Prolog: Tangan Matahari


Kerajaan Bratania, Belmont Selatan.

Di jalan becek yang diguyur hujan deras, sebuah kereta perjalanan melaju terburu-buru. Penutupnya sudah compang-camping, dan lambang keluarga di sisinya begitu pudar hingga huruf “M” tampak seperti hanya dua batang tiang. Kereta itu melewati hutan kastanye yang tampak semakin hijau karena basah kuyup, lalu berhenti di depan sebuah rumah pertanian.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan keras menembus derasnya hujan.

Di dalam, pasangan Martin yang sedang menghabiskan sore yang membosankan bersama ketiga anaknya saling pandang dengan wajah terkejut.

Tak pernah ada tamu yang datang ke rumah ini.

Karl Martin, pemilik rumah dan kebun, membuka pintu sedikit dengan wajah bingung.

“Siapa di sana?”

Tamu itu menyingkap mantel hujan hitamnya. Seorang pria tua berperawakan tegap dengan rambut setengah memutih yang disisir ke belakang seperti surai singa.

“Ini aku.”

“Ah!”

Karl langsung mengenalinya. Empat tahun lalu, ia pernah bertemu pria ini di pasar dalam kota.

“Baron Mayfield!”

“Masih ingat rupanya. Sahabat berharga yang dulu mencegah seorang petani jujur kehilangan sapi karena perjudian curang. Kau bilang ingin membalas budi suatu hari nanti, bukan? Nah, inilah saatnya. Tolong jaga anak ini.”

Karl tersentak.

Dari balik mantel hujan sang baron, muncul sosok mungil yang tak terlihat sebelumnya. Ia juga mengenakan mantel hitam, sehingga hampir tak disadari keberadaannya.

“Satu-satunya cucu yang ditinggalkan anakku. Usianya baru delapan tahun. Karena itu aku tak bisa membawanya ke ‘Eldorado’.”

“‘Eldorado’...?”

“Kali ini aku akan benar-benar mencoba peruntungan besar. Ayo, Hazel. Dengarkan baik-baik perkataan paman dan bibi, hidup sehat, dan jaga dirimu.”

Baron berlutut, menyingkap tudung sang cucu, lalu cepat-cepat mengecup kedua pipinya. Dan seperti badai datang, ia pun pergi dengan badai—meninggalkan sang anak begitu saja.

Hazel berdiri terpaku.

Martha Martin menatap suaminya dengan wajah kaku.

“Mas, kamu ini...”

“Maaf. Maafkan aku. Sungguh aku tidak tahu harus bagaimana.”

Karl hanya bisa terus-menerus meminta maaf. Tapi wajah kesal Martha tak mudah luluh.

Suaminya yang selalu penurut kini tiba-tiba membawa masalah sebesar ini.

Ia jelas melihat keadaan kereta keluarga Mayfield. Sekarang, tatapannya yang tajam menelisik sosok kecil yang berdiri diam dalam rumah gelap dan lembap itu.

Rambut cokelat gelapnya tersisir rapi berkilau, dihias pita yang jelas-jelas dipasang sendiri oleh kakeknya. Wajah pucat dengan mata hijau berkilat yang tertunduk.

Namun renda gaun di balik mantel hitamnya sudah usang di tepiannya. Sepatunya memang mungil dan cantik, tapi tali kiri dan kanannya berbeda warna. Semua itu menunjukkan betapa miskinnya keadaan keluarga bangsawan Mayfield.

Sebagai orang Belmont, yang bahkan memikirkan banjir tahun depan, Martha segera mengambil kesimpulan.

Mulai hari ini, merekalah yang harus menanggung anak ini. Seorang putri kecil dari keluarga bangsawan yang jatuh miskin!

Rasanya seperti ada batu besar menekan dadanya. Dengan nada agak dingin ia berkata:

“Mulai sekarang kau tinggal di sini, maka kau juga anak rumah ini. Itu berarti kau harus bekerja. Emily, Belle, dan Noel pun semua bekerja.”

“Baik, Nyonya Martin.”

Gadis kecil itu menjawab dengan tenang. Tapi siapa tahu kapan sifat aslinya akan muncul.

Martha sudah sering dengar tentang anak-anak bangsawan. Sekalipun bangsawan, kalau suka merengek, ia tak akan pernah memanjakan.

Untungnya Hazel bukan anak yang manja.

Ia selalu diam. Setiap bicara selalu sopan, menambahkan “Nyonya Martin” atau “Tuan Martin”. Ia bergerak hati-hati seolah berusaha tidak menimbulkan suara berlebihan. Saat duduk atau berdiri, selalu merapikan sekitarnya. Seperti anak yang sudah lama terbiasa hidup menumpang.

Martha sempat merasa iba, tapi segera meneguhkan hati.

“Kau juga harus bekerja. Kalau mau tinggal di sini.”

Itulah kalimat yang selalu ia ulang tiap kali melihat Hazel. Bukan ancaman—ia sungguh berniat menyuruhnya bekerja begitu usianya genap sepuluh tahun.

