untuk menyelesaikan urusan besar, hati orang bawahan harus diraih.

Tampaknya Ibu Suri ingin melihat hal itu juga.

Aku harus merebut hati mereka. Aku harus memenuhi harapan Ibu Suri.

Dengan tekad itu, Hazel membawa para pelayan yang berwajah duka masuk ke dapur Istana Silver Lion.

Begitu melangkah, gulungan debu menyergap.

Hazel menutup mulut dan batuk. Dapur ini tampaknya lama sekali terbengkalai.

“Kita mulai dari bersih-bersih.”

Saat hendak masuk lebih dalam, si kepala pelayan berhenti sejenak. Ia mengangkat buntelan kunci, berdiri ragu-ragu.

Hazel bertanya, “Kenapa?”

“B-bukan apa-apa.”

Begitu Hazel membalik badan, bibir kepala pelayan itu mencibir.

Benar-benar tak tahu apa-apa, ya?

Sementara itu Hazel keliling memeriksa.

Debu menumpuk di oven kayu bakar. Butuh waktu lama sebelum api bisa menyala baik.

Ia membuka lemari—ada sesuatu yang kering mengeriput, bentuknya pun tak dikenali.

“Orang terakhir yang pakai dapur ini lupa bersih-bersih, rupanya. Entah dari zaman apa.”

Ia mencoba melempar canda untuk mencairkan suasana. Tak ada yang menanggapi.

Hazel menyerah dan menoleh ke kepala pelayan.

“Bisa kita buka itu?”

Abigail membuka lemari dinding di samping kotak peralatan bersih-bersih.

Berisi aneka bahan pembersih: serbuk pengilap pisau, lilin untuk memoles kayu, juga bubuk kapur.

“Yang ini boleh dipakai langsung kan? Ini kan bukan serbuk berlian sampai-sampai rumah kita bakal dirampok orang, ya?”

“Tentu saja, Nona,” jawab kepala pelayan—ekspresi datar, seolah berkata tolong hentikan humor kering itu.

Hazel mengambil serbuk pengilap pisau.

Saat itu—

“Nona, apakah Anda di sini?”

Seorang pria paruh baya menongol di pintu.

“Saya Salomon, pemasok bahan makanan.”

Pemasok bahan makanan adalah pihak yang memasok kebutuhan dapur istana. Pengadaan bahan untuk jamuan diurus mereka.

“Tunggu sebentar.”

Hazel menatap para pelayan.

“Empat orang–pel bersih lantai dan dinding. Tiga orang–bersihkan oven sampai kinclong lalu nyalakan api. Tiga orang–bersihkan meja dan lemari. Dua orang–gosok peralatan. Satu orang–sapu debu di semua sudut. Tolong ya. Nyonya Abigail, mohon awasi semuanya.”

Setelah membagi tugas cepat, Hazel menemui pemasok.

Begitu ia pergi, Abigail berputar.

Di dapur-dapur besar istana atau kastel biasanya ada ruang tunggu kecil pengelola di samping gudang. Kepala pelayan membuka ruangan itu dengan kunci. Ia duduk, lalu bicara pada pelayan lain:

“Kalian lihat sendiri kan? Seberapa konyolnya!”

Konyol katanya—padahal dia tertawa puas.

“Mungkin justru bagus kita di sini. Santai saja, kita bisa leha-leha.”

“Baik….”

“Ah, tidak. Ini kesempatan langka!”

Ia bergegas berdiri.

“Kapan lagi ada momen begini?”

Ia mengitari dapur, membuka semua lemari dinding dengan kunci. Ia puas mengagumi porselen, peralatan makan, hiasan berkilau.

“Hei! Jangan terlalu serius kerja. Nanti kita malah dicap jelek. Taruh itu, kemari bantu bereskan yang ini.”

Para pelayan tetap harus pura-pura mengerjakan tugas dari Hazel. Di sela itu, kepala pelayan juga sibuk menyuruh ini-itu, membuat keadaan tambah karut.

“Lora! Cepat selesai itu, bantu pel lantai!”

“Baik. Ellie! Aku ke sana dulu, tolong kerik jelaga di dalam pipa ini.”

“Aku harus ke kamar kecil. Tina! Kemari!”

Dapur berubah jadi pasar.

Hazel tak tahu apa yang terjadi di dalam. Ia masih di luar, sibuk berdiskusi dengan pemasok.

“Selamat atas penunjukan Anda, Nona. Apakah daftar sampel bahan sudah ditentukan?”

“Belum. Harus ditentukan sekarang?”

“Tidak, Nona. Hari ini cukup serahkan pesanan kepada saya lewat kepala pelayan. Besok kami kirimkan sampel bahan ke sini.”

“Baik. Nanti saya kirim daftarnya.”

“Terima kasih, Nona.”

Sikap pemasok itu ramah dan santun.

Ia tampak tak peduli pada konflik kubu dalam istana. Yang penting baginya: pesanan jamuan harus berjalan mulus.

Soal bahan, aman, pikir Hazel, sedikit lega.

Namun saat ia kembali—kacau.

Selama ia pergi, hampir tak ada kemajuan. Mereka seperti “melakukan sesuatu” ala kadarnya, dan begitu Hazel muncul, gerakan mereka melambat mencolok.

“Ayo kita kerjakan sama-sama.”

Hazel mengambil sapu dan berkeliling membantu.

Baru sekitar sepersepuluh rampung—

“Sudah jam pulang.”

Kepala pelayan muncul dan berkata.

Sudah jam pulang? Hazel kaget.

Ia tadinya ingin menimbang menu dulu baru menulis pesanan, tapi waktu habis. Ia memutuskan minta beberapa bahan dasar saja sebagai sampel.

“Aduh, pinggangku….”

Kepala pelayan duduk di ruang tunggu. Hazel buru-buru menulis pesanan dan menyerahkannya lewat dia. Para pelayan pun buru-buru bubar.

Hazel tinggal sendirian.

Oven baru mulai menyala.

Ia memastikan api stabil sebelum kembali ke kebun. Sekalian memikirkan menu.

Hazel duduk di ruang distilasi.

Di lemari seberang, botol-botol air sulingan berisi buah dan kelopak bunga berderet. Semuanya sudah terlalu lama—seharusnya dibuang—tapi dalam senja temaram warnanya tampak ajaib.

Menatap botol-botol itu, pikirannya melayang.

Tiba-tiba terdengar keributan dari luar. Seperti ada yang berteriak.

Ia bergegas keluar.

Asap memenuhi udara. Oven kayu memerah menyala, seperti hendak meledak.

“Ah!”

Hazel tersentak.

Di saat seperti ini, harus tenang.

Menuang air sembarangan bisa berbahaya. Ia belajar pahit hal itu dari pengalaman.

Hazel cepat menutup pintu api. Lalu menutup semua panel ventilasi di oven.

Begitu suplai udara diputus, nyala api melemah. Asap pun perlahan surut.

Akhirnya padam.

“Huft….”

Ia mengusap dada.

Orang-orang sudah ramai berkumpul di luar. Para pelayan Istana Silver Lion berlari dari kejauhan.

“Apakah Anda baik-baik saja? Ini apa yang terjadi?”

“Pelayan-pelayan menyalakan oven tanpa membersihkannya benar!”

“Gila! Semuanya bisa dipecat!”

Hazel terkejut.

Memang kerja mereka lamban, tapi bagian dalam oven sebenarnya sudah rapi. Sepertinya mereka lupa pipanya. Itu kesalahan yang mudah terjadi. Hazel sendiri pernah beberapa kali begitu.

Hari pertama dan suasana kacau—wajar kalau luput. Menghukum dengan pemecatan terlalu berat. Tapi para pengawas takkan segan memecat. Pelayan itu mudah diganti.

Dalam sekejap Hazel menimbang, lalu berkata:

“Bukan. Aku yang bersihkan ovennya.”

Para pelayan istana melotot.

“Benarkah? Bukan pelayan?”

“Ya. Seharusnya setelah membersihkan bagian dalam pipa, baru menyalakan api. Aku… kelupaan.”

Ekspresi mereka berubah. Mereka menggeleng dan menasihati Hazel.

“Jangan begitu. Mengelola oven harus selalu hati-hati. Untung kamu bisa menanganinya. Nyaris kebakaran.”

“Maaf. Aku akan hati-hati.”

Hazel menunduk.

Bukan hanya pelayan istana yang datang. Maestro Henkel, para koki, juga para pelayan dari sisi sana ikut keluar karena heboh.

“Bagaimana bisa melakukan kesalahan pemula begitu? Katanya dia yang bersihkan oven, tapi pipa tidak dibersihkan! Aduh, benar-benar….”

Bisik-bisik sinis terdengar sampai sini.

Wajah Hazel memerah.

Begitu semua bubar, bahunya jatuh.

“Tidak. Ini keputusan yang tepat,” gumamnya kecil.

Ia menabur daun teh di atas abu agar debu tak beterbangan, lalu beres-beres. Ia mengambil sikat untuk menggosok jelaga, sambil berpikir.

Kegaduhan seperti ini terjadi karena ia belum meraih hati mereka. Kalau hati sudah sejalan, semuanya jadi mudah.

Harus jadi “orangku”.

Adakah cara yang baik?

Hazel berdiri di dapur kosong, berpikir sejenak.

Matanya lalu tertumbuk pada sebuah kotak kecil di atas meja. Kotak berisi lilin untuk memoles kayu.

Bagaimana kalau pakai ini?

Hazel mengambil kotak lilin itu.

Saat melangkah keluar, ia sempat melirik dapur seberang—terang benderang. Dapur yang sudah bersih itu sibuk mempersiapkan ini-itu.

Di depan Maestro Henkel, siapa berani bilang mau pulang? Bekerja di sisinya adalah kebanggaan.

Hatinya campur aduk.

Justru sekarang harus semangat.

Hazel meninggalkan Istana Silver Lion.

Bukan kembali ke kebun—ia justru menuju luar istana. Rasanya sesak; ia ingin ke pasar.

Kebetulan itu jam ramai.

Di mana-mana penuh orang. Namun melihat hiruk-pikuk yang hidup itu, semangatnya sedikit terangkat.

Hazel berjalan santai sambil memerhatikan orang-orang.

Lalu matanya tertumbuk pada satu tenda rumah makan kaki lima yang luar biasa padat.

Ada apa di sana?

Ia menatap lagi—orang-orang itu memakai topi dan menyampirkan buku catatan di leher.

Para jurnalis.

Hazel menelusuri mereka dengan tatapan.

Saat itulah—

Di tengah dorong-dorongan para jurnalis yang berusaha maju, terbuka sebuah celah. Melalui celah itu, Hazel melihat seorang gadis berambut hitam berjuang paling galak menembus kerumunan.

Mata Hazel berbinar.

“Kitty!”

Suara nyaringnya menggema.

Gadis berambut hitam itu kaget dan menoleh.

Sekejap lengah. Hah? Hah?—dan ia terdorong keluar oleh jurnalis lain. Tapi sepertinya ia tak berniat masuk lagi.

“Siapa nih? Lihat siapa datang.”

Kitty menyapa dengan gaya dingin—namun matanya berkilau.

Hazel pun sangat gembira. Beban yang menindih hati lenyap seketika; yang tersisa hanya rasa senang.

“Wah, kamu sudah jadi jurnalis hebat?”

“Baru magang.”

Kitty meluruskan.

Saat itu, seorang pria tambun keluar dari rumah makan. Para jurnalis langsung merubung.

“Ah! Sebentar!”

Kitty menerobos kerumunan lagi. Tubuhnya kecil, tapi ia tak kalah. Begitu ngotot sampai beberapa jurnalis senior malah terdorong mundur.

Kitty berhasil sampai paling depan.

“Pak Granville! Katanya Anda membangun rumah penampungan baru lagi? Ada urusan menjilat pemerintah, ya?”

Pria itu—yang tadi menjawab ramah—tersentak.

“Apa-apaan! Saya hanya….”

Tanpa sadar ia menaikkan suara ke arah Kitty.

Sukses!

Kitty menghamburkan pertanyaan tajam bertubi-tubi.

Ia benar-benar berubah. Gaun kotak-kotak abu-abu sederhana tampak cocok. Saat memakai gaun bangsawan dulu ia cantik; kini mengenakan gaun rakyat berikat pinggang kulit pun tetap sama cantiknya.

Kenapa aku yang bangga ya?

Hazel memandangi Kitty yang melempar tanya-jawab lincah di antara para jurnalis senior, dengan wajah puas.

Akhirnya pria itu pergi.

Kitty melompat-lompat kecil kembali ke Hazel.

“Berhasil! Tugasku hari ini selesai! Aku boleh pulang!”

Hazel mendadak penasaran.

“Kamu tinggal di mana sekarang?”

“Sewa kamar kecil. Tiga puluh menit dari sini.”

“Kebetulan! Kita lagi di pasar. Kalau tak ada urusan, aku masak makan malam enak di rumahmu. Kamu suka roast beef?”

Kitty menelan ludah sebagai jawaban.

Roast beef adalah daging sapi utuh yang dipanggang lalu diiris. Dulu Hazel sering memasaknya untuk Kakek.

“Di rumah tak ada daging, kan?”

“Tak ada apa-apa.”

Kitty jujur.

Maklum, kantong jurnalis magang tipis.

Hazel membeli daging sapi bagus di toko langganan. Saat pedagang tahu itu untuk makan bersama teman, ia bermurah hati mengganti dengan potongan lebih besar.

Mereka juga membeli bawang putih dan sayuran pendamping. Minyak zaitun tak ada—jadi dibeli juga.

Pencuci mulut cukup buah persik. Tak mungkin membeli loyang pai.

“Nanti aku ganti semuanya.”

Kitty bersemu merah.

Dengan sifat lamanya, itu hal mustahil: alih-alih menjamu, bahkan membukakan pintu pun tidak. Ini kemajuan besar.

Mereka berbagi bawaan dan berjalan tiga puluh menit ke rumah Kitty.

Di deretan rumah 4–5 lantai yang saling menempel, tiap lantai dihuni beberapa keluarga. Pemandangan yang mengingatkan Hazel pada rumah sewa di Jalan Rochelle ketika ia jadi pegawai bank.

“Ini dia.”

Kitty menaiki tangga sempit dan membuka pintu kamar kecil di sudut lantai empat.

Seperti diduga—benar-benar mungil.

Yang paling mencolok adalah oven yang sekaligus jadi pemanas ruangan.

Kamarnya begitu sempit hingga oven—yang nyaris pas untuk loyang pai—terlihat besar. Sebuah ranjang dan meja makan-merangkap-meja belajar saja sudah membuat ruangan penuh.

Dengan wajah sumringah, Kitty mengangkat setumpuk buku.

“Ini kursi kita. Guruku yang dulu pasti pingsan kalau lihat.”

Duduk di tumpukan buku—ide yang lucu.

Mereka menyalakan api di oven.

Sambil menunggu panas, mereka menyantap beberapa buah persik—menyisakan beberapa untuk pencuci mulut. Buahnya sangat berair dan manis; Hazel sedikit cemas.

“Jangan-jangan kenyang duluan dan tak kuat makan daging?”

“Tenang saja.”

Dan satu jam kemudian, terbukti.

Begitu roast beef yang diikat rapi dengan benang keluar dari oven, mata Kitty terpaku.

Saat daging mengepulkan uap dan diiris, ia menghirupnya habis-habisan.

Bagian luar garing, dalamnya juicy. Kuah daging yang ditampung dijadikan saus gravy—sempurna. Ditambah mashed potato dan sayuran tumis ringan—tak butuh apa-apa lagi.

“Kamu apakan daging ini? Masuk mulut langsung lumer! Waktu masih jadi putri bangsawan pun aku tak pernah makan yang begini!”

Kitty hampir berlinang air mata sambil terus makan.

Melihatnya makan dengan lahap begitu membuat Hazel ikut bahagia. Dalam sekejap, potongan besar itu ludes.

Saat itu oven juga sudah cukup dingin. Angin yang masuk dari jendela mendinginkan keringat.

Mereka duduk berdampingan di ranjang, menyantap persik sisa sambil berbincang.

“……Aku menulis beberapa artikel sendiri, lalu menjejalkannya ke kantor-kantor koran. Ditolak enam kali, sampai akhirnya Koran Fajar menerimaku sebagai jurnalis magang. Tahun depan aku harus jadi jurnalis tetap.”

Kitty menceritakan singkat perjalanannya.

“Ngomong-ngomong, ceritamu pasti lebih seru. Katanya kamu akan menggelar Jamuan Ksatria Pahlawan?”

Hazel terkejut.

“Kok tahu?”

“Mana mungkin jurnalis tak tahu kabar seheboh itu? Aku tahu semua yang terjadi padamu.”

“Tapi di koran belum ada.”

“Mereka belum menentukan sikap editorialnya saja.”

Cara Kitty bicara benar-benar seperti jurnalis senior. Saat Hazel memujinya begitu, Kitty tampak sangat senang.

“Semoga kantorku cepat menentukan sikap. Bahan tulisannya buanyaaak! Ceritakan, dong. Hari pertama persiapan jamuan bagaimana? Ke pasar cari bahan?”

“Ah….”

Hazel mengedikkan bahu ringan.

“Bukan. Aku ke sini karena dada terasa sesak.”

“Kenapa? Ada yang nggak beres?”

“Sebetulnya, pelayan dapur nggak suka padaku. Mereka ogah kerja di bawahku, maunya di bawah Maestro Henkel. Hasilnya—nyaris nggak ada kemajuan.”

“Berani juga mereka!”

Kitty meledak.

“Berani-beraninya! Kalau ketemu aku, sudah tamat riwayatnya!”

Tatapannya yang tajam berkilat kebiruan, ucapan-ucapannya seakan menyembur api.

“Memang, sih.”

Hazel mengangguk, menatap rupa galak itu dengan maklum.

“Andai Lady Diavelli yang turun tangan, pelayan itu sudah langsung tunduk.”

“Benar. Aku tak akan menyangkal kalau urusan begini memang bidangku.”

Mata Kitty berkilat.

“Kau tahu aku diusir dari istana. Jadi aku boleh membantumu. Akan kuwariskan jurus rahasia profesional. Begini-begini, ilmu begini nggak bisa dibeli. Khusus untukmu, kuungkapkan. Ayo, cepat catat!”

“Siap!”

Hazel meraih kertas dan pena di meja.

“Pertama, duduk dan silangkan kaki. Kedua, panggil orangnya. Ketiga, tatap matanya, senyum tipis. Keempat, rilekkan jari tapi pusatkan tenaga di telapak. Kelima, dalam posisi itu, putar pergelangan—pakai pantulan—plek! tampar dengan mantap.”

Tangan Hazel terhenti.

“Itu apaan?”

“Apa lagi kalau bukan kurikulum wajib nona salon! Cara menampar yang proper! Dipakai untuk menaklukkan bawahan, saat pembuat gaunmu mulai main harga, atau ketika adu mulut dengan nona lain dan kau kehabisan kata… pokoknya serba guna! Tapi ada catatan: selalu cek siapa saja yang ada di sekitar sebelum dipakai. Lanjut: teknik wajib lain—cekal rambut, pura-pura merana di depan para sesepuh istana, membuntuti diam-diam buat cari aib, menyuap pelayan rumah orang….”

“Ilmu wajib” kaum bangsawan dari mulut Kitty mengalir tanpa akhir.

Hazel melongo, cuma berkedip-kedip. Melihat ia tak juga menulis, Kitty berkerut.

“Kenapa? Ini benar-benar manjur, tahu!”

“E… iya….”

Hazel ragu-ragu.

Kitty tiba-tiba seperti tersadar.

“Ya juga. Kalau segitu manjur, aku nggak bakal jadi seperti sekarang….”

“Bukan begitu! Kamu lagi hebat-hebatnya sekarang!”

Hazel cepat menimpali, tapi Kitty cuma hmpf! dan manyun.

Namun dari caranya bisa bercanda enteng soal dirinya sendiri, terlihat jelas: Kitty Diavelli banyak berubah.

Keduanya saling pandang dan tersenyum kecut.

Kertas yang setengah ditulis disingkirkan. Niat baik—atau lebih tepatnya niat ganas—untuk membantu, cukup itu saja yang Hazel “terima”.

Hati.

Bagaimana caranya memenangkan hati orang?

“Entahlah. Sayang, itu bukan bidangku,” Kitty menggaruk pipi.

“Yang bisa kukatakan cuma satu: roast beef-mu enak banget!”

“Syukurlah. Jurnalis harus makan yang baik biar kuat nulis. Lain kali kubawakan mentega dan sari apel. Ham, sosis, telur, roti kampung, sampai kue krim… kubawakan semua.”

“Kapan?”

“Ya setelah jamuan selesai. Eh, nggak—sekarang tomat lagi puncak. Minggu depan aku datang lagi, ya?”

“Serius?”

Mata Kitty berkilau.

“Bisa hari Rabu? Itu hari terberatku.”

“Boleh!”

Hari ini Jumat—jadi lima hari lagi.

Seribet apa pun persiapan jamuan, Hazel ingin merayakan lagi keberhasilan Kitty jadi jurnalis magang. Dengan kue besar tentu saja.

Kitty, girang, menuliskan alamat Koran Fajar.

“Kita ketemu di pintu kantor. Apa pun yang terjadi, jam tujuh aku sudah selesai dan keluar.”

“Sip!”

Apa saja yang akan Hazel masukkan ke keranjang besar kali ini? Ia sudah senyum-senyum sendiri membayangkannya.

Jalan-jalan ke pasar benar-benar sukses.

Bertemu Kitty—yang kini jadi jurnalis magang yang hebat—membuat Hazel pulang dengan hati ringan. Langkahnya kembali bertenaga.

Pada akhirnya, hati hanya bisa digerakkan oleh hati.

Hazel membatin.

Maka, ia memutuskan mengeksekusi ide yang tadi siang sempat terlintas.

Sebelum kembali ke istana, ia mampir ke toko serba ada. Ia membeli lima belas kaleng kecil bundar bertutup.

Di rumah, ia menurunkan beberapa botol dari rak. Di dalamnya beriak cairan keemasan berisi helaian kelopak tipis.

Itulah minyak calendula.

Waktu Tuan Valentine memukul kukunya dengan palu saat membuat kandang ayam, Hazel pernah menolongnya dengan calendula segar.

Sejak itu, berjaga-jaga kalau ada kejadian serupa, ia membuat minyak itu. Warnanya emas pekat—indah dan berkualitas.

Dua tanaman lain juga dibutuhkan:

Plantain dan chickweed.

Sering dianggap gulma dan dicabuti, padahal keduanya obat yang bagus.

Plantain meredakan radang kulit dan membantu menarik racun. Chickweed mempercepat penyembuhan luka.

Hazel mencincang halus keduanya, lalu disiram minyak agar sari berkhasiatnya tersari keluar. Setelah itu, ampasnya disaring.

Berikutnya, ia mengeluarkan lilin lebah yang tadi diambil dari dapur istana.

Cara membuatnya sederhana.

Lilin lebah dilelehkan dengan bain-marie, lalu dicampur minyak calendula. Setelah itu, ditambahkan dua minyak hasil seduhan plantain dan chickweed.

Saat sudah mengental, ia membaginya ke kaleng-kaleng kecil. Terakhir, ia menjatuhkan beberapa kelopak calendula sebagai hiasan.

Selesai.

Namanya: salep serbaguna.

Salep ini mujarab untuk tangan yang kapalan karena kerja dapur. Luka sayat pisau atau tersengat panas pun sembuh mengejutkan cepatnya.

Bagi pelayan dapur, ini bakal sangat berguna.

Selain itu, salep ini cantik. Di dalam padatan emas pekat, kelopak calendula tersuspensi—cantiknya tak kalah dari liontin.

Hazel memasukkan salep-salep itu ke keranjang, lalu melangkah pelan-pelan keluar rumah—rasanya seperti melakukan misi rahasia.

Di Istana Silver Lion, para pengawal istana menyingkir tanpa bertanya. Mereka yakin Hazel memang ada urusan di situ.

Tebakan mereka benar.

Di bawah sinar bulan, Hazel melintasi dapur, membuka lemari peralatan bersih-bersih, dan menyusun rapi empat belas kaleng salep serbaguna di dalamnya.

Mereka pasti suka, kan?

Membayangkannya saja membuat jantung Hazel berdebar.

Dengan hati berbunga, ia kembali ke kebun.

Ada satu kaleng tersisa.

Begitu kembali berurusan dengan minyak calendula, Hazel jadi teringat Tuan Valentine. Satu kaleng yang tersisa itu rasanya pas diberikan kepadanya.

Setelah jamuan selesai, tentu.

Dalam hati memikirkan itu, Hazel melangkah masuk gerbang—dan sontak terlonjak.

“……!”

Sebuah sosok gelap berdiri tegak di depan rumah—tampak makin hitam di bawah pekatnya malam.

Baru dipikir, kok langsung muncul di depan mata. Dan ini kali kedua seseorang tiba-tiba nongol hari ini.

Dengan mata terbelalak, Hazel bertanya,

“Tuan Valentine! Ada apa lagi malam-malam begini?”

“Aku hanya….”

Entah kenapa, ia terlihat sangat kikuk.

“Jangan-jangan mau membantuku, ya?”

“…….”

“Dan jangan-jangan, seharian ini kerjaanmu kacau karena pikiranmu melayang ke jamuan?”

“…….”

Setiap kalimat Hazel, bahu pria itu tampak tersentak—bahkan dalam gelap sekalipun.

Tebakan Hazel tepat sekali.

Seharian ini Iskandar memang tak bisa bekerja fokus.

Pikirannya penuh Jamuan Ksatria Pahlawan. Tiap menit, tiap detik, konsentrasinya buyar. Kata “pahlawan”, “ksatria”, “jamuan”, “adu masak”, “gadis kebun”, “koki istana”… tiap terdengar, telinganya otomatis waspada.

Sebenarnya bukan hanya Iskandar saja.

Seluruh istana bergolak.

Semua orang tahu betapa besar minat Sang Kaisar dan Ibu Suri pada urusan ini. Maka, setiap ada kabar baru, segera ada yang melapor.

Di tengah itu, Iskandar mengetahui satu hal yang sangat penting.

“Paduka, ini sungguh rahasia yang hanya Paduka boleh tahu….”

Siberius, pengawas minuman istana, datang berbisik.

Biasanya, kalimat pembuka seperti ini berakhir zonk.

Tapi Siberius telinganya tajam.

Kabar yang katanya ia dengar lewat cerobong perapian itu memang rahasia kelas berat. Sama sekali tak boleh bocor.

Namun…

Kalau dipikir-pikir, tak adil juga, bukan?

Di pihak sana, ada koki-koki yang membantu Maestro Henkel. Di pihak sini, Hazel sendirian. Jelas kalah dalam kesiapan.

Maka—memberi sinyal halus saja setidaknya adil.

Begitu pikir Iskandar.

Maka ia datang kemari. Rencananya, meninggalkan petunjuk samar di sekitar kebun dengan memanfaatkan gelap malam.

Eh, malah papasan langsung.

Sejak menyadari langkah-langkahnya terdengar, ia beku. Khawatir Hazel menyangka maling, ia justru tak bisa kabur.

Seharusnya ia bilang saja “Ini aku, bukan maling.”

Tapi seperti biasa, ia gagal menemukan momen yang pas. Alhasil, ia berdiri kikuk, dan benar-benar membuat Hazel kaget—sebengong maling beneran.

Canggung luar biasa.

“Maaf sudah membuatmu kaget….”

Ia memulai dengan minta maaf.

“Terus terang, memang datang untuk membantu. Tadinya mau mundur begitu ketahuan.”

“Sudah kuduga! Sifat itu nggak berubah juga ya!”

“Bukankah kubilang aku mundur? Bagaimanapun, terlanjur datang sejauh ini, aku… setidaknya ingin mendengar kabar kemajuan. Aku sangat penasaran.”

