Ep. 75 - A certain heart

Ch 394: Ep. 75 - A certain heart, I

“…Oh, wahai penguasa awan kelam yang agung nan mulia, Black Flame Dragon… Sialan, kenapa mantra ini panjang banget? Hei, ini beneran harus gini??”

[Constellation, ‘Abyssal Black Flame Dragon’, mengangguk.]

Han Sooyoung memaki panjang-pendek sambil menghindari tombak-tombak cahaya yang menghujani. Pu-shut! Darah menyiprat dari bahunya.

[Constellation, ‘Master of the Ark’, menyeringai.]

Api hitam yang ia lepaskan melahap Valkyrie terdekat. Yang lain terperangah, lalu berteriak serempak:

[Bunuh dia!]
[Absolute Evil tidak boleh dibiarkan hidup!]
[Hentikan dia sebelum mantranya selesai!]

Sooyoung menangkis rentetan serangan dan mendesis, “Apa kalian nggak diajarin etika? Minimal tunggu orang selesai transformasi dong?”

Valkyrie terus menyerbu tanpa henti. Biasanya sih, kelas Historical gitu doang—gampang.

Masalahnya, kali ini mereka punya skill sialan itu:

[Nebula <Eden> mengaktifkan ‘Hour of Divine Punishment’.]

Mirip dengan Hour of Judgment-nya Jung Heewon, tapi versi malaikat. Nambah damage ke ‘Evil’—dan di sini ada ratusan Valkyrie.

[Raphael, kamu makin cupu aja!]

Di kejauhan, Asmodeus ngakak keras sambil mencakar udara, ledakan divinity & energi iblis bertabrakan di langit. Raphael berdiri di atas awan.

[Berhenti bacot, atau mulutmu kututup lagi.]

[Ahaha! Tetap bawel ternyata!]

Sooyoung mendengus. Jelas—Demon King edan itu ga bakal bantu.

[Morning Star Goddess sedang mempertimbangkan ikut bertindak.]
[The One Who Faces God sedang mengerutkan kening pada aura iblis itu.]
[Demon-like Judge of Fire tampak gelisah menatap tempat lain.]

Dan masih ada tiga Constellation kelas berat ‘Good’ di sini.

[Abyssal Black Flame Dragon bilang santai aja, lanjut baca mantranya.]

“…Kegelapan paling gelap, legenda yang terlegenda, berkah Black Flame Dragon menyertai tubuh i—GAH! Ini niat nge-troll gue kan? Gue nggak mau baca beginian!”

[Abyssal Black Flame Dragon tertawa puas, bilang cukup.]

BUUUM! Aura iblis meledak dari tubuh Sooyoung. Arus kekuatan naik, kesadarannya tenggelam, semua prinsip moral & rencana rasional retak.

[Constellation ‘Abyssal Black Flame Dragon’ memulai ‘Advent of Half-God’.]

Saat ia membuka mata, ia bukan lagi Han Sooyoung.

[Pikiran Han Sooyoung tercemari aura iblis.]

“Kuk, kuk, kuk…”

Irisnya ungu gelap. Ia menyeka darah dari pipi, menjilatnya.

“Apa cuma segini? Membosankan.”

Valkyrie mundur, gemetar. Cahaya hitam menyala.

“Kalian… BERLUTUTLAH! Inilah perbedaan Status—HEY!! Jangan ngomong cringe pake mulut gue!!”

[Abyssal Black Flame Dragon bilang kalau mau lepas power asli, ya harus begitu.]

“Kalau mau ngomong, ngomong yang ker—ORAAAA! Rasakan Shadow Phoen—!!! GAH, JANGAN YANG KAYAK GITU!!”

Lantai memekik saat bayangan raksasa muncul—membentuk siluet naga. Seperti di Peace Land dan Dark Castle—Shadow of a Constellation.

Dalam sekejap ia sudah menunggang naga hitam puluhan meter tinggi.

[Abyssal Black Flame Dragon meraung!]

Naga itu terbang, bayangannya menutup langit—dan napas hitam menelan bumi.

Kuwaaaaaahh!!

Ledakan, shockwave, tanah koyak, Valkyrie jadi debu.

Buff <Eden>? Tidak berguna.

[U-uwaaaah!!]

Master of the Ark gemetar, trauma—wajar. Bagi <Eden>, sosok naga ini adalah mimpi buruk kiamat.

Ini kekuatan asli Abyssal Black Flame Dragon.

Sooyoung terengah, separuh karena sakit Probability, separuh karena… kesenangan.

“Hahaha! MATI! MATI! MATI—USTADH HENTIKAN MULUT INI!!”

[Pikiranmu makin tercemar.]

Jika terlalu lama = jadi seperti Kim Namwoon. No thanks.

Naga menyapu setengah battlefield… lalu—

[Demon-like Judge of Fire mengungkap Status!]

WOOOOSHHH—!!

Api putih memotong gelap. Flames of Retribution—Api neraka murni milik Uriel.

[Abyssal Black Flame Dragon berkata sudah lama ingin duel.]
[Uriel menegang.]

Pertemuan True Dragon vs Archangel. Percikan biru beterbangan, Valkyrie muntah darah.

[Oldest Good menikmati konflik ini.]
[Oldest Evil menikmati konflik ini.]

Di tengahnya, Sooyoung… hampir ke-gosong-an.

“Kuk kuk kuk, MATI KAU MALAIK— HENTI STOP! BODOH! Ini bukan waktunya!!”

[Abyssal Black Flame Dragon bertanya kenapa.]

“Karena kalo kita ribut beneran, tamat! GAME OVER!”

Sooyoung teriak ke Uriel, “Hei yang bersayap! Kamu juga sadar kan? Mau bunuh aku beneran?!”

[Uriel terlihat panik.]
[Uriel makin bingung.]

“Gue tau kamu ga mau! Jadi tolong! Tolong yakinin temen-temenmu juga!”

Uriel makin limbung. Tapi Hellfire tetap meluncur—meski lemah. Sooyoung maksa tahan.

Kenapa Uriel datang? Karena…

[Predictive Plagiarism mulai bercerita.]

「 Uriel tahu ini jebakan untuk membantai <Kim Dokja’s Company>. Itu sebabnya dia turun langsung. 」

Sayangnya sponsor Sooyoung —naga bocah edan itu.

Sooyoung keluarkan kartu terakhir.

“Apa kata Kim Dokja kalo aku mati di sini, hah?”

Bahunya Uriel bergetar.

“Yakin bisa tatap wajahnya tanpa rasa bersalah?!”

[Kau dan sponsor-mu adalah ‘Evil’.]

“YANG NENTUIN ITU SIAPA COBA?! KALIAN SENDIRI KAN?!”

Api menyambar sayap naga. Sooyoung limbung—tapi bertahan.

[Demon King of Salvation memperhatikan.]

Bulu kuduk Sooyoung berdiri.

