Episode 62 Snowfield Kim Dokja

1011 Episode 62 Snowfield Kim Dokja (1)

 Suara samar terdengar dari kejauhan. Terdengar seperti benda berat dijatuhkan, seperti pintu kokoh ditutup, atau seperti buku tebal dibanting hingga tertutup.

Dan aku tahu suara apa itu.

「 It was the sound of a universe closing. 」

Bersamaan dengan ledakan cahaya, semua cerita yang kukenal tersedot ke suatu tempat dan berubah menjadi satu titik tunggal. Dari balik titik yang mengingatkanku pada tanda titik itu, terdengar jeritan para bintang yang belum tertulis.

[The constellation, 'Spear Marking the Boundaries of the Seas', in astonishment...]

[The constellation, 'One-Eyed Father', abandoning his own story...]

[The constellation, 'Fire of the South', asking the <Emperor> for help...]

...

[The constellation, 'Oldest Liberator', gazes at you.]

Titik yang memancarkan cahaya samar itu segera tersebar melampaui titik hilang yang jauh.

Aku mengulurkan tangan ke arah titik hilang itu. Tanganku terhalang dinding bagian dalam labu yang licin dan tak bisa bergerak lebih jauh. Keheningan yang hampa dan mendalam tersangkut di antara jemariku.

「 This was not my own emotion. 」

Kepalaku berputar. Sulit untuk tetap bernapas. Mungkin emosi ini milik third Kim Dokja. Namun, sekarang aku benar-benar merasakan rasa sakit yang sedang dialami third.

[The story, 'Prisoner of the Golden Cage', grieves.]

Hanya dengan membaca sebuah cerita secara kebetulan, seseorang bisa merasakan kesedihan yang mengerikan. Mereka bisa merasakan keputusasaan kehilangan orang yang dicintai, rasa sakit kehilangan sesuatu yang berharga, seolah itu milik mereka sendiri.

「 Every living being capable of reading stories has been cursed. 」

Aku membuka mulut seolah berbicara pada third.

"I'm sorry."

[The story, 'Prisoner of the Golden Cage', listens to your story.]

Aku gagal melindunginya lagi. Aku gagal menepati janji apa pun dengan benar. Dan yang tersisa bagiku hanyalah record.

「 "Youngest." 」

Great Sage Equal to Heaven tahu bahwa aku bukan youngest miliknya. Meski begitu, dia mempercayakan peran itu kepadaku.

「 Do I really have the qualifications to represent 'Kim Dokja'? 」

Saat kalimat samar itu menjadi jelas, keraguan yang selama ini kutunda menyerbu sekaligus.

[Exclusive Skill, 'Fourth Wall', shakes!]

[Exclusive Skill, 'Incite'’s, influence weakens!]

[The story, 'Heir to the Eternal Name', looks at you!]

Aku sampai sejauh ini dengan terus-menerus mencuci otakku sendiri. Aku percaya bahwa aku bisa melakukannya. Ada alasan mengapa aku harus melakukannya. Ada para ‘Dokja’ yang percaya padaku. Ada orang-orang yang mempercayakan segalanya padaku dan menyaksikan seluruh cerita ini dari balik [Fourth Wall].

"I am."

Demi mereka, aku sekali lagi membuka mulut.

"Kim Dokja."

[Exclusive Skill, 'Incite Lv.???', activated!]

Aku mengulangi [Incite], yang kini menjadi hal paling sulit untuk kupercayai sendiri.

「 What I learned while repeating [Incite] was that the more I repeated it, the less I was 'Kim Dokja'. 」

Aku harus bertindak sebagai Kim Dokja agar tidak ada seorang pun selain diriku sendiri yang mengetahui fakta itu. Dan dengan begitu, pada akhirnya aku harus menipu bahkan <Star Stream> ini.

[Exclusive Skill, 'Fourth Wall', protects you.]

[The story, 'Heir to the Eternal Name', is satisfied with your condition.]

Fragmen cerita yang bergolak di kepalaku mulai mereda. Ketika aku kembali membuka mataku yang sempat tertutup, sebuah pesan melayang di udara.

—What? Are you having a self-awakening event or something?

Itu adalah kakak tertuaku.

"Demon King of Salvation."

Aku menjawab dengan suara bercampur antara gembira dan terkejut.

Apakah sekarang mungkin menghubungi seseorang seperti ini? Kukira kami hanya bisa berkomunikasi lewat smartphone.

—I can contact you now without the Holy Relic. We’ve gathered enough fragments, and the library has grown quite a bit.

Sampai sekarang, kontak dengan ‘Demon King of Salvation’ hanya mungkin melalui Holy Relic miliknya, ‘smartphone’. Namun tampaknya sesuatu berubah ketika third Kim Dokja dibawa masuk ke dalam dinding.

—So you’re saying you can handle this level of probability now?

Aku tersenyum masam mendengar suaranya yang anehnya terdengar penuh kemenangan.

"It doesn't sound like exactly good news. That this level of probability is allowed—"

—Right, it also means the end of the scenarios is near.

Akhir dari perjalanan panjang itu akhirnya berada tepat di depan mataku. Meski aku belum mengumpulkan seluruh Kim Dokja fragment, sekarang aku memiliki tiga Kim Dokja bersamaku.

The Demon King of Salvation.

The Great King of Fear.

Dan Prisoner of the Golden Cage.

Kecuali ‘Snowfield Kim Dokja’, aku telah mengumpulkan semua ‘largest Kim Dokja fragments’ yang bisa kukumpulkan saat ini.

Entah karena aku merasa akhir sudah dekat, atau karena hatiku melunak setelah mendengar suara Demon King of Salvation untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Mulutku terbuka tanpa kusadari.

"Do you think I can do this well?"

Aku sedikit menyesal setelah mengatakannya. Dengan kepribadian Demon King of Salvation, jelas sekali dia akan memarahiku dengan berkata, “Ending sudah di depan mata dan kau masih mengatakan omong kosong menyedihkan seperti itu?” Tapi...

—So what if you're not good at it?

Aku sedikit bingung dengan jawaban yang muncul dan bertanya balik.

"Huh?"

—Kim Dokja isn't exactly the type of guy who's good at anything.

Demon King of Salvation terdiam sesaat, seolah sedang berpikir dalam, sebelum melanjutkan. Di sela keheningan itu, cerita tentang kehidupan Kim Dokja bermunculan.

—He's a human whose only redeeming quality, if you can call it that, is his love of reading.

Dengan sarkasme santainya yang khas, Demon King of Salvation menggambarkan Kim Dokja.

—Is that all? He's a born slacker, and his mental strength isn't particularly strong either. On the contrary, he is a guy who despairs more deeply than anyone and gets hurt more easily. He gets sad at the slightest provocation, and then rejoices like a fool.

Karena kupikir mungkin ini bukan sepenuhnya cerita tentang ‘Kim Dokja’, aku bertanya.

"Was it like that for you, too?"

Pemandangan semesta terpantul di balik labu transparan itu. Dunia tempat Great Sage Equal to Heaven hidup sudah tidak terlihat lagi.

Meski begitu, di suatu tempat di semesta itu, Great Sage Equal to Heaven pasti masih ada. Disegel di bawah Mount Five Elements yang besar, dia pasti sedang tertidur sambil memikul seluruh berat tragedi itu.

—That was true.

Demon King of Salvation menjawab sambil memandang semesta yang sama denganku. Kami melihat semesta yang sama, namun membayangkan pemandangan yang berbeda. Aku membayangkan Great Sage Equal to Heaven, dan Demon King of Salvation...

「 [You have only seen this story up to this point.] 」

Dia pasti sedang memikirkan ‘Uriel’.

"How did you overcome it?"

Aku ingin tahu. Bagaimana Demon King of Salvation—Kim Dokja—bertahan dari kesedihan kehilangan Uriel dalam final scenario?

—I couldn't overcome it.

"…"

—I always lost to stories.

Kami bersama-sama memandangi semesta yang mengalir itu, <Star Stream>. Final scenario semakin mendekat.

—Youngest.

"Yes."

—I believe you are already a sufficient 'one Kim Dokja'.

Terkejut oleh kata-kata itu, aku menggigit bibir sejenak lalu bertanya balik.

"Why do you think so?"

—Because only Kim Dokja can doubt the fact that he is 'Kim Dokja'.

"…"

—Because only 'Kim Dokja' will think about what 'Kim Dokja' is. In that sense, you are already an excellent Kim Dokja.

Berbicara seolah sedang melanjutkan narasi tenang, Demon King of Salvation melanjutkan.

—There might be more painful things ahead. Perhaps terrible stories are waiting for you. But there will be joyful things too. You will laugh or cry like a fool again, and get hurt.

Aku melihat bintang-bintang berkelip di semesta yang jauh.

—And all of that becomes a story.

Tanpa memahami mengapa kata-kata itu terasa menghibur, aku mendengarkannya.

—No matter what anyone says, you have a story left. It’s not a Zen riddle. Look, there is a story left even now.

Baru saat itu aku melihat sekeliling. Isi labu itu kini terlihat jauh lebih jelas. Demon King of Salvation benar.

Aku memang satu-satunya orang di sini, tapi sebenarnya aku tidak sendirian.

[The story fragment, 'Time to Brush Teeth', begins its storytelling.]

Awalnya kukira itu debu. Namun ketika kulihat lebih dekat...

[The story fragment, 'Memory of a Failed Omurice', begins its storytelling.]

Itu adalah rambut seseorang.

[The story fragment, 'Special Push-up Training', begins its storytelling.]

Dengan mulut ternganga linglung, aku menatap pemandangan rambut emas yang beterbangan seperti salju.

Lalu, pada suatu saat, sehelai rambut yang menyentuh ujung jariku menghamburkan debu kecil dengan suara ‘pop’. Tak lama kemudian, aku merasakan sesuatu menempel erat di bahuku.

Seekor bayi monyet berdiri di sana.

Bayi monyet kecil yang mengingatkanku pada little Kim Dokja.

"Great Sage Equal to Heaven."

Saat aku memanggil namanya, para bayi monyet berkumpul di sekelilingku seolah menjawab panggilan itu. Ketika fragmen cerita berkumpul di satu tempat, suasana hangat dan nyaman menyelimuti area itu.

「 And all of that becomes a story. 」

Kenangan yang dihargai Great Sage Equal to Heaven ada di sini.

Pada saat berikutnya, salah satu bayi monyet yang berada di dekatku dengan ringan menggenggam tanganku.

「 [Is there the youngest in that world, too?] 」

Saat mendengar suara familiar itu, aku merasa pusing. Rasanya seperti bertatapan dengan Great Sage Equal to Heaven. Sebuah kenangan lama muncul dalam pikiranku.

「 [The constellation, 'Oldest Liberator', gazes upon you.] 」

Aku yakin pernah melihat pesan itu sebelumnya. Itu terjadi pada hari aku menganalisis sejumlah besar rambut di ‘Scales of Settlement’.

Aku buru-buru memeriksa nama fragmen cerita yang memegangku.

[Story fragment, 'Encounter with the Wenny King', begins its storytelling.]

Baru saat itu semuanya terasa masuk akal.

Ini adalah kenangan Great Sage Equal to Heaven.

Pada hari aku merasakan tatapan Great Sage melalui ‘Scales of Settlement’, Great Sage memang pergi menemui Wenny King.

「 【How is it. The 'Kim Dokja' of that world.】 」

Great Sage membalas dengan suara tajam kepada Wenny King yang terdengar anehnya congkak.

「 [What ultimately happens to the end of that world? What is contained within this '■■ of all stories'?] 」

Tidak seperti diriku yang berhati-hati memilih pertanyaan, Great Sage melontarkannya tanpa ragu.

「 [You arrogant fool, surely you can see something. Or not?] 」

Wenny King tersenyum masam, merasa Great Sage Equal to Heaven lucu, lalu membuka mulutnya.

「 【Shining star, you cannot see the '■■ of all stories'. It is a landscape not permitted to you. Don't you already know this?】 」

Mendengar pertanyaan Wenny King, Great Sage Equal to Heaven mengangguk setelah diam sejenak.

「 【Then it is time to ask the real reason you sought me out.】 」

Wenny King membentangkan kedua tangannya lebar-lebar seperti seorang aktor yang sedang memainkan sandiwara berlebihan. Lengannya berderit dan bergerak seperti timbangan. Seolah sedang mencoba mengukur nilai bintang yang berada tepat di depannya.

「 【I ask, Great Star. What are you curious about that you have come here, staking your entire story?】 」

Great Sage Equal to Heaven melirik Wenny King, lalu kembali menatapku di balik timbangan.

「 ['The One and Only Kim Dokja.'] 」

Dia bertanya dengan suara jelas dan tegas.

「 [Is that 'a story that truly exists'?] 」

1012 Episode 62 Snowfield Kim Dokja (2)

Wenny King tidak langsung menjawab bahkan setelah mendengar pertanyaan dari Great Sage Equal to Heaven. Seperti manusia yang menghitung bintang-bintang, dia mengamati fragmen cerita yang melayang di sekitarnya cukup lama sebelum akhirnya bertanya balik.

「 【Do you not already know the answer?】 」

Wenny King berbicara seolah merasa geli karena bukan lain adalah Great Sage Equal to Heaven yang mengajukan pertanyaan itu.

「 【Because you, too, are a being capable of using 'clones'.】 」

Bahkan tanpa exclusive skill [Avatar] milik Han Sooyoung, ada beberapa cara untuk membelah tubuh di dalam <Star Stream>.

Sebagai contoh, bintang-bintang yang telah hidup sangat lama bisa membagi cerita mereka untuk membentuk tubuh avatar sementara, dan ada pula mereka seperti Great Sage Equal to Heaven yang menciptakan ‘clones’ dengan meniupkan cerita ke dalam fragmen tubuh avatar mereka.

「 【Just because you injected a part of the story into your 'clone', can you say that you are no longer the 'Great Sage Equal to Heaven'?】 」

Great Sage Equal to Heaven menggelengkan kepala. Lalu Wenny King berbicara.

「 【Yes. Usually, people don't bother to question that. Just because they lost some story, they don't say things like 'they are no longer 100 percent'. Do you know why that is?】 」

Great Sage Equal to Heaven berpikir sejenak lalu menjawab.

「 [Because we are always losing stories.] 」

Wenny King mengangguk sambil tersenyum puas mendengar jawaban itu.

「 【You are right. Every being lives while gradually losing the stories they possess. If we assume that a state where all stories are intact is '100 percent', then we are essentially always moving toward a state that is not '100 percent'.】 」

「 […] 」

「 【Therefore, your question must start again from here. What exactly is the 'One and Only Kim Dokja'? If that is what '100% Kim Dokja' means, then what exactly is the definition of '100%'?】 」

Kim Dokja yang mana yang bisa disebut sebagai ‘100% Kim Dokja’?

「 【Existences lose stories over time, but they also gain more. In particular, beings who actively live out the scenario gain more stories as time passes. In other words—】 」

「 [The total amount of 100% might continue to grow over time.] 」

「 【What point in time do you think can serve as the standard for '100%'? The point in time when he possessed the most memories? Or, the point in time when he was most loved by the stars?】 」

Ketika Great Sage Equal to Heaven tidak bisa menjawab dengan mudah, Wenny King kembali berbicara.

「 【It is the same even if you define '100%' based on a specific point in time. For instance, let us assume that Kim Dokja 'just before being split into fragments' is '100 percent'—that is, the 'complete form'.】 」

Wenny King melayangkan sebuah timbangan kecil di udara dan meletakkan beban pada salah satu sisinya. Lengan timbangan perlahan miring. Wenny King kemudian meletakkan beban lain pada sisi berlawanan yang telah miring itu.

「 【Then what about the 'Kim Dokja' from before that?】 」

Timbangan itu kembali miring.

「 【Is the other Kim Dokja who did not reach that time 'incomplete'? Is the 'Kim Dokja' who started the scenarios not '100 percent' at that point?】 」

Sambil menatap timbangan yang terus berayun, Great Sage Equal to Heaven tenggelam dalam pemikiran.

Kim Dokja yang mana yang bisa disebut ‘100 persen’? Bahkan dia, yang telah hidup begitu lama, tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan itu. Dan berdasarkan kebijaksanaannya, dalam kasus seperti ini, biasanya masalahnya bukan terletak pada ‘jawaban’.

「 [Was that the wrong question?] 」

Wenny King tersenyum samar. Baru saat itu Great Sage Equal to Heaven memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan Wenny King. Pada akhirnya, Wenny King menghabiskan waktu panjang hanya untuk menjelaskan satu kalimat kepadanya.

「 【Only those who love the 'Oldest Dream' obsess over that concept of '100 percent'. It is likely a desire to fully reclaim the starlight they once loved.】 」

「 [So, it means it is impossible in the end.] 」

Great Sage Equal to Heaven juga mengetahuinya. Bahwa konsep ‘100 percent Kim Dokja’ tak lebih dari delusi yang diciptakan oleh mereka yang terlalu mencintainya.

Meski begitu, Great Sage Equal to Heaven tidak bisa menyalahkan mereka yang mengembara demi mencari Kim Dokja seperti itu. Karena dia juga memahami perasaan mereka.

Great Sage Equal to Heaven mengingat wajah-wajah yang sudah lama ia rindukan. <Kim Dokja Company>, yang memilih ending berbeda darinya.

Keberadaan-keberadaan yang telah menyaksikan akhir dunia bersama ‘Oldest Dream’.

「 【It’s impossible… I never said that.】 」

Mungkin karena ia terlalu tenggelam memikirkan mereka. Untuk sesaat, Great Sage Equal to Heaven tidak memahami kata-kata Wenny King.

「 [What did you just say?] 」

Wenny King menyeringai sambil melihat mata emas menyala milik Great Sage Equal to Heaven bergetar.

「 【Even after living for so long, your imagination is still lacking. Do you think that 'impossible stories' exist in this <Star Stream>?】 」

「 [Didn't you explain it that way until now?] 」

「 【That is what I mean if you explain it logically. But as you and I both know, this <Star Stream> is not constructed so coherently.】 」

Wenny King mengetuk fragmen cerita yang melayang di udara. Cerita sejati yang baru disentuhnya adalah cerita yang juga sangat dikenal oleh Great Sage Equal to Heaven.

「 "Let's go with the third method." 」

Saat menghadapi scenario mustahil, Kim Dokja selalu mengejar ‘third method’ yang tidak dipilih siapa pun.

Para bintang merasa iri, bersorak, dan menjadi gila saat melihat Kim Dokja berkali-kali bertahan hidup di ambang kematian. Kim Dokja selalu menjalani cerita mustahil seperti itu.

Jika dunia ini benar-benar sekoheren itu, cerita-cerita tersebut bahkan tak akan pernah bisa ada.

「 【If the 'Oldest Dream' wishes to dream, that dream will surely find a way to be realized. Even if it is a 'square circle'.】 」

「 [What is that 'way'? How is a single 'Kim Dokja' created?] 」

「 【That story is already being realized. Because those who love him desire that story, the 'Oldest Dream' has also begun to dream it. All you and I can do is simply watch it.】 」

Hanya menonton.

Dengan ekspresi itu, Wenny King pada dasarnya telah mengeluarkan semacam perintah pengusiran. Itu berarti bahkan dia, yang berada di tempat tertinggi di langit dunia ini, dan Great Sage Equal to Heaven pun hanya bisa menyaksikan, jadi pertanyaan yang tidak perlu harus dihentikan.

Namun, Great Sage Equal to Heaven tidak mundur. Dia mengajukan pertanyaan penting yang selama ini dia sembunyikan.

「 [Does the 'Very Giant Baby' want that story too?] 」

Saat mendengar pertanyaan itu, aku terkejut.

A Very Giant Baby.

Great Sage Equal to Heaven juga mengetahui keberadaan yang pernah diceritakan Han Sooyoung kepadaku, dan yang pernah kutanyakan kepada Wenny King.

「 [I know that such a being exists behind the name of the 'Oldest Dream'.] 」

Tidak seperti diriku, Great Sage Equal to Heaven tidak ragu sedikit pun untuk menanyakan tentang keberadaan itu.

「 [I want to know about that being. Tell me everything you know.] 」

Beberapa waktu lalu, saat berbicara denganku, Wenny King pernah mengusulkan sebuah transaksi. Dia memintaku agar jika suatu hari aku mencapai tempat di mana ‘Very Giant Baby’ berada, aku juga memberitahunya tentang pemandangan di sana.

「 【That answer cannot be found even if you count all your stories.】 」

Sikapnya anehnya berbeda dibanding ketika dia berbicara denganku. Untuk sesaat, aku merasa ragu. Mungkin ‘Wenny King’ mengetahui lebih banyak tentang ‘very giant baby’ daripada yang pernah dia katakan padaku.

「 【Because what you are curious about is the cause and the 'result' of all these stories.】 」

Penyebab dan hasil dari seluruh cerita ini.

Sampai sekarang, satu-satunya keberadaan yang cocok dengan penjelasan seperti itu hanyalah ‘Oldest Dream’.

Wenny King, yang menatap mata emas menyala milik Great Sage Equal to Heaven, menghela napas ringan lalu menambahkan.

「 【All I can show you is the 'process'. If that is acceptable, I will show it to you.】 」

「 [What is the price?] 」

「 【Give me the story you wish to give.】 」

Great Sage Equal to Heaven berpikir sejenak lalu mengeluarkan sebuah fragmen cerita dari balik dadanya. Fragmen itu begitu hancur hingga bahkan namanya pun samar. Meski begitu, fragmen cerita di tangan Great Sage Equal to Heaven sedang mengoceh tentang sesuatu.

「 "■■, we can ■■ the world." 」

Wenny King memperhatikan cerita itu dengan saksama lalu tersenyum.

「 【It is an interesting story. Let's make a deal.】 」

Aku teringat pernah melihat cerita itu di markas ‘Wenny King’. Apakah itu sebabnya Wenny King memilikinya?

「 【Here, this is—】 」

Wenny King mengambil cerita dari Great Sage Equal to Heaven lalu memberinya cerita yang dia inginkan.

「 【It is the process of heading toward the '■■■'s Deep Sea.】 」

Anehnya, pada saat itu, kata-kata Wenny King terdengar jelas di telingaku tanpa penyaringan apa pun.

Sesaat kemudian, cerita yang memancarkan cahaya putih di telapak tangan Wenny King mulai menceritakan kisahnya.

Itu adalah...

「 Thus, the 'Deceiver of the Stars' finally reached the reward of the scenarios. 」

Sebuah cerita tentang Kim Dokja, yang juga sangat kukenal.

「 "Your name is Kim Dokja." 」

Sedikit orang yang mengingat momen ketika mereka lahir.

Karena ‘first memory’ selalu menjadi ‘memory that is erased first’.

Kenangan dari masa ketika seseorang bahkan belum bisa memahami apa itu ‘memory’. Pemandangan yang paling cepat mencair seperti serpihan salju pertama yang jatuh.

「 He remembered the moment he was born. 」

Hal pertama yang dilihatnya setelah lahir adalah langit putih bersih.

Sebuah snowfield tempat serpihan salju dingin beterbangan.

Dengan snowfield itu sebagai latar, seseorang sedang menatapnya.

"Your name is Kim Dokja."

Itu adalah seorang pria berambut pirang dengan mata menyipit.

「 In the pure white snowfield, he met his father. 」

Kenangan saat itu terasa jelas sekaligus samar. Mungkin karena salju yang turun tanpa henti.

Badai salju yang terus turun tanpa akhir. Saat mengingat badai itu, Kim Dokja memikirkan kertas manuskrip raksasa.

"What is that?"

"It is a story."

Tindakan menuliskan kata-kata asing satu per satu di atas lembar manuskrip besar dan sunyi.

Masa kecilnya adalah proses memahami bahwa setiap cerita yang tersebar di dunia memiliki bentuknya masing-masing.

"What is a story?"

"Shall I call it a story?"

Di dunia itu, ada banyak cerita yang mengajarinya. Kim Dokja bisa membaca cerita-cerita itu hanya dengan membuka matanya lebar-lebar.

「 "Save me! Aaaargh!" 」

Kim Dokja berlari melewati fragmen cerita yang berjatuhan dengan kedua tangan terulur dan mulut menganga.

「 "Kill them all. Do not spare a single one. I will swear by my modifier and annihilate their nebula." 」

Beberapa cerita terasa menyeramkan.

「 "No matter what happens, I will not let my incarnation die." 」

Beberapa cerita terasa khidmat.

「 "Why, why on earth must we go through such things? Oh God." 」

Dan sebagian besar cerita tidak ramah bagi anak kecil itu. Setiap kali menemukan sesuatu yang tidak diketahuinya, Kim Dokja akan bertanya kepada ayahnya. Untungnya, ayahnya sabar dan selalu menjawab pertanyaannya dengan baik.

"That character needs a reason not to blame his own weakness. He wants to believe that the reason for his failure lies not with him. That is why he seeks God."

"So, in the end, it all happened because that person was weak?"

"Some stories are created that way."

Setelah mendengarkan penjelasan panjang itu, Kim Dokja merasa lapar.

Sambil menguap ringan, Kim Dokja menatap kosong tumpukan cerita di lantai lalu bertanya.

"Can I eat this?"

Mendengar itu, ayahnya mengangguk dan berkata seolah merasa cukup terhibur.

"If you want, go ahead and try it."

"You eat some, too."

"It’s not really my taste, though..."

Ayah dan anak itu duduk berdampingan sambil menyendok salju. Rasa fragmen cerita yang hancur di antara gigi mereka. Beberapa cerita terasa manis, yang lain terasa sedih. Tanpa memahami mengapa rasanya manis atau sedih, Kim Dokja berkata,

"Is it delicious?"

"I don't know."

Ayahnya tersenyum samar, seolah menikmati melihat Kim Dokja menyendok salju.

Kim Dokja menatap ayahnya sejenak lalu bertanya,

"What is your name, Father?"

"It is Cheon Inho."

"Cheon-ssi?"

"Yes."

"I'm a Kim-ssi, you know."

"That's right."

Melihat ayahnya menjawab tanpa banyak berpikir, Kim Dokja memiringkan kepala.

"That's strange."

Mendengar pertanyaan Kim Dokja, ayahnya terdiam sejenak lalu bertanya,

"Did you realize that it is strange?"

Kim Dokja menatap ayahnya dengan sedikit cemberut lalu bertanya,

"Why did you name me Kim Dokja?"

Kim Dokja tahu bahwa ayahnya adalah pria cerdas. Meski selalu memandang dunia dengan mata menyipit, melalui celah sempit itu, dia memahami dunia lebih akurat daripada siapa pun.

Karena itulah Father tidak pernah ragu saat menjawab pertanyaan.

"Hmm."

Untuk pertama kalinya, Father yang selalu seperti itu tampak tenggelam dalam jawabannya. Ekspresinya seolah sedang mempertimbangkan apakah dia harus memberitahukan jawaban itu atau tidak.

Saat Kim Dokja memakan segenggam lagi fragmen cerita, Father membuka mulut dengan suara rendah.

"That is the protagonist's name."

"What is a protagonist?"

Father menyapu fragmen cerita yang berserakan di lantai dengan tangannya yang besar. Ketika fragmen-fragmen yang sebelumnya sedang melanjutkan cerita mereka di sana-sini hancur di bawah sentuhannya, sebuah ruang kosong bersih segera tampak menonjol.

Father memegang tangannya dan mulai menuliskan sebuah nama di ruang kosong itu.

「 Kim 」

Melihat nama itu ditulis satu karakter demi satu karakter, Kim Dokja merasa sedikit takut. Father memegang tangan kecilnya dan terus menulis nama itu.

「 Dok 」

Setiap satu karakter ditulis, terdengar suara fragmen yang tersapu meratap. Kim Dokja secara naluriah mencoba menarik tangannya. Namun Father menarik tangannya dengan kekuatan lebih besar dan menyelesaikan nama itu.

「 ja 」

Nama itu akhirnya selesai.

Dia melihat nama itu bersama ayahnya. Anehnya, tangisan cerita yang sebelumnya begitu keras sampai akhir perang tidak lagi terdengar.