Pria yang biasanya dingin itu kini memancarkan tatap yang sungguh-sungguh.

“Hmm….”

Hazel berpikir sejenak.

Jangan-jangan aku terlalu kaku?

Sambil mempersilakan masuk, ia berkata,

“Aku paham betapa pentingnya jamuan ini bagi Tuan Valentine—sebagai pengagum berat para Ksatria Pahlawan.”

“Bisakah kau buang embel-embel panjang di depan itu?”

“Karena pengagum berat, wajar saja kerjaanmu buyar. Sudah ada jadwalnya?”

“Kira-kira seminggu lagi mereka tiba di istana. Malam itu juga jamuan digelar.”

“Lebih cepat dari dugaanku.”

“Yang penting hari-H. Sebelumnya, yang utama menyelaraskan irama.”

“Itu masalahnya.”

Hazel mengedikkan bahu.

“Para pelayan belum mau menuruti arahanku.”

Iskandar kaget.

“Pelayan? Kenapa? Ada orang yang ingin membantu tapi tak bisa, sementara mereka yang bisa justru tak menghargai posisinya!”

Ia terbawa emosi.

“Maklum juga. Aku sudah terlanjur dicap jelek oleh koki-koki istana. Mereka semua ingin masuk tim Maestro Henkel. Jadi riak-riak seperti itu muncul. Misalnya….”

Hazel hampir saja bercerita soal pipa, tapi mengurungkannya. Kalau diceritakan, Tuan Valentine pasti menyuruh memecat pelayan itu saat itu juga. Padahal ia sudah membela mereka—nanti percuma.

“Intinya, aku pusing memikirkan cara meraih hati mereka. Lalu aku ke pasar dan tebak siapa yang kutemui? Kitty! Lady Diavelli!”

“Yang dulu mencoba merusak lomba masak itu?”

“Sekarang sudah berubah total. Dia jadi jurnalis—dan giat sekali.”

“Jurnalis?”

Iskandar kembali terkejut.

“Bangkrut dan jatuh sedalam itu, tapi masih bisa membuka jalan baru—luar biasa.”

“Benar. Aku ikut senang. Aku, lho, yang menyarankan dia jadi jurnalis. Orang bisa berubah. Berkat bertemu Kitty, semangatku kembali. Para pelayan pun pasti bisa berubah. Aku mulai dari hadiah kecil.”

“Hadiah?”

“Nih.”

Hazel menyerahkan satu kaleng bundar yang tersisa kepada Tuan Valentine.

“Salep serbaguna dari minyak calendula.”

“Wah! Calendula! Itu ampuh sekali!”

Iskandar menerimanya dengan gembira.

Hazel tersenyum.

“Para pelayan pasti suka. Rasanya besok aku bakal bawa kabar baik.”

Iskandar menatap wajah Hazel yang sumringah.

Besok, ya….

Padahal—ia harus memberi tahu fakta itu!

Ada titah tegas untuk tidak membantu, jadi Iskandar tak bisa bersuara sedikit pun.

Ia menimbang-nimbang, lalu mengambil sebatang ranting. Diam-diam ia menggoreskan sesuatu di tanah—sebuah mahkota besar.

“Wah! Bagus sekali gambarnya!”

Hazel sama sekali tidak menangkap maksud coretan itu.

Wajar saja. Terlalu kiasan. Kalau sampai paham, itu namanya cenayang.

Akhirnya Iskandar hanya berpamitan dan berbalik pergi.

Menatap punggungnya menjauh, Hazel terlintik satu pikiran.

Kalau dipikir-pikir, tiba-tiba muncul dan minta diceritakan kejadian sepanjang hari seperti ini… mirip siapa ya?

“Rasanya mirip ‘peri pertanian’, deh.”

Ia bergumam begitu.

Tanpa menyadari betapa tajamnya intuisi yang baru saja ia lontarkan, Hazel kembali ke rumah.

Ia menantikan esok hari.

***

Keesokan harinya.

Usai menyirami kebun, Hazel berangkat lebih pagi ke Istana Silver Lion. Ia menata ini-itu sambil menunggu; tak lama, para pelayan pun datang.

Ia segera menghampiri.

“Hari ini kita mulai dari bersih-bersih dulu, ya?”

“Baik, Nona…”

Jawaban mereka lesu.

Semua menuju lemari peralatan. Hazel mendadak merasa aneh dan berhenti.

Para pelayan menoleh—ternyata Hazel menguntit pelan-pelan.

“Ada apa, Nona?”

“Ah, tidak, kok.”

Hazel tersenyum canggung sambil melambaikan tangan.

Ada apa, sih?

Mereka mengernyit bingung.

Sampai di depan lemari, mereka kembali menoleh.

Hazel sudah lebih dekat lagi, menatap tak berkedip dengan mata berbinar-binar.

Kenapa begitu, ya?

Lemari peralatan dibuka.

Di tengah tumpukan pel, ember, dan sikat yang semrawut, tampak sesuatu disusun membentuk segitiga.

Saat pintu terbuka lebar dan cahaya masuk, barulah jelas terlihat.

Kaleng-kaleng kecil bundar.

“Apa ini?”

“Hadiah.”

Hazel cepat menjawab.

“Kemarin malam kubuat untuk kalian semua. Salep serbaguna dari minyak calendula, plantain, dan chickweed. Bagus sekali untuk tangan yang pecah-pecah karena kerja dapur. Luka sayat atau tersengat panas juga cepat pulih.”

“…….”

Para pelayan saling pandang.

“Terima kasih, Nona.”

“Terima kasih.”

Mereka membungkuk, lalu masing-masing mengambil satu.

Bukan begini yang kubayangkan….

Hazel gugup.

Sungguh di luar dugaan.

Hadiah itu justru terasa kaku dan membebani bagi mereka. Tutupnya pun tak ada yang dibuka.

Tembok di hati mereka terlalu tebal. Ia kembali merasakannya.

Perjalanannya masih panjang.

Hazel berbalik dengan lesu.

Punggung Hazel yang menjauh itu dipandangi Kepala Pelayan Abigael dengan tatapan tak percaya.

Apa-apaan ini? Main-main?

Biasanya, kalau ada koneksi dengan nona bangsawan, banyak “remah” yang bisa dipungut. Dari pita rambut dan sapu tangan mewah sampai aksesori. Hadiah-hadiah “gurih” semacam itu yang mengikat loyalitas pelayan.

Tapi salep buatan tangan?

Terasa miskin sekali.

“Hadiah” ini justru mengingatkan lagi betapa miskinnya si nona yang mereka layani.

Sepertinya tak ada apa pun yang bisa “jatuh” ke tangan kami!

Ia menggeleng-geleng.

Untung kemarin aku bertindak begitu. Penghasilan sampingan harus diusahakan sendiri.

Saat itulah, para pelayan istana mengangkut masuk peti pendingin besar.

“Contoh bahan dari pemasok bahan makanan.”

“Ah!”

Hazel segera menghampiri.

“Taruh di sini, ya.”

“Baik, Nona. Mohon periksa isinya dan tanda tangani tanda terima ini.”

“Sebentar saja.”

Hazel meraih tutup peti.

Namun pada saat yang sama, dari aula jamuan di balik dapur, suara lantang menggema:

“Ibu Suri tiba!”

Apa?

Hazel terkejut.

Ia meninggalkan peti contoh bahan dan berlari ke pintu sisi lain dapur. Kepala pelayan dan para pelayan ikut terburu-buru mengekor.

Benar saja.

Di aula yang masih kosong selain meja, Ibu Suri telah berkenan hadir.

Dan tidak sendirian. Mengejutkan, beliau datang bersama beberapa menteri.

“Ibu Suri!”

Dari dapur seberang, Maestro Henkel dan para koki pun bergegas keluar—sama terkejutnya. Mereka serempak menunduk memberi hormat.

Maestro Henkel mewakili semua, bertanya dengan suara bergetar,

“Baginda, apa gerangan yang membawa Baginda kemari?”

Ibu Suri menatap kedua kubu bergantian.

“Sepertinya contoh bahan sudah tiba, bukan?”

“Benar, Baginda.”

“Bagus. Kami asyik berbincang dengan para menteri sampai lupa waktu; perut pun mulai lapar. Kalian pasti sudah mulai menyelaraskan kerja. Nah, sebagai uji coba, buatkan kami hidangan.”

Semua saling pandang, terkesiap.

Inspeksi mendadak.

Ibu Suri turun langsung untuk memeriksa.

Sekonyong-konyong semua jadi siaga.

“Baik, Baginda!”

Mereka menjawab serempak lalu berlarian kembali ke dapur.

Tak boleh kalah dari Maestro Henkel!

Hazel buru-buru membuka peti contoh bahan.

Sekejap kemudian, ia tertegun.

Pemandangan di dalamnya sungguh mengenaskan.

Sayuran layu. Ujung-ujungnya lembek, cairan kuning merembes. Ham berbau pesing, daging ayam berlendir. Mentega dan kacang-kacangan menguar bau tengik.

Gelap rasanya pandangan Hazel.

“Kenapa begini? Di surat pesanan jelas-jelas kutulis bahan segar dan dasar!”

Kepala pelayan mengintip dan mengeklikkan lidah.

“Wah, wah! Kurang ajar benar orang itu! Sampai sejauh apa dia meremehkan Nona sampai mengirim barang begini? Benar-benar pemasok tak tahu malu. Saya punya pemasok lain yang bagus—akan saya rekomendasikan.”

Hazel menatapnya.

Ia sangat yakin kepala pelayan ini telah berbuat curang.

Ini tidak benar! Sama sekali tidak benar!

Ia menatap tajam menuduh.

Tapi Abigael tetap tenang. Kelancangannya membuat Hazel geram.

Saat itu seorang pelayan istana mengintip ke dapur.

“Apa yang kalian lakukan? Pihak sana sudah mulai.”

Gawat.

Dengan bahan seperti ini, mereka takkan bisa menyajikan apa-apa.

Ibu Suri menaruh harapan padaku!

Hazel menggigit bibir.

Belum waktunya menyerah. Pasti ada jalan. Harus ada.

Dalam krisis, kepalanya berputar kencang.

Tiba-tiba satu ide terlintas.

Hazel cepat-cepat mengeluarkan isi peti.

“Cepat! Pisau dan mangkuk! Tambah api di oven!”

“Baik!”

Para pelayan, setidaknya kali ini, ikut tersadar. Mereka tegang dan berpencar.

Pisau dan talenan siap.

Hazel mengangkat bahan-bahan satu per satu dari peti. Ia memilih seketat mungkin bagian yang masih bisa dipakai.

Di meja terkumpul bahan-bahan:

Bawang, daging ayam, daging sapi, ham, jamur, daging kalkun. Kacang dan buah kering seperti pistachio dan cranberry.

Karena banyak yang busuk, bagian layak makan harus dipotongi dengan teliti; hasilnya potongan kecil-kecil. Dikumpulkan pun tak seberapa banyak.

Para pelayan bingung.

Dengan sisa-sisa seperti itu, mau dibuat apa?

Di tengah tatapan ragu, Hazel membumbui dan menumis masing-masing bahan. Gerakannya secepat kilat—sret ke sini, sret ke sana.

Lebih mencengangkan lagi, di sela-sela menyiapkan bahan ia menguleni tepung dan membuat satu loyang pie besar lengkap dengan penutupnya.

“Sini!”

Begitu loyang diserahkan, Hazel menyusun aneka isian itu berlapis-lapis dengan rapi. Penutup pie dipasang, sisi-sisinya dipres pas, lalu masuk oven lagi.

Pelayan istana kembali mengintip.

“Sudah siap? Pihak sana katanya sudah.”

“Di sini juga sudah!”

Hazel menyeka keringat di kening dan berseru. Tenggorokannya kering, tapi tak ada waktu untuk minum.

Para pelayan mengeluarkan pie besar yang matang keemasan. Pie diletakkan di atas nampan perak, dihias sederhana dengan daun segar, lalu dibawa ke aula jamuan.

Ibu Suri dan para menteri telah duduk menanti.

Maestro Henkel menyajikan duluan.

Begitu tutupnya dibuka, aroma harum mengepul. Saat uap tipis menyingkir, tampak hidangannya.

Di dasar piring menggenang saus keemasan bening. Di atasnya, potongan daging tebal ditata bertumpuk.

Entah apa tepatnya, tapi tampilannya sungguh menggoda.

Para pelayan istana membagi hidangan ke piring-piring pribadi Ibu Suri dan para menteri.

Aroma lembut memenuhi aula.

Ibu Suri dan para menteri menjepit sepotong daging, menyuapnya, lalu membelalak kagum.

“Benar-benar lezat. Ini hidangan apa?”

“Makanan para ksatria: dendeng daging, Baginda.”

Semua yang hadir berbisik-bisik. Menteri Pertahanan Milov bertanya,

“Pantas saja renyah di luar tapi punya kekenyalan yang sedap! Tapi bagaimana dendeng bisa terasa segar begini?”

“Ada teknik khusus saya untuk membuatnya dalam waktu sangat singkat,” jawab Henkel.

“Dan yang tampak seperti saus ini sesungguhnya cairan aroma-rasa khusus. Bila disajikan dengan dicelupkan ke sini, meski dendeng, kesannya seperti menyantap jamuan mewah.”

“Hebat! Sungguh hebat!”

Pujian pun mengalir.

“Kerja bagus, Maestro Henkel,” puji Ibu Suri, lalu menoleh.

“Nah, bagaimana dengan yang satu ini?”

Hazel terlalu tegang untuk bicara. Sebagai gantinya, ia membuka tudung saji.

Tampak bongkah pie besar yang dipanggang keemasan—setinggi sejengkal dengan penutup adonan.

Hazel mengambil pisau dan memotong satu irisan.

Isian yang rapat memenuhi bagian dalamnya tersibak.

Ham bersemu merah muda dan daging kalkun. Daging ayam yang matang sempurna. Di sela-selanya tersembunyi pistachio hijau dan cranberry kemerahan. Semuanya berpadu memikat.

Para pelayan terbelalak.

Sulit dipercaya pie itu dibuat dari sisa-sisa bahan. Padahal mereka melihat sendiri dan membantu dari dekat.

“Siapa sangka di balik rupa sederhana tersimpan tampilan seperti ini!”

Menteri Hukum Hartenberg lebih dulu menyuapkan sepotong pie.

Terus terang, ia sempat ragu mengapa Ibu Suri mempercayakan tugas sepenting ini pada gadis desa seperti ini.

Namun begitu mencicipi, keraguan itu lenyap seketika.

Tanpa sadar ia bertepuk tangan sambil tersenyum lebar.

“Lezat! Enak sekali!”

Hazel pun tersenyum kecil.

Tak ada kata yang lebih membahagiakan daripada itu.

“Walau bahannya beragam, rasanya bukan saling menutupi, malah saling mengangkat. Benar-benar rasa yang menyenangkan.”

“Bahan-bahannya kalau dilihat biasa saja, tapi kombinasi seperti ini terasa segar dan sangat enak.”

Pujian berdatangan.

Ibu Suri mengangguk.

“Kalau begitu, untuk bersenang-senang, coba sebutkan: menurut Anda, hidangan siapa yang lebih unggul?”

Para menteri berbisik sejenak. Akhirnya Menteri Pertahanan Milov mewakili menjawab,

“Dendeng rusa ala Maestro Henkel pun, pie istimewa Nona Mayfield pun, keduanya unggul. Tak bisa ditentukan mana yang lebih baik.”

Sekilas wajah Henkel mengeras. Dari mata para koki istana seolah memercik api.

Sebaliknya, Hazel menghela napas lega.

Syukurlah.

Ia berhasil melewati krisis dengan memanfaatkan sisa bahan. Benar-benar tipis.

Kali ini para pelayan bekerja cukup kompak.

“Terima kasih, semuanya.”

“…….”

Para pelayan kembali mengalihkan pandang tanpa kata. Suasana canggung dan kaku kembali menguar.

Di antara mereka berdiri Kepala Pelayan Abigael—wajahnya setebal biasa, seolah tak terjadi apa-apa.

Melihat itu, Hazel sadar.

Ada hal-hal yang memang tak bisa dipaksakan. Kadang mustahil memikul semuanya sekaligus.

Sadar itu menusuk hati.

Namun bagian yang busuk harus dipotong.

Tidak mungkin pemasok sengaja mengirim bahan buruk. Lalu bagaimana bisa bahan seperti itu sampai ke tangannya?

Itu yang harus diselidiki lebih dulu.

Hazel meninggalkan dapur sejenak dan menuju asrama para pelayan.

Abigael, sebagai kepala pelayan, memiliki kamar kecil sendiri.

Pintunya terkunci. Namun saat Hazel, dengan wajah keras, memohon, pengawal membuka pintu.

Di tempat sampah, Hazel menemukan kertas yang diremas.

Tiga lembar surat pesanan yang ia tulis kemarin. Abigael membuangnya begitu saja saat bersiap keluar.

Kenapa?

Jawabannya segera terkuak.

Saat Hazel bertanya pada para pengawal dan pelayan lain tentang gerak-gerik Abigael semalam, seseorang berlari-lari dari kejauhan.

“Nona! Nona!”

Ternyata pemasok bahan makanan, Salomon—orang yang menemui Hazel kemarin. Dengan wajah tersinggung, ia mengadu,

“Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba saya digugurkan?”

“Apa? Digugurkan?”

“Katanya mau pakai orang lain! Padahal bahan sudah saya siapkan baik-baik! Saya kemari hendak menyelipkan uang kepada kepala pelayan agar mau mempertimbangkan lagi, eh kebetulan bertemu Nona! Siang tadi kita sudah sepakat baik-baik, tapi kenapa mendadak berubah? Keterlaluan!”

“Bukan begitu.”

Hazel menunjukkan surat pesanan yang ia temukan di tempat sampah.

“Aku jelas-jelas menuliskannya begini dan memberikannya pada kepala pelayan. Tapi siang ini yang datang justru bahan-bahan berkualitas buruk.”

“Apa?”

Melihat surat pesanan, si pemasok baru paham dan salah paham pun luruh.

“Maaf. Saya keburu menyalahkan Nona. Ternyata kepala pelayan yang bermain di tengah.”

“Ya. Sekarang aku mengerti. Ia mengirim bahan jelek untuk mendepak Tuan Salomon, lalu merekomendasikan pemasok yang ada jalurnya, dan memungut komisi.”

Akhirnya siasat kepala pelayan tampak jelas.

Di tengah percakapan panas itu, Hazel mengetahui satu hal lagi.

“Apa? Kepala pelayan menahan kunci? Tidak masuk akal! Ikatan kunci yang bisa membuka semua lemari, juga ruang tunggu itu, seharusnya milik Nona! Ambil kembali sekarang juga!”

Salomon meledak.

Hazel tak tahu aturan itu.

Kelancangan Kepala Pelayan Abigael ternyata di luar dugaan. Ia segera kembali ke dapur.

Abigael duduk di kursi ruang tunggu. Melihat Hazel datang pun ia masih mengeluh, “Pinggang saya sakit….”

Hazel berdiri di hadapannya.

“Kuncinya. Berikan.”

Wajah kepala pelayan berubah sedikit. Namun cepat ia memasang lagi senyum licin.

“Duh, sepertinya Nona kurang paham—”

“Kau dipecat.”

Bibir kepala pelayan terhenti.

Mata melebar sebesar piring, menatap Hazel tak percaya.

“A-a… apa maksud—”

“Aku bilang: kau dipecat.”

Hazel mengulurkan tiga lembar surat pesanan dari tempat sampah.

Darah surut dari wajah Abigael.

Bisakah memecat kepala pelayan dapur istana?

Sejujurnya, Hazel juga tak tahu. Ia hanya nekat mengucapkannya.

Tapi melihat wajah Abigael yang mendadak pucat pasi, sepertinya memang bisa.

Pelajaran baru: saat belum paham batas wewenangmu, kadang diuji saja dulu.

“B-bagaimana… kau… ini….”

Menatap surat pesanan dengan wajah sepucat kapur, ia berusaha gagap, tapi Hazel menjawab tenang,

“Ada fakta mengejutkan: aku punya dua kaki untuk berjalan ke kamarmu. Juga dua tangan untuk menggeledahnya. Tak terpikir, ya? Saking meremehkan orangnya.”

“S-saya salah! Tolong maafkan saya sekali ini saja!”

“Taruh kuncinya dan keluar.”

“Nona!”

“Taruh kuncinya dan keluar.”

Hazel mengulangnya seperti burung beo.

Kepala pelayan sadar tak mempan. Dengan tangan gemetar ia menyerahkan ikatan kunci.

“…….”

Hazel menyimpannya.

Siapa pun yang melihat pasti merasa Hazel menangani ini dengan tegas.

Padahal sama sekali tidak. Ia gemetaran seperti Abigael.

Aku baru saja memecat orang!

Bagi Hazel, yang hidup sebagai orang kecil, ini peristiwa yang luar biasa.

Tak pernah terbayang ia akan melakukan hal semacam ini.

Ia menoleh—sunyi senyap. Para pelayan dapur menatap tanpa berani bernapas.

Dada Hazel sesak.

Selesai sudah.

Impian bekerja bersama dalam suasana akrab hancur berkeping-keping. Tembok di antara Hazel dan para pelayan kini menebal, mengeras.

Semuanya berantakan.

Sepertinya sampai akhir pun suasananya akan mencekam begini.

Dengan bahu merosot, Hazel berbalik.

“Sampai di sini dulu untuk hari ini.”

Ia melangkah gontai keluar Istana Silver Lion dan menuju Kantor Rumah Tangga Istana. Dengan membawa surat pesanan yang tak diserahkan Abigael sebagai barang bukti, ia menyatakan pemecatan kepala pelayan itu.

Para pejabat kantor terperanjat.

“Baik. Kalau begitu, kepala pelayan yang baru….”

“Tidak usah ada,” jawab Hazel, lalu pergi.

***

Malam itu.

Iskandar menyelinap ke pertanian saat sepi.

Namun suasana terlalu sunyi.

Ia melongok ke rumah kecil yang pintunya terbuka, lalu terperanjat. Hazel sedang berbaring di kamar, menyelimuti diri sampai kepala.

“Nona Mayfield! Anda sakit?”

Sebuah tangan keluar dari balik selimut, lemas melambai ke kiri dan kanan.

“Kalau begitu, kenapa berbaring begitu?”

“Itu… tidak bisa kukatakan.”

Suara lesu terdengar dari balik kain.

Iskandar gelagapan.

Berbaring berselimut sampai kepala? Dalam sehari apa yang sebenarnya terjadi?

Ia tak bisa menebaknya. Bahkan kabar-kabar seperti kemarin pun tak ada—seakan Ibu Suri sendiri turun tangan merapatkan mulut semua orang.

Bagaimanapun ini gawat.

Tidak boleh! Satu-satunya orang yang bisa menuntaskan jamuan adalah dia!

Aset tunggalnya tumbang. Kegagalan menjaga talenta. Semua salahku, pikirnya.

Sambil menyalahkan diri, ia berkata,

“Sepertinya para pelayan dapur tak terlalu menyukai salep serbaguna itu, ya? Tapi meski begitu, kenyataannya salep itu adalah yang terbaik di dunia tak berubah. Aku jamin.”

“Terima kasih… sudah bilang begitu….”

Selimut bergeser sedikit. Namun tak juga tersingkap.

Seluruh pertanian terasa berat dan muram.

Hanya karena sang pemiliknya berbaring berselimut, semuanya terasa berbeda—hingga istananya sendiri terlihat suram dari jendela rumah kecil itu.

Tak boleh begini. Bagaimanapun harus membuatnya bangkit.

Tiba-tiba ia mendapat ide.

Ia keluar dan bersuara keras,

“Kalau begitu tak ada pilihan. Tak mungkin pertanian ini dibiarkan terbengkalai; akulah yang akan bertani. Coba kulihat… tanah kosong ini kutanami rumput-rumput ini saja?”

“Apa?!”

Selimut terkuak. Hazel sontak bangkit.

“Jangan! Itu rumput liar yang seharian tadi kubersihkan!”

Ia berlari dan merebut cangkul dari tangannya.

Berhasil.

Sang pemilik pertanian menyingkap selimut dan bergegas keluar untuk menyelamatkan ladangnya dari tangan orang kota.

Begitu keluar, tenaganya segera pulih.

Semilir senja yang turun mengelus rambut Hazel.

Julia menyambut tuannya dengan lenguhan panjang. Ayam-ayam dan Tiberius berlarian ke pintu kandang. Tanaman di kebun sayur melambai-lambai seakan minta diperhatikan.

“Kalau memimpin orang, jarang hasilnya bisa seperti keinginanmu. Dikasih tugas begitu saja, tak dihitung, sudah berapa kali dikhianati. Akhirnya, meski waktu tak ada, tetap harus turun tangan sendiri supaya tenang.”

“Benar. Benar sekali.”

Keduanya duduk di belakang rumah, menyesap sari apel, berbagi kegundahan.

Gelap turun di atas pagar kayu pertanian.

Pada saat yang sama.

Para pelayan dapur melipat cucian di asrama sambil menghela napas berat.

“Sekarang kita gimana? Kalau kerja bagus, dicap jelek oleh para koki. Kalau kendor, kita dipotong habis.”

“Aduh! Gila ini! Serba salah!”

Saat itu, rombongan pelayan lain masuk ke ruang cuci—mereka yang bekerja di bawah Maestro Henkel.

“Duh, kalian….”

Mereka menatap dengan tatapan kasihan.

“Wajah kalian kacau sekali. Ya wajar sih. Pasti nggak ada semangat kerja.”

“Kami malah semangat kepingin masuk kerja besok. Maestro Henkel itu tokoh besar sungguhan. Setiap hari banyak sekali yang bisa dipelajari.”

“Sebaliknya ‘si nona’ di pihak kalian itu… ah, tak usah kubilang. Benar-benar tak becus. Hari pertama saja, katanya menyalakan oven tanpa membersihkan pipa asap?”

“Katanya semua orang pada lari pontang-panting. Duh, memalukan! Pemula saja tak akan melakukan itu!”

“Kalau tak bisa, kenapa nekat bersih-bersih sendiri? Lucu sekali!”

Mereka cekikikan lalu pergi.

Begitu mereka menghilang, para pelayan saling tatap. Wajah-wajah memucat seperti kertas.

“Maksudnya apa? Ellie! Kamu tak membersihkan pipa asap?”

“Aku sedang repot, ku minta TIna. Tina! Kamu nggak bersihkan?”

“Tadi Kepala Pelayan memanggilku, jadi kutitip ke Lucia… Lucia! Gimana sih!”

Baru saat itu mereka sadar.

Akhirnya hari itu tak ada satu pun yang membersihkan pipa oven. Kepala pelayan mengecoh mereka habis-habisan.

Wajah pelayan Gemma memucat habis.

“Astaga! Aku malah menyalakan apinya….”

Lalu kejadian berikutnya mudah ditebak.

Begitu jam kerja usai, mereka pulang tepat waktu. Di dapur yang menyisakan si nona seorang diri, oven memerah membara. Pipa yang buntu hampir saja meledak.

Si nona menanganinya sendirian. Dan ketika orang-orang berlarian datang, ia malah mengaku dirinyalah yang membersihkan oven.

Ia menanggung kesalahan para pelayan yang melakukan blunder besar—sambil menelan tawa cemooh orang.

Lupa membersihkan pipa hingga nyaris membakar dapur istana.

Itu kesalahan yang pantas diberhentikan.

Namun si nona justru melindungi mereka. Dan tak menunjukkan apa-apa. Kalau saja mereka tak kebetulan bertemu pelayan dari pihak seberang tadi malam karena sengaja berlama-lama di ruang cuci, mungkin mereka takkan pernah tahu.

“…….”

Tak ada yang tahu harus memasang ekspresi apa.

Satu hal saja jelas.

Mereka telah melakukan kesalahan yang tak termaafkan.

