Ep. 97 - The star that can't be seen

Ch 504: Ep. 97 - The star that can't be seen, I

Smartphone di dalam mantelnya bergetar, mengeluarkan bunyi “Woong, woong.”

⸢Cerita ini dimulai pada saat dia membaca novel itu.⸥

Teks muncul di atas layar ponsel. Dinding raksasa di hadapanku terasa aneh—terlalu mirip layar perangkat itu.

Dari regresi Yoo Joonghyuk ke-3 hingga yang ke-1863—dinding yang, kemungkinan besar, telah merekam semua cerita yang kuketahui.

⸢Kim Dokja pernah memikirkan sesuatu saat masih bekerja di tim QA: ‘Apa jadinya kalau hanya aku satu-satunya yang tahu soal bug ini?’⸥

“Kau…”

Aku menoleh, melihat Han Sooyoung. Ia seolah ingin bicara, tapi tak menemukan kata yang tepat. Perban di tangan kirinya—yang mengandung berkah Abyssal Black Flame Dragon—mulai hancur menjadi serpihan.

Aku memperhatikan semua rekanku satu per satu. Jung Heewon sedang berlutut, kedua tangan gemetar menekan lantai. Lee Hyunsung menggendong Lee Gilyoung yang tak sadarkan diri. Lee Seolhwa dan Gong Pildu saling menopang.

Di kejauhan, kulihat Jang Hayoung, bersama para guru kami, yang berhasil lolos dari kabin tepat waktu.

“…Ahjussi.”

Shin Yoosung menatap tangannya sendiri. Tapi bukan padaku ia bicara—lebih seperti gumaman kosong kepada dirinya sendiri. Satu sisik dari ‘Chimera Dragon’ berada di telapak tangannya.

Yoo Sangah mendekat, meletakkan tangan di pundak gadis itu. Saat merasakan tubuh kecil itu bergetar, ia perlahan mengalihkan tatapannya ke arah pintu tempat kami melarikan diri.

⸢Bintang-bintang yang dulu mereka kenal telah padam.⸥

Pandangan mataku bergoyang karena pusing. Aku tak merasakan tatapan para bintang. Mungkin karena semuanya benar-benar musnah?

Tidak. Pasti karena para Great Dokkaebi telah lenyap. Saluran-saluran Bureau lumpuh—sistem mengalami kerusakan. Itu alasannya. Ya… harus begitu.

⸢Dia takkan bertahan jika tak percaya pada itu.⸥

Aku terhuyung, namun tetap berdiri. Dan orang terakhir yang kulihat adalah Yoo Joonghyuk. Black Heavenly Demon Sword-nya menancap menembus jasad Great Dokkaebi. Story dari para Constellation menetes dari ujung bilahnya.

Ia menatapku dengan wajah datarnya yang biasa.

⸢Apakah ini kesimpulan yang kau inginkan?⸥

['The Fourth Wall' bergetar hebat!]
['The Fourth Wall' aktif lebih kuat lagi!]

Bibikku terbuka… lalu tertutup lagi.

[Final Scenario mendekati penyelesaian.]

Inti ark yang kucari selama ini menggelinding di tanah—sepotong mineral berkilau keemasan, intisari keras dari seluruh ‘Giant Stories’ yang terkondensasi.

[Ark’s core].

Sumber tenaga senjata besar bernama ‘Final Ark’. Menghancurkannya berarti mengakhiri skenario ke-99 dan menutup pertempuran ini.

[Penyelesaian Story terakhir <Star Stream> sudah dekat!]

Tsu-chu-chu…!

Langkahku berhenti. Akar merambat dari tanah, membelit kakiku. ‘Zarathustra’ muncul entah dari mana, membatasi tubuhku.

Selena Kim menghindari tatapanku, seolah merasa bersalah.

Lalu suara nabi itu terdengar.

“Berkat dirimu, beban kami jadi jauh lebih ringan, Demon King of Salvation.”

Anna Croft, sudah menggenggam ark core, memandangku.

⸢Pahlawan umat manusia yang bermimpi akan akhir berbeda dari Kim Dokja.⸥

“Jangan terlalu kaget. Aku akan membawa inti ini.”

Aku sudah tahu seperti apa dunia impiannya.

‘Malam Sempurna.’ Dunia di mana tak ada tatapan Constellation. Ia ingin membawa semua Incarnation ke world-line lain—bebas selamanya.

Namun…

“Ark ini sudah hancur.”

“Bisa dibangun kembali.”

Anna memandang bangkai ark. Hancur parah, tak bisa diperbaiki—namun ia belum menyerah.

“Salah satu Incarnation manusia ahli membuat Story weapon. Dan Aileen yang bersamamu juga… sekarang tak ada Constellation Myth-grade untuk menghalangi. Kita bisa—”

“Berikan inti itu.”

“…Begitu. Masih ada satu Constellation Myth-grade tersisa.”

Mata Anna memerah.

[Eye of Great Demon]—kemampuan melihat masa lalu dan masa depan dunia ini, kini aktif penuh. Status-nya setara Narrative-grade Constellation.

⸢Penentang semua bintang.⸥

Seperti di original—Anna Croft membenci Constellation. Ia ingin menghancurkan bintang dengan kekuatan bintang itu sendiri. Untuk malamnya, ia takkan ragu membunuhku.

⸢Jika cerita ini benar-benar sama—⸥

Namun, ujung pisaunya… ragu.

“Masih belum terlambat, Kim Dokja.”

Sesuatu yang tak pernah terjadi di original.

Yoo Joonghyuk sedikit mengangkat alis. Anna menarik napas dan berbicara:

“Aku tak tahu akhir yang kau inginkan. [Precognition]-ku tak bisa melihatnya. Tapi jika aku tak bisa melihatnya… berarti jawabannya ada di balik [Final Wall]. Pikirkan baik-baik. Apakah itu benar-benar yang terbaik untuk semua manusia?”

Ini pertama kalinya ia bicara sepanjang itu.

“Apa belum cukup? Kau sudah melalui begitu banyak tragedi. Kau telah kehilangan terlalu banyak. Bahkan hal terpentingmu dihina. Masihkah kau mengejar ‘One Single Story’ dunia ini? Hanya demi itu, kau akan mengorbankan keselamatan umat manusia?”

Suara itu penuh putus asa. Penuh keyakinan. Dan jadi sebuah Story—melingkupi Anna dan Zarathustra. Indah, kokoh, tak goyah—buah iman mereka.

Ia mencapai sejauh ini karena tak pernah melupakan sumpahnya.