"Dialah satu-satunya makhluk yang layak dicatat di dunia ini."

1013 Episode 62 Snowfield Kim Dokja (3)

Di hamparan snowfield yang mengerikan sunyinya itu, Kim Dokja membaca nama tersebut berulang kali.

Kim Dokja. Saat dia tanpa sadar menggumamkan nama itu, ayahnya mengangguk.

"Itu adalah namamu."

Namaku. Kim Dokja mengulang gema samar yang terkandung dalam nama itu berkali-kali. Lalu, nama yang awalnya terasa asing perlahan mulai terasa seperti miliknya sendiri.

Kim Dokja. Itulah namanya.

"Tapi bukankah tetap mungkin untuk dicatat meskipun bukan protagonis?"

Kim Dokja berkata sambil menatap salju yang beterbangan di udara. Badai serpihan cerita salju yang berkecamuk secara real-time.

Beberapa catatan pendek, beberapa panjang. Namun, semuanya tercatat di sana. Kemalangan seseorang, kesedihan seseorang, suka dan duka mereka—semuanya tertulis dengan setara, tanpa keberpihakan.

Beberapa cerita menarik, dan yang lain membosankan, tetapi bagaimanapun juga, cerita-cerita itu adil bagi semua orang.

Begitulah sampai dia mendengar cerita ayahnya.

"Itu berbeda."

Salju kembali menumpuk di atas nama Kim Dokja. Menyaksikan salju menutupi tempat itu dengan tebal hingga bahkan keberadaan nama itu tak terlihat lagi, ayahnya bangkit dari duduknya.

"Semua cerita ini pada akhirnya berkontribusi pada satu cerita tunggal."

"Semua cerita ini?"

"Ya."

Itu sulit dipercaya.

"Kesedihan seseorang, kebahagiaan seseorang, gairah dan penderitaan mereka. Bahkan hidup dan mati. Semuanya ada demi menyempurnakan satu cerita yang sempurna."

"Apakah itu cerita sang 'protagonist'?"

"Ya."

Semua salju ini turun hanya demi satu orang.

"Itulah."

Saat perlahan memejamkan mata, serpihan salju yang jatuh menyentuh pipi Kim Dokja.

"Itu manis."

Serpihan salju itu sedang berbicara. Nama protagonis ada di semua cerita itu. Setiap cerita ada demi menyempurnakan cerita protagonis.

Bagi Kim Dokja, kata-kata itu terdengar seperti ini.

「 Sang protagonis tidak kesepian. 」

Di tengah kesadaran yang menghibur itu, Kim Dokja tiba-tiba membuka matanya. Ayahnya sedang menatap ke suatu tempat dengan membelakanginya.

Apa yang sedang dilihatnya? Punggung ayahnya tampak lebih kecil dari biasanya. Saat dia mengulurkan tangan dan menyentuh punggung itu, sebuah cerita yang mengalir turun darinya mendarat di ujung jarinya. Kim Dokja membaca cerita itu.

「 Ada seorang pria di sana. 」

Sosok dalam cerita itu bukan ayahnya. Rambut hitam. Seorang pria dengan mantel hitam legam yang berkibar tertiup angin berada di sana. Seorang pria yang memandang dunia dengan tatapan tajam khasnya.

Kim Dokja menatap kosong cerita itu lalu berkata.

"Orang ini..."

Ayahnya, yang menyadari cerita apa yang sedang dilihat Kim Dokja, tiba-tiba berbalik. Lalu, merebut cerita itu dari tangan Kim Dokja, dia berkata.

"Itu adalah protagonis."

"Ada protagonis lain?"

Ayahnya terdiam sejenak lalu mengangguk.

"Karena itu adalah 'cerita' yang berbeda."

Protagonis dari cerita lain.

Kim Dokja perlahan berkedip dan mengingat pria itu.

"Dia terlihat kesepian."

Ayahnya tidak menjawab perkataan Kim Dokja.

Sambil memakan salju yang jatuh dari langit, Kim Dokja akhirnya mulai bisa membedakan rasanya. Mana yang manis dan mana yang pahit.

Dia juga mempelajari apa yang sopan dan apa yang kasar (sekitar masa inilah Kim Dokja mulai menggunakan bahasa formal).

Dia juga mempelajari tentang baik dan jahat serta moralitas. Semua itu diajarkan oleh cerita.

Dia tumbuh besar sambil membaca tak terhitung banyaknya cerita berulang kali. Dalam proses itu, dia bahkan memiliki cerita favorit.

「 "Dokja-ssi." 」

Di antara semuanya, cerita yang paling disukai Kim Dokja adalah—tentu saja, cerita tentang dirinya.

「 "Dokja-ssi! Tidak! Dokja-ssi!" 」

Saat melihat sosok dalam cerita memanggil Kim Dokja, dia merasakan emosi yang tak bisa dijelaskan.

Cerita itu rusak di banyak bagian, jadi nama mereka yang memanggilnya tidak bisa dibaca dengan jelas. Meski begitu, mereka jelas sedang memanggilnya dan mengucapkan kata-kata yang sama.

「 "Tidak! Kim Dokja!" 」

"Kenapa orang-orang ini selalu bilang itu tidak boleh dilakukan?"

"Karena kau telah melakukan banyak tindakan yang seharusnya tidak kau lakukan."

Rasanya agak menjengkelkan. Seperti dimintai pertanggungjawaban atas kesalahan yang sudah lama dilupakan.

「 "Dokja-ssi!" 」

Kim Dokja membaca bagian ketika orang-orang terus memanggil namanya berulang kali. Lalu dia bertanya.

"Tapi bukankah semua itu dilakukan demi orang-orang itu?"

"Menurutmu begitu?"

"Pada akhirnya, sepertinya aku menyelamatkan hidup mereka."

Dalam cerita itu, Kim Dokja mempertaruhkan nyawanya sendiri berkali-kali demi menyelamatkan nyawa orang lain, bukan dirinya sendiri.

Mengangguk setuju, ayahnya berkata,

"Dari sudut pandang itu, kau benar."

"Bukankah begitu?"

"Karena itu, mereka harus terus menundukkan kepala dan berterima kasih padamu sampai mati."

"Tapi kenapa orang-orang ini terlihat seperti membenciku?"

"Apakah itu tertulis seperti itu?"

"Tidak."

Tidak ada satu pun catatan yang menggambarkan kelompok itu membenci Kim Dokja. Namun Kim Dokja merasakannya seperti itu. Dalam cerita, mereka jelas merasa kesal terhadapnya.

"Itu adalah perasaan yang sangat sulit untuk kujelaskan."

"Jelaskan padaku. Father tahu segalanya."

"Bukan berarti aku tahu segalanya. Terutama jika itu tentang mereka."

<Kim Dokja Company>, begitulah cerita itu menyebut mereka.

Setelah berpikir sejenak, Kim Dokja kembali berbicara.

"Orang-orang ini, nama kelompok mereka adalah <Kim Dokja Company>, jadi kenapa mereka memperlakukan Kim Dokja dengan kasar?"

"…"

"Rasanya tidak adil. Mereka hanya memikirkan bagaimana memperlakukannya dengan buruk dan membatasinya setiap ada kesempatan, padahal dia sudah berusaha sejauh itu untuk menyelamatkan mereka."

Ayahnya bertanya sambil mengagumi gagasan itu seolah sangat segar.

"Menurutmu itu tidak adil?"

"Ya. Karena aku juga Kim Dokja. Kim Dokja seharusnya yang marah atas urusan Kim Dokja!"

"Menurutku, itu tidak terlalu tidak adil."

"Kenapa? Aku bahkan mempertaruhkan nyawaku?"

"Kau memang seseorang yang suka mempertaruhkan nyawanya."

Setelah berpikir sejenak, Kim Dokja menggelengkan kepala seolah itu mustahil.

"Mana ada orang seperti itu?"

"Itulah tepatnya masalahnya."

"Apa?"

"Hidup itu berharga bagi semua orang. Tapi kau mempertaruhkannya dengan sembrono."

"Itu hidupku sendiri, jadi kenapa? Aku mempertaruhkan hidupku untuk menyelamatkan mereka, jadi kenapa—"

"Mereka."

Mata menyipit ayahnya sedikit terbuka. Merasakan emosi ayahnya merembes melalui celah itu, Kim Dokja mendengarkan kata-katanya.

"Karena mereka mencintaimu."

Cinta. Kim Dokja menatap kosong cerita yang baru saja dibacanya. Dia melihat Kim Dokja di dalam cerita dan <Kim Dokja Company>.

Kenapa? Setelah mendengar kata itu, semua cerita yang telah dia baca terasa berbeda.

Menelan getaran kecil, Kim Dokja bertanya.

"Apa itu cinta?"

Ayahnya kembali tenggelam dalam pemikiran. Melihat ayahnya berpikir cukup lama, Kim Dokja berpikir mungkin ayahnya tidak tahu apa itu ‘cinta’.

"Itu berarti aku menyukai semua ceritamu."

Aku menyukai semua ceritamu. Bahkan dengan penjelasan ayahnya, Kim Dokja hampir tidak bisa memahami arti kata-kata itu.

"Father, apakah Father juga mencintaiku?"

"Tidak, aku hanyalah seseorang yang memanfaatkanmu."

"Memanfaatkan? Bagaimana?"

"Aku berharap kau tumbuh cukup kuat untuk mewujudkan mimpiku."

"Apa mimpi Father?"

"Menjadi protagonis."

Kim Dokja menatap kosong dengan mulut menganga.

"Itu benar?"

"Ya, benar."

"Apakah Father mungkin orang jahat?"

"Aku suka kejujuranmu itu. Tolong teruslah sejujur itu."

Kim Dokja terus membaca cerita. Kisah Kim Dokja dan <Kim Dokja Company>. 『Omniscient Reader's Viewpoint』.

"Apakah father muncul dalam cerita ini?"

"Ya, muncul."

"Di mana?"

Ayahnya membolak-balik fragmen cerita yang sedang dibacanya lalu menunjuk sebuah bagian.

"Di sini."

Kim Dokja mulai membaca bagian yang ditunjuknya. Itu adalah bagian yang pernah dia baca sebelumnya. Namun, itu adalah bagian yang tidak terlalu dia perhatikan karena dia membacanya terlalu cepat. Ayahnya hidup di dalam cerita bagian itu.

"Itu father?"

Saat Kim Dokja bertanya balik dengan tidak percaya, ayahnya menjawab dengan ekspresi masam.

"Ya, benar."

"Wow, dia terlihat sangat menyedihkan."

"Mengatakan hal seperti itu tepat di depan orangnya pasti menyakitkan."

Ayah dalam cerita itu adalah seorang villain. Bukan villain besar, hanya villain kecil. Dia adalah penguasa sebuah stasiun kecil, dan setelah menghasut orang-orang di sana, dia dibunuh oleh Kim Dokja dan kelompoknya.

"Dia mati dengan sangat kejam."

Melihat Kim Dokja membaca kisah kematian itu dengan begitu tertarik, ayahnya bertanya.

"Apakah kau merasa kasihan pada ayahmu?"

"Aku merasa kasihan."

Kim Dokja mempertimbangkan arti kata-kata itu dengan hati-hati sebelum menjawab.

"Sedikit."

"Kalau begitu, tolong balaskan dendamku."

"Bagaimana caranya?"

"Pukuli orang-orang yang membunuhku."

"Maksud Father Kim Dokja dan Kim Dokja Company?"

Ayahnya mengangguk.

"Apakah kau tidak membenci mereka? Merekalah yang membunuhku dengan brutal, dan merekalah yang membuatmu ada di sini dalam kesepian. Pada akhirnya, semuanya karena mereka."

Sekarang, Kim Dokja tahu arti itu. Dia telah mendengar semuanya dari ayahnya.

Bahwa dia adalah bagian dari ‘Kim Dokja’. Dan bahwa akibat <Kim Dokja Company> mencoba merebutnya kembali, dia hancur berkeping-keping dan jatuh ke snowfield ini.

"Mereka bahkan membunuh satu-satunya ayahmu dengan brutal."

"Kalau bicara secara ketat, itu adalah father dari timeline yang berbeda."

"Apakah kau tidak merasa kasihan pada versiku dari timeline lain itu?"

"Itu karena father dari timeline lain melakukan sesuatu yang salah. Dan—"

Kim Dokja berkata sambil perlahan menelusuri adegan dirinya hancur menjadi fragmen dengan tangannya.

"Kalau bukan karena mereka, aku bahkan tidak akan pernah lahir."

"…"

"Lagipula, aku mungkin juga tidak akan bisa bertemu father."

Mendengar kata-kata itu, ayahnya tersenyum samar lalu berkata,

"Kau jelas tidak cocok menjadi villain."

"Apakah Father mencoba menjadikanku villain?"

"Aku berniat menjadikanmu protagonis."

"Bagaimana caraku menjadi protagonis?"

Mendengar pertanyaan itu, ayahnya kembali tenggelam dalam pemikiran mendalam. Kali ini benar-benar pemikiran mendalam. Melihat ekspresi ayahnya, Kim Dokja menyadari.

「 Dia tidak tahu jawabannya. 」

Mungkin karena bersemangat karena untuk pertama kalinya dia mengajukan pertanyaan yang tidak diketahui ayahnya, Kim Dokja menggerutu lalu berbaring di lantai. Merasakan salju dingin menyelimuti seluruh tubuhnya dengan lembut, Kim Dokja membuka mulutnya seperti orang bodoh. Sebuah serpihan salju lembut jatuh di ujung lidahnya.

Ayahnya, yang diam-diam menatap Kim Dokja, juga duduk di sampingnya.

"Tidak bisakah kita terus hidup seperti ini saja?"

Sambil menikmati serpihan salju yang terus turun tanpa henti dan cerita-cerita yang terkandung di dalamnya, Kim Dokja perlahan berkedip.

"Di sini, kalau membuka mulut lebar-lebar seperti ini saja, makanan jatuh dari langit."

"Itu bukan untuk dimakan."

"Tapi."

"Ini juga bukan kehidupan yang layak."

"Kalau bukan kehidupan yang layak, apakah berarti kita tidak boleh hidup?"

"Kata-kata seperti itu hanya bermakna jika diucapkan oleh seseorang yang tahu seperti apa kehidupan yang layak itu."

Mendengar kata-kata ayahnya, Kim Dokja menggembungkan pipinya lalu menggerakkan tangan dan kakinya. Saat dia melakukannya, bekas yang tertinggal di salju persis berbentuk anggota tubuh kecilnya.

"Aku benar-benar tidak masalah hidup di sini hanya berdua dengan Father."

Napas panjang kembali keluar dari bibir ayahnya. Napas itu berubah menjadi fragmen cerita kecil lalu tersebar pelan.

"Apakah kau senang bertemu denganku?"

"Aku menyukainya."

"Meskipun ayahmu hanyalah villain kecil yang menyedihkan?"

"Bukan di sini."

"Apakah kau tidak bahagia?"

"Kenapa aku harus tidak bahagia?"

"Karena kau adalah anak seorang villain."

"Tidak apa-apa."

"Kau tidak bahagia."

"Kenapa?"

"Karena kau tidak menyadari bahwa kau tidak bahagia."

Kim Dokja memiringkan kepalanya.

"Aku tidak tidak bahagia."

Ayahnya tidak berkata apa-apa lagi. Mungkin karena keheningan terasa canggung, Kim Dokja berbicara.

"Ceritakan sedikit tentang diri Father."

"Maksudmu?"

"Hanya cerita hidup Father."

Baru terpikir olehnya bahwa dia belum pernah mendengar cerita yang layak tentang ayahnya.

"Itu bukan cerita yang istimewa."

"Tidak apa-apa juga."

Ayahnya berpikir sejenak lalu perlahan mulai berbicara.

"Aku menjalani hidup dengan tujuan melampaui satu orang."

"Siapa itu?"

Mungkin karena pembukaannya terasa bermakna, jantung Kim Dokja berdetak aneh. Bibir ayahnya perlahan terbuka.

"Nama pria itu adalah."

Saat mengenang kembali setelah waktu yang sangat lama, mungkin ayahnya sudah mengetahuinya sejak saat itu. Bahwa saat dia mengucapkan nama itu, Kim Dokja akan mengingatnya selamanya.

"Yoo Joonghyuk."

Dan Kim Dokja, setelah mempelajari nama itu, suatu hari nanti pasti akan—

"Itu adalah Supreme King, Yoo Joonghyuk."

Bahwa dia akan ingin pergi keluar dari ‘snowfield’ ini.

1014 Episode 62 Snowfield Kim Dokja (4)

"Yoo Joonghyuk. Itu orang yang pernah Father tunjukkan padaku sebelumnya, kan?"

Father tersenyum samar mendengar pertanyaan cepat tanggap Kim Dokja.

"Jadi kau tahu?"

"Aku merasa mungkin itu dia."

Pria bermata tajam dan mengenakan mantel hitam legam yang pernah muncul dalam cerita Father beberapa waktu lalu. Kim Dokja mengingat penampilan pria itu dengan jelas.

"Yah, dia memang pria yang sulit dilupakan sekali kau melihatnya."

"Itu pertama kalinya Father mengambil cerita agar aku tidak membacanya."

"Karena saat itu kau belum terbiasa dengan cerita."

Kim Dokja memiringkan kepalanya sejenak lalu bertanya.

"Apa hubungannya dengan itu?"

"Karena kalau kau mulai membaca cerita pria itu, kau akan terus membaca hanya cerita itu saja."

"Kenapa?"

"Begitulah cerita seorang protagonis."

Sang protagonis. Father memang pernah memanggilnya protagonis sebelumnya juga.

"Aku juga pernah melihat orang itu di cerita lain."

"Tentu saja. Dia protagonis."

"Kalau begitu, apakah cerita-cerita di alam semesta ini ada demi orang itu?"

Father jelas pernah mengatakan itu. Bahwa pada akhirnya, semua cerita di dunia ini ada demi menyempurnakan cerita protagonis.

"Itu benar."

"Tapi dia terlihat kesepian."

"Dia seseorang yang ingin kesepian."

Seseorang yang ingin kesepian.

Kim Dokja kembali memiringkan kepalanya.

"Mana ada orang seperti itu?"

"Ada orang seperti itu."

Kata-kata Father terdengar sama anehnya dengan penjelasan bahwa ‘ada orang yang suka mempertaruhkan nyawanya’, tetapi Kim Dokja berusaha untuk tidak membantah.

Masih banyak cerita di dunia ini yang tidak dia pahami, dan mungkin cerita Yoo Joonghyuk juga termasuk salah satunya.

Jadi, alih-alih bertanya, Kim Dokja membaca cerita Yoo Joonghyuk. Sesuai sifatnya sebagai protagonis, pria itu muncul di setiap sudut cerita yang tersebar di seluruh alam semesta. Namanya bahkan ada di cerita yang paling dia sukai.

「 "Yoo Joonghyuk!" 」

Dalam cerita itu, namanya dipanggil sesering nama Kim Dokja. Seruan yang dipenuhi kekhawatiran dan kecemasan, atau mungkin harapan yang tak diketahui. Namanya selalu diselimuti emosi dengan warna seperti itu.

"Apakah Father mengenalnya?"

"Di dunia tertentu, ya."

"Apakah kalian teman?"

"Kami adalah rekan yang hidup dan mati secara terpisah."

"Terpisah? Bukan bersama?"

Senyum geli muncul di wajah Father.

"Itu benar."

Apakah itu berarti mereka tidak terlalu dekat? Namun, melihat ceritanya, dia merasa mungkin memang begitu. Lagi pula, dalam cerita yang dia baca, Kim Dokja biasanya menatap Yoo Joonghyuk dengan ekspresi kesal atau memanggilnya sambil menambahkan umpatan seperti, "Bajingan kau!"

"Apa hubungan orang itu dengan Father?"

"Dia tidak ada hubungannya denganku."

"Itu mungkin benar dalam cerita <Kim Dokja Company>, tapi berbeda dalam cerita Father."

Mata Father membesar seolah baru menyadari hal seperti itu.

"Sepertinya kau membaca cerita dengan cukup rajin."

"Karena hanya itu yang bisa kulakukan di sini."

"Yoo Joonghyuk adalah rival-ku."

Mata Kim Dokja membesar mendengar kata tak terduga yang keluar dari mulut Father.

"Rival?"

"Ya."

"Itu bukan cuma khayalan Father, kan?"

"Aku bertarung hidup dan mati dengannya beberapa kali. Kami hampir saling membunuh, dan hampir mati lagi."

"Apakah Father merindukannya?"

"…"

"Rasanya seperti Father sedang membicarakan teman lama."

Father terdiam sesaat lalu tersenyum pahit. Kim Dokja sedikit terkejut, karena itu pertama kalinya dia melihat Father tersenyum seperti itu.

Father melanjutkan.

"Aku membunuhnya dengan tanganku sendiri."

"…"

"Aku melihat dengan mataku sendiri saat dia mengembuskan napas terakhirnya dan meninggalkan dunia ini."

Father tampak agak kosong saat menceritakan kisah itu.

Kim Dokja ragu sejenak sebelum bertanya.

"Father bilang tujuan hidup Father adalah melampaui pria itu, kan?"

"Itu benar."

"Kalau begitu Father mencapai tujuan yang Father inginkan."

Father tidak menjawab dengan ‘Ya’ sederhana seperti biasanya. Kim Dokja kembali bertanya.

"Apakah Father tidak bahagia?"

"Dia meninggalkanku dan melanjutkan ke ‘cerita berikutnya’."

Suara seperti titik yang dingin dan tak peduli. Kim Dokja sedikit terlambat menyadari maksud Father.

Itu adalah penjelasan mengenai kemampuan Yoo Joonghyuk, [Regression].

「 Bagi Yoo Joonghyuk, kematian hanyalah akhir dari bab singkat. 」

"Dalam perjalanan panjangnya untuk mencegah kehancuran dunia, aku hanyalah villain kecil yang menghiasi satu episode. Residu yang tertinggal di dunia yang ditinggalkan protagonis. Itulah aku."

Kim Dokja menjadi bingung. Cerita-cerita yang dia baca tidak pernah mengajarinya apa yang harus dikatakan dalam situasi seperti ini.

Jadi, Kim Dokja harus berpikir sendiri. Dia harus berusaha sebaik mungkin dengan kepalanya yang kecil untuk memikirkan bagaimana menghibur villain yang terasing dari cerita protagonis.

"Tidak ada yang menyukai cerita seperti itu."

Terlahir sebagai karakter dalam cerita, ditakdirkan menjalani cerita yang tidak dicintai siapa pun. Kim Dokja memikirkan takdir itu untuk waktu yang lama.

Pria yang bertahan sendirian sampai akhir di dunia yang ditinggalkan protagonis, dan akhirnya tiba di snowfield ini. Dia terus memikirkan Father yang menemukannya—tentang pria bernama 'Cheon Inho'. Dan dia sampai pada sebuah kesimpulan.

"Aku menyukainya."

Mendengar kata-kata Kim Dokja, bahu Cheon Inho sedikit bergetar.

"Tidak apa-apa kalau setidaknya ada satu cerita di dunia di mana villain yang bekerja sangat keras mengalahkan protagonis, kan?"

"…"

"Father sudah melakukan yang terbaik. Aku tahu itu. Betapa besar usaha yang Father curahkan ke dalam cerita itu, dan betapa keras Father mencoba membuatnya bersinar bersama protagonis."

Cheon Inho menatap kosong putranya. Tidak ada constellation yang pernah berbicara padanya seperti itu.

"Bahkan jika bukan protagonis, setiap karakter layak untuk dicatat."

Saat Kim Dokja kecil mengucapkan kata-kata itu, matanya bersinar seperti bintang. Cahaya bintang yang menerangi mereka yang terlupakan di ruang kosong cerita yang tak diingat siapa pun.

「 Mungkin dia datang jauh-jauh ke snowfield ini untuk memastikan keberadaan cahaya itu. 」

Melihat putranya terus mengoceh demi menghiburnya, Cheon Inho perlahan membuka mulut.

"Mari membaca cerita yang sangat menarik hari ini."

"Cerita yang sangat menarik?"

Cerita-cerita jatuh dari langit. Cerita yang begitu luas hingga terasa mustahil selesai dibaca bahkan seumur hidup. Untungnya, Cheon Inho mengetahui beberapa cerita di antaranya yang cukup menarik.

"Itu cerita tentang pria yang memakan tanah."

Waktu di snowfield terus mengalir. Seminggu, sebulan, setahun, sepuluh tahun. Seperti salju. Menyambut cerita yang jatuh dan membacanya, Kim Dokja hidup bersama Cheon Inho.

"Ini, ini cerita asli yang jatuh hari ini."

"Terima kasih."

"Apakah kau sudah selesai menyusunnya?"

"Kira-kira sudah cukup."

"Tapi kenapa yang ini kau sisihkan?"

"Itu cerita tentang anak yang makan tanah."

Seiring waktu berlalu, Kim Dokja menemukan semakin banyak cerita yang ingin dia baca.

「 "Dokja-ssi." 」

Sebagian besar adalah cerita asli tentang <Kim Dokja Company>. Kisah orang-orang yang mengembara mencari dirinya yang telah menghilang dari alam semesta ini.

"Tapi aku tidak mengerti bagian ini."

"Bagian ini."

Namun, sebagian besar cerita yang jatuh di snowfield tidak utuh, jadi mereka sering harus menundukkan kepala bersama untuk mempelajarinya.

"Bagaimana kalau ditafsirkan seperti ini?"

Cahaya samar mengalir dari ujung jari Cheon Inho dan memperbaiki cerita yang rusak.

「 Saat menghabiskan waktu bersama Kim Dokja di snowfield, Cheon Inho memperoleh kemampuan baru. 」

Kekuatan untuk menangani cerita dan mengisi ruang kosong.

Kemampuan untuk merevisi [Fate].

「 Cheon Inho menjadi seorang 'Recorder of Fear'. 」

Dengan kekuatan itu, Cheon Inho bekerja sama dengan Kim Dokja untuk menggali cerita yang tersebar di antara reruntuhan dan mulai menyusunnya kembali.

"Atau, interpretasi ini juga mungkin."

Melihat Kim Dokja bersukacita atas cerita yang kembali berlanjut, dan merasa asing dengan dirinya sendiri karena tanpa sadar tersenyum kepadanya, Cheon Inho terus mengumpulkan cerita lagi dan lagi.

「 Dengan demikian, di tempat yang tidak diketahui siapa pun, sebuah 『Omniscient Reader's Viewpoint』 baru sedang diselesaikan. 」

Satu keberadaan adalah keseluruhan catatan yang dia baca. Cheon Inho merasakan secara real-time Kim Dokja menjadi Kim Dokja.

Saat mereka membaca bersama cerita-cerita yang hilang dan membacanya ulang, jumlah pertanyaan yang diajukan Kim Dokja perlahan berkurang. Sebaliknya, waktu yang dia habiskan untuk menatap suatu tempat dengan mata penuh kerinduan semakin bertambah. Cheon Inho merasa dia tahu apa yang dirindukan Kim Dokja, tetapi dia tidak secara khusus menanyakannya.

"Jadi begini akhirnya."

Membaca bagian akhir dari narasi yang belum selesai, Kim Dokja menghela napas atau kesedihannya bertambah. Khususnya, ada satu cerita yang dia tonton berulang kali. Itu adalah adegan ketika '49% Kim Dokja' sedang diangkat.

「 "Jika ini adalah cerita yang kau inginkan..." 」

Kim Dokja yang ingin bersama <Kim Dokja Company> tetapi pada akhirnya tidak bisa memiliki cerita itu.

"Rekan-rekanku."

Kini, Kim Dokja itu sedang mengenang mereka dalam catatan yang telah dipulihkan.

"Apakah mereka tahu aku ada di sini?"

"…"

"Jika Han Sooyoung menulis cerita ini, dan jika imajinasi fragmen Kim Dokja yang tersebar di seluruh alam semesta berkumpul untuk menciptakan keajaiban kembalinya ‘Kim Dokja’ yang mereka ingat—"

Menatap salju yang terus turun tanpa akhir, Kim Dokja terus bertanya.