Selama ini mereka telah salah paham besar terhadap si nona. Mengingat yang sudah-sudah, malu rasanya mengangkat kepala.

Gemma merogoh saku.

Ia mengeluarkan kaleng kecil—hadiah yang Hazel sembunyikan di kotak alat kebersihan. Baru kini ia membuka tutupnya.

Di bawah sinar pelita, salep berkilau emas memantul. Di tengahnya, beberapa kelopak marigold kuning tampak lembut mengapung.

“Wah, cantik sekali!”

Mereka serempak berseru.

“Andai saja tadi langsung kubuka….”

Terlambat menyesal. Sebanyak apa pun penyesalan, tak mengubah yang sudah terjadi.

“Sudah terlambat. Nona pasti sudah sangat kecewa pada kita.”

“Benar. Terlalu terlambat.”

Para pelayan dapur bergumam muram.

Esoknya hari Minggu.

Hazel berangkat pagi-pagi ke Istana Singa Perak. Ia berniat membersihkan dapur yang masih semrawut, meski sendirian.

Melihat kotak alat kebersihan, hatinya nyaris kembali suram.

Jangan.

Ia meneguhkan hati, berjalan ke sudut ruangan. Baru hendak meraih gagang pel, langkah-langkah mendekat—para pelayan masuk. Mereka kaget melihat Hazel, saling melirik canggung.

Hazel pun kaget.

“Ini kan hari Minggu?”

“Kalau ada acara besar begini, kami memang tak libur.”

Hazel mengangguk saja. Ia mencelupkan kain pel ke ember.

Baru hendak mengepel lantai, beberapa pelayan berlari. Sebelum pel Hazel menyentuh lantai, mereka sudah menyikatnya bersih.

Apa ini?

Hazel menaruh pel, meraih lap. Baru hendak mengelap meja persiapan, para pelayan kembali melesat, mengusap debu dan mengeringkan sisa air, bahkan memoles sampai berkilat—semuanya sebelum lap Hazel menyentuh meja.

Lho, apa-apaan?

Ke mana pun ia melangkah, para pelayan lebih dulu menyambar pekerjaan. Sebelum tangannya terulur, semua sudah beres.

Hazel kebingungan.

Saking bingungnya, hanya satu pikiran yang muncul.

“Maaf, ini… bentuk baru dari pengucilan, ya?”

Para pelayan tertegun.

Mereka menunduk, tangan terkulai. Semua ragu-ragu. Gemma memberanikan diri membuka mulut.

“Kami tahu ini sudah terlambat. Tapi… bisakah Nona memaafkan kami?”

Baru mengucapkan itu, air mata pun meledak.

Tangis menular seketika.

Melihat semua pelayan terisak, Hazel makin salah tingkah.

“Kenapa? Jangan menangis.”

“Semalam kami baru tahu. Bahwa kamilah yang tak membersihkan pipa oven, tapi Nona yang menanggungnya.”

“Oh.”

Hazel terkejut.

Ia sudah hampir lupa kejadian hari pertama.

Baginya urusan itu selesai. Tak disangka para pelayan akhirnya tahu. Wajahnya memerah.

“Dulu aku juga sering melakukan kesalahan seperti itu….”

Kata-kata penghibur itu makin membuat mereka tersentuh.

“Kami benar-benar bodoh dan kekanak-kanakan. Nona sudah lebih dulu mendekati kami, tapi kami malah menutup hati. Kami sangat menyesal.”

“Nona sampai ditertawakan gara-gara kami. Memikirkan itu saja rasanya tak sanggup.”

“Kami akan ke pihak para koki untuk mengatakan yang sebenarnya. Kami akan memulihkan nama baik Nona.”

Mendengar pelayan-pelayan itu menangis sambil bicara, dada Hazel hangat dan perih sekaligus.

Akhirnya mereka mengerti.

Kelopak matanya panas—ia pun hampir ikut menangis. Tapi kalau Hazel ikut berkaca-kaca, para pelayan pasti kian gugup. Ia menahan diri dan menggeleng.

“Tidak perlu. Tak usah dibuka. Itu kan bukan niat jahat, hanya kekeliruan. Karena itulah aku mengaku melakukannya. Dan ada bagianku juga.”

Para pelayan makin menyesal.

“Nona sedalam ini hatinya…. Kami sungguh keterlaluan.”

“Orang-orang dapur istana wajar tak suka padaku. Banyak hal terjadi.”

“Bukan begitu. Yang beredar: kalau kami bekerja sungguh-sungguh di bawah Nona, para koki istana akan menandai kami. Setelah jamuan selesai dan kami kembali, kami akan sulit bekerja.”

Oh begitu.

Barulah Hazel benar-benar paham latar belakang mereka.

“Jangan khawatir. Tidak mungkin ada ‘tanda hitam’ setelah bekerja keras di acara besar istana. Akan kupastikan—bahkan setelah semua selesai.”

Janji yang menenteramkan.

Para pelayan saling pandang. Mereka mengusap air mata, lalu tersenyum.

Memang belum lama mengenal Hazel, tapi satu hal pasti: ia tidak berjanji kosong.

“Terima kasih banyak.”

“Terima kasih, Nona.”

Mereka serempak mengucapkan syukur.

Kekhawatiran lenyap. Kini mereka bisa bekerja tanpa beban.

Para pelayan berebut kembali ke tugas.

Mereka menyapu dan mengepel teliti—tak menyisakan sebutir debu pun. Peralatan masak digosok hingga kinclong. Bersama-sama mereka “membangunkan” dapur luas itu dari tidurnya.

“Situ sudah beres! Bantu gudang!”

“Di sini juga selesai!”

Segalanya kompak. Sambil mengangkat panci berat mereka tetap tertawa.

Hazel, sedang merapikan alat, berhenti sejenak menatap.

Inilah pemandangan yang ia idamkan: bekerja antusias, bertukar pendapat dengan para pekerja dapur profesional dalam suasana akrab.

Senyum merekah di pipinya.

Hazel pun kembali cekatan menggerakkan tangan.

Di hari Minggu ketika semua orang libur, mereka bercucuran keringat di dapur kiri Istana Singa Perak—bekerja dengan hati ringan.

Tak terasa lelah sama sekali.

Bekerja serasi seperti ini membuat para pelayan kian mengenal sifat sang nona yang memimpin mereka.

Setelah berjam-jam, saat pulang ke asrama—

Pelayan muda bagian kebersihan, Ellie, berhenti di lorong. Ia mengepalkan tangan.

“Huh… sial.”

Saat itu juga—

Sosok meluncur dari sela-sela pilar. Ellie hampir menjatuhkan jantungnya.

“Bu… Ibu Suri….”

Bayangan itu ternyata Ibu Suri dan kepala dayang. Kepala Ellie kosong seketika.

“Aku telah berbuat dosa besar! Bisa-bisanya mengumpat begitu tanpa tahu Ibu Suri dan Nyonya Kepala Dayang ada di sini!”

“Tak apa. Tak apa. Bisa terjadi.”

Ibu Suri menggeleng hangat.

“Tapi kenapa mengumpat sendirian? Persiapan jamuan seberat itukah?”

Ia bertanya lembut.

“Tidak, Yang Mulia. Bukan itu.”

Ellie menjawab.

“Pekerjaannya sama sekali tidak berat dan malah menyenangkan. Hanya saja, saat pulang, tiba-tiba aku kesal. Dua hari pertama kami benar-benar muram. Kami tak tahu kalau nona kami orang sebaik itu. Andai tahu dari awal, dua hari itu pasti semenyenangkan hari ini. Memikirkan itu… sayang sekali, jadi aku mengumpat.”

Mendengar kejujuran polos gadis kecil itu, Ibu Suri tersenyum.

“Nona kalian sebaik itu?”

“Ya!”

Ellie menjawab cepat—dan sebagai penegasan, ia mengangguk-angguk begitu semangat sampai nyaris copot kepala.

***

Kabar bahwa si gadis pertanian yang hendak berduel dengan Maestro Henkel telah memecat kepala pelayan dapur menyebar pelan-pelan.

“Baru mulai saja sudah banyak riak.”

Orang-orang istana berbisik-bisik.

Namun ketika Iskandar mendengarnya, ia berpikir:

Sepertinya dia sudah membereskan masalahnya dengan baik.

Dirinya pun mungkin ikut andil. Kalau kemarin ia tak “menyerbu” pertanian dan menyeret Hazel keluar, mungkin keesokan harinya gadis itu masih saja meringkuk di bawah selimut.

Pikiran itu membuatnya puas sendiri.

Di halaman depan Istana Utama, ia melihat kereta pemasok bahan pangan melintas perlahan.

Hazel menerima sendiri peti sampel bahan yang dibawa pemasok.

Dagingnya merah muda segar. Sayurannya seolah masih bernapas. Sama sekali beda kelas dengan barang-barang busuk yang diam-diam dikirim menggantikan pesanan oleh Abigail, si kepala pelayan yang kini sudah dilengserkan.

“Bagus sekali! Saya tanda tangani bukti penerimaannya, ya.”

“Terima kasih, Nona. Orang luar seperti kami, kalau ada yang main mata di dalam istana, biasanya hanya bisa pasrah. Itu selalu yang kami takutkan. Kali ini kami terselamatkan berkat Nona.”

Pemasok bernama Saloman itu tersenyum-senyum lalu berpamitan.

Segalanya kembali ke relnya. Meski tertinggal jauh dari pihak seberang, akhirnya keadaan stabil.

Tinggal masakannya. Harus menyajikan yang terbaik.

Mata Hazel berkilat. Ia akhirnya bisa fokus penuh.

Para pelayan dapur bergerombol di taman, ramai berceloteh.

“Nona kita tuh….”

“Makanya Nona kita….”

Orang lewat melirik pun mereka tak peduli; suara mereka lantang tanpa tedeng aling-aling.

Kalau sudah balik haluan, tajamnya bukan main.

Belakangan ini, tiap dua orang saja berkumpul, pembukanya pasti “Nona kita….” Mereka sampai lupa waktu karena asyik membahas Hazel.

Kebetulan Kepala Pelayan Joann lewat dan mengerutkan kening.

Ia memang mengawasi mereka. Ia sudah siap memergoki di tempat dan menegur keras.

Nah, dapat juga.

Ia mendekat dan menepuk punggung mereka keras-keras.

“Kalian ini! Mau sekalian jadi kubu pro-pertanian?!”

“Tapi Nyonya! Lihat ini. Salep serbaguna yang Nona kami buat dan hadiahkan. Tangan kami yang pecah-pecah karena cuci piring jadi mulus lagi. Lembapnya bukan main.”

“Lihat tanganku. Kepentok pintu lemari sampai kulitnya sobek. Kena air terus jadi bernanah, tak kunjung sembuh. Dikasih salep ini, semalam saja sudah berkeropeng. Ini lho, daging baru mulai tumbuh. Hebat kan?”

“Nyonya juga tampak ada luka bakar tuh. Coba oles.”

Mendengar puji-pujian yang berapi-api, Joann sejenak lupa tujuan awalnya—terlebih memang kulitnya sedang perih kena cipratan minyak.

“Sini kulihat.”

Ia mencolek sedikit salep kuning cerah dalam kaleng bulat yang isinya tampak kelopak marigold. Dioleskannya perlahan di bagian yang terbakar.

“Aduh! Astaga! Perihnya langsung reda!”

“Tuh kan? Kami kan sudah bilang!”

“Harumnya enak ya? Ada aroma herbal!”

Kepala pelayan ikut kagum, para pelayan kian berbunga-bunga.

“Seingatku pakai daun tumpangan air dan satu lagi apa ya? Yang jelas ramuan herbal. Dibuat dengan cara khusus dari pertanian Nona.”

“Pelayan dapur di seberang juga diam-diam iri. Kami sengaja oles di depan mereka.”

“Kalau habis, Nona bilang bisa dibuatkan lagi kapan saja. Kami benar-benar beruntung.”

Mereka tak habis-habisnya membanggakan.

Seorang bangsawan yang sejak tadi membaca koran di bangku seberang menurunkan surat kabarnya. Wajah berrahang tegas itu tersingkap.

Dialah Wolfhound.

Pria yang pernah mendesak Baroness Fiorenti. Juga pemodal besar yang diam-diam membelakangi Kongsi Mamon dalam bisnis Air Mawar Amor.

Obrolan para pelayan dapur menarik perhatiannya. Ia menyimak setiap kata, lalu berdiri.

Wolfhound menghampiri gerombolan pelayan itu.

“Jadi ini salep buatan Nona Hazel itu?”

“Benar, Tuan Ksatria. Ini salep serbaguna buatan tangan Nona kami.”

“Serbaguna, ya. Khasiatnya sehebat itu?”

“Tentu! Kami sudah coba macam-macam. Yang sesensitif dan selembut tapi manjur seperti ini baru kali ini. Barang begini satu koin emas pun rasanya tak sebanding.”

“Begitu?”

Kebetulan di tangannya ada sayatan kecil karena pisau kertas. Ia meminta sedikit, lalu mengoles.

Langsung kena.

Nyeri yang mengganggu mereda halus. Denyut perihnya seperti diselimuti sejuk.

Dan aromanya. Hanya salep mungil, tapi rasanya seperti mendapat perawatan istimewa.

Hidung pebisnis yang piawai mencium bau uang pun bereaksi.

Ini barang benar. Salep emas itu tampak bak bongkah emas.

Harus dibujuk baik-baik.

Pikir Wolfhound.

Penyanyi tenor Andre Delgado dulu berpikiran sama—tapi karena dungu dan sembrono, semuanya kandas.

Namun aku berbeda.

Dengan langkah mantap ia berbalik, menyetop kereta, lalu melaju ke deretan pertokoan mewah.

***

Hazel selesai memeriksa dapur dan hendak keluar ketika ia berhenti.

Di gerbang pelataran dalam Istana Singa Perak berdiri seorang bangsawan paruh baya. Melihat Hazel, ia cepat menghampiri.

“Nona Mayfield!”

“Siapa Anda?”

“Saya Ksatria Wolfhound.”

Ia memperkenalkan diri dengan sopan.

“Memang baru bertemu, tapi saya sudah banyak mendengar kabar tentang Anda. Jangan salah paham. Bukan karena niat buruk—saya ingin mengajukan satu tawaran.”

“Tawaran apa?”

Wolfhound memberi isyarat ke bangku, mengajak duduk. Namun Hazel enggan duduk bersama orang yang belum dikenalnya, jadi ia berpura-pura tak mengerti.

Terpaksa, Wolfhound tetap berdiri dan menyodorkan hadiah.

Makaron kelas atas dan anting safir biru. Hadiah favorit gadis seusia Hazel, pikirnya.

“Indah sekali!”

Hazel kagum.

Hanya saja, ia tak mengerti kenapa pria ini tiba-tiba memamerkannya. Sedang pamer?

“Kenapa tak diambil?”

“Maaf? Untuk apa saya ambil?”

“Itu tanda itikad baik dariku. Aku ingin bekerja sama memproduksi dan menjual salep serbagunamu. Bukan hendak menipu. Soal kontrak bisa kita rundingkan agar sama-sama untung. Bagaimana? Demi itikad baik, pertimbangkanlah.”

“Tidak.”

Hazel menolak saat itu juga.

“Saya tak bisa meleng ke mana-mana. Saya sedang menyiapkan Jamuan Ksatria Pahlawan. Lagipula, sekalipun tidak, saya tak bisa berbisnis dengan Anda.”

Bagaimana bisa mempercayai orang yang baru kenal lantas menyodorkan hadiah mahal?

Hazel tak menyukai pria ini. Kalau bicara urusan usaha, orang seperti Rose jauh lebih tepat.

Jadi ia berbalik tanpa banyak kata.

Wolfhound melongo menatap punggung Hazel yang melaju cepat. Serasa ditampar.

Tak mempan sama sekali!

Gadis pertanian itu tidak larut dalam mimpi-mimpi kabur ala para muda-mudi yang baru masuk kalangan sosial. Ia sangat realistis.

Kalau begitu, tak ada pilihan.

Wolfhound memutuskan memakai rencana cadangan.

Ia kembali mengelilingi taman untuk mencari para pelayan Hazel. Setelah berkeliling beberapa kali, ia menemukan satu orang.

“Ada luka lagi. Boleh kuberi sedikit salep serbaguna itu?”

Ia menyodorkan kaleng kecil yang sudah disiapkan.

“Tentu!”

Pelayan itu mengeluarkan salep miliknya.

Ia merasa ini demi menyebarkan kebesaran Nona mereka, jadi dengan senang hati mencedok banyak-banyak.

Hari kunjungan para ksatria pahlawan kian dekat. Surat kabar memberitakannya heboh.

Hazel ingin membaca koran-koran itu.

Namun koran yang biasanya bertebaran di bangku Taman Besar entah mengapa lenyap. Sesekali terlihat pun, para abdi istana atau pelayan lebih dulu menyambar.

Kebetulan, Ksatria Valentine datang membawa setumpuk koran.

“Nih. Lap kaca jendela.”

Hazel gembira menerimanya. Ia menyeduhkan teh wangi lemon grass dan menyuguhkan kukis mentega, lalu membaca.

Para Ksatria Pahlawan datang lebih cepat dari jadwal. Kamis minggu ini mereka masuk istana. Malam itu juga jamuan diadakan.

Fakta yang sudah berkali-kali ia dengar itu terasa tetap menghentak.

Hazel sudah menjerit pagi tadi begitu membuka mata. Tapi ia kembali menjerit.

“Sudah Selasa!”

“Kalau begini, waktu terasa melesat.”

Iskandar mengiyakan.

Mereka kembali menekuni koran.

Soal jamuan, hanya Maestro Henkel yang disorot—rekam jejak, prestasi, penilaian para bangsawan…. Satu koran saja yang agak berbeda.

“……Melawan Maestro Henkel itu, Nona Hazel E. Mayfield—pemenang Lomba Masak Istana ke-25—akan menantang duel.”

Satu baris tentang Hazel diselipkan dengan gigih.

Hazel membalik untuk melihat nama korannya.

“Tebakanku benar: Koran Fajar. Kantor tempat Kitty bekerja.”

Ini pasti ulah Kitty. Hebat bisa memaksa satu baris itu masuk. Mungkin saja ia menyelipkannya diam-diam.

Kitty bisa. Di mana pun, anak itu selalu piawai.

Hazel melipat koran.

“Lusa siang semuanya benar-benar mulai. Salahku sudah janjian besok malam dengan Kitty. Kasihan Kitty—pasti sudah menunggu-nunggu! Walau tak bisa makan malam bersama, aku ingin menemuinya sebentar untuk menyerahkan keranjang. Bolehkah?”

“Kenapa tidak?”

Iskandar memiringkan kepala.

“Menjelang acara penting, jangan ada ganjelan di hati. Kondisi terbaik melahirkan hasil terbaik, bukan?”

Lakukan saja apa yang kau mau.

Itu izin langsung dari Kaisar.

Bagi Iskandar, Hazel adalah satu-satunya harapan jamuan kali ini.

***

Suasana tegang mulai merayap di dapur Istana Singa Perak.

Hazel duduk di bangku depan meja olah, mengingat menu jamuan terakhir yang sempat dimuat di koran.

Daging sapi, babi, ayam; kelinci hutan panggang yang perutnya dijejali buah ara madu; sosis dipanggang berbalut daun salam; semur berisi sepuluh jamur langka; hidangan merak yang butuh seminggu untuk dibuat; kukus aneka boga bahari penuh lobster, udang besar, dan sotong; hidangan sayur ringan yang menyehatkan; sampai masakan suku-suku perbatasan yang sarat rempah eksotis….

Istana benar-benar sudah menyiapkan segalanya. Dengan mempertimbangkan selera tujuh orang yang berbeda, mereka menampilkan menu selengkap mungkin—dari yang megah sampai yang bersahaja.

Namun para Ksatria Pahlawan katanya tetap tak makan dengan lahap.

Lalu, hidangan seperti apa yang harus disajikan?

Hazel memutuskan menempuh jalan utama: memilih menu-menu yang paling ia kuasai dari segala jenis masakan yang pernah dibuat. Ia juga menambahkan beberapa kreasi baru yang selama ini hanya ada dalam bayangannya.

Pemasok Saloman menyiapkan semua bahan dengan sepenuh hati.

Ada pula kebanggaan Hazel: sayur-mayur dari pertaniannya. Ia membawa sebanyak mungkin sayur dan herba yang ditanam dan dipanen dengan penuh perhatian.

Bumbu dan saus andalannya juga lengkap. Dengan bantuan para pelayan, ia membuatnya telaten berjam-jam.

Singkatnya, dapur siap tempur.

Hazel melirik ke dalam oven.

Ayam yang direndam anggur sedang matang, gaya masaknya di antara kukus dan panggang.

Di lemari es es batu, kue jeruk Amelsan tengah didinginkan—dengan daging buah utuh yang kenyal, rasa asam-manisnya segar.

“Dan lalu….”

Saat ia menelusuri menu-menu yang hendak diuji, Ellie merapat dan berbisik di telinganya.

“Nona, tahu tidak?”

“Tahu apa?”

“Kalau merayap di dinding dari balkon lantai dua Istana Singa Perak, kita bisa sampai tepat di atas jendela dapur sebelah.”

“Serius? Kamu tahu dari mana?”

“Baru saja aku ke sana.”

Hazel hampir menjatuhkan gulungan kertas saking kagetnya.

“Itu berbahaya, kenapa begitu?”

“Aku terlalu penasaran, bagaimana keadaan mereka. Dan mereka liciknya minta ampun! Bahasa isyarat dipakai juga, semua obrolan super-rahasia. Tapi satu hal kudapat: mereka pun sama susahnya menentukan menu.”

“Haa….”

Para pelayan ikut lega mendengar Ellie. Di sisi lain mereka masih tak habis pikir, lalu mulai ramai berkomentar.

“Aku sangat mengagumi para ksatria. Katanya kalau bertemu orang miskin, mereka akan mengosongkan kantongnya. Jubah sampai sarung pedang pun penuh tambalan. Hidupnya hemat dan sederhana! Tapi kok urusan lidah jadi begitu rewel!”

“Mau bagaimana lagi. Selera itu tak bisa dipaksa. Ayahku juga miskin, tapi pilih-pilihnya bukan main!”

“Tetap saja, ‘ksatria berlidah kecil’ kedengarannya aneh. Pasti karena racun basilisk pernah muncrat ke mulut mereka, jadi indera pengecapnya mati rasa. Waktu jamuan lalu pun kubilang begitu, tapi tak ada yang mau dengar.”

Hazel tersenyum mendengar gerutu Gemma.

Di saat seperti ini, satu-satunya yang bisa ia ajak berpendapat tanpa canggung hanyalah para pelayan dapur ini. Syukurlah mereka ada.

Sambil berdebat ringan, ayam anggur pun matang.

Para pelayan bersorak melihatnya. Mereka mengambil satu potong, mencicip, lalu langsung melupakan jaim dan menyantapnya lahap.

“Nona! Enak sekali!”

“Benarkah? Ada yang kurang?”

“Ada! Kurang banyak!”

“Betul! Minimal satu ekor per orang!”

Hazel mencatat teliti reaksi mereka.

Di sisi lain, ia juga membuat banyak kue dan penganan untuk dimasukkan ke keranjang dan diam-diam ditaruh di depan lapangan latihan ksatria pada malam hari.

“Pro-pertanian berani melanggar titah Permaisuri Permaisuri!”—begitu fitnah kaum anti-pertanian.

Lewis, takut kabar miring itu terdengar, sama sekali tak menampakkan batang hidungnya ke pertanian. Pasti sepi rasanya.

Kue jeruk itu pasti sedikit menghangatkan hati Lewis.

Sebagai balasan, Lewis memenuhi keranjang kosong dengan cokelat.

Sehari sebelum jamuan.

Hazel membawa cokelat itu ke dapur dan membaginya riang kepada para pelayan.

“Cokelat hadiah dari Tuan Lewis?”

Ia adalah ksatria gagah yang semua orang kagumi. Wajah para pelayan memerah.

Anehnya, makin makan cokelat, pipi mereka kian memerah. Kepala Hazel pun mulai ringan.

Ia teringat ucapan Lewis:

—Cokelat yang dijual di ibu kota rasanya amburadul. Paling tidak, kalau beralkohol sedikit masih lumayan!

Begitu rupanya.

Tak buruk juga—sedikit hangat alkohol melemaskan tegang sesaat.

Menjelang sore, persiapan final dimulai.

Yang terpenting adalah menata dapur agar alur gerak besok tidak saling mengganggu.

Pisau pengupas apel, alat pencabut biji ceri, rak tusuk sate—semua yang tak terpakai besok disingkirkan.

“Sebaiknya Nona istirahat.”

Para pelayan menyeduhkan teh dan menuntun Hazel menuju ruang destilasi—bukan ruang tunggu kepala pelayan yang dulu direbut Abigail, melainkan ruangan yang sejak hari pertama menarik hati Hazel.

Apakah masih ada yang perlu disempurnakan dari menu?

Para Ksatria Pahlawan, ya….

Ia tenggelam dalam pikirannya.

Tiba-tiba di luar terdengar gaduh.

“……tidak tahu malu!”

Suara para pelayan naik karena kesal.

Hazel cepat keluar.

“Ada apa?”

Para pelayan tersentak. “Aduh kebesaran suaranya!” Mereka saling menyalahkan, tapi wajahnya tetap tak bisa menyembunyikan geram.

“Ada apa?”

“Begini, Nona…. Coba lihat ini!”

Mereka menunjukkan sebuah kaleng salep.

Salep itu tampak nyaris identik dengan salep serbaguna yang Hazel buat dan hadiahkan: warna, aroma, susunan kelopak bunga, bahkan wadahnya. Sepintas, mustahil dibedakan.

“Kok bisa begini? Salep Nona dibajak mentah-mentah! Pasti ulah bangsawan paruh baya itu! Ia minta dikeruki salepku, rupanya untuk ini!”

Hazel pun teringat seseorang.

“Ksatria paruh baya itu, kan?”

“Benar! Rahang kotak!”

“Ia menawariku bisnis bersama. Tentu kutolak.”

“Berarti dia pelakunya! Benar-benar licik!”

Hazel tersenyum pada para pelayan yang mendidih.

“Marigold, daun tumpangan air, dan chickweed bukan temuanku. Bagus kalau khasiat herba yang baik tersebar luas, kan?”

Tetap saja mereka manyun.

“Kami keberatan! Dan orang-orang mulai ngoceh tidak karuan. Katanya salep palsu ini lebih manjur dari salep Nona.”

“Pembohong! Tak mungkin. Ini tiruan murahan. Cepat bilang kalau ini palsu!”

“Baik, baik.”

Demi menenangkan, Hazel memasukkan kaleng itu ke sakunya, masih tersenyum karena lucu melihat tingkah mereka.

Bahwa ksatria paruh baya itu meniru salep Hazel, secara indikasi jelas.

Tapi meski menyebalkan, mau apa lagi.

Mencampur lilin dan minyak marigold jadi salep sudah lama diwariskan dari mulut ke mulut; daun tumpangan air dan chickweed pun sama. Tinggal bilang ia mendapatkannya dari tempat lain.

Memikirkan soal orisinalitas, pikirannya merambat.

Toh, pikiran manusia sering berkelindan di tempat yang sama. Menciptakan gagasan yang betul-betul belum pernah ada itu sulit.

Jamuan ini pun begitu.

Waktu lalu, dapur istana sudah menjajal hampir semua ide. Mustahil membuat sesuatu yang sepenuhnya baru.

Menu yang Hazel rancang juga demikian—paling variasi.

Kalau begitu, apa ini jalan buntu?

Mungkin dari awal cara berpikirnya keliru.

Saat itu juga, satu ide menyambar.

“Ah?”

Keluh bodoh lolos dari bibir.

Mengapa baru terpikir sekarang?

