Ep. 44 - Swindler

Ch 233: Ep. 44 - Swindler, I

Guru Yoo Joonghyuk, Breaking the Sky Sword Saint,
adalah seseorang dengan kesabaran luar biasa.

Begitulah dirinya seratus tahun lalu—bahkan dua ratus tahun lalu.
Ketekunan seperti itulah yang membuatnya mampu menciptakan
serangkaian teknik pedang legendaris.

Ketika para ahli bela diri lain menjual jurus mereka dan meninggalkan Murim,
dia tetap tinggal sendirian di sini…
menembus batas transcendence dengan tangan sendiri.


“Jadi, siapa sebenarnya kau ini?”


Satu jari besar menekan pipi Yoo Joonghyuk yang tergantung di udara.
Hanya sebuah jari—tapi jari itu milik seorang transcendent.
Rasanya… tentu saja menyakitkan.

Namun Yoo Joonghyuk tak menunjukkan reaksi sedikit pun.


「 “Guru dan murid, kalian berdua sama saja.” 」

Itulah kata-kata yang pernah diucapkan oleh salah satu dari 10 Grand Master Murim
Heavenly Demon.
Dan mungkin, penilaiannya waktu itu memang tepat.


“Kau tidak bicara juga?
Kalau tetap diam, pantatmu akan kena cambuk.”


Breaking the Sky Sword Saint mengangkat pipa rokok besarnya,
dan—

Slap! Slap! Slap!

Suara pukulan terdengar seperti bercanda,
tapi kekuatan di balik setiap ayunan sama sekali tidak main-main.

Darah mengalir dari sudut bibir Yoo Joonghyuk.
Sementara gurunya tersenyum puas.


“Kau laki-laki yang berkarakter.”


Dia sedikit terkesan.

“Aku tanya sekali lagi. Dari mana kau mencuri dan mempelajari jurus Breaking the Sky Sword School?”

“…”

“Kalau jujur, aku akan biarkan kau hidup.”


Yoo Joonghyuk perlahan menegakkan kepala.
Sekolah pedang Breaking the Sky sebenarnya bukanlah organisasi yang menerima manusia biasa.
Bagi orang luar, mustahil mempelajarinya.

Namun kini sang guru berkata akan “memaafkan” jika ia mengaku.
Maknanya jelas—

Breaking the Sky Sword Saint sedang berusaha menjadikannya murid.


‘Guru…’


Tak ada yang mengenal gurunya lebih baik daripada Yoo Joonghyuk sendiri.
Di Murim yang mulai sekarat ini,
sulit menemukan murid yang pantas.

Dan kini, muncul seorang transcendent
yang menguasai jurus khasnya.
Tentu saja dia akan tertarik.


‘Tapi…’

Yoo Joonghyuk menggigit bibirnya.
Mungkin akan lebih mudah jika ia mengikuti rencana Kim Dokja—
mengambil kesempatan dan memperkenalkan diri lewat cerita.
Namun… dia tak ingin melakukannya.


“Hoo, tatapan yang menyala-nyala.”

“…”

“Apa kau menginginkanku?”


Ucapan semacam itu—
benar-benar khas gurunya.
Di tengah situasi seperti ini pun dia bisa bicara omong kosong.

Yoo Joonghyuk hanya menahan diri agar tidak mendesah panjang.


‘Kalau kau bertemu denganku lagi… kau akan mati.’


Dia teringat pada sosok gurunya di kehidupan terakhir:
seorang transcendent yang terluka,
berjuang sendirian hingga akhir.
Kepala batu, pantang menyerah.


– “Bodoh, muridku.
Mereka itu bukan lawan yang bisa kau tangani.”


Gurunya memilih bertarung sendirian melawan Returnee Alliance
setelah ditolak oleh dua orang terkuat Murim—Heavenly Demon dan Blood Demon.


– “Hiduplah, Joonghyuk.”


Waktu itu, Yoo Joonghyuk terlalu lemah untuk berjuang di sisinya.
Dia hanya bisa menyaksikan.
Dan rasa bersalah itu masih menusuk hatinya hingga kini.


“…Matamu tampak sedih.”


Yoo Joonghyuk tersentak.
Tatapan bening sang guru menembus dirinya.

Sebagai keturunan campuran manusia dan giant god,
Breaking the Sky Sword Saint memiliki kemampuan khas kaum Neanderthal—

Mirror Eyes.


“Kesepian, sombong, dan terluka sangat dalam.”


Tatapan itu membaca segalanya.
Membuka lapisan emosi yang berusaha disembunyikan.

“Siapa kau sebenarnya?”


Yoo Joonghyuk menggigit bibirnya sampai berdarah.
Dia tak boleh mengatakannya.
Tidak sekarang. Tidak di waktu ini—


📜 [Konstelasi ‘Demon King of Salvation’ sedang memperhatikanmu.]


Yoo Joonghyuk menatap ke atas, membaca pesan itu.

📜 [Konstelasi ‘Demon King of Salvation’ berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.]

…Akan baik-baik saja?

📜 [Konstelasi ‘Demon King of Salvation’ berkata bahwa putaran ini akan berbeda.]
📜 [Konstelasi ‘Demon King of Salvation’ memintamu untuk percaya pada gurumu.]


Putaran ini akan berbeda.
Biasanya dia tak akan percaya kata-kata seperti itu.
Namun entah kenapa…
kata-kata dari orang ini terasa lain.
Seolah bisa dipercaya.


📜 [Konstelasi ‘Demon King of Salvation’…]

“Dasar lalat sialan… diam.”


Dengan satu jentikan jari, Breaking the Sky Sword Saint menutup udara.
Seluruh suara di sekeliling mereka lenyap total.
Itulah kekuatan Transcendent Barrier.

Suara Kim Dokja kini tak akan terdengar—
dan semuanya bergantung pada keputusan Yoo Joonghyuk sendiri.


“…Namaku Yoo Joonghyuk.”
“Aku… adalah muridmu.”


“Hmm? Apa maksudmu?
Aku tak pernah melihatmu.
Lagipula, aku tak ingat pernah punya murid sepertimu.”

“Aku belajar teknik itu dari…”


Sebelum kalimatnya selesai,
percikan cahaya menyelimuti tubuh Yoo Joonghyuk.

📜 [Story ‘Disciple of Breaking the Sky Sword Saint’ diaktifkan!]


Ujung kata-katanya berubah secara paksa—
diseret ke dalam gaya bicara formal.

“…Guru-nim.”


Yoo Joonghyuk meringis.
Dia teringat percakapan mereka di regresi terakhir.


– “Kau bilang kau seorang regressor.
Kalau begitu, mungkin suatu hari kita akan bertemu lagi.”