"Kenapa aku masih di sini?"

Kenapa Kim Dokja di tempat ini tidak bisa kembali ke <Kim Dokja Company>?

Cheon Inho tidak bisa menjawab. Itu pertanyaan yang bahkan tidak bisa dia pahami.

「 Semuanya sudah tercatat, dan pada saat yang sama, sedang dicatat. 」

Mengingat kalimat itu, Cheon Inho perlahan membuka mulut.

"Apakah kau ingin bertemu <Kim Dokja Company> lagi?"

Mata Kim Dokja yang samar berkedip.

"Kalau aku ingin bertemu mereka?"

"Kau hanya perlu keluar dari dunia ini."

"Bagaimana caranya?"

"Itu..."

Cheon Inho berkata sambil menatap lanskap snowfield yang telah lama dia lihat.

"Aku juga tidak tahu."

Hamparan snowfield luas tanpa pintu masuk maupun keluar yang jelas. Mereka telah terjebak di sini lebih dari satu dekade.

Setelah hening sejenak, Kim Dokja bertanya.

"Bagaimana dengan Father? Apakah Father ingin pergi keluar?"

Cheon Inho berpikir. Jelas ada sesuatu yang ingin dia katakan.

"Aku ingin pergi keluar."

Dia ingin menjadi protagonis. Dia ingin tercatat bersama Yoo Joonghyuk, dalam ending miliknya sendiri.

"Sampai baru-baru ini."

Namun, selama tinggal di snowfield bersama Kim Dokja, keinginan itu perlahan memudar. Mungkin karena dia mulai terbiasa dengan kehidupan ini.

"Akhir-akhir ini, aku sering berpikir bahwa aku tidak harus pergi keluar."

Cheon Inho merasa asing dengan dirinya sendiri saat mengucapkan kata-kata itu. Karena itu adalah pernyataan yang menyangkal seluruh sejarah hidup yang telah dia jalani sampai sekarang. Tanpa sadar, Cheon Inho memaksakan senyum pahit.

"Aku hanya bermaksud mengatakan bahwa aku seperti itu. Kau..."

Merasa telah mengatakan sesuatu yang tidak perlu, dia menoleh, tetapi kondisi Kim Dokja tampak agak aneh. Kim Dokja tidak mendengarkannya. Tepatnya, dia berada dalam keadaan tidak bisa mendengar.

"Bagaimana."

Dengan suara Kim Dokja yang bercampur emosi intens, Cheon Inho menatap cerita yang hinggap di ujung jari Kim Dokja.

"Bagaimana cerita seperti ini—bagaimana itu mungkin?"

Kim Dokja sedang membaca cerita itu. Itu adalah cerita yang bahkan belum pernah dia lihat sebelumnya.

"Bagaimana bisa ada ‘Kim Dokja’ seperti ini?"

Membaca cerita itu bersama, Cheon Inho menghela napas.

「 Sampai cerita itu muncul, hanya ada dua Kim Dokja di dunia ini. 」

Kim Dokja yang dipilih oleh kelompok itu, dan Kim Dokja yang tertinggal di snowfield.

「 Jika aku bisa terlahir kembali, aku berharap setidaknya aku tidak menjadi Kim Dokja. 」

Dan pada hari itu, Kim Dokja dari snowfield.

「 "Lee Hakhyun, namamu Lee Hakhyun." 」

Dia menyadari keberadaan seorang saudara yang belum pernah diketahui sebelumnya.

1015 Episode 62 Snowfield Kim Dokja (5)

Sejak hari itu, Kim Dokja membaca cerita-cerita sang saudara setiap hari.

"Apa yang mereka makan?"

Cheon Inho datang mencari fragmen cerita sang saudara setiap hari dan membacanya bersama Kim Dokja.

"Itu tomat ceri."

"Tapi Kim Dokja membenci tomat."

"Teman itu bukan Kim Dokja, kan?"

Kim Dokja tampak senang dengan jawaban Cheon Inho; dia terus mengangguk dan melanjutkan membaca cerita.

「 ...Dan begitulah, Lee Hakhyun berpikir… 」

Fragmen cerita yang dibawa Cheon Inho sebagian besar sepele. Kehidupan sehari-hari tanpa skenario, constellation, ataupun monster. Di dalamnya, sang saudara—yang dulunya adalah Kim Dokja—kini dengan nama berbeda, menjalani hidupnya dengan mantap.

Dia tumbuh dalam keluarga biasa, menangis dan tertawa, didukung oleh orang tua yang penuh kasih. Dia merayakan ulang tahunnya dengan ucapan selamat dari beberapa teman, masuk sekolah dasar, lalu masuk sekolah menengah.

"Dia ikut lomba menulis."

Di dunia sang saudara, tidak ada 'Ways of Survival'. Itu adalah dunia di mana 'Ways of Survival' memang tidak diperlukan sejak awal. Karena tragedi yang menimpa Kim Dokja tidak pernah menimpanya. Baginya, tidak ada alasan untuk tiba-tiba melemparkan diri keluar jendela, dan tidak ada alasan untuk mencari 'cara bertahan hidup'.

"Dia gagal."

"Itu disayangkan."

Tragedinya, paling-paling, hanyalah ditolak dalam lomba menulis.

"Itu Kim Dokja. Bukankah karena seseorang yang seharusnya dibaca malah mencoba menulis sesuatu?"

"Tapi dia berusaha."

"Bukankah itu akan sulit meskipun dia berusaha? Bagaimanapun juga, namanya Kim Dokja."

"Itu bukan lagi kenyataannya, kan?"

Cheon Inho berbicara sambil membaca catatan yang terbentang di depan matanya.

「 ...Dan begitulah, Lee Hakhyun terus menulis tanpa henti. Dia percaya bahwa hanya kalimat yang dia tulis sendiri yang tidak akan mengkhianatinya. Menulis, lalu menulis lagi. Menulis kalimat baru di tempat semua tulisan yang telah dia perjuangkan dengan keras dihapus, lalu kembali putus asa di hadapan kalimat yang telah selesai… 」

"Teman itu bukan Kim Dokja."

「 …Dia perlahan membangun sebuah dunia tunggal. Meskipun dia tidak bisa menulis karya sempurna, dia menulis demi menulis sesuatu yang tidak akan membuatnya malu. Dia mencurahkan seluruh tenaganya untuk menyusun satu kalimat, lalu kalimat berikutnya. Berapa kali dia menulis ulang seperti itu? 」

"Kau tahu itu, kan?"

Kim Dokja membaca tulisan saudaranya dengan tatapan kosong. Sejujurnya, saudaranya tidak memiliki bakat besar dalam menulis. Tapi dia tidak menyerah. Sama seperti Kim Dokja tidak menyerah pada Ways of Survival, dia juga tidak pernah melepaskan keyboardnya. Dia membaca buku tanpa henti, memikirkan cerita, lalu mengetik lagi.

「 "Wow, benarkah? Kau menang?" 」

Beberapa usaha mampu mengatasi bahkan takdir.

Saudara yang menjadi penulis melalui usahanya sendiri.

Melihat saudaranya melepaskan diri dari belenggu 'Kim Dokja' dan mulai menjalani hidupnya sendiri, Kim Dokja tenggelam dalam perenungan mendalam.

"Dia benar-benar terus menulis."

Seperti mengikuti serialisasi 'Ways of Survival', Kim Dokja mengikuti cerita saudaranya.

"Dia tidak menyerah."

Dia juga tampaknya tidak menganggap cerita sang saudara menarik.

"Mereka bilang dia menang penghargaan lagi. Apa dia benar-benar jadi lebih baik menulis? Atau cuma beruntung?"

Terkadang, dia tampak iri.

"Untungnya, saudaraku punya orang tua yang baik."

"Apakah kau iri?"

Kim Dokja menatap kosong catatan yang menggambarkan orang tua saudaranya.

"Bukan itu... melihat orang-orang ini membuatku teringat sesuatu."

"Apa yang terlintas di pikiranmu?"

"Malam musim semi yang sangat dalam dan hangat..."

Cheon Inho membaca ulang bagian yang ditunjuk Kim Dokja. Namun, seberapa pun telitinya dia membaca, dia tidak dapat menemukan kalimat yang mengingatkannya pada deskripsi Kim Dokja.

"Orang bernama Ji Eunyu di sini—bagaimanapun aku melihatnya, bukankah dia tampak tertarik pada saudaraku? Lihat, dia terus bercanda."

"Hmm, bukankah itu ejekan, bukan candaan?"

"Father, Father belum pernah pacaran, ya?"

Cheon Inho menatap Kim Dokja sesaat lalu bertanya.

"Kim Dokja, kenapa kau begitu terobsesi dengan ceritanya?"

Kim Dokja tidak menjawab. Seperti seseorang yang percaya jawaban ada di halaman yang belum dibaca, dia hanya mengikuti cerita saudaranya dalam diam.

Dan begitulah, selama sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, Kim Dokja membaca cerita itu berulang kali.

"Teman ini adalah Kim Dokja."

Lalu suatu hari, Kim Dokja hanya mengatakan itu.

"Dia adalah Kim Dokja sepertiku. Seorang Kim Dokja yang mencintai buku, mengagumi protagonis, dan terpisah dari cerita yang pernah dia jalani, lalu akhirnya dilupakan rekan-rekannya."

"…"

"Tapi kenapa?"

Kim Dokja berhenti sejenak dan menunduk melihat catatan itu. Catatan tersebut adalah cerita saat saudaranya terpilih dalam lomba untuk pertama kali.

「 Lee Hakhyun merasa bahagia. Dia benar-benar bahagia karena seseorang membaca tulisannya dan mengakuinya. 」

Fakta bahwa orang asing sepenuhnya membaca ceritanya. Fakta bahwa mereka menghitung waktu yang menumpuk di dalam kalimat-kalimat itu.

Hanya itu saja membuatnya merasa seolah dia telah menerima konfirmasi bahwa tidak apa-apa baginya untuk terus menulis. 」

Cheon Inho juga membaca catatan itu bersamanya. Hanya dengan membaca cerita itu, wajah cerah sang saudara tampak hidup dalam pikirannya.

"Kenapa mereka tidak terlihat tidak bahagia?"

Saat mendengar kata-kata itu, Cheon Inho merasakan sesuatu yang berat tenggelam di dalam hatinya. Dia ragu sesaat sebelum berbicara.

"Apa maksudmu?"

Cheon Inho, yang berhenti bicara di sana, tiba-tiba menyadari sebuah fakta.

「 Kim Dokja pernah mengatakan. Bahwa dia tidak tidak bahagia. Bahwa dia baik-baik saja hidup di snowfield ini selamanya. 」

Cheon Inho memandang wajah Kim Dokja. Kim Dokja, yang kini jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya seiring berlalunya waktu dan bertumpuknya cerita. Kim Dokja, yang penampilan bocah kecil yang dia kenal telah menghilang, kini memiliki wajah yang sama dengan Kim Dokja di cerita.

Menatap emosi di mata Kim Dokja, Cheon Inho berbicara.

"Kim Dokja, apakah mungkin kau menjadi tidak bahagia?"

Cheon Inho kembali berbicara kepada Kim Dokja yang tetap diam.

"Hanya karena kau melihat ceritanya bukan berarti ada alasan bagimu untuk menjadi tidak bahagia. Dia dan kau berbeda."

"Dia satu-satunya saudaraku. Kim Dokja yang, seperti aku, terlempar dari cerita itu."

Cheon Inho berpikir sesaat lalu bertanya.

"Apakah dia menjadi tidak bahagia karena dia tidak berbagi kemalanganmu?"

"..."

"Beberapa kemalangan bermakna justru karena bisa dinikmati sendirian. Bukankah itu bukti bahwa kau istimewa?"

"Tidak, orang itu juga Kim Dokja. Aku bisa tahu."

Saudaranya, yang seharusnya berbagi satu-satunya kemalangan bersamanya, justru tersenyum tanpa menyadari bahwa dirinya adalah Kim Dokja. Seolah kehidupan masa lalunya tidak diperlukan demi kebahagiaannya.

"Father pernah mengatakan sesuatu seperti itu. Bahwa semua cerita di dunia ini berfungsi demi protagonis."

"Apakah dia terlihat seperti protagonis?"

"..."

"Karena dia terlihat bahagia?"

Kim Dokja perlahan menundukkan kepalanya. Saat dia menunduk, bahunya sedikit bergetar. Tanpa sadar, Cheon Inho mengulurkan tangan dan menaruhnya di bahunya.

"Kau adalah protagonis. Aku akan mewujudkannya."

Meskipun tidak terbiasa dengan penghiburan seperti itu, Cheon Inho mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya. Namun, saat dia selesai berbicara, Cheon Inho merasakan sensasi aneh. Sensasi yang hanya dimiliki mereka yang pernah hidup sebagai villain. Ada hawa dingin ganjil yang merambat dari bawah kakinya.

Dan kemudian Cheon Inho menyadari. Kim Dokja tidak menangis.

"Aku memikirkan sesuatu."

Kim Dokja, dengan kepala tertunduk, sedang menahan tawa.

"Mungkinkah kebahagiaan yang dinikmati saudaraku sekarang itu 'palsu'?"

Cheon Inho tidak dapat memahami kata-kata yang keluar dari mulutnya.

"Aku menyukai ceritanya. Kurasa itu keren. Saudaraku, yang terlahir sebagai keberadaan berbeda, bukan 'Kim Dokja', seperti yang dia inginkan, dan akhirnya menjalani hidupnya sendiri. Aku mengagumi saudaraku. Tapi—"

Tanpa sadar, Cheon Inho menarik tangannya dari bahu Kim Dokja.

"Dia bahkan tidak tahu dirinya dulu apa."

Kim Dokja menoleh menatap Cheon Inho. Melihat tangan yang menggantung canggung di udara, Kim Dokja melanjutkan dengan senyum.

"Saudaraku tidak punya pilihan. Sama seperti saat Father ditetapkan menjadi villain. Dia tiba-tiba terlahir sebagai keberadaan yang bukan Kim Dokja, dan dia hanya menjalani hidup yang tidak berhubungan dengan hakikat aslinya. Karena itu—"

Suara tsutsu percikan api terdengar dari suatu tempat. Suara yang dia pikir mungkin tidak akan pernah dia dengar lagi.

"Dia juga harus punya pilihan."

Cheon Inho menyadari dirinya gemetar. Itu bukan karena takut atau terkejut akan sesuatu. Hanya saja indranya sedang memperingatkannya.

「 Sebuah cerita akan dimulai. 」

Itu adalah cerita yang mungkin tidak akan dimulai jika dia tidak memegang pena.

「 Mungkin itu cerita yang seharusnya tidak pernah ditulis. 」

Beberapa cerita memungkinkan seseorang menebak endingnya hanya dari kalimat pertama.

Namun demikian, insting seorang recorder berbicara kepadanya.

「 Tulislah cerita yang dia inginkan. 」

Itu memberinya perintah.

"Father."

Saat Cheon Inho sadar, dia mendapati dirinya telah berlutut tanpa disadari. Ketika dia mengangkat kepala, keberadaan yang dulunya adalah putranya sedang menatapnya dari atas.

"Kumpulkan fragmen-fragmenku."

Saat merasakan berat kata-kata itu, Cheon Inho menyadari dari mana getaran ini—rasa kagum ini—berasal.

「 Sebuah mimpi yang sangat tua. 」

Kini dia sedang menghadapi bagian dari keberadaan terbesar di alam semesta ini.

"Tidak..."

Dengan mata memerah, Cheon Inho menggelengkan kepala dengan sangat lambat dan putus asa.

Melepaskan diri dari rasa probabilitas yang membelenggu seluruh tubuhnya, dia berbicara.

"Tidak..."

Apakah itu rasa perlawanan sebagai seorang villain? Ataukah perjuangan putus asa agar tidak kehilangan waktu yang telah begitu lama dia cari?

Cheon Inho menatap putranya seperti seseorang yang memohon agar perintah itu ditarik kembali.

Kim Dokja. Anak pertama yang dia temukan. Bocah yang tumbuh membaca cerita-ceritanya, lalu membaca cerita yang telah dia kumpulkan.

Cheon Inho dengan putus asa mengulurkan tangan kepada pemuda yang telah melahap semua cerita itu dan kini telah menjadi dewa.

Kim Dokja menggenggam tangannya dengan senyum penuh belas kasih dan berkata,

"Pergilah, Father. Kumpulkan fragmen-fragmennya."

Cheon Inho menyadari. Ini adalah catatan yang tidak bisa dia ubah. Yang bisa dia lakukan hanyalah menyalin mimpi yang diinginkan Great Being.

Saat fragmen Oldest Dream memberi isyarat, snowfield kosong mulai terbelah.

"Agar aku bisa menjadi lebih kuat. Agar aku bisa menguasai lebih banyak. Agar aku bisa campur tangan dalam kesimpulan seluruh alam semesta ini. Agar aku bisa mewujudkan cerita yang kuinginkan."

Sebuah portal muncul di tengah snowfield yang berputar. Pintu menuju luar, yang tak pernah terbuka meski mereka berjalan dan mengembara selama bertahun-tahun, akhirnya terbuka. Alasannya jelas.

「 <Star Stream> menginginkan cerita ini. 」

<Star Stream> kembali memanggil protagonis cerita itu. Seolah menjawab panggilan tersebut, Kim Dokja berbicara.

"Dan mari kita beri saudaraku sebuah pilihan. Biarkan dia memilih sendiri. Beri dia kesempatan untuk melihat apakah dia masih bisa membuat pilihan yang sama bahkan setelah mengetahui kebenarannya."

Cheon Inho ingin bertanya. Apa arti semua ini? Kenapa mereka harus mengatur hal-hal seperti itu?

"Hanya dengan begitu ■ ■■■ ■■■ yang diinginkan seluruh alam semesta ini bisa lahir."

Mungkin karena aftershock, kata-kata Kim Dokja nyaris tak terdengar. Namun bahkan tanpa bisa mendengarnya dengan jelas, Cheon Inho berpikir.

Itu mustahil untuk diwujudkan.

Saudara Kim Dokja lahir di dunia tanpa skenario. Dia hidup di dunia di luar lingkup tempat kekuatan <Star Stream> tidak menjangkau.

Bahkan jika itu adalah 'Oldest Dream', tidak mungkin tiba-tiba menarik keberadaan seperti itu ke dalam gravitasi skenario dan melemparkannya masuk—begitulah pikir Cheon Inho.

"Father."

Namun, putranya sudah memikirkan caranya.

「 Cara untuk memasukkan keberadaan dari luar skenario ke dalam skenario ini. 」

Tangan dingin Kim Dokja menyentuh pipi Cheon Inho.

"Demi aku, tolong jadilah protagonis dari cerita mengerikan ini sekali lagi."

Saat bisikan manis alam semesta menyebar, Cheon Inho tahu apa yang harus dia jadi.

「 Ini adalah cerita tentang 'Kim Dokja' yang telah kita lupakan. 」

Cerita itu mulai ditulis di tengah kepingan salju putih bersih.

1016 Episode 62 Snowfield Kim Dokja (6)

Aku membaca cerita Snowfield dengan teliti dari awal sampai akhir. Ada bagian yang kubaca perlahan, sementara bagian lain kubaca dengan cepat, tenggelam di dalamnya tanpa kusadari. Rasanya aneh.

Sekarang aku kembali membaca adegan di mana dia membaca ceritaku sebagai sebuah cerita.

Melalui proses saling membaca dan kembali dibaca ini, kami menjadi Kim Dokja.

Dengan suara 'pop', clone Great Sage Equal to Heaven yang telah menyerahkan fragmen cerita kepadaku berubah menjadi rambut. Mungkin dia telah menyelesaikan tugasnya dengan mengantarkan fragmen Snowfield kepadaku.

'Demon King of Salvation' bergumam di kepalaku.

—Jadi begini akhirnya.

Aku memeriksa sekali lagi untuk memastikan tidak ada adegan yang kulewatkan.

Ada ingatan singkat bahkan setelah adegan di mana Snowfield meminta Cheon Inho mengumpulkan fragmen Kim Dokja.

「 【Aku mendengar cerita itu dari Evil Sophist. Jadi kau adalah 'Kim Dokja' itu.】 」

Adegan ketika Kim Dokja dari Snowfield bertemu Asmodeus dan para 'Recorder of Fear'.

「 【O fragmen tertua dari sebuah mimpi. Apakah kau sudah datang untuk menemukan 'blank space yang belum tertulis' itu?】 」

Sampai adegan di mana dia pertama kali berhadapan dengan 'Wenny King'.

Meskipun aku tidak bisa mengetahui secara pasti apa yang mereka diskusikan, ada satu fakta yang pasti.

「 Semua cerita itu mulai memberiku sebuah 'pilihan'. 」

Kesempatan bagiku, yang telah menjalani hidup yang bukan Kim Dokja, untuk menjadi Kim Dokja.

Snowfield memberiku kesempatan itu.

Dengan menarikku ke dalam stage miliknya dan membuatku hidup di tubuh Cheon Inho.

—Tapi itu bukan seluruh tujuannya.

Aku memiliki pemikiran yang sama dengan Demon King of Salvation. Apa yang kubaca hanyalah sebagian kecil dari catatan yang ditinggalkan oleh 'Snowfield'.

—Kalau dia benar-benar hanya penasaran apakah kau akan memilih kehidupan yang bukan 'Kim Dokja' bahkan setelah melalui semua ini, dia bisa menggunakan banyak metode lain.

Benar. Peristiwa yang diatur Snowfield terlalu besar skalanya untuk terjadi hanya demi melihat pilihanku.

Di atas segalanya, Snowfield sedang mengumpulkan fragmen untuk menjadi 'Oldest Dream' sendiri.

「 Dia memiliki mimpi yang ingin dia impikan di akhir seluruh alam semesta ini. 」

Setelah membaca cerita Snowfield, aku merasa seolah samar-samar memahami apa itu. Namun, sensasi itu mencair secepat kepingan salju yang jatuh di pundakku. Sebagai gantinya, yang tersisa di tanganku adalah tujuh blank space yang ditinggalkan Snowfield.

「 Hanya dengan begitu ■ ■■■ ■■■ yang diinginkan seluruh alam semesta ini bisa lahir. 」

"Apa ini?"

Saat aku bertanya, Demon King of Salvation menjawab.

—Jelas sekali.

Demon King of Salvation, ahli analisis filtering, menguraikan blank space itu dengan sangat sederhana.

—The one and only Kim Dokja. Tidak ada kemungkinan lain.

Itu adalah jawaban yang siapa pun pasti setuju. Baik dari konteks maupun keadaan, itu memang terasa pasti.

Namun, ketepatan itu anehnya terasa seperti jebakan bagiku.

"Jaraknya berbeda, tapi ada satu lagi yang panjangnya tujuh huruf."

—Apa?

Aku menatap blank space yang telah difilter itu dengan saksama, lalu menggerakkan tanganku untuk menyesuaikan jumlah spasi.

■■ ■■■ ■■.

Sama seperti 'The One and Only Kim Dokja', tujuh huruf.

Aku tahu kata yang cocok untuk blank space ini. Saat aku hendak mengatakannya, suara Demon King of Salvation terdengar.

—Youngest.

Aku tiba-tiba mendongak dan menemukan clone lain dari Great Sage Equal to Heaven berkumpul di sudut labu.

U-ah.

Sekelompok monyet memberi isyarat padaku seolah menyuruhku mendekat. Saat aku menghampiri mereka, aku melihat fragmen berkilau di tepi labu.

Para clone mengambil fragmen itu dan memberikannya kepadaku, seolah membagikan makanan lezat.

"Ini..."

Mungkinkah ini fragmen lain dari cerita Snowfield Kim Dokja? Fragmen-fragmen itu berbau laut. Beberapa fragmen terasa panas, seolah ditarik dari dalam api.

Alih-alih benar-benar menangkap sebuah cerita, itu hanyalah fragmen yang mengandung sensasi dari fenomena tertentu.

Aku tahu pemilik fragmen cerita ini.

「 Fragmen constellation myth-grade. 」

Fragmen cerita constellation myth-grade yang belum pulih berada di sana.

"Apa yang terjadi pada mereka?"

Aku teringat para dewa yang terperangkap di penjara Great Sage Equal to Heaven.

Poseidon, yang mengingatkanku pada seorang kakek Marinir; istrinya Demeter; Zeus si tukang listrik; bahkan Odin yang gemar mengukir.

Bahkan ketika aku mengamati alam semesta, Mount Five Elements tempat Great Sage Equal to Heaven dipenjara sudah tidak terlihat lagi. Karena para pemilik cerita itu tercerai-berai bersama Great Sage Equal to Heaven, apakah fragmen cerita yang kulihat juga gagal melarikan diri?

—Mungkin rasanya manis.

"Maksudmu mereka berhasil lolos?"

'Demon King of Salvation' menjawab pertanyaanku dengan suara tenang.

—Mereka adalah perwakilan nebula besar. Tidak peduli seberapa hebat Great Sage Equal to Heaven, dia tidak bisa menghentikan mereka yang mengorbankan sebagian true form mereka demi melarikan diri. Mereka pasti menerima pukulan besar, tapi lebih dari setengahnya pasti berhasil lolos dari dunia itu dengan selamat.

Meskipun itu adalah cerita musuh-musuhku, aku merasakan kelegaan aneh karena cerita-cerita itu tidak lenyap, melainkan mengalir ke suatu tempat.

Buzz.

Seolah merasakan emosiku, fragmen Poseidon yang kugenggam di tanganku mulai menangis lirih.

—Area skenario semakin dekat.

Aku juga bisa merasakannya. Energi chaos yang sejak tadi kurasakan dari kejauhan. Sensasi kehancuran yang familiar.

「 Great Annihilation Scenario, Ragnarok. 」

Kehancuran yang jauh lebih besar dibanding skenario mana pun yang pernah kualami menantiku.

Fragmen para constellation myth-grade bergetar. Seolah enggan kembali ke tempat true form mereka berada.

Cahaya bintang skenario berkelap-kelip di hamparan luas alam semesta. Di sini, cahaya terakhir para constellation yang sekarat bersinar dengan indah tanpa akhir.

—Youngest.

Kim Dokja memanggil namaku. Demon King of Salvation, Great King of Fear, Prisoner of the Golden Headband, dan saudaraku memanggilku.

Aku mengangguk. Sudah waktunya pergi.

「 Ragnarok. 」

Menuju medan perang tempat seluruh bintang jatuh.

Yang pertama terbangun sambil menjerit adalah Poseidon. Di tengah aftershock probabilitas yang berputar ganas, Poseidon terus-menerus muntah.

[Waaah!]

Hanya setelah mengorbankan hampir setengah cerita true body miliknya Poseidon berhasil melarikan diri dari penjara Great Sage Equal to Heaven.

Bahkan saat itu pun, seandainya mereka tidak menggunakan kekuatan 'Round Table' untuk melempar dadu bersama, mereka semua pasti telah hancur bersama oleh Mount Five Elements yang dipanggil.

「 Karena insiden ini, sejumlah constellation myth-grade kehilangan hak untuk menggunakan 'dice'. 」

Berkat itu, untuk sementara waktu Round Table tidak akan bisa menggunakan kekuatan absolutnya seperti sebelumnya. Semua itu disebabkan oleh seekor monyet myth-grade tunggal.

Melihat sekeliling, dia melihat para dewa yang sama sepertinya, terus muntah sambil bersandar pada Round Table.

[Aaaargh!]

[Waaah!]

Mereka semua adalah constellation yang menyeberangi 'Missing Thicket' bersamanya.

Poseidon mengerutkan kening melihat para constellation myth-grade yang bermartabat ini muntah dalam keadaan menyedihkan.

[Apakah semuanya sudah kembali? Aku tidak melihat Zeus.]

[Zeus memang tidak turun bersama kita sejak awal.]

Yang mengatakan itu adalah Odin, 'One-Eyed Father', satu-satunya di antara para dewa kuat yang masih mempertahankan martabatnya. Meskipun wajahnya sedikit pucat, dia tetap menatap Round Table sambil menjaga ketenangannya.