[Demon King of Salvation sedang menatap ‘Demon-like Judge of Fire’.]

“…Kim Dokja, dasar monster. Masih sempet-sempetnya ngeliatin sini?”

Kim Dokja tak berkata apa pun—cukup menatap.

Uriel berhenti.

[Uriel berhenti bergerak.]
[Uriel bingung.]

Hatinya retak dua:

Save Kim Dokja’s Company
vs
Menang sebagai <Eden>

Stories-nya saling bertabrakan.

Lalu para malaikat lain tak tahan—

[Morning Star Goddess mengungkap Status!]
[The One Who Faces God mengungkap Status!]

Sooyoung memuntahkan darah, tubuhnya mati rasa. Efek Advent menelan tubuhnya.

Camael maju.

“Kita akhiri saja.”
[Kupikir Black Flame Dragon lebih hebat. Ternyata cuma segini?]

Vakarine menyalakan staf kristal—starlight menghujani. Bayangan naga terkikis.

[Abyssal Black Flame Dragon mengamuk!]

Nafas hitam menghantam; Vakarine mundur panik. Camael menebas gelap.

Sooyoung nekat baca jurus cringe lagi, “Kegelapan paling gelap! Legenda para legenda! Api Merah—”

Ledakan! Camael & Vakarine buyar.

“URIEL! SADAR DONG!”

Dan Uriel… bergerak.

[Uriel mengungkapkan wujud asli.]

Cahaya menelan dunia.

Sayap menyebar. Mahkota merah darah berkilat. Mata zamrud menembus langit.

Archangel of Fire. Pembantai iblis. Penghukum raja-raja neraka.

Sooyoung sadar—mati. Dia bakal mati.

“Maaf, Kim Dokja.”

Flames of Retribution naik—akhir menyapa.

[Predictive Plagiarism tak bisa prediksi.]

Cahaya putih menelan pandangannya.

…tapi sakit tak datang.

Dia melirik—dan terpaku.

Api Uriel membentuk cincin melilit Vakarine & Camael.

[Gerak dikit, mati.]

Mereka terpaku.

“Uriel… kenapa?!”

[Scribe akan menghukum—]

[■ck. Biar aja kena hukuman. Nggak penting sekarang.]

Camael tersentak. Ini serius.

Sooyoung baru paham—Uriel sengaja buka true form… untuk mengikat mereka, bukan membunuh Sooyoung.

Ia merasakan corruption mulai masuk sayap Uriel.

Hukuman penolak perintah surgawi.

Uriel berseru:

[Tak ada waktu. Kita invalidkan medan ini sekarang juga!]

Dia terburu-buru. Kenapa?

Sooyoung berpikir.

Kalau Archangel rela kena Corruption, pasti demi—

[Heewon-ku dalam bahaya!]

Ch 395: Ep. 75 - A certain heart, II

“Tiga jam lalu, Jung Heewon berkata seperti ini:
‘Kita bisa. Kita nggak akan tahu sampai kita benar-benar bertarung. Nggak peduli mereka itu Demon King atau bukan, suruh aja datang. Kita bukan orang lemah lagi, kan?’”

Yang mendengar ucapan itu adalah para Reincarnator — mereka yang memilih kubu ‘Good’ di regional conflict sebelumnya, juga sedikit yang selamat dari medan perang yang di-invalidate oleh <Kim Dokja’s Company>.

Mereka adalah orang-orang yang dunianya sudah runtuh.

[117th regional conflict dimulai!]
[Kubu afiliasi kalian: ‘Good’.]

“Kalau tahu bakal gini… aku nggak akan datang…”

“…Nggak bisa balik ke dunia asal aja gitu?”

Bisikan panik menyebar cepat.

“K-kenapa kita harus lawan makhluk begitu?!”

“A-aaaah…”

Jauh di depan, sebuah kapal raksasa kubu ‘Evil’ muncul. Itu jelas Story weapon, dipenuhi fungsi aneh dan kekuatan mengerikan.

Ghi-eeeeehhk!

Gelombang hitam yang mendorong kapal itu… adalah lautan pasukan 7th-grade demonkind, Dark Warrior. Puluhan ribu. Mungkin lebih.

Ini bukan lagi sekadar regional conflict.

“Uwaaaaah!!”

Jung Heewon melihat mata para Reincarnator — ketakutan.
Dia tahu… tidak adil memaksa semua orang bersikap gagah di tengah neraka seperti ini.

Mereka cuma orang biasa yang hidup dalam dunia sempit, lalu dijadikan pion oleh para makhluk luar dunia. Ketakutan mereka wajar. Memaksa keberanian… itu kekejaman.

Dia ingin bilang: Kalian nggak harus bertarung. Biar aku yang hadapi mereka.

“Tolong sembunyi di belakangku, semuanya.”

Namun, seseorang menyuarakan isi hatinya lebih dulu.

“Aku yang akan menahan mereka.”

Salah satu rekan terlamanya. Pria yang selalu berdiri di garis depan setiap krisis <Kim Dokja’s Company>.

“Bisa sendirian?” tanya Heewon.

“Tentu tidak.”
Lee Hyunsung tersenyum hangat. Dulu, disentuh sedikit saja dia kejang panik… sekarang dia berdiri kokoh.

“Bagi tugas. Aku terima semua serangan. Heewon-ssi…”

“Dan aku yang hajar mereka. Sama seperti di Kaizenix?”

Mereka pernah bertarung berdampingan. Shield & Sword <Kim Dokja’s Company>. Tak rumit, tapi sempurna.

“Kalau begitu… ayo.”

[Story, ‘Sword and Shield’, memulai storytelling.]

Lee Hyunsung berlari lebih dulu.

“HAAAAAAAP!!”

Dengan keyakinan orang yang percaya: makin keras teriak, makin kuat jadi.
Dia menghantam badai kegelapan.

[Stigma ‘Steel Transformation Lv.10’ diaktifkan!]

Seluruh tubuhnya diselimuti baja putih berkilau. Dark Warrior yang menabrak tubuhnya terpental seperti bowling pin, remuk di tanah.

[Stigma ‘Great Mountain Smash Lv.10’ diaktifkan!]

Tinju baja menghantam tanah. Ombak pasukan gelap terguncang. Kapal raksasa tersendat.

[Stigma ‘Great Mountain Push Lv.10’ diaktifkan!]

Dulu, stigma ini hanya mampu membuka pintu subway macet. Sekarang, dia menghentikan kapal perang.

Tsu-chuchuchut!
Baja di tangannya menghitam, sebagian armor terkelupas. Namun Hyunsung terus menahan.

“HAAAAAAAP!!”

Kakinya menghujam tanah, seperti paku kecil menahan gunung.

“Itu… berhenti!”

“Lee Hyunsung-nim menghentikannya!”

Teriak para Reincarnator. Keajaiban.

Perisai telah menjalankan perannya. Kini giliran pedang.