– “Aku tidak akan jadi muridmu lagi di kehidupan selanjutnya.”

– “Dasar murid keras kepala.
Kenapa kau tidak bisa bicara manis sedikit saja?
Dan—kenapa tidak pakai bahasa hormat, hah?
Kau ingin kutangkap di kehidupan berikutnya?”


Mungkin karena ucapan itu,
kisah lama mereka masih tertinggal di dalam dirinya.

📜 [Kau harus menggunakan bahasa hormat pada inkarnasi ‘Breaking the Sky Sword Saint’.]


Ironisnya, dulu dia sama sekali tidak sopan padanya.
Namun kini, cerita lama itu malah membelenggunya.


– “Kalau begitu, jadilah muridku lagi di kehidupan berikutnya.”


Hatinya bergetar.
Kenangan lama menerobos masuk seperti air bah.
Dan di balik kesunyian,
ia bisa merasakan tatapan Kim Dokja—
hangat, percaya, dan sangat menyebalkan.


‘…Rekan.’


Sudah lama Yoo Joonghyuk melupakan rasanya mempercayai seseorang.
Namun kali ini—ia memilih untuk percaya.


“Kau ingin tahu siapa aku, bukan?”

“Tentu saja. Aku penasaran setengah mati.”

“Kalau begitu, aku akan buka mental barrier-ku.
Gunakan Mirror Eyes dan lihat sendiri.”

“Hmm? Kau tahu tentang mataku?”

“Lima menit saja.
Aku tak bisa memberimu waktu lebih dari itu.”


Tatapan gurunya berubah curiga.

“Apa kau mau bermain trik?”

“Kalau pun iya, kau pasti bisa menahanku.”


Nada menantang itu membuat Breaking the Sky Sword Saint tertawa kecil.

“Baiklah.”


Bagi seorang transcendent,
melihat kisah orang lain adalah kenikmatan tersendiri.
Dan murid misterius ini—
menggunakan teknik yang sama dengannya.
Rasa ingin tahunya tak bisa dibendung.

“Aku akan melihatmu.”


Cahaya biru pucat menyala di matanya.
Mirror Eyes terbuka.

Yoo Joonghyuk merasakan sensasi seperti rambutnya ditarik keluar satu per satu.
Transfer kenangan lewat Mirror Eyes berisiko tinggi—
baik bagi dirinya maupun sang guru.
Tapi dia sudah siap menanggungnya.


Mungkin setelah melihat semuanya,
gurunya akan kehilangan akal sehat.
Atau menghapusnya tanpa ragu.
Namun jika taruhan ini berhasil—
ia mungkin bisa mengubah masa depan sang guru.


Beberapa menit pun berlalu.
Cahaya Mirror Eyes perlahan padam.

Breaking the Sky Sword Saint tak berkata apa pun.
Kepalanya menunduk, matanya kosong.

Sudah gila kah dia?
Atau…


Ketika akhirnya dia mengangkat wajahnya,
Yoo Joonghyuk melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat di putaran ini—
sebuah ekspresi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


“Kau bilang… kau tak akan jadi muridku lagi…”


Dan mereka berbincang lama setelah itu.

“Kau sudah berjuang keras.”

“Jangan bicara manis seperti itu.
Tidak cocok denganmu.”

“Baiklah.
Tapi kau tetap muridku, tanpa diragukan.”


Guru dan murid itu berbicara,
seolah mereka lupa bahwa dunia sudah berubah.
Yang dulu telah mati di regresi kedua,
kini hanya bayangan lain—
tapi percakapan mereka tetap hangat,
tenang, dan nyata.


“…Aku sudah membalas dendam.
Heavenly Demon dan Blood Demon,
keduanya aku kalahkan di skenario ke-35.”

“Aku tahu.
Aku melihatnya. Tapi kurasa kau masih terlalu lemah.”

“Kalau begitu, seharusnya kau tidak mati.”


Itu bukan percakapan biasa antara guru dan murid,
tapi senyum lembut di wajah gurunya membuat udara terasa damai.

“Kau banyak berubah, Joonghyuk.”

“Tidak ada yang berubah.”


Dia menjentikkan jari.
Sebagian penghalang di sekitar pondok terbuka,
menampilkan layar seperti lensa teleskop besar.

Pemandangan luar terpancar di sana—

Kim Dokja, duduk santai sambil makan pangsit bersama anjing.


“Kau datang menemuiku karena bocah itu, ya?”

“Itu bukan temanku.”

“Dia sudah cukup berani untuk memikirkan melawan nebula.”

“…”

“Menurutmu dia bisa melakukannya?”


Sebagai orang yang pernah menjadi teman pertama murid keras kepalanya,
Breaking the Sky Sword Saint menatap wajah Kim Dokja dengan seksama.

Namun tiba-tiba, penghalang bergetar hebat—
dan suara keras terdengar dari luar.


📜 [Breaking the Sky Sword Saint. Serahkan teknikmu!]


Yoo Joonghyuk segera berdiri.

“…Dokkaebi.”

Gurunya menghela napas panjang.

“Para pembeli teknik datang lagi.”

“Lebih cepat dari rencana.
Sudah berapa lama ini terjadi?”

“Cukup lama.
Sekarang aku satu-satunya yang tersisa di sekitar sini.”


Di Murim, teknik bela diri adalah bentuk story.
Semakin tua asal-usulnya, semakin tinggi nilainya.
Para dokkaebi tahu betul itu—dan menginginkannya.


“Aku dan Kim Dokja akan mengurusnya.”

“Mereka dokkaebi, Joonghyuk.
Kalian takkan sanggup melawannya.”

“Kim Dokja bisa.”


Alih-alih menjawab, Yoo Joonghyuk menatap layar.
Salah satu dokkaebi di sana tampak familiar.

‘Itu… dokkaebi dari Seoul Dome.’


Dan seperti dugaannya,
Kim Dokja mulai beraksi.


“Oh, jadi kau masih hidup?
Kupikir kau sudah dipulangkan untuk dihukum.”


Suaranya santai, nada menggoda khas Kim Dokja.
Dia mengusap dagu sambil menatap para dokkaebi di depan gerbang.


“Hmm… jadi kau datang untuk membeli teknik Breaking the Sky Sword Saint?”


Yoo Joonghyuk hanya mengangkat bahu.
Dia tahu Kim Dokja akan menanganinya dengan caranya sendiri—
cara yang selalu membuat orang kesal sekaligus kagum.

Dan seperti yang diduga—
senyum tipis muncul di wajahnya.


“Baiklah,” katanya pelan.
“Aku akan menjualnya—teknik Breaking the Sky Sword Saint.