Jika diperhatikan lebih dekat, tangan Odin tampak gelisah dengan cara aneh. Tangannya, yang sebelumnya bergerak kosong di udara seolah membutuhkan sesuatu untuk disentuh, akhirnya tenang setelah menggenggam benda kecil di atas meja.

[Ada fragmen cerita aneh yang bercampur dengan kita.]

Mendengar kata-kata Odin, Poseidon juga memeriksa ceritanya sendiri.

Kalau dipikir-pikir, ada sesuatu seperti benda asing bercampur di dalam cerita yang membentuk dirinya.

[Apakah kotoran ikut bercampur saat pelarian?]

Poseidon menjilat pipi dan langit-langit mulutnya seperti seseorang yang mencari benda asing di dalam mulutnya. Atau mungkin hanya imajinasinya? Anehnya, dia tiba-tiba merasa ingin memainkan recorder.

Thump.

Saat itulah Round Table sedikit bergetar. Getaran yang awalnya samar perlahan menjadi semakin kuat hingga mulai mengguncang seluruh meja. Meskipun hanya meja yang berguncang, ekspresi para constellation myth-grade berubah suram.

Karena 'Round Table' ini adalah <Star Stream> itu sendiri.

Guncangan Round Table berarti telah terjadi peristiwa besar yang cukup untuk mengancam kehancuran seluruh <Star Stream>.

Dan pada titik ini, hanya ada satu peristiwa seperti itu.

['Ragnarok' telah dimulai.]

Setelah itu, artefak yang melambangkan constellation atau incarnation muncul di atas Round Table.

Yang pertama menarik perhatian adalah artefak dengan bendera biru langit.

['Throne of Lightning', Zeus.]

Karena sudah lebih dulu turun ke medan perang, dia sedang bergerak menuju suatu tempat.

Bukan hanya itu. Bendera yang terus bermunculan di Round Table satu demi satu sedang berkumpul menuju satu titik.

[Perang terakhir akan segera dimulai.]

Para constellation myth-grade, dengan ekspresi mengeras, menoleh serempak ke satu tempat.

Di sana berdiri kepala King yang agung, bendera putihnya berkibar.

「 Sosok yang akan menentukan arah dari 'battlefield' ini. 」

Odin membuka mulutnya.

[Akhirnya, waktunya telah tiba bagi 'Oldest Dream' untuk bangkit.]

Di dalam kegelapan pekat, Killer King menatap langit malam yang bersinar melalui celah-celah tendanya. Bintang jatuh sedang turun dari langit.

Killer King memikirkan para constellation yang sekarat. Bintang-bintang yang menginginkan cerita manusia, tidak mampu menahan hasrat mereka yang membengkak, dan akhirnya jatuh dari langit.

Mungkin memang wajar bagi manusia untuk memandang tragedi di langit dan menganggapnya indah.

"Kim Dokja."

Killer King memanggil nama salah satu bintang itu. Namun pemilik nama tersebut tidak memberikan jawaban. Karena dia telah lama jatuh dari langit dan berada di tanah.

「 Kim Dokja tertidur di ranjang barak. 」

Killer King berdiri dari tempat duduknya dan memeriksa napas Kim Dokja.

"Aku tidak tahu mimpi macam apa yang sedang kau alami, tapi sekarang kau harus kembali."

Napasnya normal, tetapi Kim Dokja masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Killer King menatapnya lalu bergumam.

"Atau mungkin dunia saat ini justru adalah mimpi yang sedang kau alami."

Melihat wajah Kim Dokja yang tertidur lelap, Killer King mengingat momen saat pertama kali bertemu dengannya.

「 "Aku Kim Dokja." 」

Seorang pria dengan penampilan yang sama seperti Kim Dokja. Seorang incarnation yang menggunakan skill yang sama seperti Kim Dokja dan menaklukkan skenario dengan cara luar biasa yang sama.

Kim Dokja yang sempurna, tanpa diragukan lagi adalah 'Kim Dokja' bagi siapa pun.

「 "Mulai sekarang, aku akan memimpin skenario." 」

Namun demikian, setiap kali dia memanggilnya 'Kim Dokja', Killer King merasakan rasa bersalah yang tak dapat dijelaskan. Karena di dalam dirinya, 'Kim Dokja' memiliki wujud orang lain.

「 Dalam pikirannya, Kim Dokja memiliki penampilan Cheon Inho. 」

Seseorang yang sedikit canggung dibanding Kim Dokja yang dia kenal, mudah panik, dan terkadang melakukan tindakan bodoh.

Namun demikian, orang yang nama 'Kim Dokja' paling cocok untuknya dibanding siapa pun.

"Kim Dokja."

Tanpa benar-benar tahu siapa yang dia panggil, Killer King kembali memanggil nama itu. Lalu, sebuah ingatan melintas di benaknya seperti halusinasi.

「 "Kalau itu membuatmu tidak nyaman, kau tidak perlu memanggilku Kim Dokja." 」

Kim Dokja yang berdiri di hadapannya pernah mengatakan itu kepada Killer King, yang kesulitan memanggilnya Kim Dokja.

「 "Kau masih baik-baik saja dengan itu?" 」

Saat Killer King ragu dan bertanya balik, Kim Dokja menjawab.

「 "Aku baik-baik saja." 」

「 "Kau tidak terlihat baik-baik saja." 」

「 "Kalau aku bilang aku tidak baik-baik saja." 」

Setelah sesaat hening, Kim Dokja menambahkan dengan ekspresi aneh.

「 "Apa ada yang bisa kau lakukan untukku?" 」

Killer King tidak bisa memahami keadaan pikiran Kim Dokja saat mengatakan kata-kata itu.

Kim Dokja yang dia kenal selalu memiliki rekan lain di sisinya. Han Sooyoung, Yoo Sangah, Jung Heewon, Lee Hyunsung, Lee Jihye, Kim Namwoon, Shin Yoosoung, Lee Gilyoung, dan <Kim Dokja Company> ada di sana. Dan Yoo Joonghyuk juga ada di sana.

Namun siapa yang tersisa di sisi Kim Dokja sekarang?

「 "Aku." 」

"Oppa."

Killer King tersadar dari lamunannya mendengar panggilan adiknya. Cha Yerin sedang meletakkan tangan di pundaknya.

Setelah memeriksa Kim Dokja yang masih tertidur, Cha Yerin menghela napas pelan dan langsung menyampaikan tujuannya.

"Ada masalah."

Dia tidak perlu bertanya masalah apa yang dibicarakan adiknya. Killer King juga telah merasakannya. Dia tahu energi mengerikan telah berkumpul di luar barak sejak beberapa waktu lalu.

Beberapa energi terasa familiar, sementara yang lain asing. Namun momentum yang terpancar dari mereka semua serupa.

"Mereka datang."

"Ya."

Killer King memandang singkat Kim Dokja yang masih tertidur. Lalu pertanyaan itu kembali terlintas di benaknya.

「 "Kalau aku bilang aku tidak baik-baik saja, apa ada yang bisa kau lakukan untukku?" 」

Mungkin sekarang saatnya menjawab pertanyaan itu.

1017 Episode 62 Snowfield Kim Dokja (7)

Mobil Ferrari Kelas X yang melaju di jalan tak beraspal itu sedikit berguncang. Ji Eunyu yang duduk di kursi penumpang sedang menatap ke luar jendela. Di luar, hujan hitam turun tanpa henti.

“Hujannya deras.”

Fragmen-fragmen cerita menempel pada hujan hitam itu. Saat ia menempelkan tangannya ke kaca jendela, fragmen-fragmen cerita yang seolah telah menunggu momen ini sambil menjerit langsung mengalir turun.

Ji Eunyu menarik napas panjang lalu melepaskan tangannya dari jendela. Anna Croft yang memegang kemudi bertanya.

“Apa kau baik-baik saja?”

Ji Eunyu mengangguk dan menjawab.

“Aku baik-baik saja.”

Bagaimana mungkin ia baik-baik saja?

Dunia sedang menuju kehancuran. Lava menyembur dari tanah yang retak dan menelan makhluk hidup, sementara bintang-bintang di langit berjatuhan akibat petir yang menyambar dari entah mana.

「 Hujan hitam ini adalah jeritan bintang-bintang yang sesaat sebelumnya masih hidup. 」

Ini adalah situasi di mana tak seorang pun bisa berkata bahwa mereka baik-baik saja. Namun alasan ia masih bisa mengatakan dirinya baik-baik saja mungkin karena kekuatan skill yang dimilikinya.

[Exclusive Skill, 'Abnormal Adaptability Lv.???', diaktifkan!]

Sebuah exclusive skill yang juga dimiliki Kim Namwoon, salah satu karakter.

Berkat skill itu, Ji Eunyu berhasil melewati skenario pertama dan mampu memanfaatkan pengetahuannya tentang dunia ini dengan tenang.

「 “Kurasa aku tidak bisa lagi mengkritik kurangnya probabilitas kepada author-nim.” 」

Pada hari pertama ketika kejadian tak masuk akal berupa novel yang menjadi kenyataan terjadi, ia memikirkan orang yang menulis cerita ini.

Entah itu sebuah kutukan atau berkah, ia pernah menanyakan pertanyaan berikut kepada penulis yang ditugaskan kepadanya.

「 “Kalau Anda berpindah ke dalam sebuah novel, apa yang akan Anda lakukan pertama kali?” 」

Mungkin karena itu pertanyaan yang tidak akan pernah diajukan Ji Eunyu yang sangat realistis, penulisnya berpikir lama sebelum menjawab.

「 “Kau harus memilih sponsor, kan?” 」

「 “Kim Dokja tidak memilih.” 」

「 “Apa kau Kim Dokja?” 」

「 “Kalau begitu... siapa yang akan Anda pilih?” 」

Mungkin karena setiap hari ia selalu menunjukkan kurangnya probabilitas dalam cerita, editornya berpikir cukup lama sebelum berkata.

「 “Aku akan memilih konstelasi yang tidak muncul di karya aslinya.” 」

「 “Apa? Itu sangat berisiko, bukan?” 」

「 “Siapa pun yang kau pilih tetap sama berbahayanya. Dan siapa tahu? Pilihan yang tidak dipilih siapa pun mungkin saja memenangkan lotre.” 」

Biasanya ia akan berteriak, “Jangan bicara omong kosong yang tidak masuk akal lagi!” namun kali ini ia mengikuti nasihat itu dengan setia.

Ini adalah masalah hidup dan mati.

[Konstelasi 'Lotus Blooming Under the Moonlight' memandangmu dengan penuh perhatian.]

Dan dengan demikian, bintang pelindungnya menjadi 'Moonlight Empress Yoo Sangah', anggota dari <Kim Dokja Company>.

Andai editornya ada di sampingnya, dia mungkin akan berteriak sambil membuat gestur berlebihan khas dirinya.

「 “Lihat! Selamat karena memenangkan lotre.” 」

Bahkan setelah itu, ia selalu mengingat nasihatnya setiap kali harus membuat pilihan.

Saat menyelesaikan skenario, memperoleh hadiah, ataupun menjalani peristiwa pertumbuhan.

「 “Seberapa pun stabil pertumbuhanmu, kalau kau bukan protagonis, ada batas untuk berkembang. Bagaimana kau akan mengatasinya?” 」

「 “Aku harus menumpang pada protagonis.” 」

「 “Bagaimana kalau itu tidak memungkinkan?” 」

「 “Kalau begitu... mungkin hanya ada satu cara.” 」

Ji Eunyu sering bertanya-tanya.

Jika mereka bertemu lagi, apakah dia akan memberikan jawaban yang sama?

Bahkan di dunia ini, di mana novel benar-benar menjadi kenyataan, apakah dia akan memberi nasihat yang sama seperti dulu?

「 “Covenant of the Other World.” 」

Dalam cerita, Kim Dokja berkali-kali memperingatkan tentang 'Covenant of the Other World'.

Namun Kim Dokja dan Han Sooyoung sama-sama membuat perjanjian itu.

Dan mereka selamat.

Meskipun keduanya harus membayar harga yang mengerikan karenanya, Ji Eunyu tetap menganggapnya sebagai pertaruhan yang layak dicoba.

「 【Kau yang bahkan belum mengetahui apa ■■ milikmu. Baiklah. Aku akan menukar pengetahuan yang kau miliki dengan kekuatan 'Records'.】 」

Ia membuat 'Covenant of the Other World' dengan klan Wenny.

【Benar-benar aneh. Kau sudah memiliki 'Talent of Recording'. Seorang perekam yang berspesialisasi dalam 'Editing'...】

Ia memperoleh kekuatan sebagai 'Recorder of Fear'.

Setelah memperoleh kemampuan untuk merevisi [Fate], ia juga mendapatkan kualifikasi untuk bertransaksi dengan Nebula.

Di tengah jalan, krisis datang berkali-kali.

Namun setiap kali krisis muncul, ia bertahan dengan memikirkan orang yang menulis cerita ini.

Apa yang akan dia lakukan?

Perkembangan seperti apa yang akan dia tulis selanjutnya?

Pilihan apa yang akan dia ambil?

「 Bagi Ji Eunyu, hidup di dunia ini juga berarti memahami seseorang. 」

Ada kenangan yang tumbuh saat terus direnungkan.

Ada pula ikatan yang semakin dalam justru karena terpisah.

Sambil menjalani kehidupan dan berjuang bertahan di dunia yang ia catat itu, Ji Eunyu sering memimpikan penulis yang ditugaskan kepadanya.

「 “Kalau ada satu hal yang kusesali...” 」

Tepat setelah menyelesaikan cerita utama, penulisnya pernah berkata demikian.

「 “Tetap saja, akhir ceritanya...” 」

「 “Kalau bisa menulisnya lagi, apakah Anda ingin akhir yang berbeda?” 」

「 “Kalau itu memungkinkan...” 」

Setelah kembali berpikir lama, penulisnya akhirnya tersenyum pahit dan berkata.

「 “Tidak. Bagaimanapun juga, akhir ini yang terbaik.” 」

Akhir seperti apa yang sebenarnya pernah dibayangkan penulisnya?

Ji Eunyu telah melangkah sejauh ini sambil terus memikirkan hal itu.

“Cloud Mountain.”

Mungkin ia terlalu tenggelam dalam pikirannya.

Ji Eunyu baru sadar agak terlambat bahwa Anna Croft sedang memanggilnya.

“Ya.”

Saat ia menjawab, Anna berkata.

“Aku sudah banyak mendengar tentangmu.”

“Dari siapa?”

“Dari para bintang.”

Mata Anna Croft memancarkan cahaya merah yang cemerlang.

“Aku mendengar bahwa hanya mereka yang telah melihat akhir sebuah dunia, atau setidaknya mencapai prestasi setara, yang memenuhi syarat menjadi 'Recorder of Fear'. Tapi kudengar kau sudah memperoleh gelar 'Recorder'.”

“...”

“Aku juga mendengar bahwa kaulah yang mengumpulkan para inkarnasi untuk 'Ragnarok' ini.”

Alih-alih menjawab, Ji Eunyu melihat kendaraan-kendaraan di belakang mereka melalui kaca spion samping.

Ratusan kendaraan mengikuti dari belakang.

Mereka adalah pasukan inkarnasi dari berbagai negara.

Pasukan Korea yang mengikuti Cheon Inho.

Bahkan para inkarnasi luar negeri yang pernah menerima bantuannya setidaknya sekali.

“Aku tidak pernah menyangka satu inkarnasi bisa mencapai sejauh ini. Kau benar-benar luar biasa.”

“Tidak, sama sekali tidak. Justru kaulah yang luar biasa.”

Ji Eunyu tahu bagaimana Anna Croft bisa bertahan sampai sejauh ini.

“Kaulah satu-satunya yang selamat setelah bertarung dalam begitu banyak pertempuran pendahuluan untuk 'Ragnarok'.”

“Kalau dia tidak membantuku, aku pasti sudah mati.”

Ji Eunyu juga tahu siapa 'dia' yang dimaksud Anna Croft.

Setelah ragu sejenak, Anna kembali berbicara.

“Kim Dokja pernah membicarakanmu.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia bilang aku harus menemukanmu lebih dulu, apa pun yang terjadi, begitu skenario dimulai.”

Ji Eunyu mengangguk sambil berkata, “Ah,” lalu buru-buru bertanya.

“Hanya itu?”

Mungkin karena melihat ekspresi kecewa yang aneh di wajah Ji Eunyu, Anna cepat-cepat menambahkan.

“Dia juga bilang bahwa kau adalah orang yang paling dia percayai.”

“...Masih belum ada kabar darinya?”

“Ya.”

Keduanya terdiam sejenak.

Meskipun tak ada kata-kata yang terucap, mereka tahu bahwa saat itu mereka memikirkan hal yang sama.

“Semuanya akan baik-baik saja. Karena dia orang yang kuat.”

“Kau percaya padanya.”

“Kalau aku tidak percaya, aku tidak mungkin bisa sampai sejauh ini. Sama seperti dirimu.”

Anna Croft mengangguk.

Ia mengeluarkan dua tiket sobek dari dalam pakaiannya.

Itu adalah tiket calo yang diberikan Kim Dokja kepadanya.

Berkat tiket itu, ia bisa bergabung sebagai bagian dari 'Army of Calamity' dan bertemu Ji Eunyu yang memilih faksi yang sama.

“Bagaimana dengan [Future Sight]? Apa kau melihat sesuatu?”

“Aku tidak melihat apa-apa.”

Jumlah hujan hitam yang turun di luar jendela mobil semakin banyak dibanding sebelumnya.

Itu pasti berarti banyak bintang sedang jatuh dari langit.

Anna Croft kembali bertanya.

“Apa kau benar-benar akan terus maju seperti ini? Bukankah lebih baik menunggu Kim Dokja atau Yoo Joonghyuk datang?”

Meskipun Kim Dokja tidak dapat dihubungi, masih masuk akal untuk menunggu Yoo Joonghyuk yang hanya pergi sebentar.

Namun Ji Eunyu menggelengkan kepalanya.

“Kita harus bergerak sekarang, meskipun hanya kita saja. Konstelasi mitologi dari Round Table telah menghilang. Kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang lagi.”

Karena alasan yang tidak diketahui, 'Round Table' milik para konstelasi telah kehilangan kekuatannya.

Hal itu menciptakan kekosongan kekuatan besar di dalam 'Ragnarok' dan membuat medan perang berada dalam ketenangan sementara.

Sekarang adalah satu-satunya waktu untuk mengubah takdir dunia ini.

“Kita sudah sampai.”

Dengan hentakan ringan, Ferrargini berhenti.

Ji Eunyu dan Anna Croft memerintahkan kelompok di belakang mereka untuk menunggu sebentar sebelum berjalan maju.

Anna Croft bergumam pelan.

“Dari dekat, kekuatan mereka sangat luar biasa.”

Bahkan di dalam 'Army of Calamity', terdapat perbedaan kekuatan antar faksi.

Tempat yang baru saja mereka datangi adalah salah satu kelompok terbesar dalam faksi Calamity di 'Ragnarok' ini.

Pihak Calamity menyebut faksi tersebut sebagai berikut.

「 Snow White. 」

Kehadiran Outer God yang mengerikan dapat dirasakan dari dalam Nest of Calamity yang tampak menetap di hamparan abu putih bersih.

Namun semuanya tertidur lelap.

Seolah menunggu tuan mereka.

Atau seolah mereka tahu bahwa sekarang belum waktunya untuk bangun.

Ji Eunyu dan Anna Croft menunggu beberapa saat di pintu belakang perkemahan.

Anna Croft bertanya.

“Apakah dia benar-benar akan membantu?”

“Dia akan membantu.”

“Tapi kudengar dia sudah lama bersama faksi ini.”

“Karena dia sudah bersama kami begitu lama, dia tidak punya pilihan selain membantu. Karena dialah yang ingin menjadi 'Kim Dokja' lebih dari siapa pun di antara kami.”

Tak lama kemudian, pintu belakang perkemahan terbuka.

Pria yang muncul adalah seseorang yang juga sangat dikenal Ji Eunyu.

“Ye Hyunwoo-ssi.”

Pria itu adalah Ye Hyunwoo.

Kini telah menjadi seorang pemuda setelah delapan tahun berlalu, Ye Hyunwoo menyapa mereka dengan ekspresi sedikit lelah.

“Jadi kalian akhirnya datang.”

Ji Eunyu mengangguk.

“Karena waktu yang dijanjikan telah tiba.”

Setelah menarik tudung jubah yang telah dipersiapkannya ke atas kepala, Ji Eunyu bertanya.

“Apakah Snow White sudah bangun?”

Snow White.

Sosok yang dikenal di kalangan Recorders of Fear sebagai 'Snowfield Kim Dokja'.

Ye Hyunwoo menggigit bibirnya pelan saat mendengar julukan itu lalu menjawab.

“Dia masih tertidur. Tapi dia akan segera bangun.”

“Tolong tuntun kami.”

“Kalian berdua saja yang masuk?”

“Kalau dia belum bangun, tidak ada gunanya membuat keributan.”

Ye Hyunwoo menghela napas ringan lalu mulai berjalan di depan.

Seolah perintah telah diberikan sebelumnya, ia menuju ke inti perkemahan.

Sementara itu, tak seorang pun menghentikan mereka.

Ye Hyunwoo melirik perlengkapan Ji Eunyu lalu bertanya.

“Apa kau sudah punya rencana? Bahkan jika dia sedang tidur, menggunakan kekuatanmu secara keliru padanya bisa berbalik menyerangmu.”

“Kalau dia benar-benar tidur, ada caranya.”

Ji Eunyu mengeluarkan sebuah apel dari dalam pakaiannya.

Mata Ye Hyunwoo bergetar hebat saat melihat apel itu.

Karena ia tahu benda macam apa itu.

「 The Witch's Apple. 」

“Kalau dia benar-benar 'Snow White', dia tidak akan mudah lolos dari efek 'Stage-ization' milik apel ini.”

Ye Hyunwoo menatap apel itu beberapa saat sebelum bertanya.

“Benarkah harus sampai seperti ini?”

“Ya.”

“Dia juga bagian dari 'Kim Dokja' yang kita kenal. Tidak adakah cara untuk mencoba membujuknya sekali lagi?”

Alih-alih menjawab, Ji Eunyu menatap Ye Hyunwoo beberapa saat.

Lalu ia menjawab dengan suara tenang dan jelas.

“Kau seharusnya lebih tahu dariku tentang Kim Dokja seperti apa dia.”

“...”

“Dialah yang merobek Kim Dokja lainnya dengan tangannya sendiri. Karena dirinya, semua tragedi ini terjadi. Jika dia orang yang bisa dibujuk, para Kim Dokja lainnya tidak akan berakhir seperti itu.”

Ye Hyunwoo mendengarkan kisah itu dalam diam.

Itu adalah cerita yang kini sudah diketahui keduanya.

Bagaimana dunia ini tercipta, dan mengapa tragedi ini dimulai.

“Kau tahu apa yang akan terjadi pada dunia ini jika kita membiarkan Kim Dokja seperti itu menjadi 'satu-satunya Kim Dokja'.”

Ye Hyunwoo tidak menyangkal kata-kata Ji Eunyu.

Sebaliknya, ia memandang tenda yang terlihat di kejauhan.

Sebuah tenda dengan bendera pucat yang berkibar.

Tempat di mana target mereka sedang tertidur.

Ye Hyunwoo yang berjalan di depan tiba-tiba berhenti dan berkata.

“Aku memang setuju dengan tekadmu, jadi aku tidak akan menghentikanmu. Namun.”

Ia melirik Ji Eunyu yang berdiri di sampingnya lalu menambahkan.

“Ingatlah ini. Tidak semua pembaca memiliki pemikiran yang sama denganmu.”

Saat berikutnya, tirai terbuka dan seorang pria serta wanita muncul seolah telah menunggu.

Ji Eunyu memandang pria yang berdiri lebih depan lalu berkata.

“Second Apostle.”

Lalu Second Apostle—Killer King—mengangguk dan menjawab.

“Lord of the Apostles.”

Itulah momen ketika dua orang yang membaca cerita ini lebih banyak daripada siapa pun di dunia ini saling berhadapan.

Mereka saling menatap beberapa saat, seolah sedang mengukur dunia yang telah mereka baca dan jalani—atau akhir dari cerita yang telah mereka baca.

Killer King-lah yang berbicara lebih dulu.

“Apakah kau datang untuk membunuh Kim Dokja?”

1018 Episode 62 Snowfield Kim Dokja (8)

“Tolong minggir.”

Killer King tidak mundur meskipun mendengar suara dingin Ji Eunyu. Sebaliknya, ia menatap Ye Hyunwoo yang berdiri di belakang Ji Eunyu sambil mengamati situasi.

“Hyunwoo, jadi pada akhirnya kau memilih jalan itu.”

Ye Hyunwoo memalingkan wajah ketika tatapan mereka bertemu, seolah tidak sanggup menatapnya. Setelah mengalihkan pandangan dari Ye Hyunwoo, Killer King kembali menatap Ji Eunyu dan berbicara.

“Kau tidak bisa menemui Kim Dokja.”

“Kim Dokja.”

Bersamaan dengan kata-kata Ji Eunyu, cerita-cerita beriak dari seluruh tubuhnya. Ye Hyunwoo dan Anna Croft membelalakkan mata.

Mereka merasakan kualitas cerita yang memancar darinya.

「 Setidaknya setingkat Narrative, dan kualitasnya setara dengan Dua Belas Divine Seats dari <Olympus>. 」

Hanya Killer King yang tetap tidak terpengaruh.

Menghadapi Killer King, Ji Eunyu bertanya.

“Apakah kau benar-benar percaya bahwa pria itu adalah 'Kim Dokja'?”

Hujan hitam gerimis turun di langit malam Ragnarok.

Cerita-cerita para bintang yang telah gugur.

Menatap sisa-sisa cerita yang berserakan di mana-mana itu, Killer King berbicara.

“Ya. Orang itu adalah Kim Dokja.”

“Kau serius?”

Ji Eunyu menatap tajam Killer King tanpa bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

“Kau sangat tahu siapa Kim Dokja yang sebenarnya.”

“Dia sudah lama meninggalkan kami.”

“Bagaimana jika dia sudah kembali?”

Mata Killer King bergetar.

“Bagaimana aku bisa mempercayainya?”

“Karena aku melihatnya dengan mataku sendiri. Di 'Archives' yang ada di Bicheonhori.”

Archives di Bicheonhori.

Killer King juga mengetahui tempat itu.

“Kau pasti juga mendengar rumor itu. Bahwa ada seorang inkarnasi yang menghancurkan 'New Murim District' dan naik ke 'Ragnarok'.”

Killer King terdiam sesaat.

Ia memandang langit yang jauh, seolah tenggelam dalam pikirannya, atau mungkin sedang mencari sebuah bintang yang telah lama hilang.

“Bahkan jika dia sudah kembali, sekarang sudah terlambat.”

“Karena Yerin-ssi? Aku dengar dia menyelamatkannya.”

Saat menerobos skenario pertengahan, Cha Yerin mengalami luka yang cukup parah hingga merusak tubuh spiritualnya.

Saat itu, Killer King nyaris berhasil memperoleh 'Holy Oil Fruit' berkat bantuan Snowfield Kim Dokja, dan mampu menyelamatkan adiknya.

“Itu tidak ada hubungannya.”

“Kalau begitu kenapa kau menghentikanku?”

Killer King tetap memandang langit.

Satu bintang berkelip di kejauhan.

Killer King perlahan membuka mulutnya.

“Dahulu ada sebuah cerita. Dan ada seorang anak laki-laki yang membaca cerita itu.”

“...”

“Lahir tanpa mengetahui siapa orang tuanya ataupun asal-usulnya, dia hidup hanya dengan bergantung pada cerita itu.”

Ji Eunyu mendengarkan kisah itu dalam diam.