Pekerjaan di pertanian tak ada habisnya. Meski Emily yang berusia empat belas tahun, Belle dua belas tahun, dan Noel sepuluh tahun sudah rajin membantu, tetap saja tidak cukup. Martha harus berlari ke sana kemari, dari rumah ke ladang, dari ladang ke kandang, tanpa henti seharian.

Lalu suatu hari...

“...Boleh saya coba, Nyonya Martin?”

“Ya, ya. Silakan.”

Martha menjawab asal sambil sibuk menguleni adonan roti. Setelah menyiapkan dua roti besar untuk makan malam, ia lanjut menumpuk cucian kotor. Celana Noel penuh lumpur, dan noda membandel itu membuatnya kesal setengah mati.

Tiba-tiba ia tersentak.

Barusan... itu Hazel, bukan?

Anak yang biasanya hanya menjawab bila ditanya, kali ini justru lebih dulu bicara. Ia bahkan bertanya sesuatu.

Apa tadi ya...?

Martha masih mencoba mengingat ketika tiba-tiba terdengar keributan dari arah kandang.

Jantungnya mencelos.

Ia teringat tiang pagar yang sudah longgar. Anjing campuran nakal bernama Peter pasti menerobos kandang ayam. Karl yang suka menunda-nunda, akhirnya membuat masalah benar-benar terjadi. Martha buru-buru berlari ke sana.

Namun yang ia lihat bukanlah kandang ayam berantakan penuh bulu dan darah.

Suaminya dan anak-anak malah berkerumun di kebun kecil di samping kandang. Di bedengan rapi tumbuh kecambah kacang berbaris tegak.

Martha melongo.

“Bukannya semua itu hanyut oleh banjir kemarin? Bagaimana bisa...?”

“Hazel yang menanam ulang!” seru Noel.

“Dia pikir itu sayang kalau dibuang! Katanya semua sibuk, jadi dia lakukan sendiri!”

Martha terdiam tak percaya.

Kacang itu sempat membuatnya sakit hati. Setelah anak-anak memohon, ia rela memberikan segenggam biji. Dengan susah payah benih itu tumbuh segar, lalu hancur diterjang hujan deras. Semua ia buang. Tapi entah bagaimana, kini berdiri lagi, berakar kuat dan hidup segar.

“Bagaimana kau melakukannya? Bagaimana bisa?”

“A-aku hanya...” Hazel gagap menjawab.

“Aku duduk dan memperhatikan. Sama seperti manusia yang berbeda-beda, kacang kecil ini juga masing-masing berbeda. Saat kupegang, aku bisa merasakan... siapa butuh lebih banyak air, siapa butuh lebih banyak tanah menutupi, siapa harus diletakkan di tempat dengan sinar lebih banyak. Jadi kuatur begitu, lalu kusentuh dan kusemangati... akhirnya mereka bangkit.”

Suami istri Martin saling berpandangan dengan wajah kaget.

Tanaman dan hewan memang bisa pulih cepat bila kebutuhan dasarnya terpenuhi, apalagi yang masih muda. Tapi anak delapan tahun bisa merasakan kebutuhan tiap-tiap tanaman dengan tepat seperti itu...?

Hanya ada satu penjelasan.

“Mano del Sol!”

Keduanya berseru hampir bersamaan.

Itu legenda yang beredar di kalangan petani.

Konon, sekali dalam seratus tahun lahirlah seorang petani dengan “Mano del Sol” — Tangan Matahari. Dengan tangan ajaib itu, tanaman yang hampir mati kembali segar, hewan beranak banyak, panen melimpah seperti lautan emas.

“Benar. Tak salah lagi!”

“Kita melihat Tangan Matahari dengan mata kepala sendiri!”

Keluarga Martin berebut menggenggam tangan Hazel dengan wajah penuh takjub, bahkan khidmat.

Hazel agak ketakutan, tapi ia tahu tidak berbuat salah. Menatap wajah mereka satu per satu, akhirnya ia memberanikan diri berkata:

“Boleh saya coba yang lain juga?”

“Tentu! Apa yang ingin kau coba?”

“Itu, yang digoyang-goyang...?”

“Maksudmu menampi padi? Mari sini!”

Karl segera mengajaknya, diikuti seluruh keluarga.

Sejak hari itu Hazel mulai mengikuti mereka ke mana-mana.

Keluarga Martin sadar, gadis kecil yang pendiam itu selama ini memperhatikan semua pekerjaan di ladang. Ia ternyata punya rasa ingin tahu yang luar biasa.

“Kalau penasaran, tanyalah,” kata Karl.

Seolah menunggu izin itu, Hazel melontarkan pertanyaan tanpa henti. Ia menyerap semua jawaban seperti spons.

Ia benar-benar istimewa.