Ch 234: Ep. 44 - Swindler, II

📜 [Kau… mungkin waktu itu…]


Ekspresi gugup para dokkaebi itu langsung membangkitkan kenangan buruk di kepalaku.
Biyoo yang melayang di sampingku ikut mengerutkan alis.
Wajar saja dia marah—

karena dokkaebi di depanku ini adalah biang keladi dari tragedi
“Bencana Shin Yoosung ke-41.”

Namanya… Paul, kalau aku tidak salah ingat.


Kupikir dia sudah dilempar ke Purgatory dan dihukum berat.
Tapi ternyata, hukuman dari Biro itu seperti memukul kapas.

“‘Tim Redevelopment Murim’? Itu hukuman? Lucu sekali.”


“Kau kelihatan lebih kurus sekarang. Sudah lama ya.”


📜 [Uhh, kuooooh…!]


“Waktu itu kau masih dokkaebi tingkat menengah, kan?
Sekarang malah turun jadi kelas rendah?”


📜 [Kau! Kau…!]


Melihatnya bereaksi seperti itu membuatku ingin meminta hak ‘solo meeting’ lagi,
supaya bisa kubanting seperti dulu.
Semoga si reader wenny sedang membaca bagian ini dengan puas.


📜 [Berhenti, Paul. Mundur.]


Seorang dokkaebi lain maju menggantikan Paul yang gemetar.
Suaranya berat, formal, dan agak familiar.

📜 [Apakah kau… Kim Dokja?]


Aku menyipitkan mata.
Tunggu—suara ini… aku kenal.

“Ehh? Kau yang dulu kerja di bawah Bihyung, kan? Namanya…”

📜 [Youngki! Ya, benar! Kau memang Kim Dokja!]


Dokkaebi itu tertawa lebar, tampak senang sekali.
Sekarang aku ingat—dia dulu menangani sub-channel di bawah pengawasan Bihyung.

📜 [Kudengar kabar kau masih hidup. Tak kusangka kita bertemu di tempat seperti ini!]


“Bihyung baik-baik saja?”

📜 [Dia agak murung setelah kau menghilang.]


Aku sempat merasa bersalah mendengar itu.
Jadi ternyata Bihyung benar-benar menyukaiku, ya.
“Wah, penampilanmu berubah. Dulu update skenario saja kau nggak bisa.”

📜 [Ahaha… memalukan kalau diingat. Sekarang aku sudah naik jadi dokkaebi menengah.]


Oh, jadi dia sudah naik pangkat.
Kalau Youngki sudah menengah, berarti Bihyung juga dapat promosi cepat.
Waktu terasa panjang, tapi sebenarnya belum genap setahun berlalu.


📜 [Ngomong-ngomong, Dokja. Apa maksudmu menjual teknik?]


Aku tersenyum kecil.
“Persis seperti yang kau dengar. Aku akan membujuk Breaking the Sky Sword Saint agar menjual tekniknya padamu.”


📜 [Bagaimana caranya—Dokja…]


“Aku punya cara sendiri.
Kau mau yang mana? Red Phoenix Shunpo? Atau Hundred Steps Godly Fists?”


📜 [Kami sudah punya Hundred Steps Godly Fists. Yang kami butuh adalah…]


Breaking the Sky Swordsmanship?”

📜 […Benar.]


Seperti dugaanku.
Breaking the Sky Swordsmanship—teknik pedang milik Breaking the Sky Sword Saint,
yang juga menjadi dasar gaya bertarung Yoo Joonghyuk.

Salah satu skill paling langka di seluruh First Murim.

Di sampingku, Breaking the Sky Master menggeram pelan.
Aku buru-buru menepuk kepalanya dan berkata ringan,

“Baiklah. Aku akan menjualnya.
Atau tidak, aku kasih saja gratis.”


Anjing itu menatapku dengan mata bulat tak percaya.
Sementara Youngki ternganga.

📜 [B-Benarkah?]


“Tentu. Tapi ada dua syarat.”
Aku tersenyum kecil. “Pertama, jadikan Breaking the Sky Swordsmanship sebagai hadiah utama
untuk skenario yang akan kau buka sebentar lagi.”


📜 [Huh?]


Wajah Youngki tampak bingung.
Kau kira aku bodoh, ya?


“Kau akan segera membuka skenario ‘Martial Arts Competition’, kan?
Yang berhadiah Black Heavenly Demon Sword.”

📜 [B-Bagaimana kau tahu…?!]


“Kenapa kaget? Ini rutin, kan?
Skenario turnamen Murim tahunan—
pedang legendaris muncul,
lalu semua orang saling bunuh demi mendapatkannya.”

📜 [Itu benar, tapi… bagaimana kau tahu tentang Black Heavenly Demon Sword?!]


Aku tertawa kecil.
Bagaimana aku tahu? Karena aku pembaca, dasar.
Turnamen itu selalu muncul setiap kali Yoo Joonghyuk datang ke First Murim.
Dan jujur saja, aku sudah bosan waktu membaca bagian itu di Ways of Survival.


“Tak penting bagaimana aku tahu.
Intinya, tambahkan Breaking the Sky Swordsmanship sebagai hadiah utama.”


Mata Youngki berputar cepat, penuh perhitungan.
Baginya, ini jelas tawaran bagus.
Teknik yang dibeli bisa mereka manfaatkan:
dipasang di skenario besar untuk menaikkan pelanggan,
atau dijual mahal lewat Dokkaebi Bag.

Dan tawaranku bisa menghemat biaya mereka.


📜 [Baik. Aku tidak rugi. Tapi…]


“Tapi?”

📜 [Kau bilang dua syarat. Apa yang kedua?]


Senyumku melebar.
“Yang kedua sederhana.
Aku ingin semua orang di sini ikut dalam skenario Martial Arts Competition.


📜 [Semua orang di sini…?]


Mata Youngki menyipit.
Dia mulai paham arah pikiranku.

📜 [Menarik, tapi sulit.]


“Kenapa?”

📜 [Aku tak masalah dengan inkarnasi lain,
tapi tidak bisa kalau termasuk Breaking the Sky Sword Saint.]


Seperti dugaan.
Kalau sang Saint ikut bertanding, dia pasti menang telak.
Penonton bosan, rating anjlok, dokkaebi rugi besar.

Jadi aku pura-pura mengalah besar-besaran.

“Kalau begitu, semua orang selain Breaking the Sky Sword Saint.


📜 [Hmm… baik. Kompetisinya dua minggu lagi.
Sampai saat itu, siapkan teknik yang dijanjikan.]


“Siap. Dan jangan lupa undangan resmi.”

📜 [Tentu. Sampai jumpa lagi, Kim Dokja.]


“Ah, sampaikan salamku untuk Bihyung.”