“Kim Dokja. Tolong, lepaskan ■■-mu.”

“…”

“Mari pergi bersamaku ke ‘malam sempurna’ itu.”

Penawaran yang bahkan mengguncang para Zarathustra. Itu berarti—ia ingin menjadikanku satu-satunya bintang yang bersinar di dunia barunya.

Aku bersyukur, namun…

[Aku ini Constellation.]

…aku takkan menerimanya.

Tsu-chu-chut…

Status-ku bangkit. Akar hancur. Semua Story-ku membuka mulut:

[Giant Story, 'Demon Realm’s Spring', mulai!]
Tanduk Demon King muncul…

[Giant Story, 'Torch that Swallowed the Myth', meraung!]
Unbroken Faith menjerit…

[Giant Story, 'Season of Light and Darkness', menatap dunia manusia.]
Sayap pengkhianat malaikat terbuka…

[Giant Story, 'Liberator of the Forgotten Ones', menertawakan <Star Stream>.]
Aura Chaos menyelimuti tubuhku.

Mata Anna bergetar, mencari sisa kemanusiaan di tubuhku…

Tapi, bagaimana menyebut seseorang manusia… jika kau harus mencarinya sedalam itu?

“Jadi akhirnya kau tetap begitu… Demon King of Salvation.”

Kesedihan pekat dalam suara lirihnya. Itu bukan pengakuan… melainkan tekad.

“Aku akan membunuhmu di sini.”

Status menggelegar darinya. Ia sudah menahan kekuatan sepanjang ini.

“Walau kau Constellation Myth-grade, tubuhmu rapuh. Rekanmu juga belum waras. Jadi aku—”

Jung Heewon, Lee Hyunsung, Lee Gilyoung, Shin Yoosung—semua terpukul parah. Bahkan Han Sooyoung gemetar, tatapannya pertama kali… ragu padaku.

Maklum. Mereka menyaksikan sponsor-sponsor mereka dicabik tepat di depan mata.

“Akhiri di sini.”

Dalam sekejap, lusinan Zarathustra menyerbu Yoo Joonghyuk.

Anna menerjangku—pisau menembus udara ke leherku.

Aku menatap ujung pisau itu, lalu membuka mulut.

[Cukup sudah, Loki.]

Gerakannya berhenti.

Kuperlambat gerakan pisaunya, menepiskannya ringan.

Wajahnya pucat.

“A-apa maksud—”

[Constellation yang suka ganti gender tertawa kecil.]

“Loki! Ini bukan u—!”

Status besar menimpa Anna dan Zarathustra. Constellation terakhir <Asgard> berdiri—Loki.

Tak satu pun Zarathustra bisa melawan. Karena dialah yang membebaskan mereka dari kendali <Asgard>.

“Tapi aku melakukan ini demi manu—!”

Itulah kata terakhir Anna sebelum pingsan. Ark core jatuh. Aku mengambilnya.

[Benar-benar pertunjukan seru, Demon King of Salvation.]

Kuangkat kepala. Seseorang berdiri—rambut hijau, senyum nakal.

[Constellation, 'One Who Changes His Existence', menatapmu.]

Loki. Pembelot <Asgard>, penolong kami berkali-kali.

“Terima kasih.”

[Aku tak bisa biarkan dunia berakhir sebelum aku melihat akhirnya. Dan juga… tak ada yang tersisa di sini untuk kau takut-takuti. Turunkan penampilan menakutkanmu.]

Kupadamkan tanduk dan sayap.

“Sekarang giliranmu. Tunjukkan wujud aslimu.”

[…Apa maksudmu?]

“Kita sudah sepakat berhenti berpura-pura, bukan?”

Yoo Joonghyuk berkata lirih, – Kim Dokja. – Kau benar.

Aku menatap Loki.

Jika benar… laki-laki ini bukan Constellation.

[Constellation, 'One Who Changes His Existence', membuka identitas aslinya!]

Cahaya meledak. Tubuhnya menyusut, wajah mengerut, dan dua tonjolan besar tumbuh seperti telinga—

⸢Makhluk yang dapat mengeksploitasi bug <Star Stream>. Musuh semua Dokkaebi. Pendiri ‘Seekers of Apocalypse’.⸥

Aku pernah melihatnya—di Tongtian.

Ia menyeringai.

[Benar. Bukan hanya kalian yang memimpikan akhir <Star Stream>.]

“…Wenny King.”

Yoo Joonghyuk tak ragu mencabut pedang.

[Aku tak berniat bertarung.]

Wenny King tertawa, melambaikan tangan.

[Aku hanya ingin melihat apa di balik Final Wall. Itu saja. Dan juga…]

Go-ooooooh!

[Aku rasa ada hal yang lebih mendesak.]

Aku berbalik—

Dan seseorang menarik kerahku. Lee Jihye, mata merah.

“…Ahjussi. Semua ini… rencana juga, ya?”

Aroma asin lautan yang dulu mengikutinya… hilang.

“Kim Dokja!”

Ia mengguncangku sambil menangis. Tak ada yang menghentikannya.

⸢Dan Kim Dokja memahami mereka.⸥

Semua kemarahan itu, bebanku.

⸢Namun ada seseorang yang tak setuju.⸥

“Lee Jihye.”

⸢Han Sooyoung.⸥

“Lepaskan aku!”

Jihye meronta. Tapi Sooyoung tak melepas. Ia menyeka air mata Jihye, suara dingin tapi penuh hangat:

“Black Flame Dragon, Uriel, Maritime War God—mereka belum mati.”

“Bagaimana kau tahu?!”

“Aku bisa merasakannya. Samar. Tapi ada. Dan…”

Nada tegas, penuh kepedulian—hanya Han Sooyoung yang bisa bicara begitu.

“Hapus air matamu dan lihat baik-baik. Lihat keadaan bajingan yang kau cekik.”

Jihye memandangku—lalu membeku.

“…Kenapa… ahjussi menangis juga?”

Tanganku gemetar; kerahku dilepaskan. Han Sooyoung memanfaatkan celah—dan meninjuku.

“Sadarlah, bodoh! Sekarang, jelaskan semuanya! Kau pasti punya rencana, kan?!”

Jika tidak… ia akan membunuhku. Benar-benar.

“Ada cara menyelamatkan Sponsor kita, kan?! Katakan!”

⸢Tidak ada.⸥

Cahaya Constellation mati, tapi ada yang masih berkelip samar.