“Anak laki-laki itu berusaha menjadi seperti protagonis dalam cerita tersebut. Dia menghafal kalimat-kalimat yang sering diucapkan protagonis itu. Dia meniru ekspresi yang sering dibuat protagonis itu. Bahkan kebiasaannya pun dia tiru.”

“...”

“‘Aku adalah Yoo Joonghyuk’, ‘Aku adalah Yoo Joonghyuk’...”

“Cerita itu...”

“Kemalangannya terasa persis seperti kemalanganku.”

Killer King menatap Ji Eunyu dengan mata tajam, seolah hendak menembus dirinya.

“Seolah-olah dia sedang berkata demikian. Bahwa kemalangan itu istimewa. Bahwa itu adalah hak istimewa yang hanya diberikan kepada protagonis.”

Sekilas, itu terdengar sangat mirip dengan kisah 'Kim Dokja'.

Namun itu bukan kisah Kim Dokja.

Itu adalah kisah Killer King.

“Apakah itu rasa iba? Kau pikir dia mirip denganmu?”

Terhadap pertanyaan Ji Eunyu, anak laki-laki yang tumbuh dengan membaca cerita itu dan meniru protagonisnya menjawab.

“Tak seorang pun menjadi yatim piatu karena pilihannya sendiri. Aku hanya berbicara sebagai seorang pembaca.”

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

“Aku tahu bahwa 'Kim Dokja' bukanlah 'protagonis' dari cerita yang kita baca. Namun—”

Killer King berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Tiba-tiba aku memikirkannya. Apakah protagonis dari cerita yang kita baca juga menganggap pria di dalam tenda itu sebagai 'palsu'?”

“...”

“Apakah Kim Dokja benar-benar berpikir bahwa 'Kim Dokja' itu harus menghilang?”

Saat Ji Eunyu ragu untuk menjawab, Killer King kembali bertanya.

“Apa yang dikatakan Kim Dokja milikmu?”

Ji Eunyu menyadari bahwa pertarungan ini tidak dapat dihindari.

Ini adalah pertarungan untuk membuktikan pemahaman masing-masing.

Sebuah duel untuk membuktikan 'Kim Dokja' milik masing-masing melalui cerita yang telah mereka jalani.

“Karena sebagai editor cerita ini, aku hanya berusaha menghapusnya.”

Killer King mengangguk.

“Kau sudah siap, bukan? Ini adalah sebuah 'cerita'.”

“Outer Gods tidak akan ikut campur.”

Benturan antara keduanya memercik di udara.

Namun Outer Gods di sekitar mereka tidak bereaksi.

“Karena mereka tidak punya alasan untuk maju.”

Baik Outer Gods yang tertidur maupun yang baru saja terbangun tidak ikut campur dalam bentrokan yang terjadi di pusat Disaster Faction.

Alasannya sederhana.

「 Sekarang, dua 'Fragmen Kim Dokja' akan bertabrakan di sini. 」

Siapa pun yang menang, Outer Gods yang memuja 'Oldest Dream' tidak memiliki alasan untuk campur tangan.

Jika salah satu hancur, fragmen itu akan menjadi milik mereka.

Killer King yang memahami niat para Outer Gods tersenyum pahit.

“Kalau begini, sejak awal tempat ini memang seperti rumah kosong.”

Outer Gods menyaksikan.

Para konstelasi meninggalkan pos mereka.

Satu-satunya hal yang ada di dalam Disaster Faction saat ini hanyalah semangat juang dua orang itu.

“Yerin-ah.”

Saat Killer King membuka mulut, Cha Yerin melangkah maju.

Cha Yerin yang bertemu tatapan dengan Ji Eunyu menundukkan kepalanya dalam-dalam dan berkata.

“Maafkan aku.”

Ji Eunyu menggelengkan kepala.

Jika Killer King memilih berpihak pada lawan, maka tentu adiknya juga akan mengambil pihak yang sama.

Itu hal yang wajar.

“Sayang sekali. Aku sebenarnya ingin berbicara lebih banyak denganmu, Yerin-ssi.”

Menggigit bibirnya, Cha Yerin perlahan mengangkat kedua tinjunya.

Badai salju berputar menyelimuti kedua kepalanya.

Killer King berkata.

“Mundurlah. Bahkan sekarang pun masih belum terlambat.”

Sebuah koneksi samar terbentuk antara kedua saudara itu, dan sebuah kontroler muncul di depan mata Killer King.

[Inkarnasi 'Lee Seyeon' mengaktifkan skill 'Battle Action Mode'!]

[Battle Action Mode, spesialisasi saudara Killer King!]

Karena tidak melihat tanda-tanda Ji Eunyu akan mundur, Killer King langsung mengaktifkan perintahnya.

“Dark Spinning Breaker.”

[Advanced Command berhasil diaktifkan!]

Input command tanpa sedikit pun keraguan.

Kini Killer King dapat mengaktifkan teknik yang dahulu dianggap sebagai jurus pamungkas itu dengan sangat mudah.

[Exclusive Trait milik inkarnasi 'Lee Seyeon' diaktifkan!]

[Daya serang command terkait meningkat!]

Tanah di sekitarnya berguncang saat cakar Cha Yerin yang diselimuti [White Blue Energy] menghantam.

Kugugugu!

Itu adalah tingkat daya hancur yang benar-benar mengerikan.

Serangan yang bahkan sulit ditahan oleh para konstelasi, apalagi Ji Eunyu.

Namun Ji Eunyu yang muncul dari debu sama sekali tidak terluka.

Cakar Cha Yerin berhenti tepat di depan hidungnya setelah udara di sekitarnya diikat rapat menggunakan [Arachne's Threads].

Melihat [White Blue Energy] yang berkilauan di dalam cakar itu, Ji Eunyu berkata.

“Maaf, tapi aku juga tidak datang sendirian.”

Sebelum Cha Yerin sempat menjawab, sebuah belati tajam melesat ke samping tubuhnya.

Saat ia buru-buru mengayunkan cakarnya untuk menangkis belati itu, sebuah mata merah bercahaya menatapnya.

“Prophet.”

Ekspresi Cha Yerin mengeras.

Gerakannya menjadi lebih cepat.

Ketika serangkaian combo [Fighting Action] yang bisa digunakan tanpa command dilepaskan berturut-turut, Anna Croft mengerang dan mundur.

Meskipun lawannya adalah 'Anna Croft', Cha Yerin sama sekali tidak mundur.

Tidak, justru terasa seolah dia sedang menekannya dengan kekuatan fisik murni.

“Aku memang dengar kau memakan Holy Oil Fruit, tapi sejujurnya ini mengejutkan.”

Cerita Cha Yerin menciptakan aliran panas di dalam Story Vein miliknya.

Cerita-cerita yang bersinar terang seperti huruf-huruf yang tercetak di atas kertas bersih.

Kekuatan cerita itu terkandung dalam pukulan dan tendangan yang datang tanpa jeda.

Tak lama kemudian, tubuh Anna Croft dipenuhi luka besar dan kecil.

Sehebat apa pun Anna Croft sebagai seorang inkarnasi, keunggulannya adalah peperangan informasi melalui [Future Sight].

Dia tidak cocok melawan Cha Yerin yang merupakan petarung alami.

Meski begitu, Anna Croft tampak sama sekali tidak panik.

“Kau jauh lebih hebat daripada yang kudengar dari Kim Dokja.”

Cha Yerin yang terguncang hendak mengatakan sesuatu, namun buru-buru membungkuk.

Niat membunuh yang tersembunyi.

Sambaran petir melintas di udara dan menggores rambutnya.

Sambil mengagumi refleksnya, lawannya bergumam.

“Aku tidak menyangka kau bisa menghindarinya.”

Cha Yerin mengenali pemilik petir yang memotong rambutnya.

“Asuka Ren.”

Asuka Ren, inkarnasi terkuat Jepang, ada di sana.

Berdiri berdampingan dengan Anna Croft, ia bertanya.

“Kau bilang tidak bisa menghindarinya kalau aku menyebut nama itu? Apa kau benar-benar bisa melihat masa depan?”

“Masa depan yang berkaitan dengannya sering kali meleset.”

“Mari menyerang bersama.”

Anna Croft mengaktifkan [Foresight], dan Asuka Ren melindunginya.

Ketika dua inkarnasi kelas atas itu mulai melakukan serangan penjepit, bahkan Cha Yerin perlahan mulai kehilangan keunggulannya.

Di bawah perlindungan [Foresight] yang membaca seluruh informasi pertempuran, tebasan pedang Asuka Ren menyerang titik lemahnya lebih cepat daripada yang ia perkirakan.

Sebuah ledakan cerita terdengar.

Pishuu!

Cha Yerin menggigit bibirnya erat-erat.

Ini benar-benar situasi yang mengharuskannya bertarung dengan tekad membunuh lawan.

Namun input command-nya terlambat.

Kugugugu!

Badai debu membubung di depan tenda tempat Killer King berdiri.

Ji Eunyu yang menghindari tinju Killer King yang melesat melalui udara berkata.

“[Hundred Steps Divine Fist]. Kau telah menguasai teknik Yoo Joonghyuk.”

“Aku mempelajarinya setelah menyelamatkan seorang biksu Shaolin yang sekarat. Yang kau gunakan itu [Cloud Steps]?”

Alih-alih menjawab, Ji Eunyu mengeluarkan pedang dari balik pakaiannya.

Killer King juga mengangkat crossbow miliknya.

“[Gangmashi].”

Panah-panah yang turun dari jarak dekat meluncur lurus ke arah Ji Eunyu.

Saat Ji Eunyu menghindari panah-panah itu dengan [Ways of the Wind], Killer King berbicara seolah telah menunggu saat ini.

“[Blood Explosion].”

Gangmashi yang melayang meledak secara bersamaan.

Pada saat yang sama, Stigmata yang berada di ujung panah aktif.

「 [Unit 503] milik Yophiel, Commander of the Red Cosmos. 」

Prajurit-prajurit kecil yang menggenggam tombak tajam bermunculan dari kabut merah.

Holy Soul milik Yophiel, [Unit 503], melepaskan kekuatannya untuk merobek segala sesuatu.

Pada jarak sedekat ini, itu adalah serangan yang bahkan dapat melukai konstelasi Narrative-grade secara fatal.

Meski begitu, Ji Eunyu tetap melangkah keluar menembus kabut merah.

Killer King yang memastikan cerita yang melindungi tubuhnya bergumam.

“[Protective Energy], [Repulsion Energy], bahkan [Immortal Body] juga... Berapa banyak teknik pertahanan yang telah kau pelajari?”

Kemampuan untuk menahan [Stigmata] seorang Archangel Narrative-grade hanya melalui penumpukan skill.

Namun potensi sebenarnya dari Apostle Order Leader Ji Eunyu tidak berhenti sampai di situ.

“Aku tidak pernah mempelajarinya.”

“Apa?”

“Aku hanya membacanya. Hanya—”

Pedang Ji Eunyu bergerak.

“Aku hanya membacanya sekuat tenaga.”

Melihat ilmu pedang yang beriak seolah hidup, Killer King menyadari seni bela diri macam apa itu.

[Emperor Sword Form.]

Itu adalah seni bela diri milik klan Namgung yang telah musnah.

Namun dalam satu sisi, itu bukan [Emperor Sword Form] yang ia kenal.

“Bagaimana mungkin—”

Sambil melepaskan puluhan panah penguat iblis ke arah Ji Eunyu yang menyerbu maju, Killer King melihat bayangan seseorang di dalam dirinya.

“...Yoo Joonghyuk.”

Pedangnya berbeda dari milik Yoo Joonghyuk.

Namun keputusasaan yang tertanam dalam daya ledaknya mengingatkannya pada pria yang selalu ia kagumi.

Bagaimana hal seperti itu mungkin?

“Jangan-jangan.”

Tak ada inkarnasi yang ia kenal yang bisa mengayunkan pedang seperti itu.

Tak peduli seberapa besar bakatnya atau seberapa keras usahanya, itu seharusnya mustahil.

Dan Killer King, yang mengingat cerita ini lebih baik daripada siapa pun, mengetahui satu karakteristik yang mampu membuat hal mustahil menjadi mungkin.

“[A Life of Full Power].”

Karakteristik yang memungkinkan seseorang mengeluarkan seluruh bakatnya sebagai ganti umur yang telah ditentukan.

Ji Eunyu terus maju sambil menepis panah-panah.

Langkahnya berat dan dalam.

Melihat langkah-langkah itu, Killer King menyadari sesuatu.

Ia juga merasa telah menjalani delapan tahun terakhir dengan sekuat tenaga.

Ia merasa telah bekerja keras dan berjuang.

「 Namun berat sejarah yang dijalani berbeda. 」

Meski menghabiskan waktu yang sama atau membaca cerita yang sama, kalimat-kalimat yang menumpuk di dalam diri setiap orang tetap berbeda.

Seolah mengganti semua jawaban dengan tebasan pedangnya, Ji Eunyu terus mengayunkan pedang.

Meski panah-panah terus berdatangan secara real-time dan [Blood Explosion] terus meledak, jarak antara keduanya perlahan semakin dekat.

Saat jarak mereka akhirnya tinggal selemparan batu, Ji Eunyu menepis panah terakhir dan berkata.

“Ada para inkarnasi yang menunggu di luar. Mereka semua adalah inkarnasi yang juga kau kenal.”

Killer King juga tahu.

Ia sudah lama merasakan tatapan yang mengintip dari luar perkemahan.

Para inkarnasi sedang menyaksikan pertarungan mereka.

Di antara mereka ada wajah-wajah yang dikenalnya.

Bang Cheolsoo dari faksi Inho.

Bahkan para pengemis dari Beggars' Sect yang datang dari Seoul Station.

Para inkarnasi yang telah bertahan bersama selama skenario berlangsung sedang menyaksikan pertarungan ini.

“Kim Dokja milikmu sudah cukup terbukti.”

Melihat Ji Eunyu mengarahkan pedangnya ke arahnya, Killer King menyadari sesuatu.

Sejak awal, ia tidak berniat melanjutkan pertarungan ini sampai akhir.

“Tak seorang pun akan menyalahkanmu.”

Ia sedang berusaha memberinya jalan keluar.

“Kau juga tahu. Kau tahu bagaimana akhir cerita ini jika Snow White dibiarkan begitu saja.”

“Aku tidak tahu.”

“Tidak, kau tahu. Karena kau melihat bagaimana Kyung Sein-ssi dan Lee Dansu-ssi ditinggalkan.”

Kenangan mengalir seperti halusinasi.

Killer King kembali menggelengkan kepala.

“Mereka tidak ditinggalkan. Mereka tersingkir karena pilihan mereka sendiri.”

“Benarkah kau berpikir demikian? Apakah Kim Dokja yang selama ini kau baca benar-benar mengatakan hal itu?”

Kalimat yang diasah tajam itu menembus jiwa Killer King seperti ujung pedang.

“Aku—”

Ji Eunyu menarik napas dan memberikan pukulan terakhir.

“Kau telah membaca cerita ini terlalu banyak.”

Crossbow milik Killer King hancur.

Bersamaan dengan crossbow yang jatuh ke tanah itu, Ji Eunyu berkata seolah hendak mengakhiri pertarungan.

“Dia bukan Kim Dokja.”

Apa yang membuat Kim Dokja menjadi Kim Dokja?

Killer King berbicara dengan bibir gemetar.

“Aku pikir dia adalah Kim Dokja.”

“Siapa dirimu?”

Killer King tidak mampu menjawab.

Siapa dirinya?

Apa sebenarnya dirinya dalam cerita ini?

Atau apa yang ingin ia menjadi?

「 Ia hanyalah seorang pembaca. 」

Seluruh pemahaman yang ia bangun hanya berdasarkan teks rapuh itu.

「 Meskipun telah membaca ulang berkali-kali, pada akhirnya ia tetap tidak bisa menjadi apa pun bagi Kim Dokja. 」

Hubungan ini tidak lebih dari ikatan sepihak yang terbentuk karena membaca berulang kali.

Meski memahami fakta itu sepenuhnya, Killer King tetap menjawab.

“Aku adalah rekannya.”

“Apakah dia juga berpikir begitu?”

“Itu tidak penting...”

“Dia adalah monster yang berniat melihat akhir dunia ini bahkan jika harus menghancurkan seluruh rekannya. Apa kau benar-benar berpikir seseorang seperti itu bisa memiliki rekan?”

Pupil Killer King bergetar hebat.

Ji Eunyu perlahan mendekat dan meletakkan tangannya di bahunya.

“Bahkan jika itu Yoo Joonghyuk, dia tidak akan berpihak pada monster seperti itu. Kau sudah melakukan yang terbaik. Sekarang kau bisa berhenti.”

Ji Eunyu melewati Killer King.

Killer King tidak mampu menghentikannya.

「 Sudah diputuskan siapa yang lebih memahami cerita ini. 」

Kini hanya tersisa sekitar sepuluh langkah menuju tenda itu.

Ji Eunyu perlahan mengeluarkan sebuah apel dari balik pakaiannya.

Sudah waktunya menjalankan rencana.

Snow White.

Sudah waktunya mengirim pangeran yang berada di dalam tenda itu ke dalam mimpi abadi.

Namun langkahnya terhenti ketika tinggal tiga langkah lagi menuju tenda.

“Second Apostle.”

Saat perlahan menoleh ke belakang, Killer King berdiri di sana dengan ekspresi kosong.

Energi yang mengerikan memancar dari seluruh tubuhnya saat ia memejamkan mata.

“Kau...”

Ji Eunyu yang ekspresinya mengeras menggenggam pedangnya lebih erat.

Firasat seorang 'Recorder' sedang memperingatkannya.

Sebuah halo berbentuk aneh muncul di atas kepala Killer King, dan aura seorang archangel yang memukau memancar dari seluruh tubuhnya.

Bersamaan dengan sensasi dingin, energi yang bergetar menguasai area itu.

Tsutsutsutsutsu!

Fenomena yang cukup kuat untuk menimbulkan gelombang kejut besar di medan perang Ragnarok.

Killer King tidak sekadar meminjam kekuatan Yophiel.

Ini adalah probabilitas yang setara dengan sebuah nebula yang bergerak.

“Aku belum mengeluarkan seluruh kemampuanku.”

Ji Eunyu menatap Killer King dengan mata gemetar.

「 Seorang pembaca yang telah membaca dunia ini lebih banyak daripada siapa pun, dan mempertaruhkan segalanya. 」

Satu per satu archangel mulai muncul di belakangnya.

[Konstelasi 'Friend of Justice and Harmony' turun ke dalam skenario!]

Archangel Raguel.

[Konstelasi 'One Who Faces God' turun ke dalam skenario!]

Great Warrior Kamael.

[Konstelasi 'Lily of Aquarius' turun ke dalam skenario!]

Archangel Gabriel.

[Konstelasi 'Commander of the Red Cosmos' turun ke dalam skenario!]

Dan bahkan Archangel Yophiel.

Itulah saat ketika para Archangel dari <Eden>, yang ditakuti oleh para Demon King, memanifestasikan wujud asli mereka ke dalam skenario.

Di pusat pemandangan yang menakjubkan itu, bayangan Archangel dengan sayap terbesar menjulur turun.

[Konstelasi 'Scribe of Heaven' turun ke dalam skenario!]

Scribe of Heaven—Archangel Metatron.

Saat tangan putih bersih sang Archangel menyentuh bahu Killer King, tulang belikatnya robek dan sayap tumbuh keluar.

“Kau benar. Saat ini, dia tidak memiliki siapa-siapa.

Bahkan Yoo Joonghyuk itu pun tidak.”

Di tengah hujan bulu hitam yang beterbangan, Killer King perlahan membuka matanya dan berkata.

“Karena itu, sekarang, seseorang harus menjadi Yoo Joonghyuk miliknya.”

[Story, 'Gray Guardian', memulai penceritaannya.]

1019 Episode 62 Snowfield Kim Dokja (9)

Guardian of Gray.

Ji Eunyu yang telah menjadi 'Recorder of Fear' memahami seluruh situasi begitu melihat nama cerita itu.

“Metatron! Ini bukan urusan yang boleh dicampuri oleh kalian dari <Eden>!”

Jiwa Killer King berkedip-kedip seolah akan lenyap kapan saja.

Sementara itu, catatan [Fate] yang mengatur inkarnasinya menjadi semakin jelas.

「 Killer King membuat kontrak dengan <Eden>, mempertaruhkan seluruh ceritanya. 」

Sebuah kontrak langsung dengan Nebula raksasa.

Sudah jelas nasib seperti apa yang akan menimpa seorang inkarnasi biasa jika melakukan tindakan semacam itu.

[Recorder of the Otherworld.]

Metatron berbicara sambil menatap Ji Eunyu dengan sorot mata angkuh.

[Kami hanya memilih 'Acting President' kami.]

Acting President.

Ji Eunyu tahu persis bobot yang terkandung dalam deklarasi itu.

“Apakah kalian sudah gila? Bagaimana mungkin para Archangel itu—”

[Apa gunanya baik dan jahat di hadapan kehancuran worldline?]

Metatron telah membuat pilihannya.

Ia percaya bahwa sekarang adalah saat bagi Nebula <Eden> untuk tercatat dalam narasi besar kehancuran.

Bahwa sudah waktunya meminjam pena bernama Killer King dan menuliskan kisah mereka.

[Exclusive Trait diaktifkan!]

Ji Eunyu memanifestasikan kekuatan seorang 'Recorder'.

Ia harus mengubah [Fate] dengan cara apa pun.

Ia tidak bisa membiarkan Killer King mati di sini.

Sebanyak apa pun ia berpihak pada 'Snowfield Kim Dokja', ia bukan seseorang yang seharusnya mati di tempat seperti ini.

Namun bahkan dengan kekuatannya, tidak ada cara untuk mengubah [Fate].

「 Setelah pertarungan ini berakhir, Killer King pasti akan mati. 」

Ji Eunyu menggelengkan kepalanya berulang kali, mencoba menemukan perkembangan cerita yang berbeda.

Ia adalah seorang editor.

Satu-satunya keberadaan yang dapat mengganggu arah cerita ketika seorang penulis hendak menuliskannya.

Orang yang dapat memberi saran mengenai perkembangan yang lebih baik, alur yang lebih baik.

Namun penulis cerita ini tidak ada di sini, dan yang bisa ia lakukan hanyalah membaca kalimat-kalimat yang dituliskan tanpa ampun.

“Ji Eunyu.”

Untuk pertama kalinya, Killer King memanggil namanya.

Pada saat yang sama, Ji Eunyu juga mengingat nama asli Killer King.

“Cha Seongwoo-ssi.”

“Mungkin ini adalah halaman terakhirku.”

Tatapan Cha Seongwoo tenang, seperti seseorang yang sudah menerima nasibnya.

Namun saat menatap mata itu, hati Ji Eunyu terasa sesak.

Baru pada saat itulah Ji Eunyu menyadari keberadaan seperti apa yang selama ini ia lihat dalam diri Killer King.

「 Mereka berdua membaca cerita ini lebih tekun daripada siapa pun. 」

Yang satu sebagai pembaca.

Yang satu lagi sebagai editor.

Meskipun mereka mencapai titik ini dengan memainkan peran yang berbeda dalam cerita ini, keyakinan mereka terhadap cerita itu sama.

“Aku ingin terus membaca cerita ini selamanya.”

Bahkan setelah mengalami kejadian-kejadian mengerikan seperti itu, keduanya tidak bisa membenci cerita ini.

Meski hampir mati berkali-kali dan kehilangan orang-orang yang mereka sayangi, mereka tetap menjalani cerita ini.

Mereka menyelesaikan skenario berikutnya, lalu skenario setelahnya.

「 Karena mereka penasaran terhadap akhir dari cerita yang telah mereka jalani itu. 」

Itulah takdir orang-orang yang jatuh cinta pada sebuah cerita.

Berdiri di depan kesimpulan cerita tersebut, pembaca yang telah membaca dunia ini bersamanya sedang berbicara.

“'Membaca bersama' berakhir di sini.”

Kini hanya satu dari mereka yang bisa membaca halaman berikutnya.

“Datanglah dengan seluruh kemampuanmu.”

Saat kebesaran Great Election memancar dari seluruh tubuh Cha Seongwoo, Ji Eunyu berbalik dan memanggil para inkarnasi.

“Bang Cheolsoo! Mujeong dan putrinya!”

“Kami menerima perintahmu!”

Seolah sudah menunggu saat ini, Bang Cheolsoo dari Geumho Station muncul di pusat kamp Disaster bersama anggota skuadnya.

“Serbu!”

Pria yang dulu merupakan bos gangster itu kini bertarung melawan para konstelasi saat skenario mendekati akhir.

[Konstelasi 'Lord of the Ruffians' terkekeh sambil menyemangati inkarnasinya.]

'Lord of the Ruffians' yang bersemangat, sponsor Bang Cheolsoo, juga mengirim pesan tidak langsung.

Tampaknya ia menikmati gagasan melihat inkarnasinya dipukuli sekali lagi.

Namun pertarungan ini tidak akan berakhir hanya dengan dipukuli sedikit.

['Evil'.]

Yophiel, yang membaca dosa Bang Cheolsoo melalui [Eyes of Sin], mengulurkan tangannya.

Seketika kabut merah yang eksplosif mengalir keluar dari telapak tangan Archangel itu.

[Unit 503 mengamuk di medan perang.]

Kabut merah itu menyapu perkemahan seperti kawanan lebah dan menelan Bang Cheolsoo beserta kelompoknya.

“Aaaaaaaah!”

Jeritan mengerikan manusia memenuhi medan perang.

Holy Soul milik seorang Archangel Tingkat Tinggi.

Itu adalah kekuatan yang tidak mungkin dapat ditahan oleh inkarnasi manusia biasa.

Namun ekspresi Yophiel tetap mengeras.

Dari balik kabut merah, bayangan para inkarnasi yang berkilauan berbicara.

“...Kau pikir aku akan mengatakan itu?”

Sesaat kemudian, Bang Cheolsoo dan anggota skuad Inho muncul dari dalam kabut.

Mereka mengenakan full plate armor hitam pekat dari kepala hingga kaki dan tampak selamat dari serangan [Unit 503] tanpa mengalami luka berarti.

Itu tidak masuk akal.

Mereka menahan Stigmata hanya dengan satu set full plate armor?

“Cuma segini? Dasar konstelasi sialan.”

Alis Yophiel berkerut.

Jika diperhatikan lebih dekat, full plate armor para inkarnasi itu dipenuhi cerita.

[Berkat dari konstelasi 'Master of Steel' menyertaimu.]

Logam cerita yang ditempa dari logam planet 'Oz'.

Seluruh anggota skuad Inho dipersenjatai dengan logam terkeras di dunia ini.

“Serbuuu—!”

Menyaksikan Bang Cheolsoo, Kamael yang sejak tadi mengamati dari samping memberi isyarat.

[Bunuh mereka semua.]

Bersamaan dengan gerakan tangan Archangel itu, Nine Wind Angels, pasukan utama <Eden>, membanjiri medan perang melalui portal.

Gelombang malaikat yang sangat besar, mengingatkan pada Holy War.

Seolah hendak melawan gelombang itu, gadis yang duduk di bahu Bang Cheolsoo berteriak.

“Ibu!”

Mendengar sinyal putrinya, sang ibu yang berlari di samping Bang Cheolsoo juga berteriak.

“Dayoung!”

“Ya!”

Ibu dan anak itu melompat bersamaan.

Seolah telah menunggu, Nine Order Angels mengarahkan tombak mereka ke arah keduanya.

Pada saat yang sama, aura yang mengerikan memancar dari tubuh Mujeong dan putrinya.

[Mereka adalah orang-orang yang membuat kontrak dengan Outer Gods!]

Mengenali kekuatan itu, Nine Order Angels berteriak.

「 Di medan perang 'Ragnarok', beberapa inkarnasi yang memilih 'Army of Calamity' dapat membuat kontrak satu lawan satu dengan Outer Gods. 」

Dewa asing yang membuat kontrak dengan Mujeong dan putrinya adalah 'Shadow of the Seabed'.