📜 [Haha, akan kusampaikan.]


Youngki menghilang sambil tertawa puas,
diikuti rombongan dokkaebi-nya.
Paul masih menatapku dengan mata penuh dendam—
aku balas menatap dengan lebih tajam lagi.


Begitu mereka lenyap, kerah bajuku langsung ditarik seseorang.


“Hei! Apa-apaan barusan itu?!
Menjual teknik?! Ikut kompetisi bela diri?! Kau gila, ya?!”


Di sampingku, Breaking the Sky Master ikut melolong.

📜 [Woof woof! Woof woof woof!]
📜 [Kami tidak akan menjual teknik kami! Apa yang kau pikirkan?!]


Ya, ya. Sudah kuduga reaksinya akan begini.
Baru saja aku menghela napas—


“Kim Dokja!!”


Debu berhamburan.
Yoo Joonghyuk muncul dengan wajah marah dan langsung mencengkeram leherku.
Aku terguncang seperti boneka kain.


“Lepaskan dulu, biar aku jelaskan.”

“Diam! Apa kau gila menjual teknik itu?!”

“Tenangkan diri dulu. Aku melakukannya… karena kau.”

“…Apa?”

“Kau tidak sadar apa yang baru saja kita dapat?”


Tepat setelah itu, suara notifikasi terdengar.

📜 [Sub Scenario baru telah tiba!]
📜 [Sub Scenario: Martial Arts Competition dimulai!]


Yoo Joonghyuk menatap jendela skenario yang muncul.
Wajahnya menegang.

“…Black Heavenly Demon Sword?”

“Ya. Kau kan bilang menginginkannya.”

“…”

“Dan kalau kau perhatikan, hadiah tempat ketiga juga ada Demon Spirit Bead.
Lumayan, kan?”


Tatapan Yoo Joonghyuk melemah.
Dia akhirnya melepaskanku.
Heh. Jadi terharu, ya?


Namun masalah baru muncul.
Di depanku berdiri Breaking the Sky Sword Saint,
wajahnya dingin, penuh tekanan.


📜 「 Sosok yang lahir dari darah raksasa dan manusia.
Keberadaannya sendiri sudah menyerupai dewa. 」


Deskripsi dari Ways of Survival itu tidak berlebihan.
Hanya berdiri saja, auranya sudah menekan dada.


“Guru-nim,” aku tersenyum santai.
“Percakapan antara guru dan muridnya berjalan lancar?”


“…Kau benar-benar tidak waras.”


“Dengar dulu penjelasanku.”

“Aku tidak ada waktu mengobrol dengan orang sepertimu.”


Kabut pekat mulai menggumpal di sekeliling kami.
Aku buru-buru bicara,

“Breaking the Sky Sword Saint,
tak mungkin mempertahankan cara lama selamanya.”


Alis tebalnya menajam.

“Apakah prinsip non-manusia itu begitu penting,
sampai kau rela kehilangan segalanya karenanya?”


“Kim Dokja!” Yoo Joonghyuk berteriak.
“Berhenti bicara omong kosong!”


Tentu saja aku tidak berhenti.

“Lagi pula, kekuatan aslimu bukan pada Breaking the Sky Swordsmanship, kan?
Kau sudah meninggalkannya sejak mencapai transcendence.
Kenapa tidak menjualnya saja?”


Tanah di bawah kami mulai bergetar.
Tekanan gravitasi melesak turun.

Tubuhku nyaris roboh,
Jang Hayoung dan Han Myungoh bahkan tak bisa bersuara.
Udara di sekeliling terasa seberat gunung.


“Guru-nim, tunggu…!” seru Yoo Joonghyuk,
namun sang Saint tak mengindahkan.


Benar-benar keras kepala.


📜 [Konstelasi ‘Demon King of Salvation’ mengaktifkan status konstelasi.]


Cahaya menyala di sekelilingku.
Tekanan itu perlahan mengendur.
Aku tersenyum ke arah Breaking the Sky Sword Saint yang tampak terkejut.

“Aku memang inkarnasi, tapi jangan lupa—aku tetap konstelasi kelas narrative.
Dan aku belum menjualnya, jadi jangan buru-buru marah.”


“Kau bersembunyi rupanya.”

“Lagipula, kalau kau menang di kompetisi nanti,
kau bisa mengambil kembali teknikmu sendiri.
Kau pasti menang, kan?”


Ekspresi sang Saint mulai tenang.
Meski jelas dia masih bisa menumbukku jadi debu jika mau,
setidaknya sekarang dia menahannya.

“Aku tidak bisa ikut kompetisi itu.”

“Ah, tak seru kalau orang dewasa ikut main dengan anak kecil.”

“Anak-anak Murim tidak selemat itu.”

“Aku tahu. Tapi muridmu kuat.”


Mata sang Saint bergeser ke Yoo Joonghyuk.
Aku menepuk bahu pria itu.

“Joonghyuk akan ikut bertanding.”


Dia menatapku, kaget.
Kenapa kaget? Kau kira kau bisa duduk santai, hah?


Alis gurunya berkedut.

“Dia masih lemah.”

“Kau bisa melatihnya lagi.
Lagi pula, dia muridmu, bukan?”

“Aku tidak pernah mengatakan aku menerimanya sebagai murid…”


Mereka saling menatap,
dua kepala batu dari dua generasi berbeda.


📜 [Skill eksklusif ‘Omniscient Reader’s Viewpoint’ diaktifkan.]


Aku bisa mendengar sedikit dari pikirannya.

📜 「 Masih terlalu dini baginya. 」
📜 「 Joonghyuk akan mati di kompetisi itu. 」
📜 「 Dia belum siap menghadapi 10 Grand Masters. 」


Tidak perlu mendengar semuanya untuk mengerti maksudnya.
Baik guru maupun muridnya—
sama-sama keras kepala.


“Kalau begitu, begini saja,” ujarku pelan.
“Kalau kau mau menerima Yoo Joonghyuk sebagai murid,
aku akan mempertemukanmu dengan klanmu.”


“…Apa maksudmu?”

“Persis seperti yang kau dengar.
Kau belum menemukan sisa klanmu, kan?”


Tatapannya berubah aneh.

“Aku tidak tahu bagaimana kau tahu ini,
tapi klanku sudah musnah.
Tidak ada raksasa yang tersisa.”


“Tidak juga. Masih ada beberapa.”

“Apa…?”


Aku mendongak dan berbicara pelan,

“Tuan Dunia Bawah, kau masih mendengarku, kan?”


📜 [Konstelasi ‘Queen of the Darkest Spring’ menatapmu sambil tersenyum aneh.]


Aku menghela napas panjang.
“…Sudah lama tak bertemu, Persephone.”