⸢Kim Dokja membenci Constellation.⸥

“…Benar. Aku…”

⸢Namun skenario ini mengubah Kim Dokja.⸥

Aku menatap [Final Wall].

Dinding yang mencatat ‘One Single Story’.

“Tapi mungkin sudah terlambat.”

Semua tragedi untuk dicatat di sana.

Atau—semua terjadi karena sudah tertulis.

“Tapi… mungkin masih bisa.”

Tak mungkin membalik kematian. Tak mungkin mengembalikan dunia yang telah hancur.

Probability takkan mengizinkannya.

⸢Tapi bagaimana jika ada dinding yang bisa mewujudkan ‘lingkaran bersisi empat’?⸥

Kuihimpit ark core.

[Main Scenario #99 – ‘Enemy of the Story’ clear!]
[Perhitungan reward dimulai.]
[Tidak ada Great Dokkaebi… perhitungan tertunda…]

[Kau mendapatkan kualifikasi bertemu ‘King of Stories’.]

Dinding cahaya membuka rahangnya.

Ch 505: Ep. 97 - The star that can't be seen, II

[<Star Stream> ingin menamai Story terakhirmu.]
[Kau kini diberi pilihan untuk Final Story.]
[Epos Nebula <Kim Dokja’s Company> menjadi kandidat akhir untuk ‘One Single Story’!]
[Bintang-bintang yang akan lahir di <Star Stream> akan memuliakan Story-mu!]

Sambil membaca deretan pesan itu, kami menilai kondisi kami sekarang. Meski semua masih terlihat terguncang, kami tidak bisa berhenti di sini. Suara Gong Pildu tiba-tiba terdengar.

“…Apakah main scenario akan berakhir di sini?”

Berbeda dari biasanya, setelah main scenario selesai, tak ada skenario baru yang keluar. Yang terdengar justru sebuah pesan sistem.

[Main scenario system <Star Stream> memasuki tahap penutupan.]

Pesan yang tidak pernah kami dengar sebelumnya.

Tirai akhirnya turun untuk dunia luas penuh skenario ini. Kami hanya bisa mematung, tak tahu harus berkata apa.

“Kalau semua ini berakhir… apa yang terjadi pada dunia?”

Gong Pildu menatap Wall dengan tatapan kosong. Deretan teks yang bermunculan di sana, seakan merasakan tatapannya, muncul lalu menyebar lagi. Beberapa di antara teks itu bahkan tentang dirinya.

⸢Pria yang kehilangan keluarganya di awal skenario.⸥

Ia tampak benar-benar letih. Atau mungkin… aku hanya merasa begitu karena melihat mata yang perlahan memerah. Aku ragu sejenak, lalu bicara.

“Masih ada satu keberadaan yang tersisa. Yang mengendalikan seluruh skenario.”

“Bajingan itu… harus dibunuh juga?”

“Jika kau terlalu lelah, kau boleh tinggal di sini.”

“Setelah sejauh ini?” Amarah liar menyala di wajahnya. “Aku tidak akan pernah memaafkan bajingan itu. Mengoyaknya sampai hancur berkeping-keping pun belum cukup.”

Tatapannya menusukku seperti panah. Dan di balik tubuhnya… kulihat bayangan Stories dari manusia biasa yang mati sepanjang scenario ini.

⸢Dan semua Story itu seakan menyalahkan Kim Dokja.⸥

“Dia mengambil keluargaku, tanahku… aku harus…!!”

Gong Pildu terbatuk keras, lalu roboh. Busa darah menyembur dari mulutnya. Lee Seolhwa buru-buru menopangnya.

“…Kerusakan pada Incarnation Body-nya parah.”

Saat pertempuran di kabin, ia bertarung keras bersama Lee Hyunsung untuk melindungi kami. [Armed Fortress]-nya rusak parah. Status Defense Master—hampir tak terasa lagi. Sepertinya inilah batasnya.

“Aku akan membawanya. Dia punya hak untuk melihat akhir ini.”

“Mohon jaga dia.”

Lee Seolhwa mengaktifkan skill uniknya, [Stretcher], menidurkan Gong Pildu dalam jaring sihir.

Sementara itu, Lee Jihye dan Jung Heewon berdiri lagi.

“Ayo, Dokja-ssi. Apa pun yang terjadi… kita setidaknya harus melihat akhirnya.”

Aku merasa malu karena justru Jung Heewon yang harus mengucapkan itu—padahal ia mungkin yang paling berhak membenciku.

Ia menepuk bahuku pelan.

“Jangan berpikir yang aneh-aneh. Sponsor-ku sudah bilang, kan? Kita hanya melihat cerita sampai titik itu.”

“…”

“Itu berarti, tak ada yang tahu apa yang terjadi setelahnya.”

Nada tegas, dingin, namun kuat. Lee Hyunsung menggendong Gilyoung dan mengangguk.

“Heewon-ssi benar.”

Shin Yoosung dan Lee Jihye juga berdiri tegap.

⸢Meskipun begitu banyak terjadi… para rekan masih percaya pada Kim Dokja.⸥

Bisakah mereka mendengar kalimat itu juga?

Apakah aku pantas membacanya?

Tsu-chuchuchu—!

[Apakah kau akan memasuki bagian dalam ‘Final Wall’?]

Pesan baru muncul.

Percikan Probability menari di atas Wall. Huruf-huruf mundur, membuka sebuah celah—cukup lebar untuk kami masuk.

Han Sooyoung bertanya, curiga.

“…Kau punya rencana untuk setelah ini?”

Kabut abu-abu memenuhi pintu masuk. Aku mengenal kabut itu.

⸢Akhirnya, Yoo Joonghyuk yang telah kehilangan segalanya menatap ke balik kabut.⸥

Ini jalan yang pernah dilalui Yoo Joonghyuk regresi ke-1863.

“…Kau bilang, bagian ini tidak ditulis di ‘Ways of Survival’.”

Aku mengangguk.

Yang tersisa hanyalah maju. Tapi ada satu masalah terakhir.

“…Silakan. ‘Zarathustra’ tak bisa lanjut. Kami tak punya kualifikasi.”

Tidak seperti Anna Croft, para Zarathustra tidak memiliki banyak Story yang terhubung dengan <Kim Dokja’s Company>. Mereka mundur dan membuka jalan, menatapku penuh penyesalan.

[Incarnation ‘Selena Kim’ menerima ■■.]
[■■ Selena Kim adalah ‘Mimpi yang Tak Terjangkau’.]

– Kumohon… jaga Anna.

Aku mengangguk dalam-dalam.