Menurut standar Fear Realm, ia adalah 'Disaster-level fear', namun dalam pertempuran melawan manusia, ia merupakan Outer God yang memiliki kekuatan tempur setara 'Natural Cataclysm-level fear'.

「 Para pemburu dasar laut menahan napas di dalam bayangan laut yang dalam. 」

Sosok ibu dan anak itu langsung menyelinap ke dalam bayangan Nine Order Angels.

Saat para malaikat terkejut dan berseru kaget.

[Aaaargh!]

Belati kejam milik ibu dan anak itu muncul dari bayangan para malaikat dan memotong pergelangan kaki mereka.

Pergelangan kaki yang terpotong langsung tersedot ke dalam bayangan di tanah.

Bersamaan dengan suara tulang yang diremukkan, terdengar suara sesuatu di dalam bayangan sedang melahap pergelangan kaki para malaikat.

[Aaaargh! Ada sesuatu di dalam sini!]

Kamael mengernyit lalu berteriak untuk menyemangati para malaikat tingkat rendah.

[Jangan panik. Semua orang, saling membelakangi dan berkumpul. Menggabungkan bayangan akan membatasi pergerakan mereka.]

Namun sebelum Nine Rank Angels sempat berkumpul kembali, kelompok inkarnasi lain muncul.

“Bunuh mereka semua!”

Mereka adalah para inkarnasi Jepang yang dipimpin Asuka Ren.

Muncul sambil menunggangi iblis-iblis kecil milik White Demons, para inkarnasi itu mengayunkan pedang panjang mereka secara serempak dan bertabrakan dengan Nine Wind Angels.

Kepala para Nine Rank Angels terpenggal oleh tebasan pedang mereka.

Perut mereka tertembus tombak-tombak tajam.

Anna Croft juga mengayunkan pedangnya di tengah kekacauan itu.

Sebelumnya ia hanya perlu mengkhawatirkan Cha Yerin.

Namun kini medan perang berubah menjadi pertarungan campur aduk, dan tombak serta pedang datang dari segala arah.

Serangan yang tidak semuanya dapat dibaca oleh [Future Sight] miliknya yang tidak sempurna.

Saat ia terhuyung mundur, salah satu Nine Rank Angels yang tergeletak di tanah mengarahkan tombaknya ke arahnya.

Serangan yang tak mungkin dihindari itu ditepis oleh seorang pria berjaket bulu panjang.

“Benar-benar menyedihkan, Prophet.”

Jaket bulu panjang dan kaus bergambar tengkorak.

Inkarnasi yang sangat dikenalnya berdiri di sana.

“Magician.”

Jacob Martinez.

Raja Northern Las Vegas dan inkarnasi yang pernah membantu Kim Dokja dalam skenario 'Star Ladder'.

Ia menembakkan beberapa peluru ke kepala Nine Order Angel yang terbaring di tanah, lalu menyelipkan rokok ke bibirnya.

“Gigit mereka, anjing-anjing Utara.”

Atas isyarat Martinez, para tentara bayaran Utara berteriak dan menyerbu para malaikat.

Anna Croft mengangguk berterima kasih dan berkata dengan suara agak muram.

“Aku kira kau tidak akan ikut campur.”

“Aku berutang banyak padanya.”

Melirik sekilas ke arah Ji Eunyu, Martinez mengayunkan telapak tangannya ke arah para malaikat tingkat rendah yang menyerbu.

Tubuh bagian atas malaikat yang terkena [Severing Magic] miliknya terlempar ke tanah.

Tak lama kemudian, aliansi inkarnasi dari berbagai negara perlahan mulai mendesak pasukan malaikat.

Outer Gods yang merasakan cerita-cerita mengamuk di medan perang mengaum dari segala arah.

[Sebuah 'Giant Story' bertunas di dalam skenario!]

Sebuah raungan yang mengumumkan lahirnya Giant Story baru.

Bang Cheolsoo berteriak.

“Itu dia! Dorong sampai sejauh ini! Kita sedang membuka jalan!”

Tak lama kemudian garis pertempuran terdorong hingga tepat di depan para Archangel.

Jika terus seperti ini, kemenangan para inkarnasi sudah pasti.

Saat itulah Cha Seongwoo yang selama ini diam akhirnya bergerak.

“Aktifkan main controller.”

Bersamaan dengan suara rendah Cha Seongwoo, cahaya memancar dari seluruh tubuhnya.

[Story 'Commander of the Battlefield' memulai penceritaannya!]

Sebuah kontroler besar muncul di depan matanya.

Bahkan di tengah kilatan tombak dan pedang, Ji Eunyu yang berdiri di garis depan dapat melihat pemandangan itu dengan jelas.

“Multi-control switch.”

Seberkas koneksi samar memancar dari seluruh tubuh Cha Seongwoo.

Tak lama kemudian koneksi itu terhubung dengan para Archangel.

Kugugugu.

Pada saat yang sama, para Archangel yang selama ini mengamati dari belakang garis depan mulai bergerak.

Yang pertama menerima perintah adalah Archangel yang melayang di langit.

[Konstelasi 'Guardian of the Youth and Travel' mematuhi perintah Great Election.]

Atas sinyal Cha Seongwoo, awan kumulus menutupi langit.

Saat para inkarnasi mendongak ke arah cerita yang berkilauan di balik langit, petir putih murni turun dari awan tersebut.

Sambaran cahaya yang tidak dapat diprediksi maupun dihindari.

Kwakwakwakwak!

Pusat medan perang berubah menjadi abu akibat bombardemen cahaya yang menghantam kawan maupun lawan tanpa pandang bulu.

Raphael menguap bosan sambil menatap tumpukan abu itu.

[Konstelasi 'Friend of Justice and Harmony' menjalankan perintah Great Election.]

Setelah itu Archangel Raguel juga bergerak.

[Aku minta maaf, semuanya.]

Bola-bola cahaya terang berkilat dari kedua tangannya.

Para inkarnasi yang telah menyaksikan kekuatan Archangel itu sebelumnya berteriak memperingatkan.

“Bunuh malaikat itu terlebih dahulu!”

Namun sebelum pedang para inkarnasi sempat bergerak, bola-bola cahaya Raguel sudah memancarkan sinarnya.

[Punishment of Luminous Radiance].

Saat gelombang Holy Energy milik Great Warrior Raguel menyelimuti medan perang, para inkarnasi yang menatap cahaya itu menjerit sambil menutupi mata mereka.

“Aaaargh!”

Kekuatan Archangel yang membutakan siapa pun yang menatapnya.

Para inkarnasi yang menangis darah di ambang kiamat meraung kesakitan.

Hanya segelintir orang yang berhasil menyaksikan pemandangan neraka itu.

Mereka yang membalikkan tubuh dari cahaya atau yang sempat mengaktifkan sihir pertahanan dalam sekejap.

Sambil menyaksikan para inkarnasi buta ditusuk hingga mati oleh tombak Nine Order Angels, Cha Seongwoo kembali menggerakkan seorang Archangel.

[Konstelasi 'Lily of Aquarius' mengungkapkan kedudukannya.]

Gabriel yang berdiri di samping Cha Seongwoo menggenggam relik sucinya.

Seekor ular putih bersih yang memanjat sebuah karung.

Saat Ji Eunyu mengenali tombak berbentuk salib yang menancap di mulut ular itu, ia berteriak.

“Semuanya, menjauh!”

「 Brielle's Divine Spear, the Scales of Favor. 」

Dengan penglihatan yang seolah memiringkan dunia dalam sekejap, dua buah timbangan muncul.

Di satu sisi berdiri para Archangel.

Di sisi lainnya—

「 Ia akan melakukan kehancuran yang mengerikan, namun ia akan menghancurkan orang-orang perkasa dan suci. 」

Para inkarnasi berdiri di sana.

“Tidak—”

Cahaya menyapu seluruh sisi timbangan itu.

Badai kilatan yang luar biasa, memurnikan seluruh kejahatan di dunia.

Di tempat cahaya itu menghilang, sebuah jalur raksasa terbuka.

Tak terlihat lagi para inkarnasi yang mengenakan story metal ataupun mereka yang menunggangi White Yao.

Bang Cheolsoo yang nyaris lolos dari badai cahaya itu duduk terhuyung di sana dengan satu lengan telah hilang.

「 Kita tidak bisa menang. 」

Keputusasaan mendalam menyelimuti para inkarnasi yang selamat.

Meskipun lawan mereka adalah para Archangel, mereka mengira kali ini mereka punya peluang.

Mereka percaya para inkarnasi telah menjadi cukup kuat.

Bahwa jarak antara bintang dan manusia telah menyempit.

Namun para bintang tetap berada jauh di atas.

Dan manusia hanya bisa menatap mereka.

Bahkan dalam skenario terakhir ini.

Archangel Kamael yang melihat Ji Eunyu dari kejauhan mulai mendekat.

Melihat Archangel yang datang untuk menjatuhkan vonis kematiannya sambil menggenggam pedang putih bersih, Ji Eunyu tiba-tiba teringat kata-kata penulisnya.

「 "Bahkan jika aku mati, setidaknya harus ada satu orang yang bisa menjelaskan cerita ini." 」

Penulisnya yang menyukai lelucon-lelucon buruk itu berbicara di dalam benaknya.

「 "Jadi tolong jangan mati, Editor-nim." 」

Dari kejauhan, Cha Seongwoo yang memegang kekuatan Great Election sedang menatapnya.

「 Buktikan pembacaanmu. 」

Ji Eunyu perlahan mengepalkan tangannya.

Dengan tangan yang sama yang telah berkali-kali mengetik di keyboard, membalik halaman buku, dan memegang pena.

“Kau tidak bisa menang.”

Suara Cha Seongwoo terdengar seolah ia yakin akhir cerita sudah ditentukan.

Namun Ji Eunyu perlahan menggelengkan kepalanya.

「 Semua faksi Calamity dapat memanggil 'Calamity' tingkat lebih tinggi dengan mengorbankan cerita. 」

Ji Eunyu mulai membaca.

Tatapan Cha Seongwoo sedikit bergetar saat melihat cerita yang memancar dari tangannya.

“Kau mencoba memanggil Outer God?”

Jika Apostle Order Leader Ji Eunyu mempertaruhkan dirinya untuk memanggil Outer God, tentu ia bisa memanggil satu yang melampaui tingkat bencana alam.

Namun bahkan jika Outer God seperti itu datang, ia tidak akan bisa mengubah jalannya pertempuran kali ini.

[Tidak peduli bencana apa yang datang ke sini, ia tidak akan mampu menghentikan Nebula.]

Karena sekarang <Eden> berada di sini.

Ji Eunyu tidak berhenti meskipun mendapat peringatan dingin dari Kamael.

Kamael mengernyit dan mengayunkan pedangnya.

[Usaha yang sia-sia—]

Pada saat yang sama, cerita-cerita mengalir dari seluruh tubuh Ji Eunyu.

Dan ketika mereka mendengar kalimat pertama dari cerita itu, Cha Seongwoo dan semua pembaca yang berada di sana menyadari jenis 'bencana' apa yang hendak ia panggil.

「 Bencana itu adalah mereka yang mampu menghadapi satu Nebula. 」

Menjelang akhir sebuah dunia.

Memiliki satu-satunya probabilitas untuk mencapai akhir tersebut.

Dan karena itu, nama yang hanya bisa disebut sebagai 'bencana' oleh <Star Stream> ini.

「 Cerita itu dimulai di dalam 'kereta bawah tanah'. 」

Kim Dokja Company.

1020 Episode 62 Snowfield Kim Dokja (10)

Saat membaca catatan Ji Eunyu, bahkan Cha Seongwoo yang selama ini tetap tenang pun tampak terguncang.

<Kim Dokja Company>—tidak ada pembaca mana pun di dunia ini yang bisa tetap tenang saat mendengar nama itu.

[Itu hanya gertakan.]

Namun Archangel Kamael, yang bukan seorang pembaca, tidak tampak bingung maupun terkejut.

[Aku juga mengenal nama itu. Musuh-musuh <Star Stream> yang telah menyaksikan akhir dari worldline lain.]

Apakah nama itu telah mencapai worldline ini juga?

Kamael melanjutkan dengan senyum mengejek tipis.

[Tidak peduli ini adalah 'Ragnarok', tidak mungkin seseorang tiba-tiba memanggil 'Great Emperor Green'.]

Kenyataannya, meskipun cerita bersalju itu dipersembahkan dengan sungguh-sungguh, catatan Ji Eunyu tidak bisa melanjutkan ke kalimat berikutnya.

「 Cerita itu dimulai di dalam 'kereta bawah tanah'. 」

Meskipun hanya mencatat satu kalimat, Ji Eunyu merasakan pusing yang luar biasa.

Jantungnya berdegup seolah akan meledak, dan cerita mengalir keluar dari hidungnya.

Seolah dunia ini tidak mengizinkan kalimat itu dicatat, probabilitas yang luar biasa besar menekan dirinya.

[Perekam bodoh, catatan itu tidak dapat diselesaikan. Karena itu adalah cerita yang tidak sesuai dengan probabilitas dunia ini.]

Tepat seperti yang dikatakan para Archangel.

Jika ia melanjutkan pemanggilan <Kim Dokja Company> seperti sekarang, bahkan jika keajaiban terjadi dan bencana itu berhasil dipanggil, jiwanya akan hancur berkeping-keping.

「 Namun demikian, ada alasan mengapa ia sengaja mengambil risiko itu. 」

Mungkin karena ia berharap.

「 Bukankah satu kalimat saja sudah cukup untuk menghidupkan kembali semua kenangan itu? 」

Bahkan jika <Kim Dokja Company> tidak datang ke sini, siapa pun pembaca yang membaca kalimat ini pasti akan mengingat momen yang sama.

Dan pasti akan teringat saat pertama kali membaca cerita ini.

Bukan sembarang pembaca.

Melainkan 'Second Apostle' yang berada tepat di depan matanya—

“Maafkan aku.”

Begitu Cha Seongwoo memalingkan wajahnya, perintah Kamael pun dikeluarkan.

[Musnahkan mereka.]

Tepat ketika gerombolan Nine Orders of Angels yang seolah telah menunggu saat ini hendak menginjak-injak para inkarnasi,

Kugugugu.

Percikan hebat menghantam langit.

Terkejut, Kamael mendongak.

Itu bukan petir Raphael.

[Mustahil.]

Raungan menggema di balik awan gelap, dan sesuatu jatuh dari langit.

Archangel Raphael yang hitam pekat sedang terjatuh sambil mengerang.

[Tidak mungkin—]

Kamael mengerang sambil segera terbang dan menangkap Raphael.

Hanya sedikit keberadaan di seluruh <Star Stream> yang mampu menjatuhkan Great Archangel Raphael dari langit.

Saat Kamael melihat cerita yang melekat pada sayap Raphael yang robek, ekspresinya mengeras.

[Magi?]

Ji Eunyu juga sedang menatap ke langit.

「 Cerita milik <Kim Dokja Company> berbahaya. 」

Pemandangan langit telah terbalik hanya karena satu kalimat.

Sesuatu sedang turun dari balik probabilitas yang mengamuk.

「 Hanya dengan melafalkan satu kalimat ini, para makhluk yang mengiler akan berdatangan seperti kawanan anjing liar. 」

【Ahahahaha!】

Seseorang menjulurkan wajahnya dari langit tempat Raphael jatuh, diiringi tawa tajam.

【Apakah kau benar-benar berniat memanggil mereka ke sini? Bahkan jika dunia ini bisa lenyap tanpa jejak sebagai gantinya?】

Asmodeus muncul dari balik portal yang berputar.

【Kami tidak bisa membiarkan itu terjadi. Masih ada begitu banyak halaman kosong yang tersisa dalam cerita ini.】

Bersamaan dengan ucapan Asmodeus, boneka-boneka muncul dari awan gelap di langit.

【Perjamuan ini baru saja dimulai.】

Bintang-bintang yang telah tercemar, masing-masing memancarkan energi iblis yang mengerikan, tertelan oleh aura hitam pekat.

[Demon King 'Ruthless Hunter of the Heavens of Defiance' telah turun ke skenario ini!]

Demon King Peringkat 8, Barbatos.

[Demon King 'Lion of the Black Mane' telah turun ke skenario ini!]

Demon King Peringkat 5, Marbas.

[Demon King 'God of Necromancy' telah turun ke skenario ini!]

Demon King Peringkat 4, Gamigin.

[Demon King 'Noble of Prophecy' telah turun ke skenario ini!]

Vasago, Demon King Peringkat 3.

Bahkan hanya sebanyak ini saja sudah cukup untuk mengguncang seluruh <Star Stream>.

Yang paling mengejutkan adalah Vasago, 'Noble of Prophecy' dan Demon King Peringkat 3, terkenal sebagai Demon King yang hampir tidak pernah bergerak.

Gabriel, 'Lily of Aquarius' yang sejak tadi diam, mengernyit dan bergumam.

['Noble of Prophecy' datang?]

Namun masih terlalu dini untuk terkejut.

Karena Demon King terkuat saat ini telah memperlihatkan dirinya dari dalam portal yang berkilauan.

[Demon King 'Ruler of Eastern Hell' telah turun ke skenario ini!]

Agares, Demon King Peringkat 2.

Dengan ini, seluruh Demon King tingkat tertinggi telah berkumpul di medan perang 'Ragnarok'.

「 Timbangan probabilitas yang digerakkan oleh <Eden> mulai kembali seimbang. 」

Yang lebih mengejutkan lagi adalah faksi yang mereka pilih.

[Kalian para Demon King terkutuk. Apa kalian benar-benar memilih 'Constellation Faction'?]

Seolah membalas kutukan kasar Kamael, suara tawa para Demon King terdengar dari balik awan badai hitam.

[Yang pertama tidak tahu diri dan menempel pada 'Calamity Faction' justru kalian, bukan?]

Saat Demon God of Necromancy, Gami, mengaum, orang-orang mati di bumi bangkit dari tempat mereka.

Para inkarnasi dan Nine Orders of Angels yang gugur di medan perang.

Mereka bangkit kembali sebagai iblis.

Ooooooh—!

Para iblis yang dibangkitkan oleh kekuatan para Demon King meraung.

Sementara rekan-rekan mereka yang bertempur berdampingan dibangkitkan sebagai monster mengerikan, para inkarnasi yang ketakutan berteriak histeris.

Ketakutan dan teror mereka hanya membuat kekuatan para Demon King semakin besar.

[Oh, Tuhanku.]

Demon King Agares berbicara kepada para Archangel di bumi.

[Apakah kalian pikir bisa tercatat dalam kiamat tanpa kami?]

Atas isyarat Agares, para iblis di langit mulai berjatuhan ke bumi.

[Sebuah Giant Story baru mulai bergolak!]

Di pusat 'Ragnarok', peperangan antara kebaikan dan kejahatan dimulai.

[Aaaargh!]

Para iblis yang terkena tebasan malaikat lenyap sambil menjerit.

[Aaaargh!]

Para malaikat yang ditusuk pedang Demon King roboh sambil memuntahkan cerita merah darah.

Di tengah kekacauan itu berdiri Cha Seongwoo dan Ji Eunyu.

“Apakah ini memang rencanamu sejak awal?”

Mendengar pertanyaan dingin Cha Seongwoo, Ji Eunyu tidak menjawab.

Sebagai gantinya ia melihat pesan yang melayang di udara.

[Level kekacauan meningkat!]

Festival kebaikan dan kejahatan yang saling bercampur.

Cha Seongwoo mengamati seluruh situasi itu sekilas lalu bertanya lagi.

“Apakah kau berniat mengakhiri 'Ragnarok' seperti ini?”

Skenario ini jelas merupakan 'Ragnarok'.

Namun konstelasi-konstelasi besar lainnya tidak hadir.

Jika cerita lain ditimpa sebelum aspirasi penuh terhadap 'Ragnarok' tercatat, arah kiamat bisa dipelintir.

“Apakah kau berencana memulai 'Holy-Demon War' di sini?”

Dalam timeline ini, 'Holy-Demon War' tidak pernah terjadi.

Karena 'Snowfield Kim Dokja' telah mencegahnya.

“Jika memang perlu.”

Pasukan kebaikan dan kejahatan saling bertabrakan di langit dan bumi.

Seolah melampiaskan hasrat yang selama ini tak pernah bisa mereka luapkan, mereka bertempur habis-habisan.

“Kau adalah bagian dari 'Calamity Faction'. Jika para Demon King menang, kau juga akan mati.”

“Karena itu kau harus berubah pikiran sebelum hal itu terjadi.”

Saat Ji Eunyu mengangkat tinjunya, Cha Seongwoo juga melakukan hal yang sama.

Kedua tinju mereka bertabrakan hampir bersamaan.

Tinju Ji Eunyu sedikit lebih unggul.

Cha Seongwoo bertanya.

“Kau benar-benar berniat mencoba membujukku sampai akhir?”

“Memperbaiki kalimat yang salah adalah pekerjaanku.”

Cha Seongwoo merasakan percikan probabilitas yang menyelimutinya mulai berkurang dibanding sebelumnya.

Probabilitas yang selama ini ia tanggung sendirian sebagai acting president kini diimbangi oleh kemunculan para Demon King.

Mungkin Ji Eunyu telah meramalkan semua ini dan sengaja memanggil Asmodeus beserta para Demon King.

“Kau harus hidup. Kau harus membaca bagian berikutnya dari cerita ini. Tanpa pembaca, baik penulis maupun editor tidak memiliki arti.”

“...”

“Bahkan penulis itu pun tidak ingin kau mati di sini.”

Tinju keduanya kembali bertabrakan di udara.

Kali ini Cha Seongwoo sedikit lebih unggul.

“Jika aku menyerah di sini, Kim Dokja akan mati.”

“Kim Dokja itu hanyalah karakter.”

“Karena Kim Dokja itu ada.”

Keduanya menarik napas sekali lagi dan tinju mereka kembali beradu.

“Aku bisa berada di sini sekarang juga.”

Itu benar-benar duel yang seimbang.

Kekuatan mereka berada dalam keadaan setara tanpa ada yang mau mundur sedikit pun.

Dalam narasi yang membungkus tinju mereka tersimpan seluruh kalimat yang telah mereka baca hingga saat ini.

Benturan interpretasi yang tidak bisa disebut salah oleh siapa pun.

Sambil mengayunkan tinju di medan perang yang bisa merenggut nyawa hanya karena satu kesalahan kecil, keduanya membaca halaman-halaman kiamat bersama.

Tinju mereka saling bersilang melewati deskripsi yang menakjubkan dan penjelasan yang menggugah.

「 Aku menafsirkan kalimat ini seperti ini. Bagaimana menurutmu? 」

Dokja bertanya.

「 Menurutku seperti ini. 」

Sang editor menjawab.

「 Tidak, itu interpretasiku. 」

「 Karena aku editormu, bukankah aku lebih tahu? 」

「 Itu interpretasi yang terlalu sempit. 」

Setelah mencintai dan membenci cerita, lalu hidup di dalamnya, mereka akhirnya sampai pada satu pertanyaan.

「 Apakah sebuah cerita milik 'penulis'? 」

Ji Eunyu yang biasanya pasti akan mengangguk.

Ia akan mengatakan bahwa hanya penulislah yang berhak bertanggung jawab atas sebuah cerita.

Namun saat itu, ia teringat pada penulisnya sendiri.

「 Apakah penulis itu mengetahui akhir dunia ini? 」

Bagaimana ia akan menjawab pertanyaan itu?

「 Kau belum lupa, bukan? Tokoh utama cerita ini adalah 'pembaca'. 」

Ji Eunyu mengangguk.

Jika penulisnya berada di sini, kemungkinan besar ia tidak akan menjawab.

Ia akan membacakan prolog sebuah cerita.

Keduanya membuka mulut secara bersamaan.

「 Hanya aku yang mengetahui akhir dunia ini. 」

Dua cerita yang membara saling bertaut dan ledakan memekakkan telinga pun terjadi.

Medan perang tempat malaikat dan iblis yang kehabisan napas berguguran.

Agares yang melirik duel antara Ji Eunyu dan Cha Seongwoo menyalakan rokok lalu berkata.

[Kalau begini tidak akan ada pemenang.]

Saat Agares mengayunkan tangannya ke udara kosong, arus medan perang kembali bergolak.

[Sekarang sebaiknya kita masuk ke permainan utama.]

Menatap langit yang beriak seolah akan robek kapan saja, Kamael berteriak.

[Kalian para Demon King gila—apa yang sedang kalian rencanakan?!]

Energi iblis di langit biru berputar dengan mengerikan.

Kugugugu!

Tak lama kemudian langit terbelah seperti dipelintir dan sesuatu mulai dipanggil dari balik celah itu.

[Ya Tuhan. Bajingan itu lagi.]

Bersamaan dengan desahan Kamael, para Nine Orders of Angels di bumi mendongak ke langit seperti kesurupan.

Kamael berteriak.

[Jangan! Jangan melihatnya!]

Mata para Nine Orders of Angels terbelah dan sebuah bulan merah terbit di atas mereka.

[Aaaaaaaah!]

Para Nine Orders of Angels yang melihat bulan itu mati karena amarah yang tak tertahankan, api menyembur dari kepala mereka.

Hanya dengan mengakui keberadaannya saja sudah cukup membuat tubuh para malaikat meledak karena tidak mampu menahan kekuatannya.

[Tundukkan kepala kalian! Hindari tatapannya! Itu adalah iblis kuno!]

Bersamaan dengan peringatan Kamael, cahaya bulan merah menerangi bumi.

「 Ia adalah Demon of Armageddon yang terlupakan dan tertutup oleh Apocalypse. 」

Salah satu iblis yang melambangkan 'Armageddon', bersama Abaddon sang Raja Belalang dan 'Ruler of the Abyss'.

Cataclysm of Collapse—「The Falling Moon.」

Meski bukan kelas 'End-of-World' seperti Dragon of Apocalypse, ia adalah Outer God yang berada di puncak jajaran para dewa 'Natural Disaster-Class'.

“Cloud Mountain! Itu bencana setingkat myth-grade disaster!”

Teriakan tajam Anna Croft.

Saat Ji Eunyu merasakan bahaya dan mundur dari medan perang, cahaya bulan menyinari tempat ia berdiri hingga detik terakhir.

Begitu cahaya bulan pucat nan indah itu menyentuh tanah, segala sesuatu di atasnya mengering dan hancur menjadi debu.

Seolah kembali menjadi partikel primordial.

Setiap keberadaan yang tersentuh cahaya bulan benar-benar runtuh.

Yang tersisa di jalur cahaya bulan hanyalah kematian.

Baik inkarnasi, malaikat tingkat sembilan, maupun konstelasi.

Tidak ada makhluk yang dapat lolos dari hukum alam itu setelah tersentuh cahaya bulan.

“Cha Seongwoo-ssi!”

Dan berdiri di tepi cahaya bulan itu adalah Cha Seongwoo.

1021 Episode 62 Snowfield Kim Dokja (11)

Saat cahaya bulan akhirnya menyentuh kaki Cha Seongwoo, para archangel melangkah maju seolah hendak melindunginya.

Cahaya bulan itu menyelimuti para archangel.

Tepat ketika vonis kematian yang pucat itu turun, Cha Yerin menjerit.

“Tidak!”

Sehebat apa pun mereka sebagai archangel, pada akhirnya mereka hanyalah 'narrative-grade constellations'.

Tidak mungkin keberadaan narrative-grade mampu menahan kekuatan Demon God yang sebanding dengan myth-grade constellation.

Ye Hyunwoo-lah yang menangkap Cha Yerin saat ia berusaha berlari menuju kakaknya.

“Lepaskan aku!”

“Yerin-ah, tenanglah.”

Sambil menahannya, Ye Hyunwoo menunjuk ke depan dengan tenang.

“Seongwoo belum mati.”

Perkataan Ye Hyunwoo benar.

Bahkan di bawah cahaya bulan bencana yang menghancurkan cerita semua makhluk, para archangel tetap utuh.

Meskipun permukaan luar sayap mereka hangus dan bulu-bulu yang beterbangan telah terurai menjadi partikel, formasi para archangel tidak runtuh.