Sapi betina Norma yang biasanya galak dan susah diatur, diam saja bila Hazel mendekat. Ayam-ayam mulai bertelur besar-besar begitu Hazel merawatnya tiap pagi. Noel terpesona setiap kali mengisi keranjang telur.

“Bahkan tuan tanah pun belum tentu bisa makan telur seperti ini!”

Hazel pun cepat belajar membuat adonan roti yang mengembang luar biasa, mengasap daging hingga harum, memasak sup hingga sempurna meski sempat gagal berulang kali.

Martha bahagia melihat Hazel suka memasak—bukan karena pekerjaannya berkurang, melainkan karena tubuh kurus anak itu perlahan terisi, tampak sehat.

Suatu hari, saat Hazel pulang bersama Emily, Belle, dan Noel dengan keranjang penuh jamur liar, Martha sampai tertegun.

Sejak kapan anak itu jadi begitu manis?

Pipi Hazel kini bersemu merah, matanya bersinar seperti bintang pertama di ufuk senja. Rambutnya dikepang rapi setiap pagi oleh Emily dan Belle, membuatnya tampak semakin menggemaskan.

Martha menyadari sesuatu: bila seorang yang dulu malang akhirnya bahagia, orang-orang di sekitarnya pun ikut merasakan kebahagiaan yang tak tergantikan.

Namun kebahagiaan tak bertahan selamanya.

Musim dingin datang. Salju menutupi hutan kastanye. Angin dingin menderu, tapi rumah keluarga Martin tetap hangat.

Karl duduk di kursi empuk, mengantuk kenyang setelah melahap lima apel panggang dengan saus karamel. Martha, Emily, Belle, dan Hazel asyik merajut di depan perapian. Noel sibuk membuat menara dari batang korek api di dekat jendela.

Saat itulah ia melihat kereta melaju di balik badai salju.

Semua terperanjat.

Hazel spontan berdiri. Syal rajutannya terjatuh ke lantai.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang sama seperti setengah tahun lalu.

Karl membuka pintu dengan ragu.

Baron Mayfield berdiri di sana. Kini rambut putihnya makin banyak, mantelnya tampak usang. Jelas petualangannya ke kota judi Eldorado tak membuahkan hasil.

Namun ia tetap kembali, menuntut cucunya.

“Agak terlambat, ya. Maaf merepotkan.” Ia berujar sambil melirik sekeliling. “Hazel di mana?”

Keluarga Martin panik.

“Tadi di sini...”

“Ke mana perginya?”

Merasa ada yang janggal, sang baron pun memeriksa seluruh rumah. Di gudang jerami ia menemukan tumpukan yang sengaja disusun tak rata.

“Hazel!”

Mereka tak bisa lagi menyembunyikannya.

Hazel akhirnya diseret keluar, tubuh penuh jerami, dan berteriak putus asa:

“Aku mau tinggal di sini!”

“Apa?”

“Aku mau tinggal di pertanian ini!”

Hazel begitu bersungguh-sungguh hingga Karl tak tahan lagi berkata:

“Anak ini dilahirkan untuk bertani. Dia punya bakat yang luar biasa.”

Namun Baron hanya menggeleng tegas.

“Dia adalah satu-satunya pewaris keluarga Mayfield.”

Saat itu Hazel tahu, semuanya berakhir.

Ia harus meninggalkan ladang yang ia cintai. Bagi anak delapan tahun, itu seperti matahari selamanya bersembunyi dan dunia jatuh dalam kegelapan.

Dengan langkah berat, ia menoleh ke belakang sekali lagi.

Belmont terlalu jauh. Mungkin inilah pertemuan terakhir.

Namun ia tak menangis. Meski hanya setengah tahun tinggal di sini, Hazel sudah sepenuhnya menjadi anak desa.

“Tuan Karl. Nyonya Martha. Kak Emily. Kak Belle. Kak Noel. Terima kasih, selamat tinggal.”

Ia menekuk lutut dan membungkuk dengan anggun.

Orang Belmont memang tak pandai mengucap kata-kata sentimental saat berpisah. Sebagai gantinya, mereka mengulurkan keranjang besar—sebanyak isi hati mereka.

Kereta pun bergerak menjauh.

Hazel menjulurkan tubuh, memandang ke luar jendela. Karl, Martha, Emily, Belle, dan Noel berdiri terpaku. Mereka, bersama ladang, semakin mengecil di kejauhan.

Seperti bunga kastanye putih yang indah tapi akhirnya gugur, seperti semua yang kelak tertutup salju, Hazel paham bahwa seberat apa pun kesedihan, perpisahan akan selalu datang.

Namun ada satu hal.

Ia kini punya mimpi.

Hazel bersumpah dalam hati.

Suatu hari, aku juga akan memiliki ladang seperti ini.

***

Bunga telah mekar dan gugur, lalu kembali mekar dan gugur, sebanyak waktu yang telah berlalu. Begitulah, sejak hari ketika seorang gadis kecil menahan tangisnya saat berpisah dengan ladang keluarga Belmont, sudah sebelas tahun berlalu……

Kota kecil Rochelle, di wilayah tengah Kekaisaran.