Ia cepat mencatat, lalu menatap coretan itu.

Ekspresi kosongnya perlahan berganti.

Ya! Ini dia!

Hazel tersenyum lebar.

Sepertinya ia akhirnya menemukan cara menjamu para Ksatria Pahlawan dengan cemerlang.

Saat itu lonceng berbunyi di luar.

“Ah!”

Hazel terlonjak bangun. Sudah jam enam.

Pertama ke Kitty dulu. Pulang nanti baru susun ulang menu.

Dengan pikiran itu, ia bergegas keluar ruang destilasi.

Saat menyelipkan tangan ke saku, ada sesuatu. Kaleng salep yang tadi disodorkan para pelayan.

Mumpung hati ringan, ia buka. Ia colek sedikit dan mengoles di punggung tangan.

“……!”

Wajahnya seketika menegang.

“Nona?”

Para pelayan menghampiri, terkejut.

“Kenapa?”

Alih-alih menjawab, Hazel menyentuhkan ujung lidah pada salep itu.

Begitu mencicipi, ia meringis. Ia lari ke bak cuci dan berkumur.

“Comfrey! Mereka memasukkan comfrey!”

“Itu apa?”

“Herba yang ampuh untuk luka bakar, luka sayat, dan berbagai peradangan. Maksudku, dulu ampuh. Belakangan terbukti mengandung toksin yang merusak organ dalam, jadi orang-orang mencabut dan mengeringkannya sampai mati. Salep ini sama sekali tidak boleh dipakai anak-anak, orang tua, dan ibu hamil. Harus segera dilarang!”

“Pantas! Sudah kuduga!”

“Kalau bukan Nona, celaka sudah!”

Para pelayan berebut bicara. Hazel bertanya:

“Bagaimana caranya melarang sekarang juga?”

“Karena sudah beredar di masyarakat, lapor ke kantor polisi secepatnya yang paling cepat. Kebetulan dekat sini. Pergi dan sampaikan pendapat profesional Nona.”

Hazel teringat deretan gedung besar di jalan menuju alun-alun—tertulis lembaga penegak ketertiban dan kesejahteraan umum.

“Kebetulan. Sekalian aku memang mau keluar. Tolong bereskan ini, ya.”

“Tentu! Serahkan pada kami!”

“Terima kasih!”

Hazel pun bergegas.

Namun….

Seseorang memperhatikan punggungnya.

Seorang abdi istana yang sedang mengelap patung di koridor.

Ia terlilit utang judi. Ia juga kenal Wolfhound—pernah beberapa kali menjadi kurir kecil yang bertemu di rumah judi.

Ia tahu Wolfhound akhir-akhir ini sibuk apa.

Kesempatan dapat uang.

Ia segera mencari Wolfhound dan melapor.

Wolfhound terperanjat mendengar cerita si abdi.

“Apa?”

Ia seketika menanggalkan segala urusan dan melesat ke pabrik salep barunya dekat rumah, lalu mencekik apoteker.

“Bagaimana bisa kau masukkan herba berbahaya! Mau hancurkan dagangan?”

“Sendirinya Tuan menyuruh menjiplak dan membuat salep yang lebih manjur.”

Apoteker menggerutu.

“Sial! Bagaimana mereka tahu soal comfrey? Orang-orang sini pun tak paham itu apa.”

Wolfhound tertegun.

“Artinya, selama si gadis kampung itu bungkam, takkan ada masalah?”

“Benar. Sampai ada yang sengaja menyelidik, takkan ketahuan.”

“Begitu?”

Ia mengusap dagu, berpikir.

Hazel itu benar-benar mengganggu.

Sampai kapan hendak menghalangi? Usaha baru saja mau berbuah! Air Mawar Amor gagal gara-gara dia, sekarang ini pun? Bukannya bergabung, ia malah selalu menjegal.

“Paksa saja agar bungkam,” saran apoteker.

Wolfhound menggeleng.

“Kalau dia takut pada ancaman, takkan berani membuka pertanian terkutuk itu di dalam istana. Pengalamanku: yang mengganjal di awal, kelak jadi bara yang lebih besar. Jalan kita masih panjang. Lebih baik bersihkan sekalian. Diam-diam.”

“Pak? Zaman begini melakukan itu bahaya sekali. Lagipula, siapa yang mau menjalankan?”

“Kau tak tahu. Orangnya selalu ada. Sisa-sisa organisasi pelabuhan itu—negara sedang menggulung mereka, porak-poranda. Mereka butuh uang, apa saja disikat.”

Wolfhound cepat menghubungi orang-orangnya.

Hazel pulang ke pertanian mengecek keadaan, lalu segera mengambil keranjang untuk Kitty dan berangkat.

Ia keluar istana dan melangkah cepat.

Baru memasuki gang kecil menuju kawasan kantor pemerintahan—

Dari depan, kereta barang melaju. Hazel minggir.

Saat itu juga—

Dari bawah terpal, tangan-tangan pria mencuat. Mereka menyambar Hazel dan menariknya ke atas.

Saking tak terduganya, pikirannya kosong sesaat.

Penculikan?

Gerak mereka licin. Dari kereta yang melaju, mereka ‘memetik’ pejalan kaki layaknya barang.

“Tolong!”

Ia menjerit, namun mulutnya langsung dibekap. Hazel meronta sekuat tenaga, tapi tubuhnya sudah separuh lebih terseret masuk.

Tak boleh diculik tanpa jejak.

Ia berbuat akal sekejap. Keranjang yang tersangkut erat di lengannya ia “jatuhkan” seolah terpental.

Buk!

Keranjang terbalik menghantam tanah. Isinya beterbangan.

Bersamaan itu, Hazel sudah seluruhnya diseret masuk ke bawah terpal kuning.

“Tolong! Aku dicul—!”

Mulutnya kembali disumbat.

Dalam gelap, seseorang memasang kekang di mulut Hazel. Tangan ditarik ke belakang dan diikat erat. Lalu sebuah karung disarungkan di kepalanya.

Astaga.

Hazel masih sulit percaya.

Secepat ini ia diculik!

Mereka profesional.

Mereka para penjahat yang terdesak oleh operasi sapu berskala besar negara. Demi uang kabur, apa pun dilakukan. Menculik seorang gadis—sepele.

Mereka mengira aksinya kembali sempurna.

Hanya satu hal yang tak mereka tahu:

Sasaran mereka kebetulan punya janji saat ini.

Kitty terus menoleh kanan-kiri di depan kantor redaksi.

“Kenapa lama sekali?”

Sudah lewat 30 menit dari jam tujuh—berani-beraninya membuat Kitty Diavelli menunggu setengah jam! Biasanya sudah ia tinggal.

Tapi ini Hazel.

Kitty tetap menunggu. Lima puluh menit pun berlalu tanpa bayangannya, sampai akhirnya lewat satu jam.

“Ya ampun!”

Di sini mulai aneh.

Apa ia batal karena terlalu sibuk?

Tapi Hazel bukan tipe yang menggantung orang. Kalau tak bisa datang, pasti membatalkan lebih awal.

Jangan-jangan tersesat?

Kitty mengerutkan hidung.

Daerah ini ruwet. Kalau tak menengok papan nama jalan tiap beberapa detik, mudah tersasar. Bagi gadis pertanian, bisa jadi sulit.

“Huh, baiklah. Aku jemput.”

Kitty berbalik.

Ia menelusuri jalan balik menuju istana, meneliti setiap sudut. Semoga ia lekas menemukan sahabatnya berambut cokelat gelap yang mungkin kebingungan.

Dan ia melihatnya.

Di sebuah gang menuju kawasan kantor, empat—lima orang berkerumun. Ia mendekat. Sebuah keranjang tergeletak.

Jantungnya melorot.

Keranjangnya mirip sekali dengan milik Hazel.

“Jangan-jangan….”

Ia menerobos kerumunan.

Aroma mentega menyeruak.

Bau yang sangat dikenalnya. Sejak peristiwa pesta teh, aroma itu tertanam di kepala—tak mungkin salah.

Mentega Hazel!

Di samping bongkah mentega emas yang gepeng, tergeletak sebotol sari apel. Kue krim, ham dan sosis berdebu, roti kampung, telur pecah….

Semuanya sesuai dengan daftar yang Hazel janji akan bawa.

Darahnya serasa membeku.

“Ada apa di sini barusan?”

Ia buru-buru menanyai orang-orang yang berkerumun.

Wajah mereka segera dipenuhi kewaspadaan. Mulut terkatup rapat; mereka menyingkir pelan-pelan.

Kitty berpikir cepat.

Ia berlari ke sebuah toko dan membeli brendi yang dicampur telur dan gula. Minuman itu ia sodorkan pada seorang nenek berambut putih sambil membuka percakapan.

“Nenek kaget ya?”

“Aduh, terima kasih, Nak! Tapi kamu ini….”

“Saya bukan orang aneh. Saya putri pemilik toko bahan makanan. Kurir kami sering bikin ulah. Saya takut dia menjatuhkan keranjang lagi lalu pura-pura tidak tahu.”

Sang nenek mengedip. Ia sebenarnya paham kalau dalam urusan begini orang sebaiknya bungkam, tapi lidahnya gatal.

“Entahlah. Tadi ada yang seperti bertabrakan dengan kurirmu, ya? Kami juga kurang tahu. Kami keluar karena mendengar suara besar, lalu melihat sebuah kereta kabur terburu-buru. Di tempat itu sudah berantakan begini.”

“Kereta?”

“Kereta barang. Bertirai terpal kuning, dan di sampingnya memuat tong arak besar.”

Nenek itu menyeruput brendi dan berusaha menjawab sebaik mungkin.

Apakah kereta itu yang menculik Hazel?

Kemungkinannya tinggi.

Kitty adalah mantan putri bangsawan yang lama tinggal di ibu kota. Hampir saban hari ia menghadiri jamuan teh, pesta, dan piknik. Soal jalan kereta, ia hafal luar kepala.

Ia mengangkat rok dan berlari kencang.

Sifatnya yang teliti dan ngotot bersinar di sini. Sampai di jembatan, ia tidak langsung menyeberang; ia lebih dulu bertanya pada orang-orang.

“Apakah kereta barang bertirai kuning yang membawa tong arak besar lewat sini?”

“Tidak. Ke arah Jembatan Menara Jam.”

Beberapa orang menunjuk.

Dengan cara itu—bertanya ke sana-kemari, menyelipkan uang, bahkan mempermainkan statusnya sebagai wartawan—Kitty menguntit tanpa menyerah. Hasilnya, ia belum terlambat.

Ia berlari sekuat tenaga mengejar sampai gerbang kota.

“Kereta bertirai kuning itu?”

Syukurlah, penjaga gerbang masih mengingatnya.

“Barusan lewat.”

“Ke arah mana?”

“Masello.”

Di balik punggung penjaga tampak antrean panjang. Begitu lolos dari ruas jalan yang macet, kereta sewaan dan kereta barang itu melesat seolah bersayap.

Menculik orang lalu lihai kabur begitu!

Bikin darah mendidih.

Sekukuh apa pun Kitty, sampai di sini ia tak berdaya. Ia menumpang kereta kosong dan segera kembali.

Ini harus diberi tahu. Para komandan Ordo Ksatria Suci. Para menteri Kementerian Dalam Istana. Siapa pun—secepat mungkin!

Memasuki pusat kota, jalan ternyata macet. Kitty melompat turun dan berlari sekuat tenaga ke arah istana.

Akhirnya, gerbang raksasa tampak.

Di sinilah masalahnya. Kitty ragu sejenak.

Ia diusir dari istana karena kasus Belladonna. Ia dilarang masuk selamanya. Ketahuan—hukuman mati. Padahal waktu genting.

Untuk sementara ia merundukkan topi dan menaikkan kerah, menutupi wajah. Ia menghampiri orang-orang yang baru keluar istana.

“Tolong! Sampaikan pesan saya ke dalam….”

Namun semua orang berlalu. Tak seorang pun mau meladeni gadis mencurigakan yang menutupi wajah.

Ia pun tak bisa meneriakkan kabar itu.

Dalam kasus penculikan, harus hati-hati. Salah melapor, pelaku tahu dan bisa langsung menghabisi sandera. Kabar hanya boleh disampaikan diam-diam pada orang yang bisa dipercaya.

Bagaimana ini?

Kitty gelisah, menghentak-hentakkan kaki.

Saat itu.

Iskandar sedang duduk di kamar, memeriksa jadwal untuk esok hari.

Ia memastikan rute para Ksatria Pahlawan dari gerbang istana menuju aula jamuan tak menemui hambatan, lalu meletakkan berkas. Ia menggeliat dan melongok rumah tetangga di bawah.

Aneh. Gelap gulita. Padahal besok jamuan, katanya Hazel hanya akan mengantarkan keranjang?

Mungkin saja ia terlambat. Tetapi firasatnya buruk.

Hazel adalah satu-satunya harapan jamuan esok. Sehelai rambutnya pun tak boleh lecet.

Iskandar sontak berdiri. Ia takkan tenang sebelum melihat sendiri Hazel selamat.

Ia segera menyamar dan keluar. Dalam sekejap ia mencapai gerbang istana.

Mungkin ia sedang kembali?

Ia berdiri di sekitar gerbang, menoleh-noleh.

Saat itu juga, sudut gelap menarik perhatiannya—seolah ada yang menariknya ke sana.

Ia merasakan aura khas seseorang.

Kenapa tiba-tiba?

Ia heran, lalu tersadar.

Ia pernah fokus pada aura yang sama sebelumnya. Ingatan tubuhnya menyimpan sensasi itu, dan saat menemukan orang yang sama, waspada pun bangkit.

Iskandar menoleh ke arah itu.

Seseorang sedang melakukan tindakan nekat: mencoba memanjat tembok istana menghindari mata penjaga. Seberkas rambut hitam menyembul dari bawah topi yang ditarik rendah.

Iskandar kaget.

Putri Diavelli?

Penampilannya memang jauh berbeda dari terakhir mereka bertemu, tapi mudah dikenali. Itu pasti Christina Diavelli—mantan putri bangsawan yang, setelah berbagai peristiwa, akhirnya menjadi sahabat Hazel.

Kenapa sendirian di sini? Seharusnya mereka berdua sedang bertemu!

Ia bergegas menghampiri. Kebetulan Kitty baru saja gagal untuk keempat kalinya memanjat tembok. Saat ia berbalik, sosok hitam tiba-tiba mendekat—ia hampir menjerit jantungnya loncat.

“Waa!”

Kitty menjerit pendek dan hendak lari. Iskandar cepat menghadangnya dan mengangkat tangan menenanginya.

“Ada apa?”

Ia menutupi wajah dan merendahkan suara.

Mengetahui si pria tak hendak menangkapnya, Kitty langsung berubah—ia mencengkeram Iskandar.

“Tuan ksatria! Siapa pun tuan mengabdi, maukah tuan mendengar permohonanku atas nama kehormatan ksatria?”

“Tentu.”

“Janji! Tolong sampaikan ke dalam istana! Para komandan Ordo Ksatria Suci! Para menteri Kementerian Dalam Istana! Siapa pun dari kubu pro-pertanian! Katakan cepat: Nona Hazel diculik!”

“Apa?”

Iskandar terperanjat.

“Sungguh! Lokasi penculikan di gang kecil arah kawasan kantor dari pusat kota! Kereta barang bertirai kuning dengan tong arak di samping menculiknya! Aku mengejar, tapi kereta menembus keluar kota! Arah Masello!”

“Baik!”

Bahkan sebelum Kitty selesai, ia sudah berbalik.

Berani-beraninya menculik satu-satunya harapanku?

Amarahnya menyala. Tanpa melihat kiri kanan, ia lenyap secepat angin.

Lalu bagaimana?

Kitty menunggu dengan hati berdebar. Tak lama, ia melihat sesuatu.

Di tembok sisi buta yang diam-diam sudah ia tandai untuk dipanjat, seberkas hitam melayang.

Seekor kuda hitam. Ia seperti bersayap, melompati tembok begitu saja, membawa seorang ksatria, lalu lenyap di antara gelapnya kota.

Apa… ksatria itu turun tangan sendiri?

Kedengarannya aneh, tapi melihat kecepatannya, Kitty bisa menerima.

Semacam pasukan pendahulu.

Kitty tiba-tiba teringat sesuatu.

Kuda hitam itu, bukankah mirip pegasus Sri Baginda di lomba berburu?

Ia cepat menggeleng.

Ah, masa!

Selagi Kitty berdiri terpaku….

Iskandar sudah menembus pinggiran kota.

Sebelum menuntun kudanya keluar, ia mengirim laporan anonim—meminta polisi bergerak ke kawasan yang dicurigai.

Namun polisi paling cepat baru tiba esok pagi.

Saat ini, dirinyalah yang bisa sampai paling cepat.

Apapun yang terjadi, tak boleh menimpa satu-satunya harapan yang akan memuliakan jamuan Ksatria Pahlawan.

Dengan tekad itu, ia memacu Ras Algethi.

Seolah paham hati tuannya, kuda itu berlari jauh lebih kencang dari biasanya. Ia melompati sela-sela jalan, menerabas parit kecil, dan dalam sekejap mencapai tembok kota.

Siapa para penculik itu—ia tak tahu. Tujuan mereka—tak jelas.

Tapi arah Masello… ada satu tempat yang terlintas.

Enam jam berkuda kira-kira, ada tanah tandus seluas satu kota kecil. Ia menandai tempat itu, lalu terus mengamati sepanjang jalan.

Kereta barang bertirai kuning, bertong arak di sisi.

Kalau terlihat, harus langsung berhenti. Ia tak boleh lengah.

Dibasahi embun malam, Iskandar melaju lama.

Akhirnya, hamparan tandus itu muncul.

Di bawah sabit bulan, pepohonan kurus berdiri seperti hantu merentangkan tangan. Di balik puing-puing roboh tampak bangunan kosong kecil bertempel gudang.

Di sebelahnya, terlihat kereta itu—terpal kuning, tong arak di sisi. Persis seperti yang Kitty gambarkan.

Ia di tempat yang tepat.

Iskandar turun dan memusatkan pikiran.

Dari arah bangunan tua, terasa jejak lebih dari sepuluh lelaki. Langkahnya berat—bertubuh besar.

Tapi hanya sepuluh orang.

Ia hendak menuntaskan cepat—baru melangkah, tiba-tiba bayangan raksasa muncul di depan bangunan.

Bentuknya manusia, namun dua kali ukuran manusia biasa.

Saat masuk ke bawah cahaya bulan, wujudnya sedikit terlihat: kepala keriput, sekujur tubuh berotot—makhluk mengerikan.

Apa itu?

Iskandar mendekat sedikit.

Tak cuma satu. Satu muncul dari sini, satu lagi dari sana. Belasan makhluk bergerak pelan tanpa suara, dari balik gelap.

Apa sebenarnya itu?

Iskandar mengernyit, menatap tajam.

Di sekeliling, kabut pekat mulai turun.

***

Hazel tersadar dalam gelap.

Ia mencoba siuman sepenuhnya, tapi karung tadi terlalu pengap. Di suatu saat ia pingsan.

Sekarang, karung itu sudah dilepas. Gagang mulut dan tali pun dibuka.

Ia bangkit, rambut awut-awutan.

Cahaya lampu temaram mengusir gelap. Ini semacam lumbung. Beberapa orang terlihat meringkuk.

Semuanya perempuan.

Hazel memandang berkeliling dan bertanya:

“Ini di mana?”

Hening. Lalu jawaban lemah menyusul.

“Tak tahu.”

“Kalian juga diculik?”

“Iya. Katanya dicarikan teman ngobrol untuk seorang nenek….”

“Kepadaku bilang akan diajari keterampilan. Intinya sama. Kami semua dibujuk begitu lalu diculik.”

“Dan sebentar lagi kami akan dijual.”

Hazel terkejut.

“Dijual? Ke mana?”

“Tak tahu. Tapi….”

Seseorang menunjuk ke satu sudut.

Di atas tumpukan batu, ada api kecil menyala, sebuah panci digantung. Air mendidih.

“Katanya kalau namamu dipanggil, kau harus mandi bersih. Biar harganya lebih mahal. Tempat yang menjual perempuan muda itu ya begitu.”

“Tak lama lagi.”

Mereka menoleh ke belakang.

Di balik yang duduk meringkuk itu, ada lagi perempuan yang terbaring menempel dinding—tak bergerak.

“Mereka yang diculik lebih dulu. Sepertinya diperlakukan kasar.”

Percakapan terputus.

Sunyi berat turun. Semua dicekam takut.

“Aku mau pulang. Ibu, Ayah, Kakak….”

Seseorang terisak lirih.

Hazel terdiam, terhantam.

Rasanya masih tak nyata.

Besok jamuan, dan mendadak jadi begini! Ini tak terdengar seperti kebetulan. Ada yang sengaja menargetkan Hazel.

Wajah Wolfhound melintas.

Jangan-jangan ia tahu niatku? Ia menculikku agar tak sempat melapor soal ekstrak comfrey di salep?

Benar-benar gila.

Masalahnya, di dunia ini, hal gila sering terjadi. Kata “perdagangan manusia” ada karena itu nyata! Semua kisah seram yang pernah didengarnya kini menjadi kenyataan.

Ketakutan menggelitik.

Apa aku akan segera dijual ke tempat mengerikan?

Hazel buru-buru menepisnya.

Mustahil. Besok ada jamuan yang harus kupenuhi.

Permaisuri Ibu menaruh harap. Agar aku bisa tetap berpijak di istana, diberi kesempatan meredakan keluhan.

Jadi aku harus kembali dan menunaikan jamuan.

Hazel bangkit.

Dengan bantuan cahaya api, ia meneliti gudang ke setiap sudut.

Namun ini fasilitas penahanan yang telaten. Apa pun yang berpotensi jadi masalah telah lama disingkirkan. Tak ada benda yang bisa dimanfaatkan.

Seseorang berkata:

“Percuma. Di luar ada monster mengerikan berjaga. Itu sebabnya kita tak diikat.”

Hazel menoleh ke luar jendela.

Benar.

Sosok raksasa berotot berdiri. Kepala kecil keriput dibanding tubuh, wajah seolah remuk. Dalam sinar bulan yang pucat, tampak ganjil dan membuat bulu kuduk meremang.

Tapi ia tak boleh gentar.

Hazel membuka kain penutup di sudut. Ada makanan. Seolah belum tersentuh.

Ayam dan bacon yang sudah dingin. Sayur lembek yang hampir hancur. Kentang gosong legam yang masih di wajan, bahkan belum dipindah ke piring.

Memang tak menggugah selera.

Hazel mengambil garpu dan pisau tumpul. Ia mulai memotong ayam.

Apa yang akan ia lakukan?

Para perempuan menatap heran.

Hazel membawa bahan-bahan itu ke sudut tempat api.

Ia memastikan air rebusan di panci bersih, lalu menimba separuhnya ke baskom. Kemudian ia memasukkan ayam yang dipotong bersama tulangnya ke panci.

Setelah itu, ia mengangkat kentang dari wajan. Bagian hangus ia buang, sisanya dipotong kecil-kecil. Bacon pun sama.

Apa sebenarnya yang ia lakukan?

Di hadapan tatapan mereka, Hazel merobek lapisan dalam celemek. Ia mencucinya sejenak dengan air panas di baskom. Dengan itu, ia menggosok bersih wajan yang belepotan jelaga.

Lalu ia mengeruk gumpalan lemak putih dari piring bekas, meletakkannya di wajan. Di atas api, lemak segera meleleh mendesis.

Ia masukkan potongan kentang, mengaduk dengan sendok. Sebentar kemudian, bacon menyusul.

Aroma sedap memenuhi gudang. Wangi kentang dan bacon yang dipanggang, ditambah kaldu ayam yang mendidih.

Ayam matang lembut dalam air mendidih. Hazel menyingkirkan buih sambil sabar merebus. Setelah panci ditutup, ia kembali menyapu lantai gudang dengan pandangan.

Di sela-sela papan lantai, di antara rumput liar yang menyembul, ada daun bayam liar. Daun muda bayam liar (yang sering disebut “bayam hutan”) bisa dimakan.

Ia memetik dan mencacah halus. Saat itu ayam pun siap. Hazel membuka tutup panci dan menanggalkan tulang satu per satu.

Semua gerakannya mengalir mulus. Waktu orang lain menyelesaikan satu hal, ia merampungkan dua—tiga.

Semua tertegun. Seorang perempuan tak tahan bertanya:

“Kau sedang apa?”

“Menyajikan makan.”

Jawab Hazel singkat.

“Teman-teman, mari kita makan dulu.”

“Sekarang, makan?”

“Iya. Manusia harus selalu makan yang cukup. Makanan enak selalu memberi tenaga. Tanpa tenaga, kita tak bisa berbuat apa-apa.”

Mereka melongo.

Sementara itu, makanan mulai tersaji di depan mata, satu per satu.

Ayam dan sayuran yang terendam dalam kuah panas mengepul. Kentang dan bacon yang digoreng hingga menggugah selera, ditaburi cacahan daun hijau.

Dalam cahaya lampu temaram, semuanya mengepulkan uap harum—berkilau memikat.

Tak terbayangkan—ini barusan hanyalah makanan dingin keras yang terbengkalai.

Seolah sihir.

“Ayo, silakan.”

Hazel menyodorkan sendok.

Aroma dari ayam dan kentang begitu menggoda. Mustahil ditolak.

Ayolah. Masa makan di saat begini.

Begitu pikir mereka. Namun tangan bergerak sendiri, seakan tersihir.

Begitu sesuap ayam berkuah hangat menyentuh lidah, mata mereka langsung membesar. Daging empuk gurih meleleh di mulut, kuah sayur menghangatkan perut.

“Enak!”

“Benar-benar enak!”

Seruan kagum terdengar di sana-sini.

Kentangnya pun demikian.

Selagi panas, dimakan bersama bacon—sempurna. Meski bukan herba, taburan daun cacah menambah dimensi rasa.

Perut yang lapar melahap tanpa kendali.

Hazel benar—perut terisi, tenaga pulih. Mata kembali fokus, kepala jernih.

“Ayo, makan.”

Hazel mengangkat para perempuan yang terbaring lemah, mencoba menyuapi. Mereka menolak keras.

“Sudahlah. Tubuhku sudah rusak—makan apa….”

“Jangan bilang begitu!”

Hazel menggeleng.

“Tubuhmu milikmu. ‘Merusak’ itu apa? Kalau kau berpikir begitu, kau kalah. Kalian tidak rusak—sehelai pun. Jangan biarkan pikiran itu menang.”

Mereka memandang Hazel. Mata mereka gelap.

Mudah bicara. Kau tak mengalami yang kami alami….

Begitulah tatapan mereka.

Hazel mengerti.

“Pokoknya, cicip dulu.”

“Tidak mau.”

Mereka mengatupkan bibir—menolak.

Namun Hazel tak menyerah. Akhirnya mereka membuka mulut juga. Begitu merasakan aroma dan hangatnya uap, tubuh berteriak minta lagi—mereka tak kuasa menahan.

Air mata mengambang.

“Di keadaan begini, kok masih bisa makan!”

“Tidak apa-apa. Bagus begitu. Kalian harus makan. Kumpulkan tenaga dulu. Saat kesempatan datang, barulah kita bisa kabur.”

Mereka menatap kaget.

“Melarikan diri?”

“Ya.”

Untuk menyuntikkan nyali, Hazel menceritakan kisah pelarian yang paling baru—bagaimana ia kabur dari istana Putri Mahkota di masa sang Raja Terdahulu.

“Sudah paham kan? Selama akal tetap tajam, lolos dari istana pun bisa. Di mana pun, jangan kehilangan nyali. Pasti ada caranya.”

Saat itu juga—

Dari luar, terdengar langkah berat mendekat.

Penjaga!

Semua buru-buru berpencar, kembali meringkuk seperti semula atau berbaring menghadap dinding. Pintu terentak terbuka.