Langkah rekan-rekanku terdengar di belakang. Mereka kini seperti satu konstelasi—bintang tanpa cahaya yang sama, namun berjalan bersama.

“Ayo.”

⸢Bahkan setelah semua ini… semua tetap ingin melihat akhir.⸥

Saat itu, sebuah bayangan muncul dari kabut. Rambut pirang Anna Croft berkibar. Namun yang ada di dalam tubuhnya bukan dia.

Yoo Joonghyuk menggenggam erat [Black Heavenly Demon Sword].

“Kau mau percaya Wenny King?”

Sejak tadi ia tak berhenti mengeluarkan killing intent pada makhluk itu.

Aku juga tidak menyukai Wenny. Mereka mencoba menculik Biyoo. Mengkhianatiku di Demon Realm.

“Aku tidak percaya dia. Hanya aliansi sementara. Kami pernah membuat kesepakatan.”

“Kesepakatan?”

Aku tidak sempat menjelaskan—karena sosok itu bicara lewat mulut Anna.

[Kau benar-benar tidak percaya padaku, ya, regressor.]

Melihat Anna bicara dengan suara Wenny King… rasanya seperti kombinasi terburuk yang mungkin.

Yoo Joonghyuk melepaskan energi pedangnya—siap membunuh kapan saja.

[Kudengar kau memotong kumpulan anak-anakku.]

“Kalau begitu kau juga ingin punyamu dipotong?”

Wenny King tergelak.

“Apa yang lucu?”

[Aku suka sikap dinginmu ini. Di Demon Realm, di Murim… kau membuat hari-hariku yang membosankan jadi menyenangkan.]

“Ucap satu kata lagi, kupotong semua milikmu.”

“Oiii, Yoo Joonghyuk.”

Aku buru-buru menahan. Ini bukan saatnya bertarung dengan Wenny.

Mungkin pikirannya kusut karena akhir semakin dekat.

Wenny King menatapku dan Yoo Joonghyuk.

[Kalian terlihat seperti teman baik.]

Tatapan Yoo Joonghyuk tajam—tapi Wenny King melanjutkan.

[Aku juga punya seseorang seperti itu dulu. Dia mencintai Story—seperti Demon King of Salvation.]

“Tidak tertarik dengar melodramamu.”

[Kami menjalani scenario bersama. Hampir mati ribuan kali. Melawan eksistensi absolut. Mengumpulkan Story, membangun Giant Story, lalu epos. Dan akhirnya… sampai ke Final Wall.]

…Ia sudah pernah ke sini?

Info ini tak ada di ‘Ways of Survival’.

[Kau tidak tahu. Kisah itu bahkan tak tersisa sebagai Story. Mungkin Apocalypse Dragon yang gila itu masih ingat samar-samar.]

“…Jadi saat itu sudah ada <Star Stream>?”

[Namanya beda. Nama <Star Stream> muncul setelah akhir dunia saat itu.]

Ia pernah melihat akhir.

Apa ■■ mereka waktu itu? Apa yang terjadi hingga ia jadi Wenny King?

[Dan sekarang dialah yang disebut ‘King of Stories’.]

Suara runtuhan terdengar dari balik kabut.

[Aku ingin lihat akhir kalian. Siapa yang menang kali ini…]

Tsu-chuchuchut—!

Kabut bergetar.

[Waktunya bertemu teman lamaku.]

Ia menghilang—suaranya tersisa.

[Bergeraklah cepat. Atau kalian dimakan.]

…Dimakan?

“Ahjussi!!”

Lee Jihye tiba-tiba terseret ke lantai. Tangan-tangan muncul dari dinding, menarik tubuh kami.

“Jihye-yah!!”

[Karakter ‘Lee Jihye’ menjadi bagian dari great story.]

Jung Heewon mencoba meraih Jihye—tapi dinding juga menelannya.

[Karakter ‘Jung Heewon’ menjadi bagian dari great story.]

“Heewon-ssi!”

Lee Hyunsung berlari—namun ikut terseret.

Ini tidak terjadi di novel. Ini jalan yang hanya Yoo Joonghyuk tempuh sebelumnya.

“Semua, kumpul padaku!”

Terlambat. Satu per satu ditelan.

[Karakter ‘Shin Yoosung’ menjadi bagian dari great story.]
[Karakter ‘Yoo Sangah’ menjadi bagian dari great story.]

“Han Sooyoung! Yoo Joonghyuk!”

Yoo Joonghyuk sudah hampir tenggelam.

“Menjauhlah!”

Angin pedangnya mendorongku—menyelamatkanku.

[Karakter ‘Yoo Joonghyuk’ menjadi bagian dari great story.]

Tinggal Han Sooyoung. Tangannya sudah ditelan setengah.

“Ayo…!”

Aku menariknya sekuat tenaga, Way of the Wind melesat di kakiku.

['Final Wall' menginginkan epos-mu!]
['Final Wall' menatap sosok yang belum masuk ceritanya!]

Han Sooyoung menggigil keras.

⸢Satu-satunya selain dirinya yang bukan ‘Character’ adalah Han Sooyoung.⸥

Aku berlari tanpa arah—langit, tanah, samping—semua kabur.

Buk.

Tanah hilang. Kami jatuh ke kekosongan. Kabut menjerat kami.

⸢Kim Dokja takut pada Story yang tidak ia ketahui.⸥

Huruf-huruf mengimpit—mencekik. Story raksasa menghancurkan identitasku.

Aku meronta—ketakutan semakin dalam.

Huruf-huruf jatuh dari jariku. Aku menghilang.

Saat itu—

⸢Story yang membentukmu ada pada apa yang kau lihat, alami, dan rasakan.⸥

Kalimat itu menempel di jariku. Teknik Yoo Hoseung—Story control.

⸢Biarkan mereka tahu kalau kau juga melihat mereka.⸥

Aku menggenggam kalimat itu.

⸢Kim Dokja menarik napas dengan tenang.⸥

Aku berhenti melawan.

Story menganga ingin menelan—aku menatap balik.

⸢Jika aku tak melihat mereka, mereka takkan ada.⸥

Mereka adalah Story. Bukan dewa.

Tsu-chuchuchu—!

Aku menatap huruf-huruf itu sampai mereka pecah seperti kabut—lalu menyatu kembali.

⸢Agar tidak dimakan Story, seseorang harus menjadi ‘dokja’—pembaca.⸥

Kalimat-kalimat mulai mengitari kakiku, jadi pijakan.