Tirai cahaya yang lembut menyelimuti Cha Seongwoo dan para archangel.

「 Para Archangel yang merupakan narrative-grade constellations telah menyerap kekuatan Demon God. 」

Menurut akal sehat, hal itu mustahil.

Tidak ada 'narrative-grade' yang bisa melawan 'myth-grade'.

Namun sekarang para archangel telah mewujudkan kemustahilan itu.

“Ji Eunyu.”

Cha Seongwoo kembali memperlihatkan dirinya dari sela-sela sayap para archangel.

Ia berbicara sambil menatap bulan di langit.

“Apakah kau tidak pernah memikirkan hal itu?”

Apakah itu hanya ilusi?

Pada saat itu, suara Cha Seongwoo terdengar bukan seperti suara manusia.

“Bagaimana <Eden>, yang memiliki jumlah 'myth-grade constellations' lebih sedikit dibanding nebula lain, bisa menjadi 'Great Nebula' yang ditakuti semua orang?”

Meskipun <Eden> memiliki Metatron yang myth-grade dan Michael yang setara dengannya, jumlah 'myth-grade constellations' mereka tetap lebih sedikit dibanding nebula lain.

“<Eden> tidak membutuhkan sebuah 'Great Star'.”

Sejak kapan itu dimulai?

Para archangel telah menyatukan kedua tangan mereka.

Berpusat pada Metatron yang berada di belakang, seluruh archangel sedang berdoa.

[The 'Giant Story' of the Great Nebula, <Eden>, begins its storytelling!]

Doa para archangel berkumpul dan segera memadat menjadi satu titik.

Di sana berdiri Acting President dari <Eden>.

Cahaya memancar dari seluruh tubuh Cha Seongwoo, seolah ia sendiri telah menjadi sebuah bintang.

Saat cahaya bulan pucat itu kembali menyinari para archangel, tangan kanan Cha Seongwoo menunjuk ke langit.

「 Cahaya terbesar milik <Eden> adalah fakta bahwa mereka berada di pihak yang 'benar'. 」

Menunjuk bulan dengan gerakan yang tidak terlalu cepat maupun lambat, Cha Seongwoo melafalkan kalimat pertama dari sebuah kisah yang sangat kuno.

“Let there be light.”

Dan penglihatan seluruh makhluk langsung tenggelam ke dalam kegelapan.

Sesaat yang singkat.

Namun kegelapan itu terasa seperti keabadian.

Dan di ujung kegelapan tersebut, cahaya yang menyilaukan meledak keluar.

Malaikat, inkarnasi, bahkan para Demon King pun tersapu oleh cahaya itu.

Sebagian meneteskan air mata.

Sebagian lain merasakan kerinduan yang begitu kuat.

Ji Eunyu juga tidak terkecuali.

Merasa kehampaan yang mengerikan, ia tidak mampu memalingkan pandangan dari cahaya tersebut.

Semua orang hanya bisa menatap kosong ke tempat di mana cahaya itu lenyap seperti sihir.

Sebuah lubang raksasa telah terbuka di langit yang disapu cahaya suci itu.

Tak seorang pun mampu memahami sebab dan akibat dari pemandangan tersebut.

Namun semua orang memahami hasil akhirnya.

[The Outer God 'Falling Moon' exited the scenario after suffering a near-zero blow.]

Mukjizat yang memusnahkan Demon God myth-grade hanya dengan satu serangan.

Di hadapan kekuatan yang luar biasa itu, seluruh Demon King terdiam.

Kecuali Agares seorang.

[Oh, <Eden>. Jadi kalian berani menggunakan kekuatan itu...]

Ia mengetahui nama cahaya tersebut.

「 Radiance of Creation—'Prima Lux'. 」

Itulah cahaya yang membuka permulaan <Eden>.

Cahaya itu adalah kepercayaan diri <Eden>, sekaligus alasan mereka tidak membutuhkan 'myth-grade constellations' lainnya.

Karena hanya dengan satu cerita ini, mereka mampu mengalahkan seluruh 'myth-grade constellations'.

[The story, 'Commander of the Battlefield', continues its storytelling.]

[Exclusive Trait, 'Game Expert', activates!]

Saat cerita dan trait Cha Seongwoo terwujud secara bersamaan, para malaikat yang moralnya meningkat kembali bergerak.

[Kill the demons!]

Para archangel yang terhubung dengannya juga melanjutkan perang.

[Annihilate evil.]

Kebaikan yang tanpa belas kasihan mulai membantai kejahatan.

Di tengah panggung itu, Cha Seongwoo tampak seperti Mesias dunia ini.

Semua makhluk di <Star Stream> memandangnya dengan terpukau.

Namun hanya Ji Eunyu yang menatapnya dengan mata sedih.

“Mengapa.”

Lengan kanan Cha Seongwoo berkibar setelah mengaktifkan 'Radiance of Creation'.

'Giant Story' of Creation adalah sesuatu yang tidak bisa ditanggung seorang manusia.

■■ miliknya telah dipastikan akibat pengalihan perang sebelumnya.

Setelah pertarungan ini berakhir, jiwa Cha Seongwoo akan hancur karena dampaknya.

“Mengapa kau berpikir dia akan mengakuimu jika kau melindunginya sampai sejauh ini?”

“Aku tidak membutuhkan hal seperti pengakuan.”

Peringatan dingin Cha Seongwoo menyusul.

“Dan masih ada satu lengan lagi.”

Radiance of Creation sedang berkumpul di ujung tangan kirinya.

“Mundur. Jika kau mendekat lagi, aku akan menembak.”

Bahkan Ji Eunyu tidak memiliki cara untuk melawan kekuatan yang mampu mengembalikan Demon God myth-grade sekalipun ke kehampaan.

Namun alih-alih mundur, Ji Eunyu justru melangkah mendekati Cha Seongwoo dan berbicara.

“Penulis itu pernah mengatakan sesuatu seperti ini sambil menangis.”

“Jangan mendekat—”

“Editor-nim, bagaimana dengan naskah tertentu itu? Tidak peduli berapa kali aku merevisinya, tetap saja tidak bisa ditulis seperti yang kuinginkan.”

Ji Eunyu mengingat ekspresi penulis yang bertanggung jawab atas cerita itu saat mengucapkan kata-kata tersebut.

Pria yang mengeluarkan air mata dan ingus sambil menatap kursor yang berkedip.

「 Beberapa cerita mengubah bahkan penulisnya sendiri menjadi seorang pembaca. 」

Melihat wajah itu, Ji Eunyu berpikir.

Jika bahkan penulis tidak bisa mengendalikan cerita ini, lalu dari mana sebenarnya cerita itu berasal?

Siapa yang memaksanya menulis cerita ini?

Dengan menyelesaikan cerita ini, penulis yang menulisnya, pembaca yang membacanya, tokoh utama yang menjalaninya, dan kami semua pada akhirnya akan menjadi apa?

“Jadi, apa yang dilakukan pria itu?”

Sang pembaca bertanya, dan sang editor menjawab.

“Ia menulis bab berikutnya sambil menangis.”

“...”

“Karena hanya itu yang bisa ia lakukan.”

Ji Eunyu tersenyum lebar.

Catatan itu kembali berlanjut di ujung jarinya.

「 Cerita itu dimulai di dalam 'kereta bawah tanah'. 」

Membaca kalimat Ji Eunyu, Cha Seongwoo mengernyit.

“Catatan itu tidak bisa dilanjutkan. Kau pasti tahu, bukan?”

Alih-alih menjawab, Ji Eunyu menatap langit.

[The Chaos level of the battlefield is rising!]

Langit berkedip-kedip dengan hebat.

[The Chaos level of the battlefield is rising!]

Chaos level terus meningkat tanpa henti.

Karena bentrokan antara kebaikan dan kejahatan telah mencapai puncaknya, cerita-cerita kekacauan meluap ke mana-mana.

Menatap langit yang kacau itu, Ji Eunyu mengingat saat pertama kali memperoleh sponsor.

「 "Apa alasan aku harus menjadikanmu sponsorku?" 」

Pada hari ketika ia menerima tawaran memilih 'Lotus Blooming Under the Moonlight' sebagai sponsor, Ji Eunyu mengajukan pertanyaan itu.

「 "Jika aku memilihmu, apa yang bisa kau lakukan untukku?" 」

[The constellation, 'Lotus Blooming Under the Moonlight', says it can offer advice regarding the scenario.]

「 "Tapi aku sendiri sudah tahu banyak tentang skenario?" 」

Secara objektif, sponsornya yang berasal dari timeline lain memang tidak terlalu kompeten.

Karena dibatasi oleh probabilitas, sponsornya tidak bisa memberikan dukungan besar.

Bahkan sulit memberinya informasi yang benar-benar tidak ia ketahui.

Namun demikian, Ji Eunyu tetap memilih bintang pelindung itu.

[The constellation, 'Lotus Blooming Under the Moonlight', has become your sponsor.]

Semuanya demi hari ini.

「 Di sana berdiri seorang prajurit yang ingin menjadi benar. 」

Kalimat yang seharusnya tidak pernah berlanjut mulai dituliskan.

Saat Cha Seongwoo yang membuka mata lebar hendak mengatakan sesuatu, Metatron berbicara.

[Shoot her.]

Mendengar perintah dingin sang Archangel, Cha Seongwoo menggelengkan kepala dengan keras.

“Aku tidak bisa melakukannya.”

[Jika kau tidak melakukannya, aku yang akan melakukannya.]

Tangan raksasa Metatron mencengkeram lengan Cha Seongwoo.

Dengan sensasi seolah seluruh persendiannya dipelintir, lengan kirinya dipaksa bergerak.

“Lepaskan aku! Aku adalah acting president dari <Eden>!”

[Jika kau tidak menembaknya sekarang.]

Lengan kiri Cha Seongwoo gemetar, kalah oleh kekuatan Metatron.

Ia berkali-kali memunculkan kekuatannya untuk melawan, tetapi Metatron menekan semuanya dan berkata.

[Dunia ini akan binasa.]

“Tidak!”

Meskipun Cha Seongwoo melawan dengan putus asa, pada akhirnya lengannya tetap mengarah ke Ji Eunyu.

“Menghindar!”

Doa-doa para Archangel sedang berkumpul.

Melihat lengan kiri Cha Seongwoo yang mengarah padanya, Ji Eunyu mengingat cerita yang ia cintai.

Itu adalah Giant Story ketiga milik <Kim Dokja Company>.

['Stage' is activated!]

[The Giant Story, 'Season of Light and Darkness', resonates with your stage.]

Sponsornya sedang mengawasi ceritanya.

[The constellation, 'Lotus Blooming Under the Moonlight', gazes upon you.]

Melihat cerita yang meluap itu, Cha Seongwoo berteriak putus asa.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan! Kau berniat menaikkan 'Chaos Level' untuk memanggil <Kim Dokja Company>, bukan?!”

Saat ini tempat ini sementara dijadikan panggung untuk 'Holy-Demon War'.

Dan 'Holy-Demon War' adalah salah satu medan tempur utama milik <Kim Dokja Company>.

“Tapi bahkan dalam 'Holy-Demon War', kita tidak bisa memanggil mereka semua!”

Cha Seongwoo memahami kenyataan lebih dingin daripada siapa pun.

“Jika seluruh <Kim Dokja Company> bisa dipanggil hanya dengan probabilitas sebesar ini, mereka pasti sudah lama turun ke dunia ini!”

Ji Eunyu juga mengetahuinya.

Kemungkinan hanya ada satu anggota <Kim Dokja Company> yang mampu turun ke medan perang ini.

Dan sosok yang paling mungkin turun adalah sponsornya.

“Sponsormu saja tidak cukup! Moonlight Empress sendirian tidak akan mampu menghentikan ini!”

Namun Ji Eunyu tetap tidak berhenti mencatat.

[Sudah waktunya melepaskanmu.]

Atas perintah Metatron, lengan kiri Cha Seongwoo memancarkan cahaya.

[Let there be light.]

Bersamaan dengan mantra sang archangel mitologis, hujan cahaya tanpa ampun menyapu seluruh yang ada di depan mata.

「 Siapa pun yang datang dari <Kim Dokja Company>, tidak akan mampu menahan serangan itu. 」

Cha Seongwoo putus asa.

Tubuhnya gemetar.

Ia tidak datang sejauh ini hanya untuk menyaksikan cerita seperti ini.

“Metatron!”

Dengan marah Cha Seongwoo berteriak kepada Metatron.

Namun Metatron tidak sedang memandangnya.

[The constellation, 'Scribe of Heaven', sighs and falls silent.]

Metatron tetap tenang bahkan ketika para Demon King termasuk Agares turun.

Bahkan saat Demon God muncul.

Namun untuk pertama kalinya, ekspresinya mengeras.

Ketika lingkaran cahaya itu menghilang, Cha Seongwoo menoleh kembali ke medan perang.

「 ...Ada seorang pria. 」

Catatan Ji Eunyu telah terputus dan tidak sempat ditulis sampai akhir.

Namun saat membaca kalimat itu sekali lagi, Cha Seongwoo menyadari sesuatu.

Bukan catatan itu yang terhenti di tengah jalan.

「 Ada pria terkuat dan paling kesepian di dunia, 」

Sejak awal, catatan itu memang hanya dimaksudkan untuk ditulis sampai di sana.

“Tidak mungkin.”

Saat melihat ujung mantel hitam pekat berkibar melewati lingkaran cahaya, bulu kuduk Cha Seongwoo meremang.

「 Ia adalah sosok yang paling ingin ia teladani di dunia ini. 」

Pedang hitam yang telah menangkis Radiance of Creation kini mengarah kepada mereka dengan aura yang angkuh.

Hanya sebuah pedang yang menunjuk ke arah ini.

Namun tekanan yang dipancarkannya terasa seolah seluruh dunia sedang memusuhi mereka.

Hanya dengan melihat kehadiran itu saja, seorang archangel mundur ketakutan.

Seorang Demon King bahkan langsung berbalik dan melarikan diri.

Saat Cha Seongwoo menatap mata pria itu, ia mengerti mengapa 'Radiance of Creation' tidak mempan terhadapnya.

「 Ia adalah tokoh utama yang lahir bersama 'permulaan' dunia ini. 」

Saat seluruh bintang di medan perang gemetar dalam keheningan, Cha Seongwoo berbisik pelan menyebut namanya.

[Incarnation, 'Yoo Joonghyuk', descends as the calamity of 'Ragnarok'!]

Supreme King dari putaran ke-1.864 akhirnya memperlihatkan dirinya dalam putaran ke-41 dari <Star Stream>.

1022 Episode 62 Snowfield Kim Dokja (12)

“Hanya satu orang yang bisa pergi kali ini.”

Mendengar kata-kata Yoo Sangah, Lee Gilyoung dan Lee Jihye menjadi yang pertama mengangkat tangan.

“Aku yang pergi.”

“Omong kosong apa itu! Kali ini aku yang benar-benar harus pergi!”

Lee Gilyoung dan Lee Jihye yang mengangkat tangan bersamaan saling melotot.

Biasanya, pada saat seperti ini Yoo Sangah akan turun tangan untuk menengahi keduanya.

Namun hari ini, Yoo Sangah juga sedikit berbeda.

Menatap portal yang berputar di udara, Yoo Sangah berkata.

“Maaf, tapi kali ini aku yang akan pergi.”

Itu adalah jalur yang dibuka oleh inkarnasinya sendiri, dengan mengorbankan ceritanya sendiri.

Karena itu, jika Yoo Sangah mengatakan demikian, tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.

Kecuali dokter dari <Kim Dokja Company>, yang lebih mengkhawatirkannya daripada siapa pun.

“Tapi Sangah, kondisimu juga tidak baik.”

Lee Seolhwa, yang sejak tadi diam, dengan lembut melingkarkan lengannya di bahu Yoo Sangah dan berkata.

“Karena selama ini kau terus terhubung untuk berkomunikasi dengan dunia itu.”

Denyut cerita dapat dirasakan melalui bahunya.

Yoo Sangah tidak menunjukkannya, tetapi Lee Seolhwa dapat merasakannya dengan jelas.

Kondisi cerita Yoo Sangah saat ini sangat tidak stabil.

Karena terus terhubung dengan putaran ke-41 dan mengintip ceritanya tanpa satu pun waktu istirahat, kelelahan yang menumpuk dalam diri Yoo Sangah sangat besar.

Lee Seolhwa kembali berkata.

“Kali ini mari kirim orang lain.”

“Tapi—”

“Jika menggunakan [Lotus Platform]-mu, Sangah, probabilitasnya bisa diimbangi sampai batas tertentu.”

Dengan [Lotus Seal], salah satu kekuatan Lotus Platform, dirinya—atau lebih tepatnya inkarnasi lain—dapat menyamar sebagai dirinya dan dikirim ke worldline tersebut.

Masalahnya adalah siapa yang akan dikirim.

Menghela napas pelan, Yoo Sangah membuka mulut.

“Akan ada musuh-musuh kuat yang belum pernah kita hadapi sebelumnya. Begitu dikerahkan, bahkan myth-grade constellations pun akan langsung menyadarinya.”

“...”

“Kalau Sooyoung-ssi ada di sini, aku akan mengirimnya...”

Yoo Sangah perlahan mengalihkan pandangannya dari portal dan berbalik.

Lalu satu per satu anggota kelompok lainnya juga menoleh ke arah yang sama.

Sebenarnya, semua orang di sana sudah tahu.

「 Jika hanya satu orang yang bisa pergi, maka orang yang akan pergi ke sana sudah ditentukan sejak awal. 」

Yoo Sangah bertanya.

“Bisakah kau melakukannya?”

Bagi Yoo Joonghyuk, pertanyaan seperti itu tidak ada artinya.

Namun meskipun tahu pertanyaan itu tidak berarti, Yoo Sangah tetap harus menanyakannya.

Karena sekarang mereka adalah rekan.

“Kau menanyakan sesuatu yang sudah jelas.”

“Lukamu juga belum sembuh.”

“Tidak masalah.”

Yoo Joonghyuk melepaskan perban yang membalut tubuhnya.

Luka-luka yang ia terima dalam pertarungan sengit melawan Odin masih membentang dari punggung hingga lehernya.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?”

“Menyelamatkan Kim Dokja.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan menyeretnya ke sini dengan paksa.”

“Kau tidak bisa membawanya ke sini dengan membunuhnya. Kau tahu itu, kan?”

Yoo Joonghyuk yang sempat terdiam akhirnya mengangguk.

“Kau juga tidak boleh terlalu memukulinya.”

“...”

“Jawab.”

Alih-alih menjawab, Yoo Joonghyuk mengenakan 'Coat of Infinite Dimensions'.

Kemudian ia membalut kedua tangannya dengan hati-hati menggunakan perban buatan Heavenly Master, lalu memasang 'Black Heaven Demon Blade' yang terikat di pinggangnya.

Setelah benar-benar siap, Yoo Joonghyuk mengangkat kepalanya.

Yoo Sangah berkata.

“Pergilah, Joonghyuk-ssi. Tolong—”

Tanpa mendengarkan kalimat Yoo Sangah sampai selesai, Yoo Joonghyuk langsung menerjunkan dirinya ke dalam portal.

Bersamaan dengan kilatan cahaya yang menyilaukan, [Lotus Platform] aktif dan sebuah kuncup teratai melindungi tubuh Yoo Joonghyuk.

Melihat Yoo Joonghyuk menghilang seketika, Yoo Sangah bergumam dengan suara yang jauh.

“Selamatkan semua Kim Dokja.”

Oh, ohhhh...

Suara tangisan terdengar dari suatu tempat.

Awalnya terdengar seperti isak tangis yang pelan dan samar, namun seiring waktu berlalu, suara itu semakin berat dan bergema.

Ooooooh—!

Para Outer Gods yang melihat Yoo Joonghyuk sedang meratap.

Sebagian adalah seruan kekaguman.

Sebagian lainnya adalah ketakutan yang mengerikan.

Ada Outer Gods yang menggeliat di kehampaan karena tidak mampu mengendalikan emosi mereka, dan ada pula 'Nameless Ones' yang meleleh di tempat karena tidak mampu menahan kegelisahan mereka.

Para constellation pun tidak berbeda.

Cerita berdarah mengalir dari mata Yophiel yang mengaktifkan [Eyes of Sin], dan para Archangel lainnya menunjukkan ekspresi linglung.

[Could it be... that one is...]

Semua orang terbungkam.

Baik bintang-bintang yang mengetahui siapa Yoo Joonghyuk maupun yang tidak, semuanya gemetar hanya karena bertatapan dengannya.

Hanya dengan melihatnya, keberadaannya dapat dikenali dalam sekejap.

「 Ia adalah sosok yang mencapai ■■ dari sebuah cerita yang bahkan para bintang tidak dapat melihatnya. 」

Cerita-cerita yang mengalir tanpa cela dari seluruh keberadaan Yoo Joonghyuk mendominasi medan perang.

[How.]

Membaca cerita-cerita itu, Metatron menghela napas pelan.

[Can existence become this great merely by having seen the end of a story?]

Yoo Joonghyuk melangkah perlahan.

Meskipun tujuan yang ia tuju sudah jelas, tidak ada seorang pun yang mampu menghentikannya.

「 Dan hanya satu orang yang berdiri di jalannya. 」

“Yoo Joonghyuk.”

Itu adalah Cha Seongwoo.

Dari kejauhan, ia dapat mendengar Ji Eunyu, Cha Yerin, dan Ye Hyunwoo meneriakkan sesuatu.

Namun tidak satu pun suara itu sampai ke telinganya.

“Yoo Joonghyuk.”

Ia memanggil nama itu seperti orang gila.

“Yoo Joonghyuk!”

Ia memanggilnya sekali lagi.

Yoo Joonghyuk tidak menghiraukan panggilan tersebut dan melirik para Archangel dari <Eden>.

Uriel tidak ada?

Seolah semua verifikasi yang diperlukan telah selesai, Yoo Joonghyuk bergumam sambil berjalan menuju barak.

“Kim Dokja adalah...”

Bahkan sebelum Yoo Joonghyuk menyelesaikan kalimatnya, tombak cahaya yang berada di tangan Cha Seongwoo melesat.

Tak!

Tombak itu terpental menjauh.

'Black Heaven Demon Blade' yang diayunkan ringan telah memblokir tombak tersebut.

“Kim Dokja yang kau cari tidak ada di sini.”

Cha Seongwoo yang berdiri di belakang Yoo Joonghyuk berbicara dengan suara dingin.

Relik-relik para Archangel muncul di belakangnya.

'Punishment of Madness'.

'Staff of the Pilgrim'.

Relik milik Raguel dan Raphael aktif secara bersamaan.

Cahaya yang membutakan mata makhluk hidup.

Kemudian petir cahaya yang meledak dari tongkat itu menembus wajah Yoo Joonghyuk.

Swoosh.

Yoo Joonghyuk bahkan tidak memejamkan matanya terhadap kekuatan 'Punishment of Madness'.

Ia menghancurkan kekuatan sang Archangel hanya dengan kekuatan fisik dari cerita-ceritanya.

Tebasan pedang cahaya yang ia ayunkan setelahnya bahkan membelah petir Raphael.

Tentu saja, Cha Seongwoo telah memperhitungkan sejauh itu.

「 You have seen a ram with two horns, and the great horn between its eyes is its first king. 」

Cerita milik Gabriel, 「The Revelation of the Apocalypse」.

Sebuah cerita yang meminjam kekuatan kiamat untuk meningkatkan grade cerita penggunanya secara tidak masuk akal.

Keagungan ilahi yang hanya mampu ditanggung seorang archangel membanjiri seluruh tubuh Cha Seongwoo.

「 His power is bound to grow stronger by his own strength, but it is not by his own power. 」

Cha Seongwoo mengeluarkan raungan mengerikan bersamaan dengan tanduk hitam pekat yang tumbuh dari kepalanya.

Gabriel's Divine Spear yang berada di tangannya diarahkan ke depan.

Saat tombak yang dipenuhi cahaya pembantai iblis itu melesat ke arah Yoo Joonghyuk, Yoo Joonghyuk bergumam.

“Apakah itu 'Scales of Favoritism'?”

Mata Cha Seongwoo dipenuhi keterkejutan.

Kecepatan yang begitu cepat hingga ia bahkan tidak bisa merasakan jarak yang tertutup.

Yoo Joonghyuk yang sudah berada tepat di depannya memegang tombak itu seperti mainan anak-anak.

Ia menangkap tombak tersebut dengan tangan kosong.

Cahaya yang terkumpul di dalam tombak itu padam begitu saja.

Saat Cha Seongwoo berteriak sambil menggenggam tombak ilahi dengan kedua tangannya, Yoo Joonghyuk berkata.

“Bukan begitu cara menggunakannya.”

Dengan kekuatan genggaman yang luar biasa, Yoo Joonghyuk mengayunkan lengannya dengan ringan.

Tubuh Cha Seongwoo berputar dan menghantam tanah.

Setelah merebut tombak itu, Yoo Joonghyuk mengayunkannya ke langit seolah sedang menguji performanya.

Kugugugugu!

Segumpal energi yang memancar dari tombak itu melesat lurus ke medan perang antara malaikat dan iblis.

Saat para malaikat peringkat sembilan dan iblis yang terkena gumpalan energi itu mati tanpa sempat menjerit, para iblis tingkat tinggi dan archangel tingkat tinggi langsung bergerak.

Mereka adalah para Archangel yang memimpin medan perang dan para Demon Noble.

[Block them! No matter how great a being they are, it is merely human technique—]

Archangel yang berada paling depan terbelah dua sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Para malaikat dan iblis yang ketakutan baru tersadar dan berusaha menghindari gumpalan energi tersebut.

Namun energi itu terpecah seolah memiliki kehendaknya sendiri dan membantai seluruh malaikat serta iblis yang melarikan diri.

[The power of the Giant Story, 'Holy War of Good and Evil', is beginning to weaken.]

Pada akhirnya para archangel dan demon lord yang hanya mengamati dari belakang maju ke depan.

[At this rate, the 'Holy War of Good and Evil' itself will collapse!]

Jika Giant Story hancur, alasan utama mereka turun ke 'Ragnarok' ini akan lenyap.

Mereka tidak bisa membiarkan itu terjadi.

[It has no choice. We will join forces for a moment.]

Marbas, demon lord berpangkat tertinggi, meraung dan berubah menjadi singa raksasa.

Barbatos juga memanggil armada utamanya.

Pada saat yang sama, Archangel Kamael yang mengenakan zirah putih bersih mengaktifkan Holy Relic-nya.

[The constellation, 'One Who Faces God', activates the holy relic, 'Judgment Seat of Strict Judgment'!]

Saat Holy Relic Kamael aktif, Trial Seat mulai mencatat 'Deadly Sins' milik Yoo Joonghyuk.

「 Membunuh seluruh penumpang kereta bawah tanah pada skenario pertama. 」

「 Membunuh 64 inkarnasi pada skenario kedua. 」

「 Pada skenario ketiga... 」

Dosa-dosa Yoo Joonghyuk terus tercatat tanpa akhir.

Holy Relic Kamael, 'Trial Seat of Strict Judgment', memberikan 'penalty' tanpa henti terhadap seluruh statistik target sesuai dengan dosa-dosanya.

Karena sifat Holy Relic tersebut yang semakin kuat menghukum semakin jahat targetnya, 'penalty' milik Yoo Joonghyuk dapat bertumpuk nyaris tanpa batas.

「 Menghancurkan 5.362 bintang pada skenario ke-99. 」

Kamael dan para Demon King saling berpandangan saat membaca dosa-dosa yang tidak masuk akal itu.

Itulah momen ketika Archangel dan Demon King yang sebelumnya saling menggertakkan gigi hingga akhir akhirnya bergabung.

[I never thought the day would come when that Great Warrior bastard's Trial Seat would be of help.]

Barbatos memuat sihir ke dalam kapal perangnya.

[I will end this with this one blow.]

Marbas yang berubah menjadi singa raksasa menaiki Kamael yang mengenakan zirah putih.