Heewon memijak bahu Hyunsung, melesat. Dia mendarat di dek, mengayun Sword of Judgement.

[Kuwaaahk!]

Kombinasi Demon Slaying + Hellfire. Satu Constellation Historical-grade terlambat bereaksi — tubuhnya meledak.

Dia bagai paladin surgawi, aura putih bersinar, api biru berkelip.

[Beberapa Constellation menyukai Story ‘Sword and Shield’.]

Kka-gagagak!
Serangannya terhenti. Tangan hitam membekap pedang, melemparnya.

Heewon mendarat, berjaga. Lima sosok maju.

Bukan Constellation biasa.

[Melihat Stigma terkutuk itu… kau pasti Inkarnasi Archangel itu.]

Demon Kings.

She recalls Dokja's warning list:

1 — Amy, President of Flames (58th Demon Realm)
Masih bisa dilawan. Hour of Judgement cukup.

2 — Haagenti, Golden-horned Ox (48th)
Bisa, tapi serang dulu sebelum dia pakai tanduk.

3 — Stolas, Silver-clawed Owl (36th)
Berbahaya. Hanya dalam kondisi puncak.

Sampai situ, masih mungkin menang.

Tapi dua berikutnya…

4 — Zepar, Demon King of Seduction & Infertility (16th)
Peluang menang tipis.

Dan…

5 — Barbatos, Merciless Hunter Against the Will of Heavens (8th)
Tak bisa dilawan. LARI.

Cowboy Demon King itu tersenyum, menodongkan rifle.

[Harapan mustahil adalah rasa putus asa terenak.]

Heewon menarik napas. Dia pernah melawan Demon Kings. Sekarang dia lebih kuat.

[Exclusive skill, ‘Hour of Judgement’, bersiap aktif.]

Judge of Evil. Kekuatan Archangel.
Selama mereka Evil, dia takkan kalah.

Sayangnya—

[Mayoritas Constellation ‘Absolute Good’ menolak aktivasi.]
[Skill dibatalkan.]

Barbatos tertawa keras.

[Naif sekali, Inkarnasi Uriel. Masih belum sadar situasimu?]

Ini jebakan. Dokja sudah bilang.

[Angel menyukai konsep ‘kambing hitam’. Dan kali ini, itu kamu.]

<Eden> ingin menang perang ini. Dan untuk itu—<Kim Dokja’s Company> harus musnah. Bahkan jika yang dikorbankan ‘Good’ sekalipun.

“…Uriel pun mengkhianati aku?”

[Istirahatlah dalam damai.]

Klik — senjata dikokang. Heewon langsung lompat keluar kapal.

Kuwaaaaaah!!
Peluru menembus langit, merobek ruang.

Dia gemetar. Hampir saja dia melawan makhluk itu satu-lawan-satu.
Dan dia akan mati.

Kata Dokja: Demon King rank 10 ke atas, jangan dilawan. Lari.

“Hyunsung-ssi!”

Hyunsung menangkapnya dengan tatapan paham.

[Hahaha! Pilihan tepat.]
[Tapi sejauh mana kalian bisa lari?]

Mereka lari sambil bertarung mundur, melindungi Reincarnator yang terluka.

“Asal kita kumpul, Dokja-ssi dan Yoo Joonghyuk-ssi pasti datang. Kita tahan dulu.”

Heewon mengangguk. Mereka sudah menang dari mimpi buruk lebih besar dari ini. Mereka tidak akan tumbang di sini.

[Pengaruh sponsor-mu melemah.]

Uriel? Tidak mungkin dia mengkhianati—

[Minggir, sampah!]

Dark Warrior menerjang brutal. Banyak Reincarnator terbunuh.
Namun ada yang masih berdiri melawan.

[Oh? Swordmaster rupanya.]

Seorang pria menahan tanduk emas Haagenti. Ether Blade berkedip.

“…Kyle?”

Kyle Berthe. Ksatria tua dari Kaizenix.

Dia bertahan. Bahkan melukai Haagenti sedikit.

Tapi…
Pedangnya patah. Lututnya roboh. Haagenti mencengkeram lehernya.

Heewon tahu: sebentar lagi dia mati.

Rangkaian suara batin para anggota muncul:

Yoo Joonghyuk:
Reincarnator mati = hidup lagi. Biarkan.

Kim Dokja:
Kita harus selamatkan. Tapi kalau kamu akan mati, jangan lakukan.

Han Sooyoung:
Hentikan drama. Gunakan dia buat mukul Demon King-nya.

Mata Kyle memohon:
’Tolong… selamatkan aku.’

“Heewon-ssi.”

Hyunsung memanggil pelan.

Dia dan Heewon…
Dua orang paling mirip dalam <Kim Dokja’s Company>.

Orang yang tidak bisa meninggalkan orang yang meminta tolong.

[Exclusive skill ‘Hellfire Lv.10’ diaktifkan!]

Tidak perlu ragu.

Mereka sendiri dulu pernah diselamatkan dengan cara yang sama.

Ch 396: Ep. 75 - A certain heart, III

Dalam sekejap itu, tatapan mereka bertemu.

“Semua tahu cara menghadapi Demon King, kan?”

Mereka sama-sama memikul luka yang sama.
Sama-sama hidup dengan rasa sakit yang serupa.

Mereka pernah melihat orang yang mereka sayangi mati tepat di depan mata.

“Mari mulai final scenario.”

Mereka sudah berkali-kali gagal menyelamatkan rekan mereka.

Dan karena itulah, mereka tidak akan pernah membiarkan seseorang mati di depan mereka tanpa bergerak.

Hidup mereka sejauh ini telah memaksa mereka untuk terus berdiri.

“Pergi!”

Jung Heewon menjejak ringan, mendarat di telapak tangan Lee Hyunsung — dan pria itu melemparnya kuat-kuat ke depan.

Tubuhnya melesat bagaikan cahaya, menembus garis medan perang. Api 
HellfireHellfire

Daging sang raksasa terbelah, ia meraung.

[Jadi kau ngumpet di sini rupanya!]

Haagenti menyerbu, tanah berguncang.

“Haaaaaap!”

Lee Hyunsung menerima tanduk emas itu dengan kedua tangan, bergulat melawannya. Sementara itu, Heewon berlutut pada sosok yang tergeletak.

“Kyle! Bangun! Kyle!”

Seperti Erich Striker kembali, ia panik memanggil nama itu. Ia menaruh tangan di depan hidungnya — untung, masih ada napas.

“Mari coba sekali lagi, dengan skenario ini…”

Mereka semua sampai sejauh ini karena suara dan harapan <Kim Dokja’s Company>.
Mereka ingin menemukan cerita mereka sendiri.

Karena itu, ia tidak bisa membiarkan mereka mati.

“Biar kami bawa.”

Para knight mendekat. Mereka mengangkat Kyle.

“Aku titip dia.”