⸢Mencintai Story, tapi tidak larut di dalamnya.⸥
⸢Baru saat itu Story bisa menjadi senjatamu melawan ketiadaan.⸥

Aku berhenti jatuh. Berdiri di atas teks.

⸢"Aku Dokja."⸥

⸢Dulu aku memperkenalkan diriku begitu, dan orang-orang salah paham.⸥

Kalimat-kalimat itu bukan dari ‘Ways of Survival’. Tapi… aku mengenalnya.

Aku berjalan di atas mereka. Beberapa adalah kenangan, beberapa buram, beberapa milikku.

⸢Saat kecil, Kim Dokja mulai berpikir sesuatu.⸥

Anak kecil menulis catatan—rencana menaklukkan WoS. Peta item. Strategi.

⸢Apa-apaan ini? Seharusnya aku lakukan begini.⸥
⸢Ampul lab itu kunci dungeon teater, dan…⸥
⸢Wajib mengambil Ganpyeongui di sini, lebih penting daripada Four Yin Demonic Beheading Sword.⸥

Semakin aku melangkah… makin familiar rasanya.

⸢Tak ada pilihan selain membunuh semua Constellation.⸥
⸢Untuk kuat tanpa regresi…⸥
⸢Giant Story pertama harus didapat di Demon Realm.⸥

Kalimat itu menerangi jalan.

⸢Untuk menyelamatkan semua orang…⸥

Mungkin jalan ini dimulai jauh sebelum pikiranku menyadarinya.

Tuk.

Kalimat berhenti.

Pintu putih kecil menanti.

Pintu yang pernah dibuka Yoo Joonghyuk regresi ke-1863.

⸢[Epilogue] dari semua cerita yang belum ia baca ada di balik pintu.⸥

Tanganku menyentuh gagang.

⸢Hanya untuk memutar gagang ini…⸥

Seluruh perjalanan melintas di kepala: skenario pertama; langkah Yoo Joonghyuk.

Pertanyaan lama muncul kembali:

⸢Epilog seperti apa yang ingin ditulis tls123 untuk ‘Ways of Survival’?⸥

Tanganku bergerak—lalu aku menoleh.

Di belakang, jalan dari Story terbentang—terasa asing dari kejauhan.

⸢Aku menatap jalan itu lama sekali.⸥

Lalu—kutarik pintunya.

Ch 506: Ep. 97 - The star that can't be seen, III

⸢Alam semesta pada awalnya adalah ‘satu’.⸥

Saat kesadaranku kembali, kalimat itu mengapung di hadapan mataku. Aku tidak yakin apakah itu hanya sekadar baris teks, atau kenangan sesuatu yang sedang mengambil alih kalimat tersebut.

⸢Yang ‘satu’ itu sungguh mahatahu dan mahakuasa di dunia ini. Sebab ‘satu’ itu adalah alam semesta itu sendiri, dan alam semesta adalah ‘satu’. ‘Satu’ itu sempurna. Dan ia sepenuhnya sendirian.⸥

Segera setelah itu, ledakan cahaya menyilaukan meletus.

⸢Dan begitulah ‘satu’ menjadi ‘dua’.⸥

Itu adalah ledakan pertama. Manusia kelak menyebutnya Big Bang.

⸢‘Satu’ tidak lagi mahakuasa setelah itu.⸥

Pusing yang luar biasa menyerangku, dan aku jatuh bertumpu pada kedua lutut dan tangan.

Ini adalah dalam pintu, bagian terdalam dari ‘Final Wall’. Dinding itu tak lagi mencoba menyedotku. Mungkin… aku sudah tersedot sepenuhnya.

Aku menoleh, melihat Han Sooyoung tergeletak. Aku memanggul tubuhnya yang pingsan, lalu berdiri. Saat menoleh lagi, Anna Croft berdiri di sana.

[…Sepertinya kau sudah melihat First Story.]

Wenny King yang menempati tubuhnya tersenyum ke arahku.

[Aku juga membuat wajah yang persis sama saat pertama kali melihatnya.]

Aku tidak membalas. Tak ada waktu membuang nafas dengannya. Di mana para rekanku?

Mungkin dia membaca kegelisahanku, karena ia kembali bicara.

[Bukankah kau penasaran? Kenapa hal bernama ‘Story’ ada di dunia ini?]

“…Aku tidak datang untuk mendiskusikan hal itu denganmu.”

[Tapi kau tak bisa melangkah lebih jauh tanpa membahasnya dulu. Aku juga begitu dulu.]

Aku mendengar napas Han Sooyoung di punggungku. Napasnya perlahan menjadi sebuah Story, terbentang di hadapanku. Dunia terdistorsi, membentuk lorong dengan rak-rak pameran.

⸢Alam semesta menjadi ‘dua’, dan ‘satu’ itu menjadi kesepian.⸥

⸢Hal-hal yang tak dibutuhkan saat masih ‘satu’ mulai tercipta.⸥

Di atas rak, sosok seperti figurine saling bertarung. Sejarah ‘scenario’ yang dimulai di berbagai planet, termasuk Bumi, dipajang di sana.

⸢‘Baik dan Jahat’ diciptakan untuk membedakan keduanya.⸥

Agares dan Metatron bertarung pahit. ‘Great War of Saints and Demons’. Malaikat dan iblis bertarung, darah Story menetes, tak pernah menyerah pada ideal mereka.

⸢‘Komunikasi’ diciptakan untuk menenangkan kesepian keduanya.⸥

Warga bertarung melawan iblis di dalam [Industrial Complex]. Jang Hayoung terlihat berusaha menghentikan pertarungan itu.

⸢Dan ‘Samsara’, keinginan untuk kembali menjadi ‘satu’, pun diciptakan.⸥

Sakyamuni mengelus tubuh seorang Incarnation Body, terperangkap dalam tabung air. Itu tubuh Tang Sanzang yang dulu dicintainya, kini telah mati.

⸢Namun, ‘dua’ takkan pernah bisa kembali menjadi ‘satu’.⸥

Semua Story yang kubaca diperlihatkan di sini.

Pertarungan-pertarungan itu berulang dengan akhir yang telah ditetapkan.

Tubuh Han Sooyoung di belakangku gemetar. Sepertinya ia mulai sadar.

⸢‘Dua’ membutuhkan sesuatu untuk menghubungkan keduanya. Sebuah keberadaan yang hidup melalui semua Story, mewakili baik dan jahat, komunikasi, dan Samsara mereka.⸥

Kakiku terhenti.

⸢‘Character’.⸥

Aku tak bisa hanya menatap lagi.