Sial.
Ratu yang satu ini selalu sulit diajak bicara.
Sejak kapan dia muncul di kanal-ku?

Belum sempat aku bicara lagi, pesan lain berdatangan.


📜 [Konstelasi ‘Queen of the Darkest Spring’ berkata telah mendengar ceritamu.]
📜 [Konstelasi ‘Queen of the Darkest Spring’ akan mendengarkan permintaanmu.]


Cepat sekali.
Kalau soal gosip dan cerita menarik,
dia memang tak pernah ketinggalan.

Tapi tentu saja, dia tidak pernah melakukan apa pun tanpa imbalan.


📜 [Konstelasi ‘Queen of the Darkest Spring’ berkata ada satu syarat.]


Tentu saja.
Selalu begitu.

“…Katakan.”


📜 [Konstelasi ‘Queen of the Darkest Spring’ mengundangmu ke Feast of Constellations.]


Pesta konstelasi?
Sekarang?
Waktunya aneh sekali.

Dan kemudian—pesan terakhir datang.


📜 [Konstelasi ‘Queen of the Darkest Spring’ mengundangmu ke Gourmet Association.]

Ch 235: Ep. 44 - Swindler, III

Sejak keesokan harinya, Yoo Joonghyuk benar-benar tenggelam dalam latihan di bawah bimbingan Breaking the Sky Sword Saint.

Sang guru itu tetap berwajah serius sejak mendengar bahwa klannya mungkin masih bisa ditemukan.
Yoo Joonghyuk tahu isi hatinya, tapi memilih diam dan bermeditasi daripada menghiburnya dengan kata-kata kosong.


‘Awalnya aku berencana menemui para Giant God kuno sendiri… tapi,’


Jika dipikir-pikir, tidak buruk juga menyerahkan urusan itu pada Kim Dokja.
Menurut rencananya semula, untuk bertemu langsung dengan Ancient Giant Gods, ia harus melewati 40 skenario terlebih dulu.


‘Tapi pria itu… ternyata punya hubungan dengan Dunia Bawah.’


Benar-benar tidak terduga.
Bagaimana mungkin dia bisa menaklukkan begitu banyak konstelasi besar seperti itu?


📜 [Konstelasi ‘Demon-like Judge of Fire’ sedang tertawa.]


Lihat saja malaikat ini—
di regresi kedua, Uriel sama sekali tidak seperti ini.
Dia dulu adalah malaikat agung yang adil dan kaku, penuh kehormatan.
Sekarang? Rusak total. Yoo Joonghyuk tak habis pikir bagaimana hal itu bisa terjadi.


“Kau sungguh berniat ikut dalam kompetisi itu?”


Yoo Joonghyuk hanya mengangguk diam mendengar pertanyaan Breaking the Sky Sword Saint.

“Kau bisa mati. Skenario kompetisi tidak pernah mudah.”

“Aku jauh lebih kuat dari diriku di waktu yang sama pada putaran sebelumnya.”

“Tapi belum cukup untuk menghadapi 10 Grand Master Murim.”


Yoo Joonghyuk tahu betul siapa yang dimaksud 10 Grand Master Murim.
Salah satunya adalah Ice Flower Goddess,
pemilik teknik yang sempat dijual oleh pedagang misterius sebelumnya.
Ada juga grand master dari Keluarga Namgung,
kerabat jauh dari Breaking the Sky Sword Saint sendiri.

Mereka semua akan muncul saat Martial Arts Competition dibuka.


Selain itu, kompetisi itu juga menjadi ajang bagi inkarnasi dari berbagai konstelasi terkenal.

📜 [Beberapa konstelasi menantikan Martial Arts Competition.]
📜 [Beberapa konstelasi sudah bosan dengan Martial Arts Competition.]


Untungnya, konstelasi yang kuat justru sudah bosan.
Skenario ini rutin muncul setiap tahun di Murim,
jadi daya tariknya memang menurun di mata banyak konstelasi.


“Kau harus membuka Transcendence Stage Two.”

“Aku sudah pernah mencapainya, jadi seharusnya tidak sulit.”

“Berbeda dengan menembus Stage One.”

“Akan kulakukan. Di regresi terakhir aku bahkan sudah mencapai Stage Three.”

“…Stage tiga?”


Tatapan Breaking the Sky Sword Saint bergetar.
Tahap ketiga transcendence bukan sesuatu yang bisa dicapai hanya dengan bakat.
Itu memerlukan waktu—
waktu yang sangat panjang.

Bagaimana mungkin Yoo Joonghyuk sempat menempuhnya di regresi lalu?


“Aku menggunakan Time Fault di Dark Dimension.”


Time Fault di Dark Dimension
tempat yang dijuluki kuburan Murim.
Ada dua jenis orang yang berani masuk ke sana:
mereka yang kehilangan akal setelah menemui batas kemampuan,
dan mereka yang berhasil melampaui batas itu.

Yoo Joonghyuk termasuk yang kedua.


“Aku tidak bisa membayangkan betapa keras latihannya.
Berapa lama kau di dalam?”

“Sekitar seratus tahun.”

“Stage tiga dalam seratus tahun…
Tidak heran kau begitu sombong.”


Seratus tahun mungkin terdengar panjang bagi manusia biasa,
tapi tidak untuk para transcendent.

Ada banyak orang di dunia ini yang hidup ratusan tahun
tanpa pernah menembus dinding itu,
meski sudah menelan segala jenis ramuan dan spiritual medicine.

Namun Yoo Joonghyuk melampaui dinding itu—
tiga kali—hanya dalam seratus tahun.


“Kalau begitu, aku akan memperpendek waktunya dengan masuk ke Time Fault lagi.”

“Gila! Kau tahu efeknya? Time Fault bisa merusak jiwa!
Kau belum cukup melihat berapa banyak pendekar yang jadi gila di sana?
Antara kewarasan dan pencerahan itu cuma dibatasi satu garis tipis!”

“…Di putaran sebelumnya, bahkan setelah seratus tahun di sana,
aku tetap tidak bisa melampauimu.”

“Tentu saja! Seratus tahun itu masih terlalu cepat untuk mengejarku!”


Breaking the Sky Sword Saint mendengus kesal,
tapi akhirnya berkata pelan,

“Bagaimanapun… kalau kau memang sudah mencapai Stage Three,
lebih baik aku yang melatihmu daripada membiarkanmu belajar sesat.”


Yoo Joonghyuk tidak terlihat senang meski dipuji.
Tatapan gurunya mengeras curiga.

“Ada apa lagi?”


Akhirnya Yoo Joonghyuk bercerita tentang pencerahan spiritual-nya.