Di sebuah meja pelayanan Bank Kota, seorang gadis muda duduk bekerja.

Rambut cokelat gelapnya disanggul rapi ke atas tanpa sehelai pun rambut terlepas, seperti pegawai bank lainnya. Wajahnya tanpa ekspresi ketika ia menekan-nekan sempoa. Sepasang mata hijau kusamnya bergerak kesana kemari. Namun, begitu melihat koran yang dibawa nasabah di meja sebelah, matanya mendadak membelalak.

「Menjual ladang murah」

Sebuah iklan kecil di pojok halaman. Di bawahnya, angka besar tercetak jelas.

「8.000 Gold」

Gaji bulanan pegawai bank rendahan hanyalah 12 Gold. Jika mengandaikan bisa menabung tanpa mengeluarkan sepeser pun, dibutuhkan 55 tahun untuk mengumpulkan jumlah itu.

Tujuh puluh empat tahun.

Hazel menghela napas.

Sejak usia delapan tahun, ia punya satu impian yang tak pernah padam.

Memiliki ladangnya sendiri.

Namun, bagi putri bangsawan jatuh miskin yang tak mewarisi harta sedikit pun, itu adalah mimpi yang terlalu besar. Meski bekerja mati-matian dan hidup sehemat mungkin, gajinya terlalu kecil sementara harga tanah terlalu mahal. Bahkan untuk membeli sebidang kecil lahan pun entah butuh berapa lama lagi.

Aku harus lebih hemat. Lebih dan lebih lagi!

Saat itu atasannya lewat. Melihat Hazel berhenti bekerja, ia langsung melotot. Hazel buru-buru kembali memencet sempoa.

Tak lama kemudian, lonceng makan siang berbunyi. Pegawai bank yang sudah jenuh dengan rutinitas menyambutnya dengan wajah gembira sambil bergegas merapikan meja. Rosalind, rekan di sebelahnya, menoleh sambil meregangkan badan.

“Seperti biasa hari ini juga?”

“Iya.”

Hazel mengangguk.

Sudah dua tahun bekerja di bank, ia belum pernah sekalipun ikut makan siang bersama rekan-rekannya. Sepotong roti dengan sedikit mentega sudah cukup baginya. Di depan bank, harga roti 5 Silver, tetapi jika berjalan enam blok ke toko roti di bawah jembatan, ia bisa mendapatkannya hanya dengan 3 Silver, meski menteganya tipis sekali. Dengan begitu ia menghemat 2 Silver, dan jika dikumpulkan 50 kali, jadilah 1 Gold. Hemat sekaligus olahraga jalan kaki—sekali dayung dua keuntungan.

Saat melangkah keluar bank, Hazel melepaskan sanggulnya yang ketat. Rambut cokelatnya tergerai menutupi bahu. Ia juga melonggarkan kancing blus yang menyesakkan leher. Waktu singkat untuk merasakan sinar matahari dan angin sepoi-sepoi ini adalah satu-satunya hiburan dalam sehari.

Namun, baru saja ia menuruni tangga batu, langkahnya mendadak terhenti.

Seorang lelaki tua menunggu dengan resah di seberang jalan. Begitu melihat Hazel, ia terburu-buru berlari sambil merentangkan tangan.

“Hazel!”

Topi jerami bertepi lebar, kemeja warna-warni mencolok, celana sampai lutut yang diikat pita, sandal jepit tanpa kaus kaki. Pakaian aneh yang membuat orang-orang menoleh itu dipakai oleh tak lain adalah Baron Archibald Sebastian Mayfield.

“Kakek……?”

Hazel tertegun. Tentu saja ia terharu bisa bertemu kembali setelah satu setengah tahun, tapi tetap saja ia harus bertanya.

“Kenapa Kakek berpakaian begitu? Padahal masih bulan April.”

“Karena sekarang juga aku akan berangkat ke Mamanuca.”

Baron Mayfield mengedipkan mata lalu berbisik dengan nada misterius.

“Akhirnya aku berhasil dapat jackpot! Kali ini sungguhan!”

Hazel menatap kakeknya dengan tatapan datar, seperti menelaah buku rekening nasabah.

Kakeknya memang kerap menghilang, lalu tiba-tiba muncul entah dari mana, membawa pulang oleh-oleh aneh: topi dari kota yang belum pernah ia dengar, bubuk serangga yang katanya obat mujarab, atau cincin yang kalau ditekan memunculkan pembuka kaleng.

Hazel mencintai kakeknya, tentu saja. Tapi mencintai bukan berarti harus mempercayai semua omong kosongnya.

“Iya, iya. Ceritanya nanti saja. Kebetulan hari ini aku tidak lembur. Kakek ambil 5 Silver ini, masuklah ke kafe itu, pesan kopi hangat. Nanti kita belanja di pasar bersama, aku akan masak meatloaf dan pai blueberry untuk Kakek.”