“Serahkan pada kami.”

Heewon menatap mereka pergi—lalu menggenggam pedang, siap membantu Hyunsung.

Namun—

…rasa bahaya merayap di punggungnya.

Lebih mencekam dari apa pun yang pernah ia rasakan.
Tidak saat hampir kehilangan Kim Dokja di Dark Castle.
Tidak saat ia kehilangannya lagi di 73rd Demon Realm.

“Heewon-ssi! Tiaraaaap!!”

Hyunsung menubruknya. Mereka berguling. Sebuah sinar tipis melintas lengannya — dan teriakannya pecah seketika.

Peluru Barbatos.

Wajah Hyunsung memucat, tapi sebelum ia sempat bertanya, dia berkata:

“Kamu harus pergi dulu. Aku akan tahan mereka.”

Ia menahan Haagenti dengan dua tangan, dan saat Amy melemparkan tombak api, Hyunsung… menggigitnya.

Lidahnya terbakar, bola matanya mendidih — namun ia tetap berdiri.

— Cepat pergi!

Suaranya menggema lewat hubungan telepati dari Kaizenix Archipelago.

— Aku masih bisa tahan! Tapi tidak kalau harus lindungi kamu juga!

Dari dulu, Hyunsung selalu memaksa dirinya melakukan hal yang tak mungkin.

Karena itu Heewon tidak bisa lari.

Cakar perak Stolas menghantam. Api Hellfire-nya mulai meredup. Armor baja Hyunsung mulai retak.

Zepar tertawa.

[Betapa tragis. Tapi… tragedi memang mempesona, bukan?]

“Diam.”

[Beberapa Constellation meneteskan air mata melihat kisah para Inkarnasi.]

Heewon menggertakkan gigi.
Mereka bukan tontonan.

Reincarnator yang kabur menoleh.
Mereka melihat dua orang mempertaruhkan hidup mereka demi menyelamatkan semuanya.

[Pengaruh Nebula <Kim Dokja’s Company> bertambah kuat.]
[Pondasi ‘Great War of Saints and Demons’ terguncang.]

Untuk pertama kalinya, ekspresi para Demon King berubah.

[Sayang, kita tak bisa menikmati ini lagi.]

Cahaya hitam meledak.
StarDestructionBulletStar Destruction Bullet

Tak bisa dihindari.

Heewon menunduk, mencoba melindungi area vital—

—namun seseorang menerjang, melindungi dirinya.

DUAR!
Peluru kedua. Ketiga.
Tubuh di depannya robek, darah memercik.

[Story ‘Purest Companionship’ terguncang.]

Heewon memeluk tubuh itu, berguling menjauh.
Wajah penuh luka… tetap tersenyum.

“Hyunsung-ssi…?”

Ia tidak menjawab.

Waktu berhenti.

[Story ‘Sword and Shield’ telah berhenti.]

“Hyunsung-ssi.”

Tidak ada balasan.

“Bangun!!!”

Tapi… ia belum menjawab pertanyaannya.
Ia belum memaafkan. Belum mengucapkan terima kasih. Belum—

Dan tembakan kembali terdengar.

Heewon menjerit membawanya lari.
Tulangnya retak. Kulit terkelupas.
Tapi ia tetap berlari.

Karena—

Kim Dokja pasti bisa menyelamatkan Hyunsung.

Ia menyelamatkan Shin Yoosung.
Ia menyelamatkan Yoo Sangah.
Jadi pasti…

Dia juga bisa menyelamatkan Hyunsung.

Kematian bukan akhir di sini.
Tidak di dunia ini.

Heewon terus berlari sampai tubuhnya tumbang di lumpur basah darah. Napasnya putus-putus.

Detak jantung Hyunsung…

…hilang.

[Inkarnasi Uriel, di mana kau bersembunyi?]

Demon King mendekat.
Ia tak bisa bergerak.

Di sekitarnya, Reincarnator tersisa — ketakutan.
Mereka yang seharusnya ia lindungi.

'Maaf…'

Flames mulai membakar sekitar. Ia memejamkan mata.

Kalau membuka mata, ia akan melihat mereka mati.

Orang-orang yang percaya padanya. Yang ia bawa sejauh ini.

Lalu—

“Sini dia!!”

Suara teriakan.

“Aku Jung Heewon! Inkarnasi Uriel!”

Heewon membuka mata.

Kyle.

Knight yang membawanya lari tadi juga maju.

“Tidak, akulah Jung Heewon!”

“Aku! Bunuh aku saja!”

[…Kalian gila?]

Reincarnator tidak lari.

Mereka yang dulu dia selamatkan…

berdiri kembali untuknya.

“Aku Jung Heewon!!”

“Aku Lee Hyunsung!!”

Satu per satu, mereka meneriakkan nama itu — meski tahu mereka akan mati.

“Aku Yoo Joonghyuk!”

“Aku Kim Dokja!”

“Aku Han Sooyoung!!”

Itu bukan sekadar nama.
Itu doa.
Itu keyakinan.

Dan satu demi satu mereka menerjang maut.

[Pengaruh <Kim Dokja’s Company> semakin kuat!]

Para Demon King murka.

[Dasar gila!!]

Reincarnator hancur, tubuh pecah, tersayat, tapi mereka tidak berhenti.

Jung Heewon gemetar.

Kenapa mereka harus mati?

Ia menatap Hyunsung.
Lalu menatap langit yang penuh bintang.

Banyak bintang.

Tapi tidak satu pun turun menolong.

Ia berdiri.

“…Aku.”

Dan ia berlari, menghadapi Demon King.

“Aku Jung Heewon!!”

Cakar mencabik punggungnya.
Tapi ia tetap menatap lurus.

[Skill ‘Hour of Judgement’ diminta untuk diaktifkan.]

Tolong.
Siapa pun.
Aku mohon.

[Absolute Good menolak.]
[Skill dibatalkan.]

Kenapa?

Siapa yang kau sebut Evil?
Siapa yang kau sebut Good?

“Omong kosong apa… ‘Absolute’ itu?”

Siapa kalian yang memutuskan?
Kenapa aku harus tunduk?

Peluru Barbatos meluncur lagi.

Semua emosinya berkobar.

[Semua Story-mu bereaksi pada penderitaanmu.]
[Semua Story-mu bereaksi pada tekadmu.]

Satu tujuan.
Satu keinginan.

Balas dendam.

[Star Stream memperhatikan Story-mu.]
「 Aku ingin menghakimi semuanya. 」
[Story baru bertunas.]

Cahaya meledak.
Peluru melenceng.
Demon King terpental.

[Evolusi Atribut mendekat.]
[Kesempatan evolusi muncul!]

Dulu, dia “Judge of Evil.”


Sekarang?
Yang dikhianati oleh ‘Good’…

[Kamu telah memperoleh Legendary Attribute.]

Pedangnya menyala putih menyilaukan.
Energi Chaos berputar di matanya.