Wenny King di sebelahku terkekeh pelan, lalu menghilang ke bayanganku.

Jumlah wajah di rak meningkat. Sebagian seperti patung setengah jadi, sebagian seolah terjebak dalam dinding dengan wajah mencuat.

“…Jihye!! Yoosung-ah!!”

Aku mengenali wajah-wajah itu.

Aku berusaha keras menarik mereka keluar, tapi semakin kutarik, semakin dalam mereka tenggelam.

Aku berlari sepanjang rak. Lee Seolhwa, Gong Pildu, Lee Gilyoung, Yoo Sangah… semua anggota <Kim Dokja’s Company> ada di sana. Dan juga…

“…Yoo Joonghyuk.”

Sosoknya terikat rantai kuningan, mata tertutup, tak bergerak.

Dan di bawahnya—siluet samar.

⸢Itulah ‘King of the Stories’.⸥

Kabut menutupi wajahnya. Aku melangkah mendekat.

[Engkau telah menemui ‘King of the Stories’!]

[Akhir dari main scenario telah tiba!]

Dalam Ways of Survival, info tentang Dokkaebi King jarang sekali. Tapi aku tahu ada yang pernah menemuinya.

⸢Namun tak satu pun dari mereka menggambarkan seperti apa wajahnya.⸥

Di akhir kabut itu, ia menunggu.

[‘King of the Stories’ tersenyum padamu.]

Lalu—

['The Fourth Wall' bergetar hebat!]

Aku tidak percaya pandanganku.

⸢Ini adalah kenangan yang sangat lama.⸥

Pusing menghantam kepalaku.

⸢Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.⸥

[Akhirnya kita bertemu, rasul dari ■■… tidak, tunggu.]

Percikan cahaya menghapus filter itu.

[Ah, ‘rasul dari keabadian dan epilog’.]

⸢Kim Dokja mengaum seperti guntur dan menyerbu.⸥

Aku mencengkeram kerahnya. Ingin menghancurkannya saat itu juga—tapi tanganku membeku.

⸢Pria itu tinggi. Selalu melihat putranya dari atas.⸥

Dia… tak mungkin.

⸢Wajah memerah karena mabuk. Bau alkohol. Mata sang anak selalu menunduk, berharap tak pernah bertemu tatap.⸥

[Dokja-yah. Kim Dokja.]

⸢Jika tatap bertemu, dunia jadi mimpi buruk.⸥

[Aku benar-benar memberimu nama yang bagus, ya?]

TSU-CHUCHUCHUCHUT!!

Aku menghantamkan tinju.

⸢Yang dulu tampak begitu tinggi, kini tingginya setara.⸥

Waktu melambat.

⸢Urat yang mencuat hanya membuatnya terlihat kurus.⸥

TSU-CHUT!!

⸢Sang anak yakin bisa menang sekarang. Ia bukan anak lemah lagi.⸥

Tinju itu berhenti tepat di depan hidungnya.

Cahaya menyala, memperlihatkan wajah sang Dokkaebi King. Mata biru elektrik. Senyum iblis.

[Apa yang kau lakukan pada ayahmu sendiri?]

Aku meraung. [The Fourth Wall] retak.

“Kim Dokja! Sadarlah!!”

Sebuah suara. Hangat di punggungku. Story Han Sooyoung menahanku.

⸢Ini adalah Story sang dokja/pembaca.⸥

Story yang melindungiku.

“The Fourth Wall! Bangun sekarang!!”

['The Fourth Wall' pulih kuat!]
['The Fourth Wall' menebal seperti benteng tak tertembus!]

Ekspresi Dokkaebi King berubah.

[Melawanku, ya?]

Kini ia menatap sesuatu di dalam diriku.

[Fragmen terakhir dari Final Wall. Tugasmu sudah selesai.]

['The Fourth Wall' meraung garang!]

[Kau telah tiba di akhir seluruh cerita. Bersama penerus yang memenuhi syarat.]

[The Fourth Wall berbicara dari dalam diriku.]

⸢It u ter se rah pa da Kim Dok ja⸥

Kesadaranku kembali.

⸢Makhluk ini bukan ayahku.⸥

Kenangan ibu muncul, jadi Story, terserap Wall, lalu berbicara padaku.

⸢Dia mati hari itu.⸥

“…Kau bukan ayahku.”

[Bagaimana kau yakin?]

“Hentikan leluconmu. Secara Probability, mustahil kau adalah dia.”

[Probability ya? Hahaha. Baiklah. Kupikir wajah ini paling ‘masuk akal’ untuk saat ini.]

Ia tersenyum dan wajahnya berubah.

[Kalau begitu yang ini?]

Ibuku.

[Lalu yang ini?]

Persephone. Hades.

Aku menghantam lagi—dan terpental oleh kilatan kuat.

“Tunjukkan wajah itu lagi, kubunuh kau.”

[Fufu. Baik, baik. Prank-ku keterlaluan.]

“Perlihatkan wujud aslimu.”

[Aku… tidak ingat lagi. Sudah terlalu lama aku hidup sebagai banyak bentuk.]

Ia tetap memakai wajah Hades. Di belakangnya, Story mengalir.

⸢Pada hari itu, iblis tertua naik dalam keagungan.⸥
[Aku pernah jadi raja Demon Realm.]

⸢Semua Archangel <Eden> memujanya.⸥
[Aku juga pernah jadi mesias mereka.]

Keringat dingin turun. Story itu—aku pernah mendengar semuanya.

Demon King kuno. Mesias Eden. Jejak pendiri nebula kuno. <Emperor>’s Pangu. <Olympus>’s Cronus.

⸢Keberadaan tertua di dunia ini.⸥

Aku menggenggam Unbroken Faith lebih kuat.

“Itu semua… ulahmu? Eden, Demon Realm, semuanya?”

Dokkaebi King menggeleng.

[Tidak. Semuanya reinkarnasi dari Story lama. Kita semua bagian dari kisah besar yang terus berulang. Kau, aku.]

Langit—bintang jatuh, dinding putih tanpa akhir. [Final Wall].

Dunia ini hanyalah cerita di atas dinding itu.

“Lepaskan rekan-rekanku.”

[Mereka alat. Untuk apa dirimu jika mereka kubebaskan?]

“…Mereka adalah segalanya bagiku.”

Dokkaebi King mendekat.

Han Sooyoung memakai [Midday Tryst].

– Kim Dokja.
– Hitungan tiga. Kita serang bersamaan. Satu, dua—

[Berhentilah berbisik. Aku bisa dengar semuanya.]