“Oh, cucuku sayang.”

Meski terkenal hemat luar biasa, Hazel tak pernah pelit ketika menjamu orang lain. Baron menepuk lembut pipi cucunya.

“Tak seorang pun di dunia ini bisa menolak meatloaf hangat buatanmu dan pai blueberry dengan taburan melimpah. Tapi sekarang bukan waktunya.”

Ia mengeluarkan selembar dokumen dari tas kulit yang dibawanya.

“Apa ini?”

“Sertifikat tanah.”

Baron menjawab dengan penuh kebanggaan.

“Bukankah impianmu adalah bertani? Nah, impian itu akhirnya terwujud. Sekarang kau punya ladang.”

“Apa?”

Hazel terpaku.

Mungkin ia salah dengar. Karena terlalu mendambakan ladang, sampai-sampai ia berhalusinasi. Hazel mengedipkan mata lalu bertanya lagi.

“Kakek barusan bilang apa? Punya apa?”

“Ladang! Kau punya ladang sendiri!”

“Jadi itu bukan halusinasi? Tapi…… ah, aku mengerti. Namanya ‘Ladang’, kan? Seekor anjing, mungkin? Atau mainan?”

“Mana ada anjing dengan sertifikat tanah! Bukan mainan! Ini sungguhan, Hazel. Ladang sungguhan. Hadiah dari Kakek.”

“Tidak mungkin. Bukankah Kakek benci aku bertani?”

“Satu-satunya cucu kesayangan sudah lebih dari sepuluh tahun terus-terusan menyanyikan impian itu. Pada akhirnya, kakek tua ini harus mengalah. Lagi pula kalau tanah itu milik keluarga kita, ceritanya berbeda. Itu bisa jadi hobi yang elegan. Anggap saja hortikultura—lebih tepatnya hortikultura tanaman pangan. Wah, itu terdengar bagus. Mulai sekarang katakan begitu.”

“Jadi…… ini benar-benar ladang sungguhan?”

“Memang masih berupa kebun kecil. Tapi nanti kau bisa mengembangkannya jadi ladang. Kau pasti menyukainya. Kondisinya sempurna—matahari bersinar seharian, tanah rata luas, rumah petani kecil tapi cukup nyaman, dekat stasiun kereta kuda, pasar, jalan setapak, kafe, restoran—semuanya lengkap!”

“Tunggu, Kakek.”

Hazel yang tadinya mabuk euforia, tiba-tiba tersadar.

“Kenapa ladang bisa berada di tempat seperti itu?”

“Karena letaknya di pusat ibu kota, tentu saja.”

“Apa……?”

“Bukan itu yang penting. Sayangku, cucuku. Keluarga Mayfield yang sial ini, kapan lagi bisa punya tanah? Kalau sekarang terlewat, entah kapan lagi.”

Wajah Baron mendadak muram. Hazel merasa dadanya terhantam.

“Apa maksud Kakek? Siapa yang mau merebut tanah kita?”

“Begini. Dulu Kakek beruntung bisa membeli murah sebuah rumah kecil di ibu kota, ada kebun sayur juga. Tapi sialnya, seorang bangsawan sangat berpengaruh membangun istana baru dan membeli semua tanah di sekitarnya. Tinggal tanah kita seorang. Kau kira mereka akan rela kita bercocok tanam di tengah kompleks istana mereka? Tidak mungkin. Katanya, kalau sampai 2 Mei pemiliknya tidak muncul, tanah itu dianggap tak bertuan dan langsung digusur!”

“Tidak masuk akal! Apa benar mereka bisa seenaknya begitu?”

Hazel menghitung tanggal, lalu menjerit.

“2 Mei? Itu berarti hanya tiga hari lagi!”

“Aku tahu terlalu terlambat. Tapi masih ada harapan. Semua dokumen legal sudah Kakek siapkan. Kalau bergegas, kau bisa sampai tepat waktu. Jadi berangkatlah sekarang. Pertahankan tanah kita, pertahankan ladangmu.”

“Ladangku……”

Hazel kembali terpaku.

Biasanya, ia akan segera sadar kalau perkataan kakeknya tidak masuk akal.

—Aku dapat jackpot.

Baron jelas barusan mengatakan itu. Tapi kalimat itu sudah menguap entah ke mana. Yang ada di kepala Hazel sekarang hanya satu.

Ladangku. Aku punya ladang……

Ia menatap sertifikat tanah di tangan kakeknya.

Tadi ia sengaja tak berani melihat. Terlalu tak percaya. Tapi kini ia memberanikan diri.

‘Hazel Edwina Mayfield’.

Namanya sendiri tercetak jelas di sana. Kesadaran penuh mendadak menyeruak. Jantungnya berdegup kencang.

“Ya Tuhan!”

Hazel memeluk kakeknya erat.

“Benar-benar atas namaku! Ini bukan mimpi, kan?”

“Tentu saja bukan! Lihat, semua dokumennya sah!”