“Jadi… kau mencapai pencerahan saat kelelahan?”

“Entahlah. Aku tidak terlalu ingat.”


Mendengar itu, ekspresi gurunya memburuk.

“Kau yakin mau mempercayakan nasibmu pada ketidaksadaranmu sendiri?
Itu terdengar seperti omongan pengikut kultus sesat Ice Flower Goddess.”


“Itulah kenapa aku butuh bimbinganmu.
Ajari aku teknikmu sekali lagi.”

“Apa?”

“Metode lamaku sudah tak bisa kupakai. Terlalu lama.”


Sang guru menatap muridnya seperti baru melihat orang gila.

“Kau pikir aku akan menolongmu?
Kau sudah menembus transcendence,
harusnya tahu bahwa setiap orang menemukan jalannya sendiri.”


“Tapi kau tetap bisa menuntunku.
Bukankah ada pepatah ‘10.000 Sungai Bermuara ke Laut yang Sama’?


“Itu berarti setiap orang menempuh cabang berbeda.
Tak ada pencerahan tunggal di dunia ini.
Sama seperti tak ada cerita yang sama.”


“Tetap saja, kalau ada 10.000 cabang,
bukankah cukup tangkap salah satunya saja?
Aku sudah menemukan satu sebelumnya.”


Yoo Joonghyuk sempat diam.
Nada bicaranya mulai terdengar seperti Kim Dokja.
Dia sendiri sadar akan hal itu dan mengerutkan dahi—
entah sejak kapan ia mulai berbicara sepertinya.


Breaking the Sky Sword Saint menghela napas panjang.

“Kau selalu sekeras kepala ini?
Ini tidak akan mudah.
Lagipula, seharusnya kau sudah tahu dari pengalaman sebelumnya—
Breaking the Sky Swordsmanship bukan teknik untuk pria.”


Tentu saja Yoo Joonghyuk tahu.
Itulah sebabnya dulu begitu sulit mempelajarinya.
Namun kali ini… berbeda.

“Masalah jenis kelamin bisa disiasati.”

“…Apa maksudmu?”


📜 [Konstelasi yang suka berganti jenis kelamin sedang mendengus geli.]


Wajah Yoo Joonghyuk mengeras mendengar pesan itu.
Setiap kali ia memikirkannya,
marah dan rasa malu datang bersamaan—
tapi kalau bisa memanfaatkannya,
dia akan melakukannya tanpa ragu.


“Baiklah. Kalau begitu, ayo mulai.”


Beberapa saat kemudian,
mulut Breaking the Sky Sword Saint terbuka lebar karena terkejut.

Di depannya, Yoo Joonghyuk menarik pedangnya tanpa ekspresi.


“Dan jangan pernah bilang ini pada orang yang di luar sana.”


…Kim Dokja tidak boleh tahu.


📜 [Di Kim Dokja Industrial Complex, beberapa orang meragukan pencapaianmu.]
📜 [Cerita tentang ‘Penipu Kim Dokja’ sedang menyebar di dalam kompleks.]


Aku terbangun dari tidur siang gara-gara notifikasi itu.
Kelihatannya rumor buruk sedang menyebar di industrial complex selama aku pergi.
Wajar saja—rulernya berganti,
tapi penguasanya tak pernah muncul di depan publik.

Tapi tetap saja… Penipu Kim Dokja?
Lucu. Orang-orang yang tak pernah melihat wajahku justru paling mengenalku.


“Kim Dokja. Apa yang kau lakukan?”


Seseorang menendang kakiku.
Aku bangkit dengan meringis,
melihat Yoo Joonghyuk yang tubuh bagian atasnya basah oleh keringat.
Latihan keras di bawah sang Saint rupanya berhasil memerasnya habis-habisan.


“Aku cuma sedang berpikir.”

“Kau bermalas-malasan.”

“Aku pasien. Wajar kalau malas.”


Alasan bodoh, tapi tetap fakta.
Tubuhku belum pulih total dari penalti exile.
Pemulihan juga terhambat gara-gara urusan dengan Breaking the Sky Sword Saint.

Untungnya aku terus meningkatkan tingkat proficiency Lamarck’s Giraffe
dan mengonsumsi fragmen cerita sedikit demi sedikit.


Aku melirik halaman depan.
Jang Hayoung sedang bertarung dengan Han Myungoh,
sementara Breaking the Sky Master duduk sambil mengoreksi kesalahan mereka.


“Bagaimana perkembangan mereka?”


“Anak itu lumayan berbakat.
Atributnya aneh, tapi justru membuatnya cepat belajar.”

“Itu bukan anak perempuan. Dia laki-laki.”

“…Kadang aku tak tahu apa yang kau lihat dari orang.”


Aku menatap sinis.
Dia memang laki-laki—setidaknya menurut novel aslinya.

Belum sempat aku menjelaskan, Yoo Joonghyuk bertanya lagi.

“Lalu bagaimana dengan para konstelasi?”


“…Masih kupikirkan.”


Sudah seminggu sejak aku menerima pesan dari Persephone.

📜 [Konstelasi ‘Queen of the Darkest Spring’ mengundangmu ke Gourmet Association.]
📜 [Dalam satu minggu, Festival Gourmet Association akan digelar di Kastil Oro.]
📜 [Harap tentukan keberangkatanmu sebelum malam ini.]


Undangan ke Gourmet Association.
Aku sudah menduganya akan datang,
tapi waktunya… lebih cepat dari yang kuduga.


Gourmet Association adalah kumpulan konstelasi pecinta kuliner.
Sekilas mirip dengan Constellation Banquet,
tapi kenyataannya jauh berbeda.

Jika Constellation Banquet adalah acara resmi,
maka Gourmet Association Festival bersifat tidak resmi—
dan tingkat kekacauannya jauh lebih tinggi.


📜 [Konstelasi ‘Demon-like Judge of Fire’ merasa khawatir padamu.]


Dan yang paling penting—
tidak ada Uriel di sana.

📜 [Konstelasi ‘Prisoner of the Golden Headband’ penasaran dengan keputusanmu.]


Tidak ada Great Sage, Heaven’s Equal.
Tidak ada Secretive Plotter.
Dan seingatku…
tidak ada Abyssal Black Flame Dragon juga.

Dengan kata lain, suasananya tidak akan bersahabat bagiku.
Pergi ke tempat seperti itu sama saja masuk ke sarang konstelasi yang tidak stabil.


“Kau takut?” tanya Yoo Joonghyuk datar.

“Mana mungkin.”


Kalau aku takut, aku takkan sampai sejauh ini.

Aku menatap lagi ke arah halaman,
tempat Jang Hayoung dan Han Myungoh masih beradu.
Han Myungoh menjerit kesakitan setelah menerima pukulan.