[Kamu menjadi ‘Judge of Destruction’.]

 

Ch 397: Ep. 75 - A certain heart, IV

[Skill sedang berevolusi karena evolusi Atribut.]
[Skill eksklusif, ‘Demon Slaying’, berevolusi menjadi ‘God Slaying’!]
[Persyaratan aktivasi skill eksklusif, ‘Hour of Judgement’, sedang dimodifikasi!]

Jung Heewon menatap kedua tangannya yang kini diselimuti aura menyilaukan. Satu tangan terpenuhi cahaya putih murni, sementara yang lain hitam pekat.

['Isle of Reincarnators' sedang menatapmu.]

Yang menyemangatinya bukan lagi para Constellation.

[Para penghuni 'Isle of Reincarnators' sedang menatapmu.]

Tidak, mereka adalah orang-orang yang selama ini ia lindungi.

Para Demon King menatap Jung Heewon dengan ketidakpercayaan yang total.

[…Atribut-nya berevolusi?]
[Tidak buruk. Sepertinya skenario memberikan berkah padamu.]

Namun, mereka tidak panik; bagaimanapun juga, Jung Heewon masih seorang Incarnation, seseorang yang tidak bisa meminjam kekuatan Uriel atau berkah <Eden>.

Tapi, terlepas dari semua itu, ia tetap melangkah maju ke arah para Demon King.

[Skill eksklusif, ‘Hour of Judgement’, sedang aktif!]

Haagenti menyadari apa yang ia coba lakukan dan tertawa menghina.

[Kau masih belum sadar juga rupanya. Atribut-mu berubah pun percuma, para Archangel tidak akan pernah meminjamkan kekuatan mereka padamu.]

Skill [Hour of Judgement] butuh meminjam Probability dari Absolute Good, jadi tanpa izin dari Constellation pihak itu, skill ini tidak bisa dipakai.

Namun, rangkaian pesan aneh tiba-tiba muncul.

['Hour of Judgement' tidak lagi membutuhkan persetujuan Constellation pihak Absolute Good.]
['Hour of Judgement' tidak lagi perlu meminjam Probability dari Nebula pihak Absolute Good.]
[Constellation pihak Absolute Good sangat terkejut dengan perubahan pada Incarnation Jung Heewon.]

“Aku tidak butuh persetujuan bodoh mereka lagi,” ujar Jung Heewon, kini bukan lagi ‘Good’ ataupun ‘Evil’. “Mulai sekarang, kamilah yang memutuskan siapa yang pantas dihakimi.”

Percikan energi menari liar di sekelilingnya saat ia menggenggam [Sword of Judgement]. Demon King Haagenti mundur beberapa langkah, refleks, merasakan aura mencurigakan itu.

[Apa ini…??]

[Skill eksklusif, ‘Hour of Judgement’, menerima berkah dari <Kim Dokja’s Company>.]
[Hak Voting dibagikan kepada para anggota <Kim Dokja’s Company>.]
[Beberapa anggota tidak bisa ikut voting.]
[Hanya anggota yang bisa, yang akan ikut voting.]

Dan voting pun dimulai.

[Incarnation, ‘Lee Jihye’, setuju dengan keputusanmu.]
[Incarnation, ‘Shin Yoosung’, setuju dengan keputusanmu.]
[Incarnation, ‘Lee Gilyoung’, setuju dengan keputusanmu.]
[Incarnation, ‘Jung Heewon’, setuju dengan keputusanmu.]
[Semua anggota yang dapat berpartisipasi telah menyetujui keputusanmu.]

Jung Heewon menatap Lee Hyunsung yang tergeletak—tubuhnya dingin, tak bergerak. Penghakiman ini demi dirinya.

Tsu-chuchuchut!

['Hour of Judgement' aktif!]
[Durasi aktivasi dipersingkat karena jumlah anggota voting tidak mencukupi.]
[Kemampuan fisikmu akan melampaui Probability skenario selama 4 menit ke depan!]
[Semua Story-mu akan melampaui Probability skenario selama 4 menit ke depan!]

Dan pedangnya bergerak. Dengan kecepatan yang bahkan Demon King pun tak mampu melihat, demi menghakimi mereka yang sangat ingin ia hukum.

Di saat itu, baginya dunia seolah berhenti.

Mereka menyebut diri mereka bintang? Dengan kecepatan seperti itu?

Haagenti berkedip dalam ketidakpercayaan total.

Probability dalam jumlah mengerikan menggelegar di udara, seakan menjadi bukti bahwa Jung Heewon telah menghakimi ‘sesuatu’ pada detik itu.

[U-uh, keok…?]

Jantung Haagenti, terpotong dari tubuhnya, kini berdenyut di atas bilah [Sword of Judgement].

Tubuh Jung Heewon bermandikan semburan darah Demon King yang sekarat. Ia membuka bibirnya perlahan.

“Tidak ada satu pun dari kalian yang akan kembali hidup.”

Empat menit. Tapi itu lebih dari cukup.

Kepala Haagenti terbang, disertai semburan darah.

[Demon King, ‘Golden-horned Ox’, telah mati.]
[Demon King, ‘Golden-horned Ox’, dikalahkan dalam konflik regional.]

‘President of Flames’, Amy, bergumam tak percaya.

[…Haagenti??]

Ia menunjukkan kekuatan yang mampu membunuh Demon King peringkat 48 dalam satu serangan. Tak ada Demon King yang pernah melihat Incarnation selevel itu.

[Tidak mungkin Probability segila itu diizinkan…!]

Para Demon King melongo shock, mulut mereka terbuka tanpa suara.

Tragedi bagi satu pihak bisa jadi komedi bagi pihak lain.

Reincarnator yang sebelumnya terdesak kini menerjang maju, terpantik oleh keajaiban itu.

“Ayo!”
“Kita bisa menang! Gabung!”
“Lindungi Jung Heewon-nim!”

Para Demon King meraung marah melihat Reincarnator menyerbu.

Jung Heewon telah lenyap dari tempatnya—muncul kembali bagai sihir, dan bayangan pedangnya menghancurkan tombak Amy.

Klang!!

Tombak api yang tak bisa dipatahkan oleh apa pun retak berkeping-keping, mata Demon King membelalak.

Dan dunianya hancur oleh satu tebasan lagi.

[Demon King, ‘President of Flames’, telah mati.]
[Demon King, ‘President of Flames’, dikalahkan dalam konflik regional.]

Wajar. Jika Haagenti saja mati dalam satu tebasan, Amy jelas tak mungkin bertahan.

Semangat Reincarnator membara lebih tinggi, udara medan perang menggelegak dengan amarah dan harapan.

Wooong… Wooong…

Jung Heewon maju terus meski rasa sakit membakar matanya. Ia menebas para ‘Dark Warrior’, lagi dan lagi—demi satu tujuan: memenggal Demon King lain.