“Benar! Sangat sahih! Dua tahun menilai dokumen pinjaman di bank membuatku yakin! Jangan khawatir, Kakek. Selama sertifikat ini mencantumkan namaku, tak seorang pun bisa merebut tanah itu dariku!”

“Begitulah yang kuharapkan.”

Baron mengusap kepala cucunya dengan penuh kasih.

“Semua ini demi dirimu. Bertahanlah. Setelah kau kembali, akan kubelikan ladang yang lebih besar.”

“Tidak, satu saja cukup. Untuk apa dua ladang?”

“Ya, ya. Benar juga. Kalau begitu, semoga beruntung.”

Tanpa basa-basi lagi, Baron berbalik dan pergi begitu saja.

Hazel masih berdiri terpaku, meski bayangan kakeknya dengan topi jerami dan celana pendek sudah hilang.

Dadanya bergemuruh. Jantung yang biasanya nyaris tak terasa kini berteriak keras.

“Ya ampun! Ya ampun!”

Kepalanya pening.

Ia melangkah dengan perasaan melayang. Cahaya matahari, angin sepoi, kicau burung, keramaian jalan…… Semua itu akan terpatri dalam ingatannya selamanya, seperti orang yang baru saja mendapat keberuntungan besar.

Ketika kembali ke bank, atasannya langsung membentak.

“Terlambat tiga menit! Dan apa-apaan pakaian itu? Kau kira ini pegadaian? Kalau begitu, keluar saja!”

Setiap kali dimarahi, Hazel selalu membayangkan momen ini.

“Ya. Aku keluar.”

Ia sendiri tak percaya, tapi suaranya benar-benar keluar.

Seluruh bank hening. Semua menatap dengan mata terbelalak. Hazel menjatuhkan surat pengunduran diri di meja dengan suara tak!—lebih memuaskan daripada semua bayangan sebelumnya.

“Mayfield!”

Atasannya panik berteriak, tapi Hazel tak menoleh lagi. Ia langsung pulang, membereskan kamar sewanya, mengepak semua benih, umbi, pupuk, herbal kering, bahan masakan, dan peralatan dapur yang disayanginya, lalu pergi.

Di halte kereta kuda bersama penumpang lain, seorang kusir berteriak:

“Ke Avalon! Tinggal satu kursi lagi!”

Hazel merasa beruntung, naik tanpa ragu.

“Mayfield!”

Kepala bagian berteriak panik, tapi Hazel sama sekali tidak menoleh dan langsung pergi. Ia segera menuju rumah kontrakan, membereskan kamarnya, dan pemilik rumah—seorang nenek tua—terbelalak melihatnya.

“Padahal masih ada setengah bulan uang sewa tersisa! Sampai ada penyewa baru masuk, aku tak bisa mengembalikan sepeser pun.”

“Tidak perlu!”

Hazel berlari menaiki tangga. Ia memasukkan ke dalam koper besar harta berharganya: biji-bijian, umbi, pupuk, herbal kering, bahan masakan, semua yang telah ia kumpulkan dengan penuh kasih. Ia juga menyelipkan beberapa peralatan dapur kesayangannya, serta persediaan makanan yang masih cukup banyak—susu, selai, mentega, daging asap. Setelah itu, ia buru-buru turun kembali.

Selamat tinggal, rumah kontrakan dua gold.

Di halte kereta kuda, kebetulan ada kusir yang berteriak sambil mengangkat papan bertuliskan “Menuju Avalon.”

“Kereta ke ibu kota! Tinggal satu kursi lagi!”

Hazel merasa beruntung dan cepat-cepat naik. Kereta segera berangkat. Ia menggenggam erat koper di pangkuannya, menatap keluar jendela.

Sejak itu, dimulailah perjalanan yang terasa panjang dan membosankan. Meski kereta melaju kencang, bagi Hazel kecepatannya seperti pedati sapi. Entah berapa kali ia harus melawan dorongan hati untuk turun dan berlari sendiri.

Satu hari berlalu, lalu dua, dan pada hari ketiga akhirnya terlihatlah tembok kelabu yang menjulang. Ibu kota Kekaisaran Bratania, Avalon, sudah di depan mata. Tanggal 2 Mei. Tepat seperti yang dikatakan kakeknya.

Namun, sejak itu kereta tak bergerak sedikit pun.

Hazel membuka jendela, melihat keluar. Jalanan padat oleh kereta dan pedati yang keluar dari ibu kota. Para penumpang berbisik-bisik.

“Kenapa macet begini?”
“Biasanya memang ramai, tapi hari ini lebih parah.”
“Itu karena festival peringatan kemenangan. Festivalnya sudah selesai minggu lalu, tapi baru sekarang orang-orang pulang.”

Kusir yang menjawab.

Padahal tinggal sedikit lagi! Hazel merasa tak sabar dan langsung berdiri.

“Aku akan turun dan jalan saja.”

“Mana bisa! Dari sini masih jauh.”
“Tak apa.”