Seorang bertubuh gede berotot melangkah masuk. Ia menyapu gudang dengan pandangannya, mencari kejanggalan. Lalu melihat tumpukan mangkuk kosong.

“Begitulah. Menyerahlah—lebih enak.”

Ia menyeringai keji dan berbalik. Setelah langkahnya menjauh, Hazel kembali berbisik.

“Ingat, ya? Tetap waspada dan tunggu peluang.”

“Baik.”

Mereka mengangguk.

Dalam gelap, semua diam-diam memijat tangan dan kaki yang kaku, melemaskan tubuh. Para gadis yang selama ini hanya terbaring diurus berpasangan oleh yang lebih bugar.

Mereka pun membagi diri jadi tiga regu, masing-masing beranggotakan tiga orang.

Tak lama, gelap berangsur surut; kabut tebal menghampar di luar. Subuh tiba.

Saat itu—

Cahaya menyambar, seperti kilat memecah.

Hazel tersentak. Ia mengucek mata dan menatap keluar lagi.

Sekejap kemudian, di balik kabut pekat, kilau aneh itu menyambar sekali lagi.

“Cahaya itu….”

Matanya melebar.

Jangan-jangan Tuan Valentine?

Para perempuan memandang bingung.

“Cahaya apa?”

“Kalian tak melihat? Barusan dua kali menyala!”

“Tidak. Kami tak lihat….”

Tak seorang pun melihatnya—kecuali Hazel.

Itu bukan cahaya alam. Itu dibuat seseorang. Nada warnanya khas, seperti menusuk mata.

Malam ketika mereka menembus Gunung Broehen demi mendapatkan wajan besi, sebelum menyeberang, Tuan Valentine pernah menembakkan sinyal cahaya sihir. Persis seperti ini.

Katanya, kilau itu tak terlihat mata orang lain.

Mungkin kali ini pun sama—agar para penculik tak curiga. Ia menyalakan cahaya yang hanya bisa Hazel lihat.

Kalau begitu… dia benar-benar di luar? Datang menyelamatkan?

Harapan berpendar di tengah genting. Kemungkinan itu masuk akal. Tuan Valentine tahu Hazel janjian dengan Kitty.

Kitty! Kasihan Kitty! Pasti kaget setengah mati!

Tapi Kitty itu gadis cerdas.

Kalau Hazel tak muncul dan ia melacak balik, ia bisa menemukan petunjuk kecil yang sengaja ditinggalkan. Lalu, apa pun caranya, ia pasti memberi tahu istana.

Ya. Kitty pasti bisa.

Semangat Hazel terangkat. Ia memandang para perempuan.

“Kuharap seseorang datang menolong kita.”

“Eh?”

Mereka terkejut.

Di luar kabut, tetap sunyi. Di hamparan tandus itu rasanya cuma ada mereka. Seandainya tadi, mereka pasti menertawakan.

Tapi perut kenyang mengubah banyak hal—pikiran pun jadi positif. Jiwa manusia sangat dipengaruhi kondisi badan.

Lagipula keteguhan Hazel memberi tenaga pada semua; bagaikan matahari di dalam gelap—membuat mereka merasa seakan punya bala bantuan.

“Ini dia kesempatannya.”

Mata mereka berkilat, saling tatap.

“Benar. Tolong bantu aku.”

Hazel mengumpulkan semua. Ia harus memberi sinyal pada Tuan Valentine.

Mereka menyambung syal menjadi selimut besar. Itu dibeber ke arah bangunan tua untuk menahan bocornya cahaya, lalu lampu dibawa ke dekat pintu. Hazel menutup-buka telapak tangan menutupi sumbu—tiga kali kedipan.

Iskandar mengawasi dari seberang kabut.

Beberapa saat kemudian, cahaya di gudang berkedip tiga kali.

“Tepat….”

Ia mengangguk.

Hazel ada di sana. Ia melihat sinyal sihir dan membalas. Berarti aman.

Ia tak bisa asal menyerbu. Para sandera harus paham situasi luar.

Kalau tidak, mereka bisa panik dan bersembunyi sampai tertangkap lagi, atau saking bingungnya justru lari ke arah penculik. Kedengaran mustahil, tapi di kekacauan, itu kerap terjadi.

Mereka harus lari ke arahnya—baru semua bisa dilindungi.

Hazel pasti bisa mengatur itu. Tinggal gerak cepat.

Iskandar mengirim sinyal terakhir lewat sihir. Cahaya biru-putih menyilaukan kembali menyambar di atas tanah tandus.

Mulai.

Hazel mengangguk.

Dalam kilau yang hanya ia lihat, ia cepat membaca kontur sekitar.

“Kalian bisa berlari, kan? Regu 1, langsung keluar dan berlindung di balik batu arah pukul 10. Regu 2 ke batu arah pukul 2. Regu 3 ke puing pohon arah pukul 5. Nanti Tuan Ksatria menjemput.”

Ia membagi titik berlindung. Lalu menahan napas.

Beberapa detik kemudian—

Brak!

Sesuatu melayang dan menghancurkan pintu gudang. Hazel mengintip dan terperanjat.

Tidak! Orang ini…?

Ia berbalik dan berteriak:

“Batu arah pukul 10 barusan lenyap! Geser ke pohon tua di belakangnya!”

“Baik!”

Pada saat yang sama, serangan dimulai.

Seekor monster yang menyusup mendekati Iskandar ambruk berat. Meronta sebentar, lalu diam.

Iskandar melesat keluar dari belakangnya.

Makhluk-makhluk itu ganjil.

Mereka punya tenaga di luar batas, tapi anehnya—tanpa “nyawa”. Seperti adonan tepung yang hidup.

Awalnya ia sempat buyar. Tapi celahnya cepat terbaca.

Makhluk-makhluk ini tak punya penglihatan dan pendengaran. Sebagai gantinya, indra lain kelewat peka, dan gerak mereka amat cepat. Begitu menangkap getaran tanah, tinju sekeras besi menghantam.

Jadi, bergeraklah tanpa menginjak bumi.

Tonjolan pada tengkuk—itulah titik lemah mereka.

Iskandar menjejak tubuh monster yang tumbang untuk melompat—dan menghajar tepat di titik lemah monster berikutnya.

Kena. Raksasa itu langsung kehilangan pusat dan roboh.

Ingin rasanya ia remuk-redamkan semuanya.

Tapi polisi akan datang menyelidik. Ia tak boleh meninggalkan jejak bahwa Grand Cavalier yang menewaskan mereka.

Maka ia “mengulur tangan”—membuat mereka babak belur, lalu dengan sengaja menyayat seadanya, agar tampak seperti kerjaan bandit tolol.

“Apa itu?”

“Suara apa?”

Para penculik baru sadar ada keributan di luar.

Monster raksasa ambruk berjatuhan seperti boneka kain.

Di sela-selanya, ada bayang hitam yang bergerak secepat mata tak sempat menangkap. Tak masuk akal.

“Itu… itu apa?”

Saat mereka terpaku—

Hazel menyorong para perempuan keluar.

“Berikutnya! Cepat!”

Walau sudah menyusun rencana, mereka tetap limbung sedetik—semua mengira Hazel akan lari pertama dan mereka tinggal mengikut. Tapi Hazel justru mendorong mereka duluan.

Para perempuan berlari di antara tubuh monster yang bertumbangan. Mereka menoleh cemas sambil berteriak:

“Nanti kau tertangkap! Cepat!”

“Iya!”

Begitu semua keluar, ia bersiap menyusul.

Saat itulah—

Pintu gudang terentak.

“Tangkap!”

Para penculik berlari dengan senjata terangkat.

Hazel sempat mengira mereka akan mengejar penyusup.

Ternyata mereka lebih licik—dan pengecut. Menyadari lawan terlalu kuat, mereka memilih mengancam dengan sandera.

Cepat sekali!

Tak ada waktu untuk menghindar. Pisau dan pentungan mengacung memenuhi pandangan.

“Jatuhkan saja dia!”

Pentungan di depan terayun.

Sekejap kemudian—dumm! Gelap menyelimuti pandangan.

Tunggu.

Hazel berkedip.

Bukan ia yang kena. Suara itu bukan untuknya.

Yang gelap menutup pandangannya—sehelai jubah hitam.

Saat sadar, rasa lega dan syukur meledak sekaligus!

“Tuan Valentine!”

Hazel memekik dan berlari ke arahnya.

Para penculik tumbang secepat kedipan.

Hantaman amarah itu mengerikan.

Setiap kali mereka terpental, dinding retak, lantai ambles. Karena tak boleh menghunus pedang (demi penyelidikan polisi), itulah “kompromi” terbaiknya—tetap membuat mereka kapok.

Binatang pun kalah!

Iskandar menginjak lengan penculik yang tadi hendak memukul Hazel—krek!—membuatnya patah. Lalu ia bergumam:

“Ksatria Bratania pasti membalas budi.”

“Rasanya sungguh enak!”

Hazel spontan menyahut. Iskandar menoleh bingung.

“Enak? Apa yang enak?”

“Ah!”

Hazel kelabakan.

“Catatan kecil dari para ksatria vampir yang pertama kuterima di istana dulu ada tulisannya begitu: ‘Ksatria Bratania pasti membalas budi. Rasanya sungguh enak!’ Saking seringnya kubaca, aku hafal di luar kepala… tadi kebablasan.”

Pipi Hazel memerah.

Iskandar tertawa terbahak.

Sejak pertama bertemu, baru kali ini ia tertawa sebesar itu.

Hazel sampai lupa malu dan menatap takjub.

Gadis petani ini—sampai bikin Kaisar pusing—mana mungkin tumbang oleh penculik ecek-ecek.

Iskandar pun begitu mengira, tapi tetap gelisah sepanjang jalan: perempuan muda lajang rentan pada seribu bahaya.

Ia menekan cemas itu sepanjang ia berpacu.

Ternyata selamat. Ia benar-benar lega.

“Kau tak terluka?”

“Tentu! Manusia sampah itu tak bisa menyakitiku. Bahkan kami sudah makan malam dengan baik.”

Mendengar bagaimana Hazel menyemangati para korban dan mengevakuasi mereka tenang-tenang, Iskandar kagum. Berkatnya, kini mereka aman bersembunyi di gubuk.

“Nona Mayfield memang tak mengayun pedang, tetapi hatimu—hatimu ksatria. Tinggal kuangkat saja!”

“Pujian paling manis!”

Hazel hendak mengipas pipi—dan sontak terkejut.

Astaga!

Tanpa sadar, ia dan Tuan Valentine saling menggenggam! Tadi saking lega, ia refleks meraih tangannya. Sepertinya ia pun baru sadar.

“Uh!”

Mereka kompak melepaskan. Canggung mengambang.

Baru mengekspresikan cinta umat manusia, kok jadi kikuk. Anggap saja biasa.

Hazel berusaha menepis canggung itu—tetapi tetap susah. Ketika keduanya masih kikuk, tiba-tiba ia ingat sesuatu yang jauh lebih penting.

“Jamuan!”

“Jamuan!”

Mereka menjerit bersamaan.

“Bagaimana ini? Jika aku tak sampai sebelum tengah hari, aku otomatis gugur!”

Pagi bahkan sudah lewat. Minimal pukul delapan—sembilan.

Hazel menatap sekitar dengan wajah pucat.

“Kita di mana? Rasanya jauh sekali….”

“Enam jam berkuda. Tapi akan kupacu sekuatnya.”

“Tolong.”

Hazel bergegas mengikuti Tuan Valentine menuju kudanya.

Seekor kuda hitam menanti.

“Bukan kuda yang itu?”

“Itu yang sama—kuda loreng cokelat. Disamarkan jadi hitam untuk berbaur dalam gelap. Agar bisa menyergap….”

Iskandar bergumam—separuh minta maklum.

Dari kejauhan, derap kuda dan roda kereta terdengar. Polisi, yang menerima laporan anonim, akhirnya tiba setelah berkendara semalaman.

Iskandar segera menyingkir.

Kali ini terlalu dadakan—tak sempat menyiapkan selimut. Hazel tak punya pilihan selain berpegangan erat dari belakang.

Aku ini cuma menyediakan layanan antar-jemput untuk chef demi Jamuan Ksatria Pahlawan. Bukan ada maksud lain.

Ia mengingatkan diri.

Pegasus Ras Algethi sudah digembleng etiket hari itu, jadi sekarang tak lagi melirik-lirik aneh.

Tapi kenapa mukanya tetap memerah?

Iskandar mengusir pikiran aneh dan memacu kuda.

Tentu Hazel juga sempat terpikir:

Wah, kali ini tanpa selimut! Gimana dong?

Namun pikiran itu lekas tersapu hal yang lebih genting. Api sudah di kaki.

“Kalau begitu, serahkan urusan sampai ke tempatnya padamu, Tuan. Aku mulai… berpikir.”

“Memikirkan apa?”

“Menu.”

“Menu jamuan? Bukannya sudah beres?”

“Ada perubahan.”

Hazel menutup kalimat itu dan menyelam dalam pikirannya.

Begitu mendapat pencerahan besar soal jamuan, musibah malah meledak. Ia belum sempat menyusun menu baru.

Tak ada waktu menyiapkan bahan tambahan. Ia harus memaksimalkan stok yang sudah ada.

Di atas kuda yang melesat, Hazel merangkai menu mati-hidup dengan kepala berputar. Lalu tiba-tiba ia teringat:

Istana pasti geger, ya?

Nona menghilang!

Ia terbayang wajah panik para hamba dapur ketika tahu kabar itu.

Kenyataannya—gegernya malah lebih cepat.

Menjelang subuh—jam bangun para petani—seorang high elf yang mengubah rute jalan paginya untuk memutari kebun lebih dulu mendapati sesuatu tak beres.

Rumah petani itu sepi dari jejak manusia.

Ia mendekat dengan firasat tak enak.

Tiberius, ayam-ayam, dan Julia berlari ke arahnya, mata berkaca-kaca—jelas memohon pertolongan.

Ada yang terjadi!

Lorendel segera masuk.

Benar—Hazel tak ada. Kasur pun tak menyimpan jejak orang tidur semalam.

Ia lekas memanggil kawan-kawan.

“Nona Mayfield lenyap!”

Sekejap, geger.

Para komandan Ordo Ksatria Suci bergegas mencari para hamba dapur di Istana Singa Perak. Yang sudah datang lebih pagi pucat pasi mendengar kabar itu.

“Nona hilang?”

“Begitu. Ada pesan?”

Cayenne bertanya; mereka saling tatap, wajah memutih.

“Jangan-jangan karena salep itu?”

“Beliau bilang sekalian akan melapor. Ke luar sebentar….”

Mereka menceritakan semuanya: pemberian salep Hazel, Wolfhound yang menyontek dan menjadikannya dagangan, penemuan kandungan comfrey yang berbahaya—hingga Hazel yang buru-buru pergi melapor.

“Apa yang harus kami lakukan? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk menimpa nona kami gara-gara itu?”

“Jangan panik dulu. Masih terlalu cepat untuk menyimpulkan,” ujar Louis menenangkan para pelayan. Lalu mereka bersama-sama menuju pos jaga di gerbang utama istana.

Tercatat Hazel keluar. Namun tak ada catatan ia kembali.

Mereka mengirim orang ke kantor dinas terkait, sekadar berjaga-jaga. Jawabannya: tak ada laporan seperti itu.

Wajah semua memucat.

Benarkah Hazel benar-benar hilang?

Di saat itu juga kabar yang lebih keterlaluan datang.

“Lord Lorendel! Sir Louis!—oh, kalian semua di sini!” Menteri Dalam Istana berlari-lari kecil dan melongok ke sekeliling mereka.

“Yang Mulia?”

“Ya?”

“Kalian melihat Baginda?”

Tertimpa tangga—Iskandar juga lenyap.

Pagi-pagi, karena tak kunjung ada jawaban, sang menteri membuka pintu sambil mengetuk. Tempat tidur bahkan tak menunjukkan bekas orang tidur.

“Di mana dia!” Zigvald menggeram.

“Sudah bisa ditebak,” kata Cayenne. “Menjelang jamuan, dia sangat gelisah. Perasaan ingin menghilang tiba-tiba itu bisa dimaklumi.”

“Tapi para Ksatria Pahlawan akan datang sebentar lagi dan harus disambut dengan salinan hias. Kalau sampai saat itu belum ketemu bagaimana?” ujar Louis cemas.

“Akan kucari secepat mungkin,” jawab Lorendel.

Istana pun geger.

Para komandan Ordo Ksatria Suci menghimpun semua anak buah. Louis dan Cayenne berangkat mencari Hazel; Lorendel dan Menteri Dalam Istana berburu Iskandar.

Zigvald mendapat tugas berat lain.

Ia bergegas ke dapur Istana Singa Perak.

Sudah pukul 10.30. Dapur kanan milik Meister Henkel siap hampir sepenuhnya.

Sebaliknya, dapur kiri Hazel kosong melompong—para pelayan hanya mondar-mandir resah.

“Masih belum datang?” tanya para koki istana dari seberang, tak percaya.

“Akan datang,” jawab Zigvald, berdiri tegak di ambang dapur.

Suara berat Warbear membuat semua tercekik oleh wibawa; tak ada lagi yang berani berkicau.

Ia tampak setegar gunung, namun hatinya kalut. Ini apa lagi? Hazel tak ada, Is pun tak ada! Hari hilang nasional? Is sih mungkin baik-baik saja, tapi Hazel….

Ia tak sanggup meneruskan. Cemasnya memuncak.

Seperti kata pepatah: pelaku selalu kembali ke TKP.

Di aula Istana Singa Perak, Wolfhound pun datang diam-diam.

Ia tak tahu para pelayan sudah sejak awal mencurigainya dan menceritakan semuanya kepada para komandan. Karena tahu bersalah, nalurinya menyuruh bersembunyi sambil mengintai.

“Masih belum muncul?”

“Masih?”

Bisik-bisik beredar.

Muncul? Tak mungkin!

Ia santai—sampai waktu merayap ke pukul 11.30. Tersisa tepat 30 menit menuju tengah hari.

Meister Henkel, para koki istana, beserta pelayan mereka berdiri di sisi kanan aula.

Kursi Hazel di kiri tetap kosong. Pelayan di pihaknya berdiri gelisah.

Kepala Pelayan datang bertanya. “Masih belum datang?”

“Akan datang,” Zigvald tetap menjawab.

Pukul 11.45, Permaisuri Ibu masuk.

Menteri Dalam Istana segera maju. “Baginda Kaisar belum terlihat. Bolehkah kita menunda sedikit?”

“Entahlah. Baginda seperti biasa akan muncul entah dari mana. Jamuan tetap harus disiapkan sesuai jadwal. Para Ksatria Pahlawan akan datang tepat waktu,” ujar Menteri Kehakiman.

Permaisuri Ibu mengangguk.

Pukul 11.55, seseorang berseru, “Mulai saja! Sudah mau waktunya dan dia belum juga muncul! Tak tahu aturan!”

“Tidak. Kesepakatannya mulai tepat tengah hari,” Zigvald menimpali.

Menit 56. 57. 58. Detik merayap di tengah dada yang berdebar.

Akhirnya 59.

“Mulai saja!”

Kepala Pelayan melangkah ke depan dan hendak membuka suara—ketika itu—

Wajah Wolfhound, yang bersembunyi mengamati, tiba-tiba pucat pasi.

“Maaf! Aku terlambat!”

Hazel berlari masuk ke tengah aula.

“Nona!” Para pelayan dapur menubruknya—antara terkejut dan lega, emosi meluap di wajah mereka.

“Kau dari mana saja?”

“Ada urusan. Nanti kuceritakan.”

Hazel menenangkan mereka lalu menoleh ke Kepala Pelayan. “Masih masuk waktu, kan?”

“Benar.”

Hazel mengusap keringat di pelipis dan berdiri di sisi kiri bersama para pelayan.

Benar-benar nyaris.

Kuda Tuan Valentine bekerja bak kilat. Dengan sisa 5 menit, mereka melompati tembok utara istana, menyeberangi taman, dan menyambar masuk. Tanpa kuda itu, tak mungkin.

“Kalau begitu, persiapan jamuan dimulai sekarang,” ujar Kepala Pelayan kepada Permaisuri Ibu. Beliau mengangguk.

“Semoga kedua pihak menunjukkan hasil terbaik.”

“Baik, Yang Mulia Permaisuri Ibu,” jawab Hazel dan Meister Henkel.

Kedua kubu masuk ke dapur masing-masing di kanan dan kiri. Pintu raksasa pun menutup.

Sebelum menutup rapat, Hazel samar mendengar suara Sir Louis, “Benarkah? Dia datang?”

Louis dan Cayenne berlari setelah menerima kabar. Mereka yakin Hazel tak mungkin kabur menjelang lomba; pasti ada alasan. Meski begitu, kata-kata para pelayan soal bahaya membuat mereka cemas setengah mati.

“Syukurlah….” Mereka akhirnya bisa bernapas lega, sambil memerintahkan agar kabar itu segera disampaikan kepada Lorendel dan Menteri Dalam Istana yang masih mencari Iskandar.

Di tengah riak kehebohan karena masuknya Hazel—seseorang terpukul paling keras.

“Tak mungkin….”

Wolfhound kelabakan.

Bagaimana bisa? Perempuan itu harusnya terkurung entah di bangunan bobrok mana—kenapa bisa lolos dan muncul di sini?

Ia tak bisa mencerna. Yang jelas: posisinya kini sangat genting.

Ia hendak kabur.

Saat itulah—

“Sir Wolfhound.”

Pengawal istana telah berdiri di hadapannya. Dalam sekejap ia terkepung rapat.

Wolfhound ditangkap dan digiring pergi.

Hazel sudah melupakan ksatria licik itu.

Begitu berdiri di depan dapur yang lengkap, pikirannya otomatis bersih. Hanya ada masak.

“Hu….” Begitu mulai menapaki meja kerja, lututnya sempat goyah—saking tegangnya. Para pelayan buru-buru menopang.

“Nona, istirahat dulu.”

“Tidak.”

Begitu banyak rintangan ia lewati demi berdiri di sini. Karena itu, ia harus lebih bersungguh-sungguh. Permaisuri Ibu memberinya kesempatan; beliau menanti masakan Hazel.

Ia tak boleh mengecewakan.

“Kita mulai sekarang.”

Ia menatap para pelayan. Balasan mereka: tatapan penuh percaya.

“Sesuai perintah Nona.”

Hening sejenak menggantung.

Ketegangan menebal di dapur.

Inilah awal yang sesungguhnya.

Para pelayan menelan ludah, lalu berpencar cekatan.

“Kita mulai dari adonan, ya?” Gemma mengeluarkan mangkuk. Hazel cepat menggeleng.

“Tidak, semua menu sudah kuubah.”

“Apa?”

Mereka melongo.

“Begitulah. Tolong keluarkan semua bahan dulu.”

“Baik, Nona.”

Tanpa membantah, mereka bergerak serempak.

Di luar istana, para wartawan berkumpul.

Untuk hari-hari seperti ini, mereka sudah menanam koneksi. Para abdi dalem keluar-masuk membisikkan kabar.

Topik terpanas: keterlambatan si gadis petani.

Hari ini ia harus bertanding melawan Meister Henkel—namun tak kelihatan batang hidungnya, bahkan ketika waktu persiapan hampir tiba.

“Masih belum muncul?”

“Mau mundur?”

Kerumunan bergemuruh.

Di antara mereka, Kitty menggigit bibir.

Sejak tadi malam, baginya ini neraka.

Karena tak bisa melapor, ia hanya bisa percaya pada ksatria yang pergi menyelamatkan.

Haruskah tadi nekat ikut? Tidak, pasti cuma mengganggu. Tapi kalau gagal bagaimana? Ah, terserah lomba—tolong pulang hidup-hidup! Tolong!

Saat ia berteriak dalam hati—

“Datang!”

“Akhirnya datang!”

“Muncul!”

Kerumunan kembali bergejolak.

Kabar itu: Nona Hazel E. Mayfield muncul tepat waktu.

“Ah….”

Baru kali ini Kitty merasa semua beban lepas. Lututnya lemas, air mata hampir tumpah.

Syukurlah. Syukur.

Figur ksatria misterius yang melesat bak angin terbayang jelas.

Terima kasih. Terima kasih tak terhingga.

Pada saat yang sama—

Iskandar diam-diam keluar dari kamarnya.

Kudanya sudah terikat rapi di kandang. Rambut dan mata kembali ke warna asli; ia pun mengenakan busana kebesaran kaisar.

Menghindari tatapan para abdi, ia melesat menuruni tangga. Saat melintasi pelayan yang memanggul kayu bakar, ia dengan cekatan menepuk dan mengotori tangan dengan jelaga.

Sambil mengacak rambut dengan satu tangan dan mengoles jelaga di bawah mata, ia menyelinap ke gudang anggur bawah tanah. Ia bersembunyi di antara tong-tong.

Entah berapa lama.

Pintu gudang tersibak. Cahaya menyilaukan masuk.

“Tebakan kita benar!”

Lorendel menerobos masuk.

“Apa yang Ka—Kaisar lakukan di sini? Tahu jam berapa? Sudah siang bolong!”

Ia menarik Iskandar keluar dari sela tong.

“Kami mencarimu sejak pagi! Minum berapa botol? Kau kan tak kuat anggur!”

“Aku tidak minum,” gumam Iskandar.

Begitu keluar, rupanya benar-benar berantakan: rambut awut-awutan, lingkar mata legam, pakaian kusut, langkah limbung.

Aduh.

High elf berhati lembut itu langsung luluh. Ia bisa membayangkan beban batin sahabatnya. Tanpa mengucap, semua tahu Iskandar pengagum fanatik para Ksatria Pahlawan.

Bukan hanya kehilangan muka karena jamuan sebelumnya gagal; sebagai kaisar, ia juga dihantam rasa malu diri.

Menjelang jamuan baru, bebannya pasti menggila. Sampai-sampai yang tak kuat minum pun nekat menenggak.

“Kali ini akan baik-baik saja. Permaisuri Ibu sudah bangkit dari peraduan dan memimpin sendiri.”

Ia menatap sahabatnya dengan iba, lalu menyemangati.

“Ayo bersiap. Semua menunggu. Para tamu kehormatan sudah hampir tiba.”

“Baik.”

Lorendel menopang Iskandar kembali ke bangunan utama istana.

Di atas tembok kota, seorang penjaga tak berkedip menatap lewat teropong.

Tiba-tiba, di garis cakrawala, debu membumbung. Di balik kabut tanah, berkilat baju zirah para ksatria.

Para ksatria sepuh melangkah. Satu, dua, tiga… tujuh orang lengkap.

“Ah!”

Penjaga meniup terompet.

Orang-orang tumpah ruah.

Sorak meledak melihat para Ksatria Pahlawan muncul di horizon.

Sir Kendrick, Sir Percy, Sir Edward, Sir Guilford, Sir Hannibal, Sir Wayne, Sir Bancroft.

Para jawara kawakan itu berusia enam puluhan, namun tetap gagah bak baja.

Semua pernah mendengar legenda mereka.

Karena para Ksatria Pahlawan mengelilingi seluruh kekaisaran, wajah mereka hanya terlihat beberapa tahun sekali. Maka rasanya seperti bintang turun ke bumi.

Di tengah sambutan, mereka melewati gerbang dan memasuki ibu kota.

Orang-orang memadati jalan, menabur bunga, menyalakan kembang api.

Dalam hangatnya sambutan, para ksatria menuju istana.

Pasukan menyambut mereka di luar.

Melewati pagar kehormatan pedang yang menjulang, Ordo Ksatria Suci menyongsong: Ordo Pohon Suci, Ordo Petir Suci, Ordo Api Suci, Ordo Angin Suci—semua memberi hormat, mengawal ke istana.

Di sana, upacara penyambutan berlangsung meriah.