[Oh, Incarnation, kau benar-benar naif. Kau hanya meminjam kekuatan satu ‘Nebula’, bukan?]

Penguasa Demon Realm ke-36, ‘Silver-clawed Owl’, Stolas, tak punya tenaga terlalu besar, tapi memiliki pengetahuan luas.

Ia melihat keberadaan ‘Ring of Chaos’ di mata Jung Heewon dan menjerit:

[Itu kekuatan Chaos. Kekuatan yang bukan ‘Good’ bukan ‘Evil’, lahir dari awal segalanya, berasal dari luar skenario! Kalau kau gunakan kekuatan itu—!!]

“Tutup mulut.”

Jung Heewon melompat dan merobek sayap Stolas. Burung hantu itu menjerit, cakarnya menancap di pahanya, bahunya. Daging tercabik, Story berhamburan seperti darah.

Tapi ia tidak peduli. Pedang diayunkan terus, sekalipun organ dalamnya keluar, pipinya tercabik; pikirannya hanya satu: hancurkan Demon King di depannya.

Dalam sekejap, setelah sekitar lima puluh tebasan, kepala burung hantu mati sudah di tangannya.

[Demon King, ‘Silver-clawed Owl’, telah mati.]
[Demon King, ‘Silver-clawed Owl’, dikalahkan dalam konflik regional.]

“Haah… haah…”

Tiga Demon King jatuh oleh satu orang.

[Banyak Constellation terkejut oleh kekuatan Incarnation Jung Heewon!]
[Constellation pihak Absolute Good merasa Jung Heewon mengerikan dan tidak wajar!]
[Constellation pihak Absolute Evil ketakutan pada Jung Heewon!]

Bintang-bintang ‘Good’ dan ‘Evil’ terbelah. Dan di luar itu, tatapan lain turun—yang sebelumnya tak peduli padanya.

[Outer Gods memperhatikan Incarnation ‘Jung Heewon’.]

Dibanjiri sorotan bintang, Jung Heewon terus maju. Tinggal dua Demon King tersisa.

[…Maaf, tapi aku tidak suka situasi seperti ini. Jadi, sampai jumpa.]

Demon King yang sejak awal membaca mantra panjang membuka mulut.

[Demon King, ‘Demon King of Seduction and Infertility’, meninggalkan konflik regional setelah membayar Probability besar.]

Jung Heewon melempar pedang, tapi Zepar sudah lenyap.

Ia menggertakkan gigi dan menatap langit. Tersisa satu Demon King.

[Demi apa penguasa Realm ke-16 kabur seperti anjing ketakutan karena Incarnation? Memalukan.]

Dialah pembunuh Lee Hyunsung, penguasa Realm ke-8, ‘Merciless Hunter Against the Will of Heavens’, Barbatos.

Meski melihat kegilaan Heewon, Barbatos tidak melarikan diri.

[Demon King, ‘Merciless Hunter Against the Will of Heavens’, melepaskan Status-nya.]

Ia menyamai kecepatan Jung Heewon bahkan dalam [Hour of Judgement]. Ia menyerang dan bereaksi secepatnya.

Pertarungan brutal dimulai; sedikit demi sedikit Heewon terdesak.

[Kisahmu… indah dan destruktif.]

Barbatos tertawa.

Jung Heewon sadar betapa kuatnya Barbatos—ia belum serius sejak awal.

Darah memancar dari sisi tubuhnya. Ia membakar luka dengan [Hellfire]. Barbatos menendang perutnya. Ia memuntahkan darah, memaksa berdiri.

[Sisa waktu aktivasi ‘Hour of Judgement’: 1 menit.]

Jung Heewon menggenggam pedang, tulang di telapak terlihat.

‘Apa selama hidupku… ini mustahil?’

[Berkah dari <Kim Dokja’s Company> menguat!]

Sesuatu kembali mengalir ke tubuhnya.

[Giant Story, ‘Kaizenix Archipelago’, menatapmu.]
[Constellation, ‘Master of Steel’, menatapmu.]

Claaaang!

Ia menahan bayonet Barbatos dengan kedua tangan.

Teknik bayonet—seseorang yang ia kenal jago dalam itu.

「 Biasanya makin berat makin keras kau teriak di militer. Itu bikin kau tahan sampai akhir hari. 」

“HAAAAAAAAH!!”

Jung Heewon berteriak seperti Lee Hyunsung. Bayonet masuk makin dalam, tapi ia menahannya, maju selangkah.

「 Aku juga kadang mulai tanpa rencana. Bukan semua sudah kuhitung. 」

Ia mengumpulkan keberanian seperti Kim Dokja—

「 Jangan pegang pedang kayak gitu. 」

—dan menebas seperti Yoo Joonghyuk.

Slash!

[Sword of Judgement] menebas lengan Barbatos.

[…Ah?]

Fragmen Story merah meledak; alis Barbatos bergetar.

Ia bisa mendengar tawa Han Sooyoung.

「 Kau tahu kan? Yang ketawa terakhir itu pemenangnya. 」

Jung Heewon bicara seperti Ha Sooyoung. “Kau mau tulangku? Ambil. Mau hatiku? Akan kuberikan.”

Tubuh diabaikan—hanya hancurkan musuh.

“Tapi kau harus korbankan setengah Story-mu.”

Semua Story-nya bersinar.

Barbatos panik, menembaki dengan [Star Destruction Bullets]. Namun ia menghindar mudah.

Ribuan Probability mengoyak tubuhnya. Rambut memutih—harga untuk melampaui batas.

Tapi ia tak peduli.

Pedang bersinar—pergelangan Barbatos terpotong.

Ia melompat ke battleship-nya.

[Akan kuhancurkan kau. Tak akan ada jejakmu.]

Kapal itu menyala biru. Jung Heewon tersenyum pahit.

Keputusan memakai [Story Weapon] berarti pengakuan kekalahan.

[Durasinya habis.]

Meriam bersorak, siap menghapus segalanya.

Jung Heewon memeluk tubuh Lee Hyunsung.

'Hyunsung-ssi.'
'Aku sudah melakukan segalanya.'
'Tidak ada penyesalan.'
'Aku tidak salah.'
'Jika inilah akhir skenarioku…'
'…Aku sudah hidup dengan cara yang benar.'

Dunia perlahan kembali ke normal; cangkangnya runtuh.

Air mata jatuh. Mengapa baru sekarang?

“Kenapa semua orang dari Nebula kita begini sih??”

Suara familiar menggema.

[Constellation, ‘Maritime War God’, murka!]

Jung Heewon tersentak, mengusap air mata. Ia melihat mukjizat.

Ku-gugugugu!

Sebuah kapal perang raksasa muncul di langit.

[Seseorang bergabung ke konflik regional ke-117!]

Kapal berlapis seperti kura-kura logam. Dan di figurehead-nya—tiga orang yang ia cintai.