Kami membeku.

Semua teks di <Star Stream> melewati dia. Tak ada kalimat yang tak bisa ia baca.

Ia mengangkat tangannya ke arahku.

[Penerus Story. Hanya kau yang datang tepat waktu.]

“…Ha? Anak haram, apa kau tidak lihat aku juga—”

Tsu-chuchuchut!

Han Sooyoung lenyap—terjebak dalam tabung air. Ia memukul dindingnya.

[Semua main scenario telah kau selesaikan!]
[Kau akan dicatat dalam <Star Stream>.]

Statusku naik.

[Kau sudah menunjukkan Story hebat. Tapi kenapa masih berpikir seperti manusia? Kau punya fragmen tembok mulia. Mengapa tidak melihat dunia ini dari luar?]

Suaranya penuh kekaguman pada Story.

[Segalanya ini hanya mimpi sesaat dari eksistensi agung.]

Mimpi… eksistensi agung.

“[Final Wall] mencatat mimpi makhluk itu?”

[Benar.]

Aku tahu siapa itu. Dalang segalanya.

Aku teringat First Story.

⸢Alam semesta pada awalnya adalah ‘satu’.⸥

Yang pertama.

Yang meregres Yoo Joonghyuk. Yang melahirkan mitos.

“…Apakah bajingan itu tls123?”

Ch 507: Ep. 97 - The star that can't be seen, IV

[tls123?]
Ekspresi Dokkaebi King saat bergumam terlihat aneh. Percikan biru menari di bibirnya yang bergetar seolah ia sedang lagging.

Aku mengubah pertanyaanku.

“Aku bertanya apakah orang itu adalah author dunia ini.”

Dokkaebi King memiringkan kepala sebelum menjawab.

[Rather than an author, you could say that the ‘Oldest Dream’ is much closer to being a reader. It's not an existence that writes stories for someone else. It's lazy and can be quite greedy.]

Jadi ‘Oldest Dream’ bukan ‘tls123’?
Kalau begitu, siapa yang mengirim file-file teks kepadaku? Penulis yang menuliskan novel yang kubaca selama sepuluh tahun… siapa dia sebenarnya—

[Kau terlihat sangat penasaran tentang awal dari segala sesuatu. Tapi tidak ada artinya menebaknya. Tak peduli bagaimana dunia ini terjadi, jika tidak ada yang melihatnya, maka sama saja seperti dunia ini tak pernah ada.]

Dokkaebi King menatap alam semesta <Star Stream>.

Fragmen Story berkilau mengalir mengikuti arus kosmos. Di mana pun tatapannya berhenti, fragmen-fragmen itu membentuk makna… lalu menghilang lagi.

Aku memandang Yoo Joonghyuk yang tergantung di udara, terbelenggu rantai. Kosongnya semesta <Star Stream> membentang di belakangnya.

“Ada hal yang tetap ada meski tidak dilihat.”

Gelapnya alam semesta terlalu luas. Cahaya butuh waktu untuk menempuh jarak itu. Tapi cahaya akan sampai pada akhirnya. Tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Ada cahaya yang bersinar meski tak ada siapa pun di sana untuk melihatnya.

⸢Cahaya bintang yang samar terlihat dalam kegelapan ruang angkasa.⸥

Bintang-bintang yang terbit dari kegelapan. Bintang-bintang yang belum kehilangan dirinya. Cahaya mereka menjadi Story—menjadi kalimat.

Saat kalimat-kalimat itu diturunkan pada Final Wall, pintu cerita yang tadi tertutup kembali terbuka.

⸢Abyssal Black Flame Dragon bangkit, darah hitam menetes dari seluruh tubuhnya.⸥

Begitu melihat kalimat itu, aku menahan napas. Kalimat-kalimat itu berubah jadi gambar. Abyssal Black Flame Dragon bangkit di medan perang yang hancur lebur.

Han Sooyoung benar—meski kehilangan kekuatan Apocalypse Dragon setelah ⸢Stage Transformation⸥ berakhir, ia tetaplah Black Flame Dragon.

⸢Great Sage, Heaven’s Equal yang melayang di langit dunia lain membuka mata lelahnya, dan…⸥

Great Sage masih bertarung, petir membelah langit.

⸢‘Great Good’ terakhir menembus akhir dari Good and Evil.⸥

Dan Uriel juga—menghunus [Flames of Conflagration], menerangi langit malam <Star Stream>.

[No. They do not exist if no one is there to see them.]

Kalimat itu, dan Story-nya hancur bagai abu.

Tanpa sadar aku menggapai udara kosong.

Dokkaebi King menertawakanku.

[Tak ada yang lebih sia-sia daripada sebuah cerita yang terus berjalan tanpa pembaca. Segalanya tercipta saat diamati. Begitulah alam semesta ini dibuat. Jika tak ada yang mengamati, Story tak bisa membuktikan keberadaannya.]

“…Mereka pasti ada.”

[Kau masih ingin melihatnya berlanjut?]
[<Star Stream> menunggu keputusanmu.]
[‘Final Wall’ menunggu keputusanmu.]

Seluruh dunia menungguku.

“Aku…”

Aku ragu. Han Sooyoung masih meronta di balik dinding kaca.

⸢Apa aku bisa melihat apa yang kuinginkan jika Story ini terus berjalan?⸥

Dokkaebi King terkekeh.

‘Final Wall’ bergetar liar. Kalimat-kalimat kembali bermekaran, seolah dinding itu memutar Story bagai preview gratis.

Great Sage, Black Flame Dragon, Uriel—muncul lagi.

⸢[…Hei, Flame Dragon-ah. Jangan nangis cuma gara-gara noona nggak ada di sini!]⸥
⸢[Keke. Kau cepat sekali menyerah, Archangel! Aku masih punya satu lengan yang belum kupakai…!]⸥
⸢[Tapi kelihatannya lengan itu sudah putus duluan, Black Flame Dragon.]⸥
⸢[Tubuhku baik-baik saja meski tanpa lengan, dasar monyet tolol!]⸥

Para Constellation Good, Evil, dan satu makhluk yang bukan keduanya, bertarung bahu-membahu dalam pertarungan terakhir.

Dokkaebi King menatapku.

[Story-mu benar-benar luar biasa. Bahkan Giant Story terbesar, <Star Stream>, berpihak padamu. Meski banyak bagian yang belum terisi, itu cukup jadi fondasi ‘awal’ dunia baru.]

“Aku tidak melanjutkan cerita ini untuk menjadi sesuatu seperti itu.”