Hazel melompat turun sambil menarik koper. Gadis muda dengan topi lebar, blus, dan rok panjang yang menyeret koper besar sambil melangkah cepat—pemandangan itu membuat orang-orang menatap melongo.

Saat jadi pegawai bank dulu, tenaganya selalu terkuras habis. Tapi kini entah kenapa ia merasa penuh energi. Hazel berjalan, dan terus berjalan, hingga akhirnya melewati gerbang kota.

Ia berhenti sejenak.

Jalan raya yang lebar dan lurus membentang sejauh mata memandang. Di antara deretan toko yang rapi, orang-orang berjalan berkelompok. Suasana ramai, tapi tetap tertib. Seorang kakek yang menggendong cucunya melihat Hazel, lalu mengangkat botol arak sambil berseru riang.

“Grand Chevalier!”

Hazel menatapnya bingung.

“……?”

“Itu artinya bersulang untuk Kaisar. Selamat datang di ibu kota, Nona. Sayang sekali kau tidak datang pas minggu peringatan kemenangan. Dua tahun lalu, hanya karena ‘Grand Chevalier’ satu-satunya di Kekaisaran kita, Yang Mulia Kaisar, sisa-sisa suku barbar di perbatasan bisa disapu bersih……”

“Ah, tak perlu dijelaskan. Mana mungkin aku tak tahu? Justru berkat itu aku bisa diterima di Bank Kota Rochel sebagai pegawai tetap bergaji 12 gold.”

“Jadi Nona datang dari Rochel?”
“Ya.”

Hazel mengangguk sambil kembali menatap sekeliling.

“Terakhir kali aku ke ibu kota waktu kecil, dan ternyata sekarang benar-benar berubah. Dulu di sini ada selokan kotor, rumah gubuk berdempetan, bukan?”

“Betul! Ingatanmu bagus sekali! Semuanya dibongkar dua tahun lalu.”

“Ya ampun. Gelandangan di sini terkenal kasar dan ganas. Pasti sempat kacau sekali.”

Sang kakek hanya tersenyum tipis. Hazel pun sadar.

“Benar juga. Aku bicara bodoh tadi. Siapa berani melawan jika yang membongkar kota ini adalah Yang Mulia Kaisar sendiri? Tentu saja mereka menyingkir.”

“Tepat sekali. Bahkan sebelum pengumuman relokasi keluar, mereka sudah berkemas sendiri. Mereka merobohkan gubuk mereka, mengumpulkan sampahnya, lalu pergi. Jaga-jaga kalau ada masalah, Lord Siegfalt sendiri datang, tapi ternyata tak ada pekerjaan untuknya.”

“Lord Siegfalt?”
“Komandan Ordo Ksatria Petir. Dari keluarga Sachsenpiegel….”
“Oh, keluarga Elf?”
“Bukan. Beruang. Klan berserker perkasa.”
“Begitukah?”

Hazel menghela napas dan jujur berkata,
“Sejujurnya aku kurang tahu. Memang tiap hari koran masuk ke bank, tapi waktu istirahat makan siang saja sudah habis hanya untuk membaca halaman pertanian. Politik, cukup tahu secukupnya untuk ngobrol dengan pemilik ladang sebelah, kan?”

Lalu ia tersentak.
“Engkau orang pertama yang kutemui di ibu kota. Sebenarnya aku ingin ngobrol lebih lama, tapi aku harus cepat-cepat. Impian yang kukejar selama 11 tahun sedang menungguku.”

“Eh? Sungguh?”
“Tentu saja. Oh ya, di mana Monmouth Street? Kalau aku tahu itu, aku bisa melihat peta ini dan menemukan jalannya.”
“Lewati dua gang ke arah sana, sudah sampai.”
“Terima kasih!”

Hazel pun bergegas, meninggalkan kakek yang menatapnya dengan mata membelalak.

Meski festival sudah selesai, semangat ibu kota masih terasa. Pohon-pohon di jalan utama dihiasi bunga dan pita, sementara lambang Kaisar—angka Romawi “Ⅸ”—berkilauan di mana-mana.

“Hmm. ‘Grand Chevalier’……” Hazel bergumam.

Grand Chevalier adalah gelar untuk ahli pedang, dan hanya ada tiga orang di seluruh dunia. Satu adalah pertapa legendaris. Satu lagi penguasa bangsa utara. Dan yang terakhir adalah Kaisar Ramstein IX dari Kekaisaran Bratania.

Kaisar muda berusia 22 tahun itu, bersama empat komandan ordo ksatria yang merupakan sahabat karibnya, sejak masa putra mahkota sudah memimpin perang penaklukan hingga perbatasan menjadi stabil. Ia meraih berbagai prestasi gemilang, sehingga mendapat dukungan penuh rakyat. Selain itu, menurut Meredith—temannya yang sempat cuti tahun lalu untuk menghadiri festival hari jadi Kekaisaran……

“Gila! Dia benar-benar terlalu tampan!”