Kuwaaaaah!

Peluru Barbatos meluncur. Jung Heewon teriak:

“Hindar!!”

Suara meriam menelan suaranya.

Duar!

Asap menghilang—kapal itu berdiri tanpa goresan.

[Pengaruh <Kim Dokja’s Company> di skenario meningkat.]


Lee Jihye dan anak-anak muncul dari kabut.

Dengan wajah datar, Lee Jihye mengangkat pedang.

“Siapkan meriam.”







Ch 398: Ep. 75 - A certain heart, V

Ekspresi terkejut sang Demon King terlihat jelas dari kejauhan.
Lambung kapal itu bahkan tak tergores sedikit pun meski ditembak [Star Destruction Bullet] milik Barbatos.

Peluru yang bahkan bisa melenyapkan sebuah bintang…
Tak mampu menembus punggung kapal berkulit kura-kura itu.

[Incarnation, ‘Lee Jihye’, telah memulai komando.]
[Incarnation, ‘Lee Jihye’, mengaktifkan Stigma, ‘Ghost Fleet Lv.10’!]

Dua belas kapal armada hantu muncul, memanfaatkan ‘Dark Warriors’ yang mendekat bagaikan ombak, lalu mengapung. Sesaat kemudian, meriam mereka meledak serempak.

Barbatos menggertakkan gigi menghadapi hujan meriam mendadak itu.

[Kau berani, dengan kekuatan remeh seperti ini…!]

Battleship milik Demon King, [Nighthawk], benar-benar kokoh.
Bukan teknologi futuristik, tetapi senjata yang dibentuk dari Story Demon Realm.
[Ghost Fleet] saja tidak cukup untuk menaklukkan kapal itu.

Namun Lee Jihye tidak panik. Tidak—ia menatap musuhnya dengan mata tenang, dingin.

Ku-gugugugu!!!

Saat [Ghost Fleet] terus menembakkan meriamnya, cahaya kemerahan terkumpul di kepala naga di depan kapal itu—kapal raksasa yang membelah langit.

[Giant Story, ‘Next City’, telah memulai storytelling!]

Jung Heewon mendongak menatap sosok Lee Jihye.

Ia tidak tahu bagaimana Jihye bisa sampai ke sini, atau dunia seperti apa yang sudah ia lalui.
Namun satu hal pasti—ketiga anak itu telah bertahan melewati tragedi setara neraka yang pernah ia alami di ‘Kaizenix Archipelago’.

[Sebuah kapal dari Story kasar berani—!]

Pihak Barbatos menyelesaikan charging dan menembak lebih dulu.

Kuwaaaaaaah—!!

Kekuatan serangannya dua kali lipat dari sebelumnya.
Bahkan kapal Lee Jihye yang begitu perkasa pun tak akan mudah menahan [Star Destruction Bullet] ini.

Empat, lima kapal terdepan dari [Ghost Fleet] langsung hancur, lenyap disapu energi magis.

Meski begitu, Lee Jihye tetap menunggu.
Menunggu sampai peluru raksasa itu berada tepat di depan wajahnya.

Sedikit lagi. Sedikit lagi.

[Constellation, ‘Maritime War God’, sedang menatap Incarnation-nya.]

Fragmen Story beterbangan, menggores pipinya.

Dan tepat sebelum falam Story dari [Ghost Fleet] yang musnah itu menerjang dirinya dan kedua rekannya seperti ombak busa putih—

Lee Jihye menurunkan pedangnya.

“Tembak!!”

Segalanya terhanyut cahaya.
Getaran brutal mengguncang lambung kapal.
Angin liar menerjang rambutnya yang sudah berantakan.

Energi Story yang memancar dari kepala naga menyapu bersih segala sesuatu di hadapannya.
[Star Destruction Bullet] yang menghitamkan dunia—lenyap.

[Banyak Constellation mencurigai Probability dari Story Weapon tersebut!]

Story Weapon, [Turtle Dragon].

Itu nama senjata yang pernah dipesan ‘Maritime War God’ saat mengunjungi Next City dulu—
Namun belum sempat ia ambil.

[Banyak Constellation tidak bisa menutup mulut karena syok!]

Duar—!!!

Suara menghancurkan menyebar, disertai jeritan mengerikan Demon King.

Lee Jihye kembali memberi perintah. “Tembak!!”

Suaranya tidak bergetar, seolah ia meluapkan semua kedongkolan yang menumpuk selama ini.

[Ghost Fleet] bangkit lagi dan meluncurkan tembakan serempak, sementara meriam utama [Turtle Dragon] menembakkan peluru lainnya.

“Tembak!!”

Segala sesuatu di sisi musuh menghilang perlahan—
Battleship Barbatos, para Dark Warrior, semuanya.

Mereka yang ingin mengubah Story Jung Heewon dan Lee Hyunsung menjadi tragedi—
Kini dibakar oleh amarah Lee Jihye.

‘Story kami bukan tontonan kalian,’ begitulah katanya.

Tubuhnya sedikit goyah karena recoil, namun ia tidak tunduk.
Ia bukan lagi gadis yang takut laut—tapi seorang komandan kapal perang.

“Tembak!!”

Kuwaaaaaah—!!

Di bawah hujan energi meriam, Status Barbatos mulai terhapus.

Dan sampai setiap Story Demon King itu hilang sepenuhnya, Lee Jihye tidak berhenti.

Jung Heewon menatap pemandangan itu.
Gadis itu jelas memaksakan diri.

Tsu-chuchuchut!!

Percikan listrik memenuhi udara. Dua sosok meluncur melewati ledakan dan menjejak tanah—Shin Yoosung dan Lee Gilyoung.

"Heewon unnie… kau tidak apa-apa?"
"Noona!"

Dengan bantuan mereka, Jung Heewon membawa Lee Hyunsung naik kapal, mendekati Lee Jihye di dek.

“Jihye-yah…”

[Constellation, ‘Maritime War God’, menguras energi terakhirnya sampai batas.]

Musuh mereka adalah Demon King peringkat atas.
Bahkan dengan Story Weapon, Probability <Kim Dokja’s Company>, dan bantuan Constellation Narrative-grade…

Sebuah keajaiban selalu butuh harga.

“Jihye-yah, sudah cukup.”

Jung Heewon tahu kenapa Jihye begitu murka.
Saat masuk medan perang, ia langsung memahami semuanya.
Dan karena itu ia tidak menahan diri.

['Ghost Fleet' sedang kembali.]

Suara sistem bergema.

[Demon King, ‘Merciless Hunter Against the Will of Heavens’, telah mati.]
[Demon King, ‘Merciless Hunter Against the Will of Heavens’, dikalahkan.]

Prestasi luar biasa oleh hanya tiga Incarnation.
Demon King peringkat 8—dan tiga lainnya—jatuh di medan ini.

Pesan mengalir, bercampur sorak kemenangan Reincarnator.