Cahaya Story bersinar belakang para Constellation.

[Giant Story, ‘Torch that Swallowed the Myth’, melanjutkan kisahnya!]
[Giant Story, ‘Season of Light and Darkness’, melanjutkan kisahnya!]
[Giant Story, ‘Liberator of the Forgotten Ones’, melanjutkan kisahnya!]

Itu adalah Giant Story kami.

Story bukan milik <Kim Dokja’s Company> saja. Mereka yang menyaksikan lama-lama, akan memancarkan cahaya yang sama.

Constellation yang menonton kami kini bersinar bersama kami.

[Itulah akhir dari cerita yang kau buat.]

⸢Black Flame Dragon meraung garang saat ekornya terputus.⸥
⸢Kobaran Uriel yang patah tersebar seperti abu.⸥
⸢Great Sage mengayunkan Ruyi Jingu Bang yang patah.⸥

Cahaya di Final Wall memudar. Aku mengulurkan tangan.

Tsu-chuchuchu—!!

[Rasamu tidak cukup untuk menginterferensi Final Wall.]

Nyeri membakar ujung jariku.

“Aku punya hak untuk mengendalikan cerita itu! Aku sudah clear main scenario!”

Hadiah akhir scenario adalah [Final Wall].

Dokkaebi King tersenyum.

[Benar, kau punya hak. Tapi tidak punya otoritas. Itu melanggar Probability.]

Aku menatap kalimat yang terus tertulis dan mengerahkan true voice.

[…Hentikan cerita itu sekarang.]

Semua Story yang kukumpulkan menjerit.

Mereka belum mati. Belum terlambat. Masih bisa diubah. Kalimatnya belum selesai—

[Apakah kau ingin menyelamatkan mereka?]

Dokkaebi King bertanya.

[I was like you once.]

Dunia di belakangnya terbuka—planet lain, skenario lain.

[Tragedi yang tak bisa ditanggung satu makhluk pun—dan saat tragedi itu tak lagi terasa tragedi bagiku… aku sampai ke sini.]

Dinding raksasa pecah dan Story menghujani kepalaku.

TSU-CHUCHUCHUCHUT!!

Pikiran retak. Dunia menindihku.

['The Fourth Wall' melawan!]
['The Fourth Wall' melindungi pikiranmu!]

[Kenapa banyak hal buruk terjadi padamu?]

Kesedihan memudar, jadi abu. Emosi melebur jadi lumpur tak bernama.

⸢Begitu banyak kemalangan di dunia. Haruskah kau bersedih untuk semuanya?⸥

[Kaulah yang bertanya siapa author dunia ini. Kau bisa jadi dia.]

[Jika kau ingin menyelamatkan mereka, kau harus mengakui bahwa semua yang kau cintai tidak berarti apa-apa… hanya ilusi yang mudah diubah.]

Probability bergeser.

[Menjadi arsitek dunia baru.]

Godaan besar. Aku bisa menyelamatkan semuanya.

Dengan harga satu hal:

⸢Melepaskan cintamu pada cerita itu.⸥

Seseorang menggenggam tanganku.

Tangan penuh darah. Tangan yang sudah lama menulis.

“…Bangunlah, ya? Kau bukan penulis.”

Han Sooyoung. Ia menggigit perban, membungkus tinjunya.

“Kau pembaca. Pembaca pertama dari novelku.”

Story meledak darinya.

[Story, ‘Predictive Plagiarism’, mulai!]

Tsu-chuchu-!

Kalimat di Final Wall berguncang.

[Incarnation ‘Han Sooyoung’ mengaktifkan atributnya!]

“Biarpun tragedi banyak, hal sedih tetap sedih, tolol!”

Ia menghantam lantai—Story jatuh!

Mata Dokkaebi King melebar.

[…Berani-beraninya kau—!]

Ia tak sempat selesai.

Karena satu tangan menembus celah Wall.

Tangan putih. Milik seseorang paling murni yang kukenal.

“Benar. Kesedihan tetap kesedihan. Sama seperti kebahagiaan tetap kebahagiaan.”

[‘Wall that Decides Samsara’ mendistorsi celah Final Wall.]

Yoo Sangah muncul, tersenyum lembut. Shin Yoosung dan Lee Gilyoung memegangnya.

“Ahjussi!”
“Hyung!”

Celah membesar—suara familiar terdengar.

[‘Wall of Impossible Communication’ meningkatkan volume suara tak terdengar.]

“De-mon-King-of-Sal-va-tion!!”

Jang Hayoung.

Retakan lain—Kyrgios muncul.

“Kau manusia menyedihkan. Ditelan Story saja begitu?”

Dinding retak, lubang terbuka.

[‘Wall that Decides Good and Evil’ mengatur ulang batas!]

“Dokja-ssi! Kami mencarimu!”

Lee Hyunsung. Jung Heewon.

Retak menutup. Story mengalir lagi di atas Wall.

Mereka memandang Wall.

Di sana—Constellation masih bertarung.

Uriel jatuh. Black Flame Dragon runtuh. Great Sage bertahan sendirian.

⸢[Berdirilah. Cerita maknae belum selesai.]⸥

Kalimat terus mengalir.

Mereka akan mati. Semua dari mereka.

Aku mengulurkan tangan—nyeri merobek jiwa.

⸢Ber hen ti⸥

['The Fourth Wall' berbicara.]

⸢Ber hen ti kan ce ri ta it u⸥

Rekanku berlari ke Wall.

[Semua Story <Kim Dokja’s Company> menolak dicatat di Final Wall!]

Dokkaebi King bergumam.

[…Jadi kalian masih ingin melanjutkan skenario.]

Ia menatapku. Dunia berhenti.

Dengan satu gerakan tangannya, kalimat muncul di Wall:

[Final Scenario akan di-reset!]

[Final Scenario akan—]

CRAAAAAACK—!!

Sebuah pedang menusuk kalimat itu.

Aura Chaos mengoyak teks.

Kalimat baru terbentuk.

⸢Satu-satunya makhluk yang telah melihat akhir dunia ini setelah mengembara terlalu lama.⸥


Rantai patah. Bayangan ribuan regresi menyelimuti mantel hitam.

Saat itu aku sadar. Aku salah.

⸢Ada. Seseorang yang pernah melakukannya.⸥

Makhluk yang sudah pernah membunuh Dokkaebi King.

[Story, ‘Hell of Eternity’, mulai!]

Yoo Joonghyuk.

 

Nunaaluuu Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review