Yoo Joonghyuk ikut memperhatikan dan bergumam,

“Karena tempat ini, kan?”

“…Ya.”


Menurut pesan Persephone,
Festival Gourmet Association diadakan tepat satu minggu lagi
dan itu bertepatan dengan tanggal digelarnya Martial Arts Competition.

Artinya…
pada hari kompetisi dimulai, aku tak akan berada di First Murim.

Jika sesuatu terjadi—


“Pergilah.”

“Hm?”

“Pergi dan kembali, Kim Dokja.”


Nada datarnya tak berubah,
tapi untuk Yoo Joonghyuk,
itu sudah cukup untuk disebut… dukungan.

Ch 236: Ep. 44 - Swindler, IV

Aku refleks menengadah mendengar kata-kata tegas Yoo Joonghyuk.

“...Apa itu tidak apa-apa?”


“Skenario yang sedang kita hadapi sekarang bukan Demon King Selection,
tapi Martial Arts Competition.”


Aku memang sudah berpikir begitu,
tapi mendengarnya langsung dari Yoo Joonghyuk
anehnya membuat dada terasa lega —
dan sedikit… bangga.

“Kau… benar-benar sudah jadi manusia sekarang.
Setidaknya, kau tidak akan mati dalam waktu dekat.”


Yoo Joonghyuk mengabaikan sindiranku dan melanjutkan dengan wajah serius.

“Satu-satunya hal yang bisa kita dapat dari kompetisi itu hanyalah Black Heavenly Demon Sword.
Tapi mendapatkan pedang itu tidak berarti kita akan menang di Demon King Selection.”


Benar juga.
Menang di Murim Competition sama sekali tak menjamin kemenangan dalam Demon King Selection.


“Itu sebabnya kau harus pergi ke Gourmet Association.
Kita butuh rekan-rekan baru untuk nebula kita.
Mungkin kau bisa mendapatkan sekutu di sana.”


Ah, jadi itu maksudnya.
Dia menyuruhku pergi ke Gourmet Association
untuk mencari konstelasi yang bisa dijadikan aliansi.

Tapi ada satu hal yang membuatku berhenti sejenak.

“...Nebula kita?”

“Bukankah kau bilang akan membentuknya waktu itu?”

Kim Dokja’s Company?”

“Aku akan keluar seketika kalau namanya benar-benar itu.”


Dia memalingkan wajah sambil mengerutkan kening.
Entah kenapa, aku malah tersenyum kecil.

📜 [Konstelasi ‘Demon-like Judge of Fire’ menyeka air matanya dengan sapu tangan.]


Lucu sekali.
Si pria yang dulu selalu menyeretku seperti sampah,
kini bicara tentang “nebula kita”.


“Baiklah,” aku berdiri.
“Aku akan pergi.”


✦ ✦ ✦

Malam itu,
seorang pemandu Gourmet Association datang menjemputku melalui portal.

Dia mengendarai kereta kecil dengan kuda hitam,
dan mengenakan kostum koboi ala barat —
kontras sekali dengan latar dunia ini.
Sepertinya dia salah satu bawahan pemilik Kastil Oro.


Pemandu itu turun dan membungkuk sopan.

📜 [Apakah Anda ‘Demon King of Salvation’?]

“Benar.”

📜 [Silakan naik ke kereta. Perjalanan ini cukup panjang,
Anda bisa beristirahat di dalam.]


Tidak ada ekspresi kaget, tidak ada reaksi berlebihan.
Seolah nama ‘Demon King of Salvation’ bukan hal luar biasa baginya.
Mungkin karena dia memang terbiasa menghadapi konstelasi.


📜 [Saya akan menjemput beberapa penumpang lain di perjalanan. Anda keberatan?]

“Tidak masalah.”


Penumpang lain?
Aku sempat ingin bertanya, tapi sebelum sempat mulut terbuka,
kereta sudah bergerak dengan kecepatan lembut dan sunyi.


Bagian dalamnya nyaman — terlalu nyaman.
Tak ada guncangan, tak terasa bergerak,
seolah-olah seluruh dunia yang bergeser, bukan aku.

Tempat yang sempurna untuk membaca Ways of Survival.


Aku membaca selama beberapa jam…
atau mungkin beberapa hari.
Sulit mengukur waktu karena kereta ini seolah melaju di luar dimensi waktu.


📖
「 …Lalu, Yoo Joonghyuk di regresi ke-15 berpikir sebelum mati: ‘Aku tidak beruntung.’ 」
「 …Di akhir regresi ke-19, Yoo Joonghyuk berpikir: ‘Lain kali.’ 」
「 …Yoo Joonghyuk menutup hidupnya yang ke-25 dan bergumam, ‘Benar-benar lain kali.’ 」


Aku menutup buku sebentar dan menghela napas panjang.
Baiklah, aku tarik ucapanku.
Pria ini masih tetap seekor ikan buntal — keras kepala dan penuh penyesalan.
Apakah aku menolongnya atau tidak, hasilnya sama saja.


Aku kembali mencari bagian yang kubutuhkan —
informasi tentang Gourmet Association.

Tidak banyak.
Dalam naskah aslinya, Yoo Joonghyuk memang pernah mengunjungi Gourmet Association,
tapi tujuannya bukan untuk bersahabat — melainkan membunuh mereka semua.

Dan halaman-halaman itu hanya berisi suara jeritan.


📖
Flying Fox berkata,
‘Semua konstelasi itu busuk. Tapi Gourmet Association—mereka yang paling busuk di antara semuanya.’ 」


Aku menutup buku itu perlahan.
Tidak ada satu pun kalimat yang memberiku rasa aman.
Semakin aku baca, semakin jelas betapa berbahayanya tempat yang kutuju.


Namun entah kenapa, aku terus membaca.

📖
Yoo Joonghyuk berpikir, ‘Seandainya dia datang bersamaku.’ 」


Itu kalimat yang tidak ada di naskah asli.
Tanda bahwa intervensiku mulai memengaruhi Ways of Survival.
Setiap kali menemukan bagian seperti itu, aku memperhatikannya dengan saksama.
Karena cuma di bagian itulah disebut ‘regresi ketiga’.

📖
「 ‘Kau harus melakukannya.
Dia bilang ini cara yang benar.’ 」


“…Cara yang benar?”

Aku bergumam pelan.
Apa maksudnya?


📜 [Sudah waktunya makan. Jika Anda tidak keberatan, saya sudah menyiapkan hidangan sederhana.]

“Terima kasih.”


Kereta berhenti.
Pemandu menghidangkan makan malam —
sebuah potongan daging berwarna merah muda pucat,
harum dan lembut.
Tentu saja, bukan daging biasa.