……begitu katanya.

Meredith menggambarkan betapa tampannya Kaisar berambut pirang itu dengan penuh semangat. Namun Hazel, yang sejak usia delapan tahun lebih berdebar melihat kentang daripada pria tampan, hanya menguap saat mendengarnya.

Tampan atau tidak, pajak kan tidak berkurang. Bagaimana bisa nekat mendekati Grand Chevalier hanya untuk menyentuh ujung jubahnya? Tatapannya saja bisa membunuh orang. Jelas-jelas lebih baik kentang daripada pria.

Oh iya, ngomong-ngomong… di iklim ibu kota ini, varietas kentang apa yang paling cocok tumbuh?

Langkah Hazel yang tadi melambat karena memikirkan Kaisar, kini kembali cepat saat pikirannya beralih ke pertanian. Ia menyeret koper, berjalan secepat angin. Para pejalan yang sedang santai sore pun terkejut dan menyingkir ke samping.

Berjalan, terus berjalan, hingga akhirnya papan nama “Jalan ke-9” terlewat di sampingnya.

“Ah?”

Matanya terbelalak. Hazel buru-buru mengeluarkan akta tanah untuk memeriksa alamatnya. Ladang yang akan menjadi miliknya. Tanah yang katanya dimiliki seorang bangsawan tinggi yang sedang memperluas rumah besar. Tercatat jelas: Jalan ke-1.

“Aku hampir sampai!”

Saking bersemangatnya, Hazel mulai berlari. Jalan ke-9, ke-8, ke-7…… lalu ke-3, ke-2…… dan akhirnya Jalan ke-1!

Hazel terhenti.

Di hadapannya berdiri sebuah kediaman yang begitu besar hingga membuat mulutnya menganga. Sama persis seperti kata kakeknya. Sesuai dengan status penghuninya, tamu-tamu terus keluar-masuk tanpa henti. Beberapa bahkan melapor pada penjaga di pintu gerbang.

Hazel sempat ragu, namun segera meneguhkan hati.

Aku pemilik tanah yang sah.

Ia melangkah masuk dengan penuh percaya diri.

Sejak itu, ia harus sangat fokus. Hazel mengeluarkan peta detail yang terselip di antara dokumen. Karena pemilik rumah ini membeli hampir semua tanah sekitar, peta itu menandai tiap bidang tanah dengan nomor agar tidak keliru.

Tanah milik keluarga Mayfield adalah bidang nomor 79 dari pintu masuk. Hazel menghitung dengan matanya: taman, air mancur, jalan setapak panjang, pos penjagaan prajurit, patung Ramstein I, gedung tambahan lima lantai, taman labirin, kantor misterius, air mancur lagi, perpustakaan, lapangan latihan, gedung tambahan lain, prajurit, kolam, kantor lain, taman bunga……

“Ini dia?”

Hazel berhenti.

Itu adalah taman besar berbentuk lambang Pegasus, simbol Kekaisaran Bratania. Di bagian tengah tubuh Pegasus, ada papan “Sedang Renovasi” dan dikelilingi pagar sementara.

Hazel mendekat. Di sana terlihat patok yang dipasang para tukang kebun sebagai batas tanah. Tertera jelas sebuah nama.

“Mayfield.”

Jantungnya berdegup kencang. Melihat nama keluarganya terukir di sana, semua keraguan bahwa ini mungkin mimpi seketika lenyap.

“Di sini! Ini tempatnya!”

Hazel berseru dengan wajah memerah karena haru. Saat itu, rasanya hanya ada dirinya dan sebidang tanah itu di dunia.

“Ini ladangku!”

Di bawah sinar emas mentari, ia memandang sekitar dengan penuh rasa syukur.

Memang bukan hutan seperti yang ia impikan, tapi tanah itu dikelilingi taman hijau nan rimbun. Di baliknya, bangunan bergaya klasik berdiri megah. Memang bukan alam liar, tapi tetap punya pesona tersendiri. Hanya ada satu masalah: keberadaan istana megah yang terlalu mencolok di sebelahnya……

Tunggu dulu.

Hazel melongo, mengucek mata.

Kubaha raksasa berbentuk kubah emas, empat menara menjulang. Bangunan marmer putih yang masih baru, jelas-jelas sebuah istana. Tapi kenapa ada istana di dalam kompleks rumah ini?

Tunggu. Kalau dipikir lagi……

Semua yang ia lihat tadi berkelebat di benaknya: prajurit, patung leluhur keluarga Ramstein, kantor-kantor pemerintahan, perpustakaan, lapangan ksatria. Karena pikirannya sibuk pada ladang, ia sama sekali tak menyadari keanehan yang jelas-jelas ada di depan mata.

Bodohnya diriku! Ini bukan rumah bangsawan!

Hazel pun terkejut setengah mati.

“‘Bangsawan tinggi’ itu…… ternyata Kaisar sendiri?”

 

Nunaaluuu Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review