[Constellation pihak Evil terkejut tak berkedip.]
[Constellation pihak Good memasang ekspresi rumit.]
[Constellation netral bersorak pada kemenangan mustahil ini.]
[Banyak Constellation membayar harga skenario mustahil.]
[Seorang sponsor besar menyumbang sejumlah besar Coin.]
[1.100.000 Coin telah disponsori.]

Lee Jihye menghapus darah dari hidungnya dan tersenyum cerah.
Meski tersenyum, air matanya ikut jatuh.

“Unnie.”

[Konflik regional ke-117 berakhir.]
[Perhitungan reward dimulai.]
[Ada pemenang dan pecundang.]

Jung Heewon menatap pesan-pesan itu dengan pandangan kosong.

[‘Good’ menang di konflik ini.]
[Progress Great War:]
Absolute Good: 68
Absolute Evil: 67
Chaos: 70

Konflik ini tidak berakhir sesuai rencana <Kim Dokja’s Company>.
Lee Jihye datang terlambat—ia tak tahu strategi Nebula mereka.

Namun tidak berarti rencana gagal.

[Kekuatan Chaos ikut campur.]
[Chaos Points bertambah 5.]
[Chaos Points mencapai 75.]
[Kecepatan peningkatan Chaos Points melonjak!]

[Outer Gods bayangan memanggil Jung Heewon.]
[Dewa asing di luar galaksi memperhatikan Status Jung Heewon.]

Jung Heewon menatap simbol Infinity di tangannya—diperoleh saat Atribut barunya muncul, ‘Judge of Destruction’.

Kim Dokja tak pernah memberitahunya tentang simbol ini.

“…Hyunsung hyung?”

Mata Lee Gilyoung membelalak saat memeriksa nadi Lee Hyunsung.
Shin Yoosung segera menempelkan telinganya ke dada pria itu.

Jung Heewon melihat mereka, lalu berbisik pedih:

“Hyunsung-ssi… dia—”

…Mati.

Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Karena ia merasa kata itu akan membuat segalanya nyata.

[Seluruh konflik regional telah berakhir.]
[Chaos Points skenario meningkat terlalu banyak—main scenario diperbarui.]
[Skenario melompat.]
[Linked scenario muncul!]

Belum sempat mereka berduka, sistem menyeret mereka maju.
Skenario Star Stream tidak pernah menoleh ke masa lalu.

[Main scenario baru tiba!]

<Main Scenario #84 — ‘Great War of Saints and Demons’>

…(isi syarat & deskripsi tetap sama)…

[Great battlefield dibuka!]
[Pemenang akan mendapat 30 Good/Evil Points.]

“…Apa ini?”

Lee Jihye bergumam bingung ketika tanah bergetar hebat.

Suara Dokkaebi pecah di antara percikan listrik.

[Bosan terkukung di arena kecil? Perang Besar Saints vs Demons mulai sekarang!]

Ruang dan waktu robek, lalu menyatu kembali.

Saat membuka mata, Jung Heewon dan anak-anak berdiri di padang luas tanpa ujung.
Langit kelam, tanah merah penuh fragmen Story dan tengkorak malaikat—demon yang telah lama membusuk.

Tempat di mana perang pertama Saints vs Demons mencapai akhir.

Para Constellation dan Incarnation dari konflik lain berdatangan.

[Nebula <Papyrus> masuk!]
<Nebula lainnya bergabung beruntun>

“…Hey, Shin Yoosung, lihat itu…”
“Tenang. Kita sudah level up banyak, kan?”

[Giant Story, ‘Next City’, melindungi anak-anak.]

Status yang terkumpul begitu besar—jantung berdebar hanya berdiri di sini.
Jumlah Constellation tak terhitung.

[Banyak Constellation menunjukkan permusuhan pada <Kim Dokja’s Company>.]

Setiap tatapan tajam itu berbobot mematikan.

Jung Heewon berdiri di depan.
Mereka adalah bagian <Kim Dokja’s Company>.
Tidak boleh goyah.

Lalu—

“Jung Heewon.”

Seseorang menopangnya dari belakang.

[Incarnation ‘Han Sooyoung’ bergabung!]
[Constellation, ‘Abyssal Black Flame Dragon’, mengancam Constellation lain.]

“Kau kelihatan payah sekali. Rambutmu kenapa?”
“Kau juga nggak pantas ngomong begitu ke orang lain.”

Han Sooyoung mendelik.
Jung Heewon melihat sosok di belakangnya.

“Uriel…”

[Constellation, ‘Demon-like Judge of Fire’, menatap Incarnation-nya.]

Uriel, penuh luka, menatap balik. Aura keruh di sayapnya—
Namun Heewon justru merasa lega.

Uriel tidak mengkhianatinya.
Tatap mata saja cukup untuk tahu.

“…Tidak apa-apa, Uriel.”

Uriel bungkam.

Sebuah Gate raksasa menganga.

[Nebula <Eden> masuk!]

Para Archangel dan Valkyrie bermunculan, trompet emas meraung.

<Constellation Eden> mengirim simpati ke Jung Heewon…

Matanya kembali menyala.

Simpati?
Menjijikkan.

Kalau saja kalian menyetujui [Hour of Judgement] sebelumnya…

[Constellation, ‘Scribe of Heaven’, masuk!]

Metatron muncul diselimuti cahaya.
Jung Heewon menggenggam [Sword of Judgement] erat, menatap tajam.

Gerbang lain terbuka. Demon King puncak memasuki medan.

Agares. Lalu lainnya.

Nebula besar berkumpul.
Tekanan nyaris mencekik.

<Kim Dokja’s Company> kecil. Terlalu kecil.

[Para Constellation dan Demon King menatap <Kim Dokja’s Company>.]

Aura mengancam menggulung.

[Nebula <Asgard> masuk!]
[Incarnation, ‘Anna Croft’, masuk.]

“Hei, tak usah tegang begitu. Aku bukan musuhmu sekarang.”

Sebelum Heewon sempat bertanya—

[Incarnation, ‘Yoo Joonghyuk’, bergabung.]

Langit robek. Pria dengan coat hitam turun, memegang [Black Heavenly Demon Sword].

Han Sooyoung mendecak. “Lihat tuh. Pamer kayak MC lagi.”

“Master!”

Atmosfer battlefield bergeser hanya karena satu orang.

Yoo Joonghyuk memandang satu per satu.
“Semua hadir kecuali satu orang bodoh.”

“Tidak, semuanya sudah lengkap.”

Suara yang ditunggu.

Jung Heewon menoleh. Emosinya memuncak.

Ingin ia ceritakan—apa yang dilakukan Constellation pada tempat ini.

“Aku tahu, Heewon-ssi.”

Kim Dokja dengan coat putih berdiri, menatap Lee Hyunsung.

[Demon King, ‘Demon King of Salvation’, telah bergabung.]

 

Nunaaluuu Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review