📜 [‘The Last Gladiator of Planet Selegedon’.]


Makanan bercerita.
Khas Gourmet Association.
Aku bisa merasakan kepadatan ceritanya bahkan tanpa menggigit.

Aku menusuknya dengan garpu…
dan seketika, cerita itu mengalir ke kepalaku.


– “T-Tolong… tolong aku…”


Sekilas adegan berkelebat di benakku:
sebuah kota hancur,
inkarnasi-inkarnasi meledak di bawah tekanan luar biasa.
Tubuh-tubuh robek dilempar ke mulut konstelasi yang menyeringai puas.

Jeritan, darah,
dan sisa-sisa harga diri yang lenyap di ujung dunia yang sudah mati.


Aku menatap potongan “ham” itu,
lalu menaruh garpu perlahan.


📜 […Apakah makanannya tidak cocok di lidah Anda?]

“Aku… tidak lapar sekarang.”


📜 [Maaf. Saya tidak memperhitungkan selera konstelasi Anda. Saya akan menyiapkan—]

“Tidak perlu. Aku bawa makananku sendiri.”


Pemandu itu mengangguk sopan, lalu mengambil kembali piringnya.
Begitu ia keluar dari kabin,
aku akhirnya bisa menghela napas dan menenangkan perut yang bergejolak.

Rasanya ingin muntah.


Kalimat terakhir dari Ways of Survival tiba-tiba terlintas di kepala.

📖
「 ‘Ini adalah mimpi buruk bagi para inkarnasi.’ 」


Ya.
Sekali lagi, aku diingatkan akan siapa yang sedang kutemui —
dan di mana aku akan menginjakkan kaki.

Aku benar-benar bodoh mengira perjalanan ini seperti piknik.


Kukeluarkan beberapa story fragments dari saku.
Jika dibandingkan dengan makanan mereka,
cerita-cerita ini nyaris tak punya warna dan aroma.
Cerita-cerita sederhana dari inkarnasi biasa
yang hidup dan mati tanpa nama.

Dan justru karena itulah mereka dibuang oleh Gourmet Association.


Aku menghisap potongan cerita itu melalui Lamarck’s Giraffe,
lalu memejamkan mata perlahan.
Entah kenapa, aku yakin malam ini aku akan bermimpi buruk.


✦ ✦ ✦

Beberapa hari berlalu.
Selama jeda perjalanan, aku memeriksa hal-hal yang sempat kulupakan.

📜 [Coins Dimiliki: 1.252.353 C]


Jumlah yang luar biasa besar.
1,2 juta koin — cukup untuk membeli Great Demon’s Eyes.
Sayangnya, benda itu sudah diambil Anna Croft.

Lagi pula, aku sudah punya skill yang lebih baik.

Sekarang masalahnya adalah —
bagaimana menggunakan sisa koin ini.


Meningkatkan statistik dasar memang berguna,
tapi efisiensinya turun drastis setelah rata-rata melewati 100.
Lebih baik berinvestasi di skill.

Meskipun begitu,
jika sudah di atas titik tertentu,
statistik tinggi bisa menembus batas realitas itu sendiri.

Mungkin nanti, setelah aku bisa bernegosiasi dengan Fourth Wall,
aku akan periksa jendela atributku secara menyeluruh.


📜 [Akan ada penumpang baru yang naik. Apakah tidak apa-apa?]

“Ya, silakan.”


Kereta berhenti perlahan.
Pintu di sebelah kiri terbuka.
Aku menatap ke luar dengan sedikit waspada.

Mengingat undangan ini, kemungkinan besar penumpangnya bukan orang biasa.


“Ah! Aku sudah menunggu lama.
Kenapa kau lama sekali?”

📜 [Maaf, jalannya agak sulit ditembus…]


Suara itu… terdengar familiar.
Nada tinggi dengan aksen Rusia yang khas.

Aku menatap keluar —
dan melihat tiga orang menaiki kereta.

📜 [Ada penumpang lain di dalam.
Semoga perjalanan Anda menyenangkan.]


Untungnya — atau sialnya —
aku tidak merasakan aura konstelasi.
Artinya mereka semua inkarnasi.


Yang pertama masuk adalah seorang wanita berambut cokelat,
tersenyum lembut sambil menunduk sopan.

“Permisi.”


Rambutnya melambai tertiup angin saat ia mendongak.
Aku refleks bicara.

“...Selena Kim?”


Selena Kim.
Salah satu perwakilan Amerika di Constellation Banquet.

Dia sempat menatap bingung,
mungkin karena wajahku sudah berbeda,
sebelum akhirnya matanya membulat.

“Ah, kau…?”

“Kau ingat siapa aku?”

“Tentu saja! Kim Dokja! Sudah lama sekali!
Kau juga diundang?”

“Ya. Sepertinya begitu.”


Kami berjabat tangan singkat.
Sementara itu, aku memperhatikan dua orang lain yang bersamanya.


Yang berikutnya —
gadis berambut pirang kembar dua.

“Kau… eh?”

Ya, aku mengenalnya juga.
Gadis Rusia dari Constellation Banquet.
Namanya… sesuatu dengan “Red”…
aku lupa.


Aku memalingkan pandang ke penumpang terakhir.
Dan pada detik itu, seluruh bulu kudukku berdiri.


“Ini pertama kalinya kita bertemu secara langsung.”


Suaranya tenang tapi dalam,
mengandung sesuatu yang membuat udara terasa berat.
Aku mengenalnya.
Aku mengenalnya sangat baik.

Salah satu inkarnasi terkuat di Ways of Survival,
sejajar dengan Yoo Joonghyuk.
Dan aku pernah menemuinya —
dalam mimpi.


“Aku pernah melihatmu dalam mimpi.
Sudah lama sekali, jadi agak kabur…
Tapi waktu itu kau bilang, kita akan bertemu lagi.”


Ya. Aku ingat sekarang.
Di skenario Green Zone, setelah aku memakan Specter’s Stone.
Aku melihatnya — dan dia berkata hal yang sama.

“Aku ingat,” jawabku pelan.


Dia tersenyum.

“Perkenalkan secara resmi.
Senang bertemu denganmu, Kim Dokja.
Atau lebih tepatnya… Demon King of Salvation.


Senyumnya sangat indah.
Rambut pirang berkilau,
mata iblis berwarna kuning berputar lembut di atas kepalanya.
Namun di balik keindahan itu,
aku bisa merasakan niat yang jauh lebih gelap daripada cahaya.


“Namaku Anna Croft.


Peramal Asgard.
Kepala Zarathustra.
Dan kini, duduk di hadapanku di dalam kereta Gourmet Association.

 

Nunaaluuu Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review