“Sembah hormat, Paduka.” Para ksatria menunduk dalam salut seorang ksatria.

Iskandar menganugerahkan salinan hias <Kitab Ksatria>.

“Aku menghormati kalian.”

Mereka menerimanya dari Adiputri Agung Athena—wajah penuh haru, menatap kaisar dengan rasa syukur.

Sejak kecil kami menyaksikan sang putra mahkota—kini ia telah menjadi kaisar. Saat terakhir kami datang, masih ada sisi kikuk di dirinya; sekarang ia jauh lebih mantap.

Sir Kendrick mewakili rekan-rekannya berkata,

“Kami bersukacita melihat masa sukar terlewati dan zaman baik tiba. Sepanjang perjalanan kami meninjau keadaan rakyat; berkat Paduka, hidup mereka terasa jauh lebih tenteram.”

“Berlebihan, Sir Kendrick,” jawab Iskandar. Namun dipuji oleh para ksatria sepuh yang sangat ia hormati membuatnya sungguh gembira dan bangga.

Ia pun menuntun para tamu, yang pastilah letih oleh perjalanan, menuju istana.

Istana Singa Perak hari ini tampak lebih agung dan megah dari biasanya. Di sana, segala sesuatu berkilau, dan Permaisuri Ibu menyambut para Ksatria Pahlawan.

“Paduka Permaisuri Ibu!”

Para ksatria menua itu nyaris tak bisa menahan sukacita melihat beliau tampak sehat seperti sediakala.

“Selamat datang!” Permaisuri Ibu menyambut mereka laksana sahabat lama. Setelah saling menanyakan kabar sejenak, beliau mengantar para tamu masuk ke dalam.

“Perjalanan jauh pasti membuat kalian lapar. Kami telah menyiapkan jamuan dengan sepenuh hati.”

“Jamuan? Kami sudah cukup dengan roti dan air.”

“Ah, mana mungkin. Kalian ini terkenal pandai ‘memeras’ para hartawan saat gudang-gudang mereka terlalu penuh, bukan?” seloroh Permaisuri Ibu tanpa basa-basi.

Para ksatria terbahak; Permaisuri Ibu tersenyum lalu menambahkan,

“Kali ini persiapannya lebih istimewa. Kami akan mempersembahkan laga masak untuk tujuh orang ksatria.”

“Laga?”

“Ya. Meister Henkel—koki istana terbaik—melawan Lady Mayfield dari salon, bintang baru yang tengah bersinar. Kalian cukup menilai hidangan siapa yang lebih lezat.”

“Menarik!”

“Karena itu, semua hidangan—dari pembuka sampai penutup—akan disajikan sekaligus. Satu hal lagi: demi penilaian yang adil, sementara waktu kami tidak menyertakan minuman beralkohol.”

“Wah, bagian itu kurang menarik!” Para ksatria cemberut pura-pura; seisi ruangan pun tergelak.

“Kalau begitu, mari.” Permaisuri Ibu mengantar para tamu menuju aula jamuan.

Persiapan mencapai puncak. Kedua kubu bekerja tanpa sempat berkedip.

Para pelayan di dapur cekatan menggerakkan tangan masing-masing, tetapi di hati mereka berdesis:

Memang kami mengikuti semua instruksi… tapi benarkah ini cukup? Dengan menu begini bisa mengalahkan Meister Henkel?

Tidak, pasti bisa. Percaya pada nona kita.

Di tengah ketegangan itu, Hazel hanya mengulang satu kalimat dalam hati:

Harus menjamu para Ksatria Pahlawan dengan layak.

Ia menumpahkan seluruh perhatiannya ke ujung jari.

Akhirnya Kepala Pelayan mengumumkan,

“Ketujuh ksatria telah memasuki aula!”

Semua menengadah.

Para abdi mendorong troli hidangan berderet-deret.

“Letakkan di sini!”

Di luar, lautan manusia.

Bangku kehormatan diisi oleh Permaisuri Ibu, Putri Agung dari era kaisar sebelumnya, Adiputri Agung, dan seluruh keluarga kekaisaran.

Takhta kaisar berada di tengah—jelas terlihat dari depan, namun dari sisi kanan-kiri tempat kedua koki berdiri posisinya sengaja sedikit tersembunyi.

Tribun penonton pun penuh sesak. Kelompok pro-tani berkumpul dengan sesamanya; anti-tani pun begitu—semuanya ramai memperbincangkan duel hari ini.

“Tuh—keluar!”

Troli dari kedua dapur meluncur. Para abdi meletakkan piring satu per satu di meja para ksatria.

Hidangan Meister Henkel membuat rahang orang-orang ternganga.

Berkilau indah, lebih mirip karya seni daripada makanan. Para bangsawan yang lidahnya terlatih sekalipun terperangah.

“Seperti yang kuduga! Meister Henkel!”

Puja-puji mengalir. Setelah puas menatap keindahannya, mereka menoleh.

Menghadapi Henkel, si gadis petani menyiapkan apa?

Tatapan penuh harap beralih ke piring Hazel—dan seketika semua kehilangan kata-kata.

Hidangan yang terhampar sama sekali tidak seperti perkiraan. Bikin melongo.

“Itu apa?!” Beberapa orang sampai berdiri. Aula pun riuh.

Masakan Henkel adalah puncak kuliner nan mewah.

Masakan Hazel tampak… sangat sederhana.

Bubur pucat. Lalu hidangan-hidangan yang biasanya hanya jadi pelengkap. Hanya itu.

Bukan masakan ladang yang sedap seperti yang dibayangkan banyak orang—melainkan menu yang seolah disusun terburu-buru di rumah paling miskin.

Orang-orang geleng-geleng.

“Maksudnya apa ini?”

Bisik-bisik menyambar.

Menteri Dalam Istana, para komandan ordo, dan para pejabat saling bertukar pandang.

Tidak. Hazel pasti punya maksud.

Mereka memutuskan menunggu.

Iskandar berpikir lain.

Masakan Hazel justru terlihat lebih menggugah selera.

Keyakinannya sudah kelewat batas—kedua matanya telah resmi ditutupi selaput cinta.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Permaisuri Ibu masih memandang hidangan dari kedua kubu dengan wajah lembut seperti biasa.

Begitu piring-piring tertata, Permaisuri Ibu bertanya kepada Henkel,

“Meister, hidangan apa saja yang Anda siapkan?”

“Saya jelaskan, Paduka.”

Henkel maju.

“Hari ini, untuk menyambut para Ksatria Pahlawan, hamba menyiapkan hidangan yang sepadan dengan nama besar mereka. Pertama, ini daging angsa putih panggang.”

Semua terkejut; alis Permaisuri Ibu terangkat.

“Angsa putih?”

“Benar. Angsa putih kerap muncul di lukisan jamuan para dewa kuno, tetapi mengolahnya agar lezat sangatlah sulit. Hamba membersihkan dan membumbuinya dengan cara khas. Untuk rempah, hamba memakai kapulaga, supaya tak ada jejak bau amis. Rasanya akan baru dan segar—tak pernah Anda cicipi di mana pun.”

Henkel memperkenalkan dengan bangga.

“Ini kerang scallop raksasa dari Laut Tirol: kenyal dan rasanya menakjubkan. Ini belut siram minyak truffle, resep turun-temurun keluarga Henkel. Dan ini sejenis burung raja-udang darat—dinikmati beserta tulangnya, gurih sekali. Perutnya kami isi aneka rempah dan buah laurel.”

Ia beralih ke sisi lain—hamparan hijau.

“Barangkali ada ksatria yang menyukai kesederhanaan, jadi kami juga menyiapkan aneka sayuran ringan. Asparagus segar ini dimasak al dente—nikmatnya mengalahkan banyak hidangan mewah. Silakan cocol dengan saus khusus yang dibentuk seperti bunga mawar.”

Tampak ia juga ‘melirik’ gaya Hazel: beberapa menu ladang sederhana pun disiapkan. Masakan pedesaan yang diharapkan orang, ironisnya, justru ada di sini.

Permaisuri Ibu tersenyum memuji. “Sungguh dipersiapkan dengan sepenuh hati.”

“Hamba sudah berusaha sebaik mungkin,” jawab Henkel.

“Memasak adalah kesenian terpadu—perpaduan estetika penglihatan, penciuman, dan peraba—serta sarana pergaulan paling halus. Bunga dari budaya bangsawan. Di puncaknya: kuliner istana. Kemewahan teknik bukan sekadar hiasan; semua demi rasa. Inilah keahlian menggali cita rasa terbaik dari bahan. Hari ini hamba mempersembahkan seni terunggul di zaman kita—puncak kemampuan puluhan tahun. Hamba yakin Anda akan puas.”

Hazel mendengarkan saksama—dan dalam hati mengagumi.

Memang pantas menyandang gelar meister. Terasa kegigihan dan kebanggaan hasil didikan panjang.

Tetapi…

Hazel menatap hidangan yang ia siapkan.

Apa dugaanku benar?

Ia mengepal ujung celemek.

“Penjelasan yang baik,” para Ksatria Pahlawan mengangguk. “Mari kami cicipi.”

Daging angsa putih berkapulaga, scallop Laut Tirol, belut minyak truffle, burung raja-udang isi buah laurel… satu per satu mahakarya Henkel berpindah ke piring kecil mereka.

Satu suap—mata terbelalak.

“Hebat!”

“Rasanya aduhai!”

Setiap suapan disambut seruan kagum.

Para ksatria jelas puas.

Kelompok pro-tani menyaksikan dengan wajah getir.

“Tunggu!” Louis mengangkat tangan.

“Ini tidak adil. Para ksatria sedang sangat lapar. Tentu saja yang dicicipi duluan terasa lebih enak. Begini penilaian jadi bias.”

“Masuk akal,” Permaisuri Ibu mengangguk. “Kita ikuti saran Sir Louis—cicipi bergantian dengan hidangan Lady Mayfield.”

Orang-orang bergumam.

“Louis salah hitung. Justru perbedaan kualitas akan makin telanjang terlihat.”

Di tengah desas-desus itu, Hazel maju dan berdiri di hadapan Permaisuri Ibu.

Permaisuri Ibu menatap hidangan Hazel. “Ini seperti bubur…”

“Betul. Bubur.”

“Ada keistimewaannya?”

“Tidak ada. Bubur ini dibuat dari bahan-bahan umum seperti kacang-kacangan yang dihaluskan.”

“Begitu. Dan ini sup tomat, ya?”

“Ya. Dari tomat kebun yang kutanam.”

“Tomat kebun. Tapi tampaknya tidak ada daging atau jamur?”

“Tidak satu pun. Hanya tomat dan kaldu, diberi sedikit bumbu.”

“Baiklah. Yang di sebelah?”

“Bola-bola daging dari sapi, babi, dan ayam. Yang ini daging ikan.”

“Bola-bola daging itu biasa disantap anak-anak. Ada bedanya?”

“Tidak. Hanya dibuat dengan sepenuh hati—tetap saja bola-bola daging.”

“Begitu. Omelet ini pun sama?”

“Ya. Tanpa bahan tambahan. Hanya telur. Ada keju, tapi kuparut sampai halus, jadi tak terlihat.”

“Baik. Yang terakhir itu pencuci mulut?”

“Ya. Puding, purée apel, dan kue yang direndam kopi.”

Para ksatria menatap Hazel dengan ekspresi sulit diartikan. Satu per satu mereka mengambil dan mencicipi.

Hening.

Tak seorang pun berkomentar. Wajah mereka tampak ragu—seperti menahan rasa tak nyaman.

Dada Louis jatuh.

Harapan terakhir redup.

Ia menunggu kejutan—meski tampak sederhana, begitu dicicipi semua akan terbelalak, lebih lezat dari hidangan mewah. Namun para ksatria jelas tak antusias. Seperti sedang menahan sesuatu.

Bisik-bisik memanas.

“Lihat itu! Ini menghina tamu!”

Kepala Pelayan bergegas ke Permaisuri Ibu. “Haruskah kita hentikan di sini?”

“Tidak. Lanjutkan,” potong Permaisuri Ibu.

Iskandar pun sama. Meski dari segala arah ada yang mendesak, “Paduka, usir saja gadis itu sekarang,” ia tak menggubris.

Di tengah riuh rendah, santap para ksatria usai.

Ketujuhnya meletakkan sendok-garpu.

“Kini, penilaian,” ujar Kepala Pelayan. Lembar-lembar diserahkan.

“Tuliskan nama dan pilih: hidangan di kanan karya Meister Henkel, atau di kiri karya Lady Mayfield.”

“Baik.”

Mereka menulis. Lembar dikumpulkan.

“Kami umumkan hasilnya.”

Aula menjadi sunyi. Semua terpaku pada bibir sang Kepala Pelayan.

“Pertama, penilaian Sir Kendrick.”

Ia sempat tertegun menatap kertas, lalu membaca, “Sir Kendrick memilih—meja kiri, hidangan Lady Mayfield.”

“Hm?”

Gegeri kembali.

“Mungkin sekadar simpati.”

“Benar. Sisanya pasti untuk Meister Henkel.”

Lembar berikutnya.

“Sir Percy… memilih kiri.”

Eh?

Satu per satu dibacakan.

“Sir Edward, kiri.”

“Sir Guilford, kiri.”

“Sir Hannibal, kiri.”

“Sir Wayne, kiri.”

“Sir Bancroft, kiri.”

Usai ia membaca, wajahnya masih bingung.

Semua—bulat—memilih Hazel.

Aula gempar.

“Kenapa?”

Wajah Meister Henkel dan para koki istana mengabu.

Bagaimana bisa?

Mereka mengucek mata—dan baru sadar piring kecil para ksatria aneh: yang tersisa hanya hidangan Meister Henkel. Hidangan Hazel ludes.

Pujian diarahkan ke Henkel, tapi yang dimakan habis justru masakan Hazel? Padahal raut wajah mereka tadi tampak tak puas?

Makin dipikir, makin tak masuk akal.

“Kenapa ya? Karena ‘makanan sehat’? Tak terlalu enak di lidah, tapi nyaman di perut?”

“Bola-bola daging itu makanan sehat dari mana? Lagi pula Meister Henkel juga menyiapkan menu sehat!”

“Dan tak tersentuh! Bukan itu.”

“Atau karena nostalgia masa kecil yang miskin?”

“Tidak! Mereka pahlawan rakyat, ya, tapi keturunan bangsawan! Sejak kecil makan enak! Bukan itu!”

Pendapat beradu.

Saat itu juga, Lorendel mendadak berdiri.

Dengan mata elang seorang high elf, ia menelisik kedua set hidangan—dan akhirnya menangkap ciri yang sama pada menu Hazel.

Ditonton semua orang, ia berseru kaget,

“Jangan-jangan…!”

Aula memusatkan perhatian padanya.

Iskandar—dari tempat duduknya yang agak tersembunyi—pun menatap penuh minat.

Apa pun penjelasannya, yang jelas masakan Hazel hari ini agung—paling agung di dunia.

Hanya… kenapa agung, ia belum mampu merumuskannya. Semalaman ia tak tidur, dan ia tegang karena tak boleh ketahuan jati dirinya—otaknya tak berputar mulus.

Melihat sahabat high elf-nya berdiri, Iskandar lega.

Ayo, pujilah! Cepat!

“Saya menduga begini.” Suara jernih Lorendel bergema di aula yang hening bak jarum jatuh pun terdengar. Mata hijau muda itu berkilat; wajah pucatnya memerah karena semangat. Ia bahkan turun dari tribun dan melangkah ke depan.

“Hidangan Lady Mayfield punya satu kesamaan.”

Ia menunjuk piring-piring di meja kiri.

“Bubur dari aneka bahan yang dihaluskan. Sup tomat tanpa tambahan daging atau jamur. Bola-bola daging dan bola-bola ikan cincang. Omelet yang hanya berisi telur—keju pun dihaluskan. Purée apel. Kue yang direndam kopi…”

Satu per satu ia ulang menjabarkan.

Entah karena kefasihan seorang high elf, orang-orang yang tadi hanya melongo kini mulai menangkap benang merahnya.

Meister Henkel pun demikian.

Jadi gadis itu memang datang terlambat; kukira konsentrasinya pecah dan semua berantakan… ternyata tidak? Hidangan sederhana itu—ternyata semuanya tersusun dengan perhitungan?

Kini ia pun melihatnya: sungguh sederhana—hingga heran mengapa tadi luput.

“Menu itu—mungkinkah….”

Kegaduhan kembali beriak. Orang menoleh ke Hazel.

“Disengaja?”

“Maksudnya apa?”

Tatapan lantas tertuju pada para ksatria. Mereka mengalihkan wajah, canggung.

“Yang mulia para ksatria,” Permaisuri Ibu angkat bicara dari sisi kanan kursi kehormatan.

“Tidak nyaman rasanya menjadi bahan perbincangan seperti ini. Namun ketahuilah, semua timbul dari rasa hormat.”

Lembut kata-katanya.

“Aula ini bukanlah istana zaman dahulu. Seperti di luar sana, semua yang berkumpul di sini sungguh menghormati para Ksatria Pahlawan. Karena ingin menjamu dengan sebaik-baiknya, jadilah gegap gempita. Demi meredakan rasa ingin tahu, sebagai penyelenggara aku yang akan memulai.”

Beliau menoleh ke Hazel.

“Lady Mayfield, para Ksatria Pahlawan memang telah memasuki usia enam puluh, namun mereka tetap sangat bugar. Lihat otot baja dan bahu lebar itu. Lagi pula mereka ksatria Bratania—tak pernah lalai berlatih sampai menutup mata. Di usia tujuh puluh pun, mereka masih menggigit daging liat dan meneguk minuman keras bersama ksatria muda. Tetapi hidangan yang Anda sajikan tampak seperti jamuan untuk orang renta dan lemah. Apakah itu berarti para ksatria membutuhkan perlakuan seperti itu?”

Nada heran samar terselip di suara Permaisuri Ibu.

Sebagian orang istana membatin, “Katanya beliau menyukai gadis itu—tapi bertanya setajam ini di depan banyak orang? Rupanya cuma rumor!”

Sebaliknya, kelompok pro-tani—termasuk Menteri Dalam Istana—tersenyum: “Dengan ‘panggung’ seperti ini, apa pun jawaban Hazel akan makin berkilau. Seperti yang kami duga—Permaisuri Ibu memang hebat.”

Semua mata kembali ke Hazel.

Kegaduhan mereda.

Hazel melepaskan genggaman pada ujung celemek yang tadi tak sadar ia cengkeram.

Seluruh aula menatapnya—tanpa kecuali.

Ia menelan gugupnya, melangkah beberapa tapak ke depan, lalu mengangkat sedikit rok dan membungkuk ke arah para ksatria.

“Terima kasih sudah menikmati.”

Ia menegakkan badan dan menatap mereka.

“Para Ksatria Pahlawan berkeliling kekaisaran, menolong yang lemah dan miskin—tanpa tunduk pada tekanan. Saya sangat menghormati itu. Kalian adalah tamu yang harus dijamu dengan sebaik-baiknya.”

Ia bicara pelan, jernih, dalam diam yang pekat.

“Tetapi kudengar saat kunjungan sebelumnya, kalian sulit menikmati jamuan istana. Saya sangat menyesal mendengarnya. Menang dalam adu masak memang penting—namun sekalipun harus menyingkirkan itu, saya ingin kalian benar-benar makan kenyang kali ini. Hanya saja… saat memikirkan hal itu berulang-ulang, ada satu hal yang mengganjal.”

Semua menahan napas.

“Ada satu fakta yang luput dari saya. Sampai hari terakhir. Saya duduk bengong di ruang distilasi di belakang dapur, bertanya, ‘Benarkah ini yang terbaik? Tak bisakah menambal menu lebih jauh?’ Dipikir dan dipikir, tak ada ide. Toh, semua eksperimen dapur sudah dicoba pada jamuan sebelumnya.”

Banyak yang mengangguk—masuk akal.

“Lalu tiba-tiba terlintas sesuatu.”

Hazel melanjutkan,

“Bagaimana kalau alasan para ksatria tak bisa menikmati jamuan waktu itu bukan menunya—melainkan hal lain? Saat itu, kisah lain tentang masa lalu para ksatria muncul tanpa diminta—kisah yang pernah kudengar.”

Ia kembali menatap para ksatria.

“Ketujuh ksatria ini, bahkan di masa kaisar terdahulu, tak menyerah dan memberi harapan pada banyak orang. Karena itu kalian mengalami siksaan yang mengerikan di tangan beliau—begitu kudengar. Ketika mengingat itu, sebuah pertanyaan muncul: Setangguh apa pun, bahkan bagi para Ksatria Pahlawan… jika kalian pernah disiksa separah itu—apakah gigi kalian benar-benar baik-baik saja?”

“Ah?”

Dari banyak mulut terdengar desahan heran.

Tak seorang pun sebelumnya memikirkan sejauh itu.

Di kalangan bangsawan, menjaga napas agar selalu wangi adalah etiket penting. Sejak kecil mereka berkumur air seduhan mint dan sangat perhatian pada kebersihan mulut.

Di lingkaran pergaulan tinggi, terlebih lagi. Para bangsawan lanjut usia pun kerap memamerkan gigi putih berkilau.

Tapi… sakit gigi?

Seperti katak dalam tempurung, para bangsawan istana merasa kecolongan.

Namun jika dipikir masak-masak, itu bukan omong kosong.

Mereka yang pernah disiksa sedemikian kejam mustahil punya gigi utuh. Saat menahan nyeri, manusia otomatis mengertakkan gigi. Sekuat apa pun gigi yang dikaruniakan, pada akhirnya akan rusak.

Hanya saja, para Ksatria Pahlawan selama ini sangat pandai menutupi kenyataan itu.

Orang-orang menatap mereka seperti baru ditampar di belakang kepala.

“Hahaha!”

Ketujuh ksatria itu tergelak lepas.

“Akhirnya ketahuan juga!”

Sir Bancroft, yang termuda di antara mereka, bersuara lantang. Rambut putih cepak dan wajah legam terbakar matahari—tampangnya masih segagah pemuda.

“Jamuan terakhir di sini sejatinya luar biasa. Gunungan daging! Sosis-sosis kencang! Sampai daging merak! Lalu aneka hidangan laut langka! Sayur-mayur menyehatkan pun lengkap, dan kuliner dari pelosok yang belum pernah kami dengar namanya! Jelas istana menyiapkannya dengan sepenuh daya. Rasanya pun aduhai! Sudah lama kami tak menyantap jamuan semegah itu; kami pun longgarkan ikat pinggang, berniat makan sepuasnya, tetapi…”

Suaranya merendah.

“Sampai di situ batas kami.”

“…….”

“Benar. Kami tujuh orang ini, akibat siksaan berat para ksatria istana di masa kaisar terdahulu, gigi-gigi kami hancur. Selain itu semua pulih lewat latihan, tetapi bagian ini tak bisa kembali. Dari luar mungkin tak tampak, namun akar-akar gigi longgar, gusi bengkak, dan satu per satu tanggal dari bagian terdalam.”

Sir Bancroft berterus terang.

“Sudah kami coba: desinfeksi dengan garam terbaik, tabur bubuk herbal—tetap tak mempan. Daging ada, tapi tak bisa kami gigit. Bahkan potongan sayur lembek dalam sup pun susah kami kunyah.”

Wajahnya getir.

“Namun bagaimana kami bisa menampakkan itu? Kami ini disebut Ksatria Pahlawan—gelar yang kebesaran—disambut meriah ke mana pun melangkah. Orang-orang yang hidupnya berat bilang mereka mendapat tenaga saat memandang kami. Mereka yang dizalimi, mereka yang bekerja dari fajar sampai malam, anak-anak yang melawan sakit… Orang-orang itu, syukurnya, menemukan harapan saat melihat kami.”

“Bagaimana jika hal ini tersiar luas?”

Sir Percy menyambung pelan.

“‘Ksatria Pahlawan pun takluk pada usia. Pada akhirnya mereka tak beda dari kakek-kakek biasa…’ Jika kenyataan itu tersebar, apa jadinya orang-orang yang menarik kekuatan dari kami? Bukan membuat lunglai? Karena itulah, setidaknya soal ini—kami tak ingin siapa pun tahu.”

Ia bicara datar.

“Daging angsa putih, burung raja-udang, belut, scallop, juga sayur-sayur langka yang menyehatkan… semuanya hidangan hebat. Santapan darat-laut yang sukar ditemui. Tapi meski sayap itu montok berlemak, kami tak sanggup menggigitnya! Meski wanginya harum memesona, kami tak bisa mengunyahnya!”

Para Ksatria Pahlawan memandang piring mereka—hidangan Meister Henkel masih bertumpuk.

“Itulah batas kami.”

Tak ada yang bersuara.

Dalam hening, Sir Kendrick yang tertua pelan membuka mulut.

“Sebaliknya…”

Ia melirik hidangan Hazel di meja kiri.

“Saat hidangan gadis itu muncul setahap demi setahap, kami spontan tercekat dalam hati. ‘Aduh! Ketahuan!’ Begitulah. Wajar bila wajah kami canggung. Malu rasanya. Namun bagaimanapun, perut kami yang lapar meraung di depan makanan-makanan lembut ini.”

“Benar. Betul,” timpal Sir Wayne sambil menelan ludah.

“Bubur gurih yang meluncur mulus. Sup tomat kental yang tinggal ditelan. Omelet telur dengan aroma keju yang jelas terasa. Di atas semua itu: bakso-bakso yang tak perlu dikunyah—langsung hancur di mulut. Matang sempurna, tapi entah bagaimana sarinya tetap melimpah!”

“Pencuci mulutnya juga!”

Sir Hannibal menyela.

“Keduanya istimewa! Purée apel yang segar manis, serasa menggigit buah yang baru dipetik! Kue yang direndam kopi, meleleh lembut! Entah bagaimana dibuatnya, tidak lembek, tapi tetap lembap! Seumur hidup, baru kali ini kumakan pencuci mulut seenak itu!”

Ia larut memuji, lalu tersadar.

“Ehem—bagaimanapun, kami tak ingin rahasia terbongkar, jadi pura-pura biasa saja dan diam-diam makan. Namun penilaian tak boleh bohong, bukan?”

“Benar! Harus adil!”

“Itu yang terpenting!”

Para ksatria bersahut-sahutan. Sir Kendrick merangkum,

“Maka demikianlah hasilnya. Semua ini salah kami yang menyembunyikan hal itu. Semoga rasa penasaran Paduka Permaisuri Ibu dan hadirin terjawab.”

Para ksatria tua itu mengangkat bahu dengan senyum getir—malu sekaligus lega.

Wajar. Rahasia yang mati-matian ingin mereka sembunyikan, malah terbuka begitu saja.

Namun…

Hazel memandang mereka dengan iba, lalu tanpa sadar berseru,

“Tidak!”

Sejak awal ia menebak rahasia itu, satu hal terus menggelitiknya—kalimat yang sungguh ia ingin sampaikan pada para Ksatria Pahlawan.

Seluruh aula menoleh pada Hazel.

Dalam situasi yang sudah menyedot perhatian, teriakan “Tidak!” makin memusatkan sorot mata.

Hazel gugup.

Tapi ia harus bicara. Mungkin ini satu-satunya kesempatan mengucapkan kata-kata itu pada para tamu agung.

Ia mengumpulkan nyali dan perlahan berkata,

“Kalau sudah mulai duel, tentu saya harus menang sekuat tenaga. Tapi andaikan ini benar-benar memalukan—sesuatu yang harus ditutup—saya tak akan pernah mengumbar rahasia para Ksatria Pahlawan di depan semua orang. Tak akan, sama sekali. Kalian adalah orang-orang mulia yang menolong kami—rakyat kecil yang miskin dan lemah.”

Para ksatria menyimak tenang.