Saat Kamael mengangkat pedang cahayanya sekuat tenaga, para Archangel dan High Demons yang mengikutinya menyerbu Yoo Joonghyuk.

[The power of the holy relic, 'Strict Judgment Seat', is manifested!]

Inkarnasi Yoo Joonghyuk yang menerima penalty berlapis-lapis kini rapuh seperti selembar kertas.

Untuk menghabisinya, kapal perang Barbatos memuntahkan tembakan dan tebasan Kamael bergerak.

Yoo Joonghyuk menatap seluruh pemandangan itu dengan tenang.

Lalu ia mengayunkan tombaknya sekali lagi.

Cahaya menyilaukan berkilat.

Suara sesuatu yang hancur terdengar.

Dan.

[The constellation, 'One Who Faces God', has suffered a blow close to annihilation and exits the scenario!]

[The Demon King, 'Ruthless Hunter of the Heavens of Defiance', is exiting the scenario after suffering damage close to annihilation!]

[The Demon King, 'Black-Maned Lion', is exiting the scenario after suffering damage close to annihilation!]

Hanya satu serangan.

Bahkan bukan serangan yang dilakukan dengan seluruh kekuatannya.

Hanya satu ayunan tombak yang dilakukan dengan acuh tak acuh.

[The Holy Relic, 'Scale of Favor', exhausts its power.]

Tidak mampu menahan narasi Yoo Joonghyuk, 'Scale of Favor' yang bengkok menggelinding di tanah dengan warna yang telah menghitam.

Tidak seorang pun di medan perang berani membuka mulut.

Monster yang mampu membantai tiga narrative-grade constellations hanya dengan satu serangan.

Semua orang di sana memahami dengan jelas.

「 Keberadaan yang baru saja turun di hadapan mereka jelas merupakan 'myth-grade' atau bahkan lebih tinggi. 」

Saat berikutnya, Cha Seongwoo yang sebelumnya terhempas ke tanah kembali muncul dengan tubuh penuh debu.

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

Cha Seongwoo berteriak seolah ingin membangunkan medan perang yang membisu.

“Eden! Sadarlah! Apa kalian sudah lupa siapa yang kalian turuni ke medan perang ini untuk dilindungi!”

Pada saat itulah Metatron, sang juru tulis surga yang selama ini ragu-ragu, membuka bukunya.

[The story, 'Apocalypse', begins its storytelling!]

Hanya Ji Eunyu yang menyadari keagungan cerita itu di tempat tersebut.

「 Sang Archangel yang berdiri di hadapan kiamat memulai kompilasi terakhirnya. 」

Cerita Metatron yang bahkan tidak pernah dijelaskan dalam cerita utama.

Sebuah cerita yang meningkatkan kemampuan para archangel secara tidak normal dengan menggiling seluruh cerita raksasa milik <Eden>, yang hanya pernah muncul dalam beberapa peristiwa 'Holy War of Good and Evil'.

Seluruh archangel diselimuti cahaya menyilaukan seolah mereka semua telah menjadi satu bintang.

Di pusat cahaya itu berdiri Cha Seongwoo.

[Exclusive Trait, 'Game Expert', activates!]

Mengendalikan seluruh archangel dengan controllernya, ia berbicara kepada Yoo Joonghyuk.

“Mungkin kau tidak mengenalku, tetapi aku mengenalmu dengan sangat baik.”

Karena tidak mampu menahan cerita milik <Eden>, seluruh tubuh Cha Seongwoo mulai terbakar.

“Karena aku hidup untuk menjadi dirimu.”

Menggunakan seluruh cerita Cha Seongwoo sebagai bahan bakar, cerita milik <Eden> mulai melakukan storytelling.

Para archangel yang terhubung ke controller utama berpencar dengan formasi sempurna dan menghujani serangan seperti satu pasukan tunggal.

Raphael kembali terbang ke langit dan menebarkan petir.

[503 Unit] milik Yophiel menyerbu Yoo Joonghyuk.

'Punishment of Madness' milik Raguel memancarkan cahaya.

Gabriel juga mengarahkan 'Scale of Favor' miliknya yang telah rusak.

[The constellation, 'Savior of the Fall', reveals its true power!]

Bahkan Michael, yang bersembunyi dalam kegelapan hingga saat terakhir, bergerak.

Satu pedang milik Michael, malaikat tempur terkuat yang dibanggakan <Eden>, menghujam langsung ke arah Yoo Joonghyuk.

Saat cerita para archangel yang ditakdirkan memusnahkan seluruh kehidupan di bumi berkumpul di satu titik—

[Exclusive Trait, 'Ruler of Play', activates!]

Waktu dunia berhenti.

「 Tidak ada seorang pun di sana yang dapat memahami peristiwa yang terjadi pada saat itu. 」

Sang regressor yang telah melihat akhir skenario menatap langit.

「 Hanya para recorder yang menyadari apa yang terjadi di sela-sela ruang kosong itu dan menahan napas mereka. 」

Setelah akhirnya mencapai 'fase akhir skenario', Yoo Joonghyuk yang terbebas dari penalty probabilitas memperlihatkan kekuatannya yang sesungguhnya.

「 Catatan itu tidak dapat ditulis dengan akurat. Karena tidak ada recorder yang pernah menemukan kalimat yang mampu menggambarkan pemandangan yang mereka saksikan. 」

Seolah mengukir satu tebasan pedang ke dalam kehampaan yang luas, pedang Yoo Joonghyuk terhunus.

「 Hanya recorder pertama yang menulis cerita ini yang pernah menuliskan satu kata ke dalam kehampaan abadi itu. 」

Waktu yang telah berhenti mulai mengalir kembali.

「 Meteor Slash. 」

Cha Seongwoo menatap langit dengan mata kosong.

Pada saat itu, Cha Seongwoo teringat pada 'Radiance of Creation'.

Sebuah kekuatan yang sama sekali tidak dapat dipahami dari segi sebab-akibat.

Kekuatan yang hanya menilai apa yang terjadi dari hasil akhirnya.

[The constellation, 'Commander of the Red Cosmos', has suffered a massive blow and is exiting the scenario!]

Kini Yoo Joonghyuk juga menggunakan kekuatan semacam itu.

[The constellation, 'Lily of Aquarius', has suffered massive damage and exits the scenario!]

[The constellation, 'Friend of Justice and Harmony', has suffered massive damage and exits the scenario!]

Bintang-bintang mulai berjatuhan dari langit.

[The constellation, 'Guardian of Youth and Travel', has suffered massive damage and exits the scenario!]

Hanya dua bintang yang tersisa.

[The constellation, 'Savior of Fallen', has suffered fatal damage!]

Michael, dengan mata terbuka lebar dan sayap yang tercabik.

[The constellation, 'Scribe of Heaven', swallows a groan.]

Metatron yang memegangi bukunya yang robek separuh.

[How dare—!]

Tepat ketika Michael yang murka hendak kembali menyerang Yoo Joonghyuk, Metatron bergerak.

[The constellation, 'Savior of the Fall', has exited the scenario by order of <Eden>.]

Seolah menyatakan bahwa ia tidak akan lagi ikut campur dalam urusan ini, Metatron mundur sambil mengangkat kedua tangannya ringan.

[The Great Nebula, <Eden>, ceases the activation of all stories.]

'Great Story' milik Nebula dihancurkan oleh seorang inkarnasi tunggal.

Di tengah kesedihan luar biasa seluruh makhluk yang menyaksikan mukjizat yang mustahil dipercaya itu, Cha Seongwoo tersenyum dan bergumam.

“Seperti yang kuduga.”

Setelah seluruh api sucinya habis, tubuh inkarnasi Cha Seongwoo mulai perlahan runtuh.

“Itulah Yoo Joonghyuk yang ingin kulihat.”

Cha Seongwoo menyadari.

Dengan ini, perannya yang tidak akan pernah diakui oleh siapa pun akhirnya berakhir.

Saat ia mengangkat kepalanya, salju abu-abu mulai berhamburan di udara.

Jika diperhatikan dengan saksama, itu bukanlah salju.

Itu adalah ceritanya.

Perlahan pandangannya menggelap dan kegelapan hitam pekat turun.

Di dalam kegelapan itu, Cha Seongwoo mengucapkan satu kalimat terakhir dari cerita yang ia cintai.

「 Aku adalah Yoo Joonghyuk. 」

Di dalam kegelapan, ia mendengar suara langkah kaki Yoo Joonghyuk mendekat.

「 Ia juga tahu. Ia tidak akan pernah bisa menjadi Yoo Joonghyuk. 」

Karena memahami Yoo Joonghyuk lebih baik daripada siapa pun, ia tahu persis apa yang akan terjadi padanya.

「 Karena ia hanyalah 'seorang pembaca yang mengagumi Yoo Joonghyuk'. 」

Yoo Joonghyuk kemungkinan besar akan membunuhnya tanpa belas kasihan.

Atau melewatinya begitu saja tanpa memedulikannya sedikit pun.

Dan memang, langkah kaki Yoo Joonghyuk melewatinya dengan acuh tak acuh.

Saat ia mengenakan senyum pahit, suara langkah itu menghilang dari telinganya.

Ia sempat berpikir bahwa mungkin pendengarannya juga telah hilang.

Namun anehnya, suara napas kasarnya sendiri masih terdengar jelas.

Dan entah sudah berapa lama berlalu.

Dengan sensasi dingin menjalar di tulang belakangnya, Cha Seongwoo menyadari sesuatu.

「 Yoo Joonghyuk saat ini berdiri diam di sampingnya. 」

Dari dalam kegelapan, suara pria yang telah lama ia kagumi itu terdengar.

“Aku juga mengenalmu.”

1023 Episode 62 Snowfield Kim Dokja (13)

Selama lebih dari delapan tahun, Cha Seongwoo bertarung bersama seorang pria demi dirinya.

Snow White.

Seorang pria yang dikenal oleh myth-grade constellations sebagai 'Master of the Erased Blank Space', dan oleh para recorder sebagai 'Snowfield Kim Dokja'.

Sambil menyelesaikan skenario dan tumbuh bersama pria itu, Cha Seongwoo mempelajari banyak hal tentang Kim Dokja yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui.

Kim Dokja yang ia ikuti menyukai teh.

Ia sering memperlihatkan senyum muram, dan kerap duduk termenung sambil menatap ponselnya dengan saksama.

Kelihatannya ia tidak sedang membaca 'Ways of Survival', sehingga ada kalanya Cha Seongwoo ingin bertanya apa sebenarnya yang sedang ia lihat.

Ketika ia tidak sedang menjalankan skenario, minum teh, atau melihat ponselnya—

Kim Dokja selalu menatap langit.

Dengan mata yang membuat orang tidak bisa mengetahui apa yang sedang ia cari, ia terus memandang langit berulang kali tanpa henti.

「 "Kau." 」

Bahkan pada suatu hari tak lama setelah 'Ragnarok' dimulai, ia sedang menatap langit malam seorang diri.

Mungkin karena punggung Kim Dokja terlihat kesepian.

Cha Seongwoo mengatakan sesuatu yang biasanya tidak akan pernah ia katakan.

「 "Sepertinya kau menyukai langit malam." 」

Mendengar itu, Kim Dokja menoleh sekilas, tersenyum, lalu menjawab.

「 "Di duniaku, bintang-bintang tidak terlalu terlihat. Karena itu aku selalu tanpa sadar memandanginya setiap kali melihatnya. Menarik sekali." 」

「 "Tidak bisa melihat bintang? Apa kau terkurung di suatu tempat?" 」

「 "Kita semua terkurung. Hanya saja ukuran penjara yang menahan kita berbeda-beda." 」

Sesekali ia memang mengucapkan kata-kata yang terlalu filosofis seperti itu.

Setiap kali mendengarnya, Cha Seongwoo merasa ingin menampar keras bagian belakang kepala pria muram itu.

Namun pada hari itu, yang lebih dulu memukul bagian belakang kepalanya secara metaforis justru Kim Dokja.

「 "Kenapa kau tidak pergi?" 」

Pertanyaan yang datang begitu saja.

Cha Seongwoo menelan keterkejutannya dan berkata.

「 "Kenapa aku harus pergi?" 」

「 "Kau sudah tahu sekarang, bukan? Aku bukan Kim Dokja yang kau harapkan." 」

Kim Dokja yang ia harapkan.

Cha Seongwoo mengulang kata-kata itu beberapa kali dalam pikirannya sebelum bertanya kembali.

「 "Kenapa kau memutuskan itu sendiri?" 」

「 "Kim Dokja yang kau cari adalah saudaraku. Sejak awal dia adalah keberadaan yang dipilih sebagai protagonis sebuah dunia." 」

Cha Seongwoo juga tahu betul siapa 'Kim Dokja' yang sedang ia bicarakan.

Rambut pirang yang mirip Cheon Inho.

Kim Dokja yang muncul di dunia ini dengan mata menyipit.

Cha Seongwoo juga menyukai Kim Dokja itu.

Ia ingin melihat akhir cerita bersamanya.

Ia ingin membalik halaman terakhir dari kisah yang akan mereka tulis bersama.

Namun delapan tahun telah berlalu.

Dan kini ia berada di sini.

Di sisi Kim Dokja lain yang mungkin akan menjadi musuhnya.

「 "Menurutku, kau sendiri terlihat seperti seorang protagonis." 」

Kim Dokja tersenyum pahit mendengar kata-kata Cha Seongwoo.

「 "Aku berpikir, kalau kami memulai kembali skenario dari awal, mungkin aku bisa menjadi seperti saudaraku." 」

Cha Seongwoo memikirkan berbagai skenario yang ia lalui bersama Snowfield Kim Dokja.

Snowfield Kim Dokja luar biasa.

Tidak ada cara lain untuk menggambarkannya selain itu.

Berdasarkan informasi strategi yang ia ketahui, ia menyelesaikan skenario dengan tenang bersama rekan-rekannya dan menyelamatkan banyak inkarnasi.

Mungkin jumlah karakter yang ia selamatkan bahkan lebih banyak daripada Kim Dokja dari cerita utama.

Namun tidak semua karakter mendapat perlakuan yang sama.

Pilihan untuk menyelamatkan mayoritas terkadang bersikap kejam terhadap minoritas.

「 "Apa kau menyesal meninggalkan Kyung Sein dan Lee Dansu?" 」

「 "Tidak. Seperti yang kau tahu, aku manusia yang tidak punya belas kasihan." 」

「 "Aku melihatmu memberikan misi kepada Kyung Sein. Aku juga melihatmu mengambil sebagian 'Kim Dokja Fragments' yang ia miliki." 」

「 "..." 」

「 "Bukankah kau menilai dia akan berada dalam bahaya jika memiliki fragmen yang lengkap?" 」

Mendengar kata-kata Cha Seongwoo, Kim Dokja hanya tersenyum dalam diam.

「 "Aku bukan orang seperti itu." 」

Apakah Kim Dokja ini baik?

Ataukah ia berada di sisi kejahatan?

Bahkan dengan [Eye of Sin] milik Yophiel, Cha Seongwoo tidak mampu memahami keberadaan seperti apa dirinya.

Yang bisa ia lihat melalui [Eye of Sin] hanyalah reruntuhan abu-abu yang sunyi dan tandus.

Selama delapan tahun terakhir, Cha Seongwoo terus berjalan di dalam reruntuhan itu.

Ia merasa bahwa jika ia berjalan hingga ke ujung reruntuhan tersebut, ia akan mampu memahami Kim Dokja yang berdiri di depannya.

Namun tidak peduli berapa lama ia berjalan selama delapan tahun itu, punggung Kim Dokja yang berjalan di depannya tidak pernah menjadi lebih dekat.

Meskipun mereka menjalankan skenario bersama, Kim Dokja selalu tampak hidup dalam cerita yang berbeda.

Seolah ingin menyangkal perasaan itu, Cha Seongwoo berbicara.

「 "Setiap Dokja memiliki kehidupannya sendiri. Kau sudah melakukan lebih dari cukup." 」

Constellation di langit malam memancarkan cahaya yang tidak menyenangkan.

Pasukan para bintang sedang berkumpul menjelang skenario terakhir.

Memandang gugusan bintang yang bersinar luar biasa terang malam itu, Cha Seongwoo berkata.

「 "Kesimpulannya sudah sangat dekat." 」

Kim Dokja juga perlahan mengangguk.

Sebentar lagi Kim Dokja akan memulai pertarungan terakhirnya.

Dan Kim Dokja yang memenangkan pertarungan itu akan menjadi 'Oldest Dream' dunia ini.

「 "Jika aku menjadi 'Oldest Dream', seluruh alam semesta mungkin akan menjadi tidak bahagia." 」

「 "Aku tahu impian yang kau inginkan." 」

「 "Apa yang kuinginkan?" 」

「 "Kebahagiaan." 」

Mata Kim Dokja sedikit bergetar mendengar pernyataan Cha Seongwoo.

Cha Seongwoo sengaja mengalihkan pandangannya dan melanjutkan.

「 "Aku berharap impianmu menjadi kenyataan." 」

Karena tidak melihat ke arah Kim Dokja, Cha Seongwoo tidak tahu ekspresi seperti apa yang sedang ia tunjukkan.

Angin malam yang tenang menyentuh punggung tangannya.

Tepat ketika ia berpikir bahwa jawaban tidak akan datang, Kim Dokja berbicara dengan suara rendah.

「 "Aku juga mengharapkan kebahagiaanmu." 」

Apakah karena cahaya bintang yang berkilauan di langit malam terlihat sedih?

Atau karena skenario terakhir sudah semakin dekat?

Saat mendengar kata-kata itu dari Kim Dokja, tenggorokan Cha Seongwoo terasa tercekat tanpa sadar.

「 "Kim Dokja, apakah aku rekanmu?" 」

「 "Ya." 」

「 "Kalau begitu, keinginanku sudah terkabul." 」

Setelah jawaban Cha Seongwoo, Kim Dokja terdiam cukup lama.

Baru setelah beberapa bintang jatuh dari langit, Kim Dokja membuka mulut dengan suara yang samar-samar terdengar sedih.

「 "Benarkah itu yang kau inginkan?" 」

Pada saat itu, Cha Seongwoo tidak memahami mengapa Kim Dokja mengajukan pertanyaan seperti itu.

Namun ada saat-saat ketika seseorang baru menyadari bahwa selama ini ia ingin membaca sebuah cerita setelah akhirnya membacanya.

Bahwa ada cerita yang dapat dibaca siapa saja, tetapi hanya bergema dalam diriku seorang.

Sebuah kalimat yang lahir dari dunia yang tidak kukenal, namun terasa menjelaskan diriku lebih akurat daripada apa pun.

“Aku juga mengenalmu.”

Saat mendengar kata-kata itu dari Yoo Joonghyuk, Cha Seongwoo akhirnya menyadari apa yang sebenarnya ia inginkan.

「 Inilah alasan mengapa bacaannya harus terus berlanjut sampai sekarang. 」

Kedalaman jiwanya bergetar samar.

Perasaan bahwa pintu menuju cerita yang selama ini ingin ia ketahui—pintu yang telah tertutup begitu lama—akhirnya terbuka lebar.

“Bangun.”

Mendengar suara itu, Cha Seongwoo mengangkat kepalanya dan merasakan penglihatannya perlahan kembali.

“Setidaknya jangan mati di tempat seperti ini.”

Dalam cahaya redup, Cha Seongwoo melihat cerita-cerita emas berhamburan di depan matanya.

Cerita yang menyentuh pipinya membelainya dengan lembut.

Vitalitas samar mulai kembali ke tubuhnya.

Yoo Joonghyuk sedang menaburkan sesuatu yang ia pegang di atas kepalanya.

「 Itu adalah fragmen cerita Yoo Joonghyuk. 」

Cerita dari sosok yang sangat ingin ia jadikan dirinya.

Sosok yang ingin ia tiru lebih dari siapa pun.

「 Ia ingin diakui oleh Yoo Joonghyuk. 」

Saat mengakui fakta itu, Cha Seongwoo merasakan getaran memabukkan menembus pikirannya.

Ia merasa seolah tahu apa ■■ miliknya.

Mungkin karena menyadari perubahan yang terjadi pada seluruh tubuh Cha Seongwoo, Metatron yang mengamati dari kejauhan membelalakkan matanya.

「 Pada saat itu, Acting President of Eden memperoleh wawasan terhadap seluruh bacaannya. 」

Tindakan membaca satu cerita lebih dari seratus kali.

Seorang pembaca yang ingin memahami cerita itu lebih baik daripada siapa pun.

Sejarah yang dibangun dengan usaha dan obsesi akhirnya menciptakan sebuah mukjizat.

「 ■■. 」

Dari awal setiap cerita hingga saat ini.

Cha Seongwoo merasa seluruh cerita yang telah ia baca sedang berkumpul menuju satu kesimpulan.

「 Dan dengan demikian, tibalah saat ketika imajinasi seorang pembaca melampaui sang penulis. 」

Sebuah akhir yang telah ditulis, sekaligus sedang ditulis.

Sebuah kalimat di luar warna abu-abu yang bahkan tidak pernah dicapai oleh para recorder yang tak terhitung jumlahnya.

Pada saat itu, hanya Cha Seongwoo seorang yang mencapai kalimat tersebut.

Dan setelah membacanya, ia menghela napas dalam keputusasaan.

“...jadi begitu?”

Alasan mengapa semua cerita ini harus mengalir ke arah ini.

Setelah menyadari semua rahasia itu, hanya ada satu hal yang ingin disampaikan sang pembaca kepada Yoo Joonghyuk.

“Lari...”

Itulah kata terakhir yang disampaikan Cha Seongwoo.

Tsutsutsutsu!

Dengan percikan yang ganas, kesadaran Cha Seongwoo yang baru saja kembali menghilang sepenuhnya.

Yoo Joonghyuk menatap Cha Seongwoo dengan mata yang tidak memahami.

Pria itu masih hidup dan masih bernapas.

「 Ia baru saja hendak menyampaikan kata-kata yang seharusnya tidak disampaikan. 」

Lari?

Itu adalah pernyataan yang tidak dapat dipahami.

Karena tidak ada alasan apa pun di seluruh <Star Stream> yang membuat Yoo Joonghyuk harus melarikan diri saat ini.

Rumble, rumble, rumble.

Saat itulah cuaca di langit berubah drastis.

Awalnya ia mengira para Demon King telah memanggil Demon God lain yang tidak berarti.

Namun langit terlalu terang untuk kemunculan seorang Demon God.

[A fragment of the Oldest Dream—]

Yang mewarnai langit menjadi malam putih adalah bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya.

Constellation yang hanya menunggu momen terakhir dunia ini sambil memanggil 'Oldest Dream'.

'Black Heaven Demon Blade' milik Yoo Joonghyuk mulai menangis samar.

Pedangnya bereaksi terhadap intensitas para bintang.

<Olympus>.

<The Emperor>.

<Asgard>, <Vedas>.

<Papyrus>.

Sama seperti skenario terakhir putaran ke-1.864, para bintang yang memenuhi langit sedang mengawasinya.

Prediksi Yoo Sangah benar.

Constellation dari Giant Nebulae yang merasakan keberadaannya akhirnya memperlihatkan diri mereka di 'Ragnarok'.

“Aku akan menjatuhkan kalian semua.”

Saat Yoo Joonghyuk menggenggam gagang 'Black Heaven Demon Sword' dengan suara yang dingin.

[A new 'Calamity' has descended upon 'Ragnarok'!]

Sebuah portal terbuka di belakangnya bersama pesan yang tidak menyenangkan.

Kehadiran bencana itu memancarkan aura yang ganjil.

Yoo Joonghyuk secara refleks menarik pedangnya setengah keluar dan berbalik.

“Apa? Bisa masuk! Katamu cuma satu orang yang bisa pergi!”

Mendengar suara bencana itu, Yoo Joonghyuk membeku sambil memegang pedang yang setengah terhunus.

“Kenapa kau ada di sini?”

Lee Gilyoung berdiri tepat di depan matanya.

[A new 'Calamity' had descended upon 'Ragnarok'!]

Kemudian portal lain terbuka.

Lee Jihye muncul dengan rambut panjangnya yang berkibar.

“Aaaah! Master! Aku juga datang!”

Itu tidak mungkin.

Yoo Sangah jelas mengatakan bahwa hanya satu orang yang bisa datang.

Namun bagaimana mungkin Lee Gilyoung dan Lee Jihye turun ke skenario putaran ke-41?

Bagaimanapun juga, untuk saat ini itu adalah kabar baik.

Jika ada beberapa anggota <Kim Dokja Company>, maka bahkan jika seluruh Giant Nebulae putaran ke-41 menjadi musuh, tidak ada yang perlu ditakuti.

Namun itu belum berakhir.

[A new 'Calamity' has descended upon 'Ragnarok'!]

[A new 'Calamity' has descended upon 'Ragnarok'!]

Udara terbelah.

Yoo Sangah dan Lee Seolhwa juga muncul.

Dengan ini, semua anggota <Kim Dokja Company> yang saat ini bisa berkumpul telah berada di satu tempat.

Namun ekspresi Yoo Sangah sama sekali tidak terlihat bahagia.

“Joonghyuk-ssi, ada yang salah?”

Yoo Joonghyuk juga merasakan bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Fakta bahwa mereka semua dipanggil ke sini sebagai 'catastrophe' berarti probabilitas yang memungkinkan seluruh anggota berkumpul di sini telah terpenuhi.

Awalnya ia mengira itu pengaruh dari Giant Nebulae yang muncul dalam skenario.

Namun ketika ia kembali melihat ke langit, jumlah myth-grade constellations masih terlalu sedikit.

「 Timbangan probabilitas tidak seimbang. 」

Meskipun probabilitasnya tidak seimbang, tidak ada gelombang kejut yang menghantam <Kim Dokja Company> yang baru turun.

Tidak ada tanda-tanda kemunculan anjing pemburu jurang yang biasanya mengejar mereka.

「 Itu berarti ada sesuatu yang berada di sisi berlawanan dari timbangan tersebut. 」

Tepat ketika firasat mengerikan menyentuh hatinya, Yoo Sangah berbicara.

“Dokja-ssi—”

Bersamaan dengan suara Yoo Sangah, Yoo Joonghyuk juga tiba-tiba menyadari sesuatu.

Sejak kapan itu dimulai?

「 Cahaya terang memancar dari dalam tenda. 」

Yoo Joonghyuk dan Yoo Sangah yang saling bertatapan melesat bersamaan.

Terdengar suara Ji Eunyu yang berteriak sambil mengikuti mereka sedikit terlambat.

Namun suara Ji Eunyu tertelan oleh cahaya biru yang muncul sesudahnya.

Kilatan menyilaukan menyelimuti seluruh dunia yang telah hancur.

Sebesar cahaya saat Yoo Joonghyuk dipanggil.

Atau sebesar ledakan 'Radiance of Creation' milik <Eden>.

Ketika cahaya yang menyilaukan itu menghilang dari langit, salju abu-abu mulai turun.

“Masuk.”

Menerobos salju yang berputar-putar, Yoo Joonghyuk akhirnya mencapai depan tenda dan mengulurkan tangannya ke arah barak.

Namun tepat pada saat itu, seseorang membuka barak tersebut.

「 Seorang pria berdiri di sana dengan wajah yang mereka kenang sejak waktu yang sangat lama. 」

Yoo Joonghyuk.

Yoo Sangah.

Lee Jihye.

Lee Seolhwa.

Dan Lee Gilyoung.

「 Tangannya yang putih bersih menyentuh salju abu-abu yang berjatuhan dari langit. 」

Semua orang memandang pemandangan itu tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Mereka hanya bisa menatap pria itu.

Seolah sedang membaca sebuah kalimat yang sudah dituliskan sejak lama.

Pria yang sejak tadi diam menatap langit perlahan menurunkan pandangannya ke arah mereka.

Wajah setiap orang terpantul di dalam matanya.

[A new 'Catastrophe' has descended upon 'Ragnarok'!]

Snow White—

'Snowfield Kim Dokja' akhirnya terbangun dari tidurnya.



 

Nunaaluuu Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review