“Menurut saya, keadaan kalian sekarang… bukti bahwa dulu, seberapa pun ditekan, kalian tetap teguh memegang tekad. Itu sesuatu yang sangat membanggakan dan mulia. Bukan hal yang perlu disembunyikan—justru patut ditampakkan. Saya yakin orang-orang takkan kecewa atau patah semangat karenanya. Mereka akan kian beroleh daya.”

Hazel menatap mereka dan melanjutkan,

“Kalian sudah melalui semuanya. Masa ketika orang-orang benar ditindas telah berlalu; bahkan di istana seperti ini, zaman telah berubah—para pahlawan kaum papa disambut hormat. Fakta itu sendiri memberi harapan. Menyiapkan hidangan ini, saya ingin sekali menyampaikan itu pada kalian.”

Ia menutup ucapannya—sedikit tergagap, namun bulat.

Hening menjalar.

Ucapan Hazel jauh dari bahasa istana yang licin dan kiasan anggun.

Sebagai gantinya, ada rasa hormat dan kepedulian yang sungguh-sungguh.

Ketika ia berbicara tulus pada para Ksatria Pahlawan, hidangan-hidangan sederhana yang tampak remeh itu tiba-tiba berkilau mengalahkan apa pun.

Lebih berkilau daripada masakan termewah Meister Henkel.

Iskandar menatap terpana.

Ya! Itulah! Seharusnya—sebagai kaisar—aku yang mengucapkan kata-kata itu!

Tapi tadi tak terpikirkan.

Wajar saja. Ia bahkan tak menyadari gigi para ksatria rusak akibat siksaan; dari mana mungkin muncul kata-kata semacam itu?

Hanya Hazel yang bisa.

Dugaannya benar: Hazel memang satu-satunya harapan jamuan ini.

Bukan hanya soal masakan. Ia memainkan peran yang paling mulia.

Wajah para ksatria—tamu agung istana—yang tadi tampak ciut, perlahan melunak. Tersentuh ketulusan sederhana, senyum tipis muncul di bibir tegas mereka.

Jamu tak bisa lebih sempurna.

Permaisuri Ibu beralih menatap Meister Henkel dengan senyum di ujung bibir.

“Bagaimana pendapat Anda, Meister Henkel?”

Henkel dan para koki istana terpaku.

Saat hasil diumumkan, mereka hampir tumbang ke belakang.

“Bagaimana mungkin!”

Tujuh suara bulat untuk Hazel?

Tak masuk akal. Seminggu kurang tidur—segala daya dicurahkan! Terkalahkan oleh hidangan remeh-temeh yang nyaris tak layak disebut masakan?

Ia merasa ada yang salah. Teori-teori konspirasi berkelebat di kepala.

Suasana memanas—hampir meledak.

Namun ketika kebenaran terkuak—

Para koki istana sontak bungkam.

“……”

Henkel terperangah—lalu merasa hampa.

Untuk jamuan ini, ia berdarah-darah. Puluhan tahun teknik ia kerahkan.

Ternyata jawabannya sesederhana ini!

Seakan menempuh jalan memutar amat jauh, padahal di depan mata ada jalan lurus.

“Haa…”

Desah panjang lolos dari bibirnya.

‘Menghidangkan sesuatu yang bisa disantap nikmat oleh tamu.’

Itulah dasar memasak—begitu mendasar sampai tak perlu diucapkan.

Namun…

Apakah ia mempertimbangkan dasar paling dasar itu?

Henkel menelusuri proses persiapan. Ia menggeleng.

Tidak.

Slogan yang ia tanam untuk jamuan ini: ‘Rasa terbaik! Teknik terbaik!’

Dengan itu, kami menindih habis gadis desa hijau itu—agar sekali-kali ia tak menginjak dapur istana lagi. Itulah tujuannya.

Para tamu—Ksatria Pahlawan—tersisih di belakang.

‘Buat para ksatria yang telah mencicipi segala santapan di penjuru kekaisaran terpukau oleh jamuan istana.’

Dalam tujuan itu, tak ada kepedulian mendalam pada orang yang akan menyantap hidangan. Yang ada cuma diri sendiri.

Kala itu, pencerahan menghantam kepala Henkel.

Benar.

Ia koki di puncak piramida—tapi luput dari yang terpenting: di seberang sepiring hidangan, ada manusia.

Koki tak boleh memikirkan dirinya—ia harus memikirkan si penikmat.

Ia kembali menatap masakan Hazel.

Pada penampilan sederhananya, tak ada ‘sang koki’ di sana. Semua tertuju pada manusia di balik piring. Penuh pertimbangan.

‘Menghidangkan sesuatu yang bisa disantap nikmat oleh tamu.’

Ia mengamalkan dasar paling dasar—sempurna.

Kalau dipikir, sejak awal gadis itu memang begitu. Alih-alih membuktikan dirinya benar, ia mendahulukan kesehatan Pangeran Rowan—menjebol jendela dan meloloskan diri.

Dengan hati seperti itulah ia menyembuhkan sang pangeran lewat makanan.

Tersadar akan itu, Henkel terguncang.

Akulah yang kurang.

Tak percaya, tapi kenyataan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, rasa seperti itu membuat tubuhnya limbung.

“Meister?” orang-orang terperanjat.

Namun ia hanya menatap Hazel—lamun, lalu berkata,

“Aku kalah.”

Para juru masak istana terpekik.

“Guru! Guru!”

Mata Hazel membesar.

“Meister…”

Tak seorang pun menduga ini.

Koki puncak kekaisaran menyatakan kalah—di depan orang sebanyak ini—pada gadis petani.

Namun wajahnya justru lega.

Sejak awal pertemuan, ia selalu melotot pada Hazel dengan kesal.

Sekarang tidak. Ia tampak tenang. Memang tenang.

‘Para koki istana dipermainkan gadis desa hijau yang tak paham apa-apa soal masak?’

Itulah yang membuatnya murka. Kini ia paham bukan itu.

Ada yang kurang pada diriku. Dan gadis itu mengungguliku tepat di situ.

Ia akhirnya bisa mengakui.

Bertahan sendirian di puncak membuat kekurangan sendiri tak terlihat. Turun dan menandingkan diri—barulah tampak.

Selama ini ia terkurung keras kepala.

—“Kekurangannya adalah tak sanggup menerima kenyataan meski jelas di depan mata. Tak mampu mengakui dalam hati, maka mati-matian menolak.”

Kata-kata Permaisuri Ibu terngiang.

Kini ia merasakannya sampai ke tulang. Karena enggan mengakui, matanya buta.

Ketika akhirnya terlihat jelas, seperti kata Permaisuri Ibu, ia bisa menerimanya dari lubuk hati.

Ia memandang murid-muridnya melingkar.

“Duel kali ini—kekalahan telak kita.”

Ia berbalik, melangkah lebar, dan meninggalkan aula.

Hazel terpana menatap punggungnya. Semua pasang mata di tribun melotot.

Gadis petani akhirnya mengalahkan Meister Henkel!

Riuh rendah merebak.

Yang mereka saksikan duel masak—tapi rasanya seperti menyaksikan jousting berkuda.

Seolah ksatria terkuat yang menang terus—bukannya dikalahkan ksatria kampung—melainkan dirobohkan sekali tebas oleh jongos ksatria.

Benteng kukuh bernama Meister Henkel ambruk dan mundur!

Sulit dicerna. Namun jika dicermati—tak sepenuhnya begitu.

Tujuh suara bulat. Makna mendalam di baliknya. Lalu—kepedulian yang menumbuhkan senyum di wajah para ksatria tua yang semula canggung.

Sebuah kemenangan yang bersih.

Pada titik ini, siapa tak mengakui?

Gadis itu memang punya sesuatu yang istimewa.

“Tuh kan! Apa kubilang?”

Marchioness Masala—penganut teori konspirasi “kartel kentang”—berteriak lantang.

Kelompok pro-tani yang mendukung Hazel dan Perkebunan Marronnier tersenyum puas merayakan kemenangan.

Sebaliknya, kubu anti-tani terpukul. Nilai-nilai yang mereka yakini terasa jungkir balik.

“Tak bisa jadi…”

Adiputri Agung Athena di bangku kehormatan pun kosong melongo.

Ia yakin Meister Henkel yang menang. Menonton santai—lalu kena batunya.

Para abdi pun sama terkejutnya.

“Ya ampun! Bagaimana ini bisa terjadi, Paduka?” gumam mereka—lalu spontan melirik kaisar.

Dan—kejut lagi.

Sang kaisar tersenyum lebar, seolah hatinya sungguh-sungguh lega. Bukan sekadar senang—ia tampak bahagia.

Hah?

Para abdi saling pandang heran. Wajar mereka bingung.

Baru saja, Iskandar masih sibuk “menggali” info kubu lawan—“Kalau si pemilik kebun itu menang, celaka! Apa Henkel menyiapkan segala sesuatunya? Sedang apa dia sekarang?”

Jadi, jika kini ia tampak “agak tak waras”—maafkanlah, itu semacam buah dari ulahnya sendiri.

Kegaduhan membuat suasana sedikit buyar.

Untuk momen seperti ini, Menteri Dalam Istana segera tampil.

“Betapa mengasyikkan! Kini kita paham bagaimana menjamu para tamu agung. Para koki istana, siapkan hidangan yang pantas untuk jamuan hari ini! Para abdi, sediakan tempat duduk layak untuk sang pemenang! Dan para Ksatria Pahlawan yang jadi juri—silakan ke sini menerima piala minuman dari Paduka!”

Tata tertib beres seketika.

“Merupakan kehormatan.”

Para ksatria naik ke bangku kehormatan. Permaisuri Ibu menyambut dengan senyum merekah.

“Maaf merepotkan, mendadak meminta kalian jadi juri.”

“Bukan repot, ini menyenangkan. Jamuan yang akan lama kami ingat.”

Sir Guilford menoleh pada kaisar jauh di dalam bangku kehormatan dan berkata dengan wajah ramah,

“Istana Paduka memiliki seorang nona yang benar-benar bijak. Dari itu saja terlihat Paduka sanggup mengelola segalanya seorang diri.”

Para komandan ordo yang mengikuti di belakang mendengar kalimat itu.

Apa?

Mereka saling pandang, ternganga.

Louis berseru, “Mengelola apanya! Tokoh yang menyelamatkan jamuan hari ini malah ingin diusir dari istana!”

“Baguslah. Setelah mendengar itu, semoga Iskandar sadar diri,” sahut Kaien.

Memang.

Akhirnya kami akan melihat wajah menyesal itu.

Keempatnya mencondongkan badan di sela para ksatria, menunggu reaksi.

Akan tetapi—aneh.

Iskandar sama sekali tak tampak menyesal.

Tak juga terlihat digerogoti rasa bersalah. Bahkan sepertinya ia… tak paham apa yang dimaksud.

Meski barusan ada “nona bijak di istana” segala, ia hanya mengangguk-angguk dan nyengir. Bukan cuma puas—malah bangga.

Sebenarnya Iskandar sedang amat bahagia.

Mana ada raja yang tak gembira dipuji pejabat lurus?

Apalagi Sir Guilford—terkenal lebih rela kepalanya dipenggal daripada mengucap basa-basi. Mendapat sanjungan dari Ksatria Pahlawan macam itu, rasanya seperti melayang di atas awan.

Sahabat-sahabatnya tak mungkin tahu isi hati itu.

Yang mereka tahu: belum lama ini Iskandar sibuk berkeliling—“Tak bisa kubiarkan pemilik kebun itu menang! Cepat beri aku informasi!”—membuat salah paham kian mengeras.

Maka, mereka tak paham situasi.

Zigvald bertanya tulus, cemas pada kawannya, “Kenapa dia begitu?”

Setelah menimbang-nimbang, Lorendel mengajukan dugaan hati-hati, “Mungkinkah… mabuknya belum hilang?”

“Ah, begitu?” Louis menyapu wajah kawannya dengan tatapan curiga.

Memang lebih kemerahan dari biasanya.

Masih terasa janggal, tapi hanya itu penjelasan yang masuk akal.

Kesimpulan: kaisar tampak waras, padahal sebetulnya mabuk berat.

“Ck, ck…”

Mereka berdesis, lalu—demi persahabatan—memilih pura-pura tak melihat dan berbalik.

Sebenarnya mereka juga tergesa. Mereka ingin segera menemui Hazel.

Syukurlah ia muncul tepat waktu, tak mengecewakan siapa pun—tapi apa yang terjadi sebenarnya?

Mungkin ia mengasingkan diri demi terobosan baru?

Bagaimanapun, hanya bertanya langsung yang memberi kepastian.

Mereka bergegas ke tempat duduk Hazel di sisi kiri aula.

Tapi Hazel tak ada.

“Kemana dia?”

Keempatnya menoleh kiri-kanan mencari sosok yang begitu mereka kenal.

Musik tari rancak mengalun.

Di meja, gelas-gelas anggur bertingkat membentuk menara.

Para badut istana, pegawai resmi istana, beraksi. Ada yang memetik bandora—semacam gitar kecil—sambil menyanyikan kisah-kisah petualangan.

Di satu sudut, kue raksasa berhias lambang kekaisaran dipotong.

Suasana jamuan—serba biasa.

Kecuali satu hal: semua orang makan bubur, sup tanpa potongan, kue lembap berkopi—serba lembut.

Di tengah-tengah itu, Hazel sibuk melongok ke sekeliling.

“Mencari siapa?” sapa seorang abdi—membuatnya terlonjak.

“Ah, bukan apa-apa.”

Ia menunduk, berpura-pura menatap meja. Begitu abdi pergi, ia kembali mengangkat kepala.

Ia mengumpulkan nyali, meraih piring kosong.

Piring itu ia jadikan “topeng”, menyisakan celah untuk mata. Ia melirik cepat ke arah bangku kehormatan—lalu menoleh lagi.

Saat itu—

“Lady Hazel!”

Seseorang menepuk ringan dan menyapa; Hazel hampir menjerit.

“Menteri Dalam Istana!”

“Apa yang kau lakukan? Dari situ pun takkan kelihatan Paduka.”

“Bukan Paduka yang kucari…”

“Tak apa! Tak apa!” Ia tertawa lebar, menepuk punggung Hazel.

“Tak perlu khawatir. Selama aku di sini, takkan ada apa-apa! Lagi pula—ini rahasia—Paduka diam-diam mengagumi para Ksatria Pahlawan luar biasa itu, setengah mati.”

“Ah, aku dengar juga. Katanya merekalah yang memberi beliau kekuatan saat kecil?”

Hazel menurunkan piring.

Ia teringat seseorang yang mengucapkan hal itu padanya. Memang, barusan ia sedang mencari orang itu.

“Omong-omong, apa yang terjadi? Kami semua sangat cemas!”

“Begini…”

Hazel mulai pelan—sekalian hendak mengonfirmasi sesuatu.

“Sejujurnya, terjadi insiden.”

“Insiden?!”

“Tak ada yang serius, lihat? Aku utuh. Bagaimanapun, seseorang menolong hingga aku tiba di aula tepat waktu. Apakah itu melanggar aturan?”

“Hm? Tentu tidak. Yang penting hadir. Orang yang menolong itu justru berjasa agar acara kenegaraan terselenggara.”

“Syukurlah. Aku juga merasa tak masalah, tapi ini menyangkut pekerjaanku—jadi berjaga-jaga.”

“Lalu—insiden apa sebenarnya?”

“Itu…”

Baru ia hendak bercerita, para pejabat berlari dari belakang.

“Masalah besar! Jenderal Hector mabuk berat!”

Menteri langsung terseret pergi.

Syukurlah.

Kalau kebenaran terungkap, betapa terkejut mereka semua!

Hazel ingin menunda penjelasan selama mungkin. Tentu tak bisa selamanya.

Perlahan-lahan ia mulai benar-benar menyadari betapa besar hal yang baru saja ia lalui.

Nyaris saja ia tak berdiri di sini. Bisa saja—jika apes—ia gagal kabur dan benar-benar dijual entah ke mana.

Ia tepat waktu berkat Sir Valentine.

Namun ia tak melihatnya di mana pun.

Padahal ini jamuan untuk para Ksatria Pahlawan; bahkan para calon ksatria belia pun bergiliran menunjukkan muka.

“Hmm…”

Hazel menggesek-gesek jemari—gelisah.

Benar-benar tak apa?

Tadi terlalu kalang kabut untuk memperhatikan detail. Ia hanya sempat memastikan: Kitty-lah yang memberi kabar penculikan—lalu berpisah buru-buru.

Baru kini ia sadar: Sir Valentine pun bolos tanpa izin.

Hazel—yang selalu khawatir soal pekerjaan orang—mendadak gugup.

Ia berniat menyerahkan semua pujian penumpasan penjahat pada polisi. Jadi ia tak bisa menjadikannya alasan datang terlambat.

Namun rupanya—Dewa Bratan melindungi?

Kebetulan, hari ini atasannya—Paduka Kaisar—juga minum, lalu baru bangun saat matahari tinggi. Sir Valentine sudah kembali saat itu.

Syukurlah. Tapi…

Sayang ia tak bisa hadir.

Bahkan di hari seperti ini, ia berjaga di luar!

Sir Valentine selalu bekerja dari balik layar—dan tiap momen penting, justru tak menyaksikan satu pun.

Kali ini terasa keterlaluan. Sir Valentine sangat menghormati para Ksatria Pahlawan.

“Terlalu!”

gumam Hazel.

Saat itu—

“Nona! Di sini rupanya!”

Para pelayan dapur datang.

“Lihat ini!”

Jemma mengeluarkan botol anggur besar yang disembunyikan di balik celemek.

Hazel terkejut.

“Anggur istana!”

“Yang Mulia Putri Agung mengundang kami dan menyelundupkan ini. Nona pantas mendapatkannya. Silakan, segelas.”

Jemma menuang.

Anggur ungu cantik beriak; aromanya merebak. Hazel menenggak dan berseru kagum,

“Anggur mahal memang beda!”

Tepat saat itu—

“Nona Hazel?”

Suara bariton berat dari belakang.

Hazel menoleh—nyaris menjatuhkan gelas.

Ketujuh Ksatria Pahlawan berdiri di sana.

“Kami datang untuk mengucapkan terima kasih langsung atas hidangan lezatnya,” kata Sir Kendrick.

“Ah…”

Hazel buru-buru menaruh gelas dan berdiri tegak.

Seperti semua orang, Hazel merasa tak nyata berdiri di hadapan tokoh legenda.

Namun mereka sangat sederhana.

“Berkat nona, kami menyaksikan tontonan langka! Sir Wayne—yang tak kalah dari singa—menyerah pada omelet keju!”

“Hah! Siapa pula yang pura-pura tenang padahal mengorek remah bakso sampai bersih? Bukankah ‘Elang Padang Gersang’ Sir Guilford?”

“Cukup oceh—terima lembar ini! Kau ingin belajar membuat purée apel seenak itu, bukan? Belajar yang benar—biar bisa kau jamu kami! Tentu tak sembarang orang bisa belajar, sih!”

Ditengah hujan pujian, Sir Percy berbisik,

“Tapi ada satu hal yang mengganjal…”

“Silakan, Sir Percy.”

“Tadi kau bilang ‘kami—rakyat kecil yang miskin dan lemah’, bukan? Itu yang aneh. Bukankah kau putri bangsawan hebat yang berkiprah di istana?”

“Ah.”

Hazel menjelaskan asal-usulnya pada para ksatria tua yang menatap ingin tahu: bagaimana ia mewarisi sebidang tanah hingga bisa bertani di dalam istana; bagaimana ia mengelola kebun.

“Luar biasa!”

Para ksatria tergelak.

“Kami menyukai kisah itu sama seperti kami menyukai masakanmu! Terus terang, istana bukan tempat yang membuat orang seperti kami rileks. Tapi kali ini kami bersenang-senang! Ingin membalas, sayangnya kami tak punya apa-apa.”

“Tidak perlu. Benar-benar tidak.”

Hazel buru-buru menggeleng.

Namun—tiba-tiba sesuatu terlintas.

“Sebenarnya… aku punya satu permintaan kecil…”

Ia membisikkan sesuatu pada para ksatria tua.

Beberapa saat kemudian—

Para pelayan dapur melihat nona mereka melangkah kembali bak jenderal pemenang—wajahnya bersinar terang.

“Nona! Apa itu di punggung nona?”

“Rahasia.”

Hazel mengedip. Ia menilik suasana aula, lalu berkata pada para pelayan,

“Aku keluar sebentar.”

Ia menghilang dari aula dengan ringan.

Pada saat bersamaan, Iskandar juga bangkit dari kursinya.

Ia melirik diam-diam ke sisi kiri aula jamuan.

Para Ksatria Pahlawan masih mengerubungi seseorang.

Sebenarnya yang mereka kelilingi adalah seorang badut istana yang luar biasa piawai menari tamborin. Namun Iskandar, tentu saja, mengira itu Hazel.

Bagus. Kesempatan sebentar menghirup udara segar.

Ia memberi isyarat pada para abdi agar tidak mengikutinya dan menyelinap keluar dari aula.

Riuh rendah tawa dan sorak jamuan menggema sampai ke luar.

Di lorong, para bangsawan pria dan wanita bercakap sambil menenteng piala anggur. Cahaya lampu gantung di atas kepala mereka memercikkan kilau.

Hazel beringsut pergi sebelum ada yang mengenalinya.

Ia menyusuri ke sana kemari di Istana Singa Perak. Selain area dapur, ia tak hafal jalan. Ia melangkah sesuka kaki.

Makin jauh dari aula, suasana kian senyap.

Menyusuri lorong remang, tiba-tiba pandangan terbuka.

Tampak sebuah taman mungil dikelilingi deret lengkungan—pelataran tengah Istana Singa Perak.

Di pusatnya berdiri patung Singa Perak. Semburan air mancur berkilau perak diterpa cahaya bulan.

Pemandangan yang pas di hati.

Hazel terpaku menatap sejenak.

Saat itu juga, Iskandar pun tengah menghindari keramaian. Ia menapaki lorong gelap hingga ke ujungnya.

Tempat ini bagus.

Baru masuk ke pelataran kecil itu—

Ia sadar ada seseorang telah berdiri diam di seberang patung. Ia terkejut menghentikan langkah; sosok itu menoleh ke arahnya.

Glek!

Ia menahan napas dan buru-buru bersembunyi di balik lengkungan.

Kenapa dia di sini? Barusan masih dikerumuni para Ksatria Pahlawan!

Tak yakin dengan penglihatannya, ia mengintip lagi—benar, itu Hazel.

Dalam terang bulan di pelataran, terlihat jelas. Tak ada nona bangsawan istana yang mengepang rambut cokelat tua sepekat itu. Tak ada yang memakai rok alih-alih gaun.

Di pihak Hazel, ia juga tak kalah kaget.

Ia tak mengira ada orang muncul dari arah berlawanan. Ia hendak menyingkir—lalu berhenti.

Siluet di bawah lengkungan gelap itu terasa sangat familiar.

“Apakah itu Sir Valentine?”

“……!”

Iskandar terperanjat lagi.

Si pemilik kebun ini makin hari makin “evolutif”. Kini dengan siluet dalam gelap saja, ia bisa mengenali orang.

Selama warna tak ketahuan, masih aman…

Iskandar mundur selangkah dan lenyap.

Kilatan akal—ia merobek tirai tebal lorong. Ia lilitkan di kepala dan biarkan sisanya menjuntai. Seperti mantel berkerudung—rambut pirang, mata merah, dan pakaian kebesaran tersembunyi tuntas.

Dengan tampang begitu, ia kembali ke pelataran.

Hazel menoleh ke kiri-kanan, kebingungan.

Bayangan itu menghilang. “Tadi aku berhalusinasi?” gumamnya—ketika sosok itu muncul lagi dari seberang.

“Benar, ya!”

Wajahnya berbinar.

“Sir Valentine! Kuduga Anda ada di luar. Tapi ini sungguh keterlaluan. Di hari seperti ini pun Anda tak boleh masuk aula dan harus bekerja di luar! Anda tentu tak tahu bagaimana duel masak tadi!”

Iskandar menggeleng.

“Tidak. Aku tahu semuanya. Tak kusangka para Ksatria Pahlawan punya perkara begitu. Lady Mayfield, idemu sungguh cemerlang.”

“Ah, tidak juga.”

Hazel menggeleng.

“Jamuan ini bisa berjalan lancar semata-mata berkat Sir Valentine. Alih-alih mendapat pujian, Anda bahkan belum sempat masuk aula melihat jalannya acara…”

“Tidak! Aku justru suka begini! Sungguh suka!”

“Bagaimanapun, tetap saja tidak adil. Anda pengagum berat para Ksatria Pahlawan, kan?”

Hazel mengulurkan sesuatu yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang.

“Karena itu, aku menyiapkan hadiah.”

Iskandar mengernyit memandangi gulungan kertas.

“Apa ini?”

“Coba buka.”

Ia menuruti. Di kertas itu ada tanda tangan asli ketujuh ksatria tua.

Di bawah nama Sir Kendrick, Sir Percy, Sir Edward, Sir Guilford, Sir Hannibal, Sir Wayne, dan Sir Bancroft, masing-masing menuliskan pesan singkat: “Engkau teladan seorang ksatria,” atau “Tetaplah seteguh itu!”, dan sebagainya.

Hazel menjelaskan,

“Para Ksatria Pahlawan bertanya apakah aku punya permintaan. Lalu kuceritakan: tepat sebelum lomba, terjadi insiden—seorang ksatria yang adil dan berani menyelamatkanku. Mereka sangat memuji Sir Valentine. Jadi cepat-cepat kuminta: mohon tuliskan beberapa patah kata untuk sahabatku yang tulus mengagumi kalian.”

Iskandar tergetar.

Bisa terpikir sejauh itu!

Ia menatapnya dengan mata bergetar.

Jenius?

Sejak dulu ia ingin punya cendera mata terkait para Ksatria Pahlawan. Tapi tak terpikir ide seperti ini. Pun kalau terpikir, statusnya sebagai kaisar membuatnya sulit mewujudkan.

“Hadiah yang sangat berharga. Akan kujaga baik-baik.”

Iskandar menyimpannya hati-hati.

Ia ingin mengungkapkan syukur lebih banyak. Tapi kata-kata apa?

Oh, benar! Cerita yang menenangkan?

Ia pun cepat bicara,

“Kini kau tak perlu cemas. Memang, kami sedang memburu sindikat kejahatan yang beroperasi diam-diam di berbagai daerah. Saat jaring kian menyempit, mereka menyusup ke ibu kota—di bawah lampu memang paling gelap. Para perampok di gang belakang alun-alun yang kita jumpai waktu itu satu gerombolan dengan mereka.”

“Yang Anda bantai sekali gebuk itu?”

“Betul. Karena cepat kami temukan, penindakan bisa dipercepat. Saat operasi besar digelar, sisa sindikat itu merentang tangan pada perdagangan manusia untuk menghimpun dana melarikan diri ke luar negeri. Namun dengan peristiwa ini, jaringan mereka terkuak; kami bisa mencabut akarnya.”

“Syukurlah. Ngomong-ngomong, aku sangat mencurigai ksatria bernama Wolfhound.”

“Kebetulan Ordo Suci sudah meringkusnya. Ia sedang diinterogasi.”

“Bagus. Lalu para perempuan yang ditawan bersamaku?”

“Semua selamat. Setelah menerima perawatan, mereka dikawal polisi pulang dengan aman. Saat ini mungkin sudah bertemu keluarga.”

“Syukurlah.”

Ekspresi Hazel meredup.

“Tapi mereka yang datang paling awal dan mengalami hal buruk… aku khawatir keadaan mereka. Mereka mengalami guncangan berat. Aku menghibur agar jangan putus asa, tapi kata-kata saja tak cukup.”

“Benar. Pasti berat.”

Ia mengangguk.

“Aku belum sejauh itu memikirkan.”

“Masalah serius. Perdagangan manusia harus segera lenyap. Menculik orang untuk dijual—berapa banyak hidup yang mereka hancurkan, termasuk keluarga yang putus asa mencari!”

“Sama beratnya dengan pembunuhan; harus dihukum berat. Saksi dan bukti sudah kami pegang, jadi…”

Iskandar tersentak di tengah kalimat.

Apa yang kulakukan?

Ia ingin menenangkan hati sebagai balasan atas hadiah—malah meracau soal kejahatan dan hukuman.

Baru tersadar.

Ia buru-buru membetulkan,

“Omong kosong, aku! Belum sehari berlalu sejak kejadian—malah kuingatkan hal buruk. Terjadi di ibu kota pula! Ini salahku.”

“Bukan begitu.”

Hazel menggeleng cepat.

“Kenapa salah Sir Valentine? Tidak masuk akal. Dan aku sama sekali tak teringat hal buruk barusan.”

“Benarkah?”

“Tentu. Pelaku tertangkap, semuanya beres. Hm… Jujur, kalau dari arah seberang tiba-tiba melaju lagi kereta barang, mungkin aku akan teringat. Tapi tak apa. Awalnya memang memori buruk, tapi akhirnya tidak.”

Hazel merenung sejenak.

“Kalau kuingat kejadian itu, yang pertama muncul justru Anda datang menyelamatkan. Kilatan cahaya sihir di kegelapan, batu yang Anda lontarkan untuk membobol gudang agar orang-orang bisa lari, dan ketika para penculik roboh hanya dengan satu pukulan… Itu semua memori yang baik.”

Lalu ia tersadar.

“Benar juga! Menimpa memori buruk dengan memori baik! Itu betapa hebatnya?”

“Begitukah?”

gumam Iskandar.

“Menimpa memori buruk dengan yang baik”—ketulusan syukurnya membuat kalimat itu menggugah hati.

Keduanya larut dalam pikiran; hanya desau air mancur yang terdengar.

Pelataran Istana Singa Perak memang biasa diterangi rembulan. Malam ini bulan khususnya terang.

Hazel menatap sekeliling, terkesima lagi.

“Tak kusangka ada taman secantik ini di istana.”

“Aku juga suka tempat ini.”

Iskandar tiba-tiba teringat sesuatu.

“Patung Singa Perak ini punya legenda. Konon tengah malam, jika naik ke punggungnya dan membisikkan satu kata di telinga, kau akan terbang ke langit. Jadi kami sering menyelinap ke mari. Karena tak tahu kata sihir yang mana, kami membawa kamus dan membaca kata demi kata bergiliran. Kami menahan napas: siapa yang bakal ‘terpilih’?”

“Persaingannya pasti sengit.”

Hazel tersenyum.

Lalu ia disergap perasaan aneh.

Ada saat-saat yang tertanam sangat hidup.

Gerak kecil, suara kecil—menempel begitu jelas di benak, kelak saat dikenang hampir sempurna tersaji ulang.

Ada momen istimewa—seperti ketika pertama menerima tanah warisan dari Kakek dan kembali ke bank. Ada momen sepele—seperti menunggu kereta kuda di fajar musim dingin sambil meneguk teh panas.

Itu seperti jejak kaki di salju. Ada yang cepat memudar seperti ingatan lain, ada yang tinggal tajam sendirian.

Saat Hazel dilanda rasa itu—

Iskandar pun merasakan hal ganjil.

Sosok Hazel di tepi air mancur tampak amat nyata.

Rambut cokelat tuanya memantulkan bulan—tepi yang bersentuhan dengan gelap berkilau perak. Karena lampu di dekat air mancur, bayang air berombak melekat di pipinya.

Sedikit saja berbeda, mungkin tak ada siapa pun berdiri di situ sekarang.

Kalau begitu, ruang itu akan diisi gelap. Takkan ada pantulan bulan, takkan ada bayang air.

Tapi ia berlari cukup cepat—maka itu tak terjadi.

Ia merasa lega—sedikit saja.

Mereka begitu tenggelam dalam lamunan hingga tak sadar hening telah lama turun.

Lalu keduanya serempak tersadar.

“Ah, aku harus kembali. Orang akan mencariku.”

“Aku juga harus kembali.”

Mereka berpisah setelah saling menyapa singkat, melangkah ke arah berlawanan.

Hazel melintasi pelataran dan menoleh.

Pelataran senyap itu kosong. Hanya patung Singa Perak berdiri sendirian diterpa bulan.

***

Ketujuh Ksatria Pahlawan dijamu hangat dan beristirahat di istana.

Keesokan harinya mereka bersiap pergi. Baru duduk, sudah bangkit lagi.

Mereka cepat; Hazel pun cepat. Mendengar para ksatria hendak berangkat, ia berlari menghampiri.

“Tunggu sebentar!”

Ia menyerahkan hadiah yang dibuat semalaman.

“Ini bubuk sage. Dicampur garam dari berbagai daerah—pakai untuk desinfeksi pagi dan malam. Ini arang halus dari batang rosemary. Pilih yang paling cocok untuk kondisi gigi masing-masing.”

Para ksatria menerimanya gembira.

Biasanya mereka tak suka menerima hadiah.

Tapi bila pemberiannya sederhana dari orang kecil yang tulus, mereka menerimanya dengan syukur. Pundi kecil ini pun mereka kantongi dengan hati-hati.

“Jamuan kemarin saja sudah lebih dari cukup—tak nyana dapat benda berharga pula!”

“Tampaknya kami harus mempercepat putaran ziarah agar bisa lekas kembali ke istana!”

“Malah kupikir kita bisa berziarah di dalam istana saja!”

Candaan mereka membuat hadirin saling mencolek, kagum.

“Bukan basa-basi: kami menanti jamuan berikutnya. Saat itu ladangmu pasti makin makmur!”

Para tamu agung istana meninggalkan berkah hangat dan melanjutkan ziarah panjang.

Dengan itu, semua agenda resmi usai.

Begitu para tamu berangkat, semua mata di istana mencari sosok yang paling jadi buah bibir jamuan.

Namun Hazel sudah hilang di kejauhan.

Bahkan belum sempat melepaskan celemek—ia gulung dan genggam sambil berlari keluar. Di boulevard depan istana, ia menghentikan kereta.

“Ke kantor <Koran Fajar>, tolong!”

Di lantai satu ia menyebut nama; jawabnya, akan segera dipanggil.

Tak lama, Kitty berlari turun tangga.

“Hazel!”

“Kitty!”

Mereka saling menggenggam tangan—sukacita.

“Kau coba memanjat tembok istana? Gila ya?”

“Siapa bilang? Ksatria itu?”

Baru kini mereka menukar cerita yang tertunda.

Hazel sudah menduga, tapi saat mendengar betapa cepat Kitty menganalisis dan berani mengejar kereta barang, dadanya sesak haru.

“Aku selamat karena kau!”

“Bukan begitu.”

Mata Kitty berbinar, ia mendesak,

“Jadi—apakah ksatria itu yang menyelamatkanmu dan yang lain? Atau polisi?”

“Ini rahasia, tapi…”

Mereka baru menceritakan peristiwa di gudang—

Tiba-tiba para wartawan mengerubungi.

Tak cuma reporter <Koran Fajar>. Entah dari mana berita bocor, jurnalis surat kabar lain pun berdatangan.

Selama ini mereka menahan diri menulis soal Hazel. Rupanya kini sudut pandang redaksi telah diputuskan.

Kitty yang lengah tersisih seketika—sungguh memalukan bagi Kitty Diavelli.

“Hey! Apa-apaan!”

Para wartawan tak peduli, melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada Hazel.

Mengapa terlambat, kapan kau merasa akan menang, bagaimana kesan usai duel, apa yang dibicarakan dengan para Ksatria Pahlawan…

Kitty yang terdorong ke belakang mendadak berubah raut.

“Jelas ada masalah dengan koki istana. Seperti diakui Meister sendiri, terlalu fokus pada teknik sampai mengabaikan dasar. Bagaimana pendapat Anda?”

Pertanyaan seorang reporter itu berbahaya.

Sekilas biasa, namun mengandung jebakan—umpan untuk menyalakan kontroversi.

Kalau Hazel beropini, mereka akan membuat tajuk sensasional.

Tidak!

Kitty hendak menerobos—namun Hazel sudah menjawab.

Wajah Kitty yang tegang melunak.

Khawatirnya sia-sia.

Ia tersenyum memandangi temannya.

Para koki istana menjalani neraka setelah jamuan.

Mereka dulu sesumbar: “Gadis kampung itu tak mungkin tandingan Meister Henkel. Akan kami ajari apa itu masak betulan—biar dia tak bisa mengangkat muka.”

Akibatnya, kini mereka tak sanggup menegakkan kepala.

Ditambah lagi, ulah kotor para koki Istana Mawar Putih terhadap Hazel sudah tersebar luas. Semua koki istana rasanya ingin masuk lubang tikus.

Dan itu—baru awal?

Pagi-pagi, para bangsawan tua gemar bergosip sudah berkeliaran dengan koran di lorong.

“Lihat! Akhirnya koran memuat kisah gadis itu.”

“Maklum, jamuan sepenting itu! Mari lihat… O! Ini menarik! ‘Tentang koki istana yang hanya mengejar teknik dan mengabaikan dasar—bagaimana komentar Lady Mayfield?’”

Para koki istana mengerut. Mereka bersiap dicemooh—menutup mata rapat. Rasanya pintu dapur begitu jauh.

Namun…

Para bangsawan yang membaca keras-keras tiba-tiba bergumam, “Hm? Tidak.” Lalu pindah topik.

Para koki berhenti melangkah.

Apa ini?

Mereka mengintip koran di tangan para warga istana. Mereka cepat membaca jawaban Hazel.

“‘Saya tidak sependapat. Hidangan yang disajikan koki istana kali ini merupakan puncak teknik Meister Henkel yang diasah selama puluhan tahun. Saya merasakan tekad dan kebanggaan untuk menyajikan yang terbaik. Para koki istana mendedikasikan hidup demi masakan terbaik. Justru sayalah yang banyak belajar…’”

Kalimat-kalimat semacam itu memenuhi halaman muka surat kabar.

Padahal pertanyaan dimaksudkan untuk mengejek koki istana—Hazel bersikap seolah tidak paham, dan hanya memuji.

Benar-benar di luar dugaan.

Berkat ucapannya, mereka masih bisa menjaga muka. Dalam situasi tak bisa menegakkan kepala, seutas tali penyelamat terulur.

Entah apa isi hati sebenarnya—tapi ia berkata begitu…

Para koki istana kena “tikam balik” manis.

Perasaan mereka pada Hazel meleleh. Mereka terkesan. Dan bersyukur.

Sekaligus—merasa “sepuluh tahun umur berkurang”.

Mulai sekarang, apapun yang dilakukan gadis petani itu, tak seorang pun akan berani membantah. Wajib mengalah, demi selamat.

Mereka melangkah menuju dapur dengan tekad begitu.

Tak lama.

Pintu masuk kembali riuh.

Para pelayan dapur yang membantu Hazel pulang.

Mereka langsung dikerubungi rekan-rekan. Dengan rasa ingin tahu, mereka dihujani pertanyaan.

“Kalian juga tak tahu menu sampai akhir?”

“Betul menu mendadak diubah?”

Laris bak idola.

Para pelayan bangga. Mereka geli mengingat betapa ogahnya dulu saat pertama dipilih.

“Nona bilang kapan saja boleh main ke kebun! Dan orang yang baik pada kami—boleh kami ajak!”

Mereka pamer sepanjang jalan—lalu tersentak di ambang pintu dapur.

Para koki istana sudah ada di sana.

Para pelayan tercekat.

Ada kekhawatiran terpendam.

Anggap saja, bantuan mereka ke seberang masih bisa dimaklumi… Tetap saja—hasil akhirnya Hazel menang. Betapa panasnya hati pihak sana?

Para pelayan ini malah turut serta. Tangan mereka sendiri yang membuat hidangan yang menorehkan kekalahan pahit. Seperti pengkhianat.

Dengan reputasi dunia dapur yang hirarkis dan tertutup—

Namun mereka tak menyesal.

Dengan mental siap ditempa, mereka melangkah masuk.

Namun…

“Ayo masuk. Kerja bagus.”

Para koki menyambut sambil menepuk bahu.

Tak ada tatapan sinis, tak ada sindiran. Malah lebih ramah dari biasanya.

Para pelayan melotot.

Saat berpisah sedih, Hazel berkata:

—Jangan khawatir ketika kembali.

Dikira cuma penyemangat; tak diberi bobot.

Ternyata!

Mereka bertukar pandang—lega.

Sebuah salon dengan jendela dibuka lebar agar angin segar masuk.

Permaisuri Ibu duduk di kursi empuk.

“Meister Henkel menyatakan ingin menepi sementara waktu. Ia hendak meninjau yang selama ini terlewat dan mengisi ulang. Itu kabar baik, tapi… kursi kepala dapur jadi kosong mendadak. Apa yang harus kita lakukan?”

Beliau tampak mengkhawatirkan.

“Ah, kami juga belum dapat kepala dapur baru. Sudah lama lowong, tapi sampai sekarang…”

Sang Putri Agung memantulkan kecemasan yang sama.

Dua pasang mata serempak menoleh ke seberang.

“Ke mana pun singgah, kepala dapur tak ada yang tersisa!”

Hazel menciut, meletakkan cangkir.

“Ma—maaf.”

“Bukan salahmu.”

Permaisuri Ibu dan Putri Agung mengangkat bahu.

“Andai seluruh kepala dapur istana mundur pun, mau bagaimana lagi. Tak ada yang tahu betapa cemasnya aku menjelang jamuan ini. Dan kauselesaikan sebersih ini! Siapa lagi bisa?”

“Dalam pengalaman ini, mohon maaf, aku lebih ‘senior’ dari Paduka Permaisuri,” seloroh Putri Agung. “Kudengar Pangeran Rowan segera boleh keluar bebas. Sulit dipercaya. Siapa sangka?”

“Antara kita saja—tanah kecil di tengah Taman Raya itu gagal dibeli negara—itu berkah ilahi! Kalau terbeli, mungkin hari ini kita tak tertawa begini.”

Pujian bergantian mengalir.

Hazel baru sadar: sudah dua kepala dapur istana “berhenti” karena dirinya. Ia menggigil sejenak.

Namun apa pun itu, dua orang yang paling ia sukai tengah bahagia. Maka Hazel pun bahagia.

“Nah, silakan.”

Duchess Winterfeld, kepala dayang Permaisuri Ibu, menuangkan teh sendiri. Dayang bagian kudapan menghidangkan cokelat bonbon di piring emas khusus Permaisuri Ibu.

“……”

Para bangsawan di luar salon—yang berusaha keras mendapat akses ke Permaisuri Ibu—menatap bengong.

Menteri Dalam Istana mencuri-curi pandang, bergumam dalam hati.

Permaisuri Ibu bukan orang yang tak peka.

Mungkin saat jamuan kemarin beliau kurang fit sehingga membiarkan semua berlalu.

Tapi menjelang jamuan kali ini, setelah menimbang, barangkali beliau sudah menebak rahasia para ksatria?

Dan beliau sengaja menyiapkan panggung, yakin Hazel akan segera menangkapnya?

Apakah ini terlalu mengada-ada?

Putri Agung meliriknya.

“Lysander, ngapain di balik pilar?”

“Ah, tidak, cuma…”

“Kemarilah minum teh bersama.”

Permaisuri Ibu memanggil.

“Tuan Menteri! Sini!”

Hazel juga melambaikan tangan.

Ah, sudahlah.

Menteri Dalam Istana menyerah menganalisis dan bergabung. Ia duduk di bangku bundar yang dibawakan dayang dan menerima cangkir.

Sebentar lagi, bunga obrolan mekar.

“……”

Para bangsawan di luar tak berkedip.

Permaisuri Ibu. Menteri Dalam Istana. Ditambah Putri Agung—yang belakangan mulai aktif dan merajut pengaruh.

Mendapat hati salah satu dari mereka saja sudah dahsyat! Ini bertiga?

Tatapan mereka berubah—penuh kagum.

Sementara itu—

“Apa? Penculikan?”

Ruang rapat menggema suara terperanjat.

Para komandan ordo baru mendengar apa yang dialami Hazel—dan ternyata jauh di atas dugaan.

“Jadi—diculik, lalu kembali dan langsung ikut duel masak?”

Louis tak percaya.

Kaien cepat bertanya pada Kepala Kepolisian,

“Para penculiknya?”

“Semua tertangkap.”

“Sepertinya bukan kejahatan acak. Mungkin Wolfhound yang kami tahan dalangnya—harus diselidiki…”

“Sudah beres.”

Kepala Kepolisian menyodorkan berkas tebal.

Begitu cepat?

Para komandan ordo melotot membaca.

Wolfhound tak buka mulut.

Namun para penculik yang ditangkap polisi mengakui.

Gagal bercokol di dunia bawah ibu kota, mereka memutuskan mengumpulkan dana untuk kabur keluar kekaisaran. Apa saja dikerjakan.

Saat itu Wolfhound menghubungi, lewat koneksi, memesan: seorang nona akan keluar dari istana—ikuti dan culik.

“Mereka mengaku tak berniat benar-benar menjual Lady Mayfield. Katanya nanti terlalu besar perkara. Hanya ingin menakut-nakuti agar pulang ke kampung. Tapi sekalipun benar, tak ada keringanan. Dari buku besar mereka kami bongkar jaringan jual beli manusia—semuanya ditangkap.”

“Itu semua sudah rampung?”

“Ya.”

“Dan setenang ini?”

“Ya.”

Para komandan menatap Iskandar, heran.

Ada yang janggal.

Andai polisi menguak kejahatan berat begini dan melapor, Paduka biasanya sudah mengumandangkan ke mana-mana. “Lihatlah, hukum setegas ini.” Hukum berat, koran menerbitkan edisi khusus, seluruh negeri heboh.

Kenapa kini senyap?

Apa karena Hazel terseret sehingga ia kehilangan semangat?

Tidak mungkin.

Untuk melindungi pelapor anonim?

Juga tidak.

Dihadang tatapan tanya, Iskandar mengernyit.

“Karena sensitif, kami putuskan menanganinya tanpa geger. Kalian juga—jangan ramai-ramai.”

Ia menyodorkan beberapa gambar. Makhluk-makhluk aneh: bahu bidang, sekujur tubuh berotot.

“Ketika polisi masuk lokasi, mereka mendapati makhluk begini tergeletak. Kata para pelaku—makhluk itu hendak dijual ke rombongan sirkus. Tapi sepertinya ini makhluk hasil rekayasa.”

“Monster buatan?”

Zigvald mengamati gambar sambil mengerut kening.

“Siapa?”

“Belum jelas. Namun ada laporan: suatu serikat dagang di ibu kota menjalin kontak diam-diam dengan sisa sindikat. Bisa dipastikan Wolfhound terkait serikat itu. Aku sudah perintahkan penyelidikan. Kabarkan ke para ksatria: jika melihat makhluk serupa, laporkan segera.”

Keempat sahabat mengangguk dan keluar.

Mereka mengecek koran—tetap tak ada berita soal ini. Yang ada cuma jamuan para ksatria.

“Benar. Memikirkan para penyintas, lebih baik sunyi. Mereka masih harus hidup. Jadi bahan omongan—buruk akibatnya.”

Lorendel mengangguk.

Semua sepakat. Namun satu hal masih mengganjal.

“Tapi…”

Louis merendahkan suara,

“Di antara kita saja—mengejutkan juga dia bisa mikir sejauh itu, ya?”

“Betul. Kutarik ucapanku.”

“Bagaimana tiba-tiba muncul empati begitu?”

Zigvald dan Kaien setuju.

Mereka berdiri sejenak, berbisik.

Saat itu juga—

Ke Kantor Rumah Tangga Istana tiba beberapa berkas.

Penerimanya: para penyintas kekerasan seksual dalam kasus ini.

“Pemegang berkas ini, Marie Etvard, adalah seseorang yang dapat dijamin oleh Istana…”

Demikian pembukaannya—surat-surat itu adalah surat rekomendasi.

Jika para penyintas, setelah mengatasi trauma, hendak mencari kerja, istana menjamin kesungguhan mereka.

Rekomendasi istana—berbobot luar biasa.

Para penyintas yang berani melawan dan lolos kini memiliki penopang kuat. Mereka bisa memulai lagi dengan percaya diri, tanpa jadi buah bibir.

“Astaga…”

Para pejabat istana terperanjat melihatnya.

Yang paling mengejutkan: ini keputusan langsung Paduka Kaisar.

“Bagaimana beliau bisa terpikir sejauh ini?”

“Luar biasa!”

Bisik-bisik semacam itu terdengar di mana-mana.

Hazel mendengar kabar itu saat berkebun. Para pejabat perempuan yang antusias menceritakan—membuatnya ikut kaget.

“Kepada semua orang?”

“Ya! Negara memperhatikan penyintas sedemikian rupa. Semoga ini sedikit menenangkan hatimu juga.”

“Syukurlah!”

Hazel bersorak—lalu terlintas tanya,

“Sebelumnya—tak pernah ada, kan?”

“Tidak pernah!”

“Jadi—mendadak dibuat sekarang?”

“Betul!”

Mereka kompak.

Tak mungkin sang kaisar mendadak tercerahkan…

Apa jangan-jangan bawahannya, Sir Valentine, membisikkan saran?

Ia teringat malam jamuan itu.

Di pelataran Istana Singa Perak, tanpa sengaja bertemu Sir Valentine—Hazel mengungkapkan kekhawatirannya: para penyintas pasti terluka dalam; betapapun kata-kata tak mampu menghibur…

Apakah setelah mendengar itu, beliau bertindak?

Jantung Hazel berdegup kencang.

***

Jamuan usai; segalanya seolah kembali seperti biasa.

Namun masih ada satu urusan.

Hazel ke pasar, melihat gunungan anggur hijau—ia beli.

Dicuci bersih, berkilau bagai permata. Ia pun memanggang sponge cake—rasanya pas untuk dipadu krim dan anggur.

Di luar pagar, empat Komandan Ordo berdiri.

Aroma kue yang matang membuat hidung mereka berkedut—namun mereka ragu melangkah. Mereka belum sepakat soal sikap.

“Tak sebanding dengan diculik penjahat keji, tapi…”

Kaien membuka percakapan,

“Waktu kecil aku hampir diculik spesialis kucing Catsi.”

“Kami tahu. Kau sudah menceritakannya lima puluh sembilan kali,”

“Jangan bicara seolah membongkar rahasia baru,”

cecar Lorendel dan Louis. Kaien pura-pura tak dengar.

“Menurut pengalamanku, agar cepat pulih, orang sekitar sebaiknya bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Perlakukan senatural mungkin.”

“Kalau begitu kita lakukan itu.”

ujar Zigvald.

Yang lain setuju.

“Baik. Senatural mungkin—seolah tak terjadi apa-apa.”

Akhirnya mereka masuk.

Saat itu Hazel sedang membelah anggur.

Aroma segar anggur memenuhi dapur. Hatinya memang sudah cerah; melihat tamu kesayangan muncul, ia nyaris melonjak.

“Ada apa? Bukankah sekarang jam tugas?”

“Hanya menyempatkan. Oh, ini apa? Anggur hijau?”

Kaien pura-pura santai.

Namun Louis begitu melihat wajah Hazel—kontrolnya rontok.

“Diculik?! Kami bahkan tak tahu…”

Ia memeluk Hazel erat—memastikan hidung, mata, mulutnya utuh—dan heboh luar biasa.

Tiga lainnya kaku, kikuk.

Lorendel mewakili meminta maaf,

“Maaf. Demi pemulihan cepat, kami bertekad bertingkah natural—seolah tak terjadi apa-apa…”

“Tak apa. Ini juga natural,”

balas Hazel dengan suara tercekik.

Tak lama, sponge cake matang. Sambil menunggu dingin, ia bercerita.

Bagaimana ia diculik saat hendak menemui Kitty. Bagaimana memasak bersama para perempuan di gudang agar bertenaga lagi.

“Setelah makan kenyang, kami memutuskan menunggu kesempatan…”

Ia terdiam.

Semua bagus—hingga bagian itu.

Sebenarnya, bagian itulah yang paling ingin diketahui empat sahabat. Kaien menatap penasaran,

“Menurut kesaksian, ada pihak luar yang membantu pelarian?”

“Benar.”

“Siapa? Menjatuhkan belasan orang—jelas di atas rata-rata. Kebetulan ada naga lewat?”

“Bukan…”

Hingga kini ia mengelak dan menyamarkan identitas Sir Valentine. Tapi sekarang—sulit terus mengaburkan.

“Sebetulnya aku mengenalnya. Ada seorang ksatria yang kadang kutemui dan pernah menolong beberapa kali.”

Keempat sahabat terkejut.

“Serius?”

Lalu—mereka kompak berseri.

“Dasar bocah-bocah ini…”

Masing-masing mengira orang itu anggota ordonya sendiri. Hazel cepat menggeleng.

“Bukan. Bukan ksatria suci. Ia memang keluar-masuk istana—tapi aku tak tahu statusnya. Dirahasiakan sekali…”

“Eh? Jadi ksatria biasa?”

Mereka kaget lagi.

“Yang benar saja! Kurasa kau tertipu. Di antara ksatria biasa yang keluar-masuk istana, tak ada figur sampai taraf itu.”

Kaien tertawa.

Hazel gugup—spontan membela,

“Bidang berbeda, tapi ksatria hebat banyak, kan? Dari pihak kuil, atau—ksatria istana…”

“Ksatria istana?”

Louis membelalakkan mata.

“Bagaimana kau… Ah, benar! Saat memilih gaun di rumah kami, kau membaca buku tentang Sir Randolph, ya? Ingatanmu tajam. Memang, ksatria istana pernah menghimpun putra-putra terbaik. Sekarang sudah tak ada.”

Kali ini Hazel terperanjat.

“Sudah tak ada?”

“Di era kaisar lama, ksatria istana jadi semacam polisi rahasia—menjadi simbol teror. Maka kaisar sekarang membubarkannya.”

“Begitu rupanya.”

Hazel menyembunyikan keterkejutan, meletakkan spatula berkrim.

Ksatria istana tak ada?

Bagaimana ceritanya?

Sir Valentine jelas mengenakan seragam ksatria istana dan bekerja di istana…

“Bagaimanapun, jika ia benar ksatria, seorang Ksatria Bratania punya alasan sah menyembunyikan identitas. Sampai ia sendiri yang membuka, tak boleh ada yang mengorek.”

ujar Kaien.

Mereka pun menahan rasa ingin tahu. Seusai bersantai menikmati kue krim bertabur anggur, mereka pamit.

Setelah para komandan pergi, Hazel tenggelam dalam pikir.

Kenapa memakai penyamaran?

Ia tak mengerti. Yang jelas, Sir Valentine memang sengaja merahasiakan jati diri.

Siapa dia sebenarnya?

Sekali penasaran—sulit dibendung.

Usai membereskan pekerjaan rumah, Hazel duduk di meja.

Bagaimana kalau kucari tahu?

Sulit.

Untuk persoalan sulit, ada satu cara yang baik.

Hazel menuang sedikit daun teh ke cangkir dan mencurahkan air. Dalam hati ia lontarkan pertanyaan itu—menutup tutup, lalu memutar searah jarum jam tiga kali.

Ini cara tradisional—meramal dengan teh.

Setelah itu, ia menyisakan sedikit air dan menumpahkannya—membiarkan ampas menempel di dasar, membentuk figur. Dari sana masa depan dibaca.

Hazel menumpahkan, lalu membuka tutup.

Ampas membentuk gambar jelas.

Seekor burung tergantung terbalik.

Itu berarti “akhir”. Jika ia menyelidiki identitas Sir Valentine—segala sesuatu akan berakhir.

“Aduh…”

Hazel menggeleng.

Ia segera membilas cangkir.

Lalu menatap bulan di luar jendela—melamun panjang.

 

Nunaaluuu Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review